Kuda Nil di Kamar Tidurku Setiap Malam Pukul 23.47

Setiap malam pukul 23.47, seekor kuda nil masuk ke kamar tidurku.

Bukan metafora. Bukan halusinasi. Bukan mimpi basah yang salah alamat. Kuda nil itu nyata—kulitnya abu-abu lembap seperti ban bekas yang diolesi minyak goreng, matanya kecil dan merah jambu seperti permen stroberi yang lupa dibungkus, dan beratnya begitu nyata hingga lantai kamarku di lantai 4 apartemen ini mengerang setiap kali dia melangkah.

Masalah pertama: kuda nil tidak bisa naik tangga. Apalagi lift. Apartemenku hanya punya lift kargo yang macet setiap hari Selasa.

Masalah kedua: kuda nil itu tidak pernah melakukan apa pun. Dia hanya masuk, berdiri di samping ranjangku, menatapku selama kurang lebih dua menit, lalu keluar melalui pintu yang sama, menuruni tangga—entah bagaimana caranya—dan menghilang ke dalam malam.

Masalah ketiga: aku sudah bilang pada psikiaterku, tapi dia bilang aku hanya butuh liburan. Aku sudah bilang pada tetanggaku, mereka bilang aku terlalu banyak nonton dokumenter National Geographic. Aku sudah merekamnya dengan ponsel, tapi setiap kali aku memutar rekamannya, yang terlihat hanya dinding kosong dan suara ngorokku sendiri.

Tapi malam ini berbeda.

Malam ini, kuda nil itu berbicara.

"Kamu tidak akan percaya," katanya. Suaranya seperti kentang yang direbus terlalu lama—lembut, sedikit pecah di tepi, tapi anehnya menenangkan. "Tapi aku ayahmu."

Aku tidak punya ayah. Ibuku hamil di pinggir jalan dekat pasar ikan. Itu yang dia katakan. Tapi kuda nil ini tidak mungkin tahu soal pasar ikan kecuali dia benar-benar ayahku atau dia adalah kuda nil yang sangat rajin membaca buku harian orang.

1. Absurdisme yang Haus Susu

"Kamu ayahku?" tanyaku sambil duduk di ranjang. Celana piyama ku naik ke atas lutut. Rambutku kusut seperti sarang tawon yang putus asa.

"Iya," kata kuda nil. Dia mengendus-ngendus bantalku. "Kamu masih pakai pewangi yang sama. Softener merek M. Aroma lavender. Ayah yang belikan itu, sebelum ayah berubah jadi kuda nil."

"Kapan kamu berubah jadi kuda nil?"

"Tiga hari setelah kamu lahir. Aku pergi membeli susu formula di toko dua puluh empat jam lewat. Di tengah jalan, aku melihat seorang perempuan tua menjual jam tangan bekas. Dia bilang, 'Bapak, beli jam ini niscaya Bapak tidak akan pernah terlambat.' Aku bilang, 'Saya tidak butuh jam. Anak saya butuh susu.' Perempuan itu marah. Dia mengutukku menjadi hewan yang paling tidak mungkin masuk ke dalam rumah. Lalu... jadi begini."

"Tapi kenapa kuda nil?"

"Dia bilang, 'Kamu akan menjadi hewan yang paling susah kamu jelaskan pada tetanggamu.' Dan dia tertawa. Perempuan tua itu tertawa seperti orang yang sudah tidak punya gigi tapi tetap bersemangat."

Aku mengusap wajah. "Jadi selama 27 tahun, ayah menjelma jadi kuda nil dan datang ke kamarku setiap malam?"

"Bukan setiap malam. Awalnya aku datang setiap minggu. Tapi kamu sering pindah kost. Aku butuh waktu untuk melacakmu. Bau susu formula itu—kau tahu? Bau itu seperti GPS bagi kuda nil kutukan. Begitu kamu berhenti minum susu formula, aku mulai kehilangan jejak. Aku baru nemu kamu lagi lima tahun lalu, di apartemen ini."

"Kenapa tidak bilang dari dulu?"

Kuda nil itu diam. Matanya yang merah jambu berkedip. Lalu dia berkata, "Karena aku malu. Ayah menjadi kuda nil. Itu bukan pencapaian."

2. Ekspresionisme yang Bau Amonia

Aku turun dari ranjang. Kaki telanjangku menyentuh lantai keramik yang dingin. Di luar jendela, lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang sedang sakit.

"Ayah," kataku. "Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya saja."

"Kenapa kamu tidak mencoba mencari jalan keluar dari kutukan ini? Ke dukun, ke paranormal, ke orang pintar di Gunung Kidul?"

Kuda nil itu menghela napas. Amonia keluar dari lubang hidungnya. Harumnya seperti kencing kelinci yang dicampur pengharum mobil.

"Aku sudah mencoba segalanya, Nak. Aku pergi ke semua orang pintar di pulau Jawa. Ada yang bilang aku harus menikahi kuda betina. Ada yang bilang aku harus berpuasa selama 40 hari tanpa minum. Ada yang bilang aku harus menemukan perempuan tua penjual jam tangan itu dan minta maaf. Tapi perempuan tua itu sudah mati. Aku yang menguburnya."

"Kamu yang menguburnya?"

"Dia mati dua tahun setelah mengutukku. Aku datang ke rumahnya. Dia sudah dalam peti. Aku ikut mengangkat petinya. Dengan kuku kuda nil, agak susah, tapi bisa."

Aku terdiam. Membayangkan ayahku yang berbentuk kuda nil menggotong peti mati di pemakaman desa. Membayangkan para pelayat bertanya-tanya dari mana datangnya kuda nil sebesar itu. Membayangkan ada anak kecil yang jeruknya diambil kuda nil.

"Ayah," kataku lagi. "Aku tidak tahu harus bilang apa."

"Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Ayah hanya ingin... ayah hanya ingin dekat denganmu. Walaupun bentuk ayah seperti ini."

3. Surrealisme yang Tikusnya Salah Alamat

Suara ketukan di pintu.

Tiga kali. Pelan. Ritmis.

Kuda nil itu menoleh ke pintu. Telinganya yang kecil bergetar.

"Itu ibumu," bisiknya.

"Bu? Ibu tidak pernah datang ke sini. Ibu pindah ke Tangerang bersama bosnya."

"Bukan ibumu yang itu. Ibumu yang dulu. Yang melahirkanmu di pinggir jalan dekat pasar ikan."

Aku membuka pintu.

Seekor tikus berdiri di ambang pintu. Tikus besar. Sebesar kucing kampung. Tikus itu memakai jilbab merah muda dan membawa tas belanjaan dari plastik hitam.

"Anakku," kata tikus itu. Suaranya serak. Seperti suara ibu—ibu yang kukenal dari foto-foto lusuh di album keluarga yang tidak pernah lengkap. "Maaf ibu telat. Macet di saluran air dekat Pasar Senen."

Aku mundur selangkah. "Bu... ibu juga kena kutukan?"

Tikus itu—ibuku—mengangguk. Dia masuk ke kamar, meletakkan tas belanjaannya di atas karpet. Dari dalam tas, dia mengeluarkan beberapa butir telur asin, sekantong kopi bubuk, dan satu ekor jangkrik yang masih hidup.

"Ibu kena kutukan karena ibu bilang pada perempuan tua itu bahwa jam tangannya jelek," kata tikus itu. "Ibu nggak tahu dia tukang sihir. Ibu kira dia cuma pedagang asongan yang kurang sabar."

Kuda nil—ayahku—mendekati tikus itu. Mereka berdua berdiri berdampingan. Ayah kuda nil setinggi lemari es dua pintu. Ibu tikus setinggi botol minyak goreng.

"Maaf," kata ayah pada ibu.

"Iya," kata ibu pada ayah. "Sama-sama."

Aku menutup pintu. Aku duduk di ranjang. Aku memejamkan mata. Aku menghitung sampai seratus. Lalu aku membuka mata.

Mereka masih ada. Kuda nil dan tikus. Di kamar tidurku. Di lantai 4. Di apartemen yang tidak mengizinkan hewan peliharaan.

4. Plot Twist: Aku Juga Kena Kutukan, Tapi Aku Tidak Tahu Wujudku

"Ayah, Ibu," kataku pelan. "Kalian datang ke sini setiap malam?"

"Setiap malam," kata ayah.

"Tidak setiap malam,"* kata ibu. "Ibu kadang datang jam 12 malam kalau ada rapat RT di saluran air. Tapi ayahmu selalu on time. Dia itu disiplin."

"Tapi kenapa baru sekarang kalian bilang? Kenapa tidak dari dulu?"

Kuda nil dan tikus itu saling pandang.

"Karena," kata ayah, "kami pikir kamu tahu."

"Tahu apa?"

"Bahwa kamu juga kena kutukan," kata ibu. "Tukang sihir tua itu mengutuk seluruh keluarganya. Ayah jadi kuda nil. Ibu jadi tikus. Dan kamu—kamu lahir dengan kutukan yang berbeda. Kutukan yang tidak mengubah bentuk tubuhmu, tapi mengubah cara orang melihatmu."

"Maksudnya?"

"Setiap kali orang melihat kamu, mereka melihat sesuatu yang berbeda. Ada yang melihat kamu sebagai kursi. Ada yang melihat kamu sebagai hujan. Ada yang melihat kamu sebagai perasaan tidak enak setelah makan terlalu banyak. Kamu tidak pernah menjadi dirimu sendiri di mata siapa pun. Termasuk di mataku dan ibumu."

Aku menatap cermin di dinding. Pantulanku biasa saja. Hidung biasa. Bibir biasa. Mata seperti dua buah zaitun yang terlalu lama direndam air garam—sama seperti biasanya.

"Tapi aku melihat diriku sendiri dengan normal," kataku.

"Itu karena kamu sudah terbiasa," kata ibu. "Orang yang terbiasa dengan kutukan tidak lagi merasakan bahwa dia sedang dikutuk. Seperti ikan yang tidak sadar bahwa dia berenang di air."

5. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Tidak Ada Kutukan. Semua Hanyalah Keluarga Biasa.

Ayah kuda nil itu mengendus udara. Matanya menyipit.

"Nak," katanya. "Aku mau bilang sesuatu."

"Ya, Yah."

"Sebenarnya... tidak ada tukang sihir tua di pinggir jalan dekat pasar ikan. Ibu berbohong soal itu."

Tikus itu tersentak. "Apa? Aku tidak berbohong!"

"Kamu berbohong, Bu. Karena kamu malu. Kamu tidak mau bilang pada anak kita bahwa ayahnya memang lahir sebagai kuda nil. Dan ibunya memang lahir sebagai tikus. Dan anaknya lahir sebagai manusia biasa yang tidak biasa-biasa saja. Tidak ada kutukan. Ini adalah... ini adalah genetik."

Aku membuka mulut. Menutup lagi.

"Jadi," kataku perlahan, "ayah memang terlahir sebagai kuda nil?"

"Iya."

"Ibu memang terlahir sebagai tikus?"

"Iya."

"Dan aku manusia?"

"Kamu adalah manusia pertama dalam keluarga kita yang terlahir sebagai manusia," kata ibu. Matanya yang kecil berair. "Kami sangat bangga padamu. Tapi kami juga takut. Takut kamu akan malu punya orangtua seperti kami. Jadi kami menciptakan cerita kutukan. Lebih mudah menerima bahwa ini kesalahan orang lain daripada menerima bahwa ini adalah... kenyataan."

Aku duduk di lantai. Kaki telanjangku bersentuhan dengan kaki kuda nil ayah—berat, dingin, dan nyata. Jari-jariku menyentuh ekor tikus ibu—lembut, hangat, dan sedikit berdebu.

"Aku tidak malu," kataku. Suaraku pecah. "Aku hanya... aku hanya selama 27 tahun aku mengira aku sendirian. Aku mengira ibu hamil di pinggir jalan karena ayah pergi. Aku mengira ibu meninggalkanku karena aku tidak cukup baik. Padahal ibu pergi karena ibu takut ketahuan tikus."

"Ibu pergi karena ibu tikus," kata ibuku. "Dan ibu malu. Tapi ibu pulang setiap malam, Nak. Kamu tidak pernah sadar karena ibu menyelinap lewat lubang di bawah wastafel. Ibu bersih-bersih kamarmu. Ibu masak nasi di rice cooker. Ibu diam-diam menaruh uang di dompetmu ketika kamu tidur."

Aku menangis. Kuda nil ayah membelai rambutku dengan moncongnya yang besar. Tikus ibu memanjat ke pangkuanku dan mendekap erat.

Keluarga yang aneh. Keluarga yang tidak mungkin. Tapi keluarga.

6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Ternyata Kamarku Adalah Kebun Binatang

Di luar jendela, terdengar suara langkah kaki berat. Banyak. Bergemuruh.

Ayah kuda nil menoleh ke jendela. Telinganya tegak.

"Itu paman-pamanmu," katanya.

"Paman?"

"Keluarga besar dari pihak ayah. Kakekmu gajah. Nenekmu jerapah. Bibimu dari pihak ibu adalah kumpulan kelelawar. Mereka datang setiap malam juga, tapi biasanya berkumpul di parkiran bawah. Entah kenapa sekarang ke sini."

Jendela kamarku terbuka dengan sendirinya. Seekor gajah—kakekku—memasukkan belalainya ke dalam ruangan. Belalainya mengambil remote TV dari atas lemari lalu menariknya keluar.

"Minta tontonan," suara kakek gajah parau. "Acara mana ini, TV-nya bagus?"

Diikuti oleh rombongan: jerapah yang kepalanya menyentuh langit-langit lorong apartemen, sekawanan kelelawar yang memenuhi lampu kamar hingga redup, dan seekor singa—yang ternyata sepupuku dari pernikahan lintas spesies—tiduran di ranjangku sambil baca komik.

"Ini kamarku!" teriakku.

"Kami tahu," kata singa sepupuku tanpa menoleh. "Tapi bioskop di lantai bawah tutup. Jadi kita nobar di sini. Kamu punya popcorn?"

7. Plot Twist Terakhir: Aku Sebenarnya Seekor Ubur-ubur

Aku berdiri. Aku berjalan ke kamar mandi. Aku menatap cermin.

Pantulanku masih sama. Hidung biasa. Bibir biasa. Mata zaitun.

Tapi ketika aku menyentuh kaca, tanganku menembusnya.

Aku menarik tangan. Masih utuh. Masih normal. Tapi ada rasa aneh—rasa seperti air laut, rasa seperti tidak punya tulang, rasa seperti aku bisa melewati celah sekecil apa pun.

"Ayah," bisikku dari kamar mandi. "Apa benar aku manusia?"

Kuda nil itu berjalan ke pintu kamar mandi. Moncongnya menyenggol kusen.

"Jujur, Nak... kami tidak tahu. Kami tidak pernah punya anak manusia sebelumnya. Yang kami tahu, ketika kamu lahir, kamu tidak menangis. Kamu mengapung di udara selama tiga detik sebelum jatuh ke pelukan ibu."

"Jadi aku?"

"Mungkin kamu ubur-ubur. Tapi ubur-ubur yang lupa bahwa dia bisa menyetrum. Atau mungkin kamu manusia yang mirip ubur-ubur. Atau mungkin kamu bukan apa-apa. Dan itu tidak masalah."

Aku keluar dari kamar mandi. Di ruang kamar, kakek gajah sedang menonton sinetron. Jerapah mengambil minuman dari kulkas tanpa membungkuk. Kelelawar bergantian memencet tombol remote karena tidak punya jari.

Dan di tengah semua kekacauan itu, ibu tikus dan ayah kuda nil berdiri di sampingku.

"Selamat datang di keluarga kita, Nak," kata ibu. "Bukan keluarga yang kamu bayangkan. Tapi satu-satunya keluarga yang kamu punya."

Aku tersenyum. Aku tertawa. Aku menangis sekaligus.

Lalu aku mengambil popcorn dari dapur.

Epilog (yang Sebenarnya Baru Awal):

Setiap malam pukul 23.47, keluarga besarku datang ke kamar tidurku. Kakek gajah selalu mengambil remote TV. Jerapah selalu memakan daun pakis hias di pot dekat jendela. Kelelawar kadang-kadang menggantung di kipas angin dan membuat kipasnya miring. Singa sepupu selalu tidur di ranjangku sampai aku harus tidur di lantai bersama ayah kuda nil.

Dan ibuku tikus? Dia duduk di atas kepalaku sambil merapikan rambutku yang kusut, dan berbisik:

"Besok ibu bawakan telur asin lagi. Kamu harus makan lebih banyak. Kamu terlalu kurus untuk ukuran ubur-ubur."

Aku tidak pernah tahu apakah aku benar-benar ubur-ubur. Atau manusia. Atau sesuatu di antaranya.

Tapi satu hal yang aku tahu: setiap kali jam menunjukkan 23.47, aku tidak lagi merasa sendirian.

Aku merasa aneh. Aku merasa sesak. Aku merasa kamarku terlalu kecil untuk kebun binatang satu ini.

Tapi aku merasa.

Dan perasaan itu—sekacau apa pun bentuknya—tetaplah perasaan yang disebut rumah.

Kuda nil di kamar tidurku.

Tikus di kepalaku.

Gajah di ruang tamuku.

Dan ubur-ubur di cermin yang tidak pernah benar-benar bisa kukenal.

Ini hidupku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menggantinya dengan hidup orang lain.

Bahkan jika hidup orang lain itu lebih normal.

Bahkan jika hidup orang lain itu tidak kedatangan kuda nil setiap malam.

Karena normal itu terlalu sempit untuk keluarga sebesar ini.

Dan kuda nil—ayahku—mengangguk setuju. Lalu dia mengambil popcorn-ku. Padahal dia tahu aku belum makan malam.

"Ya sudahlah," kataku. "Ayah kuda nil tetap ayah. Meskipun ayah makan popcorn-ku."

Itulah cinta, mungkin.

Atau mungkin itu hanya lapar.

Tidak ada yang tahu.

Termasuk kuda nil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI