LELAKI YANG SEPARUH DIRINYA TERTINGGAL DI STASIUN
Pagi itu, Darmawan bangun dan menyadari separuh tubuh kirinya tidak ikut tidur.
Bukan mati rasa. Bukan lumpuh. Separuh dirinya benar-benar tidak ada di tempat tidur. Ia melihat ke samping: lengan kirinya, dada kirinya, kaki kirinya—semua itu masih menempel, masih utuh secara fisik. Akan tetapi, ia tidak merasakannya. Bukan seperti orang kehilangan sensorik. Lebih seperti: separuh itu milik orang lain yang kebetulan ditempelkan kepadanya.
Ia ingat semalam pulang dengan kereta terakhir dari kota. Di stasiun, tubuhnya terasa aneh. Ada tarikan. Seperti ada sesuatu yang hendak lepas, tetapi ia mengabaikannya.
Sekarang, ia berdiri di depan cermin dan menyentuh pipi kirinya dengan tangan kanan. Dingin. Bukan dingin kulit mati. Dingin seperti benda yang tidak pernah hidup.
"Kamu," bisiknya kepada bayangan. Namun bayangan itu tidak membalas. Tentu saja.
Dunia tidak berubah. Istri membuatkan kopi. Anak-anak berangkat sekolah. Di kantor, rekan-rekannya tidak melihat sesuatu yang aneh. Darmawan menyembunyikan separuh kirinya di balik jaket. Ia bisa menggerakkan tangan kirinya—mengangkat sendok, menekan tombol lift—tetapi itu terasa seperti menyutradarai boneka. Bukan bagian dari dirinya.
Pada jam makan siang, ia menerima pesan dari nomor tak dikenal.
"Ada yang tertinggal di stasiun. Ambil sebelum subuh."
Darmawan tidak bertanya siapa pengirimnya. Tidak ada gunanya. Dunia ini tidak pernah menjelaskan. Ia hanya tahu bahwa sejak pesan itu masuk, separuh kirinya terasa lebih berat. Seperti sedang menariknya ke suatu arah.
Ia memilih untuk tidak pergi.
Itu adalah kesalahan.
Malamnya, separuh kirinya mulai berbicara. Tidak dengan suara, tetapi Darmawan bisa mendengarnya. Seperti ingatan yang tiba-tiba memiliki suara sendiri.
"Kenapa kau tinggalkan aku di sana?"
Darmawan terdiam. Ia berada di ruang tamu. Istri sudah tidur.
"Kau tahu," kata separuh kirinya. "Kau tahu kau sengaja meninggalkanku."
Dan itu benar. Ia sengaja. Di stasiun itu, di saat tarikan itu terjadi, ia membiarkan separuh dirinya tertinggal. Bukan karena takut. Bukan karena lalai. Melainkan karena separuh itu adalah bagian yang meragukan. Bagian yang setiap pagi membuatnya bertanya: apakah ini hidup yang kau inginkan? Apakah ini kamu?
Ia membiarkan keraguan itu tertinggal di stasiun. Ia pikir bisa hidup tanpa keraguan.
Namun keraguan tidak mati. Keraguan tumbuh menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang memiliki tangan dan kaki dan nafsu untuk kembali.
Sekarang separuh kirinya tidak hanya berat. Ia mulai mengambil alih.
Darmawan mencoba meraih ponsel, tetapi tangan kirinya menahan tangan kanannya.
"Kita tidak bisa hidup terpisah," kata separuh itu. "Dan kau tidak bisa hidup utuh."
Konfliknya bukan lagi pada pilihan pergi atau tidak pergi ke stasiun. Konfliknya adalah: jika ia pergi mengambil separuh dirinya, ia akan kembali menjadi utuh—tetapi utuh dengan keraguan yang ia benci. Jika ia tidak pergi, lambat laun separuh itu akan mengambil seluruh tubuhnya, dan ia akan lenyap, digantikan oleh versi dirinya yang tidak pernah berhenti bertanya.
Tidak ada pilihan yang menyelamatkannya.
Darmawan duduk di lantai. Di luar jendela, langit mulai memutih. Subuh akan datang.
Dan di stasiun yang sepi, sesuatu menunggu untuk kembali ke dalam tubuh yang menolaknya.
Dunia tidak pernah memberi jawaban. Hanya soal-soal yang harus dijawab dengan anggota tubuh yang tersisa.
Darmawan berdiri. Kakinya membawanya ke pintu.
Ia tidak tahu kaki siapa yang melangkah.
Komentar
Posting Komentar