DOA SEORANG PELACUR
Bukan doa yang diajarkan di sekolah minggu. Bukan sujud di atas sajadah. Di sebuah kamar sempit berlantai tanah di kawasan pelabuhan, seorang perempuan bernama Lasiyah berbisik kepada Tuhan setiap malam setelah lampu padam. Ia tidak pernah meminta ampun. Tidak pernah meminta rezeki. Ia hanya bercerita tentang nama-nama laki-laki yang singgah di tubuhnya, tentang uang yang ia sisipkan di celah dinding untuk anak yang tidak tahu wajahnya, dan tentang satu pertanyaan yang tidak pernah berani ia tanyakan dengan keras: Apakah Engkau juga tidur dengan mereka yang menghakimi aku, atau Engkau hanya hadir di mulut mereka saat khotbah Jumat? Namun, suatu malam, Tuhan menjawab. Bukan dengan suara, melainkan dengan kehadiran yang membuat Lasiyah sadar bahwa ia bukan sedang berdoa kepada Tuhan yang benar.
---
Lasiyah berusia tiga puluh empat tahun. Wajahnya masih cantik jika ia tersenyum, tetapi ia jarang tersenyum. Yang sering ia lakukan adalah duduk di tepi ranjang besi yang berkarat, merokok keretek sambil menunggu ketukan pintu. Kamarnya berukuran 2x3 meter. Dindingnya penuh noda jamur dan bekas tangan yang menekan terlalu keras. Di sudut, ada cermin retak yang selalu ia tutup dengan kain sarung—karena ia tidak tahan melihat matanya sendiri setelah selesai melayani.
Setiap malam, sekitar pukul sebelas, setelah laki-laki terakhir pulang, Lasiyah akan membasuh tubuhnya dengan air dari ember hijau. Ia tidak punya shower. Ia tidak punya air panas. Akan tetapi, ia punya sabun colek seharga dua ribu rupiah yang baunya seperti melati imitasi. Setelah itu, ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, dan mulai berdoa.
Bukan doa dengan tangan menengadah. Bukan doa dengan mata terpejam khidmat. Ia membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit asbes yang bolong, dan berkata dengan suara serak:
"Tuhan, hari ini aku dapat tujuh laki-laki. Yang pertama bau bawang, mungkin kuli panggul. Ia hanya tiga menit. Bayarnya pas. Yang kedua pegawai bank, pakai parfum mahal. Ia minta pelukan setelah selesai. Aku beri gratis. Yang ketiga sampai keenam biasa saja. Namun yang ketujuh ... ia murid SMA, Tuhan. Masih pakai seragam. Ia menangis setelahnya. Ia bilang ini pertama kali. Aku tidak tagih uang. Malah aku kasih dua puluh ribu buat ongkos pulang."
Lasiyah berhenti. Ia menekan puntung rokok ke lantai tanah.
"Aku bertanya, Tuhan. Mengapa anak seusia itu harus mencari pelacur? Bukankah Engkau yang menciptakan hasrat? Lalu, mengapa Engkau tidak memberi jalan yang tidak melukai? Atau ... Engkau memang sengaja menciptakan luka agar ada yang perlu diampuni? Agar rumah ibadah-Mu tidak pernah sepi?"
Ia menunggu. Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada.
Akan tetapi, malam ini berbeda.
---
Sekitar pukul dua dini hari, Lasiyah terbangun karena haus. Ia beranjak ke kendi tanah di samping pintu. Saat menuang air ke gelas plastik, ia mendengar suara dari balik kain sarung yang menutup cermin.
"Jangan meminum air itu. Sudah basi. Sudah dua minggu tidak diganti."
Lasiyah membeku. Bukan karena takut. Ia sudah terlalu lama hidup di pelabuhan untuk takut pada suara misterius. Ia hanya terkejut—karena suara itu tidak asing. Suara itu seperti suaranya sendiri, tetapi lebih tua, lebih lelah, lebih tahu segalanya.
"Kamu siapa?" tanya Lasiyah tanpa menoleh ke cermin.
"Kamu tahu siapa aku. Setiap malam kamu berbicara denganku. Aku yang menjawab selama ini, tetapi kamu tidak pernah mendengar. Malam ini, aku izinkan kamu mendengar."
Lasiyah menoleh. Kain sarung itu jatuh dengan sendirinya. Di cermin, ia melihat dirinya. Namun, bukan dirinya yang sekarang—dirinya yang tua, sekitar tujuh puluh tahun, dengan wajah keriput dan mata yang sama persis. Mata yang tidak pernah kehilangan api.
"Jadi, selama ini aku berbicara pada cermin?"
"Kamu berbicara kepada dirimu sendiri. Seperti semua orang beriman. Mereka mengira sedang berbicara kepada Tuhan, padahal mereka sedang berbicara kepada versi terbaik dari diri mereka yang mereka proyeksikan ke langit. Tuhan tidak butuh doa. Tuhan butuh diam. Akan tetapi, kamu—kamu butuh didengar. Dan aku di sini untuk mendengarkanmu."
Lasiyah duduk di depan cermin. Ia menatap perempuan tua itu. Perempuan tua itu menatap balik.
"Kalau kamu aku, kenapa wajahmu lebih tua?"
"Karena aku adalah kamu yang sudah mati. Aku mati tujuh tahun dari sekarang. Aku datang ke cermin ini setiap malam untuk mengingatkanmu bahwa waktu tidak sebanyak yang kamu kira."
---
Lasiyah seharusnya takut, tetapi ia malah tertawa. Ia tertawa keras sampai tetangga kamar sebelah (seorang pelacur lain bernama Marni) memukul dinding dan berteriak, "Las, lagi ngapain? Matiin lampu, anjing!"
Lasiyah tidak menggubris. Ia terus tertawa, matanya berair.
"Jadi, kamu sudah mati," katanya akhirnya. "Lalu kenapa kamu repot-repot datang? Untuk menakut-nakuti aku? Untuk menyuruhku bertobat? Tolong, malam Minggu depan baru aku sibuk. Malam ini aku malas mendengar khotbah dari bayanganku sendiri."
Perempuan tua di cermin tersenyum. Senyum yang sama persis dengan Lasiyah saat ia memberikan uang dua puluh ribu kepada anak SMA tadi.
"Aku tidak datang untuk menakutimu. Aku datang untuk memberitahumu rahasia yang tidak pernah berani kamu ucapkan dalam doa-doamu. Bahwa laki-laki ketujuh yang menangis di pangkuanmu tadi malam ... adalah anakmu. Anak yang kamu lahirkan tujuh belas tahun lalu dan kamu tinggalkan di panti asuhan karena kamu tidak sanggup membesarkannya."
Dunia Lasiyah berhenti.
Rasanya seperti ditampar dengan batu bata. Ia ingat—ia menyusui bayi itu tiga bulan, lalu seorang suster di panti asuhan mengambilnya dari tangannya, dan ia tidak pernah kembali. Ia ingat nama yang ia berikan: Dimas. Ia ingat tanda lahir di pergelangan tangan kiri. Dan tadi malam, saat anak SMA itu melepas seragamnya, Lasiyah melihat tanda lahir yang sama. Ia pilih untuk tidak mengingat. Ia pilih untuk menganggap itu kebetulan.
"Tuhan ...," bisik Lasiyah, bukan lagi doa, melainkan rintihan.
"Tuhan tidak ada hubungannya dengan ini," kata perempuan tua di cermin. "Ini adalah roda nasib yang buta. Dan kau—kau baru saja tidur dengan anak kandungmu sendiri. Itu bukan dosa. Itu tragedi Yunani yang terjadi di kamar sempit berlantai tanah karena sistem, karena kemiskinan, karena ketidakmampuan dunia melindungi siapa pun."
Lasiyah terdiam. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk, seperti patung, seperti boneka, seperti sesuatu yang sudah mati tetapi lupa untuk berbaring.
"Lalu," katanya pelan, "apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak ada. Yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Yang bisa kau lakukan hanyalah mengaku sebagai ibunya besok pagi. Lalu ia akan membencimu. Lalu ia akan pergi. Lalu kau akan mati dalam kesepian yang sempurna, tanpa pernah melihatnya lagi. Itu skenario yang paling mungkin."
"Atau?"
"Atau kau tidak mengaku. Kau biarkan ia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang mungkin suatu hari nanti kembali ke kamarmu karena kebiasaan. Dan kau akan tidur dengannya berulang kali, tanpa pernah ia tahu bahwa ia tidur dengan ibunya. Dan kau akan mati dengan rahasia itu. Pilih."
Dua pilihan. Keduanya neraka.
---
Lasiyah berdiri. Ia berjalan ke jendela. Di luar, pelabuhan gelap. Kapal-kapal nelayan bersandar seperti monster tidur. Laut hitam tanpa batas.
"Aku tidak akan memilih," katanya.
"Bagaimana?"
"Aku tidak akan memilih, karena pilihan itu dibuat oleh logika yang mengharuskan aku menjadi korban. Namun aku bukan korban. Aku pelacur yang memilih profesi ini karena di desaku tidak ada kerja lain. Aku memilih meninggalkan Dimas karena di panti ia bisa makan tiga kali sehari. Aku memilih tidak mengaku sebagai ibunya tadi malam karena malu dan takut. Semua pilihan itu adalah pilihan. Dan pilihan adalah bukti bahwa aku masih punya kendali atas hidupku. Maka aku akan memilih jalan ketiga."
Perempuan tua di cermin mengernyit.
Apa jalan ketiga?
"Aku akan menemui Dimas besok pagi. Aku akan berkata: 'Aku ibumu. Dan tadi malam kita melakukan kesalahan yang tidak kita sengaja. Akan tetapi, kesalahan itu bukan akhir. Kesalahan itu awal dari percakapan yang tidak pernah kita punya selama tujuh belas tahun.' Aku tidak akan meminta maaf, karena maaf tidak cukup. Aku akan meminta ia untuk marah. Selama ia marah, ia masih peduli. Dan selama ia peduli, masih ada hubungan antara kita."
"Itu bunuh diri emosional."
"Tidak. Itu jujur. Dan kejujuran adalah satu-satunya doa yang tidak pernah Tuhan dengar karena Tuhan terlalu sibuk mendengar mereka yang sok suci."
---
Cermin itu retak. Bukan karena dipukul. Retak sendiri, seperti kaca yang tidak tahan dengan kebenaran yang terlalu berat. Dari balik retakan, bukan perempuan tua yang muncul, melainkan anak SMA itu. Dimas. Dengan seragam SMA-nya yang masih basah oleh air mata. Ia berdiri di antara pecahan cermin, atau mungkin di dalamnya, atau mungkin cermin itu adalah jendela ke waktu.
"Ibu," kata Dimas. Suaranya tidak seperti tadi malam. Tadi malam ia canggung, gugup, hampir bisu. Sekarang ia tegas, dewasa, seperti laki-laki yang sudah memutuskan sesuatu.
"Ibu tahu? Aku sengaja datang ke kamar ini. Aku sengaja mencari pelacur dengan tanda lahir di paha kiri—karena ayah angkatku dulu pernah bercerita tentang ibuku yang bekerja di pelabuhan. Aku ingin membuktikan, apakah benar Ibu masih di sini. Dan ketika Ibu membukakan pintu ... aku langsung tahu. Namun aku tetap melanjutkan. Karena aku ingin merasakan seperti apa rasanya kehilangan ibu. Dan tidak ada cara yang lebih jujur selain—"
Lasiyah memotong. "Cukup."
Diam.
"Kamu sengaja?" tanya Lasiyah. "Kamu tahu aku ibumu, tetapi kamu tetap?"
Dimas mengangguk. "Aku benci Ibu, tetapi aku juga rindu. Dan rasa benci dan rindu itu campur aduk jadi sesuatu yang tidak punya nama. Malam ini, aku ingin memberi nama pada perasaan itu. Dan aku memberinya nama doa."
Lasiyah menggeleng. Wajahnya pucat. "Doa tidak seperti itu."
"Doa itu apa, Bu? Bacaan? Ritual? Aku dulu diajari mengaji. Namun waktu aku mengaji, aku tidak merasa apa-apa. Baru tadi malam—setelah bersamamu—aku merasakan sesuatu. Bukan kenikmatan, melainkan kejujuran yang sakit. Dan aku pikir, mungkin doa adalah kejujuran yang sakit. Mungkin Tuhan tidak butuh pujian. Mungkin Tuhan butuh kita jujur bahwa kita kacau, bahwa kita melukai orang yang kita cintai, bahwa kita masih punya perasaan meskipun perasaan itu menjijikkan."
---
Mendengar itu, Lasiyah tidak marah. Ia tidak menangis. Ia malah duduk di lantai, mengambil rokok lagi, dan menyalakannya dengan korek yang hampir habis.
"Kau pintar," katanya, "tetapi kau juga bodoh. Kau pikir dengan sengaja tidur dengan ibumu kau bisa memahami kesedihannya? Tidak, Nak. Yang kau pahami hanyalah rasa ingin tahunmu. Itu egois. Dan aku tidak akan memaafkanmu."
Dimas terkejut. "Akan tetapi, Ibu tadi bilang—"
"Tadi aku bilang akan jujur. Ini kejujuran: kau bukan anak yang baik. Kau adalah anak yang sakit. Dan aku bukan ibu yang baik. Aku adalah perempuan yang dulu meninggalkanmu karena aku tidak punya pilihan. Namun setidaknya aku tidak sengaja menyakitimu. Sementara kau—kau sengaja menyakiti dirimu sendiri, dan menjadikanku alatnya."
Lasiyah berdiri. Ia berjalan ke cermin yang sudah retak itu. Ia menyentuh pecahan-pecahannya.
"Aku tidak akan mengaku sebagai ibumu di depan umum. Aku tidak akan meminta maaf. Aku hanya akan melakukan satu hal: aku akan berhenti menjadi pelacur mulai besok. Bukan karena malu. Bukan karena tobat. Melainkan karena aku lelah. Dan karena aku tidak ingin anakku suatu hari nanti kembali ke kamar ini karena dendam yang tidak ia mengerti."
Ia menoleh kepada Dimas.
"Kau pergi sekarang. Dan jangan pernah kembali. Bukan karena aku tidak sayang, melainkan karena kita harus saling melupakan untuk bisa hidup. Itu doaku untukmu. Doa yang tidak pernah kupanjatkan kepada Tuhan mana pun."
Dimas terdiam. Lalu ia berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berbalik.
"Ibu ... aku akan kembali. Bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai anak yang ingin belajar memaafkan. Itu janjiku."
Pintu tertutup.
---
Tiga tahun kemudian, di pelabuhan yang sama, tidak ada lagi kamar 7. Kamar itu telah berubah menjadi warung kopi kecil. Pemiliknya seorang perempuan setengah baya dengan wajah lelah tetapi matanya masih tajam. Namanya Lasiyah.
Setiap pagi, ia menyeduh kopi untuk para kuli pelabuhan. Setiap sore, ia membaca koran bekas. Setiap malam, ia duduk di depan cermin—cermin baru yang tidak retak—dan ia tidak berdoa. Ia hanya duduk. Diam.
Karena ia sudah tahu: Tuhan tidak di langit. Tuhan tidak di cermin. Tuhan tidak di doa-doa yang dipanjatkan dengan air mata.
Tuhan ada di antara dua manusia yang saling melukai lalu saling memaafkan tanpa pernah mengucap kata "maaf".
Suatu malam, seorang pemuda masuk ke warung. Ia sudah dewasa. Wajahnya mirip Lasiyah di usia muda. Ia duduk di kursi depan, memesan kopi pahit, dan berkata:
"Aku pulang, Bu."
Lasiyah tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tersenyum sungguhan.
"Kopi hangat," katanya. "Awas panas."
Mereka tidak berpelukan. Tidak menangis. Tidak mengucap doa.
Namun di meja antara mereka, di atas cangkir kopi yang mengepul, sebuah percakapan rahasia terjadi. Bukan antara Lasiyah dan Dimas, melainkan antara luka dan waktu.
Dan waktu berkata kepada luka: "Kita tidak perlu sembuh. Kita hanya perlu terus berbicara."
Itulah doa terakhir Lasiyah. Doa seorang pelacur yang tidak pernah dijawab, tetapi didengarkan oleh satu-satunya Tuhan yang ia percaya: Tuhan yang diam, yang tidak tinggal di surga, tetapi di sela-sela ketukan pintu kamar sempit, di antara napas yang terputus, di sela doa yang tidak pernah sampai.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar