Demonstrasi

Yang tidak bisa dimaafkan oleh Seno bukanlah ketika temannya, Boni, ditembak mati di depan matanya. Bukan pula ketika mayat Boni dibawa pergi oleh mobil berpabrik hitam tanpa pelat nomor, lalu tidak pernah kembali, seolah Boni tidak pernah ada di muka bumi. Yang benar-benar tidak bisa dimaafkan adalah ketika Seno pulang ke rumah, menceritakan semuanya pada ibunya, dan ibunya hanya berkata:

“Sudahlah, Nak. Itu sudah takdir. Ibu sudah kehilangan kakakmu dulu. Jangan tambah Ibu kehilangan kamu.”

Kakak Seno, Rendra, menghilang tahun 1998. Dia mahasiswa. Ikut demonstrasi menuntut reformasi. Suatu malam, Rendra pamit tidak pernah kembali. Ibu menangis selama setahun penuh. Lalu berhenti. Lalu mengganti foto Rendra di dinding dengan foto Seno. Lalu berkata, “Kamu jangan jadi seperti kakakmu. Diam saja. Ibu tidak kuat kehilangan anak lagi.”

Tahun 2025 sekarang. Seno dua puluh dua tahun. Mahasiswa. Dan hari ini, temannya mati ditembak.

Seno tidak bisa diam. Tapi dia juga tidak bisa bergerak. Sebab diam adalah pengkhianatan pada Boni. Bergerak adalah pengkhianatan pada ibunya.

Itulah pertama kalinya Seno menyadari bahwa Ibu Pertiwi—sang ibu tanah air—adalah ibu yang sama dengan ibunya: perempuan yang melahirkan anak-anaknya hanya untuk ditumbalkan, lalu berteriak histeris ketika anak-anaknya benar-benar tumbang, lalu diam, lalu melahirkan lagi, lalu menumbalkan lagi. Siklus yang tidak pernah berhenti. Seperti rahim yang terus berdarah tapi tidak pernah mati.

Malam itu, Seno bermimpi. Dalam mimpinya, Ibu Pertiwi berdiri di tengah lapangan luas. Tubuhnya raksasa, busuk, penuh luka. Dari perutnya yang robek, keluar anak-anak—ribuan anak—dengan mata buta, mulut terkunci, tangan terborgol. Mereka berjalan tanpa arah, menuju jurang yang sama.

“Apa kau lihat?” tanya Ibu Pertiwi. Suaranya seperti suara ibu Seno, tapi lebih tua, lebih lelah.

“Mereka anak-anakku. Aku melahirkan mereka untuk negara. Negara mengambil mereka. Negara menghilangkan mereka. Dan aku... aku hanya bisa berdiri di sini, terus melahirkan, terus menumbalkan, karena jika aku berhenti, aku bukan lagi ibu. Aku hanya perempuan tua yang tidak berguna.”

Seno bangun dengan keringat dingin. Jam menunjukkan pukul 03.47.

Di luar jendela, terdengar suara teriakan.

“Turunkan harga! Turunkan rezim! Hentikan penghilangan paksa!”

Seno menatap tangannya sendiri. Di telapak tangan kanan, ada tulisan yang tidak dia ingat menulisnya: "KAMU SELANJUTNYA!"

---

Segmen 2 — Sejarah yang Tidak Pernah Usai

---

Rumah Seno berada di gang sempit di belakang kampus. Dindingnya penuh coretan. Di sudut ruang tamu, masih tergantung foto Rendra dalam bingkai usang. Rendra tersenyum. Rendra tidak tahu bahwa dua puluh tujuh tahun kemudian, adiknya akan menghadapi nasib yang sama.

Seno duduk di kursi rotan, ditemani ibunya yang sedang menjahit. Ibu tidak banyak bicara sejak Rendra hilang. Mulutnya hanya bergerak untuk makan, minum, atau berkata, “Jangan keluar malam-malam.”

Tapi malam ini, setelah Seno bercerita tentang Boni, Ibu berbicara lebih panjang.

“Kamu tahu sejarah keluarga kita, Nak?” Ibu meletakkan jahitannya. “Kakekmu, ayah dari ibuku, dulu anggota serikat tani. Tahun 1965, dia ditanggal. Tidak pernah kembali. Nenekku mencari ke mana-mana, sampai ke markas militer, sampai ke kuburan massal. Tidak pernah ditemukan. Hanya satu surat yang datang, isinya: ‘Tahanan sudah dieksekusi. Ambil jenazah di alamat ini.’ Tapi ketika nenekku sampai, yang ada hanya tanah gembur tanpa tanda. Nenekku menggali sendiri dengan tangan. Menemukan gigi. Satu gigi geraham. Itu yang dia bawa pulang. Sampai mati, nenekku tidak pernah menikah lagi. Dia hanya memeluk gigi itu setiap malam.”

Ibu berhenti. Matanya kosong.

“Setelah itu, keluargaku tidak pernah lagi berbicara tentang politik. Kami hanya diam. Kami hanya bekerja. Kami hanya berusaha hidup. Itu satu-satunya cara untuk tidak ikut menjadi tanah gembur. Tapi lihatlah—meskipun kami diam, anak-anak kami tetap diambil. Rendra diambil. Boni diambil. Kamu... mungkin selanjutnya.”

Seno memegang tangan ibunya. Kasar, berkapalan, penuh luka bekas jahit. “Ibu, apa kita harus diam terus?”

Ibu tidak menjawab. Dia hanya kembali menjahit. Jarum menembus kain. Kain menangis dalam diam.

---

Segmen 3 — Yang Hilang dan yang Pura-Pura Hilang

---

Tiga hari setelah kematian Boni, Seno bergabung dengan kelompok mahasiswa yang merencanakan demonstrasi besar. Namanya: Gerakan Tanah Gembur. Anggotanya anak-anak muda yang kehilangan teman, saudara, atau orang tua akibat kekerasan negara. Mereka bertemu di sebuah gudang kosong di pinggiran kota. Dinding gudang penuh dengan foto-foto orang hilang. Ribuan wajah. Dari 1965 hingga 1998 hingga 2025.

Di ujung ruangan, ada seorang perempuan tua. Umurnya mungkin delapan puluh tahun. Dia duduk di kursi roda, ditutupi selimut lusuh. Matanya tajam meskipun rabun.

“Dia nenek Fatimah,” kata ketua kelompok, seorang perempuan bernama Dinda. “Dia selamat dari pembantaian 1965. Suaminya hilang. Anak laki-lakinya hilang tahun 1974. Cucu laki-lakinya hilang tahun 1998. Sekarang dia di sini untuk bercerita.”

Nenek Fatimah tidak bercerita. Dia hanya menggenggam tangan Seno dan berbisik, “Kami yang hidup hanya penanda bahwa mereka yang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kami adalah luka yang berjalan. Dan luka tidak bisa sembuh selama yang melukai masih berkuasa.”

Seno menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena dia melihat di mata nenek Fatimah sesuatu yang tidak pernah dia lihat di mata ibunya: kemarahan yang tidak padam meskipun sudah enam puluh tahun.

“Nenek tidak takut?” tanya Seno.

“Takut,” kata nenek Fatimah. “Tapi ketakutan nenek sudah berubah bentuk. Dulu nenek takut mati. Sekarang nenek takut mati sebelum melihat mereka yang membunuh suamiku diadili. Jadi nenek tetap hidup. Meskipun nyeri. Meskipun lelah. Meskipun setiap pagi nenek terbangun dan bertanya, untuk apa?”

Seno mengepal tinju. “Besok kami demo. Nenek ikut?”

Nenek Fatimah tersenyum. Giginya tinggal tiga. “Nenek sudah tidak punya kaki untuk berjalan. Tapi nenek punya suara. Dan suara nenek tidak akan mati meskipun nenek yang mati.”

---

Segmen 4 — Hari Demonstrasi

---

Lapangan tengah kota. Ribuan mahasiswa berkumpul. Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat. Spanduk-spanduk bergambar orang hilang berkibar. Teriakkan “Hidup rakyat! Mati rezim!” menggema di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri bisu seperti penjaga penjara.

Seno berdiri di barisan depan. Di sampingnya, Dinda memegang pengeras suara. Di belakangnya, nenek Fatimah ikut didorong kursi rodanya oleh seorang relawan. Tua-tua, dia tetap datang.

“Kami di sini bukan untuk merusak!” teriak Dinda. “Kami di sini untuk mengingatkan bahwa 1965 bukan cerita. 1998 bukan mitos. 2025 bukan kebetulan. Setiap tahun, anak-anak ibu pertiwi dihilangkan. Dan setiap tahun, ibu pertiwi diam. Sudah berapa banyak darah yang harus tertumpah sebelum ibu pertiwi berteriak?”

Dari kejauhan, terdengar suara sirine. Derap boot tentara. Dinding baja bergerak maju.

“Mereka datang,” bisik Seno pada Dinda.

“Kita tidak mundur,” jawab Dinda.

Seno menoleh ke belakang. Nenek Fatimah mengangguk. Di tangan nenek Fatimah, ada foto suaminya—laki-laki muda dengan kumis tipis, tersenyum lebar, tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu lagi dia akan menjadi tanah gembur.

Barisan pertama aparat tiba. Mereka membawa tameng, pentungan, senjata laras panjang. Seorang komandan dengan kumis tebal berdiri di depan.

“Bubarkan diri! Ini peringatan terakhir!”

Tidak ada yang bubar.

“Kami tidak akan pergi!” teriak Seno. “Kami di sini untuk menuntut keadilan untuk Rendra, untuk Boni, untuk suami nenek Fatimah, untuk jutaan orang yang kalian kubur dalam diam!”

Komandan itu menatap Seno. Matanya dingin. Lalu dia mengangkat tangan.

“Tembak.”

---

Segmen 5 — Twist Pertama: Ibu Pertiwi Bicara

---

Peluru pertama tidak menghantam Seno. Peluru pertama menghantam nenek Fatimah.

Perempuan tua itu jatuh dari kursi roda. Tubuhnya yang keropos berlubang di dada. Darah merah tua mengalir ke aspal panas. Foto suaminya terbang, lalu mendarat di genangan darah.

“Nenek!” teriak Seno.

Dia berlari ke arah nenek Fatimah. Tapi peluru kedua, ketiga, keempat menghujan. Mahasiswa berlarian. Teriakan, jeritan, tangis. Asap gas air mata menyebar. Dunia menjadi putih, panas, sesak.

Seno berhasil mencapai nenek Fatimah. Tapi nenek itu sudah tidak bernapas. Matanya terbuka lebar. Bibirnya bergetar, mengucap sesuatu yang tidak terdengar.

Seno mendekatkan telinga.

“Ibu Pertiwi... menangis,” bisik terakhir nenek Fatimah. “Tapi air matanya... racun. Karena dia menangisi anak-anaknya yang mati... bukan karena dia mencintai mereka... tapi karena dia takut kehilangan pengorbanan. Dia butuh anak-anaknya mati. Itu satu-satunya cara dia merasa penting.”

Nenek Fatimah mati. Seno memejamkan matanya. Dunia berputar.

Lalu, dalam kepanikan dan asap, Seno mendengar suara lain. Suara yang tidak mungkin. Suara dari langit yang kelabu.

“Dia benar.”

Seno mendongak. Di atas gedung DPR/MPR yang megah, berdiri sesosok raksasa. Perempuan. Tubuhnya setengah membusuk. Pakaiannya dari kabut dan darah. Wajahnya seperti ibu Seno, tapi juga seperti nenek Fatimah, tapi juga seperti foto Ibu Pertiwi di buku pelajaran SD—hanya saja versi yang tidak pernah diajarkan guru.

“Ibu Pertiwi?” bisik Seno.

“Aku,” suara itu menggetarkan gedung. “Aku yang kau serukan. Aku yang kau kutuk. Aku yang melahirkan kalian. Aku yang menumbalkan kalian. Dan aku tidak akan berhenti. Karena jika aku berhenti menumbalkan, aku akan sadar bahwa aku bukan ibu. Aku hanya tanah. Tanah tidak punya perasaan. Tanah tidak punya tanggung jawab. Dan lebih mudah menjadi tanah yang dibajak daripada menjadi ibu yang gagal melindungi anak-anaknya.”

Seno berteriak, “Lalu kenapa kau masih disebut ibu? Ibu tidak boleh menumbalkan anaknya!”

Ibu Pertiwi tertawa. Tawanya memecahkan kaca gedung-gedung. “Karena kalian yang menyebutku ibu. Sejak ribuan tahun lalu, kalian membutuhkan sosok ibu untuk memayungi semua kekejaman kalian sendiri. Bukan aku yang jahat. Kalian yang jahat, lalu kalian proyeksikan ke aku. Aku hanyalah cermin. Dan cermin tidak bisa memilih apa yang harus dipantulkan.”

Demonstrasi berantakan. Mahasiswa lari tunggang langgang. Tapi Seno tetap berdiri, di samping mayat nenek Fatimah, menatap Ibu Pertiwi dengan mata penuh amarah dan air mata.

“Kalau kau cermin, maka aku akan memecahkanmu,” kata Seno.

“Coba,” tantang Ibu Pertiwi.

---

Segmen 6 — Turun ke Bawah Tanah

---

Seno tidak memecahkan Ibu Pertiwi. Dia berlari—bukan menjauh, tapi menuju gedung DPR/MPR. Di tengah kekacauan, di antara aparat yang memburu mahasiswa, Seno menyelinap masuk melalui pintu bawah tanah yang tidak pernah dia sadari sebelumnya.

Pintu itu terbuka begitu saja, seolah menunggunya.

Di dalam, lorong panjang menuju kegelapan. Dindingnya dari tanah. Bau anyir, seperti bau kuburan massal. Semakin Seno berjalan, semakin dia mendengar suara—bukan suara Ibu Pertiwi, tapi suara-suara lain. Ribuan suara. Suara orang yang mati. Suara orang yang hilang. Suara orang yang dikubur tanpa nama.

“Seno...”

Suara itu familiar. Sangat familiar.

“Rendra? Kakak?”

“Jangan teruskan, Sen. Kamu tidak akan bisa keluar. Aku sudah dua puluh tujuh tahun di sini. Tidak ada yang keluar dari sini. Ini bukan penjara. Ini perut Ibu Pertiwi. Dan dia tidak pernah memuntahkan apa yang sudah dia telan.”

Seno berhenti. “Kamu masih hidup?”

“Apa artinya hidup? Aku bisa bicara. Aku bisa bergerak. Tapi tubuhku sudah menyatu dengan dinding tanah ini. Aku hanya suara. Aku hanya ingatan. Aku hanya satu dari ribuan yang terus berbisik, berharap seseorang di atas sana mendengar.”

Seno menyentuh dinding tanah. Lembab. Berdenyut. Seperti daging hidup.

“Aku akan membawamu keluar.”

“Tidak bisa. Satu-satunya yang bisa keluar adalah mereka yang belum mati. Kamu masih hidup, Sen. Kembalilah. Ceritakan apa yang kau lihat di sini. Biarkan dunia tahu bahwa kami tidak hilang. Kami di sini. Di dalam perut ibu pertiwi. Bersama dengan jutaan lainnya. Dari 1965, dari 1998, dari 2025. Kami menunggu. Bukan untuk diselamatkan. Tapi untuk diingat.”

Seno menangis. “Aku tidak bisa mengingat kalian sendirian. Aku butuh bukti.”

“Buktinya ada di dalam kepalamu. Setiap kali kau bercerita, kami hidup. Setiap kali kau diam, kami mati lagi. Pilihan ada di tanganmu, Sen. Sekarang cepatlah. Mereka akan mencari pembuat onar di atas sana. Dan jika mereka menangkapmu, kau akan bergabung dengan kami. Bukan di sini—tapi di perut ibu yang lain. Karena ibu pertiwi punya banyak perut. Dan dia lapar. Selalu lapar.”

---

Segmen 7 — Kembali ke Atas, ke Dalam Rimba Hukum

---

Seno keluar dari pintu bawah tanah. Demonstrasi sudah reda. Lapangan kosong, hanya berserakan spanduk, sandal, dan bercak-bercak darah. Aparat masih berjaga di perbatasan. Seno berjalan cepat, menunduk, menyusuri gang-gang sempit menuju rumah.

Sepanjang perjalanan, dia membayangkan wajah-wajah yang dia lihat di dinding tanah. Rendra. Boni. Suami nenek Fatimah. Ribuan lainnya. Mereka tidak berteriak. Mereka hanya menatap. Tatapan yang meminta satu hal: Jangan lupakan kami.

Seno sampai di rumah. Ibu masih terjaga, duduk di kursi rotan, menjahit. Dia tidak bertanya apa-apa. Hanya berkata, “Kamu basah kuyup. Mandi dulu.”

“Ibu,” kata Seno. “Aku masuk ke perut ibu pertiwi. Aku bertemu kakak.”

Jarum Ibu berhenti. Wajahnya pucat. “Kamu bohong.”

“Aku tidak bohong. Rendra masih hidup. Dia ada di dalam tanah, di bawah gedung DPR. Dia tidak bisa keluar. Tapi dia bicara. Dia minta diingat.”

Ibu meletakkan jahitannya. Tangannya gemetar. “Kenapa kau cerita ini padaku? Kenapa kau tidak biarkan aku tenang? Selama dua puluh tujuh tahun aku berusaha melupakan. Aku berusaha menganggap Rendra mati. Supaya aku tidak gila. Dan sekarang kau datang, membuka luka lama, mengatakan dia hidup di dalam tanah? Apa kau mau aku gila, Nak?”

Seno memeluk ibunya. Ibu menangis. Menangis untuk pertama kalinya sejak Rendra hilang. Bukan tangis histeris. Tangis pelan, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.

“Aku tidak mau Ibu gila,” bisik Seno. “Tapi aku juga tidak mau Ibu terus berpura-pura bahwa tidak ada yang salah. Negara ini salah, Bu. Negara mengambil anak-anak Ibu. Bukan hanya kakak. Tapi juga jutaan anak ibu yang lain. Dan selama kita diam, mereka akan terus mengambil.”

Ibu menarik napas panjang. “Apa yang bisa kita lakukan, Nak? Kita kecil. Negara besar.”

“Kita bisa bicara. Kita bisa cerita. Kita bisa buat dunia tahu bahwa di bawah gedung-gedung megah itu, ada tanah yang berteriak.”

Ibu terdiam lama. Lalu dia berdiri, berjalan ke lemari tua, mengambil sesuatu dari dalam kardus. Sebuah buku catatan usang, sampulnya robek. “Ini catatan harian Rendra. Dia titipkan pada tetanggaku sebelum dia pergi demo dulu. Aku tidak pernah membacanya. Aku takut.”

Seno membuka buku itu. Halaman pertama:

“22 April 1998. Hari ini ibu bilang, jangan jadi pahlawan. Ibu bilang, pahlawan mati. Tapi kalau bukan kita yang mati, siapa yang akan mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya untuk diam? Maaf, Ibu. Tapi aku lebih takut hidup sebagai pengecut daripada mati sebagai pengingat.”

Seno menutup buku. “Ibu, besok aku akan pergi lagi. Bukan demo. Tapi menyebarkan ini. Cerita Rendra. Cerita nenek Fatimah. Cerita semua yang hilang. Ibu mau ikut?”

Ibu menatap Seno. Matanya basah, tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun, ada sesuatu yang lain di sana: bukan ketakutan. Bukan kepasrahan. Tapi tekad.

“Ibu tidak bisa berjalan jauh, Nak. Tapi Ibu bisa menjahit. Ibu akan jahit nama-nama mereka di kain. Setiap nama. Setiap tanggal. Setiap tempat mereka terakhir terlihat. Supaya dunia tahu bahwa mereka pernah ada. Bahwa mereka bukan angka. Mereka anak-anak ibu.”

---

Segmen 8 — Twist Kedua: Ibu Pertiwi Lain

---

Malam itu, Seno bermimpi lagi. Tapi bukan Ibu Pertiwi yang busuk dan menakutkan. Seorang perempuan lain berdiri di hadapannya. Perempuan muda, berwajah teduh, memakai kebaya putih. Di tangannya, dia memegang kain panjang yang di atasnya tertulis ribuan nama.

“Siapa kamu?” tanya Seno.

“Aku Ibu Pertiwi juga,” kata perempuan itu. “Tapi versi yang tidak pernah kau kenal. Versi yang dilupakan. Versi yang ingin anak-anaknya hidup, bukan mati. Versi yang menangis setiap kali mendengar anak-anaknya ditembak, dihilangkan, dikubur massal. Aku tidak berdaya. Karena aku bukan negara. Aku bukan kekuasaan. Aku hanyalah harapan yang tinggal di hati kecil setiap ibu yang melahirkan anak-anaknya ke dunia yang kejam ini.”

Seno terdiam. “Mengapa kau tidak berteriak? Mengapa kau diam?”

“Karena suaraku adalah suaramu. Aku tidak punya suara sendiri. Aku hanya ada jika kalian menginginkanku ada. Selama ini kalian lebih memilih Ibu Pertiwi yang busuk—yang menumbalkan anak-anaknya—karena itu lebih mudah. Itu lebih nyaman. Itu tidak perlu perubahan. Tapi jika kalian berani memilihku, memilih harapan, memilih keberanian untuk tidak diam... maka aku akan menjadi nyata. Dan negara-negara yang menindas akan rubuh. Bukan karena perang. Tapi karena ibu-ibu yang tidak mau lagi menumbalkan anak-anaknya.”

Perempuan itu mengulurkan tangan. “Pilih, Seno. Ibu Pertiwi yang mana yang akan kau perjuangkan?”

Seno tidak ragu. Dia meraih tangan perempuan itu.

Dunia bermimpi itu meledak menjadi cahaya.

---

Segmen 9 — Garis Waktu yang Berubah?

---

Seno terbangun. Tidak di rumahnya. Tidak di kamar kosnya. Dia terbangun di ruangan putih, di atas tempat tidur logam, dengan tangan terborgol ke samping tempat tidur.

Di sampingnya, ada seorang perawat.

“Kamu sadar?” tanya perawat itu.

“Di mana aku?” Seno panik.

“Rumah sakit jiwa. Kamu dibawa ke sini setelah pingsan di lapangan demonstrasi tiga hari lalu. Dokter bilang kamu mengalami gangguan psikotik akut. Kamu mengigau tentang Ibu Pertiwi, tentang tanah di bawah gedung DPR, tentang kakakmu yang hilang. Semua itu tidak nyata, Seno. Kakakmu mati ditabrak truk tahun 1998. Bukan ditembak. Nenek Fatimah tidak pernah ada. Itu semua halusinasimu.”

Seno mengepalkan tangan. Belenggu besi menghentak. “Itu semua nyata! Aku tidak gila!”

Perawat itu menghela napas. Dia mengeluarkan ponsel, menunjukkan sebuah video. Video Seno sedang berlari di lapangan demonstrasi—sendirian. Tidak ada mahasiswa lain. Tidak ada aparat. Tidak ada tembakan. Seno berlari, berteriak, menangis, memeluk tanah kosong.

“Lihat,” kata perawat. “Kamu sendirian. Tidak ada demonstrasi. Yang ada hanya kamu yang berhalusinasi karena tekanan skizofrenia yang tidak terdiagnosis. Ibumu sudah mendaftarkanmu ke sini dua minggu lalu. Sebelum demonstrasi itu terjadi. Karena ibu tahu kamu mulai berbicara tentang Ibu Pertiwi, tentang suara dari dalam tanah.”

Seno menggigit bibir hingga berdarah. “Itu semua rekayasa. Itu semua bagian dari sistem untuk membuatku diam. Seperti mereka membuat semua orang diam.”

Perawat itu tidak menjawab. Dia hanya meninggalkan Seno sendirian di ruangan putih.

---

Segmen 10 — Twist Akhir: Plot di Dalam Twist di Dalam Plot di Dalam Twist

---

Seno duduk di ruangan putih itu selama berjam-jam—atau mungkin berhari-hari, dia tidak tahu. Kadang dia diberi makan. Kadang dia disuntik. Kadang dia mendengar suara-suara dari balik dinding, tapi dia tidak tahu apakah suara-suara itu nyata atau hanya pikirannya sendiri.

Suatu malam, seorang perempuan tua masuk ke ruangannya. Dia bukan perawat. Dia bukan dokter. Dia memakai baju lusuh, rambut putih kusut, dan di tangannya ada foto seorang laki-laki muda.

“Kamu Seno?” tanya perempuan itu.

“Iya.”

“Aku nenek Fatimah.”

Seno terkesiap. “Tapi perawat bilang kamu tidak ada!”

Nenek Fatimah tersenyum. Gigi tinggal tiga. “Perawat itu bohong. Atau mungkin dia tidak tahu. Aku ada. Aku selalu ada. Dan apa yang kamu lihat di lapangan itu nyata. Demonstrasi itu nyata. Tembakan itu nyata. Tapi setelah kejadian itu, pemerintah memutarbalikkan berita. Mereka bilang tidak ada demonstrasi. Mereka bilang yang terjadi adalah kerusuhan antarwarga. Mereka bilang mahasiswa yang tewas adalah korban tawuran. Mereka bilang tidak ada tembakan dari aparat. Mereka sangat pintar. Mereka mengubah sejarah sebelum sejarah sempat ditulis.”

Seno menangis. “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mereka lebih kuat.”

Nenek Fatimah mendekat. Dia membuka belenggu Seno dengan kunci kecil yang dia bawa. “Kita bisa melakukan apa yang selalu bisa dilakukan oleh mereka yang tidak punya kekuasaan: kita bisa bercerita. Cerita tidak bisa dibunuh. Cerita hanya bisa dilupakan. Dan selama ada satu orang yang mengingat, cerita itu hidup. Kamu ingat, Seno. Kamu saksi. Dan saksi tidak butuh bukti. Saksi butuh keberanian.”

Seno berdiri. Kakinya lemas, tapi dia berdiri. “Bawa aku keluar dari sini.”

“Ke mana?”

“Ke mana pun. Asal tidak di sini. Aku harus menulis. Aku harus bercerita. Tentang Rendra, tentang Boni, tentang nenek Fatimah, tentang Ibu Pertiwi yang busuk dan Ibu Pertiwi yang terluka. Aku harus membuat dunia tahu bahwa di negara ini, sejarah tidak pernah berlalu. Sejarah hanya berulang, dengan korban yang sama, dengan pelaku yang sama, dengan Ibu Pertiwi yang sama—yang terus melahirkan, terus menumbalkan, terus berduka, terus diam.”

Nenek Fatimimenggenggam tangan Seno. Tangan tua, keriput, tapi kuat. “Kita keluar lewat lorong bawah tanah. Sama seperti yang kau lihat dulu. Di sana, kakakmu dan jutaan yang lain masih berbisik. Mereka tidak bisa keluar. Tapi mereka bisa menunjukkan jalan.”

Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang gelap. Tidak ada satpam. Tidak ada perawat. Hanya kegelapan dan bau tanah basah.

Di ujung lorong, ada pintu.

Pintu yang sama.

Pintu menuju perut Ibu Pertiwi.

Seno berhenti sejenak. Dia menoleh ke belakang. Rumah sakit jiwa itu berdiri sunyi, seperti penjaga yang tertidur. Lalu dia menatap pintu di depannya.

“Kita masuk?” tanya nenek Fatimah.

Seno mengangguk.

Mereka masuk. Pintu tertutup di belakang mereka.

Dan di dunia atas sana, di rumah-rumah penduduk, di asrama mahasiswa, di kantin kampus, di warung kopi, di gang-gang sempit—mulai terdengar bisikan. Bisikan tentang dua orang yang masuk ke dalam tanah dan tidak pernah kembali. Bisikan tentang demonstrasi yang tidak pernah terjadi. Bisikan tentang sejarah yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Bisikan itu pelan. Tapi tidak berhenti.

Karena cerita tidak bisa dibunuh.

Cerita hanya bisa dilupakan.

Dan hari ini, beberapa orang mulai mengingat.

Termasuk kamu, yang membaca ini.

Sekarang, pertanyaannya: apa yang akan kamu lakukan dengan ingatan itu?

---

Selesai.

Tapi di perut Ibu Pertiwi, Seno dan nenek Fatimah berjalan terus. Mereka melewati Rendra, melewati Boni, melewati suami nenek Fatimah, melewati jutaan wajah tanpa nama. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak menangis. Mereka hanya berbisik pada setiap nama yang mereka lewati:

“Kami tidak akan melupakanmu.”

Dan para arwah itu tersenyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI