JURU CATAT HARI YANG TAK PERNAH TIBA
Setiap pagi, Laras datang ke kantor dan menulis laporan tentang hari esok.
Bukan ramalan. Bukan prediksi. Ia menulis fakta. Kantornya—Dinas Catatan Temporal—memiliki satu aturan: besok sudah terjadi, hanya saja belum dibaca. Tugas Laras adalah membacanya, lalu menuliskannya ke dalam laporan yang akan didistribusikan ke seluruh departemen.
Masalahnya, laporan itu tidak pernah sesuai dengan hari yang benar-benar terjadi.
Bukan karena laporannya salah, melainkan karena setelah laporan itu diterbitkan, semua orang bertindak berdasarkan isinya. Dan tindakan mereka mengubah besok. Sehingga besok yang sesungguhnya berbeda dengan laporan yang sudah terlanjur dicetak.
Lalu, Laras harus menulis laporan baru tentang besok yang baru. Dan siklus itu berulang.
Tidak ada yang menyuruhnya berhenti.
Atasan Laras hanya berkata: "Catat." Tidak peduli bahwa catatannya usang sebelum kering tintanya. Tidak peduli bahwa Laras duduk di ruangan ber-AC selama enam belas jam sehari, menulis ulang hari yang tak pernah benar-benar tiba.
Hari ini, Laras menemukan keanehan.
Dalam laporan terbarunya, tertulis: "Besok, Laras tidak masuk kantor."
Ia menatap kalimat itu. Ini pertama kalinya namanya muncul dalam laporan. Laras tidak pernah tercatat dalam catatan apa pun. Ia seperti pensil yang menulis dirinya sendiri—tidak ada dalam daftar alat tulis, tetapi selalu ada di meja.
Ia menggosok matanya. Kalimat itu tidak berubah.
Laras mencoba menulis ulang, tetapi tangannya tidak bisa menggerakkan pena. Bukan lumpuh. Tangannya baik-baik saja. Hanya saja—pena itu tidak mau menulis hal lain. Setiap kali ujung pena menyentuh kertas, yang keluar tetaplah: "Besok, Laras tidak masuk kantor."
Ia mengganti pena. Sama.
Ia mengganti kertas. Sama.
Laras memanggil atasan. Atasan membaca laporan itu, lalu berkata: "Maka besok kau tidak masuk kantor."
"Namun, jika saya tidak masuk, saya tidak bisa menulis laporan untuk besok setelahnya."
"Lalu besok setelahnya tidak akan pernah tiba."
"Tepat."
Atasan menghela napas. "Itu bukan masalah kita."
Laras terdiam. Ia mengerti maksudnya. Kantornya hanya bertugas mencatat hari esok. Bukan menjaga agar hari esok terus ada. Jika Laras tidak masuk, tidak akan ada yang menulis laporan. Tanpa laporan, besok tidak terjadi. Waktu akan berhenti di hari ini. Selamanya.
Itu berarti—dunia akan berakhir bukan karena bom atau bencana. Dunia akan berakhir karena seorang juru catat tidak masuk kerja.
Laras memegang laporan itu. Kertasnya terasa hangat.
Pilihan di hadapannya:
Jika ia masuk kantor besok, ia mengingkari laporannya sendiri—dan itu berarti laporannya tidak pernah benar. Selama ini, apa yang ia tulis hanyalah kebohongan. Sistemnya runtuh. Kepercayaan pada Dinas Catatan Temporal lenyap. Orang-orang akan kehilangan pegangan. Kekacauan.
Jika ia tidak masuk kantor, laporannya benar—tetapi tanpa dia, besok setelahnya tidak akan pernah ada. Waktu mati. Dunia berhenti di hari ini. Selamanya.
Tidak ada pilihan di mana dunia selamat.
Laras meletakkan pena. Di luar jendela, langit sore berwarna oranye. Sama seperti kemarin. Sama seperti besok, jika besok benar-benar terjadi.
Ia ingat sesuatu yang dikatakan neneknya dulu, sebelum neneknya meninggal dalam keadaan waktu masih berjalan: "Anakku, kebenaran tidak selalu layak dipilih. Terkadang yang layak dipilih adalah apa yang membuatmu tetap bisa memilih lagi besok."
Namun besok, Laras sadar, adalah hak istimewa yang selama ini ia berikan kepada orang lain—tanpa pernah memikirkannya untuk dirinya sendiri.
Ia berdiri. Membuka laci meja. Mengeluarkan formulir cuti yang belum pernah digunakan siapa pun sejak kantor ini berdiri.
Lalu ia menulis:
Nama: Laras
Tanggal cuti: Besok
Alasan: Ingin melihat apakah dunia benar-benar berakhir jika saya berhenti menjadi alat.
Ia tidak tahu apakah formulir itu akan diproses. Tidak tahu apakah besok masih ada untuk menerima formulir itu.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Laras menulis sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam laporan mana pun.
Dan itu terasa seperti hal paling nyata yang pernah ia lakukan.
Komentar
Posting Komentar