KEPALA YANG HILANG DI LORONG SEBELAH

Setiap pagi pukul setengah enam, perempuan itu berdiri di lorong sebelah rumahku. Dia tidak punya kepala. Bukan hantu, katanya. Bukan ilusi. Hanya perempuan biasa yang suatu hari kepalanya memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Dan sekarang dia menunggu—setiap pagi, di lorong yang sama—karena kepalanya berjanji akan kembali. Tiga tahun lalu.

Ini masalahnya: aku satu-satunya yang bisa melihatnya.

Tetangga lain lewat seperti biasa. Anak-anak berlarian. Pak RT menyapu halaman. Tidak ada yang menabrak tubuh tanpa kepala itu, karena bagi mereka, lorong itu kosong. Tapi setiap kali aku melintas, perempuan itu mengangkat tangan—tangan yang gemetar, dengan kuku yang sudah lama tidak dipotong—dan berkata dengan suara dari rongga lehernya yang terbuka:

"Kau lihat dia belum? Kepalaku. Berambut panjang. Matanya coklat. Bibirnya digigit terus sampai pecah-pecah."

Aku selalu menjawab: "Belum."

Lalu dia menangis. Air mata keluar dari lubang lehernya—aneh, tapi di dunia ini, banyak hal aneh yang tidak bisa kujelaskan. Air matanya jatuh ke tanah, dan di tempat tetesan itu, tumbuh bunga kecil berwarna abu-abu yang layu sebelum matahari naik.

Aku adalah guru seni di SD Negeri 3, lima menit dari lorong itu. Pagi ini, seperti biasa, aku membawa bekal dan berusaha tidak menatap perempuan tanpa kepala itu terlalu lama. Tapi hari ini berbeda.

Dia memegang pergelangan tanganku.

Tangannya dingin. Bukan dingin mayat. Dingin seperti es batu yang didiamkan terlalu lama di dalam gelas sampai kehilangan tujuannya.

"Hari ini kepalaku akan kembali," katanya. Pasti. Tanpa keraguan. "Tapi aku takut."

"Takut apa?"

"Aku takut kalau kepalaku sudah tidak mau kembali lagi padaku. Aku takut kalau selama tiga tahun pergi, dia sudah menemukan tubuh lain yang lebih pantas."

Aku ingin berkata bahwa itu tidak masuk akal. Tapi mana mungkin aku—yang hanya bisa melihat perempuan tanpa kepala—menentukan apa yang masuk akal dan tidak?

Aku menghela napas. "Aku akan cari."

---

BAGIAN SATU: KEPALA YANG BERJALAN

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Lorong sebelah rumahku hanya sepanjang dua puluh meter. Di ujungnya ada tembok bata yang ditumbuhi lumut. Di sampingnya ada warung bakmi yang buka sejak 1995. Itu saja. Tapi perempuan itu bilang kepalanya bisa pergi ke mana saja—ke pasar, ke sungai, ke atap rumah orang, ke dalam mimpi anak-anak yang sedang tidur.

"Kepala itu tidak butuh kaki," katanya suatu pagi. "Dia menggelinding. Dan selama menggelinding, dia melihat hal-hal yang tidak bisa dia lihat saat masih menempel di tubuhku."

"Contohnya?"

"Contohnya, dia tahu bahwa suamiku berselingkuh tiga bulan sebelum dia pergi. Dia tahu karena suatu malam, saat suamiku tidur, kepalaku menggelinding ke ruang tamu dan melihat ponselnya menyala dengan pesan dari wanita lain. Kepalaku marah. Tapi dia tidak bisa marah karena dia tidak punya suara. Jadi dia pergi."

Aku diam. Ini kali pertama dia bercerita panjang.

"Tapi kenapa dia berjanji kembali?"

Perempuan itu menghela napas melalui lehernya. Bunyinya seperti angin yang masuk ke botol kosong.

"Karena dia sadar bahwa tubuhku juga punya hak untuk marah. Tubuhku tidak melakukan kesalahan apa pun. Tubuhku hanya diam di sini, setiap pagi, menunggu. Dan kepala itu... kepala itu merasa bersalah. Tapi rasa bersalah tidak cukup untuk membuatnya kembali. Yang dia butuhkan adalah alasan. Alasan untuk percaya bahwa tubuh ini layak dihuni lagi."

Aku mengangguk meskipun tidak benar-benar paham.

"Dan kau pikir alasan itu akan datang hari ini?"

"Ya. Karena hari ini mantan suamiku menikah lagi. Kepalaku pasti ingin menonton. Dan setelah menonton, dia akan sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa untuk dia benci. Lalu dia akan kembali."

Logikanya aneh, tapi di dunia yang kepalanya bisa pergi sendiri, logika adalah barang mewah.

---

BAGIAN KEDUA: TWIST DI DALAM TWIST

Aku membolos mengajar. Aku bilang pada kepala sekolah bahwa aku sakit perut. Padahal aku pergi ke pernikahan mantan suami perempuan tanpa kepala itu. Aku tidak tahu nama perempuan itu. Selama ini kami tidak pernah bertukar nama. Aku hanya memanggilnya "Bu" dan dia memanggilku "Guru".

Pernikahan itu digelar di gedung serbaguna dekat pasar. Aku datang tanpa undangan, memakai baju paling rapi yang kumiliki (masih bau kapur barus), dan duduk di bangku paling belakang. Di atas panggung, seorang pria—mungkin mantan suaminya—tersenyum di samping pengantin wanita. Wajahnya biasa saja. Tidak tampak seperti orang yang membuat kepala istrinya pergi karena sakit hati.

Tapi aku tidak datang untuk melihat pria itu.

Aku datang untuk mencari kepala.

Dan aku menemukannya di bawah meja prasmanan.

Seekor kepala perempuan, berambut panjang, mata coklat, bibir pecah-pecah karena sering digigit—persis seperti deskripsi perempuan di lorong itu. Kepala itu menggelinding pelan di antara kaki para tamu yang sibuk mengambil nasi dan ayam goreng. Tidak ada yang melihatnya. Atau mungkin mereka melihat tetapi memilih untuk menganggapnya sebagai bayangan.

Aku meraihnya.

Berat. Kepala itu lebih berat dari yang kubayangkan. Dan hangat. Seperti kantong air panas.

"Kau kepalanya Bu?" bisikku.

Kepala itu menatapku. Mata coklatnya berair. Bibir pecah-pecahnya bergetar. Lalu dia berbicara. Suaranya kecil, seperti suara perempuan itu di lorong, tetapi lebih jernih—karena sekarang dia punya mulut yang utuh.

"Aku tidak bisa kembali," kata kepala itu.

"Kenapa?"

"Karena tubuhku sudah berubah. Tiga tahun menunggu di lorong, di pagi hari, di bawah hujan dan panas—tubuhku sudah tidak seperti dulu. Dadanya kempis. Tangannya penuh keriput. Perutnya sering sakit. Aku tidak mengenalinya lagi."

Aku duduk di lantai dekat meja prasmanan, memangku kepala itu. Beberapa tamu menatap aneh, tapi kupikir mereka menganggapku sedang mabuk.

"Tapi dia masih menunggumu," kataku. "Setiap pagi. Dia tidak pernah absen. Dia bahkan tidak marah lagi. Dia hanya takut kalau kau tidak mau kembali."

Kepala itu diam.

"Dia bilang," lanjutku, "dia takut kalau kau sudah menemukan tubuh lain yang lebih pantas."

Kepala itu tertawa. Suaranya getir.

"Tubuh lain? Tidak ada tubuh lain. Aku hanya punya satu tubuh. Dan tubuh itu ada di lorong, menunggu, tanpa aku."

"Maka kembalilah."

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Aku takut kalau setelah tiga tahun pergi, ternyata kami sudah tidak cocok lagi. Aku takut kalau tubuh itu punya kebiasaan baru yang tidak aku sukai. Aku takut kalau aku kembali dan ternyata kami berdua lebih bahagia saat terpisah."

Aku menghela napas. Dilema ini terlalu berat untuk seorang guru seni yang hanya bisa menggambar pemandangan gunung dengan krayon.

---

BAGIAN KETIGA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST

Aku membawa kepala itu keluar dari gedung serbaguna. Kami berjalan melewati pasar, melewati sungai kecil yang airnya hitam karena sampah, melewati rumah-rumah yang pagarnya dicat hijau tua. Kepala itu diam di pangkuanku. Sesekali dia menggigit bibirnya sendiri. Pecah. Darahnya merah tapi tidak menetes.

"Guru," kata kepala itu tiba-tiba. "Aku dulu punya nama."

"Apa?"

"Namaku Laras. Tapi tubuhku lupa. Setelah aku pergi, tubuhku hanya mengingat dirinya sebagai 'perempuan tanpa kepala'. Dia lupa bahwa dia pernah jadi anak perempuan, pernah jadi istri, pernah jadi seseorang yang suka memasak rendang setiap hari Minggu."

Aku berhenti berjalan.

"Kalau begitu," kataku, "perkenalkan dirimu lagi."

"Apa?"

"Kembalilah ke tubuhmu. Lalu ucapkan namamu. Biarkan dia ingat bahwa dia bukan sekadar tunggul yang menunggu. Dia Laras. Dia punya masa lalu. Dia punya rasa."

Kepala itu—Laras—menangis. Air matanya keluar dari mata coklatnya, bukan dari lehernya. Hangat. Menetes di lenganku.

"Tapi bagaimana kalau dia tidak menerimaku?"

"Dia sudah menerima ketidakhadiranmu selama tiga tahun, Laras. Menerima kehadiranmu pasti lebih mudah."

Laras tidak menjawab. Tapi arah pandangnya berubah—dia melihat ke arah lorong. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Perempuan tanpa kepala itu pasti sudah tidak ada di sana. Dia hanya datang pagi-pagi. Tapi Laras sepertinya tahu sesuatu yang tidak aku ketahui.

"Dia juga datang sore," bisik Laras. "Setiap sore. Tepat pukul setengah enam. Dia bilang dia ingin melihat matahari terbenam walau tanpa mata."

Aku mempercepat langkah.

Saat kami sampai di lorong, perempuan itu sudah berdiri di tempat yang sama. Punggungnya membelakangi kami. Tangannya menggenggam sebuah bunga abu-abu—yang tumbuh dari air matanya sendiri, pagi tadi.

Aku meletakkan Laras di tanah. Kepala itu menggelinding pelan. Perempuan itu tidak menoleh. Laras menggelinding ke arah kakinya, berhenti, lalu menggigit ujung kain sarung yang dikenakan perempuan itu.

Perempuan itu menunduk.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia melihat kepalanya sendiri.

Diam.

Bukan diam yang canggung. Diam yang penuh. Seperti ruangan yang sudah lama kosong, tiba-tiba diisi oleh semua kenangan sekaligus.

"Laras," kata perempuan itu. Suaranya masih keluar dari rongga leher, tapi kali kata itu terdengar... utuh. "Kau kembali."

"Aku kembali," kata Laras dari tanah. "Maafkan aku karena pergi. Maafkan aku karena marah. Maafkan aku karena lupa bahwa tubuh ini juga merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan."

Perempuan itu berlutut. Tubuhnya berguncang. Lalu dia mengambil Laras—kepalanya sendiri—dan meletakkannya di pangkuan.

Tapi dia tidak memasangnya kembali.

Dia hanya memeluknya. Seperti memeluk anak yang tersesat. Seperti memeluk masa lalu yang tidak bisa diulang tapi tidak bisa dibuang.

---

BAGIAN KEEMPAT: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT

Aku menunggu di pinggir lorong. Aku pikir ini akhir dari cerita. Tapi Laras—yang masih berada di pangkuan tubuhnya—menatapku.

"Guru," katanya. "Ada satu hal yang belum aku ceritakan."

"Apa?"

"Aku tidak pergi karena suamiku selingkuh. Aku pergi karena aku yang selingkuh."

Dunia terasa berputar pelan.

"Aku berselingkuh dengan kepala sekolahmu," lanjut Laras. "Tiga bulan sebelum aku pergi. Suamiku tahu. Tapi dia tidak marah. Dia hanya diam. Dan diamnya itu lebih menyakitkan daripada amarah. Karena diamnya membuatku sadar bahwa dia tidak peduli lagi. Dan ketidakpeduliannya membuatku marah kepada diriku sendiri. Jadi aku pergi. Aku bilang pada tubuhku bahwa suamiku yang selingkuh. Aku berbohong. Dan tubuhku—bodohnya—mempercayai aku. Sebab tubuh tidak punya ingatan. Tubuh hanya punya rasa. Dan rasa yang kutinggalkan adalah rasa dikhianati, padahal aku sendiri yang mengkhianati."

Aku melihat ke arah perempuan tanpa kepala itu—atau lebih tepatnya, tubuh Laras. Tubuh itu tidak bereaksi. Mungkin karena telinganya juga ada di kepala, jadi dia tidak bisa mendengar.

Tapi kemudian tubuh itu bergerak.

Perlahan, tubuh Laras mengangkat tangan, meraba lehernya sendiri, lalu menekan sesuatu di sana—seperti menekan tombol yang tidak terlihat.

Dan suara keluar dari rongga lehernya. Suara yang bukan suara biasa. Suara yang terdengar seperti rekaman, tapi hidup.

"Aku tahu," kata tubuh itu.

Laras (kepalanya) terperanjat. "Kau tahu?"

"Aku selalu tahu. Aku hanya tidak punya mulut untuk mengatakannya selama tiga tahun. Tapi aku tahu bahwa kau yang selingkuh. Aku tahu karena setiap malam, saat kau menggelinding pergi, aku bisa merasakan malu. Rasa malu itu tidak mungkin datang jika kau adalah korban. Rasa malu itu datang karena kau bersalah."

Laras menangis. Air mata dari mata coklatnya. Tubuhnya menangis juga—air mata dari rongga leher.

"Lalu kenapa kau tetap menunggu?" Laras bertanya. "Kenapa kau tidak pergi? Kenapa kau tidak membenci aku?"

Tubuh itu diam sebentar. Lalu menjawab dengan suara yang paling lembut yang pernah aku dengar dari rongga leher:

"Karena memaafkanmu adalah satu-satunya hal yang membuat aku masih merasa menjadi manusia. Aku tidak punya kepala. Aku tidak punya nama. Aku tidak punya masa depan. Tapi aku punya kemampuan untuk memaafkan. Dan selagi aku bisa memaafkan, aku hidup."

Laras terdiam.

Lalu dia bergerak. Dia menggelinding ke pundak tubuhnya. Lalu ke lehernya. Lalu—dengan bunyi klik yang lembut, seperti tutup botol yang pas—dia terpasang kembali.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, perempuan itu utuh.

Dia mengangkat wajahnya. Mata coklatnya menatapku. Bibir pecah-pecahnya tersenyum.

"Terima kasih, Guru."

Aku mengangguk. "Sama-sama, Bu."

"Laras," katanya. "Namaku Laras."

---

BAGIAN KELIMA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT—YANG TERAKHIR (KUPIKIR)

Aku pulang. Aku tidur. Aku bangun keesokan pagi untuk mengajar.

Pukul setengah enam, seperti biasa, aku melewati lorong itu.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku lega. Cerita selesai.

Tapi saat aku sampai di sekolah, Kepala Sekolah—yang ternyata adalah mantan kekasih Laras—memanggilku ke ruangannya. Matanya sembab. Rambutnya acak-acakan. Di mejanya ada foto seorang perempuan dengan rambut panjang, mata coklat, bibir pecah-pecah.

Laras.

"Guru," kata Kepala Sekolah. Suaranya serak. "Kau tahu perempuan ini?"

Aku ingin bilang tidak. Tapi rahangku terkunci.

"Dia datang tadi malam ke rumahku," lanjut Kepala Sekolah. "Dia utuh. Dia punya kepala. Dia bilang dia ingin memulai segalanya dari awal. Aku bilang tidak bisa karena aku sudah punya istri dan anak. Dia tersenyum. Lalu dia pergi. Tapi sebelum pergi, dia bilang: 'Titip salam untuk guru seni yang membantuku kembali utuh.'"

Kepala Sekolah menatapku tajam.

"Kau tahu sesuatu tentang ini, kan?"

Aku diam. Lalu aku teringat sesuatu. Sesuatu yang tidak aku sadari saat membantu Laras kemarin:

Laras tidak pernah memaafkan suaminya. Dia hanya memaafkan dirinya sendiri. Tapi dia tidak pernah kembali ke suaminya. Dia kembali ke tubuhnya sendiri.

Dan tubuhnya—setelah tiga tahun menunggu—tumbuh menjadi perempuan yang berbeda. Perempuan yang tidak lagi mencintai mantan suami. Perempuan yang malah memilih datang ke rumah Kepala Sekolahku, yang juga mantan kekasih gelapnya, untuk memulai hidup baru.

Dengan kata lain: kepalanya kembali. Tapi hatinya? Hatinya masih pergi ke tempat yang salah.

Aku tersenyum pahit.

"Pak Kepala," kataku. "Saya hanya guru seni. Saya tidak tahu apa-apa tentang kepala yang hilang di lorong sebelah."

Aku keluar dari ruangannya. Aku berjalan ke kelas. Aku mengajar anak-anak menggambar pemandangan gunung dengan krayon. Tapi di sela-sela jam istirahat, aku membuka ponselku dan melihat foto yang tidak pernah aku ambil: foto Laras, utuh, tersenyum, dengan bunga abu-abu di rambutnya.

Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Aku titip kepalaku di lorong itu besok pagi. Jaga baik-baik."

Aku mematikan ponsel.

Besok pagi, pukul setengah enam, aku akan ke lorong itu lagi.

Bukan karena aku peduli.

Tapi karena penasaran: apakah kepala Laras akan pergi lagi? Atau kali ini, dia akan memilih untuk tidak pernah kembali?

Aku rasa kita tidak akan pernah tahu.

Karena cerita tentang kepala yang hilang tidak pernah selesai. Cerita itu hanya berhenti di satu titik, lalu dilanjutkan oleh orang lain yang kebetulan lewat dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.

Sepertiku.

Sepertimu yang membaca ini sekarang.

Selamat pagi, dan selamat mencari kepala masing-masing.

---

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI