KAMUS YANG LUPA DIRI

Di sebuah desa di lereng Gunung Salak, hiduplah seorang perempuan tua bernama Nyi Surti. Ia tidak memiliki apa pun selain sebuah kamus usang—tebal, bersampul kulit yang mengelupas, dengan halaman-halaman yang menguning. Kamus itu adalah satu-satunya warisan dari suaminya, seorang ahli bahasa yang lenyap di tengah hutan tiga puluh tahun lalu. Namun, kamus itu tidak seperti kamus biasa. Setiap kata yang dibaca Nyi Surti akan hidup: "hujan" akan menciptakan hujan, "luka" akan membuka luka di kulitnya, "rindu" akan membuat tubuhnya ringan dan melayang. Suaminya dulu berpesan: "Jangan pernah membaca kata 'mati'. Dan jangan pernah membaca kata 'aku'." Selama tiga puluh tahun ia patuh. Akan tetapi, hari ini, ketika serigala-serigala metafora mengepung desanya, Nyi Surti harus memilih antara menjaga larangan atau menyelamatkan yang tersisa.

---

Desa Cibodas tidak pernah punya masalah dengan hewan buas. Masalah mereka adalah dengan kata-kata.

Sejak tiga puluh tahun lalu, setelah suami Nyi Surti lenyap, kata-kata mulai berperilaku aneh. Kata "tanah" di buku pelajaran tiba-tiba menjadi longsor. Kata "api" di koran membakar rumah warga. Kata "pisau" di menu restoran muncul di dapur sebagai benda tajam yang melayang sendiri. Para ahli dari Jakarta datang, meneliti, lalu pergi dengan wajah pucat. Tidak ada penjelasan ilmiah. Hanya Nyi Surti yang tahu: semua ini karena kamus suaminya.

Kamus itu tidak hanya memproduksi realitas. Kamus itu haus. Setiap kata yang dibaca membutuhkan korban—bukan darah, melainkan makna. Semakin sering sebuah kata digunakan, semakin kuat daya hidupnya, dan semakin sulit dikendalikan. Kata "hujan" yang terlalu sering diucapkan akan menciptakan banjir. Kata "cinta" yang terlalu sering dibisikkan akan membuat orang mati karena sesak dada.

Nyi Surti menyimpan kamus itu di lemari besi bawah tanah. Setiap malam, ia membukanya, membaca satu kata, dan membiarkan kata itu hidup—tetapi hanya dalam skala kecil, untuk memuaskan hausnya. Ia membaca "daun", dan daun-daun kering beterbangan di kamarnya. Ia membaca "hangat", dan udara di sekitarnya naik dua derajat. Ia membaca "sendiri", dan selama beberapa detik ia merasa tidak ada seorang pun di alam semesta.

Itulah rutinitasnya. Menjaga keseimbangan. Memberi makan kamus dengan porsi kecil agar tidak melahap desa.

Namun, malam ini, ada yang berbeda.

Saat Nyi Surti membuka halaman 47—halaman yang sama dengan halaman tempat suaminya terakhir membaca kata sebelum lenyap—ia melihat sebuah tulisan baru. Tulisan tangan suaminya, dengan tinta yang masih basah, padahal suaminya sudah tiada tiga puluh tahun.

"Maaf, Surti. Kamus ini bukan warisan. Kamus ini adalah penjara. Dan aku tidak lenyap. Aku masuk ke halaman 47. Aku menjadi kata 'hilang'. Sekarang, bacalah aku. Bacalah kata 'hilang'. Maka aku akan muncul kembali. Akan tetapi, sebagai gantinya, kau akan hilang. Pilihlah."

Nyi Surti gemetar. Tiga puluh tahun ia merindukan suaminya. Tiga puluh tahun ia tidur sendirian di ranjang yang terlalu lebar. Dan sekarang, suaminya ada di dalam kata, menunggu untuk dibaca.

Ia mengangkat tangan. Jarinya menunjuk ke kata "hilang". Hanya satu suku kata. Dua huruf dalam aksara Latin, tetapi bebannya seberat gunung.

Sebelum ia sempat membaca, pintu rumahnya didobrak.

---

Makhluk itu tidak seperti serigala biasa. Tubuhnya terbuat dari kalimat-kalimat yang gagal mati: "taring setajam silet", "bulu sehitam malam tanpa bintang", "mata seperti dua lubang api". Makhluk itu adalah personifikasi dari metafora-metafora yang terlalu sering diucapkan sampai kehilangan makna aslinya. Para penduduk desa menyebutnya Serigala Basa.

Malam ini, tiga ekor Serigala Basa mengepung rumah Nyi Surti. Mereka tidak ingin memakan dagingnya. Mereka ingin memakan kata-kata yang belum pernah diucapkan—kata-kata yang masih murni, masih perawan, belum terkontaminasi oleh kebohongan dan klise. Dan kamus milik Nyi Surti adalah sumber kata-kata perawan terakhir di dunia.

"Berikan kamus itu," kata serigala pertama. Suaranya bukan suara binatang, melainkan suara ribuan orang yang pernah berbohong, bergema seperti khotbah di masjid kosong.

Nyi Surti memeluk kamus itu erat-erat. "Tidak bisa. Kamus ini adalah suamiku."

"Suamimu sudah menjadi kata 'hilang'," kata serigala kedua. "Dia tidak akan pernah kembali, kecuali kau membacanya. Namun, jika kau membacanya, kau yang hilang. Lalu kamus itu tidak berpenjaga. Lalu kami akan mengambilnya. Jadi, pada akhirnya, bagaimanapun, kamus ini akan menjadi milik kami."

Nyi Surti tersenyum. Untuk seorang perempuan tua yang hidup sendirian di lereng gunung, ia memiliki senyum yang tajam.

"Kalian lupa," katanya. "Kamus ini tidak hanya berisi kata-kata. Kamus ini juga berisi definisi. Dan definisi dari kata 'serigala', menurut halaman 382, adalah 'binatang buas pemakan daging yang mudah dikalahkan dengan kata "jinak"'. Maka aku akan membaca kata 'jinak'."

Ia membuka halaman 382. Sebelum serigala-serigala itu bisa menghentikannya, Nyi Surti membaca: "Jinak: tidak berbahaya; patuh; dapat diatur."

Tiga ekor Serigala Basa itu langsung berubah. Bulu-bulu hitam mereka berubah menjadi putih. Mata mereka yang menyala-nyala menjadi bulat dan sayu. Mereka menjilat kaki Nyi Surti seperti anjing peliharaan.

Namun Nyi Surti tahu: efek kata "jinak" hanya sementara. Setelah beberapa jam, kata itu akan usang. Serigala-serigala itu akan kembali buas. Dan kali ini, mereka akan datang dengan seribu ekor.

Ia harus melakukan sesuatu yang permanen.

Ia harus membaca kata yang paling dilarang.

---

Nyi Surti membuka halaman terakhir kamus itu. Halaman yang selama tiga puluh tahun ia hindari. Halaman dengan judul: Kata-Kata yang Tidak Boleh Diucapkan dalam Keadaan Apa Pun.

Di sana ada tiga kata.

Kata pertama: Mati.
Kata kedua: Aku.
Kata ketiga: Tuhan.

Suaminya dulu hanya melarang dua kata pertama. Kata ketiga tidak pernah disebutkan—mungkin karena suaminya sendiri takut menulisnya, atau mungkin karena kata itu tidak bisa ditulis, hanya bisa dirasakan.

Nyi Surti menghela napas. Ia tidak ingin membaca "mati", karena ia masih ingin hidup. Ia tidak ingin membaca "aku", karena jika ia membaca "aku", kata itu akan menjadi dirinya—dan dirinya akan menjadi kata, seperti suaminya yang menjadi "hilang". Ia akan lenyap dari dunia nyata dan masuk ke kamus.

Namun, ia tidak punya pilihan. Serigala-serigala itu mulai berubah. Mata mereka kembali menyala. Bulu mereka kembali hitam. Efek "jinak" mulai luntur.

"Maka aku akan membaca kata yang ketiga," bisik Nyi Surti.

Ia menunjuk ke kata "Tuhan". Halaman itu kosong. Tidak ada huruf. Tidak ada definisi. Yang ada hanyalah suhu—halaman itu terasa hangat, seperti kulit manusia yang baru bangun tidur.

"Apa definisi Tuhan?" tanya Nyi Surti pada kamus itu.

Kamus itu bergetar. Halaman-halamannya terbuka sendiri, mencari jawaban. Akan tetapi, tidak ada satu halaman pun yang berisi definisi "Tuhan". Akhirnya, di halaman paling awal—halaman yang tidak bernomor—tertulis satu kalimat dengan aksara yang sangat tua:

"Tuhan adalah kata yang membaca dirinya sendiri."

Nyi Surti mengerjap. Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu ia sadar.

Kata "Tuhan" tidak perlu dibaca. Karena kata "Tuhan" adalah pembaca, bukan yang dibaca. Selama ini, yang membaca kamus adalah Nyi Surti. Namun, sebenarnya, yang membaca adalah sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Sesuatu yang menggunakan matanya, suaranya, jarinya untuk membuka halaman-halaman itu. Sesuatu itu adalah Tuhan. Dan Tuhan, menurut kamus itu, sedang membaca dirinya sendiri melalui Nyi Surti.

"Jadi, aku tidak perlu membaca apa pun," kata Nyi Surti pelan. "Aku hanya perlu berhenti menjadi pembaca. Aku hanya perlu menjadi yang dibaca."

Ia menutup kamus itu. Ia meletakkannya di lantai. Lalu ia duduk bersila di depannya, seperti seorang murid di hadapan guru.

"Aku siap," katanya. "Bacalah aku."

---

Kamus itu terbuka sendiri. Halaman-halamannya berputar seperti angin puyuh. Kata-kata beterbangan di udara: "tanah", "air", "api", "angin", "cinta", "benci", "lahir", "mati". Semua kata yang pernah dibaca Nyi Surti selama tiga puluh tahun kembali kepadanya, tetapi kali ini bukan sebagai perintah—melainkan sebagai cerita.

Kata "lahir" membentuk cerita tentang bayi yang menangis di kamar bersalin.
Kata "cinta" membentuk cerita tentang dua insan yang berjanji setia di bawah pohon beringin.
Kata "pisau" membentuk cerita tentang seorang suami yang menghilang di hutan karena membaca kata yang salah.
Kata "hilang" membentuk cerita tentang seorang istri yang menunggu tiga puluh tahun tanpa kepastian.

Semua cerita itu adalah kehidupan Nyi Surti. Kamus itu tidak sedang membacakan dongeng. Kamus itu sedang mengakui bahwa Nyi Surti pernah hidup.

Serigala-serigala metafora itu mundur selangkah. Mereka tidak bisa mendekat. Karena kata-kata yang beterbangan itu terlalu kuat—bukan kuat dalam arti destruktif, melainkan kuat dalam arti nyata. Serigala Basa adalah anakronisme, metafora yang kehilangan makna. Mereka tidak tahan dengan makna yang sesungguhnya.

Satu per satu, serigala-serigala itu menghilang. Bukan mati, melainkan kembali menjadi kata—kata "serigala" yang tidak lebih dari kumpulan huruf di halaman 382.

Nyi Surti tersenyum. Akan tetapi, senyumnya buyar ketika ia melihat halaman 47.

Halaman 47 mulai menulis sendiri. Bukan dengan tinta suaminya kali ini, melainkan dengan cahaya keemasan.

"Surti, kau berhasil. Kau tidak membaca kata 'hilang', tetapi kau memanggilku dengan cara yang lebih kuat: kau berhenti menjadi pembaca dan menjadi yang dibaca. Sekarang, aku bisa keluar dari halaman ini tanpa membuatmu hilang. Karena kau sudah tidak 'ada' dalam pengertian lama. Kau sudah menjadi bagian dari kata-kata. Dan kata-kata tidak bisa hilang. Kata-kata hanya berganti bentuk."

Dari halaman 47, cahaya keemasan itu memadat menjadi sosok laki-laki. Tinggi, kurus, berkacamata tebal, dengan janggut yang tidak pernah dicukur rapi. Suami Nyi Surti. Kembali. Utuh. Tidak menjadi kata "hilang" lagi.

"Kamu ...," Nyi Surti terisak.

"Aku kembali," kata suaminya, "tetapi tidak selamanya. Kamu dan aku sekarang adalah bagian dari kamus ini. Selama ada yang membaca kami, kami hidup. Namun, jika kamus ini terbakar atau dilupakan, kami akan mati untuk selama-lamanya."

Nyi Surti memeluk suaminya. Tubuh suaminya hangat, padahal ia baru saja keluar dari kertas.

"Maka kita harus memastikan kamus ini tidak pernah dilupakan," kata Nyi Surti. "Kita akan menulis ulang kamus ini. Kita akan memasukkan semua cerita desa ke dalamnya. Semua dongeng, semua mitos, semua bahasa yang hampir punah. Dengan begitu, kamus ini akan selalu dibaca. Dan kita akan selalu hidup."

Suaminya mengangguk. "Akan tetapi, ada satu syarat."

"Apa?"

"Kita tidak boleh membaca kata 'aku' lagi. Karena 'aku' adalah kata yang memisahkan. Dan jika kita terpisah, kamus ini akan kehilangan jantungnya."

---

Mereka bekerja selama berbulan-bulan. Nyi Surti mendiktekan cerita-cerita rakyat yang ia dengar dari neneknya: kisah Nyi Roro Kidul, Tangkuban Perahu, Sangkuriang. Suaminya menuliskan semuanya di halaman-halaman kosong kamus itu—halaman-halaman yang sebelumnya hanya berisi definisi kering dari kata-kata seperti "meja", "kursi", "jalan".

Namun, suatu malam, saat sedang menulis kisah tentang Malin Kundang, suami Nyi Surti berhenti tiba-tiba.

"Surti," katanya. "Aku sadar sesuatu."

"Apa?"

"Kita tidak sedang menulis ulang kamus. Kita sedang menciptakan agama baru. Agama di mana kata-kata adalah dewa, dan cerita adalah kitab suci. Apakah itu yang kita inginkan?"

Nyi Surti mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti."

"Kamu lihat, setiap kali kita menulis sebuah cerita, kata-kata di dalam cerita itu mulai hidup. Kata 'batu' di cerita Malin Kundang menjadi batu sungguhan di pinggir pantai. Kata 'kapal' menjadi bangkai kapal di lepas pantai. Semua mitos yang kita tulis menjadi nyata. Dan jika semua mitos menjadi nyata, dunia akan kacau. Terlalu banyak dewa, terlalu banyak monster, terlalu banyak keajaiban yang tidak bisa dijelaskan."

Nyi Surti terdiam. Ia belum memikirkan konsekuensi itu.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.

"Kita harus membaca kata 'mati'," kata suaminya pelan. "Bukan untuk membunuh siapa pun, melainkan untuk mengakhiri keabadian kita. Selama kita masih hidup sebagai bagian dari kamus, kamus ini akan terus memproduksi realitas. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan mengakhiri kita."

Nyi Surti menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan kehilanganmu lagi."

"Kamu tidak kehilangan aku, Surti. Kamu akan melepaskan aku. Itu berbeda. Kehilangan adalah ketika sesuatu diambil darimu tanpa izin. Melepaskan adalah ketika kau memilih untuk mengembalikan sesuatu pada tempatnya."

Nyi Surti menangis. Namun kali ini, ia tidak menangis karena takut. Ia menangis karena lega. Selama tiga puluh tahun ia memegang kamus ini, memeliharanya, memberinya makan dengan kata-kata kecil. Ia pikir itu adalah bentuk cinta. Akan tetapi ternyata, cinta sejati adalah ketika ia berani membiarkan kamus itu mati.

Ia membuka halaman terakhir. Kata "mati" tertulis di sana, huruf-hurufnya hitam pekat seperti langit tanpa bintang.

Ia membaca: "Mati: berhenti hidup; tidak lagi berfungsi; kembali ke asal."

Kamus itu bergetar. Halaman-halamannya mulai luruh seperti daun musim gugur. Suaminya tersenyum, tubuhnya menjadi transparan.

"Surti, terima kasih. Untuk tiga puluh tahun menunggu. Untuk satu malam memelukku lagi. Dan untuk hari ini melepaskanku."

"Namun, aku akan ke mana?" tanya Nyi Surti.

"Kamu tidak ke mana-mana. Kamu akan kembali ke desa. Kamu akan menjadi manusia biasa yang tidak punya kamus ajaib. Kamu akan tua, sakit, dan mati seperti manusia lainnya. Itu adalah anugerah terbesar yang tidak pernah kau sadari: kefanaan."

Nyi Surti menggeleng. "Aku tidak ingin mati."

"Kau tidak perlu menginginkannya. Kematian akan datang sendiri. Yang kau perlukan hanyalah keberanian untuk menyambutnya ketika ia datang."

---

Keesokan paginya, warga Desa Cibodas menemukan Nyi Surti duduk di teras rumahnya. Kamus itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah secarik kertas kecil, bertuliskan satu kalimat dengan aksara yang sangat tua:

"Tuhan adalah kata yang membaca dirinya sendiri, lalu tersenyum karena tidak menemukan apa pun selain keheningan yang sempurna."

Nyi Surti tidak pernah berbicara tentang kamus itu lagi. Ia hidup sampai usia 93 tahun, meninggal dengan tenang di pangkuan cucu keponakannya. Di batu nisannya, tidak ada tulisan panjang. Hanya satu kata: "Pulang."

Namun, pada malam-malam tertentu, ketika angin turun dari Gunung Salak, penduduk desa mendengar suara bisikan dari arah makam Nyi Surti. Bukan bisikan hantu. Bukan bisikan menakutkan.

Bisikan itu adalah suara dua orang yang sedang membaca nyaring—seorang laki-laki dan seorang perempuan—bergantian, seperti pasangan yang sedang bercerita sebelum tidur.

Mereka membaca semua kata yang pernah ada. Semua cerita yang pernah diceritakan. Semua mitos yang pernah dipercaya.

Dan setiap kali mereka membaca, dunia ini menjadi sedikit lebih ajaib. Sedikit lebih aneh. Sedikit lebih layak untuk dihuni.

Karena mereka tidak pernah benar-benar mati.

Mereka hanya berganti bentuk.

Dari kamus, menjadi cerita. Dari cerita, menjadi bisikan. Dari bisikan, menjadi ingatan. Dari ingatan, menjadi kata-kata yang tidak pernah berhenti diucapkan.

Dan kata-kata—seperti cinta, seperti rindu, seperti kehilangan—tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka hanya menunggu seseorang membacanya.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI