JERAT DALAM JERAT

Hujan tidak pernah benar-benar berhenti di kota ini—atau mungkin yang basah bukanlah air, melainkan waktu itu sendiri yang mencair, menetes perlahan dari atap-atap genting, membasahi setiap ingatan hingga lumer. Akan tetapi, itu hanya cara Agus membenarkan mengapa ia tidak bisa lagi membedakan antara mimpi dan kenyataan, antara pagi yang baru saja berlalu dan pagi yang akan datang dua puluh tahun kemudian.

Agus berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, tangan kanan menggenggam pisau dapur, tangan kiri memegang foto seorang perempuan yang wajahnya terus berubah setiap kali ia mengedip. Istrinya—Laras—tertidur di ranjang. Ataukah itu mayat? Ataukah itu Laras dari sepuluh tahun lalu yang belum sempat meninggal karena kecelakaan yang belum terjadi?

Itulah konfliknya: Agus tidak tahu apakah ia akan membunuh istrinya sekarang untuk mencegah kematiannya nanti, atau ia sedang mengulang adegan pembunuhan yang sudah ia lakukan seribu kali dalam siklus waktu yang sama sekali tidak pernah ia pilih.

Dan di kepalanya, seorang psikiater yang juga dirinya sendiri berbisik, Ini hanya delusi. Atau ini hanya nyata. Atau ini hanya delusi tentang nyata. Tidak ada petunjuk. Tidak ada jalan keluar yang tidak mengarah pada titik yang sama: keputusan yang harus diambil tanpa dasar apa pun selain keyakinan absurd bahwa satu pilihan lebih bermoral daripada pilihan lainnya.

---

Pisau di tangannya terasa hangat. Agus ingat—atau pikir ia ingat—bahwa pagi ini ia membangunkan Laras dengan kopi tubruk dan senyum yang tidak tulus karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi malam nanti. Namun, malam nanti tidak pernah datang; yang datang hanyalah malam yang sama, berulang, dengan variasi kecil yang sengaja disisipkan dunia untuk menyiksanya.

Laras bergerak. Agus menahan napas.

"Belum tidur, Mas?" suara Laras serak, nyata, begitu nyata sehingga Agus hampir menjatuhkan pisau. Hampir. Namun kemudian ia ingat: pada siklus ke-47, Laras berkata hal yang sama persis, dengan nada yang sama persis, dan setelah itu ia menikam dada kirinya. Laras mati. Laras hidup kembali keesokan paginya. Agus dihantui rasa bersalah yang tidak pernah tuntas karena korbannya selalu bangkit seperti mimpi buruk yang abadi.

Atau, itu hanya pikirannya yang gila.

Atau, itu hanya pilihan narasi yang ia paksakan pada ingatan yang sebenarnya lurus saja.

Begini cara kerja jebakan ini, pikir Agus. Kau tidak bisa membedakan antara ingatan asli, ingatan palsu, ingatan yang diciptakan untuk membenarkan tindakan sekarang, dan ingatan yang baru saja diciptakan oleh tindakan sekarang. Semuanya nyata. Semuanya tipuan.

---

Seorang gadis kecil muncul di sudut kamar. Agus tidak kaget. Gadis itu adalah dirinya sendiri—atau bayangan Laras kecil, atau sekadar simbol dari semua keputusan yang belum ia ambil. Gadis itu menatap Agus dengan mata kosong lalu berkata:

"Kalau kau bunuh dia, kau selamatkan dia dari kematian yang lebih menyakitkan nanti."

Laras tidak mendengar apa pun. Laras tertidur lagi.

"Akan tetapi, kalau kau tidak bunuh dia," gadis itu melanjutkan, "maka kematiannya nanti adalah salahmu juga karena kau punya kuasa untuk mencegahnya sekarang."

Logika paradoks. Seperti teka-teki kereta api yang lintasannya melingkar ke dirinya sendiri. Seperti Tuhan yang menciptakan batu yang tak bisa diangkat-Nya, lalu menciptakan diri-Nya yang lain untuk mengangkatnya.

Agus maju selangkah.

---

Kamar berubah. Bukan berubah, mungkin—mungkin yang berubah adalah cara Agus melihatnya. Dinding menjadi lunak seperti daging. Lampu tidur menjulur seperti leher angsa yang putus. Ranjang menjadi rakit di lautan yang dasarnya adalah wajah ibunya yang sudah meninggal dua puluh tahun lalu tetapi tetap tersenyum seperti tidak ada yang salah.

"Kamu harus memilih," kata ibunya dari dasar laut. "Atau sebenarnya tidak usah. Sebab tidak memilih juga adalah pilihan, dan pilihan itu juga akan membunuhnya."

Agus tidak tahu kapan ia mulai menangis. Atau, apakah air di pipinya adalah hujan yang merembes dari atap.

---

Pisau itu menusuk. Namun bukan ke dada Laras. Ke perutnya sendiri.

Laras menjerit. Agus jatuh berlutut. Dan tepat sebelum ia kehilangan kesadaran, ia mendengar suara psikiaternya—atau suara rekaman yang selama ini ia dengar di ruang terapi—berkata:

"Selamat, Anda berhasil menyelesaikan simulasi ke-1.000. Hasil akhir: 998 kali Anda membunuh istri, 1 kali Anda bunuh diri, 1 kali Anda tidak melakukan apa-apa. Pola menunjukkan bahwa bunuh diri adalah satu-satunya keputusan yang memutus siklus."

---

Agus membuka mata. Ia tidak mati. Ia berada di ruang putih tanpa pintu. Di depannya ada monitor raksasa menampilkan grafik keputusan. Sebuah suara—bukan suara psikiater, suara perempuan, suara Laras—berkata:

"Kamu bukan pasien skizofrenia, Mas. Kamu adalah subjek uji AI kami. Sepuluh tahun terakhir hidupmu adalah simulasi yang kami rancang untuk menguji dilema moral tingkat lanjut. Dan selamat—kamu satu-satunya subjek yang memilih bunuh diri."

Agus terdiam. Maka Laras tidak pernah ada. Anak itu tidak pernah ada. Rasa cinta, pengkhianatan, rindu, semua itu adalah ... data.

---

"Itu bohong," kata Agus pada monitor. "Kalau aku hanya subjek uji coba, mengapa aku bisa sadar bahwa aku sedang diuji? Itu cacat desain. Itu berarti kesadaran yang kalian uji juga menyadari bahwa ia sedang diuji, yang berarti paradoks pengamat tak terelakkan, yang berarti aku bukan subjek uji—aku adalah peneliti yang melupakan dirinya sendiri."

Monitor padam.

Ruangan bergetar.

Laras—atau sosok yang menyerupai Laras—masuk dari pintu yang sebelumnya tidak ada. Ia memeluk Agus. "Kau benar," bisiknya. "Kita berdua peneliti. Kita sengaja merancang lupa diri kita sendiri untuk menguji apakah moralitas dapat bertahan tanpa ingatan akan identitas. Dan kau lulus."

---

Agus menepis pelukan itu. "Masih bohong. Kalau aku memang peneliti, mana buktinya? Memori yang terkunci? Simbol? Kode?" Ia tertawa getir. "Kau hanya lapisan lain dari simulasi. Jebakan di dalam jebakan. Setiap 'kebenaran' yang kau berikan hanyalah umpan untuk membuatku berhenti mencari kebenaran yang sesungguhnya: bahwa tidak ada kebenaran. Hanya keputusan. Hanya pisau yang terjatuh atau tidak."

Laras—atau apa pun namanya—tersenyum. Lalu menghilang.

---

Agus duduk bersila di lantai ruangan putih yang mulai melapuk seperti dinding rumahnya yang dulu. Pisau masih tertancap di perutnya, tetapi tidak sakit. Tidak ada darah. Mungkin ia sudah mati di siklus ke-47. Mungkin semua ini adalah sekuel dari kematian yang lambat.

Di luar ruangan, di luar lapisan simulasi mana pun, seorang perempuan yang benar-benar bernama Laras sedang membaca laporan akhir eksperimen. Di lembar terakhir, tertulis:

Subjek memilih tidak percaya pada kebenaran apa pun, termasuk kebenaran bahwa ia sedang dalam eksperimen. Kesimpulan: Moralitas dalam ketiadaan kepastian absolut hanya mungkin jika subjek menerima bahwa ia harus tetap bertindak meski tanpa dasar. Subjek gagal atau berhasil? Tidak ada jawaban. Eksperimen berakhir di sini karena tidak ada cara untuk membedakan antara kegilaan dan pencerahan.

Laras menutup file itu. Lalu menulis satu kalimat di margin:

Atau, barangkali seluruh eksperimen ini hanyalah mimpiku, dan Agus adalah aku yang memimpikan diriku yang memimpikannya.

Ia tersenyum. Lalu menekan tombol Ulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI