LAPIS KETUJUH
Hujan itu tidak membasahi apa pun.
Aku menyadarinya setelah setengah jam berdiri di depan jendela kafe. Air jatuh dari langit, membentuk riak di genangan aspal, tetapi ketika seorang anak laki-laki berlari melewatinya tanpa payung—rambutnya tetap kering. Seragam sekolahnya rapi. Seperti hanyalah ilusi optik yang diproyeksikan ke retina.
Itu bukanlah konflik terbesarku hari ini.
Konflik terbesarku adalah perempuan di seberang meja yang mengaku sebagai istriku, tetapi aku tidak pernah menikah.
“Kamu lupa lagi,” katanya sambil menyeduh kopi yang tidak pernah habis. Cangkirnya selalu setengah penuh. “Ini sudah kali ketujuh aku mengingatkan.”
Aku ingin percaya dia gila, tetapi foto di dompetku menunjukkan kami berdiri di depan altar—aku dalam setelan biru tua, dia dalam gaun putih, dan latar belakangnya adalah gereja yang sama persis dengan gereja di seberang jalan kafe ini. Gereja yang tutup sejak tahun 1987 karena kebakaran. Gereja yang tidak memiliki jendela kaca patri biru, tetapi di fotoku, jendela itu ada.
“Itu Photoshopped,” kataku, meski aku tahu kertas foto itu terasa nyata. Pinggirannya bergerigi seperti disobek dari album fisik.
Dia tersenyum. Sedih. Seperti seseorang yang sudah lelah mengulang kebenaran pada dinding.
---
Dua hari kemudian—atau mungkin hanya sepuluh menit, aku tak lagi bisa membedakan—aku menemukan buku catatan di laci meja kerjaku. Tulisanku sendiri. Namun gaya bahasanya aneh, seperti ditulis oleh diriku yang lebih tua, lebih putus asa.
“Hari ke-47: Aku terjebak di lapis ketiga. Dia tidak benar-benar ada. Akan tetapi jika dia tidak ada, kenapa aku merindukannya saat dia pergi ke kamar mandi?”
Aku membaca ulang. Tanggalnya menunjukkan bulan depan. Tiga minggu dari sekarang.
Di halaman berikutnya:
“Hari ke-112: Ini bukan amnesia. Ini sengaja. Aku yang memilih untuk lupa. Namun kenapa?”
Lalu, tulisan dengan huruf kapital dan tekanan bolpoin hingga tembus kertas:
“JANGAN PERCAYA KEPADA PEREMPUAN ITU. DIA ADALAH KUNCI. DIA JUGA ADALAH KUNGGANGAN*.”
Aku menutup buku itu. Tanganku dingin. Di luar jendela, hujan yang tidak membasahi apa pun masih turun dengan setia.
Aku memutuskan untuk mengikuti perempuan itu tanpa sepengetahuannya. Suatu malam—aku tahu sudah malam karena langit gelap, meski jam tanganku selalu menunjukkan pukul 07.34—dia keluar dari apartemen yang katanya milik kami. Aku mengendap di belakangnya.
Dia tidak pergi ke mana pun yang masuk akal. Dia berjalan ke dermaga tua, lalu berdiri di tepi air. Danau itu hitam. Tidak ada pantulan. Tidak ada bulan, meski bulan seharusnya ada di posisi itu.
Dia berbicara pada air.
“Aku tahu kamu di sini,” katanya. Tidak menoleh. “Kamu selalu mengikutiku di lapis kelima.”
Air danau itu bergerak. Naik. Membentuk kolom. Dan dari kolom itu, sesosok pria keluar—basah kuyup, rambutnya menutupi wajah. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang sama persis dengan jaket yang kukenakan sekarang.
Pria itu menatapku.
Atau menatap ke arahku. Aku tidak yakin dia punya mata.
“Kamu tidak boleh percaya dia,” kata pria itu. Suaranya persis suaraku. “Dia bukan istrimu. Dia penjaga pintu.”
“Pintu apa?” suaraku parau.
“Pintu keluar dari lapis pertama,” jawab pria basah itu. “Kamu sudah mati, Nak. Sejak kebakaran gereja tahun 1987. Dan dia tidak membiarkanmu pergi karena dia ... dia adalah kesalahan yang kamu buat saat masih hidup.”
---
Aku berlari. Bukan karena takut—aku sudah terlalu bingung untuk takut—melainkan karena kakiku bergerak sendiri. Aku berlari menjauh dari dermaga, melewati jalanan yang sama berulang kali, hingga aku sadar bahwa kota ini hanya memiliki tujuh blok. Aku mengujinya. Aku berjalan lurus selama satu jam. Setiap kali, aku kembali ke kafe yang sama. Ke meja yang sama. Ke perempuan yang sama.
Dia sudah duduk di sana. Tersenyum.
“Lapis ketujuh,” kataku, tanpa bertanya.
Dia mengangguk. “Kamu akhirnya sampai di sini lebih cepat dari biasanya.”
“Aku sudah mati?”
“Kamu sudah mati,” katanya. “Akan tetapi tidak di sini. Di sini, kamu masih bisa memilih.”
“Memilih apa?”
Dia meletakkan tangannya di atas meja. Di antara kami, cangkir kopi itu bergetar sedikit. “Kamu meninggal dalam kebakaran gereja karena kamu mencoba menyelamatkanku. Namun aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak ada di gereja itu hari itu. Kamu membayangkanku. Kamu mati sia-sia.”
Aku menelan ludah. “Lalu, kenapa kamu ada di sini?”
“Karena di detik terakhir hidupmu, kamu berdoa. Bukan kepada Tuhan. Kamu berdoa kepada kematian itu sendiri. Kamu bilang, ‘Jangan biarkan aku mati sendirian.’ Dan kematian mendengarkan. Aku adalah hadiah dari kematian. Seorang teman. Seorang istri. Sebuah kebohongan yang indah.”
---
Aku meraih tangannya. Hangat. Nyata. “Kalau begitu, aku tidak mau keluar.”
Dia mengerjapkan mata. Air mata jatuh—tetapi aku tidak yakin itu air mata atau hujan yang anehnya mulai membasahi pipinya setelah sekian lama.
“Kalau kamu tinggal,” katanya, “kamu akan lupa lagi. Kamu akan kembali ke lapis pertama. Dan kita akan mengulang semuanya. Kamu akan curiga kepadaku lagi. Kamu akan membenciku lagi. Kamu akan mencari jalan keluar lagi. Itu siksaan, bukan kebahagiaan.”
“Namun aku akan bersamamu.”
Dia terdiam. Lalu berkata, “Itu yang kamu katakan di lapis kelima.”
---
Aku membuka buku catatan itu lagi. Halamannya sudah berbeda. Tulisanku sekarang—tangan yang sama, tetapi kata-katanya lebih gelap.
“Hari ke-203: Aku menemukan kebenarannya. Bukan perempuan itu yang menahanku. Aku sendiri. Aku tidak ingin mati sendirian, jadi aku menciptakannya. Lalu aku menciptakan lupa agar aku bisa bertemu dengannya berulang kali. Ini semua mimpiku. Dan jika aku sadar, mimpi ini akan berakhir. Aku akan benar-benar mati.”
“Namun aku tidak ingin sadar.”
---
Perempuan itu berdiri. “Ada satu lapis lagi yang belum pernah kamu capai,” katanya.
“Lapis kedelapan?”
Dia menggeleng. “Lapis nol. Tempat kamu masih hidup. Tempat kamu berada di dalam gereja yang terbakar, dan kamu punya tiga detik untuk berlari keluar, tetapi kamu memilih untuk kembali karena kamu mendengar suara seorang perempuan memanggil namamu.”
Aku menahan napas.
“Suara itu milikku,” katanya. “Akan tetapi aku tidak ada. Jadi ... siapa yang memanggilmu?”
Dia mundur selangkah. Wajahnya mulai kabur. Tidak berubah—bukan jadi monster atau cahaya—tetapi kabur seperti foto yang terlalu lama terkena air.
“Itu pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri,” katanya. “Karena mungkin ... mungkin bukan aku yang memanggilmu. Mungkin itu kematian itu sendiri, menyamar sebagai perempuanku, menjebakmu untuk tetap tinggal di dalam api.”
“Atau,” dia tersenyum untuk terakhir kalinya, “mungkin aku memang nyata. Mungkin aku memang istrimu di kehidupan lain. Dan kamu memilih mati untuk bersamaku.”
Hujan berhenti.
Jam tanganku akhirnya bergerak. 07.35.
Dan di luar jendela kafe, gereja yang terbakar tahun 1987 itu berdiri utuh. Lampu-lampu padam. Pintunya terbuka. Dan dari dalam, aku mendengar suaraku sendiri berteriak meminta tolong.
---
Aku membuka mata.
Aku terbaring di lantai gereja. Asap tebal. Api di mana-mana. Kakiku terjepit balok.
Dan di depanku, ada seorang perempuan. Bukan perempuan dari kafe itu. Perempuan ini lebih muda, rambutnya pendek, wajahnya penuh debu. Dia meraih tanganku.
“Jangan menyerah,” katanya. Suaranya asing, tetapi hangat.
Aku mengenalinya. Dia perawat di rumah sakit tempat aku dilahirkan. Dia yang pertama kali menggendongku saat aku bayi. Dia sudah pensiun. Dia sudah tua. Namun di sini, di tengah api ini, dia muda lagi.
“Aku tidak akan mati sendirian?” bisikku.
Dia menggeleng. “Tidak. Aku di sini.”
Namun di belakangnya, di antara kobaran, bayangan perempuan berkebaya putih menatapku dari kejauhan. Perempuan dari kafe itu. Menangis. Dan menggeleng pelan.
Lalu dia menunjuk ke pintu keluar yang masih terbuka—hanya dua meter dari tempatku.
Tiga detik.
Dua pilihan.
Pertanyaan yang sama: suara siapa yang lebih pantas untuk ditaati?
Dan di lapis kedelapan yang tidak pernah ada dalam catatan itu, aku tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa setiap lapisan kematian hanyalah alasan untuk tidak memilih. Namun api ini nyata. Asap ini nyata. Dan perempuan yang memegang tanganku ini—entah siapa pun dia—tangannya terasa seperti jawaban.
Aku memilih untuk merangkak keluar.
Dan di belakangku, kafe itu, perempuan itu, danau hitam itu, dan tujuh lapis imajinasi—semuanya terbakar bersama gereja yang tidak pernah ada.
(Kecuali, di sudut mataku, saat aku akhirnya menghirup udara malam yang dingin—aku melihat bayangan perempuan berkebaya putih berdiri di bawah lampu jalan, tersenyum, lalu menghilang bersama angin yang tidak membawa bau apa pun.)
__________
* kunggangan: keadaan terjebak di antara percaya dan tidak percaya—sebuah pusaran kebingungan yang membuat seseorang tidak dapat bergerak maju maupun mundur. Ia bukan benda, bukan tempat, melainkan lubang hitam kecil yang diam di dalam dada.
Komentar
Posting Komentar