KAMAR 703

Saya menerima kunci kamar 703, padahal hotel ini hanya punya 6 lantai.

Resepsionis tersenyum. Gigi depannya berlubang kecil—lubang yang sedetik lalu tidak ada. Saya berkedip. Lubang itu menghilang. Lalu muncul lagi. Seperti lampu kedip di mesin pencetak struk yang rusak.

"Selamat menginap, Pak," katanya. Suaranya seperti suara istri saya yang sudah meninggal dua tahun lalu, tetapi resepsionis ini laki-laki.

Saya tidak bertanya. Saya sudah lelah bertanya. Hidup terakhir ini rasanya hanya rangkaian pertanyaan yang tidak pernah sampai ke jawaban. Saya memasukkan kunci elektronik ke saku—bentuknya bukan kartu, melainkan koin logam dengan ukiran burung yang sedang terbakar. Saya memutuskan untuk tidak peduli.

Namun, di pintu lift, sebuah tangan mencekal pergelangan saya.

"Jangan naik ke 703."

Perempuan itu. Rambutnya pendek, poni tidak rata, seolah dipotong dengan mata tertutup. Matanya hitam, tetapi tidak seperti warna hitam pada umumnya—hitam ini berkedip. Seperti ada titik-titik cahaya di dalam pupilnya yang bergerak mandiri.

"Kenapa?" tanya saya.

"Karena tidak ada kamar 703," katanya. "Yang ada hanyalah lorong. Dan lorong itu hanya punya satu fungsi: membuatmu berjalan terus sampai kakimu lupa bahwa kamu sudah mati."

---

Saya naik juga.

Lift tidak punya tombol 7. Hanya 1 sampai 6. Namun, ketika saya menekan angka 6, lift terus bergerak naik. Melewati lantai yang tidak ada. Lampu di langit-langit lift berubah warna dari putih menjadi ungu, lalu merah, lalu tidak berwarna sama sekali—seperti cahaya yang lupa bagaimana caranya menjadi cahaya.

Pintu terbuka.

Lorong itu panjang. Saya tidak bisa melihat ujungnya. Karpetnya bermotif mata—ratusan mata, ada yang terbuka, ada yang setengah, ada yang menangis. Dindingnya wallpaper bergambar pintu-pintu kecil, dan setiap pintu di wallpaper itu tampak seperti bisa dibuka jika saya cukup dekat.

Nomor 703 ada di ujung lorong.

Namun, semakin saya berjalan, semakin jauh jaraknya. Saya berjalan cepat. Lari. Berlari sekuat tenaga. Akan tetapi, 703 tetap di sana—sama jauhnya, seperti jarak antara sengaja dan tidak sengaja.

"Kamu tidak akan pernah sampai," suara perempuan itu datang dari belakang saya. Namun, ketika saya menoleh, dia sudah berdiri di samping saya. Tidak terdengar langkah kaki. "Karena 703 bukan tempat. 703 adalah waktu."

"Waktu apa?"

"Waktu kamu memutuskan untuk tidak menjadi ayah bagi anakmu."

Saya berhenti.

---

Anak saya lahir dengan cacat. Bibir sumbing. Jari tangan hanya tiga di kiri. Dokter bilang dia akan tumbuh normal secara kognitif, tetapi butuh banyak operasi. Saya tidak pulang ke rumah setelah mendengar itu.

Saya tinggal di hotel murahan selama tiga minggu. Istri saya mencari saya. Saya matikan ponsel. Saya bilang kepada diri sendiri bahwa saya sedang mengumpulkan uang, sedang mencari pekerjaan lebih baik, sedang mempersiapkan diri. Akan tetapi, sebenarnya saya hanya duduk di kamar hotel, menonton televisi, dan memesan room service yang tidak pernah datang.

Suatu pagi—setelah saya membuka tirai dan melihat matahari terbit seperti biasa, padahal rasanya matahari seharusnya malu untuk terbit—saya sadar bahwa saya bukan sedang mengumpulkan apa pun. Saya sedang menghilang.

Pada hari ke-22, istri saya meninggal. Kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari rumah sakit tempat anak saya dirawat. Sopir truk mabuk. Istri saya meninggal seketika.

Saya datang ke pemakaman dengan setelan yang sama yang saya kenakan selama 22 hari berturut-turut. Kerahnya lusuh. Bau keringat sudah menyatu dengan kain.

Anak saya—masih bayi, dibawa oleh bidan—menangis ketika saya mendekati liang lahat. Mungkin karena saya asing. Mungkin karena dia tahu.

Setelah pemakaman, saya pindah kota. Berganti nama. Tidak pernah punya anak lagi. Tidak pernah menikah lagi. Tidak pernah pulang ke rumah mana pun.

---

"Kamar 703 adalah malam sebelum kamu memutuskan untuk lari," kata perempuan itu. Sekarang saya bisa melihat wajahnya lebih jelas. Dia tidak memiliki alis. Bukan dicukur—tidak pernah ada. Seperti wajah yang dirancang oleh seseorang yang lupa bahwa manusia butuh alis untuk berekspresi. "Malam itu kamu tidur nyenyak. Pukul 3 pagi kamu terbangun sebentar karena mendengar suara tangisan dari kamar sebelah. Namun kamu tutup mata lagi. Itu adalah tangisan anakmu melalui sambungan telepon yang istrimu coba sambungkan ke resepsionis hotel."

Saya ingat. Samar. Namun samar itu kadang lebih menyakitkan daripada jelas. Karena samar memberi saya ruang untuk meragukan apakah saya benar-benar berdosa—dan keraguan itu sendiri adalah bentuk pengecut.

"Jika kamu bisa kembali ke malam itu," kata perempuan itu, "apakah kamu akan bangun dan menjawab telepon?"

"Ya," kata saya cepat. Terlalu cepat.

Dia tersenyum. Senyum tanpa alis itu terlihat seperti retakan di dinding. "Itu jawaban yang mudah karena kamu tidak akan pernah bisa kembali. Akan tetapi, aku bisa membawamu ke versi malam itu yang berbeda. Mau?”

Sebelum saya menjawab, lorong itu berubah.

---

Saya berdiri di depan pintu 703. Pintu itu sekarang terbuka. Di dalamnya bukan kamar hotel—melainkan kamar rumah saya yang dulu. Ranjang yang sama. Seprai motif bunga yang istri saya beli di pasar malam. Lampu tidur yang pernah saya lempar ke dinding karena marah soal uang.

Dan di ranjang itu, istri saya sedang tidur. Ponsel di sampingnya berdering. Cahaya layar menyinari wajahnya yang letih.

Saya bisa melihat namanya di layar ponsel itu: Rumah Sakit Umum.

"Angkat," bisik perempuan tanpa alis di belakang saya. "Cukup tekan tombol hijau. Kamu tidak perlu bicara. Cukup dengarkan."

Tangan saya gemetar. Saya menjulurkan tangan ke arah ponsel—tetapi tangan saya menembusnya. Seperti hantu. Seperti saya tidak pernah punya tubuh di sini.

"Kamu tidak bisa mengubah apa pun," kata perempuan itu. "Kamu hanya bisa menonton. Selamanya."

Saya menonton ponsel itu berdering. Berdering. Berdering. Lalu mati. Pesan suara. Istri saya terbangun setengah sadar, mendengarkan pesan itu, lalu menangis. Lalu dia menelepon saya.

Ponsel saya—di sisi lain tempat tidur—bergetar. Saya tidak mengangkatnya. Tubuh saya yang dulu, yang sedang tidur nyenyak, hanya berguling ke sisi lain.

Saya menjerit. Namun di dunia ini, jeritan saya hanya terdengar seperti dengungan mesin kulkas.

---

Perempuan tanpa alis itu menepuk bahu saya. Tangannya terasa nyata. Berat. "Kamu pikir kamu adalah pria yang lari dari tanggung jawab," katanya. "Namun itu terlalu sederhana. Kenapa kamu lari? Bukan karena takut. Kamu lari karena kamu tahu sesuatu yang tidak diketahui pria itu."

"Apa?"

"Kamu tahu bahwa anak itu bukan anakmu."

Saya terdiam.

"Dua bulan sebelum anakmu lahir, istrimu berselingkuh dengan dokternya sendiri. Bukan karena dia jahat. Karena dia takut. Takut kamu akan meninggalkannya jika anaknya cacat—dan dia sudah tahu sejak USG keempat bahwa ada yang tidak beres. Dia mencari kepastian. Dia mencari seseorang yang akan tetap di sampingnya tidak peduli apa pun. Dokter itu—seorang pria yang sudah menikah, ayah dari dua anak—mengatakan ya. Akan tetapi, ketika hasil tes DNA keluar, ternyata anak itu tetap anakmu."

"Jadi?"

"Jadi istrimu tidak pernah berselingkuh. Dia hanya berpikir untuk berselingkuh. Namun rasa bersalahnya begitu besar sehingga dia menciptakan alasan untuk membencimu sebelum kamu membencinya. Dan kamu—kamu tidak tahu apa-apa tentang rencana perselingkuhannya. Yang kamu tahu hanyalah bahwa dia menjadi dingin, jauh, dan kamu tidak mengerti kenapa. Kamu lari karena kamu merasa tidak dicintai. Bukan karena kamu jahat."

Saya menatap ponsel yang sudah gelap. "Lalu kenapa ceritanya berakhir dengan dia mati dan aku hidup dalam penyesalan?"

"Karena kamu memilih untuk percaya bahwa kamu bersalah. Lebih mudah menyalahkan diri sendiri daripada mengakui bahwa kadang-kadang, tidak ada yang salah. Hanya ada satu malam, satu keputusan, dan satu rangkaian kebetulan yang membunuh semuanya."

---

Perempuan itu berjalan ke depan. Tubuhnya mulai terkelupas seperti cat lama. Di bawah kulitnya, tidak ada daging. Hanya lorong. Lorong yang sama dengan lorong hotel 703. Karpet bermotif mata. Dinding berpintu-pintu kecil.

"Aku adalah kamu," katanya. Wajahnya sekarang tinggal setengah. Separuh lagi adalah lorong yang tak berujung. "Aku adalah bagian dari dirimu yang tidak bisa memaafkan dirimu sendiri. Aku menciptakan hotel ini. Aku menciptakan resepsionis dengan gigi berlubang. Aku menciptakan koin bergambar burung terbakar. Karena aku ingin kamu terus berjalan. Terus mencari. Terus berharap bahwa di ujung lorong ada jawaban yang bisa membuatmu berhenti merasa bersalah."

"Akan tetapi tidak ada jawaban?"

"Ada. Namun jawabannya bukan di ujung lorong. Jawabannya ada di sini, di langkah pertama kamu memutuskan untuk naik lift meskipun aku sudah melarangmu."

"Apa jawabannya?"

Perempuan itu tertawa, tetapi tawanya adalah suara pintu terbuka. Suara kunci berputar. Suara handuk terlipat di atas kursi. "Kamu ingin dihukum. Kamu datang ke hotel ini karena kamu ingin kamar 703 menjadi neraka pribadimu. Akan tetapi tidak ada neraka. Hanya ada lorong. Dan lorong—kau tahu apa fungsi lorong?”

Saya menggeleng.

"Lorong bukan untuk mencapai ujung. Lorong adalah untuk memastikan bahwa pintu-pintu yang kamu lewati tetap tertutup."

---

Saya membuka mata.

Saya terbaring di lantai kamar 703. Tidak ada perempuan tanpa alis. Tidak ada lorong. Kamar ini nyata—jendela, tempat tidur, kamar mandi dengan wastafel retak. Di meja samping tempat tidur ada ponsel. Ponsel saya. Layarnya menyala.

Sebuah pesan suara. Diterima 22 tahun yang lalu. Belum pernah didengarkan.

Saya menekan tombol play.

Suara istri saya, tetapi bukan suara dari malam itu. Suara yang lebih tua. Suara yang sudah menyerah.

“Maaf,” katanya. “Maaf aku dingin belakangan ini. Maaf aku tidak bilang kenapa. Akan tetapi, aku ingin kamu tahu, sebelum semuanya benar-benar hancur, bahwa aku memilih kamu. Aku memilih kamu di antara semua pilihan yang ada. Dan aku akan memilih kamu lagi. Bahkan jika besok aku mati, aku akan memilih kamu di kehidupan berikutnya. Kamu hanya perlu datang. Kamu hanya perlu pulang."

Pesan itu berakhir.

Saya menangis. Di kamar hotel yang hanya punya 6 lantai, di kamar bernomor 703 yang tidak mungkin ada, saya menangis untuk pertama kalinya sejak 22 tahun lalu.

Lalu saya berdiri.

Pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Di luar, bukan lagi lorong. Bukan lagi hotel. Melainkan rumah. Rumah lama saya. Ranjang kosong. Bau kopi yang tidak pernah diseduh. Dan di meja ruang tamu, sebuah foto bayi dengan bibir sumbing, tersenyum—karena di foto itu, saya sedang menggendongnya.

Saya tidak pernah menggendongnya di dunia nyata.

Namun, di kamar 703, saya menggendongnya sekarang.

Dan tangannya—kecil, hanya tiga jari—memegang koin logam bergambar burung terbakar. Dengan lembut, dia menaruh koin itu di telapak tangan saya.

"Pulanglah, Yah," katanya. Suaranya jelas. Tidak sumbing sama sekali.

Saya pulang.

Tidak tahu ke mana. Tidak tahu apakah rumah itu masih ada atau sudah digusur. Namun kaki saya berjalan, pintu terbuka, dan di luar kamar 703, tidak ada pap pun lagi. Hanya udara pagi yang bau matahari.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya—atau mati saya—itu cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI