KOTA YANG DIHUNI OLEH NAMA-NAMA
---
Bagian Satu: Kedatangan
Kota itu tidak ada di peta.
Aku menemukannya secara tidak sengaja—jika kata "tidak sengaja" bisa dipakai untuk sesuatu yang mungkin memang menungguku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari pemakaman ayahku ketika bus yang kutumpangi berhenti di terminal yang tidak kukenali. Bukan terminal yang ramai—hanya satu bangunan rendah dengan atap seng, satu bangku kayu yang sudah lapuk, dan satu papan nama yang tulisannya sudah pudar: SELAMAT DATANG DI KOTA—
Nama kotanya tidak terbaca. Entah sengaja dihapus, entah termakan waktu.
"Terminal apa ini?" tanyaku pada sopir bus, seorang lelaki tua dengan kacamata tebal dan tangan yang bergetar pelan di kemudi.
"Terminal terakhir. Semua turun di sini."
"Aku tidak beli tiket ke sini."
"Siapa bilang kau beli tiket? Kau naik, aku antar. Sekarang turun."
Aku turun. Bukan karena patuh—karena penasaran. Atau karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah kurasakan sejak pemakaman ayah, sejak aku melihat peti matinya diturunkan ke tanah, sejak aku menyadari bahwa aku tidak menangis. Bukan karena tidak sedih—karena tidak bisa. Ada sesuatu yang tersumbat di dalam dadaku, sesuatu yang rasanya seperti nama. Nama yang tidak bisa kuucapkan. Nama "Ayah" yang tiba-tiba terasa asing di lidah, seperti kata dari bahasa yang tidak pernah kupelajari.
Bus itu pergi. Aku berdiri di depan terminal kosong, dengan satu koper kecil dan satu pertanyaan yang belum selesai: kenapa aku tidak bisa menangis?
Kota itu—kota tanpa nama yang terbaca—terbentang di depan mata. Kecil. Mungkin dua ribu penduduk. Mungkin kurang. Bangunan-bangunannya tua tapi terawat, dengan dinding-dinding yang dicat ulang berkali-kali sehingga warnanya jadi sesuatu di antara biru dan abu-abu dan waktu. Jalannya berbatu. Tidak ada mobil—hanya sepeda dan becak dan orang-orang yang berjalan kaki dengan kecepatan yang sama, seperti sedang menuju ke suatu tempat yang tidak penting untuk segera dicapai.
Yang paling aneh adalah suasananya. Sunyi. Bukan sunyi karena sepi—sunyi karena semua suara terdengar lebih pelan, lebih jauh, seolah ada lapisan kaca di antara aku dan dunia. Langkah kakiku di batu terdengar seperti langkah orang lain. Detak jantungku terdengar seperti detak jam di rumah kosong. Bahkan angin—angin di kota ini tidak bersiul, tidak berdesir. Angin di sini hanya lewat, tanpa suara, seperti sedang menjaga rahasia.
Aku berjalan menyusuri jalan utama. Toko-toko berjejer di kiri-kanan—toko roti, toko kelontong, toko buku, toko jam—tapi tidak ada papan nama. Tidak ada merek. Tidak ada tulisan. Hanya gambar: gambar roti, gambar kaleng, gambar buku, gambar jam. Seperti kota ini dihuni oleh orang-orang yang tidak bisa membaca. Atau tidak mau.
Atau tidak perlu.
"Kau baru datang," kata seseorang.
Aku menoleh. Seorang perempuan tua duduk di teras toko buku, di kursi rotan yang sudah mengkilap karena terlalu lama diduduki. Ia memakai kebaya putih, rambutnya disanggul rapi, dan di pangkuannya ada buku terbuka yang tidak ia baca. Matanya menatapku—bukan menatap, memeriksa. Seperti ia sedang membaca sesuatu di wajahku yang aku sendiri tidak tahu ada di sana.
"Ya," kataku. "Bus saya berhenti di sini."
"Bus selalu berhenti di sini. Tapi tidak semua orang turun."
"Kenapa?"
"Karena tidak semua orang siap."
"Siap untuk apa?"
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang bukan senyum—lebih seperti pembuka pintu. "Untuk kehilangan nama."
Aku tidak mengerti. Tapi sebelum aku bisa bertanya, ia sudah kembali ke bukunya—atau pura-pura kembali, karena matanya tetap melirikku dari balik halaman. Aku melanjutkan berjalan, tapi kata-katanya sudah tertanam di kepalaku seperti biji yang menunggu hujan. Untuk kehilangan nama. Apa maksudnya? Nama siapa? Nama kota ini? Nama tokonya? Nama—
Nama ayahku.
---
Bagian Dua: Kota Tanpa Nama
Aku menemukan penginapan di ujung jalan. Bangunan dua lantai dengan cat kuning yang sudah memudar, dengan pintu depan yang terbuka setengah. Di dalam, seorang lelaki paruh baya—kurus, berkacamata, dengan rambut yang mulai menipis—sedang duduk di belakang meja resepsionis, menulis sesuatu di buku besar.
"Ada kamar kosong?" tanyaku.
Ia mendongak. Matanya biru—biru yang tidak biasa, biru yang terlalu terang untuk wajah Indonesianya. "Untuk berapa malam?"
"Aku tidak tahu. Mungkin satu. Mungkin lebih."
"Orang yang tidak tahu berapa lama biasanya tinggal lebih lama dari yang ia kira." Ia membalik halaman bukunya. "Nama?"
Aku membuka mulut. Dan berhenti.
Aku tidak bisa menyebutkan namaku.
Bukan karena lupa—karena tidak bisa. Nama itu ada di kepalaku, jelas, lengkap dengan huruf-hurufnya. Tapi ketika aku mencoba mengucapkannya, lidahku terasa kelu. Seperti ada sesuatu yang menahan kata-kata itu di tenggorokan, sesuatu yang lebih kuat dari keinginanku untuk berbicara.
"Aku... aku tidak bisa."
Lelaki itu menatapku. Tidak heran. Tidak bingung. Hanya menatap, dengan ekspresi seseorang yang sudah melihat ini berkali-kali. "Kau dari pemakaman?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Kau bau tanah. Bukan tanah biasa—tanah kuburan. Tanah yang baru digali." Ia menutup bukunya. "Di kota ini, kami tidak pakai nama."
"Tidak pakai nama?"
"Tidak. Nama adalah sesuatu yang kau bawa dari luar. Di sini, kau akan kehilangannya. Pelan-pelan. Seperti kulit ular. Seperti daun kering. Nama akan tanggal dengan sendirinya."
"Lalu bagaimana kalian memanggil satu sama lain?"
"Dengan suara. Dengan tatapan. Dengan diam. Kau tidak perlu nama untuk dikenal. Kau hanya perlu hadir." Ia berdiri, mengambil kunci dari papan di belakangnya. "Kamar nomor tujuh. Di lantai dua. Jendelanya menghadap ke taman. Kau akan suka."
"Aku belum bilang aku akan menginap."
"Kau belum bilang. Tapi kau sudah di sini. Dan kau tidak bisa menyebutkan namamu. Itu tandanya kau sudah mulai."
Aku mengambil kunci itu. Tanganku menyentuh logamnya—dingin. Tapi bukan dingin biasa. Dingin yang terasa seperti awal. Seperti sesuatu yang baru dimulai.
---
Kamar nomor tujuh. Kecil, bersih, dengan tempat tidur besi dan meja kayu dan jendela yang menghadap ke taman. Taman itu—aku melihat dari jendela—bukan taman biasa. Tidak ada bunga. Tidak ada rumput. Hanya tanah coklat yang diratakan, dan di atasnya, batu-batu. Ratusan batu, disusun dalam pola melingkar, seperti kuburan massal. Tapi tidak ada nisan. Tidak ada nama.
Aku duduk di tempat tidur. Koperku masih tertutup. Di luar, matahari mulai turun—atau naik, aku tidak yakin. Waktu di kota ini terasa berbeda. Bukan lebih cepat atau lebih lambat—lebih cair. Seperti waktu bukan garis lurus, melainkan genangan air yang bisa dimasuki dari sisi mana saja.
Aku memejamkan mata. Dan di dalam gelap, aku melihat ayahku.
Ia berdiri di samping tempat tidurku, seperti yang sering ia lakukan ketika aku kecil—memastikan aku tidur, memastikan selimutku tidak terlepas. Tapi kali ini ia tidak tersenyum. Ia hanya menatapku, dengan mata yang kosong, dengan mulut yang bergerak tanpa suara. Ia mencoba mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah ia katakan semasa hidup. Sesuatu yang mungkin—mungkin—adalah alasan kenapa aku tidak bisa menangis di pemakamannya.
Aku membuka mata. Sendirian. Tapi perasaan itu tetap ada: bahwa ayahku belum pergi. Bahwa ia masih di suatu tempat, menungguku untuk mendengar. Atau menungguku untuk mengucapkan sesuatu yang belum pernah kuucapkan.
Apa?
---
Bagian Tiga: Penduduk Tanpa Nama
Pagi berikutnya—atau siang, atau sore, aku tidak tahu—aku keluar dari penginapan. Kota itu lebih hidup sekarang. Orang-orang berjalan di jalan berbatu, membeli roti, membaca koran di bangku taman, mengobrol di depan toko kelontong. Tapi obrolan mereka aneh. Aku mendekat, mencoba mendengar.
"Kau lihat dia tadi malam?" tanya seorang perempuan setengah baya kepada temannya, seorang lelaki tua dengan topi anyaman.
"Lihat. Di dekat jembatan. Ia menangis lagi."
"Menangis kenapa?"
"Tidak tahu. Ia tidak pernah bilang. Ia hanya duduk di sana, menangis, sampai subuh."
"Siapa yang kalian bicarakan?" aku memberanikan diri bertanya.
Mereka menoleh. Menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca—bukan curiga, bukan ramah. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang mengatakan: kau belum mengerti, tapi kau akan mengerti.
"Orang yang kehilangan namanya," kata perempuan itu. "Di kota ini, kalau kau kehilangan nama, kau tidak langsung mati. Tapi kau tidak lagi hidup seperti biasa. Kau jadi... di antara. Setengah di sini, setengah di tempat lain."
"Tempat lain?"
"Tempat di mana nama-nama pergi. Tempat yang tidak bisa kami datangi kecuali kalau kami sudah selesai."
"Selesai apa?"
Lelaki tua itu meletakkan korannya. "Selesai melepaskan."
Mereka tidak menjelaskan lebih lanjut. Mereka hanya kembali ke obrolan mereka, yang sekarang terasa lebih pelan, lebih rahasia, seolah kehadiranku telah mengubah frekuensinya. Aku berjalan terus, menyusuri jalan, mencoba mengerti. Nama. Kehilangan nama. Melepaskan. Semua kata-kata ini terasa seperti kepingan teka-teki yang gambarnya belum kuketahui.
Di ujung jalan, aku menemukan jembatan. Jembatan kecil dari kayu, melintasi sungai yang airnya jernih tapi tidak bergerak—seperti kaca, seperti waktu di kota ini, seperti genangan yang menunggu untuk dimasuki. Di atas jembatan, duduk seorang lelaki. Muda. Mungkin seusiaku. Rambutnya hitam, panjang, tidak terawat. Matanya merah—bukan karena menangis sekarang, karena sudah terlalu sering menangis. Ia menatap air yang tidak bergerak, dan ia diam.
Aku duduk di sampingnya. Tidak bicara. Hanya duduk.
Setelah beberapa saat—beberapa menit, beberapa jam, beberapa tarikan napas—ia bicara. "Kau baru datang."
"Ya."
"Kau masih punya nama?"
Aku mencoba mengucapkannya. Masih tidak bisa. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menyebutkannya."
"Itu artinya kau masih punya. Tapi sudah mulai longgar. Nama yang tidak bisa disebut adalah nama yang sudah setengah lepas. Seperti gigi susu. Goyang, tapi belum tanggal." Ia menoleh padaku. Matanya—aku baru sadar—berwarna abu-abu. Bukan abu-abu karena buta, abu-abu karena sesuatu di dalamnya sudah pergi. "Aku sudah kehilangan namaku. Sepenuhnya. Tadi malam."
"Bagaimana rasanya?"
"Seperti... kosong. Tapi bukan kosong yang buruk. Kosong yang luas. Seperti kau berdiri di lapangan setelah salju turun, dan tidak ada jejak. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kau dan putih. Kau dan kemungkinan." Ia menghela napas. "Tapi aku belum selesai."
"Selesai apa?"
"Selesai melepaskan orang yang memberiku nama itu."
Aku menatapnya. "Siapa yang memberimu nama?"
"Ibuku. Aku dinamai oleh ibuku. Nama yang indah. Nama yang berarti 'cahaya pagi'. Tapi ibuku sudah meninggal. Sudah lama. Dan aku tidak pernah—" suaranya pecah, "—aku tidak pernah bilang terima kasih. Aku tidak pernah bilang aku bangga dengan nama itu. Aku tidak pernah bilang aku mencintainya. Aku hanya pergi. Jauh. Ke kota. Ke pekerjaan. Ke hidup yang tidak pernah kukabarkan padanya. Dan ketika ia meninggal, aku tidak datang. Aku sibuk. Aku selalu sibuk."
Ia menangis lagi. Air matanya jatuh ke sungai yang tidak bergerak, dan anehnya—air itu bergerak. Beriak. Seperti air di sungai ini hanya bergerak ketika disentuh oleh air mata.
"Jadi sekarang kau di sini," kataku. "Untuk melepaskan."
"Untuk melepaskan. Untuk mengucapkan apa yang tidak pernah kuucapkan. Untuk menangis. Untuk selesai. Dan kalau aku sudah selesai—" ia menatap ke ujung jembatan, ke arah sesuatu yang tidak bisa kulihat, "—aku akan pergi. Ke tempat di mana nama-nama pergi. Ke tempat di mana ibuku menungguku. Dengan nama yang dulu ia berikan."
"Bagaimana caranya kau tahu kau sudah selesai?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya menunjuk dadanya. Di sana, di balik bajunya, ada cahaya. Samar. Berdenyut pelan. Seperti detak jantung. Seperti kunang-kunang yang terperangkap.
"Kalau ini padam," katanya, "aku sudah selesai."
---
Bagian Empat: Kota yang Menunggu
Aku meninggalkan lelaki di jembatan. Aku tidak tahu namanya—mungkin ia sendiri sudah lupa. Tapi aku tahu ceritanya sekarang. Dan ceritanya mulai menjawab pertanyaanku sendiri. Kenapa aku di sini. Kenapa aku tidak bisa menangis di pemakaman ayah. Kenapa aku tidak bisa menyebutkan namaku sendiri.
Karena namaku diberikan oleh ayahku.
Karena ayahku sudah meninggal.
Karena aku tidak pernah mengucapkan sesuatu yang seharusnya kuucapkan.
Aku berjalan kembali ke penginapan. Di sepanjang jalan, aku melihat orang-orang yang sama—perempuan setengah baya, lelaki tua dengan topi, anak-anak yang berlarian tanpa suara. Tapi sekarang aku melihat mereka dengan cara yang berbeda. Mereka semua adalah orang-orang yang kehilangan nama. Atau sedang dalam proses kehilangan. Mereka semua adalah orang-orang yang belum selesai. Yang masih punya sesuatu untuk diucapkan, untuk dilepaskan, untuk diselesaikan.
"Kau mulai mengerti," kata perempuan tua di teras toko buku, ketika aku melewatinya lagi. Bukunya masih terbuka, tapi kali ini aku melihat judulnya: Kitab Nama-Nama yang Hilang.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku.
"Kau sudah melakukannya. Kau di sini. Kau mendengar. Kau melihat. Sekarang kau harus mengingat."
"Mengingat apa?"
"Semua yang tidak pernah kau ucapkan. Semua yang tidak pernah kau dengar. Semua yang tertunda antara kau dan ayahmu. Nama adalah jembatan, Nak. Nama adalah cara orang yang memberi nama untuk terus hidup di dalam dirimu. Tapi kalau jembatan itu tidak dirawat—kalau kau tidak pernah bilang terima kasih, tidak pernah bilang kau menerima nama itu, tidak pernah bilang kau akan meneruskannya—jembatan itu putus. Dan kau jatuh. Jatuh ke sini. Ke kota yang dihuni oleh nama-nama yang menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu untuk dilepaskan. Atau diterima kembali. Terserah pemberi dan penerima. Terserah yang masih hidup dan yang sudah mati. Di kota ini, yang hidup dan yang mati tidak jauh berbeda. Kami semua menunggu. Kami semua punya sesuatu yang belum selesai."
Ia menunjuk ke arah taman di belakang penginapan—taman dengan batu-batu yang kulihat dari jendela. "Itu taman pelepasan. Setiap batu di sana adalah nama yang sudah selesai. Orang yang meletakkannya sudah pergi. Sudah melanjutkan. Sudah sampai ke tempat di mana nama-nama pergi."
"Dan yang belum selesai?"
"Masih di sini. Masih berjalan di jalanan. Masih duduk di jembatan. Masih menangis di malam hari. Masih menunggu."
Aku melihat ke arah taman itu lagi. Batu-batu. Ratusan batu. Mungkin ribuan. Setiap batu adalah seseorang yang pernah kehilangan nama, yang pernah duduk di jembatan menangis, yang pernah berdiri di depanku sekarang sebagai bayangan dari diriku sendiri.
"Berapa lama biasanya orang di sini?" tanyaku.
"Tergantung. Ada yang satu malam. Ada yang bertahun-tahun. Ada yang tidak pernah pergi. Itu semua tergantung seberapa dalam sumbatan di dadanya. Seberapa banyak yang tidak terucap. Seberapa lama ia menghindar." Perempuan itu menatapku, dan kali ini senyumnya berbeda—lebih lembut, lebih tua, lebih tahu. "Kau tidak akan lama, kurasa. Kau sudah dekat."
"Kenapa?"
"Karena kau sudah bertanya. Kebanyakan orang di sini tidak bertanya. Mereka hanya menunggu. Hanya menangis. Hanya duduk. Tapi kau—kau bertanya. Itu artinya kau siap."
Siap untuk apa? Aku tidak sempat bertanya lagi karena perempuan itu sudah kembali ke bukunya, dan kali ini ia benar-benar membaca. Atau pura-pura benar-benar membaca. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, di dalam dadaku, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang terasa seperti air. Seperti sungai yang selama ini membeku, dan sekarang—perlahan, sangat perlahan—mulai mencair.
---
Bagian Lima: Percakapan yang Tertunda
Malam itu, aku duduk di kamar nomor tujuh. Jendela terbuka. Taman pelepasan di bawah sana gelap, tapi batu-batu itu—anehnya—berpendar pelan. Seperti setiap batu menyimpan sedikit cahaya dari orang yang meletakkannya. Seperti setiap nama yang sudah selesai masih menyisakan jejak.
Aku menutup mata. Dan aku memanggil ayahku.
Bukan dengan suara—dengan ingatan. Dengan semua yang tidak pernah kuucapkan. Dengan semua yang tidak pernah kudengar.
Ayah.
Tidak ada jawaban. Hanya gelap. Hanya sunyi.
Ayah, aku di sini. Aku di kota ini. Kota tempat orang-orang kehilangan nama.
Masih tidak ada.
Ayah, aku tidak bisa menyebutkan namaku. Nama yang Ayah berikan. Kenapa aku tidak bisa? Apa yang harus aku ucapkan? Apa yang harus aku dengar?
Gelap. Sunyi. Dan kemudian—langkah kaki.
Seseorang berjalan di koridor. Langkahnya berat, tapi tidak terburu-buru. Langkah yang kukenali. Langkah yang dulu sering kudengar di malam hari, ketika ayahku berjalan ke kamarku untuk memastikan aku tidur, untuk memastikan selimutku tidak terlepas.
Pintu kamarku terbuka.
Ayah berdiri di sana. Bukan ayah yang di peti mati—ayah yang lebih muda. Ayah yang rambutnya masih hitam. Ayah yang dulu mengajariku naik sepeda, mengajariku membaca, mengajariku menulis namaku sendiri.
"Kau di sini," katanya. Suaranya persis seperti yang kuingat. Persis seperti dulu. Sebelum ia sakit. Sebelum ia terbaring di rumah sakit. Sebelum aku sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah datang menjenguk.
"Ayah," bisikku. "Ayah di sini?"
"Ayah di sini. Sudah lama. Menunggumu."
"Menungguku? Kenapa?"
"Karena ada yang belum selesai antara kita. Karena kau tidak datang ketika Ayah sakit. Karena kau tidak datang ketika Ayah meninggal. Karena kau tidak menangis. Kau tidak bisa menangis. Dan Ayah tidak bisa pergi sebelum kau menangis."
Air mataku—yang selama ini tersumbat, yang selama ini membeku di suatu tempat di dalam dadaku—mulai mengalir. Bukan menetes, mengalir. Seperti sungai di bawah jembatan yang akhirnya bergerak. Seperti waktu di kota ini yang akhirnya mencair.
"Ayah, maafkan aku."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Ada. Aku tidak datang. Aku sibuk. Aku selalu sibuk. Aku pikir masih ada waktu. Aku pikir Ayah akan baik-baik saja. Aku pikir—"
"Kau pikir. Semua orang berpikir. Tapi berpikir tidak sama dengan merasa. Dan kau—kau anak Ayah—kau terlalu banyak berpikir. Terlalu sedikit merasa. Itu kenapa kau tidak bisa menangis. Bukan karena kau tidak sedih. Karena kau tidak memberi dirimu izin untuk sedih."
Aku menangis. Akhirnya, aku menangis. Tangisan yang keras, yang menyakitkan, yang keluar dari tempat yang sangat dalam—tempat yang selama ini kututup rapat-rapat. Tangisan untuk ayahku. Untuk semua yang tidak sempat kuucapkan. Untuk semua yang tidak sempat kudengar.
Ayah duduk di sampingku, di tempat tidur. Tangannya—hangat, padat, nyata—memegang pundakku. "Kau tahu kenapa Ayah memberimu nama itu?"
Aku menggeleng. Air mata masih mengalir.
"Nama itu artinya 'yang diberkati'. Ayah memberimu nama itu karena Ayah merasa diberkati ketika kau lahir. Ayah tidak pernah bilang itu, kan? Ayah tidak pernah bilang bahwa Ayah bangga padamu. Bahwa Ayah mencintaimu. Bahwa setiap malam, ketika Ayah berjalan ke kamarmu, Ayah bukan hanya memastikan kau tidur—Ayah berdoa. Berdoa supaya kau tumbuh jadi orang yang lebih berani dari Ayah. Lebih jujur dari Ayah. Lebih mampu untuk merasa."
"Kenapa Ayah tidak pernah bilang?"
"Karena Ayah juga tidak bisa. Ayah juga terlalu banyak berpikir. Terlalu sedikit merasa. Itu penyakit kita. Penyakit keluarga kita. Tapi penyakit itu tidak harus diturunkan. Kau bisa sembuh. Kau bisa belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar untuk merasa. Belajar untuk menangis. Belajar untuk mengucapkan apa yang ada di dalam dada. Itu kenapa kau di sini. Itu kenapa kau datang ke kota ini. Bukan karena bus yang membawamu—karena hatimu. Hati yang akhirnya bosan membeku. Hati yang akhirnya ingin mencair."
Aku memeluknya. Lama. Sangat lama. Dan di dalam pelukan itu, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya—atau mungkin pernah, tapi sudah lama kulupakan: rasa aman. Rasa diterima. Rasa bahwa aku adalah anak dari ayahku, dan ayahku adalah ayah dariku, dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Tidak kematian. Tidak jarak. Tidak waktu yang membeku di kota aneh ini.
"Kau harus pergi sekarang," kata Ayah, melepaskan pelukan. "Kau sudah menangis. Kau sudah selesai."
"Tapi Ayah—"
"Ayah juga sudah selesai. Karena kau akhirnya datang. Karena kau akhirnya mendengar. Karena kau akhirnya mengucapkan."
"Apa Ayah akan pergi? Ke tempat di mana nama-nama pergi?"
Ayah tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak kulihat. Senyum yang dulu selalu ada di wajahnya ketika aku pulang sekolah, ketika aku menunjukkan nilai ujian, ketika aku membacakan buku di ruang tamu. "Sudah. Ayah sudah di sana sejak tadi. Sejak kau menangis. Sejak kau bilang maaf. Sejak jembatan di antara kita selesai dibangun."
Ayah berdiri. Berjalan ke pintu. Tapi sebelum ia pergi, ia menoleh. "Nama itu—nama yang Ayah berikan—kau tidak akan kehilangannya. Kau akan membawanya. Tapi sekarang kau tahu artinya. Sekarang kau tahu kenapa Ayah memberikannya. Dan sekarang, setiap kali kau menyebut namamu, kau akan ingat: kau adalah yang diberkati. Kau adalah anak Ayah. Kau adalah seseorang yang akhirnya belajar untuk merasa."
"Terima kasih, Ayah."
"Terima kasih juga. Untuk datang. Untuk menangis. Untuk menyelesaikan."
Ayah pergi. Pintu tertutup pelan. Dan di luar, di taman pelepasan, satu batu lagi menyala. Cahayanya kecil, tapi terang. Seperti kunang-kunang. Seperti detak jantung. Seperti nama yang akhirnya selesai.
---
Bagian Enam: Keberangkatan
Pagi berikutnya—dan kali ini aku yakin itu pagi, karena matahari benar-benar terbit, karena langit benar-benar biru, karena waktu di kota ini sudah kembali mengalir—aku turun ke lobi penginapan. Lelaki paruh baya dengan kacamata dan mata biru terlalu terang masih di sana, masih di belakang meja resepsionis.
"Mau check out?" tanyanya.
"Ya."
"Kau sudah selesai?"
"Sudah."
Ia membuka buku besarnya. "Nama?"
Aku membuka mulut. Dan kali ini, nama itu keluar. Jelas. Utuh. Dengan semua hurufnya. Dengan semua artinya. Dengan semua yang diberikan ayahku, yang sekarang sudah kuterima, yang sekarang sudah kumengerti.
Lelaki itu mencatat. "Kau tahu, tidak banyak yang bisa menyebutkan namanya lagi setelah selesai. Kebanyakan sudah melepaskan sepenuhnya. Tapi kau—kau memilih untuk menyimpannya."
"Aku tidak memilih. Nama ini diberikan. Aku hanya menerimanya. Akhirnya."
Ia tersenyum. Senyum yang pertama kali kulihat di wajahnya. "Bus berikutnya datang sejam lagi. Kau bisa menunggu di terminal."
"Aku akan jalan-jalan dulu. Melihat kota ini sekali lagi."
"Silakan. Tapi hati-hati—kota ini tidak selalu sama. Apa yang kau lihat kemarin mungkin tidak ada hari ini."
Aku keluar dari penginapan. Berjalan menyusuri jalan berbatu. Toko roti masih di sana, toko kelontong masih di sana, toko buku masih di sana. Perempuan tua di teras toko buku masih di sana, dengan bukunya yang sekarang tertutup.
"Kau akan pergi," katanya. Bukan pertanyaan.
"Ya."
"Kau temukan apa yang kau cari?"
"Bukan yang kucari. Yang menungguku."
Ia mengangguk. "Itu selalu lebih baik. Yang dicari kadang tidak ada. Tapi yang menunggu—yang menunggu selalu nyata."
Aku berjalan ke jembatan. Lelaki muda yang dulu menangis sudah tidak ada. Mungkin ia sudah selesai. Mungkin ia sudah pergi ke tempat di mana nama-nama pergi, bertemu ibunya, menerima kembali namanya. Di atas jembatan, hanya ada angin. Angin yang sekarang bersuara—desiran pelan, seperti napas, seperti bisikan.
Aku melihat ke sungai. Airnya masih jernih, tapi sekarang bergerak. Mengalir. Ke arah yang tidak kutahu.
Aku menyentuh dadaku. Di sana, di balik baju, ada cahaya. Bukan cahaya yang memudar—cahaya yang menyala. Cahaya dari nama yang sudah kuterima. Cahaya dari jembatan yang sudah kuperbaiki. Cahaya dari tangisan yang akhirnya tumpah.
Aku berjalan ke terminal. Terminal yang sama—bangunan rendah dengan atap seng, bangku kayu yang sudah lapuk, papan nama yang tulisannya sudah pudar. Tapi kali ini, di papan itu, ada sesuatu yang bisa kubaca. Bukan nama kota—tidak, kota ini memang tidak punya nama, tidak perlu nama, karena ia adalah semua kota dan bukan kota mana pun. Yang bisa kubaca adalah satu kalimat kecil, di sudut papan, yang mungkin sudah ada sejak dulu tapi tidak kulihat:
Untuk semua yang belum selesai.
Bus datang. Aku naik. Duduk di dekat jendela. Dan ketika bus mulai bergerak, aku melihat ke belakang. Kota itu mengecil. Mengecil. Lalu hilang. Tapi aku tahu ia tetap di sana, di suatu tempat, menunggu orang berikutnya yang tidak bisa menangis, yang tidak bisa mengucapkan, yang tidak bisa menerima.
Aku menyentuh dadaku lagi. Cahaya itu masih di sana. Nama itu masih di sana. Ayahku—dengan cara yang tidak bisa kujelaskan—masih di sana. Bukan sebagai hantu. Bukan sebagai kenangan. Sebagai bagian dari diriku yang akhirnya utuh.
Aku pulang. Bukan ke rumah—ke hidup. Ke pekerjaan. Ke semua yang kutinggalkan. Tapi sekarang aku membawa sesuatu yang baru. Sesuatu yang kudapat dari kota tanpa nama, dari orang-orang tanpa nama, dari jembatan di atas sungai yang airnya hanya bergerak ketika disentuh air mata.
Aku membawa nama. Bukan hanya namaku—nama ayahku. Nama ibuku. Nama semua orang yang pernah memberiku sesuatu dan belum sempat kuterima. Aku membawa nama-nama itu di dalam dada, seperti batu-batu di taman pelepasan, berpendar pelan, menunggu untuk diucapkan.
Dan suatu hari nanti, ketika aku sudah tua, ketika aku sudah siap, mungkin aku akan kembali ke kota itu. Bukan untuk mencari—untuk menunggu. Untuk duduk di jembatan. Untuk menangis. Untuk menyelesaikan sesuatu yang mungkin masih tersisa.
Atau mungkin aku tidak perlu kembali. Mungkin kota itu sudah ada di dalam diriku sekarang. Mungkin setiap kali aku mengucapkan namaku, setiap kali aku mengingat ayahku, setiap kali aku membiarkan diriku menangis, aku sedang berada di kota itu. Aku sedang menjadi penghuninya. Aku sedang meneruskan rantai yang tidak bisa putus: rantai antara yang memberi dan yang menerima, antara yang pergi dan yang tinggal, antara nama yang hilang dan nama yang ditemukan kembali.
---
Sukabumi, 2023
Komentar
Posting Komentar