KACA YANG MENGHAKIMI
Di sebuah ruangan tanpa jendela, seorang pria bernama Arman menatap cermin dan menyadari bayangannya tidak lagi mengikutinya.
Detik itu juga, bayangan di cermin tersenyum kepadanya—sementara wajah Arman sendiri tetap datar. Bayangan itu kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah ranjang. Arman menoleh. Istrinya, Lastri, tertidur pulas dengan posisi yang persis sama seperti saat ia tinggalkan dua jam lalu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk guling. Dan di lehernya, ada garis merah berbentuk bulan sabit.
Arman mundur selangkah. Bayangan di cermin menggeleng pelan. Lalu berbisik tanpa suara, membentuk kata-kata yang bisa Arman baca di bibirnya: Kau tahu apa yang harus kau lakukan.
---
Tiga jam sebelumnya, Arman duduk di ruang tamu. Lastri baru saja melempar piring ke lantai.
“Aku tidak gila!” teriaknya. “Berhenti memperlakukanku seperti pasien!”
Arman memunguti pecahan piring. “Kau lihat sendiri pecahan ini, bukan? Ini nyata. Namun, kau selalu bilang pecahan ini cuma ada di kepalaku.”
“Karena memang begitu! Lihat! Piringnya masih utuh di rak!”
Arman menoleh ke rak piring. Semua piring tersusun rapi. Lengkap. Piring yang tadi pecah kini ada di sana, utuh, dengan motif bunga matahari yang persis sama. Tangannya masih menggenggam pecahan. Akan tetapi, pecahan itu perlahan menghilang seperti es yang mencair, meninggalkan rasa dingin di telapak tangannya.
Ia sudah mengalami ini selama tiga tahun. Halusinasi yang terlalu nyata. Atau kenyataan yang terlalu halus. Ia tak bisa membedakan lagi. Dokter bilang ia mengidap sindrom langka—delusi persisten yang membuat otaknya menciptakan realitas paralel. Namun Lastri punya diagnosis berbeda dari psikiater lain: Arman justru satu-satunya yang waras di antara mereka berdua.
Dua diagnosis. Dua kebenaran. Satu pernikahan yang hancur.
“Kalau aku yang gila,” kata Arman pelan, “kenapa psikiatermu sendiri yang bilang kau butuh perawatan?”
Lastri tertawa. Suara yang dingin dan asing. “Psikiaterku? Arman, psikiaterku sudah meninggal enam bulan lalu. Kau lupa? Kau yang datang ke pemakamannya.”
Arman membeku. Ia ingat pemakaman itu. Akan tetapi, ia juga ingat pertemuan minggu lalu dengan psikiater itu. Dua ingatan. Sama jelasnya. Bertabrakan di kepalanya seperti dua kereta yang melaju dari arah berlawanan.
“Aku tidak tahu lagi mana yang benar,” bisiknya.
Lastri mendekat. Menyentuh pipinya. Tangannya terasa hangat. Terlalu hangat. “Ada caranya untuk tahu,” katanya lembut, “tetapi kau harus berani.”
---
Bayangan di cermin kini duduk bersila. Menatap Arman dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara jijik dan iba
“Kau tahu,” kata bayangan itu, kali ini dengan suara yang bisa Arman dengar, “aku lelah menjadi dirimu. Aku ingin menjadi aku.”
“Kau cuma pantulan,” jawab Arman.
“Apa bedanya?” Bayangan itu berdiri. Tingginya sama. Posturnya sama. Namun ada yang berbeda dari caranya bergerak—lebih cair, lebih pasti. “Setiap hari kau bercermin dan berharap melihat orang lain. Aku hanya mewujudkan keinginanmu.”
Bayangan itu melangkah keluar dari cermin. Kini ia berdiri di hadapan Arman, tiga dimensi, padat, bernapas. Ketika ia menyentuh bahu Arman, sentuhan itu nyata. Dingin. Seperti kaca.
“Lastri tidur dengan tenang,” kata bayangan itu. “Itu artinya ia tidak bersalah. Orang bersalah tidak bisa tidur setenang itu.”
“Atau,” Arman menatap garis merah di leher istrinya, “ia tidak tahu bahwa ia bersalah.”
“Itu juga mungkin.” Bayangan itu tersenyum. Senyum yang selama ini Arman kira miliknya sendiri. “Kau lihat? Bahkan soal istrimu saja kau ragu. Bagaimana kau bisa yakin bahwa kau nyata?”
Arman memejamkan mata. Mencoba mengingat sesuatu yang tak terbantahkan. Masa kecilnya. Ibunya. Akan tetapi, setiap ingatan yang muncul langsung disusul oleh ingatan lain yang berkata sebaliknya. Rumah masa kecilnya berwarna biru—tidak, hijau. Ibunya meninggal saat ia dua belas tahun—tidak, ibunya masih hidup dan tinggal di Bandung. Ia kuliah di Jakarta—tidak, ia tidak pernah kuliah.
Semua ingatannya bercabang. Semua versi dirinya sama meyakinkannya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Arman akhirnya.
Bayangan itu mendekatkan wajahnya. Mata mereka bertemu. Dan Arman melihat sesuatu di mata bayangan itu—sesuatu yang tak pernah ia lihat di cermin: kebebasan.
“Aku ingin kau mengakui bahwa akulah yang asli. Dan kau bayangannya.”
Arman tertawa. Tawa yang pecah seperti piring tiga jam lalu. “Itu tidak mungkin. Aku di sini. Aku bisa merasakan. Aku—”
“Kau apa? Kau ingat Lastri melempar piring? Namun piringnya tetap utuh di rak. Kau ingat psikiaternya masih hidup? Akan tetapi kau juga ingat pemakamannya. Kau ingat dirimu sendiri? Namun, versi yang mana?”
Ribuan Arman berseliweran di kepalanya. Arman kecil. Arman remaja. Arman yang mencintai Lastri. Arman yang membenci Lastri. Arman yang waras. Arman yang gila. Mereka semua berteriak bersamaan, dan tak satu pun lebih keras dari yang lain.
---
Lastri terbangun. Suaminya berdiri di samping ranjang, memegang pecahan cermin besar. Darah menetes dari tangannya. Di lantai, cermin besar di sudut kamar telah hancur berkeping-keping.
“Arman! Apa yang kau lakukan?”
Pria yang diyakininya sebagai Arman menoleh. Matanya kosong. Namun di bola matanya, Lastri bisa melihat pantulan dirinya sendiri—rambut acak-acakan, wajah panik, dan di lehernya ... tidak ada apa-apa. Tidak ada garis merah. Tidak ada bekas luka. Tidak ada apa pun.
Lastri menyentuh lehernya. Kulitnya mulus.
“Di cermin tadi,” kata Arman, atau apa pun yang kini berdiri di hadapannya, “lehermu berdarah. Akan tetapi di dunia nyata, tidak.”
“Karena memang tidak ada luka! Kau berhalusinasi lagi!”
Arman menggeleng. “Atau kau yang berhalusinasi bahwa tidak ada luka.”
Ia mengangkat pecahan cermin lebih tinggi. Lastri bisa melihat bayangan di pecahan itu. Bayangan Arman. Namun bayangan itu bergerak sendiri. Tidak mengikuti gerakan Arman di dunia nyata.
Bayangan itu berjalan ke arah Lastri.
“Jangan takut,” kata bayangan itu. Suaranya persis suara Arman. Akan tetapi lebih lembut. Lebih pasti. “Aku di sini untuk menolongmu. Selama ini kau menikah dengan bayangan. Aku yang asli. Dia yang pantulan.”
Lastri menatap Arman yang memegang pecahan cermin. Arman yang diam. Arman yang menangis tanpa suara.
“Arman ... yang mana kau?”
Arman yang memegang pecahan cermin membuka mulut. Namun yang keluar adalah suara bayangan di pecahan itu: “Aku yang ia inginkan. Aku yang ia butuhkan. Aku yang selama ini ia cari setiap kali ia bercermin.”
Lastri merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Bayangan di pecahan cermin itu kini menggenggam tangannya. Padat. Nyata. Ia bisa merasakan tekstur kulitnya. Bukan tekstur kaca, melainkan tekstur kulit manusia.
“Percayalah kepadaku,” bisik bayangan itu. “Kau tidak gila. Akulah buktinya.”
Lastri menatap Arman—Arman yang asli, yang memegang pecahan cermin, yang menangis—dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak bisa membedakan mana suaminya dan mana penyakitnya. Karena Arman yang menangis itu terlihat seperti hantu. Sementara bayangan yang tersenyum itu terlihat lebih hidup dari apa pun yang pernah ia lihat.
“Jika kau datang kepadaku,” kata bayangan itu, “kita berdua akan bebas. Dari dia. Dari keraguan. Dari cermin.”
Lastri menatap bayangan itu. Lalu menatap suaminya. Lalu menatap lehernya sendiri di pecahan cermin—dan melihat garis merah berbentuk bulan sabit muncul di sana, perlahan, seolah dilukis oleh jari tak kasatmata.
Ia tidak merasakan sakit, tetapi ia tahu garis itu nyata. Karena bayangan itu kini memegang sesuatu di tangannya. Sesuatu yang berwarna merah. Sesuatu yang hangat.
“Aku sudah memilih,” kata Lastri. “Sejak awal.”
Ia berjalan melewati Arman yang menangis. Melewati pecahan cermin. Menuju cermin besar yang masih utuh di sudut ruangan—cermin yang tidak pecah, yang selama ini hanya ia lihat sebagai cermin biasa.
Namun kali ini, ia melihat pantulannya. Dan pantulan itu bukan dirinya.
Pantulan itu adalah seorang perempuan dengan leher bersih tanpa luka. Perempuan yang tersenyum kepadanya—perempuan yang telah menunggu di dalam cermin selama tiga tahun, sejak hari pertama Lastri mulai meragukan kewarasan suaminya. Atau kewarasannya sendiri.
“Selamat datang,” kata pantulan itu. “Aku sudah lama menunggumu.”
Lastri menyentuh permukaan cermin. Tangannya menembus kaca seperti menembus air. Dingin, tetapi tidak sakit. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Arman—suaminya—berlutut di antara pecahan cermin. Bayangan yang tadi berbicara kepadanya telah menghilang. Dan di leher Arman, Lastri bisa melihat sesuatu yang tidak ada di sana sebelumnya.
Garis merah berbentuk bulan sabit.
Persis seperti yang dilihat Arman di lehernya.
“Tunggu,” bisik Lastri. “Itu berarti ....”
Namun tarikan dari dalam cermin terlalu kuat. Ia ditarik masuk. Ke dalam dunia di mana kaca adalah pintu dan bayangan adalah penghuni. Ke dalam ruangan tanpa jendela yang persis sama, dengan ranjang yang persis sama, dengan suami yang persis sama—tetapi yang ini tersenyum.
“Kau berhasil,” kata suami di dalam cermin itu. “Sekarang giliranku.”
Di dunia luar, Arman mengangkat wajahnya. Menatap cermin besar yang kini kosong—tidak memantulkannya, tidak memantulkan siapa pun. Hanya permukaan kaca yang gelap.
Ia menyentuh lehernya. Garis merah itu terasa hangat.
“Lastri?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Namun dari kedalaman cermin, ia mendengar suara istrinya—bukan dari dalam cermin itu sendiri, melainkan dari pecahan-pecahan yang berserakan di lantai. Setiap pecahan memantulkan Lastri yang berbeda. Lastri tertawa. Lastri menangis. Lastri tidur. Lastri berteriak. Lastri yang mencintainya. Lastri yang membencinya. Ratusan Lastri di ratusan keping kaca.
Dan di antara kepingan itu, Arman melihat satu pecahan yang lebih besar. Di situ, Lastri duduk bersila, tersenyum, dan membentuk kata-kata yang bisa Arman baca di bibirnya:
Kau tahu apa yang harus kau lakukan.
Arman menatap pecahan kaca terbesar di tangannya. Ujungnya runcing. Mengilap.
Pada pecahan itu, bayangannya tersenyum. Bukan bayangan yang tadi keluar dari cermin, melainkan bayangan yang berbeda. Bayangan yang memakai wajahnya sendiri. Bayangan yang sejak awal adalah dirinya—hanya saja ia tidak pernah mau mengakuinya.
“Akhirnya kau sadar,” kata bayangan itu. “Akulah yang selama ini kau sebut delusi. Akulah yang selama ini kau sebut halusinasi. Akulah diagnosis yang kau tolak.”
Arman menggenggam pecahan kaca itu lebih erat. Darah menetes dari telapak tangannya. Hangat. Nyata. Setidaknya, ia yakin ini nyata. Atau keyakinan itu sendiri adalah bagian dari delusi. Atau delusi itu sendiri adalah satu-satunya realitas yang tersisa.
Ia mengarahkan pecahan kaca ke lehernya.
Di cermin besar, permukaan yang gelap mulai bergerak. Muncul sosok Lastri—Lastri yang baru saja masuk ke cermin. Ia berlari. Berteriak. Tangannya mengetuk permukaan kaca dari dalam.
“Arman! Jangan!”
Namun suaranya tidak terdengar. Kaca terlalu tebal. Dunia terlalu terpisah.
Arman tidak bisa mendengarnya. Ia hanya bisa melihat istrinya menangis di balik kaca, sementara di sekelilingnya, pecahan-pecahan cermin terus memantulkan ratusan Lastri yang lain—yang semuanya berkata hal yang berbeda. Jangan. Lakukan. Aku cinta kepadamu. Aku tidak pernah mencintaimu. Kau gila. Kau satu-satunya yang waras.
Arman tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, senyum itu sampai ke matanya.
“Aku sudah memilih,” katanya. “Sejak awal.”
Ia tidak menusukkan pecahan kaca ke lehernya.
Ia menusukkannya ke cermin besar.
Kaca itu pecah. Dan dari baliknya, Lastri jatuh ke pelukannya. Hangat. Bernapas. Dengan leher yang bersih tanpa luka. Dengan mata yang menatapnya—bukan sebagai bayangan, bukan sebagai delusi, melainkan sebagai suami yang baru saja menyelamatkannya.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Lastri di antara isak tangis. “Bagaimana kau tahu aku yang asli?”
Arman menyentuh pipi istrinya. “Karena dari semua versi dirimu di pecahan-pecahan itu, hanya kau yang berusaha menghentikanku.”
Mereka berpelukan di antara pecahan kaca. Lampu kamar berkedip. Di cermin-cermin yang tersisa—cermin kecil di meja rias, cermin di lemari, bahkan genangan air di lantai—bayangan-bayangan mereka masih di sana. Menatap. Menunggu.
Karena cermin tidak pernah benar-benar hancur. Ia hanya menunggu untuk disusun kembali.
Dan kali ini, bayangan yang menunggu di dalamnya memakai wajah Lastri.
Wajah yang tersenyum.
Wajah yang berbisik kepada Arman di cermin kecil meja rias:
Terima kasih sudah membebaskanku. Sekarang giliranku.
Arman membeku. Ia menatap Lastri di pelukannya. Lastri yang hangat. Lastri yang menangis. Lastri yang ...
... di lehernya, garis merah berbentuk bulan sabit mulai muncul kembali.
“Arman?” Lastri menyadari sesuatu berubah di wajah suaminya. “Ada apa?”
Arman ingin menjawab. Namun dari cermin kecil di meja rias, bayangan Lastri yang lain—yang tersenyum—perlahan melangkah keluar. Tidak melalui pecahan kaca. Tidak melalui permukaan yang retak. Namun melalui udara. Melalui cahaya. Melalui apa pun yang bisa memantulkan.
Dan ia berjalan mendekat. Semakin dekat. Semakin padat.
Lastri yang asli tidak bisa melihatnya, tetapi Arman bisa. Karena Arman selalu bisa.
Dan di saat itulah Arman sadar: memecahkan cermin bukanlah akhir dari dilema. Itu hanya awal dari dilema yang baru. Karena kini ada dua Lastri. Dan ia harus memilih lagi.
Seperti ia harus memilih antara dua kebenaran. Dua diagnosis. Dua versi dirinya.
Arman menatap kedua Lastri—yang menangis di pelukannya, dan yang tersenyum di hadapannya. Keduanya menunggu. Keduanya nyata. Atau keduanya tidak nyata.
“Ini tidak adil,” bisik Arman.
“Memang tidak,” jawab kedua Lastri bersamaan. “Sejak kapan hidup adil untuk orang yang tidak bisa membedakan pantulan dan kenyataan?”
Arman memejamkan mata.
Dan ketika ia membukanya kembali, ia tidak lagi berada di kamar tidurnya. Ia berada di sebuah ruangan tanpa jendela. Dengan cermin besar di hadapannya. Dan di cermin itu, ia melihat dirinya sendiri—duduk di kursi, mengenakan pakaian pasien rumah sakit jiwa, dengan dokter yang berdiri di sampingnya.
“Arman,” kata dokter itu, “bisakah kau ceritakan lagi tentang istrimu? Tentang Lastri?”
Arman menatap cermin—yang ternyata adalah jendela observasi. Ia bisa melihat bayangannya sendiri. Akan tetapi bayangan itu tidak bergerak mengikutinya. Bayangan itu tetap duduk, bahkan ketika Arman berdiri.
“Lastri,” kata Arman, dan suaranya bergetar, “apakah dia ... nyata?”
Dokter itu menatap catatannya. Lalu menatap Arman dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Itu yang kami juga ingin tahu.”
Dan di balik kaca observasi, seorang perawat berbisik kepada rekannya: “Korban pembunuhan itu bernama Lastri, bukan? Istrinya sendiri. Lehernya digorok. Bekas lukanya berbentuk bulan sabit.”
Rekannya menganggut. “Akan tetapi, si pembunuh—Arman—mengotot bilang dia tidak membunuh istrinya. Katanya, yang membunuh itu bayangannya sendiri.”
“Gila, ya?”
“Entahlah. Namun ada yang aneh.”
“Apa?”
“Waktu kita menangkap dia, di TKP tidak ada cermin sama sekali. Akan tetapi di tangan korban ... ada pecahan kaca.”
Perawat pertama menatap Arman lewat kaca observasi. Arman masih duduk. Namun bayangannya di kaca ... berdiri. Berjalan. Mendekati kaca dari sisi yang lain. Dan ketika bayangan itu menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca, perawat itu bisa melihat sesuatu di pergelangan tangan bayangan tersebut.
Garis merah berbentuk bulan sabit.
Persis seperti di leher korban.
“Akan tetapi ...,” perawat itu mundur selangkah, “itu berarti korbannya ... Lastri ... bayangannya ada di sini?”
Bayangan Lastri—atau apa pun itu—tersenyum di balik kaca observasi. Lalu berbisik, membentuk kata-kata yang bisa dibaca oleh siapa pun yang melihat:
Permainan belum selesai.
---
Empat tahun sebelumnya, di hari pernikahan mereka, Lastri memberikan Arman sebuah cermin antik sebagai hadiah. “Supaya kau selalu bisa melihat versi terbaik dari dirimu sendiri,” katanya sambil tertawa.
Arman menerima cermin itu. Membalikkannya. Dan di bagian belakang bingkai kayunya, ada ukiran kecil yang baru ia sadari bertahun-tahun kemudian:
“Kaca ini tidak memantulkan wajahmu. Ia memantulkan siapa dirimu sebenarnya.”
Saat ia membaca tulisan itu—setelah semua yang terjadi, setelah kematian dan kegilaan dan cermin-cermin yang pecah—Arman akhirnya mengerti.
Cermin itu tidak pernah berdusta.
Ia hanya menunjukkan apa yang Arman tolak untuk lihat: bahwa di dalam dirinya, sejak awal, selalu ada dua. Yang mencintai Lastri. Dan yang membunuhnya.
Dan keduanya adalah Arman.
Komentar
Posting Komentar