Katalog Almarhum

Ketika toko kaset di pojok pasar itu tutup setelah 37 tahun berjualan, pemiliknya—seorang pria tua bernama Asmar—memasang papan kayu di jendela. Papan itu bertuliskan: "DAGANG BARU. KATALOG ALMARHUM. SETIAP ORANG PUNYA SATU. BELI YANG BUKAN MILIKMU, JUAL YANG KAU TAHU."

Warga desa mengira itu guyonan. Tapi keesokan harinya, seorang pemuda bernama Raga masuk ke toko itu dan keluar dengan wajah pucat sambil memegang selembar kertas.

"Di situ ada nama ibuku," katanya pada siapa pun yang mau dengar. "Tanggal lahir, tanggal mati. Ibu belum mati. Tapi tanggal matinya sudah ditulis. Besok."

Ibu Raga meninggal keesokan harinya. Jantung. Tiba-tiba. Tidak ada riwayat.

Sejak hari itu, antrean panjang terbentuk di depan toko kaset yang berubah menjadi "Katalog Almarhum". Setiap orang ingin tahu kapan mereka mati. Setiap orang takut tahu kapan mereka mati.

Tapi Asmar punya satu aturan yang tidak bisa ditawar:

"Kamu hanya bisa membeli katalog orang lain. Tidak boleh punya katalog sendiri. Jika kamu membeli katalogmu sendiri, tanggal matimu adalah hari ini juga."

Aku, yang saat itu baru kehilangan ayah karena kecelakaan kereta api yang tidak pernah jelas penyebabnya, berdiri di antrean itu pada suatu pagi yang gerah. Aku tidak ingin tahu kapan aku mati. Aku ingin tahu satu hal:

Apakah ayahku sengaja naik ke rel? Atau dia didorong?

Katalog almarhum ayahku adalah satu-satunya yang bisa menjawab. Masalahnya: katalog itu sudah dibeli seseorang tiga jam setelah toko buka. Namanya: Sulastri. Mantan isteri ayahku. Perempuan yang tidak pernah aku kenal karena dia pergi sebelum aku lahir.

1. Simbolisme yang Berkarat

Aku masuk ke toko itu. Bau kaset tua—plastik, debu, dan sedikit amonia—menyambutku seperti hantu yang ramah. Rak-rak kayu yang dulu berisi kaset pita sekarang berisi map-map kardus. Setiap map diberi label nama. Raga, Sulastri, Lembang, Sari, Kosong—nama-nama yang tidak pernah aku dengar bercampur dengan nama-nama tetangga yang kubaca di berita duka.

Asmar duduk di kursi goyang. Usianya tidak bisa ditebak. Bisa lima puluh, bisa sembilan puluh. Wajahnya seperti kulit kayu yang dilipat terlalu banyak kali.

"Nak," katanya tanpa aku bicara. "Kamu mencari katalog ayahmu. Tapi sudah dibeli Sulastri. Mau cari Sulastri?"

"Aku tidak kenal Sulastri."

"Kamu kenal. Dia ibumu."

Aku tersentak. "Ibu saya bukan Sulastri. Ibu saya Siti. Dia di rumah. Masak sayur asem."

Asmar tersenyum. Gigi depannya hilang satu. "Siti adalah nama panggung. Sulastri nama lahirnya. Dia meninggalkan ayahmu karena dia tahu ayahmu akan mati muda. Dia tidak mau jadi janda. Jadi dia pergi sebelum status itu melekat."

"Tapi dia kembali? Dia membeli katalog ayah?"

"Bukan untuk mengetahui kematian ayahmu. Dia sudah tahu. Dia yang menyebabkan."

2. Ekspresionisme yang Luka Lama

Aku keluar dari toko dengan kepala penuh tawon. Di tangan, selembar kertas kecil yang diberikan Asmar gratis—bukan katalog, tapi petunjuk menuju rumah Sulastri. Di ujung desa, dekat sungai yang dulu tempat aku main layang-layang.

Rumah itu lebih kecil dari bayanganku. Cat hijau mengelupas seperti kulit ular yang sakit. Pekarangan ditumbuhi rumput ilalang setinggi pinggang. Tapi di teras, meja makan di atasnya ada dua piring, dua gelas, dan sebatang lilin yang menyala di siang bolong.

Sulastri—atau Siti, ibu yang kukenal—duduk di kursi. Wajahnya sama. Tapi matanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang tidak pernah aku lihat sewaktu kecil. Sesuatu yang lapar.

"Kamu tahu," katanya tanpa basa-basi. "Asmar sudah bilang?"

"Kamu membunuh ayah?"

"Ibu tidak membunuh. Ibu hanya... tidak mencegah. Ibu tahu dia akan naik ke rel. Ibu punya katalognya sejak sebelum toko itu buka. Asmar memberikannya sebagai hadiah pernikahan. Ibu sudah tahu tanggal dan waktunya. Ibu bisa cegah. Ibu pilih tidak."

"Kenapa?"

"Sebab ibu benci ayahmu. Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia terlalu baik. Terlalu baik sampai ibu merasa tidak pantas di sampingnya. Ibu pergi karena ibu takut suatu hari nanti dia sadar bahwa ibu tidak sebaik dia. Lalu dia akan meninggalkan ibu. Jadi ibu tinggalkan dulu."

"Tapi dia tidak pernah meninggalkan ibu. Ibu yang pergi."

"Itu masalahnya," Sulastri menangis. Air matanya jatuh ke piring kosong. "Dia tidak pernah membenci ibu. Ibu ingin dia membenci ibu, karena itu akan membuat keputusan ibu lebih mudah. Tapi dia tidak. Dia tetap mencintai ibu sampai hari dia mati. Ibu pikir dengan membiarkannya mati, ibu bisa berhenti dicintai. Ternyata tidak. Ibu masih dicintai. Bahkan sekarang. Bahkan setelah dia mati."

3. Plot Twist: Ayah Tidak Mati. Dia Pindah ke Katalog.

"Kamu mau lihat ayahmu?" tanya Sulastri.

"Tidak mungkin. Dia sudah mati."

"Tidak ada yang benar-benar mati, Nak. Mereka hanya pindah ke katalog. Katalog almarhum bukanlah daftar kematian. Katalog almarhum adalah rumah bagi orang-orang yang tidak ingin mati tapi tidak ingin hidup. Ayahmu ada di sana."

Sulastri mengambil map kardus dari balik kursi. Label: "KASMADI" — nama ayahku. Dia membuka map. Di dalamnya, bukan kertas. Tapi kaset. Kaset pita dengan tulisan tangan: "Suara Terakhir Sebelum Pindah."

"Aku putar," kata Sulastri. "Tapi kamu harus siap. Ayahmu tidak akan bicara padamu. Dia akan bicara pada ibumu. Karena kaset ini adalah pesan yang dia rekam untukku, di detik-detik terakhir dia masih menjadi manusia."

Kaset itu dimasukkan ke radio tape tua yang tiba-tiba muncul dari balik tirai. Suara desis. Lalu suara ayah. Suara yang sama persis dengan suara di ingatanku—hangat, sedikit berat, seperti orang yang baru bangun tidur.

"Sri... aku masuk sekarang. Tolong jaga anak kita. Jangan bilang dia aku mati. Bilang dia aku pindah ke kota. Biarkan dia membenciku. Lebih baik dia benci pada orang yang hidup daripada rindu pada orang yang mati. Maaf aku tidak bisa menjadi suami yang cukup baik untukmu. Maaf aku tidak bisa menjadi ayah yang cukup nyata untuk dia."

Sulastri mematikan tape. Wajahnya basah. "Dia memaafkanku. Bahkan setelah aku membiarkannya mati, dia memaafkanku."

Aku mengambil kaset itu. Kaset itu hangat. Seperti baru saja direkam. Seperti ayah masih di dalamnya, menunggu seseorang memutarnya lagi.

"Sri... aku izin pinjam kaset ini."

Sulastri mengangguk. "Dia ayahmu. Dia lebih milikmu daripada milikku."

4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Katalog Dapat Dibuka, dan Orang Mati Bisa Keluar

Aku kembali ke toko Asmar. Antrean masih panjang. Tapi aku tidak antre. Aku masuk lewat pintu belakang yang ternyata tidak terkunci. Di sana, di ruangan tanpa jendela, Asmar sedang berbicara dengan dinding.

"Kau tahu," katanya tanpa menoleh. "Setiap katalog punya kunci. Kuncinya bukan kunci besi. Kuncinya adalah orang yang paling dirindukan oleh almarhum. Untuk ayahmu, kuncinya adalah ibumu. Tapi ibumu tidak mau membuka. Dia takut ayahmu keluar dan menyalahkannya."

"Aku yang akan membuka."

Asmar menoleh. Matanya menyipit. "Kamu bukan orang yang dirindukan ayahmu. Kamu anaknya. Dia rindu Sulastri. Bukan kamu."

"Tapi aku darahnya."

"Darah tidak membuka pintu. Rindu yang membuka. Dan ayahmu hanya punya satu rindu. Bukan padamu."

Aku diam. Lalu aku mengeluarkan kaset itu. Aku meletakkannya di meja kayu di depan Asmar. "Kalau begitu, bantu aku memanggil Sulastri. Bawa dia ke sini. Suruh dia membuka."

Asmar tertawa. Tawa yang pahit seperti kulit mangga mentah. "Sulastri sudah di sini. Dia tidak pernah pergi. Dia duduk di kursi itu sejak kamu masuk."

Aku menoleh. Di kursi di sudut ruangan, Sulastri—ibuku—duduk. Tapi bukan Sulastri yang tadi di rumah dekat sungai. Sulastri ini lebih tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya penuh keriput. Matanya buta.

"Saya yang di rumah dekat sungai itu bukan saya," katanya. "Itu katalog saya. Saya sudah mati sepuluh tahun lalu. Tubuh saya di rumah sakit. Saya yang di sini adalah jiwa saya. Saya tidak bisa keluar dari toko ini. Asmar menjebak saya di sini."

"Dia tidak menjebakmu," kata Asmar. "Kamu yang memilih masuk. Kamu bilang, 'Aku ingin mati tapi aku takut. Aku ingin hidup tapi aku lelah. Tolong simpan aku di antara.' Aku simpan. Di sini. Di toko ini. Selama sepuluh tahun."

5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Asmar Adalah Ayah

Aku bingung. Tapi sebelum aku bisa bertanya, Asmar berdiri. Dia berjalan ke dinding. Dia menekan bata tertentu. Dinding itu terbuka. Di balik dinding, sebuah ruangan kecil. Satu kursi. Satu meja. Dan di meja, sebuah kaset. Kaset tanpa label.

"Itu katalogku," kata Asmar. "Aku juga almarhum. Aku mati 37 tahun lalu, saat toko kaset ini pertama kali buka. Aku mati karena sakit. Tapi aku tidak rela. Aku punya istri. Aku punya anak. Aku ingin melihat mereka tumbuh. Jadi aku menciptakan sistem ini. Katalog. Agar orang mati bisa tetap ada. Agar aku bisa tetap ada."

"Siapa istrimu?" tanyaku.

Asmar menatap Sulastri. Sulastri menunduk.

"Kakekmu," kata Sulastri pelan. "Asmar adalah ayahku. Ibumu—Siti atau Sulastri—adalah anaknya. Asmar adalah kakekmu. Dan ayahmu, Kasmadi, adalah menantunya. Kamu adalah cicit dari pria yang tidak rela mati."

Aku pusing. "Jadi... toko ini... katalog ini... semua ini karena kakek buyutku tidak rela mati?"

"Tidak ada yang rela mati, Nak," kata Asmar. "Tapi yang membedakan manusia dari almarhum adalah: manusia tahu bahwa ketidakrelaan tidak mengubah apa pun. Almarhum hidup dalam ketidakrelaan abadi. Itulah katalog. Rumah bagi mereka yang tidak bisa menerima bahwa waktu tidak berhenti untuk siapa pun."

6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Semua Orang di Desa Ini Sudah Mati, Kecuali Aku

Asmar membuka map lain. Map besar, tebal, berlabel: "WARGA DESA LEMBANG."

"Buka," katanya.

Aku membuka. Di dalamnya, bukan satu kaset. Tapi ratusan kaset. Setiap kaset berlabel nama. Raga. Sari. Kosong. Lembang. Semua nama yang aku lihat di antrean. Semua nama tetangga yang setiap pagi menyapaku.

"Mereka semua almarhum?" bisikku.

"Mereka semua mati dalam kecelakaan kereta api yang sama dengan ayahmu. Tapi mereka tidak tahu. Aku yang mengatur. Aku membuat mereka percaya bahwa mereka masih hidup. Karena jika mereka tahu mereka mati, mereka akan masuk ke katalog. Dan katalog hanya cukup untuk satu orang per keluarga. Aku sudah memilih. Aku memilih ayahmu. Yang lainnya... kubiarkan hidup dalam ketidaktahuan."

"Tapi ibuku—Sulastri—dia di sini. Dia di katalog."

"Sulastri memilih masuk. Dia satu-satunya yang sadar. Dia datang kepadaku sepuluh tahun lalu dan bilang, 'Aku tahu aku mati. Tapi aku tidak ingin hidup dalam kebohongan. Masukkan aku ke katalog.' Dan aku masukkan."

Aku duduk di lantai. Lantainya dingin. Tidak seperti keramik biasa. Seperti kaca. Seperti aku duduk di atas katalog raksasa.

"Jadi... sekarang? Apa yang harus aku lakukan?"

Asmar menghela napas. Napas yang terakhir kali dia ambil 37 tahun lalu.

"Kamu satu-satunya yang hidup di desa ini. Kamu bisa pergi. Kamu bisa tinggal. Kamu bisa membuka semua katalog dan membiarkan semua orang mati tahu bahwa mereka mati. Tapi mereka akan masuk ke dalam kaset. Mereka tidak akan bisa keluar. Mereka hanya akan menjadi suara. Seperti ayahmu. Seperti ibumu. Seperti kakek buyutmu."

"Atau?"

"Atau kamu biarkan semuanya tetap seperti ini. Kamu hidup di antara orang mati yang tidak tahu mereka mati. Kamu makan sayur asem buatan ibumu yang sudah mati sepuluh tahun. Kamu mendengar suara tetangga yang sudah hancur di rel kereta. Kamu tersenyum pada mereka setiap pagi, dan setiap malam kamu menangis di kamar mandi karena kamu tahu kebenaran yang tidak bisa kamu bagikan."

7. Plot Twist Terakhir: Aku Juga Mati. Sejak Awal.

"Kenapa aku tidak mati dalam kecelakaan itu?" tanyaku.

Diam. Asmar dan Sulastri saling pandang.

"Karena," kata Sulastri pelan, "kamu tidak ikut dalam kecelakaan itu. Kamu tidak pernah lahir. Ayahku—Asmar—menciptakanmu dari katalog kosong. Kamu adalah katalog yang tidak terisi. Kamu adalah harapan bahwa suatu saat nanti, seseorang yang benar-benar hidup akan datang ke desa ini. Tapi tidak ada yang datang. Kamu sendiri tidak hidup. Kamu hanya... kemungkinan."

Aku melihat tanganku. Transparan. Tidak sepenuhnya nyata. Seperti bayangan yang lupa siapa pemiliknya.

"Jadi aku bukan siapa-siapa?"

"Kamu adalah penjaga," kata Asmar. "Penjaga katalog. Penjaga antara. Kamu tidak perlu mati karena kamu tidak pernah hidup. Dan kamu tidak perlu hidup karena kamu menjaga kematian orang lain. Itu tugasmu. Satu-satunya tugas yang aku berikan padamu saat aku menciptakanmu."

Aku berdiri. Aku berjalan ke pintu toko. Di luar, matahari bersinar. Tetangga berjalan. Ibu—Sulastri yang muda, yang masak sayur asem—tersenyum padaku dari seberang jalan.

Aku tersenyum balik.

Lalu aku menutup pintu toko.

Aku mengambil katalog ayahku. Aku memutarnya di radio tape. Aku mendengar suara ayah berkali-kali. Lalu aku mengambil katalog ibuku—Sulastri yang tua, yang buta—dan memutarnya juga.

Suara mereka berdua bercampur, seperti nyanyian lama yang tidak pernah selesai.

Di luar, warga desa terus hidup dalam ketidaktahuan yang indah.

Dan aku, penjaga katalog, duduk di kursi goyang Asmar.

Menunggu.

Karena suatu hari nanti, akan ada orang yang benar-benar hidup masuk ke toko ini. Dan aku akan memberinya katalog. Dan dia akan memilih: tahu atau tidak tahu, hidup atau mati, pergi atau tinggal.

Tapi hari ini belum.

Hari ini, aku hanya mendengar suara ayah dan ibu yang sudah mati, bercerita tentang masa kecilku—masa kecil yang tidak pernah aku alami, karena aku tidak pernah kecil, aku tidak pernah besar, aku tidak pernah hidup.

Aku hanya katalog.

Katalog yang menulis dirinya sendiri.

Epilog yang Bukan Epilog:

Halaman terakhir katalogku—karena aku punya katalog, entah kenapa, meskipun Asmar bilang katalog hanya untuk yang mati—berbunyi:

"Suatu hari nanti, seseorang akan membuka toko ini dan membacamu. Dan pada hari itu, kamu akan mengerti bahwa kematian bukanlah akhir. Juga bukan awal. Kematian adalah toko kaset di pojok pasar yang tutup setelah 37 tahun, tapi tetap buka untukmu yang percaya bahwa suara tidak pernah benar-benar hilang. Suara hanya pindah. Ke dalam pita. Ke dalam ingatan. Ke dalam katalog yang kamu pegang sekarang."

Aku menutup map.

Di luar, matahari terbenam untuk kesekian kalinya di desa yang tidak pernah benar-benar ada.

Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, langit berwarna ungu.

Bukan biru.

Ungu.

Seperti warna kaset favorit ayah.

Dan di kejauhan, seseorang berjalan menuju toko ini.

Langkahnya berat.

Hidup.

Dan aku tersenyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI