JURU CATAT KEMATIAN

Di sebuah ruangan bawah tanah Kantor Kependudukan, seorang pria bernama Wiryono bekerja sebagai juru catat kematian. Tugasnya sederhana: memindahkan data warga yang meninggal dari buku Hidup ke buku Mati. Namun, suatu hari, ia menemukan namanya sendiri di buku Mati—dengan tanggal kematian besok. Ia panik, lalu mencari cara untuk menghapusnya. Akan tetapi, ketika ia menghapus namanya, dua nama lain muncul secara otomatis sebagai pengganti. Semakin banyak ia menghapus, semakin banyak nama yang muncul. Dan ia sadar: setiap orang yang meninggal karena sebab alamiah sebenarnya adalah korban dari seseorang yang menolak mati.

---

Kantor Kependudukan berdiri di gedung tua peninggalan kolonial. Lantai marmernya retak, lampu gantungnya berdebu, dan di lorong paling ujung—yang tidak pernah dimasuki petugas lain—ada ruangan berukuran 2x2 meter. Ruangan itu tidak memiliki jendela. Hanya satu meja kayu jati, satu kursi goyang, dan dua buku besar.

Buku Hidup bersampul hijau. Tebalnya satu jengkal tangan. Setiap halaman berisi ribuan nama, tanggal lahir, dan nomor induk kependudukan. Halaman-halamannya selalu bertambah sendiri setiap kali bayi lahir di dunia.

Buku Mati bersampul hitam. Tebalnya tidak pernah bertambah—karena setiap kali nama dipindahkan dari buku Hidup ke buku Mati, halaman di buku Hidup menjadi kosong, lalu diisi nama baru. Sebuah siklus yang tidak pernah berhenti.

Wiryono telah bekerja di ruangan ini selama tiga puluh tahun. Ia pensiunan tentara yang tidak punya keluarga. Ia tidak pernah menikah, tidak punya anak, tidak punya teman dekat. Hidupnya hanya: pagi masuk kantor, turun ke ruang bawah tanah, membuka kedua buku, lalu memindahkan nama-nama yang sudah meninggal dari buku Hidup ke buku Mati dengan tinta hitam.

Setelah tiga puluh tahun, ia hafal pola kematian. Setiap hari, rata-rata 150.000 orang meninggal di seluruh dunia. Tugasnya bukan mencatat semua—karena tugas itu dibagi ke 10.000 juru catat di berbagai negara. Wiryono hanya bertanggung jawab pada wilayah dengan kode awal NIK 31 (DKI Jakarta) dan beberapa bagian Jawa Barat.

Rutinitas itu monoton. Membosankan. Akan tetapi, Wiryono tidak pernah mengeluh. Ia adalah pria yang tidak punya ambisi. Yang ia miliki hanyalah keteraturan, dan keteraturan adalah satu-satunya Tuhan yang ia sembah.

Sampai suatu pagi di bulan Maret, ketika Wiryono membuka buku Mati untuk mengecek data dari rumah sakit, ia melihat sebuah nama yang tidak asing.

Nama: Wiryono Karsono
NIK: 3171010105650001
Tanggal Lahir: 1 Januari 1965
Tanggal Kematian: 17 Maret 2024

Ia melihat kalender dinding. Hari ini 16 Maret 2024.

Besok ia mati.

---

Jantung Wiryono berdegup seperti genderang perang. Tangannya gemetar saat memegang pulpen. Tiga puluh tahun bekerja, ia belum pernah melihat namanya sendiri di buku Mati. Dan sekarang—ia sadar bahwa selama ini ia mengira dirinya pengecualian. Ia mengira juru catat tidak akan pernah mati. Ternyata keliru. Tidak ada pengecualian.

Ia menutup buku. Lalu membukanya lagi. Nama itu masih ada. Ia coba membaca sekali lagi. Masih sama.

Ia berpikir: Mungkin ini kesalahan. Mungkin ada Wiryono Karsono lain di Jakarta. Mungkin ini data ganda.

Namun, nomor induknya persis. Tanggal lahirnya persis. Bahkan tanda tangannya di buku Hidup—tanda tangan yang ia buat tiga puluh tahun lalu saat pertama kali diterima bekerja—masih terlihat samar di sebelah kiri nama.

Ia duduk di kursi goyang. Kursi itu berdecit. Ia ingat kursi itu diberikan oleh pendahulunya, seorang juru catat tua yang mati di kursi yang sama dua hari setelah pensiun.

"Kursi ini sudah melihat tiga puluh tujuh juru catat mati," kata pendahulunya dulu. "Kamu akan menjadi yang ketiga puluh delapan."

Wiryono mengira itu hanya gurauan.

Sekarang ia tidak tertawa.

Ia mengambil pulpen merah. Pulpen khusus yang hanya digunakan untuk mencoret nama di buku Mati jika terjadi kesalahan data. Pulpen itu diberikan kepadanya oleh seorang pria tak dikenal dua puluh tahun lalu, dengan pesan: "Hanya bisa digunakan tiga kali. Pilih yang paling penting."

Wiryono belum pernah menggunakannya sekali pun. Selama dua puluh tahun, ia tidak pernah menemukan kesalahan data. Kematian selalu akurat. Selalu tepat. Seperti hukum fisika.

Namun, sekarang, ia akan menggunakannya untuk pertama kalinya.

Ia mencoret namanya.

Tinta merah itu mengalir di atas tinta hitam. Nama "Wiryono Karsono" lenyap seperti tidak pernah ada. Halaman itu menjadi bersih. Wiryono tersenyum lega.

Namun, senyumnya langsung hilang.

Di bawah nama yang ia coret, dua nama baru muncul secara otomatis. Ditulis dengan tinta hitam yang mengalir sendiri, seperti darah dari luka.

Nama 1: Siti Khadijah, 42 tahun, Jakarta Timur. Tanggal kematian: besok.
Nama 2: Muhammad Rizki, 9 tahun, Jakarta Selatan. Tanggal kematian: besok.

Wiryono membeku. Ia tidak pernah memesan dua kematian. Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.

Lalu, ia sadar: buku ini tidak menoleransi kekosongan. Setiap kali seseorang menolak mati, dua orang lain harus mati sebagai pengganti. Itulah hukumnya.

---

Wiryono memegang pulpen merah lagi. Masih tersisa dua kesempatan. Ia bisa mencoret dua nama itu juga. Namun, jika ia coret, akan muncul empat nama. Lalu delapan. Lalu enam belas. Dalam hitungan jam, seluruh Jakarta bisa mati karena usahanya menyelamatkan diri sendiri.

Ia meletakkan pulpen. Tangannya dingin.

"Jadi, begini caranya?" bisiknya ke ruangan kosong. "Aku tidak bisa mati tanpa membunuh orang lain? Dan aku tidak bisa hidup tanpa membunuh lebih banyak lagi?"

Tidak ada yang menjawab. Ruangan bawah tanah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang berdetak mundur menuju kematiannya.

Ia membuka buku Hidup. Ia mencari nama "Wiryono Karsono". Namanya masih ada di sana—karena ia baru mencoretnya dari buku Mati, bukan dari buku Hidup. Selama namanya masih ada di buku Hidup, ia belum mati. Akan tetapi, tanggal kematiannya di buku Mati sudah hilang. Artinya, secara administratif, ia menjadi abadi. Abadi dengan konsekuensi: dua orang asing akan mati setiap hari menggantikannya.

Ia ingat seorang filsuf yang ia baca di koran bekas: "Keabadian bukan hadiah. Keabadian adalah kutukan yang membutuhkan korban."

Wiryono tidak ingin abadi. Ia hanya tidak ingin mati besok. Ia masih punya banyak hal yang belum dilakukan. Ia belum pernah ke pantai. Ia belum pernah jatuh cinta. Ia belum pernah punya anak. Hidupnya selama tiga puluh tahun hanya bekerja di ruang bawah tanah, mencatat kematian orang lain, tanpa pernah benar-benar hidup.

Dan sekarang, ketika kematian datang menjemput, ia baru menyadari bahwa ia menyia-nyiakan semuanya.

"Tuhan," bisiknya—meskipun ia tidak percaya Tuhan. "Aku tidak meminta hidup seribu tahun. Aku cuma meminta satu tahun lagi. Satu tahun untuk pergi ke pantai. Satu tahun untuk merasakan apa itu dicintai. Apakah itu terlalu banyak?"

Langit-langit ruangan tidak menjawab. Namun, buku Mati bergetar. Halaman-halamannya terbuka sendiri ke lembar yang berisi daftar nama warga Jakarta. Di sana, sudah ribuan nama yang siap mati besok karena sebab alamiah: serangan jantung, kecelakaan, sakit tua. Dua nama yang muncul tadi—Siti Khadijah dan Muhammad Rizki—tidak istimewa. Mereka hanya pengganti. Jika Wiryono tidak mencoretnya, mereka akan tetap mati besok karena sebab yang sudah ditentukan. Hanya saja, kematian mereka bukan lagi "alamiah". Kematian mereka adalah karena Wiryono takut mati.

Apakah itu bedanya? Wiryono tidak tahu. Yang ia tahu, tanggung jawab moral tidak bisa dihindari hanya dengan menyebutnya "hukum alam".

---

Tepat saat Wiryono hampir memutuskan untuk menyerah dan menerima kematiannya, pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang perempuan tua dengan keranjang anyaman. Perempuan itu bukan petugas. Wajahnya tidak asing. Ia adalah Siti Khadijah—salah satu nama yang muncul sebagai pengganti.

"Kamu tidak kenal aku," kata Siti, "tetapi aku tahu kamu. Kamu juru catat. Kamu yang menentukan siapa mati hari ini."

Wiryono terperanjat. "Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"

"Sama seperti kamu bisa masuk ke buku itu," jawab Siti. "Aku dulu juga juru catat. Tiga puluh tahun sebelum kamu. Aku pensiun setelah menemukan namaku di buku Mati, lalu aku mencoretnya dengan pulpen merah. Sebagai gantinya, muncul dua nama: suamiku dan anakku. Aku bunuh mereka tanpa sadar. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah itu. Maka aku memilih mati secara sukarela. Akan tetapi, saat aku mati, namaku tidak tercatat di mana pun. Aku menjadi hantu administratif. Aku bisa masuk ke ruangan ini, tetapi aku tidak bisa keluar ke dunia tanpa membawa satu nama baru sebagai gantinya."

Wiryono mundur. "Jadi, selama tiga puluh tahun kamu di sini?"

"Selama tiga puluh tahun aku tinggal di antara dinding. Aku melihatmu bekerja setiap hari. Aku melihatmu menjadi tua, menjadi kesepian, menjadi takut mati. Dan aku di sini untuk memberitahumu: jangan lakukan kesalahan yang sama. Jangan coret namamu. Biarkan dirimu mati besok. Mati dengan tenang. Karena jika kau menolak mati, kau akan menjadi seperti aku—hidup selamanya di ruang bawah tanah, tidak pernah melihat matahari, tidak pernah memeluk siapa pun, hanya menonton orang lain yang lebih berani dari dirimu."

Wiryono terdiam. Ia menatap perempuan tua itu. Perempuan itu tidak menangis. Matanya kering dan kosong, seperti sumur yang sudah tiga puluh tahun tidak diisi air.

"Namun, aku belum hidup," kata Wiryono pelan. "Aku belum pernah benar-benar hidup. Bagaimana caranya mati dengan tenang jika aku tidak pernah merasakan hidup?"

Siti tersenyum pahit. "Kamu pikir aku merasakan hidup ketika aku masih menjadi juru catat? Aku juga tidak. Aku juga hanya bekerja, pulang, tidur, ulang. Tidak ada yang istimewa. Dan ketika suamiku dan anakku mati karena ulahku, aku baru sadar bahwa hidup yang istimewa tidak pernah ada. Yang ada hanyalah momen-momen kecil yang kita abaikan. Momen seperti ... saat kau meminum kopi hangat di pagi hari. Saat kau mendengar hujan di atap seng. Saat kau tersenyum pada orang asing di jalan. Itu hidup. Dan kau mengalaminya setiap hari, tetapi kau tidak pernah menganggapnya cukup."

---

Wiryono duduk di kursi goyang. Kursi itu berdecit lagi. Kali ini lebih keras, seperti protes.

"Jadi, kesimpulannya?" tanyanya. "Aku mati besok. Dua orang itu tetap mati—entah karena alamiah, entah karena menggantikanku. Dan tidak ada yang berubah?"

"Ada yang berubah," kata Siti. "Jika kau mati besok, kau mati sebagai manusia biasa. Jika kau hidup, kau mati sebagai monster yang membunuh dua orang asing setiap hari. Bedanya bukan pada hasil akhir, melainkan pada apa yang kau lihat di cermin sebelum kau mati. Apakah kau melihat wajah pengecut atau wajah yang menerima?"

Wiryono merenung. Lalu, ia melakukan sesuatu yang tidak diduga.

Ia mengambil pulpen merah. Sisa dua kesempatan. Ia mencoret nama Siti Khadijah—perempuan tua di depannya. Lalu ia mencoret nama Muhammad Rizki—anak 9 tahun yang tidak ia kenal.

Siti terkejut. "Apa yang kau lakukan?!"

"Kau bilang kau sudah mati secara administratif," kata Wiryono. "Maka dengan mencoret namamu dari daftar kematian besok, aku mengembalikanmu ke status hidup. Sama seperti Rizki. Mereka berdua sekarang tidak akan mati besok."

"Namun, sebagai gantinya, akan muncul empat nama baru!"

"Biarkan. Aku akan mencoret empat itu, lalu delapan, lalu enam belas. Aku akan terus mencoret sampai pulpen merah ini habis. Dan ketika pulpen habis, aku akan menulis nama-nama baru dengan tanganku sendiri. Aku akan menulis satu nama: Wiryono Karsono. Lalu, aku akan membiarkannya mati. Namun, sebelum mati, aku akan memastikan tidak ada orang lain yang mati karena ketakutanku."

Siti terdiam. Ia menatap Wiryono dengan mata yang berubah—tidak lagi kosong. Ada kekaguman di sana.

"Kau gila," katanya.

"Mungkin," kata Wiryono, "tetapi setidaknya aku gila dengan cara yang jujur."

---

Wiryono mulai mencoret. Satu nama, dua nama, empat nama, delapan nama. Pulpen merah itu tidak pernah habis. Setiap kali ia mencoret, tinta merahnya tetap penuh—seperti air laut yang tidak pernah surut. Ia mencoret nama demi nama, halaman demi halaman. Ribuan nama. Puluhan ribu. Sampai buku Mati itu menipis.

Tiba-tiba, Siti berteriak. "Berhenti! Lihat buku Hidup!"

Wiryono menoleh. Buku Hidup yang bersampul hijau itu terbuka sendiri. Setiap halaman mulai kosong. Bukan kosong karena nama dipindahkan, melainkan kosong karena semua orang yang namanya tidak dicoret Wiryono mulai mati massal. Tidak ada yang tersisa selain nama-nama yang baru saja ia coret. Nama-nama yang seharusnya mati, tetapi ia selamatkan.

"Sekarang seluruh dunia mati kecuali mereka yang kau coret!" teriak Siti. "Kau tidak menyadari? Buku Mati dan buku Hidup itu satu kesatuan. Setiap kali kau mencoret nama dari buku Mati, kau menghapus kematian mereka. Namun, kematian tidak bisa dihapus. Kematian hanya bisa dialihkan. Dan kau telah mengalihkan kematian ribuan orang ke jutaan orang lain di luar sana!"

Wiryono berhenti. Pulpen merah jatuh dari tangannya.

Ia melihat sekeliling. Ruangan bawah tanah itu mulai runtuh. Dindingnya retak. Lampunya padam satu per satu. Di kegelapan, ia mendengar suara-suara. Ribuan suara. Suara orang-orang yang mati karena ulahnya.

"Kenapa kami yang harus mati?"
"Kami tidak kenal kamu."
"Aku baru punya anak minggu lalu."

"Aku baru mau sembuh dari kanker."
"Aku belum sempat bilang 'Aku cinta kamu' kepada ibuku."

Wiryono menutup telinga, tetapi suara-suara itu masuk lewat pori-pori, lewat tulang, lewat ingatan.

Ia jatuh berlutut. Air matanya mengalir. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia menangis.

"Aku hanya ingin hidup," bisiknya. "Aku hanya ingin satu hari lagi."

Namun, tidak ada satu hari lagi. Yang ada hanyalah kematian massal yang ia ciptakan, dan kesadaran bahwa kebaikan niatnya tidak membatalkan konsekuensinya.

---

Tiga hari kemudian, dunia masih berjalan. Tidak ada yang ingat bahwa pernah ada pria bernama Wiryono yang bekerja sebagai juru catat. Tidak ada yang ingat buku Hidup dan buku Mati. Semua orang hidup seperti biasa: bekerja, tertawa, bertengkar, bercinta, tidur.

Kecuali satu hal.

Setiap kali seseorang bermimpi, mereka melihat ruangan bawah tanah. Di ruangan itu, seorang pria tua duduk di kursi goyang di depan dua buku besar. Pria itu terus mencoret nama dari buku hitam, dan setiap kali ia mencoret, jutaan orang di dunia sadar dari tidurnya dengan perasaan aneh—seperti baru saja lolos dari kematian yang tidak mereka ketahui.

Itulah Wiryono. Ia tidak mati. Ia tidak hidup. Ia menjadi penjaga kematian abadi, yang tugasnya bukan lagi memindahkan nama, melainkan menahan kematian agar tidak jatuh terlalu cepat.

Setiap malam, ia mencoret. Setiap pagi, nama-nama baru muncul. Dan setiap saat, ia berbisik kepada dirinya sendiri:

"Aku tidak tahu apakah ini penebusan atau hukuman. Namun, satu hal yang aku tahu: hidup tidak pernah tentang memilih antara mati atau hidup. Hidup adalah tentang memilih siapa yang kau bunuh dengan ketakutanmu, dan siapa yang kau selamatkan dengan keberanianmu. Dan keberanian—ternyata—tidak selalu berarti menyelamatkan. Kadang keberanian berarti menerima bahwa kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun, termasuk dirimu sendiri."

Kursi goyang itu berdecit.

Dan di luar, di dunia yang tidak pernah tahu, matahari terbit seperti biasa—seperti tidak ada yang terjadi.

Seperti kematian hanyalah urusan administrasi.

Seperti hidup hanyalah utang yang suatu hari harus dilunasi.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI