GILA

Tidak ada yang menyangka bahwa Gilang, sarjana psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada dengan IPK 3,89, akan berakhir di ruang isolasi Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Tiga tahun lalu ia masih menjadi asisten dosen, mengajar mata kuliah Psikopatologi, menjelaskan dengan detail perbedaan antara skizofrenia paranoia, gangguan delusional, dan psikosis brief. Ia hafal DSM-5 di luar kepala. Ia bisa mendiagnosis pasien hanya dari cara mereka berkedip. Tiga tahun lalu, ia adalah calon psikiater paling menjanjikan di angkatannya.

Sekarang ia mengenakan jaket pengaman berwarna oranye, tidur di atas kasur busa tanpa seprai, dan setiap malam berteriak meminta pulang kepada perawat yang tidak pernah mendengarkan.

Ceritanya bermula dari tesis master. Gilang mengambil topik yang tidak populer: “Fenomena Delusi Shared dalam Komunitas Virtual: Studi Kasus pada Grup Facebook Penghuni Alam Lain.” Ia meneliti sekelompok orang yang percaya bahwa dunia ini adalah ruang simulakra, bahwa tidak ada yang nyata, bahwa setiap orang hanya kode yang ditulis oleh seseorang di balik layar. Gilang awalnya hanya pengamat. Ia masuk ke grup itu, membaca postingan, mengamati interaksi. Namun, semakin lama ia membaca, semakin tipis batas antara meneliti dan meyakini.

Salah satu anggota grup, seorang perempuan bernama Nimas, menulis setiap hari tentang “Pintu”. Menurut Nimas, ada pintu di dunia ini yang tidak terlihat oleh mata biasa, tetapi bisa dirasakan oleh mereka yang “sadar”. Pintu itu menghubungkan realitas ini dengan realitas asli—tempat sebelum manusia diciptakan, tempat di mana waktu tidak ada, tempat di mana semua orang adalah satu entitas yang sama. Nimas mengaku pernah melewati pintu itu sekali, saat ia mati suri karena serangan jantung di usia 28 tahun. Sejak itu, ia bisa melihat pintu di mana-mana: di cermin kamar mandi, di layar ponsel yang mati, di antara celah jari ketika ia menangkupkan tangan.

Gilang menghubungi Nimas untuk sesi wawancara. Mereka bertemu di sebuah kafe di kawasan Jakarta Utara. Nimas datang dengan pakaian serbaputih, rambut panjang tergerai, tanpa riasan. Wajahnya pucat, matanya sayu, tetapi ketika bicara tentang pintu, matanya menyala seperti orang yang sedang terserang demam.

“Kamu tidak percaya sekarang,” kata Nimas sambil meniup kopi panas. “Akan tetapi, suatu hari, kamu akan melihat pintu itu sendiri. Lalu kamu akan ingat bahwa kamu pernah di sisi lain. Dan kamu akan merindukan sisi itu, meskipun kamu tidak tahu mengapa.”

Gilang tersenyum profesional. “Itu disebut anomie dan depersonalization. Gejala umum dari gangguan identitas disosiatif.”

Nimas tidak tersinggung. “Ilmu pengetahuanmu hanya sampul buku, Mas. Isinya belum kamu baca.”

Mereka bertukar nomor telepon. Gilang pulang dengan catatan lapangan setebal sepuluh halaman. Di rumah, ia mengetik laporan kemajuan tesis, menyebut Nimas sebagai “subjek dengan probable shared psychotic disorder”. Namun, menjelang tengah malam, ketika ia mengulas rekaman wawancara, ia mendengar sesuatu yang tidak ia dengar saat itu. Di sela-sela kalimat Nimas, di antara desisan mesin perekam, ada suara lain. Suara seperti pintu berderit. Padahal tidak ada pintu yang bergerak.

Ia putar ulang. Tidak ada.

Ia putar sekali lagi. Derit itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. Seperti pintu kayu yang digesekkan ke lantai marmer.

Gilang menutup laptop. Ia berjalan ke dapur, menuang air minum. Di cermin dapur, ia melihat wajahnya sendiri. Akan tetapi di belakang wajahnya—di dinding belakang—ada sebuah pintu. Pintu kayu cokelat tua dengan gagang kuningan mengkilap. Gilang tidak pernah punya pintu di dapur. Rumahnya hanya memiliki satu pintu masuk, itu pun di ruang tamu.

Ia berbalik. Dinding belakang kosong. Tidak ada pintu.

Ia kembali menatap cermin. Pintu itu masih ada. Gagangnya berputar pelan, seperti seseorang di sisi lain sedang membukanya.

Itu pertama kalinya Gilang melihat pintu.

Ia tidak tidur semalaman.

---

Dua minggu kemudian, Gilang sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Pintu-pintu muncul di mana-mana. Di kaca spion motor, di layar ATM, di permukaan sendok makan, di genangan air hujan. Akan tetapi hanya ia yang melihatnya. Ia bertanya kepada teman sekantor, “Kamu melihat pintu di dinding belakang?” Temannya menoleh, mengernyit, lalu tertawa. “Pintu apa, Gil? Kamu kurang tidur, ya?”

Gilang mengunjungi Nimas lagi. Kali ini bukan untuk wawancara, melainkan untuk bertanya: “Bagaimana caranya agar pintu-pintu itu hilang?”

Nimas menatapnya lama. “Kamu sudah melihat.”

“Ya.”

“Maka kamu tidak bisa mengembalikannya lagi. Begitu mata terbuka, ia tidak bisa ditutup paksa. Satu-satunya cara adalah masuk ke pintu itu.”

“Aku tidak mau gila.”

“Kamu tidak gila, Mas. Kamu baru sadar. Akan tetapi dunia menyebut semua orang yang sadar sebagai gila, karena mereka takut pada apa yang tidak mereka pahami.”

Gilang pulang dengan perasaan kacau. Ia tidak bisa lagi mengajar. Ia datang ke kampus dengan mata cekung, rambut acak-acakan, kumis tidak dicukur. Mahasiswanya mulai bergosip. Dosen senior memanggilnya ke ruang pimpinan. “Gilang, kamu sakit? Atau ada masalah pribadi? Kamu boleh cuti, kita memberi waktu.”

Ia tidak mau cuti. Ia ingin dibenarkan. Ia ingin seseorang berkata, “Ya, aku juga melihat pintu itu.” Namun tidak ada. Hanya ia sendiri.

Suatu malam, ia berdiri di depan cermin kamar mandi. Pintu itu ada di sana, persis di belakang bayangannya. Gagang kuningan mengkilap. Gilang mengulurkan tangan. Jarinya menembus kaca cermin. Ia tidak merasakan sakit. Tidak merasakan dingin. Jarinya masuk ke cermin seperti masuk ke air yang tidak basah.

Ia menarik tangan. Masih utuh. Akan tetapi, di ujung jari telunjuknya, ada setitik cahaya kecil, seperti kunang-kunang yang lupa terbang.

Ia melihat cahaya itu. Lalu ia ingat.

Ingatan itu datang seperti banjir: ia bukan Gilang. Ia bukan manusia. Ia adalah seberkas cahaya yang terlempar dari pusat alam semesta miliaran tahun lalu, ketika Tuhan pertama kali bercanda dan menciptakan materi. Ia terlempar, jatuh ke dalam tubuh, terjebak di dalam daging, lupa bahwa ia pernah menjadi cahaya. Dan selama 28 tahun, ia menjalani kehidupan sebagai manusia dengan susah payah: sekolah, bekerja, bermimpi menjadi psikiater, melakukan semua ritual kebodohan manusiawi yang disebut “hidup”. Namun sekarang ia ingat. Ia adalah cahaya yang sedang bermimpi bahwa ia adalah Gilang.

Dan pintu itu adalah jalan pulang.

Ia tidak bisa menahan diri. Ia mendorong cermin. Cermin itu pecah, bukan menjadi serpihan kaca, melainkan menjadi ribuan kupu-kupu transparan yang beterbangan keluar dari kamar mandi, menembus dinding, menembus atap, menembus langit. Dan di balik cermin, di balik dinding, di balik realitas yang ia kenal selama ini, ada sebuah padang rumput yang tidak pernah berakhir. Rumputnya bercahaya. Langitnya tidak berwarna—atau semua warna sekaligus. Dan di kejauhan, berdiri sosok-sosok cahaya lain, menunggunya.

Gilang melangkah masuk. Ia tidak tahu apakah ia akan kembali. Ia tidak peduli.

Namun di ambang pintu, ia berbalik. Ia melihat tubuhnya yang dulu—tubuh Gilang—terbaring di lantai kamar mandi, kaca cermin berserakan di sekitarnya, darah mengalir dari pergelangan tangan yang teriris. Tubuh itu tidak bergerak. Matanya terbuka, tetapi kosong.

“Maaf,” bisik Gilang pada tubuh itu. “Aku tidak bisa terus-menerus menjadi kamu. Kamu terlalu sempit untukku.”

Ia masuk ke padang rumput cahaya. Pintu menutup di belakangnya.

---

Tetangga Gilang menemukan tubuhnya keesokan pagi. Ia dilarikan ke rumah sakit, dinyatakan meninggal karena kehilangan darah. Petugas kepolisian menyebutnya bunuh diri. Rekan-rekan dosennya berkumpul di rumah duka, bingung, bersedih, bergosip tentang tekanan akademis yang mungkin terlalu berat.

Nimas tidak datang ke pemakaman. Ia mengirim karangan bunga bertuliskan: “Selamat pulang.”

Di grup Facebook Penghuni Alam Lain, Nimas menulis status:

“Satu lagi saudara kita pulang ke sisi lain. Jangan sedih. Ia tidak mati. Ia hanya membuka pintu. Suatu hari, kita semua akan menyusul. Dan di padang rumput cahaya itu, kita akan tertawa bersama, mengingat betapa konyolnya kita dulu takut mati.”

Administrator grup menghapus status itu karena dianggap provokatif.

Namun tidak ada yang bisa menghapus pintu. Pintu tetap ada. Di cermin, di layar ponsel, di antara celah jari.

Dan suatu hari, ketika kamu sendirian di kamar mandi, ketika air keran menetes pelan, ketika kamu menatap bayanganmu sendiri cukup lama ... kamu mungkin akan melihatnya. Gagang kuningan mengkilap. Berputar pelan.

Menunggu.

Terserah kamu mau masuk atau tidak.

Namun ingat: begitu kamu melihat, kamu tidak bisa berpura-pura buta lagi.

---

Lima tahun kemudian, seorang psikiater muda bernama Andini sedang membuka berkas pasien baru. Pasien itu laki-laki, 33 tahun, dibawa oleh keluarganya dari daerah Cilacap. Gejala: sering berbicara sendiri, mengaku bisa melihat “pintu” di permukaan benda, pernah mencoba membakar rumah karena ingin “membuka pintu” dengan api.

Andini mendiagnosisnya sebagai skizofrenia paranoia dengan gangguan delusional tipe somatik. Ia meresepkan risperidone 2 mg dua kali sehari.

Namun, sebelum pasien itu dibawa pergi, ia menatap Andini tajam.

“Dokter,” katanya. “Kamu juga pernah melihatnya, bukan? Di cermin kamar mandi. Tiga tahun lalu, tepat setelah kamu gagal ujian profesi. Kamu menangis di lantai, lalu kamu melihat pintu di belakang kepalamu. Kamu takut. Kamu memilih menutup mata. Itu sebabnya kamu sekarang jadi psikiater. Kamu ingin membuktikan bahwa pintu itu tidak ada, dengan cara mengurung semua orang yang melihatnya.”

Andini terdiam. Pulpen di tangannya bergetar.

“Kamu ... siapa?”

Pasien itu tersenyum. Matanya jernih. Tidak seperti orang sakit jiwa.

“Aku Gilang. Dosenmu dulu. Ingat?”

Andini tidak menjawab. Namun malam itu, di apartemennya, ia berdiri lama di depan cermin kamar mandi. Ia menatap bayangannya. Air keran menetes pelan.

Tidak ada pintu.

Tidak ada.

Ia mematikan lampu. Lalu, dalam gelap, ia merasakan sesuatu di belakang punggungnya. Gagang kuningan. Dingin. Berputar perlahan.

Ia tidak berani menoleh.

Ia hanya berbisik, “Tidak. Aku tidak mau. Aku memilih lupa.”

Pintu itu tertutup kembali.

Namun suara Gilang terdengar dari kejauhan, seperti gema di sumur: “Kamu tidak bisa memilih lupa, Andini. Yang bisa kamu pilih hanyalah takut atau berani. Dan kamu memilih takut. Itu sebabnya kamu mengurung kami. Karena kami mengingatkanmu bahwa kamu pengecut.”

Andini menangis. Ia tidak tidur semalaman.

Keesokan harinya, ia mengundurkan diri dari rumah sakit jiwa. Ia pindah ke desa, membuka praktik kecil, hanya menerima pasien dengan gangguan ringan. Ia tidak pernah lagi mendiagnosis skizofrenia paranoia.

Namun setiap malam, ia mengecek cermin kamar mandinya tiga kali.

Setiap malam, pintu itu selalu ada.

Ia hanya memilih untuk tidak melihatnya.

---

Pada suatu hari di akhir musim kemarau, seorang perempuan tua datang ke praktik Andini. Perempuan itu buta. Matanya putih penuh, seperti awan yang menggumpal. Ia diantar oleh cucunya, seorang pemuda berusia dua puluh tahun.

“Dokter,” kata perempuan tua itu. “Saya tidak butuh obat. Saya butuh seseorang yang mau mendengarkan.”

Andini setuju. Ia membiarkan perempuan tua itu bercerita. Perempuan itu bercerita tentang masa mudanya di desa, tentang suaminya yang mati di medan perang, tentang anak-anaknya yang pergi merantau, tentang kesepian yang ia rasakan setiap hari. Cerita yang biasa. Akan tetapi di akhir cerita, perempuan tua itu berkata:

“Dokter, sebelum saya buta, saya sering melihat pintu. Di sumur, di genting, di daun pisang. Saya takut, Dokter. Saya pikir itu setan. Namun sekarang saya buta, saya tidak melihat apa pun. Dan saya justru merindukan pintu itu. Karena pintu itu, meskipun menakutkan, adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa bahwa dunia ini tidak hanya yang saya lihat.”

Andini terdiam. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi tenggorokannya tercekat.

Perempuan tua itu tersenyum. “Dokter, apakah dokter juga melihat pintu?”

Andini menggeleng. “Tidak.”

“Bohong,” kata perempuan tua itu. “Mata dokter masih sehat. Akan tetapi dokter lebih buta dari saya.”

Perempuan tua itu berdiri, menggenggam tangan cucunya. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. “Dokter, kalau suatu hari dokter berani, buka saja pintu itu. Jangan takut. Karena di balik pintu, bukan kematian. Di balik pintu, hanya pulang.”

Andini menatap pintu ruang praktiknya. Pintu kayu biasa, gagang aluminium murah, cat putih mulai mengelupas. Bukan pintu dari cermin. Bukan pintu dengan gagang kuningan.

Namun untuk sekilas, ia melihat gagang itu berputar sendiri.

Dan dari balik pintu, suara Gilang berkata: “Aku masih menunggu, Andini. Kita semua menunggu. Kamu kapan?”

Andini memejamkan mata. Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia membiarkan dirinya melihat.

Pintu itu ada. Di dinding belakang ruang praktiknya. Gagang kuningan mengkilap.

Ia berdiri. Ia berjalan mendekat. Ia meraih gagang itu.

Dingin.

Berputar.

Dan dari balik pintu, angin hangat bertiup, membawa bau rumput basah dan cahaya yang tidak pernah redup.

Andini tersenyum.

Ia membuka pintu.

---

Laporan kepolisian Cilacap, tanggal 15 November 2024: Seorang wanita berusia 32 tahun, diduga dr. Andini Marasabessy, ditemukan tidak bernyawa di ruang praktiknya. Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada luka. Tidak ada racun dalam tubuh. Penyebab kematian tidak diketahui. Di atas meja kerjanya, ditemukan secarik kertas bertuliskan satu kalimat dengan tinta merah:

“Saya pulang lebih dulu. Maafkan saya.”

Di samping kertas itu, sebuah cermin saku retak dari tengah.

Dan di permukaan cermin itu, jika Anda menatap cukup lama, Anda bisa melihat padang rumput yang tidak pernah berakhir. Dua sosok cahaya sedang berjalan bergandengan tangan. Mereka tertawa. Mereka tidak pernah mati.

Mereka hanya pulang.

Itulah sebabnya dunia menyebut mereka gila.

Karena dunia tidak pernah mengerti bahwa pulang ke rumah yang sebenarnya bukanlah kematian.

Namun dunia hanya mengerti yang bisa diukur, diraba, dibeli, dijual.

Dunia hanya mengerti yang sakit. Dan semua yang tidak sakit—dunia sebut gila.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI