DELIRIUM DI JAM KELIMA
Jam menunjukkan pukul 05.47 ketika aku sadar bahwa ibuku tidak pernah mati.
Atau mungkin dia mati berkali-kali, dan aku hadir di setiap kematiannya, memegang tangannya yang dingin, mencium keningnya yang sudah tidak berkerut karena botoks terakhir yang dia lakukan seminggu sebelum stroke itu menjemputnya. Namun, masalahnya, aku tidak punya ibu. Atau aku punya. Atau aku tidak tahu lagi mana yang benar, karena pukul 05.47 adalah waktu ketika dunia terbelah menjadi dua lapis tipis seperti kulit bawang, dan aku bisa melihat ke lapis bawah: di sana ibuku masih hidup, sedang memasak mi instan di dapur yang sama, dengan celemek yang sama, dengan sendok kayu yang sama yang dulu sering dia gunakan untuk memukul pantatku ketika aku nakal.
Aku bangkit dari tempat tidur.
Atau, aku pikir aku bangkit.
Kaki kananku terasa aneh—seperti menginjak sesuatu yang tidak padat, seperti menginjak air yang membeku tetapi tidak cukup keras untuk menahan berat badanku. Aku jatuh. Daguku mengenai lantai keramik. Sakit. Akan tetapi, sakit itu terasa seperti memori, bukan sensasi. Sakit yang kuingat, bukan sakit yang kurasakan.
"Awas, nanti jatuh lagi," kata suara dari dapur.
Suara ibuku.
Ibuku yang mati tiga tahun lalu karena stroke. Ibuku yang dua minggu sebelum meninggal sempat berbisik kepadaku, "Kamu sebenarnya anak angkat, tetapi jangan bilang siapa-siapa." Aku tidak tahu apakah itu bisikan terakhir yang nyata atau hanya halusinasiku, karena lima menit setelah dia berbisik, matanya kosong dan monitor EKG berteriak panjang dan perawat-perawat mendorongku keluar dan aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertanya: "Ibu, serius? Aku anak angkat? Lalu, siapa orang tuaku yang asli?"
Sekarang, di jam 05.47, di dapur yang sama, ibuku yang mati memasak mi instan. Dia menoleh.
Wajahnya bukan wajahnya.
Wajahnya adalah wajahku.
---
Aku tidak langsung berlari. Aku tidak langsung berteriak. Aku hanya berdiri di ambang pintu dapur, memerhatikan ibuku—yang memiliki wajahku—mengaduk mi instan dengan sendok kayu. Rambutnya panjang dan hitam, seperti rambutku dulu sebelum aku memotongnya pendek karena patah hati karena seorang laki-laki yang sekarang aku lupa namanya. Atau aku tidak lupa. Aku sengaja menghapusnya. Seperti aku sengaja menghapus banyak hal.
"Kok diam saja?" tanyanya. Suaranya suaraku. Namun intonasinya intonasi ibuku. Cara dia mengucapkan kata "diam" dengan tekanan di huruf 'a'—itu seratus persen ibuku. "Makan dulu, nanti keburu berangkat kerja."
"Ibu," kataku. Suaraku serak. "Ibu mati."
Ibu tertawa. Tawanya tawaku. Akan tetapi, aku tidak pernah tertawa seperti itu. Tertawa yang pendek, satu embusan napas, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk benar-benar terbahak.
"Aku tidak mati, Nak. Yang mati itu kamu."
Aku membeku.
"Lihat tanganmu," kata Ibu.
Aku menengok ke bawah. Tanganku—tanganku transparan. Bukan transparan seperti kaca. Transparan seperti air, tetapi air yang bergerak, yang terus mengalir ke bawah, menetes ke lantai, membasahi keramik yang sama yang tadi membentur daguku.
"Kamu mati tiga tahun lalu," kata Ibu sambil menuang mi ke dalam mangkuk. "Kecelakaan mobil dalam perjalanan menjemputku dari rumah sakit. Kamu terlalu cepat. Kamu menabrak truk di persimpangan. Aku selamat. Kamu tidak."
Aku ingin berteriak Tidak mungkin. Namun mulutku terasa seperti dilem. Dan di belakang Ibu, di dinding dapur, jam dinding yang sama—jam dinding berbentuk kucing kuning dengan mata yang bergerak mengikuti arah jarum jam—berdetak. Detakannya aneh. Setiap detik, jarum panjangnya bergerak mundur. 05.47. 05.46. 05.45.
Waktu berjalan mundur.
"Tiga tahun lalu itu jam 5.47 pagi," kata Ibu. "Kamu berangkat jam segitu. Kamu bilang, 'Ibu, aku jemput Ibu pukul 10, jangan ke mana-mana.' Akan tetapi, kamu tidak sampai. Dan sejak itu, setiap pagi pukul 5.47, kamu kembali. Ke dapur ini. Ke mi instan ini. Dan kita mengulang percakapan yang sama. Sudah ribuan kali, Nak. Aku bosan."
Aku terduduk.
"Namun aku masih hidup," bisikku. "Aku punya pekerjaan. Aku punya teman. Aku punya ...."
"Apa?" potong Ibu. "Sebutkan satu nama temanmu."
Aku membeku. Satu nama. Hanya satu nama teman.
Tidak ada.
Tidak satu pun nama yang muncul di kepalaku.
"Karena mereka tidak ada," kata Ibu lembut. "Kamu tidak punya teman. Kamu tidak punya pekerjaan. Yang kamu punya hanyalah kamar ini, dapur ini, dan aku. Dan aku—" Ibu meletakkan mangkuk mi di depanku. Mi itu tidak beruap. Mi itu dingin. Mati. Seperti aku. "—aku adalah penjaga pintu. Pintu antara kematian dan delusimu bahwa kamu masih hidup."
---
Aku tidak makan mi itu. Aku tidak bisa. Tangan transparanku tidak bisa memegang sendok. Atau aku tidak mau. Aku tidak tahu lagi.
"Kalau aku mati," kataku akhirnya, "kenapa aku masih bisa berpikir? Kenapa aku masih bisa marah? Kenapa aku masih bisa takut?"
"Karena mati bukan akhir," kata Ibu. "Mati adalah pintu. Dan di depan pintu itu, kamu bisa memilih untuk masuk atau berputar-putar di lorong. Kamu memilih berputar-putar. Kamu menciptakan dunia palsu di mana kamu masih hidup. Kamu menciptakan ingatan palsu tentang pekerjaan, tentang teman, tentang laki-laki yang membuatmu patah hati. Semua itu fiksi. Yang nyata hanya dapur ini. Dan mi instan ini."
"Akan tetapi, aku ingat semuanya dengan jelas!"
"Memori tidak butuh kejelasan, Nak. Memori butuh pengulangan. Semakin sering kamu mengulang sebuah cerita, semakin nyata cerita itu bagimu. Kamu sudah mengulang cerita tentang hidupmu ribuan kali, setiap pagi pukul 5.47. Tidak heran kamu percaya."
Aku menutup wajah dengan tangan transparanku. Air mata keluar—air mata transparan, mengalir melalui jari-jari yang transparan, jatuh ke lantai yang juga mulai transparan. Seluruh dapur mulai memudar. Dindingnya. Kompornya. Meja. Kursi. Semuanya berubah seperti lukisan yang dicuci hujan.
"Ibu," bisikku. "Apa yang terjadi?"
"Kamu mulai sadar," kata Ibu. "Dan ketika kesadaran datang, dunia palsu akan runtuh. Ini yang terjadi sekarang. Dapur ini adalah ilusi terakhir yang kamu pegang. Setelah ini runtuh, hanya ada pintu. Dan di belakang pintu itu—"
Dia tidak selesai.
Karena pada saat itu, jam dinding berbentuk kucing kuning itu berdetak satu kali. Bukan mundur. Maju. 05.48. Untuk pertama kalinya dalam ribuan pengulangan, waktu bergerak maju.
Dan Ibu—Ibu yang memiliki wajahku—mulai berubah. Wajahnya meleleh seperti lilin. Bukan menjadi wajah lain. Menjadi ketiadaan. Menjadi lubang hitam di mana seharusnya ada hidung, mulut, mata.
"Kamu tidak pernah punya ibu," kata lubang hitam itu. Suaranya bukan suara siapa pun. Suara kekosongan. Suara ruang hampa yang berbicara. "Ibu adalah karakter yang kamu ciptakan untuk memaafkan dirimu sendiri karena mati bodoh."
---
Aku berlari.
Tidak ke mana-mana. Dapur sudah tidak ada. Yang ada hanyalah lorong panjang. Lorong tanpa dinding. Lorong yang lantainya terbuat dari air mengalir, dan setiap langkahku menimbulkan riak, dan di setiap riak itu aku melihat adegan-adegan: aku kecil di pelukan ibu yang wajahnya buram, aku remaja marah-marah kepada ibu yang wajahnya buram, aku dewasa berjanji akan menjemput ibu dari rumah sakit tetapi wajah ibu di bayanganku buram karena aku tidak pernah benar-benar punya ibu.
Aku anak yatim piatu.
Itu realitas pertama yang muncul di kepalaku, seperti teks di layar komputer yang sedang booting ulang. Aku anak yatim piatu. Dibesarkan di panti asuhan. Tidak pernah punya orang tua. Tidak pernah dipeluk. Tidak pernah dimarahi karena pulang larut. Tidak pernah dibuatkan mi instan di pagi hari.
Ibu adalah ilusi yang aku ciptakan.
Karena lebih mudah percaya bahwa kamu punya ibu yang meninggal daripada percaya bahwa kamu tidak pernah dicintai siapa pun seumur hidupmu.
Aku berhenti berlari.
Lorong itu juga berhenti. Air di bawah kakiku berubah menjadi tanah padat. Di depanku, sebuah pintu. Bukan pintu kayu. Pintu dari cahaya. Sangat terang sehingga aku harus menyipitkan mata.
"Masuk," kata suara dari balik pintu. Suaraku sendiri. Namun suara yang lebih tua. Suara yang lelah. Suara yang sudah melihat terlalu banyak.
Aku mendorong pintu itu.
Di balik pintu: ruangan kecil. Dinding putih. Lantai putih. Langit-langit putih. Dan di tengah ruangan, sebuah kursi. Dan di kursi itu, seorang perempuan. Wajahnya wajahku. Akan tetapi, lebih tua. Mungkin dua puluh tahun lebih tua. Rambutnya putih seluruhnya. Matanya cekung. Tangannya keriput.
"Halo," katanya.
"Siapa kamu?"
"Kamu. Namun kamu yang memilih untuk tidak mati. Tiga tahun lalu, di persimpangan itu, kamu tidak menabrak truk. Kamu selamat. Akan tetapi otakmu—otakmu rusak. Sejak itu kamu koma. Tubuhmu terbaring di rumah sakit. Dan aku—aku adalah kesadaranmu yang terperangkap di sini, di ruang putih ini, selama tiga tahun, menciptakan cerita-cerita agar tidak gila."
Aku terdiam.
"Cerita tentang ibu, cerita tentang mati, cerita tentang dapur dan mi instan—semua itu cara otakmu bertahan. Tanpa cerita, ruang putih ini akan menjadi neraka. Tanpa cerita, kamu hanya akan terdiam dan perlahan-lahan berhenti bernapas."
"Jadi, aku masih hidup?"
"Tubuhmu masih bernapas. Namun, apakah itu namanya hidup?"
Aku berjalan mendekati kursi itu. Aku berlutut di depan perempuan tua yang mengaku diriku. Aku meraih tangannya. Tangannya hangat. Tanganku—yang masih transparan—mulai berwarna. Mulai padat. Mulai menjadi tangan sungguhan.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisikku.
"Bangun," katanya. "Kembali ke tubuhmu. Buka matamu. Dan hadapi dunia nyata di mana kamu tidak punya ibu, tidak punya teman, tidak punya siapa pun. Itu pilihanmu. Atau tetap di sini, di ruang putih ini, terus menciptakan cerita, terus memeluk ilusi, terus jadi ratu dunia palsumu."
Aku menangis. "Itu pilihan yang kejam."
"Realitas memang kejam. Akan tetapi, setidaknya realitas itu nyata. Dan kau—" dia menyentuh pipiku, "—kau sudah terlalu lama bersembunyi."
---
Aku memejamkan mata.
Lalu membukanya.
Aku tidak di ruang putih lagi. Aku di rumah sakit. Lampu neon di atas kepalaku menyala silau. Ada selang di hidungku. Ada infus di tangan kiriku. Jari-jari kakiku bisa digerakkan. Perlahan. Sakit.
Seorang perawat masuk. Dia melihatku. Matanya membulat.
"Kamu sadar," katanya.
Aku mengangguk. Mulutku kering. Lidahku terasa seperti amplas.
"Aku akan panggil dokter."
Dia berlari keluar. Aku sendirian di ruangan itu. Di dinding, jam dinding. Bentuknya bulat. Putih. Tidak ada gambar kucing. Jarumnya bergerak maju normal. 07.15.
Aku tersenyum.
Namun senyumku memudar ketika aku menoleh ke samping tempat tidur. Di kursi plastik samping ranjangku, ada seorang perempuan tua. Rambut putih. Wajah keriput. Mata cekung. Sama persis dengan perempuan di ruang putih itu.
Namun dia tidak bergerak. Dia hanya duduk. Matanya terbuka lebar. Pupilnya membiru—bukan biru mata manusia, biru seperti kaca pembesar, seperti lensa yang tidak lagi berfungsi.
Dia boneka.
Boneka seukuran manusia. Dengan pakaian rumah sakit. Dengan rambut putih sungguhan. Dengan mata kaca.
Aku membeku.
Perawat kembali dengan dokter. Dokter itu memeriksaku. Lampu disorot ke mataku. Tekanan darah diukur. Semua normal.
"Siapa dia?" tanyaku, menunjuk boneka itu.
Dokter dan perawat saling pandang.
"Itu ... boneka," kata dokter hati-hati. "Kamu membawanya saat pertama kali masuk tiga tahun lalu. Kamu bilang itu ibumu. Kamu tidak mau berpisah dengannya. Kami tidak keberatan karena pasien koma biasanya membawa barang-barang personal untuk stimulasi."
Aku menatap boneka itu.
Boneka itu menatapku.
Dan aku ingat.
Aku tidak pernah punya ibu. Akan tetapi, aku punya boneka. Boneka pemberian pengasuh panti asuhan saat aku berusia lima tahun. Aku menamainya Ibu. Aku berbicara kepadanya setiap malam. Aku menceritakan semuanya. Aku marah kepadanya. Aku memeluknya. Aku membencinya karena dia tidak bisa membalas bicara.
Aku membawanya ke mana pun aku pergi. Bahkan ke dalam kecelakaan itu. Bahkan ke dalam koma. Bahkan ke dalam ruang putih di kepalaku, di mana aku mengubah boneka menjadi ibu yang hidup, yang memasak mi, yang memiliki wajahku, yang berbicara dengan suaraku.
Karena lebih baik punya ibu palsu daripada tidak punya ibu sama sekali.
---
Namun, itu belum selesai.
Karena ketika dokter dan perawat keluar, aku mencoba berdiri. Kakiku lemas. Aku jatuh. Tangan kananku menabrak meja samping tempat tidur. Sesuatu jatuh. Sebuah buku. Buku catatan kecil, sampul kulit cokelat.
Aku membukanya.
Tulisan tanganku.
Halaman pertama:
"Jika kamu membaca ini, kamu sudah bangun dari koma. Selamat. Akan tetapi, aku harus memberitahumu sesuatu: kamu bukan pasien. Kamu adalah perawat. Kecelakaan itu bukan kecelakaanmu. Kecelakaan itu kecelakaan pasien bernama Larasati. Kamu jatuh koma karena kamu terlalu lama duduk di samping tempat tidurnya, menulis cerita tentang dirimu di buku ini, sampai otakmu percaya bahwa kamu adalah Larasati dan Larasati adalah kamu. Sekarang bangun. Buka mata. Nama aslimu adalah Maya. Kamu perawat di rumah sakit ini selama delapan tahun. Larasati adalah pasien yang tidak pernah sadar dari komanya. Dan boneka itu—boneka itu milik Larasati, bukan milikmu."
Aku menjatuhkan buku.
Aku melihat nama di papan identitas di ujung tempat tidur: LARASATI.
Aku melihat namaku sendiri di papan identitas yang tergantung di leherku—aku masih memakai seragam perawat? Aku menunduk. Aku tidak memakai seragam perawat. Aku memakai baju pasien.
Aku bingung.
Aku mengambil buku itu lagi.
Halaman terakhir:
"Atau mungkin itu juga bohong. Mungkin tidak ada Maya. Tidak ada Larasati. Mungkin yang ada hanyalah ruang putih, dan kamu adalah satu-satunya kesadaran di dalamnya, yang terus menciptakan lapisan-lapisan cerita untuk menghibur diri. Lapisan pertama: kau punya ibu. Lapisan kedua: kau mati. Lapisan ketiga: kau koma. Lapisan keempat: kau perawat. Lapisan kelima: kau tidak pernah ada. Hanya cerita. Cerita tanpa penulis. Cerita tanpa pembaca. Cerita yang terus mengulang dirinya sendiri setiap pukul 5.47, ketika jarum jam berdetak mundur, dan dapur dengan mi instan muncul kembali, dan ibu dengan wajahmu bertanya, 'Kok diam saja?'"
Aku menutup buku.
Jam dinding di ruangan itu berdetak.
05.47.
Pintu ruangan terbuka.
Ibu masuk, dengan celemek, dengan sendok kayu.
"Makan dulu, nanti keburu berangkat kerja," katanya.
Aku menatapnya. Wajahnya wajahku.
Mulutku bergerak sendiri. "Ibu ... aku tidak punya pekerjaan. Aku tidak punya teman. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku benar-benar ada."
Ibu tersenyum.
"Itu bukan alasan untuk tidak makan mi," katanya.
Dan dia meletakkan mangkuk mi instan di pangkuanku.
Dingin.
Mati.
Seperti aku.
---
Sekarang jam menunjukkan 05.47 lagi.
Atau selalu pukul 05.47.
Aku tidak tahu berapa kali aku mengulang percakapan ini. Dengan ibu. Dengan perawat. Dengan perempuan tua di kursi. Dengan boneka. Dengan diriku sendiri di ruang putih.
Yang aku tahu: setiap kali aku hampir mencapai kebenaran, pintu terbuka, dan ibu masuk dengan mi instan.
Dan aku makan.
Karena lebih baik makan mi dingin bersama ibu palsu daripada lapar sendirian di ruang putih yang tidak pernah berakhir.
Aku seorang pasien.
Aku seorang perawat.
Aku seorang anak yatim.
Aku seorang ibu bagi diriku sendiri.
Aku mati.
Aku hidup.
Aku tidak pernah ada.
Dan mungkin—mungkin itu bukan masalah.
Mungkin pertanyaan "siapa aku" tidak sepenting pertanyaan "apakah aku ingin terus makan mi ini?"
Dan jawabannya, setiap kali, adalah: ya.
Karena mi ini adalah satu-satunya yang hangat di dunia yang tidak pernah cukup hangat untukku.
Atau mi ini dingin.
Namun, aku sudah lupa bagaimana rasanya hangat.
Jadi, dingin pun cukup.
Komentar
Posting Komentar