Dunia Tanpa Dinding
Pada hari ketika tembok kamarku berubah menjadi kaca, aku sedang berbaring telentang sambil memikirkan apakah lebih baik mati cepat atau mati lambat.
Aku tidak menyentuh apa pun. Tidak menekan tombol. Tidak mengucapkan mantra. Satu detik, dinding kamarku berwarna putih kusam seperti dinding pada umumnya. Detik berikutnya, dinding itu hilang. Bukan runtuh. Bukan terbuka. Tapi berubah menjadi sesuatu seperti kaca bening, tanpa bingkai, tanpa kerangka, sehingga aku bisa melihat ke luar—tidak hanya ke jalan di depan rumah, tapi ke seluruh kota, ke gunung-gunung di kejauhan, ke laut yang seharusnya tidak terlihat dari kamar lantai dua.
Aku berjalan ke dinding itu. Kulitku menyentuh permukaannya. Dingin. Tapi bukan dingin kaca. Dingin seperti udara di puncak gunung, tipis dan menusuk.
Kulihat tetanggaku, Pak RT, sedang menyiram tanaman di halaman. Kulihat dia memasukkan air ke selang. Kulihat air mengalir. Kulihat selang itu melingkar di tanah. Tapi aku juga melihat—di balik Pak RT, di balik pagar rumahnya, di balik dinding rumahnya yang sekarang juga berubah menjadi kaca—bahwa di dapur rumahnya, istrinya sedang menangis sambil memegang ponsel. Di ponsel itu, ada foto seorang perempuan muda. Foto anak perempuannya yang sudah dua tahun merantau dan tidak pernah pulang.
Aku tidak seharusnya bisa melihat itu. Jarak antara kamarku dan dapur rumah Pak RT adalah lima puluh meter, melewati tiga tembok dan satu pagar. Tapi sekarang, semua dinding di dunia ini telah berubah menjadi kaca. Tidak ada yang tersembunyi. Tidak ada yang privat.
Dan di tengah kebingunganku, ponselku berdering. Ibu.
"Nak," suaranya serak, seperti baru saja menangis atau baru saja marah. "Ayahmu... ayahmu pergi. Dia lihat kamu dari rumahnya. Dia lihat kamu berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka, tidak bergerak. Dia pikir kamu sudah mati. Dia lari ke sana. Aku cegah. Dia pukul aku."
"Ayah di mana sekarang?"
"Di jalan. Berlari ke arah rumahmu. Tapi dia berhenti di tengah jalan. Karena dia lihat sesuatu di rumah ibu."
"Apa yang dia lihat?"
Ibu diam. Lalu dia berkata, "Dia lihat ibu bersama laki-laki lain di ruang tamu. Padahal ibu sendirian. Yang dia lihat adalah foto. Foto laki-laki itu. Foto yang ibu simpan di dalam lemari. Tapi sekarang tidak ada lemari. Tidak ada dinding. Foto itu terlihat dari mana pun. Dan ayahmu... ayahmu kira ibu selingkuh."
Aku menutup telepon. Aku berjalan keluar rumah. Di jalan, orang-orang berlarian. Ada yang menangis. Ada yang tertawa histeris. Ada yang duduk di pinggir jalan sambil menutup mata dengan kedua tangan, karena di mana pun mereka melihat, mereka melihat rahasia-rahasia yang tidak pernah mereka minta untuk diketahui.
1. Eksistensialisme yang Telanjang
Rumah Pak RT sekarang seperti akuarium. Aku bisa melihat setiap sudutnya. Di kamar tidur, putranya yang baru lulus SMA sedang menonton video dewasa. Dia tidak tahu bahwa seluruh lingkungan bisa melihat layar ponselnya karena dinding kamarnya bening. Di ruang keluarga, foto-foto lama berserakan—foto Pak RT bersama perempuan lain yang bukan istrinya, dari dua puluh tahun lalu. Istrinya kini berdiri di depan foto itu, tidak bergerak, seperti patung yang baru sadar bahwa dia tidak pernah benar-benar bahagia.
Aku terus berjalan. Di depan toko kelontong, Bu RT—istri Pak RT—berteriak pada suaminya: "Kamu simpan foto itu selama dua puluh tahun? Kamu simpan di belakang bingkai foto pernikahan kita?"
Pak RT tidak menjawab. Dia hanya berdiri, menatap istrinya, lalu menatapku. Matanya kosong. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Tapi karena dia tahu semua kata-kata yang bisa dia ucapkan sekarang tidak ada gunanya. Dinding sudah jatuh. Tidak ada tempat bersembunyi.
Aku tiba di rumah ibu. Rumah yang dulu berwarna hijau muda, dengan pagar besi tinggi. Sekarang, pagar itu kaca. Tembok itu kaca. Pintu itu—pintu kayu jati yang kokoh—sekarang menjadi kaca yang sama beningnya sehingga aku bisa melihat ibu duduk di sofa sambil memegang foto ayah. Foto laki-laki lain yang dimaksud ayah tidak ada. Mungkin ayah salah lihat. Mungkin ayah terlalu panik. Atau mungkin—mungkin foto itu sudah pindah. Karena di dunia tanpa dinding, benda pun bisa bergerak tanpa disentuh.
"Ibu," kataku sambil berdiri di depan pintu yang tidak lagi bisa menutup.
Ibu menoleh. Wajahnya sembab. Di tangannya, foto ayah—ayah kandungku, yang sudah meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Bukan foto laki-laki lain. Tapi foto ayah. Dan di samping foto itu, ada surat wasiat yang selama ini ibu sembunyikan di dalam lemari. Surat wasiat yang isinya: semua harta peninggalan ayah diberikan pada perempuan lain di kota lain. Perempuan yang ternyata adalah istri pertamanya. Ibu bukan istri sah. Ibu adalah... selingkuhan. Dan aku adalah anak dari selingkuhan itu.
"Ayahmu...," ibu mulai bicara, lalu berhenti. Lalu mulai lagi. "Ayahmu tidak pernah bilang. Ibu juga tidak pernah bilang. Kami pikir kami bisa membawa rahasia ini ke kubur. Tapi sekarang... tidak ada kubur yang cukup dalam untuk menyembunyikan apa pun."
2. Surealisme yang Jendelanya Pecah
Dari kejauhan, aku mendengar suara sirene. Bukan polisi. Bukan ambulans. Tapi suara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya—suara seperti kaca pecah, tapi pecahnya jutaan kaca sekaligus, di seluruh dunia.
Di langit, tiba-tiba muncul tulisan. Huruf-huruf raksasa, berwarna putih, melayang seperti awan:
"DUNIA TANPA DINDING ADALAH HADIAH DARI YANG MAHA MELIHAT. KINI KALIAN BISA MELIHAT SEPERTI KAMI MELIHAT. SELAMAT MENIKMATI KEJUJURAN."
Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bersyukur. Orang-orang justru berlarian mencari tempat berteduh—tapi di dunia tanpa dinding, tempat berteduh tidak ada. Rumah sakit? Dindingnya kaca. Kamar mayat? Dindingnya kaca. Bahkan toilet umum pun sekarang menjadi tontonan publik yang absurd.
Seorang anak kecil berlari ke arahku. Wajahnya penuh air mata.
"Kak," katanya. "Aku lihat mama aku di rumah tetangga. Mama aku lagi... mama aku lagi..."
"Kamu tidak usah bilang," kataku. "Aku juga bisa lihat."
Kami berdua diam. Di rumah tetangga, seorang perempuan—yang jelas-jelas bukan istri tetangga itu—sedang duduk di ranjang sambil merapikan rambut. Di sampingnya, pria yang bukan suaminya sedang memakai kemeja terbalik. Mereka tidak tahu bahwa seluruh desa melihat mereka. Mereka terlalu sibuk panik dengan dinding rumah mereka yang hilang.
3. Plot Twist: Dinding Tidak Pernah Ada. Yang Ada Hanyalah Ilusi.
Di tengah kekacauan, seorang lelaki tua berjalan ke arahku. Dia tidak berlari. Tidak panik. Dia berjalan dengan tenang, seperti orang yang sudah tahu ini akan terjadi. Dia memakai jas hitam, dasi merah, dan sepatu pantofel mengkilap. Di tangannya, sebuah palu.
"Kamu Elang?" tanyanya.
"Aku Elang. Kamu siapa?"
"Aku yang menciptakan dinding. Bukan dinding fisik. Tapi dinding ilusi. Selama ribuan tahun, aku membuat manusia percaya bahwa mereka punya privasi. Bahwa mereka bisa menyembunyikan rahasia di balik tembok, di bawah kasur, di dalam hati. Padahal tidak ada dinding. Yang ada hanyalah kesepakatan diam untuk tidak saling melihat. Dan hari ini, aku membatalkan kesepakatan itu."
"Kenapa?"
"Dengar," katanya sambil duduk di trotoar yang sekarang juga seperti kaca. Aku bisa melihat tanah di bawah trotoar, akar-akar pohon, pipa air, dan tulang-belulang hewan yang mati puluhan tahun lalu. "Kalian manusia terlalu nyaman dengan kebohongan. Kalian bilang 'tidak apa-apa, yang penting bahagia.' Tapi kebahagiaan dari kebohongan adalah kebahagiaan yang membusuk. Aku bosan melihat kalian tersenyum di atas rahasia yang busuk. Jadi aku buka semuanya. Biar kalian lihat. Biar kalian muntah. Lalu kalian bisa memulai dari awal, tanpa dinding, tanpa kebohongan."
"Tapi dengan cara ini, orang akan saling bunuh."
"Biarkan. Yang mati akan mati. Yang hidup akan hidup tanpa dinding. Dan tanpa dinding, mereka tidak akan bisa lagi menyakiti dengan sembunyi-sembunyi. Mereka harus menyakiti di depan mata semua orang. Atau—mungkin—mereka akan berhenti menyakiti karena tidak ada lagi tempat untuk lari."
Aku memegang palu di tangannya. "Palu ini untuk apa?"
Lelaki tua itu tersenyum. "Untuk memecahkan dinding terakhir."
"Dinding apa?"
"Dinding di kepalamu. Dinding yang membuatmu berpikir bahwa kamu terpisah dari orang lain. Kamu pikir kamu Elang, anak dari Siti dan Kasmadi, penduduk desa Lembang. Itu semua dinding. Nama, identitas, sejarah—semua dinding. Tanpa dinding, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya... kesadaran yang melihat. Dan dilihat. Tanpa perlu memberi nama."
4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Dunia Tanpa Dinding Adalah Penjara
Aku mengambil palu itu. Berat. Tapi bukan berat besi. Berat seperti rasa bersalah. Lalu aku bertanya, "Kalau tidak ada dinding, apakah ada yang namanya ruang? Apakah ada yang namanya jarak? Apakah aku bisa menyentuhmu tanpa berjalan?"
Lelaki tua itu tertawa. "Pertanyaan bagus. Jawabannya: tidak. Tanpa dinding, tidak ada ruang. Tanpa ruang, tidak ada jarak. Tanpa jarak, semua orang berada di tempat yang sama. Dan semua orang berada di tempat yang sama berarti... tidak ada yang bisa bersembunyi, tapi juga tidak ada yang bisa mendekat. Karena kalian sudah selalu di samping satu sama lain sejak awal. Yang kalian anggap 'dekatan' selama ini hanyalah ilusi jarak yang diciptakan oleh dinding."
"Jadi dunia tanpa dinding bukan dunia transparan. Tapi dunia di mana semua orang menyatu?"
"Bukan menyatu. Menindih. Seperti halaman buku yang dicetak terlalu tebal sehingga tinta dari halaman belakang terlihat di halaman depan. Hidupmu menindih hidupku. Rahasianya menindih rahasiaku. Tidak ada yang bisa dipisahkan lagi."
Aku melihat sekeliling. Orang-orang yang tadinya berlarian kini mulai berdiri diam. Mereka tidak bisa bergerak karena tidak ada ruang untuk bergerak. Setiap langkah mereka menindih langkah orang lain. Setiap napas mereka menghirup napas yang sama. Dunia menjadi sesak. Bukan sesak karena banyak orang, tapi sesak karena konsep 'ruang' telah mati.
"Kembalikan dinding!" teriak seseorang.
"Kami tidak mau begini!"
"Kami lebih suka kebohongan!"
Lelaki tua itu mengangkat bahu. "Terlambat. Palu itu satu-satunya yang bisa mengembalikan dinding. Tapi untuk menggunakannya, kamu harus memecahkan dinding terakhir di kepalamu. Dan setelah dinding itu pecah, kamu tidak akan ingat cara mengembalikan apa pun. Karena kamu akan menjadi... kosong."
5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Palu Itu Adalah Aku
"Berikan palu itu padaku," kata seorang perempuan. Aku menoleh. Dia adalah perempuan yang duduk di ranjang bersama pria yang bukan suaminya tadi. Kini dia berdiri di depanku, rambutnya masih acak-acakan, kemejanya masih terbalik. Matanya merah. Tapi ada sesuatu di matanya yang tidak kumiliki: tekad.
"Kamu tahu resikonya?" tanya lelaki tua.
"Aku tahu. Aku akan jadi kosong. Tapi setidaknya dunia ini akan kembali punya dinding. Anak-anakku tidak akan tumbuh di tempat di mana mereka bisa melihat ibunya berselingkuh setiap hari."
"Ini bukan hanya tentang kamu," kataku. "Ini tentang semua orang."
"Justru karena semua orang, aku rela. Aku sudah salah. Aku sudah jadi sampah. Biarkan aku yang jadi kosong. Biarkan orang lain hidup dengan dinding mereka lagi."
Dia meraih palu dari tanganku. Tapi ketika jarinya menyentuh gagang palu, palu itu berubah. Menjadi cair. Menjadi cahaya. Menjadi sesuatu yang mengalir ke dalam tubuhku.
"Apa yang terjadi?" teriak perempuan itu.
Lelaki tua itu tersenyum. "Palu itu tidak bisa dipegang oleh siapa pun kecuali oleh orang yang menciptakannya. Dan orang yang menciptakannya adalah..."
"Elang," kataku. "Aku yang menciptakan palu ini. Tapi aku tidak ingat."
"Kamu tidak ingat karena kamu sengaja lupa. Kamu adalah pencipta dunia tanpa dinding ini. Bukan aku. Aku hanya... alatmu. Kamu lelah dengan kebohongan. Kamu lelah dengan rahasia. Jadi kamu ciptakan ini. Tapi setelah menciptakannya, kamu sadar itu kesalahan. Jadi kamu pecahkan dinding terakhirmu—dinding ingatan—agar kamu tidak perlu menanggung rasa bersalah. Tapi sekarang palu itu kembali padamu. Sekarang kamu ingat."
Aku ingat.
Aku ingat segalanya.
Aku ingat bahwa aku bukan Elang. Aku bukan anak dari siapa pun. Aku adalah... makhluk yang lahir dari kelelahan. Kelelahan melihat manusia saling menyakiti dalam diam. Kelelahan melihat rahasia yang membusuk. Jadi aku menciptakan dunia tanpa dinding. Tapi kemudian aku melihat bahwa tanpa dinding, manusia tidak saling mengenal. Mereka hanya saling melihat. Dan melihat tanpa mengenal lebih kejam daripada menyimpan rahasia.
6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Dinding Sebenarnya Adalah Rahmat
"Aku harus mengembalikan dinding," kataku.
"Tapi caranya?" tanya lelaki tua.
"Caranya adalah... aku harus menjadi dinding."
"Apa maksudmu?"
"Aku harus mengorbankan diriku. Tubuhku akan berubah menjadi tembok yang mengelilingi dunia. Aku akan menjadi dinding terakhir. Dinding yang tidak bisa ditembus. Dinding yang tidak bisa menjadi kaca. Dinding yang buta, tuli, bisu. Selamanya."
"Dan manusia?"
"Mereka akan hidup di dalam dinding itu. Mereka akan punya privasi lagi. Mereka akan punya rahasia lagi. Mereka akan saling menyakiti lagi dalam diam. Tapi setidaknya, mereka punya pilihan. Dengan dinding, mereka punya ruang untuk memilih: membuka pintu atau menutupnya. Tanpa dinding, mereka tidak punya pilihan."
Perempuan itu mendekat. Matanya tidak merah lagi. "Aku akan mengingatmu. Aku akan berterima kasih padamu setiap hari. Meskipun nanti aku lupa siapa namamu, aku akan ingat bahwa ada seseorang yang menjadi dinding agar aku bisa memiliki kamar tidur yang tertutup."
Aku tersenyum. "Kamu tidak akan ingat. Setelah aku menjadi dinding, semua ingatan tentang dunia tanpa dinding akan hilang. Manusia akan kembali seperti dulu. Mereka akan lupa pernah melihat rahasia tetangganya. Mereka akan lupa pernah ketakutan. Mereka hanya akan ingat bahwa dinding itu ada, dan itu sudah cukup."
7. Plot Twist Terakhir: Dunia Tanpa Dinding Tidak Pernah Terjadi. Itu Hanya Mimpi Elang Sebelum Mati.
Aku membuka mata.
Aku berbaring di ranjang. Dinding kamarku putih kusam seperti biasa. Tidak ada kaca. Tidak ada Pak RT yang menyiram tanaman. Tidak ada ibu yang memegang foto. Hanya aku, kamar ini, dan ponsel yang berdering.
Aku angkat. Ibu.
"Nak, kamu bangun? Ibu sudah masak sayur asem. Ayahmu juga sudah pulang. Kamu mimpi buruk? Tadi kamu teriak-teriak."
"Aku baik-baik saja, Bu."
Aku menutup telepon. Aku berdiri. Aku berjalan ke dinding. Aku menepuknya. Keras. Dingin. Nyata.
Di dinding itu, tidak ada apa pun. Hanya cat putih yang mulai mengelupas di sudut.
Tapi ketika aku menempelkan telingaku, aku mendengar sesuatu. Suara bisikan. Dari balik dinding. Bukan suara tetangga. Bukan suara angin. Tapi suara yang familiar. Suaraku sendiri.
"Aku di sini. Menjaga. Agar kamu bisa punya rahasia. Agar kamu bisa punya kamar. Agar kamu bisa menangis tanpa dilihat. Jangan pernah merobohkanku. Aku lebih rapuh dari yang kamu kira."
Aku mundur.
Aku tidak tahu apakah itu halusinasi atau kebenaran yang bocor dari mimpi.
Tapi sejak hari itu, setiap kali aku menatap dinding, aku merasa ada sesuatu yang menatap balik.
Bukan dengan mata.
Tapi dengan kehadiran.
Kehadiran yang hangat.
Kehadiran yang akrab.
Kehadiran yang seperti... diriku sendiri, yang memilih untuk menjadi tembok, agar aku bisa menjadi manusia.
Epilog (yang Tidak Pernah Terjadi, Tapi Juga Tidak Pernah Tidak Terjadi):
Di desa Lembang, tidak ada yang ingat dunia tanpa dinding.
Mereka hanya ingat suatu pagi, ketika mereka bangun, semua tembok rumah mereka terasa sedikit lebih tebal. Sedikit lebih hangat. Sedikit lebih seperti... pelukan.
Dan setiap kali seseorang menangis di kamar tidur, menempelkan kepalanya ke dinding, dia merasa sedikit lebih tenang.
Seolah-olah dinding itu mengerti.
Seolah-olah dinding itu juga pernah menangis.
Seolah-olah dinding itu berkata, tanpa suara:
"Aku di sini. Kamu tidak sendirian. Tapi kamu juga tidak perlu dilihat. Menangislah. Aku akan menyimpan rahasiamu. Sampai kapan pun."
Dan itu cukup.
Karena dinding bukanlah penjara.
Dinding adalah izin untuk menjadi rapuh, tanpa harus dihakimi oleh dunia.
Dunia tanpa dinding bukanlah kebebasan.
Dunia tanpa dinding adalah ruang di mana luka tidak pernah sembuh karena semua orang terus menggaruknya.
Jadi biarkan dinding itu ada.
Biarkan aku di sini.
Menjaga.
Dengan sunyi.
Dengan setia.
Dengan cara yang paling tidak terlihat.
Karena cinta yang paling besar, kadang, adalah cinta yang menjadi tembok.
Bukan untuk memisahkan.
Tapi untuk melindungi.
Selamanya.
Komentar
Posting Komentar