La Da Dum Dum Dum (1)

•••

La Da Dum Dum Dum (Bagian 15: Hari Ketika Kenangan yang Terlupakan Kembali)


Jam saku itu berdetak tidak karuan sejak pertemuan dengan Kemala tua. Kadang cepat, kadang lambat, kadang berhenti sama sekali. Aru sudah mencoba memutarnya, menggoyangkannya, bahkan menepuknya pelan seperti menepuk punggung teman yang tersedak. Tidak mempan.

Pada malam Kamis, jam itu berhenti total.

Aru terbangun pukul 02.47. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena keheningan. Jam saku yang biasanya berdetak di nakas sekarang diam. Aru meraihnya. Jam itu dingin. Mati.

Tapi dari balik kaca jam yang buram, ada cahaya. Samar. Biru pucat. Seperti kunang-kunang yang terperangkap di dalam.

Aru memutar jam itu. Bukan memutar jarumnya—tapi memutar badannya. Seperti membuka tutup botol. Dan kaca jam itu terbuka.

Dari dalam jam, keluar kabut tipis berwarna biru. Kabut itu berputar-putar di udara, lalu membentuk pintu. Pintu kecil, hanya selebar tubuh Aru. Di belakang pintu, bukan dinding kamar. Tapi koridor panjang yang tidak berujung.

"Kemala," bisik Aru ke ponselnya.

"Jam setengah tiga pagi, Aru."

"Aku tahu. Tapi jam sakunya terbuka."

Hening. Lalu suara Kemala yang tiba-tiba segar—seperti dia juga tidak tidur. "Aku ke sana."

---

Sepuluh menit kemudian, Kemala sudah duduk di lantai kamar Aru, memeluk bantal, menatap pintu kecil yang mengambang di udara.

"Ini tidak masuk akal," katanya.

"Tidak ada yang masuk akal akhir-akhir ini."

"True."

Mereka berdiri. Bergandengan tangan. Masuk ke pintu itu bersamaan.

---

Koridor itu panjang. Dindingnya dari kabut biru yang padat, seperti awan yang dimampatkan. Lantainya dari kaca—tidak licin, tapi tembus pandang. Di bawah kaca, mereka bisa melihat sungai. Sungai yang tidak mengalir. Sungai yang berisi gambar-gambar.

Gambar itu bergerak. Seperti video. Aru melihat seorang anak laki-laki menangis di sudut kelas. Dia mengenali anak itu. Dirinya sendiri. Kelas 2 SD. Dia lupa kenapa dia menangis. Tapi gambar itu menunjukkan semuanya: dia menangis karena diejek teman-temannya karena tidak punya ayah.

"Aku lupa itu pernah terjadi," bisik Aru.

"Sungai ini sungai kenangan," kata suara dari belakang mereka.

Mereka menoleh. Di ujung koridor, seorang perempuan muda berdiri. Usianya mungkin dua puluhan. Rambut panjang sebahu. Matanya cokelat, hangat, seperti mata ibu Aru—tapi bukan ibu Aru.

"Aku Mila," kata perempuan itu. "Aku penjaga sungai kenangan."

"Penjaga?" Kemala mengerutkan dahi. "Ada penjaga untuk kenangan?"

"Kenangan tidak bisa dijaga oleh sembarangan orang. Kenangan itu rapuh. Seperti kertas basah. Bisa robek kalau salah menyentuh."

Mila berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak bersuara. Saat dia lewat di samping Aru, Aru mencium wangi yang familiar—seperti wangi buku baru, seperti wangi perpustakaan di pagi hari.

"Aku juga pernah seperti kalian," kata Mila. "Aku membaca kitab La Da Dum Dum Dum. Aku masuk ke dunia antar. Aku bertualang. Tapi aku sendirian. Tidak punya Kemala. Tidak punya Aru. Jadi aku tersesat. Dan ketika aku tersesat, aku memutuskan untuk tidak kembali ke dunia nyata. Aku memilih tinggal di sini, menjaga sungai kenangan."

"Kenapa?" tanya Kemala.

"Karena di sini, aku tidak perlu kehilangan siapa pun. Semua kenangan ada di sini. Semua orang yang kukasihi—mereka tidak mati selama aku masih mengingat mereka."

Mila menunjuk ke sungai di bawah kaca. "Lihat. Kenangan kalian juga ada di sini. Semua yang pernah kalian lupakan, semua yang kalian pikir sudah hilang—mereka mengalir di sungai ini."

Aru dan Kemala menunduk. Di bawah kaca, sungai itu bergolak pelan. Dan di dalamnya, mereka melihat adegan-adegan yang tidak mereka ingat pernah terjadi.

Kemala melihat dirinya sendiri saat masih balita, duduk di pangkuan ayahnya, tertawa. Ayahnya membacakan buku dongeng. Kemala lupa itu pernah terjadi. Ayahnya lupa itu pernah terjadi. Tapi sungai itu ingat.

Aru melihat dirinya dan ibunya. Bukan di rumah, tapi di suatu tempat yang hijau—mungkin kebun binatang. Aru kecil menangis minta es krim. Ibunya tertawa, lalu membelikan es krim. Aru lupa hari itu. Tapi ibunya mungkin juga sudah lupa.

"Kenangan yang terlupakan," bisik Aru. "Mereka tidak benar-benar hilang. Mereka hanya... tersimpan di sini."

"Tersimpan di dalam jam saku," kata Mila. "Jam saku itu adalah kunci. Dan kalian memutarnya. Itu berarti kalian ingin mengingat."

Kemala mengangkat wajah. "Tapi kenapa kami harus mengingat? Bukankah kadang-kadang lupa itu baik?"

Mila tersenyum tipis. "Lupa itu baik kalau kenangan itu menyakitkan. Tapi lupa itu sedih kalau kenangan itu indah. Dan kalian berdua—kalian sudah melupakan terlalu banyak hal indah tentang satu sama lain."

---

Mila membawa mereka ke ujung koridor. Di sana, ada dua kursi kayu. Di atas meja di antara kursi, ada dua cangkir teh dan sepiring kecil berisi es krim yang tidak meleleh.

"Duduklah," kata Mila. "Sungai akan menunjukkan apa yang harus kalian ingat."

Mereka duduk. Sungai di bawah kaca mulai berputar. Seperti pusaran. Dan dari pusaran itu, muncullah adegan-adegan yang tidak pernah mereka alami—adegan dari masa depan yang tidak terjadi.

Aru dan Kemala dewasa, duduk di taman yang sama, tapi sudah tua. Mereka tertawa. Mereka memegang tangan satu sama lain. Di belakang mereka, seorang anak perempuan—mungkin cucu—berlari-larian mengejar kupu-kupu.

"Ini adalah masa depan yang mungkin terjadi," kata Mila. "Jika kalian tidak berpisah. Jika kalian terus mengingat."

"Aku tidak punya cucu di masa depan itu," kata Kemala. "Aku punya anak laki-laki, namanya—"

Dia berhenti. Kenangan dari masa depan yang tidak terjadi itu begitu jelas. Dia tahu nama anaknya. Dia tahu wajah suaminya. Dia tahu segalanya.

"Tapi itu tidak nyata," kata Kemala.

"Belum nyata," kata Mila. "Tapi bisa menjadi nyata. Atau tidak. Tergantung pilihan kalian."

Aru memegang cangkir tehnya. Tehnya hangat. Dia bisa minum—padahal ini dunia antara realitas dan mimpi. "Mila, kenapa kamu membantu kami?"

Mila diam sejenak. Lalu dia berkata, "Karena aku ingin melihat setidaknya satu orang yang tidak berakhir seperti aku. Sendirian, menjaga sungai, berbicara pada kenangan yang tidak bisa dia peluk."

Matanya berair. Tapi dia tidak menangis. Mungkin air matanya sudah habis bertahun-tahun lalu.

---

Aru berdiri. Dia berjalan ke tepi sungai kaca. Di bawah, dia bisa melihat dirinya sendiri—tidak hanya satu, tapi banyak. Dirinya yang menangis di kelas 2 SD. Dirinya yang marah pada ibu. Dirinya yang iri pada teman yang punya ayah. Dirinya yang takut kehilangan Kemala.

"Aku tidak ingin lupa lagi," kata Aru. "Tapi aku juga tidak ingin terus terjebak di masa lalu. Aku mau maju. Tapi dengan membawa semua ini."

Dia menunjuk ke sungai.

"Bisa?" tanyanya pada Mila.

Mila mengangguk. "Ambil segenggam air sungai. Minum. Nanti kalian akan ingat semuanya—yang indah dan yang menyakitkan. Tapi ingatan itu tidak akan menguasai kalian. Kalian yang akan menguasai ingatan."

Aru menunduk. Dia memasukkan tangannya ke kaca. Kaca itu seperti air—lembut, hangat. Tangannya menyentuh sungai. Airnya dingin, tapi tidak membekukan.

Dia mengambil segenggam. Meminumnya.

Seketika, ribuan gambar membanjiri kepalanya. Bukan gambar yang menakutkan. Tapi gambar-gambar kecil yang selama ini hilang: rasa es krim pertama kali, suara ibu menyanyikan lagu tidur, bau hujan di aspal, tawa Kemala saat mereka pertama kali membaca kitab La Da Dum Dum Dum di perpustakaan.

Semua kembali.

Aru menangis. Bukan sedih. Bukan bahagia. Tapi lega. Seperti pulang ke rumah setelah tersesat lama.

Sekarang giliran Kemala. Dia juga mengambil segenggam air sungai. Meminumnya. Dan dia mengingat.

Dia mengingat ayahnya yang menggendongnya sebelum pergi. Bukan kenangan buruk tentang kepergian. Tapi kenangan tentang gendongan yang hangat, tentang suara ayah yang berbisik, "Kemala, papa sayang."

Dia mengira kenangan itu sudah mati. Ternyata hanya tidur.

Kemala menangis di bahu Aru. Mereka berdua menangis. Sungai di bawah mereka berdetak—pelan, teratur, seperti jantung.

---

Mila berdiri di kejauhan. Dia tidak ikut menangis. Tapi dia tersenyum. Senyum yang tulus—mungkin senyum pertama dalam waktu yang sangat lama.

"Kalian bisa kembali sekarang," kata Mila. "Jam saku akan menutup kembali. Tapi kalian boleh datang kapan saja. Sungai ini selalu terbuka untuk kalian."

"Terima kasih, Mila," kata Aru.

"Jangan berterima kasih. Jaga satu sama lain. Dan jangan lupa minum teh. Teh itu penting."

Mila melambai. Lalu kabut biru menebal, menutupi segalanya.

---

Aru dan Kemala terbangun di kamar Aru. Jam menunjukkan pukul 04.15. Jam saku di nakas berdetak normal. Kacanya utuh. Seperti tidak pernah terbuka.

Tapi Aru bisa merasakan perbedaannya. Ingatannya lebih utuh. Dia ingat saat pertama kali ibunya mengajarinya mengikat sepatu. Dia ingat rasa es krim rasa stroberi yang dulu dia benci. Dia ingat nama semua kucing liar di lingkungan rumahnya.

Dan dia ingat sesuatu yang lain.

"Kemala," katanya.

"Ya?"

"Aku ingat kita pertama kali bertemu. Bukan di sekolah. Tapi di rumah sakit. Waktu kita kecil. Kamu dirawat karena demam. Aku dirawat karena jatuh dari sepeda. Kita main congklak di ruang tunggu."

Kemala terdiam. Matanya membesar. "Astaga. Aku... aku juga baru ingat sekarang."

Mereka saling menatap. Tersenyum. Kenangan itu adalah benang yang sangat tipis, nyaris putus. Tapi sekarang benang itu tersambung lagi. Kuat.

"Aku suka kita punya masa lalu," bisik Kemala.

"Aku juga," kata Aru. "Tapi aku lebih suka kita punya masa depan."

Mereka tertawa. Di luar, matahari mulai terbit. Hari Jumat. Sekolah masih beberapa jam lagi. Mereka punya waktu untuk tidur—tapi tidak ada yang mau tidur. Mereka duduk bersebelahan di tepi tempat tidur Aru, menatap langit yang berubah dari gelap menjadi biru, ditemani oleh jam saku yang berdetak pelan.

La da dum dum dum.

Mungkin artinya: kenangan adalah rumah yang tidak pernah bisa dirobohkan.

Bersambung ke bagian 16: Hari ketika Mila keluar dari sungai kenangan dan meminta tolong pada Aru dan Kemala untuk sesuatu yang belum pernah mereka bayangkan—menyelamatkan dunia antar untuk terakhir kalinya.

•••

La Da Dum Dum Dum (Bagian 16: Hari Ketika Mila Keluar dari Sungai)


Mila keluar dari jam saku tiga hari kemudian.

Bukan lewat pintu kabut biru seperti sebelumnya. Tapi lewat kaca jam itu sendiri—seperti air yang menembus saringan, perlahan, setetes demi setetes, hingga membentuk sosok utuh di atas meja belajar Aru.

Aru baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Dia menatap Mila, Mila menatapnya. Kemala yang kebetulan sedang video call langsung berteriak dari layar ponsel, "APA ITU?"

"Aku Mila," kata Mila. "Kita sudah bertemu."

"Di sungai kenangan, iya aku tahu! Tapi kenapa kamu keluar?!"

Mila duduk di kursi belajar Aru. Tubuhnya padat—tidak tembus pandang seperti dulu. Dia nyata. Dia bisa menyentuh meja, menyentuh buku, menyentuh jam saku yang kini kosong tanpa cahaya.

"Sungai kenangan sedang sekarat," kata Mila. Matanya cokelat itu kini tampak sayu, seperti danau yang mulai mengering. "Dan jika sungai itu mati, semua kenangan yang tersimpan di dalamnya akan hilang. Bukan hanya kenangan yang terlupakan. Tapi semua kenangan. Kalian akan lupa siapa diri kalian. Dunia akan lupa siapa dirinya."

Aru mematikan video call dan mengubahnya menjadi panggian suara biasa karena kuota menipis. "Kami naik ke puncak gedung bayangan. Kami memutar jam besar. Kami menambal kebocoran. Kenapa masih ada yang salah?"

"Karena kebocorannya bukan dari luar." Mila menunduk. "Tapi dari dalam. Dari aku."

---

Mila bercerita.

Dia menjadi penjaga sungai kenangan selama lima belas tahun. Lima belas tahun duduk di ujung koridor, menatap sungai, memastikan tidak ada kenangan yang hilang. Tapi semakin lama, dia merasa ada yang menggerogoti dirinya dari dalam. Seperti cacing di apel. Seperti retak di piring.

"Aku kesepian," kata Mila jujur. "Aku pikir menjaga kenangan akan cukup. Tapi kenangan tidak bisa memelukku. Kenangan tidak bisa membuat teh untukku. Kenangan tidak bisa tertawa mendengar leluconku yang buruk. Aku hidup di antara ingatan, tapi aku sendiri tidak diingat oleh siapa pun."

Mila mengangkat tangan. Di telapak tangannya, ada titik hitam—seperti gangren, tapi bercahaya gelap.

"Ini adalah keputusasaan. Ia tumbuh di dalam diriku selama bertahun-tahun. Dan sekarang ia sudah terlalu besar. Ia mulai meracuni sungai kenangan. Jika tidak segera dihentikan, semua akan hancur."

"Bagaimana cara menghentikannya?" tanya Kemala dari ponsel.

"Dengan mengingatku." Mila menatap Aru lurus-lurus. "Kalian tidak mengenalku sebelumnya. Tapi kalian bisa menciptakan kenangan baru tentang aku. Kenangan yang baik. Kenangan yang membuatku tidak sendirian. Cukup satu hari. Habiskan satu hari bersamaku. Lakukan hal-hal biasa yang tidak pernah aku lakukan selama lima belas tahun terakhir."

Aru menghela napas. "Kamu minta kami jadi temanmu?"

Mila tersenyum getir. "Kedengarannya sederhana, ya? Tapi bagi seseorang yang sudah lima belas tahun hanya berbicara pada air, punya teman selama sehari adalah keajaiban."

---

Kemala datang ke rumah Aru setengah jam kemudian. Dia memakai baju terbaiknya—kemeja batik yang biasa dipakai untuk acara keluarga. Mila masih duduk di kursi belajar, tidak bergerak, seperti patung yang baru saja diberi kehidupan.

"Oke," kata Kemala, "rencana satu hari. Kita harus buat Mila senang. Aksi!"

Aksi pertama: sarapan di warung Bu RT.

Mila belum pernah makan nasi uduk. Di sungai kenangan, dia tidak perlu makan. Tapi di dunia nyata, mulutnya bisa merasakan. Dia mengunyah tempe goreng perlahan, matanya berkaca-kaca.

"Enak?" tanya Kemala.

Mila mengangguk. "Aku lupa rasa. Rasa itu... hangat."

Bu RT yang melihat Mila untuk pertama kalinya bertanya, "Ini siapa, Nak? Teman baru?"

"Iya, Bu," kata Aru. "Namanya Mila. Dia baru pindah."

Bu RT tersenyum ramah. Mila tersenyum balik—canggung, tapi tulus. Dia belum pernah disapa ramah oleh orang asing dalam lima belas tahun.

---

Aksi kedua: ke toko es krim.

Mila memilih rasa yang aneh: durian. Aru dan Kemala memilih rasa cokelat dan stroberi. Mereka duduk di trotoar depan toko, seperti anak-anak biasa, menjilat es krim yang mulai meleleh di tangan.

"Aku dulu suka durian," kata Mila. "Waktu masih kecil. Sebelum aku membaca kitab itu. Sebelum aku tersesat. Aku lupa bahwa aku suka durian. Tapi lidahku ingat."

"Lidah tidak pernah lupa," kata Kemala. "Lidah adalah kenangan yang paling setia."

Mila tertawa. Tawa yang pecah—seperti kaca yang retak tapi masih utuh. "Kalian lucu."

"Aku tahu," kata Kemala.

---

Aksi ketiga: ke perpustakaan.

Ini ide Aru. Dia ingin Mila melihat perpustakaan tempat semuanya dimulai—baginya dan Kemala, setidaknya. Tapi ketika mereka masuk, Mila berhenti di depan pintu. Tubuhnya gemetar.

"Ini... ini perpustakaan yang dulu," bisik Mila. "Tapi berbeda. Raknya berbeda. Mejanya berbeda. Bajunya Bu Pustakawan berbeda."

"Ya, namanya waktu," kata Aru. "Waktu berubah. Tapi perpustakaannya tetap perpustakaan."

Mila masuk perlahan. Jari-jarinya menyentuh rak buku, menyentuh punggung buku-buku yang bersampul plastik. Dia mengambil satu buku—buku cerita anak dengan gambar kelinci. Dia membukanya. Kata-katanya masih sama seperti dulu. Ceritanya masih sama.

"Aku dulu membaca buku ini," bisik Mila. "Aku pinjam, lalu tidak pernah kembali karena aku tersesat di dunia antar. Dendanya pasti sudah banyak."

Kemala tertawa. "Biar aku bayar dendanya."

"Kamu tidak punya uang."

"Aku punya tabungan."

Mila tersenyum. Senyum yang tidak getir. Senyum yang cerah—mungkin senyum pertama yang benar-benar cerah dalam lima belas tahun.

---

Aksi keempat: bermain ayunan di taman.

Mila belum pernah naik ayunan. Di dunia antar, tidak ada taman. Tidak ada angin. Tidak ada rasa jatuh yang menyenangkan. Kemala mendorong ayunan Mila dari belakang, sementara Aru duduk di ayunan sebelah sambil merekam dengan ponsel.

"Tinggi! Lebih tinggi!" teriak Mila. Suaranya seperti anak kecil—mungkin karena lima belas tahun yang hilang membuatnya terjebak di usia tertentu. Usia ketika dia pertama kali membaca kitab.

"Kamu yakin tidak pusing?" tanya Aru.

"Aku tidak akan pusing! Aku penjaga sungai kenangan! Aku—WOAH!"

Mila hampir jatuh, tapi Kemala menangkapnya tepat waktu. Mereka bertiga terjatuh di rumput, tertawa terbahak-bahak. Rumput basah karena embun. Pakaian mereka kotor. Tidak ada yang peduli.

Mila berbaring di rumput, menatap langit. Langit sore berwarna jingga.

"Aku lupa," bisiknya.

"Lupa apa?" tanya Kemala.

"Aku lupa bahwa dunia ini indah. Di sungai kenangan, aku hanya melihat kenangan. Tapi kenangan tidak pernah seindah ini. Kenangan tidak punya bau. Tidak punya rasa. Tidak punya angin yang menyentuh kulit. Kenangan hanyalah bayangan. Dan aku sudah terlalu lama hidup di antara bayangan."

Dia menutup mata. Air mata mengalir dari pelupuknya—bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang campur aduk. Rindu pada dunia yang selama ini dia tinggalkan. Rindu pada rasa takut, rasa senang, rasa lelah, rasa semua.

"Aku ingin kembali," bisik Mila. "Tapi aku tidak tahu caranya."

---

Malam harinya, mereka bertiga duduk di ruang keluarga rumah Aru. Ibu Aru sudah tidur. Mereka hanya bertiga, ditemani teh hangat dan jam saku yang kini gelap tanpa cahaya.

"Keputusasaanku sudah mengecil," kata Mila. "Seharian bersama kalian, titik hitam di tanganku menyusut. Tapi tidak hilang seluruhnya."

"Kenapa?" tanya Kemala.

"Karena satu hari tidak cukup untuk melawan lima belas tahun. Aku butuh lebih banyak kenangan baik. Tapi aku tidak bisa tinggal di sini selamanya. Sungai kenangan butuh penjaga. Jika aku tidak kembali, sungai itu akan kering dalam tiga hari."

Aru diam. Dia memutar-mutar jam saku di tangannya. Lalu dia mendapat ide.

"Bagaimana jika sungai kenangan tidak perlu penjaga?" tanya Aru.

Mila mengerjap. "Apa maksudmu?"

"Selama ini, semua orang percaya bahwa kenangan harus dijaga. Tapi kenapa? Kenapa kenangan tidak bisa dijaga oleh semua orang? Kenapa harus satu orang yang sendirian?"

Aru berdiri. "Kita buka sungai kenangan untuk semua orang. Biar setiap orang bisa mengingat kenangan mereka sendiri. Biar tidak ada yang perlu menjadi penjaga yang kesepian."

Mila terdiam lama. Konsep itu begitu asing baginya. Selama lima belas tahun, dia hidup dengan dogma bahwa sungai kenangan adalah tempat yang rapuh, yang hanya bisa dijaga oleh satu orang terpilih.

Tapi Aru punya titik.

"Bagaimana caranya?" bisik Mila.

"Dengan jam saku ini," kata Aru. "Kita buka pintu lebar-lebar. Biar semua orang bisa masuk. Biar semua orang bisa minum air sungai dan mengingat apa yang mereka lupa. Dan ketika semua orang bisa mengingat, tidak ada yang perlu menjadi penjaga."

"Itu berbahaya," kata Mila. "Tidak semua kenaman enak untuk diingat."

"Tapi tidak ada kenangan yang seharusnya dilupakan selamanya," kata Kemala. "Bahkan yang menyakitkan. Karena kenangan yang menyakitkan mengajarkan kita sesuatu."

Mila memandang mereka bergantian. Untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat di sungai kenangan: keberanian.

"Baik," kata Mila. "Kita lakukan."

---

Mereka bertiga memegang jam saku itu bersama. Aru memutar kacanya. Kemala memutar jarumnya. Mila membisikkan mantra yang tidak pernah dia ucapkan sejak pertama kali dia menjadi penjaga.

"Buka. Buka. Buka."

Jam saku itu meledak—bukan dengan keras, tapi dengan cahaya. Cahaya biru membanjiri ruang keluarga, keluar lewat jendela, lewat celah pintu, lewat retakan dinding. Cahaya itu menyebar ke seluruh kota, ke seluruh negeri, ke seluruh dunia.

Dan setiap orang—di mana pun mereka berada—merasakan sesuatu.

Seorang bapak di Jakarta tiba-tiba ingat saat pertama kali menggendong anaknya. Seorang ibu di Bandung ingat lagu yang dulu dinyanyikan ibunya sebelum tidur. Seorang kakek di Surabaya ingat nama kekasih pertamanya yang sudah 60 tahun lalu.

Semua kenangan yang terlupakan kembali.

Tanpa menyakiti.

Tanpa membuat pusing.

Hanya kembali, seperti tamu yang pulang ke rumah setelah perjalanan panjang.

Mila tersenyum. Titik hitam di tangannya lenyap total. Keputusasaannya hilang, sirna oleh kenangan-kenangan baru yang dia ciptakan hari ini—kenangan tentang nasi uduk, es krim durian, perpustakaan, ayunan, dan dua anak yang mau berteman dengannya.

"Sungai kenangan tidak perlu penjaga lagi," bisik Mila. "Sekarang sungai itu ada di dalam setiap orang."

Dia berdiri. Tubuhnya mulai memudar—bukan menghilang, tapi berubah menjadi cahaya yang menyebar.

"Mila!" teriak Kemala. "Kamu ke mana?"

"Ke mana pun. Ke setiap orang yang mengingat. Aku akan ada di senyum kalian, di tawa kalian, di setiap kenangan baru yang kalian ciptakan."

Dia melambai. Senyum terakhirnya adalah senyum yang paling cerah.

"Aku tidak sendirian lagi. Terima kasih."

Mila menghilang. Cahaya biru perlahan meredup. Ruang keluarga kembali normal. Jam saku di tangan Aru kini hancur menjadi debu—tapi debu itu berkilau, seperti bintang yang jatuh.

Kemala memeluk Aru. "Kita berhasil?"

"Kita berhasil," kata Aru.

Tapi kemudian mereka mendengar sesuatu. Samar. Jauh. Dari balik jendela, dari balik dinding, dari balik realitas itu sendiri.

Tepuk tangan.

Bukan satu orang. Tapi banyak. Seperti ribuan penonton yang menyaksikan pertunjukan yang mengharukan. Tepuk tangan itu pelan, tapi hangat. Seperti apresiasi. Seperti ucapan terima kasih.

Aru dan Kemala tersenyum. Mereka tidak tahu siapa yang bertepuk tangan. Mungkin semua orang yang ingatannya kembali. Mungkin Mila. Mungkin Baruna. Mungkin Penjaga tua.

Atau mungkin, hanya mungkin, tepuk tangan itu berasal dari diri mereka sendiri.

Karena mereka berdua, akhirnya, belajar untuk tidak takut pada kenangan.

•••

La Da Dum Dum Dum (Bagian 17: Hari Ketika Tidak Ada Lagi Petualangan)

Setelah Mila pergi, sesuatu berubah. Bukan di dunia. Bukan di langit atau di perpustakaan. Tapi di dalam Aru dan Kemala sendiri.

Mereka tidak lagi menunggu hal aneh terjadi.

Mereka tidak lagi mencari-cari petunjuk di saku jaket atau di balik rak buku.

Ada keheningan yang berbeda. Bukan keheningan kosong. Keheningan seperti setelah hujan deras—ketika udaranya jernih, tanahnya basah, dan semuanya terasa segar. Seperti tidak ada yang perlu dikejar.

---

Pagi pertama setelah Mila pergi, Aru bangun dan tidak langsung memeriksa jam saku.

Jam saku itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya debu berkilau yang dia kumpulkan dalam stoples kecil—sebagai kenang-kenangan, kata Kemala. Stoples itu duduk di atas meja belajar, diam, tidak bercahaya, tidak berdetak.

Aru memandang stoples itu lama.

"Kita sudah selesai, ya?" bisiknya pada stoples itu.

Stoples itu diam. Tapi Aru merasa ada jawaban. Bukan suara. Bukan getaran. Hanya perasaan tenang yang merambat dari dadanya ke ujung jari.

Dia tersenyum. Lalu pergi mandi.

---

Kemala mengalami hal serupa.

Dia terbangun dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dia tidak mendengar suara masa depan. Tidak ada bisikan. Tidak ada firasat. Yang ada hanya suara ayam tetangga yang berkokok, suara ibunya menyiapkan sarapan di dapur, suara adiknya yang mengomel karena tidak mau mandi.

Dunia terasa biasa.

Dunia terasa nyata.

Kemala menangis sebentar. Bukan sedih. Bukan bahagia. Tapi lega. Lega yang dalam, seperti setelah menahan napas terlalu lama.

---

Di sekolah, mereka bertemu di gerbang seperti biasa.

"Kamu dengar sesuatu pagi ini?" tanya Aru.

"Tidak," kata Kemala. "Kamu lihat sesuatu?"

"Tidak."

Mereka tersenyum. Bukan senyum kemenangan. Senyum biasa. Senyum dua anak yang akan masuk kelas dan mengerjakan soal Matematika yang tidak mereka sukai.

"Tiba-tiba aku kangen hal-hal aneh," kata Kemala sambil berjalan menuju kelas.

"Aku enggak. Aku capek."

"Tapi bukankah tanpa hal aneh, hidup jadi membosankan?"

Aru berpikir. "Mungkin. Tapi aku lebih suka bosan bersama kamu daripada bertualang sendirian."

Kemala tertawa. "Aru, kamu jadi puitis. Jangan-jangan kamu jatuh cinta?"

Aru tidak menjawab. Tapi pipinya merona. Kemala melihatnya dan tertawa lebih keras.

---

Sepulang sekolah, mereka mampir ke perpustakaan.

Bukan karena mencari sesuatu. Hanya karena rindu. Perpustakaan SDN 4 terasa berbeda. Lebih terang. Lebih ramai. Buku-buku di rak tidak bergerak sendiri. Kata-kata di halaman tidak kabur saat dibaca.

Aru mengambil buku cerita anak—buku kelinci yang dulu Mila pinjam. Dia membuka halaman pertamanya.

"Pada suatu hari, di sebuah hutan yang jauh, hiduplah seekor kelinci yang sangat suka bertualang..."

Cerita biasa. Cerita yang tidak membawa mereka ke dunia lain.

Aru membacanya sampai habis. Lalu menutup buku itu.

"Pinjam, Bu," katanya pada Bu Pustakawan.

"Kembalikan minggu depan, ya."

Aru mengangguk. Dia keluar dari perpustakaan dengan buku di tangan. Kemala mengikuti di belakang.

"Kenapa kamu pinjam buku itu?" tanya Kemala.

"Aku ingin membacakan untuk Mila. Mungkin di suatu tempat, dia bisa mendengar."

Kemala tidak mengejek Aru. Dia hanya tersenyum. Karena dia tahu, di suatu tempat, di antara kenangan dan realitas, Mila sedang tersenyum juga.

---

Malamnya, Aru duduk di teras rumah. Ibunya di dalam sedang menonton TV. Stoples berisi debu berkilau duduk di sampingnya, menemani.

Aru membuka buku cerita itu. Dia membaca dengan suara pelan—hampir berbisik.

"...dan kelinci itu pulang ke rumahnya. Rumahnya kecil, hangat, dan berbau wortel. Kelinci itu tersenyum. Dia tahu bahwa petualangan terbaik bukanlah yang paling jauh, tapi yang paling membawanya pulang."

Aru berhenti. Dia menutup buku. Dia menatap stoples itu.

"Aku harap kamu sudah pulang, Mila," bisiknya.

Stoples itu berkilau sebentar. Lalu diam.

Aru percaya itu adalah jawaban.

---

Tiga bulan kemudian.

Aru dan Kemala sudah tidak membicarakan petualangan mereka. Bukan karena lupa. Tapi karena cerita-cerita itu sudah menjadi bagian dari mereka—seperti tulang, seperti darah. Tidak perlu diucapkan untuk diingat.

Mereka tumbuh. Tidak tiba-tiba. Tapi perlahan. Seperti pohon jambu di belakang rumah Kemala yang tetap diam, tidak berbicara lagi, tapi akarnya semakin dalam.

Suatu sore, mereka duduk di taman yang sama. Ayunan yang sama. Langit yang sama.

"Aru," kata Kemala.

"Hm?"

"Apa menurutmu kita akan tetap berteman sampai dewasa?"

Aru diam sebentar. Dulu pertanyaan ini akan membuatnya panik. Tapi sekarang tidak.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi aku tahu kita sudah berteman melewati hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Naga. Baruna. Mila. Waktu yang mundur. Kenangan yang kembali. Kalau kita bisa melewati semua itu, masa dewasa seharusnya tidak terlalu menakutkan."

Kemala mengangguk. "Kamu benar."

Mereka diam. Menikmati sore.

Lalu, dari kejauhan, terdengar suara. Bukan suara aneh. Bukan suara gaib. Hanya suara tukang bakso lewat.

"Bakso! Bakso!"

Aru dan Kemala saling pandang. Lalu tertawa.

"Kita beli bakso, yuk," kata Aru.

"Aku traktir."

"Kamu tidak punya uang."

"Aku punya. Aku nabung."

Mereka berlari mengejar tukang bakso. Bayangan mereka berlari di aspal—dua bayangan anak kecil yang tidak pernah benar-benar terpisah.

Di langit, awan bergerak pelan. Bentuknya seperti naga. Tapi tidak menakutkan. Hanya awan biasa yang sedang lewat.

---

Epilog yang Sebenarnya

Tidak ada pertempuran terakhir.
Tidak ada mantra penutup.
Tidak ada pintu yang harus ditutup selamanya.

Yang ada hanyalah dua anak yang belajar bahwa petualangan terbesar bukanlah menyelamatkan dunia—tapi menyelamatkan diri mereka sendiri untuk tetap berteman di dunia yang penuh dengan hal-hal yang mencoba memisahkan mereka.

Aru dan Kemala tidak tahu masa depan.

Tapi mereka tahu satu hal:

La da dum dum dum bukan mantra.
Itu adalah suara tertawa dua sahabat yang sedang makan bakso di sore hari, tanpa takut bahwa suatu hari nanti mereka akan berpisah.

Karena jika mereka berpisah sekalipun, mereka akan selalu tahu cara untuk kembali.

Cukup ingat.

Cukup minum teh.

Cukup duduk di ayunan yang sama, di taman yang sama, dan tersenyum.

---

Tamat.

(Tidak ada lagi bagian setelah ini. Sungguh. Stoples debu berkilau itu sekarang duduk di rak kamar Aru, di samping foto Aru dan Kemala waktu kecil. Kadang-kadang, saat malam sepi dan jendela terbuka, stoples itu berdetak pelan. La da dum dum dum. Lalu diam. Seperti senyum yang tidak perlu dijelaskan.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI