KATA YANG JATUH DI ANTARA DUA WAKTU
Langkah Nara berhenti di depan rumah nomor 44. Bukan karena rumah itu istimewa, melainkan pagarnya tertutupi tulisan. Bukan corat-coret biasa. Ratusan kata, puluhan kalimat, ditulis dengan kapur putih, kapur biru, bahkan arang. Semuanya menunjuk ke satu nama: Amira.
Seorang laki-laki berdiri di sana, tubuhnya tinggi dan tegap, tetapi bahunya sedikit membungkuk seperti orang yang lelah telah berjalan jauh. Itu Nara.
Amira, aku tahu kau di sini.
Amira, kembalikan suaraku.
Amira, kau lupa bahwa aku yang mengajarmu nama.
Nara membaca satu per satu. Dadanya sesak. Bukan karena takut, melainkan karena ia mengenali tulisan itu. Tulisannya sendiri. Tangan kanannya sendiri yang menulis semua ini. Namun, ia tidak ingat kapan.
Pintu rumah itu terbuka dengan suara berderit. Seorang perempuan keluar. Wajahnya pucat, matanya sayu, rambutnya kusut seperti orang yang tidak tidur berminggu-minggu. Amira.
“Kau datang lagi,” kata Amira. Suaranya pecah seperti kertas robek. “Ini yang keberapa kalinya, Nara? Aku sudah kehabisan kapur. Aku sudah kehabisan dinding. Aku sudah kehabisan nama.”
Nara menggeleng. Wajah laki-laki itu menunjukkan kebingungan yang tulus. “Aku tidak pernah menulis itu. Aku baru pertama kali ke sini.”
Amira tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa orang yang sudah terlalu lama melihat hal yang sama berulang.
“Kali pertama?” Amira menunjuk pagar. “Lihat sudut kiri bawah. Itu tulisannya masih basah. Kapur biru. Dan lihat jarimu.”
Nara menunduk. Jari telunjuk tangan kanannya—biru. Penuh kapur biru. Basah.
“Aku ... aku tidak ingat,” ucapnya dengan suara parau.
“Tentu tidak,” kata Amira. “Karena kau tidak pernah ingat. Kau menulis, lalu kau lupa. Kau datang, lalu kau pergi. Akan tetapi, kau selalu kembali. Selalu menulis nama itu lagi. Seperti setan yang dikutuk mengulang satu suku kata selamanya.”
Inilah konflik yang tak bisa dipecahkan: bukan siapa yang salah. Bukan apa yang terjadi. Melainkan mengapa Nara terus menulis nama Amira tanpa ingatan? Dan mengapa Amira terus menghapusnya, hanya untuk ditemukan kembali keesokan pagi?
Dilema mereka sederhana tetapi brutal: jika Nara berhenti menulis, ia kehilangan satu-satunya cara untuk mengingat siapa dirinya. Jika Amira berhenti menghapus, ia akan tenggelam dalam nama orang lain.
Mereka tidak bisa hidup bersama. Mereka juga tidak bisa hidup terpisah.
---
Kisah ini bukan tentang cinta. Bukan juga tentang dendam. Ini tentang sebuah wabah yang melanda kota kecil itu tiga tahun lalu, tepat sebelum Nara kehilangan ingatannya untuk pertama kalinya.
Wabah itu tidak diberi nama resmi. Para dokter menyebutnya Afasia Naratif Progresif. Namun, warga menyebutnya Penyakit Kata Hilang.
Penderitanya tidak lupa cara bicara. Mereka tetap bisa menyusun kalimat, memesan kopi, mengucapkan selamat pagi. Yang hilang adalah narasi. Mereka lupa bagaimana cerita hidup mereka tersusun. Mereka lupa mengapa mereka ada di tempat tertentu. Mereka lupa wajah yang mereka cintai—bukan karena tidak mengenali, melainkan karena tidak bisa menempatkan wajah itu dalam sebuah cerita yang utuh.
“Ibu adalah seseorang yang memberiku makan,” bisa mereka katakan. Akan tetapi, bukan “Ibu adalah perempuan yang mengajarkanku memegang sendok saat aku jatuh sakit di usia tujuh tahun.”
Detail mati. Latar membusuk. Karakter berubah menjadi nama kosong.
Dan Nara, sebelum terkena wabah ini, adalah seorang novelis. Baginya, kehilangan narasi sama dengan kehilangan oksigen. Ia masih bisa menulis—anehnya, tangannya bergerak sendiri. Namun, ia tidak ingat apa yang ia tulis. Seperti tubuhnya punya cerita sendiri, terpisah dari ingatannya.
Satu-satunya nama yang terus muncul dalam tulisannya adalah Amira.
Bukan dalam puisi. Bukan dalam kalimat romantis. Tulisannya kasar, tergesa, seperti orang yang sekarat menulis surat wasiat di atas kulit pisang: Amira, katakan di mana awal ceritaku. Amira, kau memegang halaman pertamaku. Amira, kembalikan aku ke kalimat yang kuhapus.
Namun, setiap kali Nara sampai di rumah Amira, ia tidak ingat mengapa ia di sana. Dan Amira, yang sudah lelah, hanya bisa menunjuk pagar dan berkata: “Baca sendiri.”
---
Amira bukan korban biasa. Ia adalah seorang restorator naskah kuno di museum kota. Pekerjaannya merawat manuskrip-manuskrip tua yang tulisannya hampir luntur. Ia ahli dalam menghapus noda, membersihkan tinta, dan menyelamatkan kata-kata yang hendak mati.
Paradoksnya: ia juga ahli dalam menghapus kata-kata yang mengganggunya.
Setiap pagi, Amira bangun pukul lima. Ia mengambil kain basah, sikat halus, dan botol berisi campuran cuka dan air jeruk. Lalu, ia membersihkan pagar rumahnya dari tulisan Nara. Satu per satu, huruf demi huruf, ia hapus hingga pagarnya kembali putih tanpa cerita.
Namun, ia tidak pernah membuang semua. Ada satu kalimat yang selalu ia biarkan. Kalimat di sudut paling kanan bawah, ditulis dengan kapur merah—satu-satunya warna yang tidak pernah Nara gunakan di waktu lain.
Kalimat itu berbunyi: Amira, ini satu-satunya yang kuingat: kau pernah tersenyum saat hujan.
“Mengapa kau biarkan itu?” tanya Nara suatu pagi, ketika ia datang dan untuk pertama kalinya—sadar—melihat sisa tulisan itu.
Amira menoleh. Matanya sembap. “Karena itu satu-satunya kalimat yang tidak membuatku ingin mati.”
“Aku tidak ingat menulis itu.”
“Aku tahu.”
“Akan tetapi, kau percaya bahwa aku yang menulis?”
Amira meletakkan kainnya. Ia duduk di teras, menepuk kursi di sampingnya. Nara duduk.
“Aku tidak tahu harus percaya apa lagi,” kata Amira. “Kau tidak ingat. Aku tidak tahu. Namun, setiap pagi tulisannya ada. Setiap pagi aku menghapus. Setiap pagi satu kalimat tersisa. Ini sudah tiga tahun. Aku sudah menghapus lebih dari dua ribu kalimat. Aku bisa menghapus kalimat terakhir itu kapan saja. Akan tetapi ....”
“Akan tetapi?”
“Akan tetapi, jika kuhapus kalimat itu, aku takut tidak ada lagi yang tersisa dari kau. Bukan karena aku sayang kau, melainkan karena kalimat itu satu-satunya bukti bahwa kau pernah menjadi manusia yang bisa tersenyum dan mengingat hujan.”
Nara menatap tangannya. Kapur biru masih menempel di sela-sela jari. Sama seperti ribuan pagi sebelumnya yang tidak ia ingat.
“Aku ingin sembuh,” bisik Nara. "Akan tetapi, aku tidak tahu caranya. Dokter bilang satu-satunya obat adalah menemukan narasi awal. Titik di mana ceritaku mulai pecah. Jika aku bisa mengingat kalimat pertama yang hilang, seluruh cerita akan kembali.”
“Lalu, mengapa kau menemuiku?”
“Karena namamu muncul di setiap tulisanku. Mungkin kau bagian dari narasi awalku. Atau mungkin ....”
“Mungkin?”
Nara menelan ludah. Suara baritonnya terdengar parau. “Mungkin kau penyebabnya.”
---
Amira membawa Nara ke ruang kerjanya di museum. Bukan ruang biasa. Ruang itu penuh dengan manuskrip dari abad ke-12 hingga ke-18. Sebagian ditulis dalam bahasa yang sudah mati. Sebagian lagi ditulis dalam aksara yang bahkan para arkeolog belum bisa memecahkan.
Namun, yang paling aneh adalah satu lembar kertas di meja Amira. Kertas itu tidak tua. Usianya mungkin tiga tahun, sama seperti wabah itu mulai. Di atasnya tertulis sebuah cerita pendek. Judulnya: Kata yang Jatuh di Antara Dua Waktu. Dan di bagian bawah, ada nama pengarang: Nara.
“Ini punyamu?” tanya Amira.
Nara mengambil kertas itu. Membacanya. Wajahnya berubah.
Cerpen itu bercerita tentang seorang perempuan bernama Amira. Amira dalam cerpen itu adalah seorang restorator naskah. Suatu hari, ia menemukan sebuah manuskrip yang tidak pernah selesai. Manuskrip itu berisi cerita tentang seorang novelis bernama Nara yang kehilangan ingatan. Nara dalam cerpen itu, pada bab terakhir, menulis nama Amira berulang-ulang di pagar rumahnya. Lalu Amira menghapusnya. Lalu Nara lupa. Lalu Nara menulis lagi. Siklus.
“Ini ... ini cerita tentang kita,” bisik Nara. “Aku menulis ini sebelum aku sakit?”
“Aku tidak tahu,” kata Amira. “Akan tetapi, aku menemukannya tiga tahun lalu, tepat saat kau mulai menulis namaku di pagar. Aku pikir kau sengaja meninggalkannya, tetapi ternyata kau tidak ingat.”
“Atau ...,” Nara menghela napas, “atau aku menulis ini sebagai semacam prediksi. Atau peringatan. Atau mantra. Cerita ini menjadi nyata karena aku menulisnya.”
Amira menggeleng. “Itu tidak masuk akal.”
“Kau restorator naskah kuno. Kau tidak percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan?”
Amira terdiam. Di dalam hatinya, ia tahu. Ia tahu karena ia pernah merestorasi naskah kuno dari abad ke-9. Naskah itu berisi mantra-mantra yang ditulis dalam bahasa Sanskerta kuno. Kata-kata itu bukan sekadar simbol. Mereka diyakini sebagai entitas yang bisa masuk ke dunia nyata jika diucapkan dengan benar.
“Kau mungkin benar,” kata Amira pelan. “Namun, jika ini mantra, lalu siapa yang mengucapkannya? Kau atau aku?”
“Kita berdua.”
“Dan bagaimana cara menghentikannya?”
Nara memejamkan mata. Ia mencoba mengingat. Tidak ada yang muncul. Hanya gelap. Akan tetapi, gelap itu berbeda. Ia seperti halaman buku yang kosong—bukan karena tidak ada tulisan, melainkan karena tulisannya dihapus oleh tangan yang sangat sabar.
Tiba-tiba, Nara membuka mata. “Kau bilang kau menghapus tulisanku setiap pagi?”
“Ya.”
“Akan tetapi, kau tidak pernah menghapus semuanya. Satu kalimat selalu kau biarkan.”
“Tentang hujan. Dan senyum.”
“Itu,” kata Nara. “Itu satu-satunya kalimat yang kau biarkan. Bukan karena kau sayang aku, melainkan karena kau takut. Kau takut jika kau hapus semuanya, kau akan kehilangan sesuatu. Namun, apa sebenarnya yang kau takutkan kehilangan?”
Amira menggenggam tangannya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia menangis.
“Aku takut kehilangan alasan,” bisiknya. “Selama tiga tahun, aku bangun setiap pagi untuk menghapus tulisanmu. Itu membuatku punya tujuan. Tanpa tulisanmu, aku hanya perempuan yang merawat naskah mati di museum. Tanpa tulisanmu, aku tidak perlu bangun pagi. Tanpa tulisanmu, aku ... tidak ada.”
Nara menatap Amira lama. Tangannya yang besar tergenggam di pangkuan.
“Jadi,” kata Nara perlahan, “penyakitku bukan hanya penyakitku. Ini juga penyakitmu. Aku menulis karena aku lupa. Kau membiarkanku menulis karena kau butuh sesuatu untuk dihapus.”
Amira tidak menjawab, tetapi matanya berkata ya.
---
Inilah dilema yang sebenarnya: mereka sama-sama sakit. Sama-sama bergantung pada siklus yang sama. Nara butuh menulis agar merasa eksis. Amira butuh menghapus agar merasa berguna. Tanpa satu sama lain, mereka hanya dua orang yang hampa. Namun, dengan satu sama lain, mereka tidak pernah bisa sembuh.
Dokter menyebut ini simbiosis patologis. Para filsuf menyebut ini paradoks Sisyphus: mendorong batu ke atas bukit hanya untuk melihatnya jatuh lagi. Akan tetapi, Nara dan Amira punya nama sendiri untuk fenomena ini. Mereka menyebutnya rumah.
“Kita tidak bisa terus begini,” kata Nara suatu malam. Mereka duduk di teras rumah Amira. Hujan turun perlahan.
“Lalu, kau punya solusi?” tanya Amira.
“Aku bisa berhenti menulis.”
“Kau bilang begitu bulan lalu, tetapi keesokan paginya kau menulis lagi di pagar. Tanpa sadar.”
“Maka kau harus menghapus kalimat terakhir itu. Yang tentang hujan.”
Amira menggeleng. “Tidak bisa.”
“Karena?”
Amira menatap hujan. Suaranya hampir tak terdengar. “Karena itu satu-satunya yang membuatku percaya bahwa kau pernah menjadi manusia yang mencintaiku.”
Nara terdiam. Udara di antara mereka dipenuhi suara rintik hujan dan debaran jantung yang tidak sinkron.
“Apakah aku mencintaimu?” tanya Nara. Bukan genit. Tanya sungguh-sungguh. Karena ia tidak ingat.
Amira tersenyum pahit. “Kau menulisnya setiap pagi. Di pagar itu. Dengan kapur merah. Namun, kau tidak pernah ingat. Jadi, apakah itu cinta? Atau, sekadar kebiasaan otak yang rusak?”
“Apa bedanya?”
“Cinta itu ingatan. Cinta itu cerita. Jika kau tidak punya ingatan dan tidak punya cerita, yang tersisa hanyalah kata kosong. Dan kata kosong, Nara, adalah hal paling menyedihkan di dunia.”
Nara meraih tangan Amira. Tangannya besar dan hangat, berbeda dengan jemari Amira yang dingin. Amira tidak menariknya.
“Kalau begitu,” kata Nara, suara baritonnya pelan tetapi mantap, “ajarkan aku cerita itu.”
“Cerita apa?”
“Cerita tentang kita. Dari awal. Bukan dari tulisanku yang aku lupa. Tapi dari ingatanmu. Biar aku menulisnya ulang. Bukan dengan kapur di pagar, melainkan dengan tinta di buku. Biar aku mengingatnya. Biar aku sembuh.”
Amira menatap hujan. Lalu ia mulai bercerita.
---
Amira bercerita tentang delapan tahun lalu.
Tentang mereka yang bertemu di museum yang sama. Amira sedang merestorasi naskah kuno berbahasa Arab. Nara datang sebagai pengunjung yang tersesat di lorong belakang. Mereka bicara tentang kata “hujan” dalam sepuluh bahasa berbeda. Nara terpesona. Amira merasa dilihat untuk pertama kalinya.
Lalu mereka dekat. Lalu mereka tinggal bersama di rumah nomor 44. Lalu Nara menulis novel pertamanya dengan Amira sebagai karakter utama. Seorang linguis yang percaya bahwa bahasa adalah realitas.
Lalu wabah datang. Nara mulai lupa. Awalnya kecil: lupa meletakkan kunci, lupa janji makan malam. Lalu lebih besar: lupa malam pertama mereka, lupa warna favorit Amira, lupa bahwa Amira takut petir. Lalu akhirnya, lupa bahwa Amira pernah menjadi kekasihnya.
Yang tersisa hanyalah nama Amira. Tanpa konteks. Tanpa cerita. Hanya nama yang harus ditulis berulang-ulang, seperti doa yang kehilangan makna.
“Dan aku?” tanya Nara. “Apa yang terjadi kepadaku saat aku mulai lupa?”
Amira menarik napas panjang. “Kau marah. Kau bilang aku sengaja menghapus ingatanmu. Kau bilang aku cemburu pada novel yang kau tulis tentangku. Kau bilang aku perusak.”
“Lalu?”
“Lalu kau pergi. Namun setiap pagi, kau kembali menulis namaku di pagar. Seperti kertas yang kau buang ke laut tetapi arus selalu membawanya kembali ke pantai.”
Nara menutup mata. Perlahan, seperti kabut tipis yang mulai menyingkap, ada bayangan. Bukan ingatan utuh, melainkan seperti fragmen film yang terputus-putus.
Ia melihat dirinya dan Amira di dapur. Amira tertawa karena Nara salah membaca resep. Ada hujan di luar. Ada lantai yang basah karena jendela bocor. Lalu tawa itu berubah menjadi tangis. Lalu ada teriakan. Lalu ada pintu yang dibanting.
Dan setelah itu—gelap. Halaman kosong.
“Aku meminta maaf,” suara Nara bergetar. “Aku tidak tahu.”
“Kau tidak perlu meminta maaf,” kata Amira. “Kau sakit. Dan aku ... aku tidak tahu cara menyembuhkanmu. Akan tetapi, aku juga tidak bisa melepaskanmu. Jadi, aku memilih di tengah. Menghapus hampir semuanya, tetapi menyisakan satu kalimat. Agar kau masih punya tempat untuk kembali.”
Nara membuka matanya. Air matanya jatuh bercampur hujan. “Amira, aku ingin kau menghapus kalimat itu.”
“Apa?”
“Kalimat tentang hujan. Tentang senyum. Hapus semuanya.”
“Akan tetapi—”
“Karena selama kalimat itu masih ada, aku akan terus kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena kebiasaan. Karena pagar itu sudah jadi cermin. Aku tidak ingin kembali ke cermin. Aku ingin kembali ke kau. Akan tetapi, untuk itu aku harus sembuh dulu. Dan untuk sembuh, siklus ini harus berhenti.”
Amira menggigit bibir. “Dan jika setelah kuhapus semua, kau tidak pernah kembali?”
“Maka setidaknya kau bebas.”
Mereka berdua diam. Hujan mulai reda.
---
Keesokan paginya, Amira bangun pukul lima. Ia mengambil kain, sikat, dan botol cuka. Ia keluar rumah. Pagar masih tertutupi ratusan kata dari semalam—karena Nara menulis lagi, tanpa ingatan, seperti biasa.
Namun, kali ini berbeda.
Di sudut paling kanan bawah, kalimat merah itu masih ada. Amira, ini satu-satunya yang kuingat: kau pernah tersenyum saat hujan.
Amira berlutut. Ia menyentuh kapur merah itu. Tangannya gemetar.
Lalu, perlahan, ia menghapusnya.
Bukan dengan kain basah, melainkan dengan ujung jarinya. Ia mengusap huruf demi huruf. A-m-i-r-a ... luntur. i-n-i ... kabur. s-a-t-u-s-a-t-u-n-y-a ... hilang.
Ketika kalimat itu benar-benar tidak tersisa, Amira berdiri.
Pagar itu putih bersih. Kosong. Tidak ada satu huruf pun.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada tulisan baru yang muncul keesokan paginya. Atau keesokannya lagi. Atau keesokannya lagi.
Nara tidak pernah kembali.
Bukan karena ia mati, melainkan karena ia akhirnya masuk rumah sakit jiwa untuk menjalani terapi ingatan intensif. Para dokter menemukan bahwa akar penyakitnya bukan kerusakan otak, melainkan trauma naratif: sebuah kejadian yang sangat menyakitkan sehingga otaknya memilih untuk melupakan seluruh cerita daripada mengingat satu adegan.
Adegan itu adalah malam ketika Amira berkata, “Aku tidak bisa mencintai penulis yang bahkan tidak ingat tulisannya sendiri.”
Nara mendengar kalimat itu, lalu ia memecahkan cermin. Lalu ia keluar rumah. Lalu ia tidak pernah ingat apa-apa lagi. Yang ia ingat hanyalah nama Amira. Karena nama itu, baginya, sama dengan luka. Dan luka, jika ditulis berulang-ulang, bisa berubah jadi doa. Atau sebaliknya.
---
Tiga bulan kemudian.
Amira sedang merestorasi naskah kuno dari abad ke-14. Tulisannya hampir luntur semua. Ia bekerja dengan sabar, satu huruf demi satu huruf. Pekerjaan yang ia lakukan setiap hari. Seperti menghapus. Seperti menyelamatkan.
Pintu ruangannya terbuka.
Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Wajahnya lebih segar dari tiga bulan lalu. Matanya tidak lagi sayu. Rambutnya rapi, janggut tipis yang dulu lebat kini dicukur bersih. Di tangannya, sebuah buku.
“Nara,” bisik Amira. Hampir tidak percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah orang yang sama yang dulu menulis namanya dengan kapur basah di pagar rumah.
Nara tersenyum. Bukan senyum pahit. Bukan senyum orang yang lupa. Senyum orang yang ingat—meskipun ingatannya masih seperti kain robek yang dijahit ulang.
“Aku menulis sesuatu,” kata Nara, suara baritonnya yang khas kini tidak lagi serak. “Dan kali ini, aku ingat bahwa aku menulisnya.”
Amira meletakkan kuasnya. “Apa isinya?”
Nara membuka buku itu. Halaman pertama. Tangannya yang lebar dan kurus membalik lembaran dengan hati-hati. Judulnya: Kata yang Jatuh di Antara Dua Waktu.
“Ini cerita tentang seorang laki-laki dan seorang perempuan,” kata Nara. “Satu lupa. Satu terlalu ingat. Mereka menghabiskan tiga tahun dalam siklus menulis dan menghapus. Sampai akhirnya salah satu dari mereka mengambil keputusan untuk membiarkan yang lain pergi.”
Amira menatap buku itu. Lalu menatap Nara. Laki-laki di depannya sekarang berbeda dari Nara yang dulu. Lebih tenang. Lebih utuh.
“Kau menulis tentang kita?”
“Aku menulis tentang kita, tetapi akhirnya berbeda.”
“Akhirnya bagaimana?”
Nara membaca halaman terakhir dengan suara pelan:
Amira menghapus kalimat terakhir itu. Dan Nara tidak kembali. Bukan karena ia mati, melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa cinta sejati bukanlah menulis nama seseorang berulang-ulang di pagar. Cinta sejati adalah membiarkan nama itu menjadi sunyi, agar ia bisa menemukan ceritanya sendiri.Beberapa tahun kemudian, Nara sembuh. Ia kembali ke rumah nomor 44. Pagarnya sudah dicat ulang, putih bersih tanpa bekas kapur. Namun di teras, seseorang telah meninggalkan secangkir kopi dan sebuah buku. Buku itu berisi kumpulan puisi. Pada halaman pertama, tertulis tangan:“Untuk Nara. Aku tidak lagi menghapus. Aku menulis ulang. Dari awal. Mau?”
Amira tidak bisa berkata apa-apa. Matanya basah.
Nara menutup buku. Tangannya menggenggam punggung buku itu erat-erat. “Itu akhir ceritaku. Akan tetapi, aku tidak tahu akhir cerita kita.”
Amira berdiri. Ia berjalan mendekati Nara. Jarak mereka hanya sejengkal. Ia bisa mencium bau sabun dan kertas tua dari kemeja Nara.
“Kita punya akhir cerita yang berbeda,” kata Amira. “Kita punya awal baru. Namun awal baru tidak butuh akhir cerita lama. Awal baru butuh ....”
“Butuh apa?”
Amira mengambil buku dari tangan Nara. Ia membalik ke halaman kosong di bagian paling belakang. Lalu ia mengambil pulpen Nara—pulpen yang sama, pulpen laki-laki itu yang dulu menulis ribuan kata di pagar—dan menulis satu kalimat.
Ia menulis: Hari ini hujan. Dan kau tersenyum. Dan aku tidak menghapusnya.
“Itu,” kata Amira. “Awal baru butuh satu kalimat yang tidak akan pernah dihapus.”
Nara membaca kalimat itu. Lalu ia tersenyum. Senyum yang untuk pertama kalinya dalam tiga tahun tidak terasa pahit.
Dan di luar jendela museum, hujan mulai turun. Perlahan. Lembut. Seperti kata-kata yang akhirnya menemukan tempatnya.
Bukan di pagar. Bukan di kapur. Melainkan di antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memilih untuk berhenti saling menulis dan menghapus, lalu memulai untuk saling membaca.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar