JERAT DI ANTARA WAKTU

Leila tidak pernah menyangka bahwa memaafkan ibunya akan lebih sulit daripada membiarkannya mati.

Pukul dua dini hari, saat hujan mengguyur atap seng tanpa permisi, telepon berdering. Suara tetangga sebelah tergesa-gesa: “Bu Lisma jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah. Cepat ke sini.”

Leila meletakkan gagang telepon dengan tenang.

Lalu duduk kembali di kursi rotan, membiarkan kopi di tangannya mengepul sendirian.

Dia tahu. Tiga bulan lalu, ibunya didiagnosis tumor otak stadium akhir. Dokter memberi waktu maksimal enam bulan. Tapi kematian tidak pernah datang tepat janji. Justru ibunya masih cukup kuat untuk bangun tengah malam, tersandung sikat lantai yang sengaja ia taruh di depan pintu kamar mandi.

Iya, sengaja.

Leila yang meletakkan sikat itu. Leila yang membiarkan kabel setrika melintang di lorong gelap. Leila yang mengganti obat penenang ibunya dengan vitamin biasa, agar ibunya tetap terjaga, tetap sadar, tetap menderita.

“Kenapa aku harus mengurus orang yang dulu membuangku di panti?” begitu bisiknya setiap malam.

---

Tapi malam ini, ketika tetangga menelepon lagi—kali ini dengan nada histeris—Leila berdiri. Bukan karena iba. Karena ada yang aneh.

“Bu Lisma... dia bicara sesuatu sebelum pingsan,” kata tetangga itu. “Dia bilang: Tanyakan pada Leila di mana dia menyembunyikan tubuh adiknya.

Leila membeku.

Dia tidak punya adik.

---

Tubuh Cerita:

Rumah tua di ujung gang itu selalu menyeramkan menurut orang kampung. Dindingnya berlumut, halamannya ditumbuhi semak yang tidak pernah dipangkas sejak sepuluh tahun lalu. Tapi bagi Leila, rumah itu adalah penjara kenangan yang lebih menyesakkan daripada panti asuhan tempat ibunya mengirimnya saat ia berusia tujuh tahun.

Alasannya klasik: Lisma jatuh miskin setelah suaminya meninggal. Atau setidaknya itu yang ia katakan pada pengurus panti. Leila tahu ada alasan lain: Lisma tak tahan melihat wajah Leila yang terlalu mirip ayahnya—laki-laki yang meninggalkan mereka karena Lisma berselingkuh dengan sopir truk.

Selama tiga belas tahun di panti, Leila belajar satu hal: cinta adalah kemewahan yang harus dirampas, bukan diminta. Maka ketika Lisma memanggilnya pulang setelah divonis tumor otak, Leila pulang bukan untuk merawat, tapi untuk membalas.

Perlahan, dengan cara yang tak bisa dilacak polisi. Obat diganti. Tangga dilumuri minyak. Kabel dibiarkan menjuntai. Setiap kecelakaan rumah tangga tampak seperti musibah biasa.

Tapi kematian tidak kunjung datang.

Sebaliknya, Lisma justru tampak semakin hidup. Matanya berbinar aneh. Mulutnya sering komat-kamit bicara dengan sesuatu yang tidak kasat mata. Dan yang paling aneh: kadang di tengah malam, Leila mendengar suara tawa anak kecil dari kamar ibunya.

Padahal tidak ada anak kecil di rumah itu.

---

Tiga hari setelah kejadian jatuh di kamar mandi, Leila nekat masuk ke kamar ibunya. Lisma terbaring kaku, mata setengah terbuka, napas tersengal-sengal seperti ikan terdampar. Di samping bantalnya, berserakan foto-foto lama. Semuanya sudah pudar, kecuali satu.

Foto itu memperlihatkan Lisma muda, tersenyum lebar, memangku seorang bayi laki-laki. Di punggung foto, tulisan tangan mungil: Malik, 4 bulan, buah hatiku.

Leila menggigil. Bukan karena dingin.

Dia ingat. Suatu malam di panti, seorang pengurus tua bercerita sambil setengah mabuk: “Kamu punya adik laki-laki, Le. Tapi meninggal waktu masih kecil. Ibumu gila setelah itu, makanya kamu dibuang.” Waktu itu Leila menganggap omong kosong.

Tapi foto ini tidak berbohong.

---

Malam itu juga, Leila mengalami mimpi yang terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Dia berdiri di ruang tamu rumah itu, namun rumah itu bukan rumahnya. Dindingnya tak terbatas, langit-langitnya adalah pusaran awan hitam yang berdenyut seperti jantung. Di tengah ruangan, seorang bocah laki-laki telanjang duduk bersila. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya dua lubang hitam. Mulutnya tersenyum dengan gigi terlalu banyak.

“Kak,” kata bocah itu. Suaranya seperti suara Lisma dan suara Leila sekaligus. “Kenapa Kakak benci Ibu? Ibu membuang Kakak karena Ibu sayang sama aku.”

Leila ingin berteriak, tapi tak ada suara keluar.

“Ibu bunuh aku, Kak,” lanjut bocah itu, tersenyum lebar. “Dulu, ketika aku empat bulan. Ibu cekik aku pakai bantal, karena aku lahir dari suami simpanannya. Ibu takut ketahuan. Tapi setelah aku mati, Ibu justru gila. Ibu pura-pura sedih. Ibu buang Kakak supaya orang kampung bilang Ibu depresi kehilangan anak. Padahal Ibu bunuh satu anak, buang satu anak. Ibu monster.”

Bocah itu bangkit. Tubuhnya membesar. Lalu dari dua lubang mata yang kosong, keluar cairan hitam kental.

“Sekarang Ibu sekarat. Dan Kakak balas dendam dengan cara lembut. Lucu. Kita sama, Kak. Sama-sama benci Ibu. Tapi aku di sini bukan untuk membela Ibu.”

“Aku di sini karena Ibu tidak pernah benar-benar mati.”

“Ibu bukan manusia.”

---

Leila tersentak bangun. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Dia berlari ke kamar ibunya.

Tempat tidur kosong.

Lisma berdiri di dapur, memotong wortel dengan senyum paling normal yang pernah Leila lihat selama sepuluh tahun terakhir. Luka di kepalanya sudah sembuh sempurna—padahal tiga hari lalu luka itu menganga sampai terlihat tulang.

“Masak sup kesukaanmu, Le,” kata Lisma. Suaranya merdu. Matanya bersinar hitam pekat. “Kita makan malam berempat.”

“Berempat?” Leila mendekat.

Lisma menoleh. Senyumnya tidak pernah pudar. “Kamu, aku, dan Malik. Sama satu lagi.”

“Siapa?”

“Leila kecil yang dulu kamu bunuh di dalam perut Ibu, sepuluh tahun sebelum kamu lahir.”

---

Plot di Dalam Twist di Dalam Plot:

Leila menyadari dua hal dalam satu detik yang sama:

Pertama, dia tidak pernah benar-benar ada. Dia adalah hantu dari janin yang digugurkan Lisma saat masih remaja, lalu Lisma begitu trauma sehingga menciptakan delusi bahwa janin itu lahir dan tumbuh besar—lalu dia membuang “Leila” ke panti asuhan imajiner yang sebenarnya adalah ruang kosong di rumah itu selama dua puluh tahun.

Kedua, Malik juga tidak pernah ada. Malik adalah hantu lain—ciptaan dari rasa bersalah Lisma karena membunuh Leila. Lisma bunuh Malik di alam imajinasinya sendiri, sebagai pengulangan trauma. Dan Leila yang “kembali” merawat Lisma sebenarnya adalah dendam janin yang digugurkan, yang menjelma menjadi perawat sekaligus algojo bagi rahim yang dulu menolaknya.

Ketiga (dan ini twist terakhir yang membalikkan segalanya): Lisma tidak pernah sakit tumor otak. Dokter yang memvonis itu juga hantu—karena dokter itu adalah Lisma sendiri yang berhalusinasi. Lisma sebenarnya sudah mati sepuluh tahun lalu, di ruang bersalin saat mencoba menggugurkan anak ketiganya. Dan semua ini—panti, rumah tua, dendam, perawatan, Malik, Leila—adalah alam kubur yang diciptakan oleh kesadaran Lisma yang terperangkap di antara hidup dan mati, dihantui oleh anak-anak yang tak pernah ia izinkan lahir.

Mereka bertiga—Lisma, Leila, Malik—adalah makhluk yang sama dalam tiga wujud berbeda: korban, pelaku, dan hukuman itu sendiri.

---

Di dapur itu, wortel jatuh dari tangan Lisma.

Lisma menatap Leila. Leila menatap Lisma. Di antara mereka, seorang bocah tanpa mata tertawa kecil.

“Selamat datang di rumah,” kata bocah itu. “Tidak ada yang keluar dari sini. Karena kalian tidak pernah masuk.”

Lalu lampu padam.

Dan ketika menyala kembali, tidak ada dapur, tidak ada wortel, tidak ada rumah tua di ujung gang.

Hanya ada ruang putih tak berbatas, dan tiga sosok yang saling menatap tanpa pernah bisa berhenti.

Cerita berulang dari awal.

Telepon berdering. Hujan mengguyur atap seng.

Dan Leila tidak pernah benar-benar ingat bahwa dia sudah mati sejak awal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI