LUKISAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Lukisan itu sudah menggantung di ruang tamu sejak aku berusia tujuh tahun. Aku tidak ingat siapa yang membelinya atau kapan tepatnya dia tiba. Yang aku ingat: lukisan itu selalu ada, selalu setengah jadi, selalu seperti sedang bernapas. Setiap pagi, ketika cahaya matahari menyentuh kanvas, aku melihat detail baru yang tidak ada kemarin. Sesosok burung di dahan yang sebelumnya kosong. Setangkai bunga yang sebelumnya tidak mekar. Atau, kadang-kadang, sesuatu menghilang. Langit yang tadinya biru menjadi kelabu. Awan yang tadinya tebal menjadi tipis seperti usapan kuas yang sengaja dihapus.

"Ayah," kataku suatu malam, ketika aku sudah cukup besar untuk bertanya, "lukisan itu berubah-ubah."

Ayah tidak menoleh dari korannya. "Semua lukisan berubah, Nak. Tergantung siapa yang melihatnya."

"Namun burung itu tidak ada kemarin."

Ayah diam sejenak. Lalu dia melipat korannya. Dia menatap lukisan itu dengan mata yang sama seperti ketika dia menatap ibuku sebelum ibu pergi—sayu, penuh tanya, tetapi tidak berani mendekat.

"Kemarin kau melihat apa?" tanyanya.

"Aku melihat perempuan."

"Perempuan seperti apa?"

"Perempuan dengan kerudung merah. Dia berdiri di bawah pohon itu."

Ayah tersenyum pahit. "Lukisan itu tidak pernah berubah, Nak. Yang berubah adalah matamu. Dan ketika matamu berubah, kau melihat hal-hal yang sebenarnya sudah lama ada."

Aku tidak mengerti saat itu. Aku baru mengerti sepuluh tahun kemudian, ketika Ayah meninggal, dan aku mewarisi lukisan itu, dan seorang perempuan tua datang ke rumahku untuk membelinya dengan harga yang tidak masuk akal.

"Lukisan ini bukan untuk dijual," kataku.

"Lukisan ini bukan untuk dimiliki," jawab perempuan tua itu. "Lukisan ini adalah penjara. Dan kau—" dia menatap mataku dengan tajam, "—kau adalah sipir yang tidak tahu bahwa dirinya juga tahanan."

---

Setelah Ayah meninggal, aku mulai melukis. Bukan karena aku berbakat, melainkan karena aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadaku, dan satu-satunya cara untuk mengeluarkannya adalah melalui kuas dan kanvas. Aku melukis apa pun. Pemandangan. Potret diri. Buah-buahan di meja. Namun, setiap lukisan yang selesai aku buat, keesokan harinya akan berubah. Seperti lukisan tua di ruang tamu itu. Detail-detail bermunculan. Kadang tambahan, kadang pengurangan. Dan yang paling aneh: semua lukisanku, lambat laun, mulai menyerupai lukisan itu. Warna yang sama. Komposisi yang sama. Bahkan goresan kuas yang sama, meskipun aku yakin aku tidak pernah meniru gaya itu.

Suatu malam, aku tidak bisa tidur. Aku turun ke ruang tamu. Lampu mati. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, jatuh tepat di atas lukisan tua itu.

Lukisan itu bergerak.

Bukan gerakan seperti film. Gerakan lambat, seperti air yang mengalir di atas kaca. Pohon itu bergoyang tanpa angin. Burung itu mengepakkan sayap, sekali, dua kali, lalu terbang keluar dari kanvas—meninggalkan bekas berupa lubang kecil di permukaan lukisan. Lubang itu menganga hitam, seperti mata yang terbuka lebar karena kaget.

"Kau melihatnya," kata suara dari balik lukisan.

Aku mundur selangkah. "Siapa di sana?"

Lukisan itu bergetar. Lalu dari balik kanvas, seorang perempuan keluar. Bukan keluar seperti orang melewati pintu. Keluar seperti dia sudah selalu ada di sana, di permukaan lukisan, dan sekarang dia memilih untuk muncul ke dunia tiga dimensi. Wajahnya familier. Aku pernah melihatnya di mana. Di lukisan itu. Kerudung merah. Berdiri di bawah pohon.

"Kau," bisikku.

"Aku," katanya. "Namaku El. Dan aku sudah menunggumu selama dua puluh tiga tahun. Sejak kau pertama kali menatap lukisan ini dan bertanya-tanya mengapa burung itu tidak ada kemarin."

"Kau ... kau makhluk apa?"

El tertawa. Tawanya seperti suara kuas yang menggores kanvas. "Aku bukan makhluk. Aku adalah bagian dari dirimu yang kau buang. Yang kau tinggalkan di dalam lukisan itu ketika kau berusia tujuh tahun, karena kau terlalu takut untuk menjadi utuh."

---

Aku duduk di sofa. El duduk di seberangku, di kursi favorit Ayah. Dia tidak duduk seperti manusia normal. Tubuhnya terlalu rata, seperti dua dimensi yang dipaksakan menjadi tiga. Pinggirannya sedikit buram, seperti masih ada sisa-sisa kanvas yang menempel.

"Ceritakan semuanya," kataku.

El menghela napas. "Waktu kau berusia tujuh tahun, kau memiliki imajinasi yang terlalu kuat. Kau bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Kau bisa menciptakan dunia di atas kanvas dengan hanya memikirkannya. Suatu hari, kau melukis sebuah pemandangan. Pohon. Langit. Burung. Dan seorang perempuan kecil dengan kerudung merah. Perempuan itu adalah dirimu yang lain—dirimu yang bebas, yang tidak takut, yang berani bermimpi."

"Aku tidak ingat."

"Karena kau sengaja melupakannya. Ayahmu—ayah yang kau cintai—suatu hari melihat lukisan itu dan berkata, 'Lukisan ini terlalu bagus untuk anak seusiamu. Pasti kau mencontek.' Kata-katanya meracuni dirimu. Kau percaya bahwa bakatmu tidak nyata. Kau percaya bahwa imajinasimu adalah kebohongan. Maka kau buang semua itu ke dalam lukisan. Kau buang aku. Perempuan kecil dengan kerudung merah. Dan kau memilih menjadi anak biasa. Anak yang tidak istimewa. Anak yang aman."

Aku terdiam. Kenangan itu mulai muncul, samar-samar, seperti lukisan yang baru mulai kelihatan bentuknya setelah ditimpa cat selama bertahun-tahun.

"Ayah berkata begitu?" bisikku.

"Dan kau memaafkannya. Akan tetapi, kau tidak pernah memaafkan dirimu sendiri. Karena kau tahu kau mengubur bagian terbaikmu di dalam lukisan itu. Dan setiap hari, selama dua puluh tiga tahun, kau melihat lukisan itu dan bertanya-tanya mengapa burung muncul dan menghilang—padahal yang muncul dan menghilang adalah kau. Versi-versi dirimu yang lain, yang mencoba keluar, tetapi tidak bisa karena kunci lukisan itu hanya ada di tanganmu."

"Aku tidak punya kunci."

El tersenyum. "Kuncinya adalah keberanian untuk menerima bahwa kau memang istimewa. Dan itu—" dia menunjuk ke dadaku, "—selama ini kau sembunyikan di balik rasa bersalah karena tidak cukup baik di mata ayahmu."

---

Malam itu, setelah El kembali ke dalam lukisan, aku tidak bisa tidur. Aku mengambil kuas dan kanvas baru. Aku melukis. Bukan pemandangan, bukan potret. Aku melukis pintu. Pintu kayu tua dengan gagang kuningan. Aku melukisnya dengan detail yang luar biasa—setiap serat kayu, setiap goresan pada gagang, setiap bayangan yang jatuh di sekitarnya.

Ketika fajar tiba, pintu dalam lukisan itu terbuka.

Bukan pintu yang kulukis terbuka, melainkan pintu yang nyata terbuka. Di dinding ruang tamuku, tepat di samping lukisan tua itu, sebuah pintu muncul. Kayu tua. Gagang kuningan. Persis seperti yang kulukis.

Aku berdiri di depan pintu itu. Tanganku gemetar saat menyentuh gagangnya.

Aku membukanya.

Di balik pintu: sebuah lorong. Pendek. Hanya beberapa meter. Dan di ujung lorong, sebuah ruangan. Ruangan itu adalah studio lukis. Namun bukan studio lukis biasa. Dindingnya tertutup kanvas. Ratusan kanvas. Mungkin ribuan. Setiap kanvas adalah lukisan yang pernah aku buat—lukisan yang kukira sudah aku buang, sudah aku bakar, sudah aku lupakan. Semuanya ada di sini. Tersusun rapi. Terawat. Seperti museum pribadiku.

Di tengah ruangan, seorang laki-laki berdiri. Punggungnya menghadapku. Rambutnya putih seluruhnya. Dia memegang kuas. Dia sedang melukis.

"Ayah?" bisikku.

Laki-laki itu berbalik. Wajahnya bukan wajah Ayah. Wajahnya adalah wajahku. Akan tetapi, lebih tua. Lebih lelah. Dengan mata yang sama persis dengan mataku ketika aku melihat lukisan tua itu di pagi hari.

"Kau akhirnya datang," katanya. Suaranya suaraku. Namun suara yang sudah berbicara kepada dirinya sendiri terlalu lama.

"Siapa kau?"

"Kau. Akan tetapi kau yang memilih untuk menjadi Ayah. Setelah Ayah meninggal, kau begitu hancur sehingga kau menciptakan aku—versi dirimu yang memerankan Ayah—agar kau bisa terus meminta maaf kepadanya. Agar kau bisa terus mendengar kata-kata 'kamu cukup' dari seseorang yang wajahnya mirip Ayah."

"Namun Ayah sudah mati."

"Dan kau tidak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Maka kau ciptakan aku. Di sini. Di ruang ini. Di balik pintu yang kau lukis sendiri. Dan setiap malam, ketika kau tertidur, kau datang ke sini sebagai pelukis cilik yang dulu, dan kau melukis kenangan-kenangan palsu tentang Ayah yang baik, Ayah yang mendukung, Ayah yang tidak pernah meragukan bakatmu."

Aku menangis. "Jadi, Ayah tidak pernah berubah? Dia tetap meragukanku sampai dia mati?"

Laki-laki tua dengan wajahku itu menghela napas. "Ayah mencintaimu, tetapi Ayah tidak tahu caranya mencintai anak yang berbakat. Karena Ayah sendiri tumbuh sebagai anak yang bakatnya diinjak-injak oleh kakekmu. Dia hanya mengulang apa yang dia alami. Bukan karena dia jahat, melainkan karena dia tidak tahu cara lain."

"Aku memaafkannya."

"Kau memaafkannya tetapi kau tidak memaafkan dirimu sendiri karena merasa kecewa kepadanya. Kau pikir, jika kau kecewa kepada Ayah, berarti kau anak durhaka. Maka kau sembunyikan kekecewaan itu. Di sini. Di ruang ini. Di balik lukisan-lukisan yang tidak pernah selesai."

---

Aku berjalan menyusuri ruangan itu. Kanvas demi kanvas. Lukisan demi lukisan. Semua lukisan adalah tentang Ayah. Ayah tersenyum. Ayah memelukku. Ayah mengajariku melukis. Namun tidak ada satu pun lukisan yang menggambarkan Ayah yang meragukanku. Tidak ada satu pun yang menggambarkan Ayah yang berkata, "Kau pasti mencontek."

"Kau hanya melukis yang baik-baik," kata laki-laki tua itu. "Kau tidak pernah berani melukis yang buruk. Karena kau takut jika kau melukis kenangan buruk, kenangan buruk itu menjadi nyata."

Aku berhenti di depan satu kanvas. Kanvas itu kosong. Akan tetapi, tidak benar-benar kosong. Ada coretan tipis di sudutnya. Coretan yang membentuk sebuah kalimat.

"Ayah tidak pernah bilang 'aku bangga kepadamu'. Bahkan di ranjang kematiannya, dia hanya bilang 'jaga lukisan itu'."

Aku menutup mata. Air mata mengalir. Aku ingat momen itu. Rumah sakit. Ayah terbaring lemah. Aku memegang tangannya yang kurus. Dan Ayah membuka mata untuk terakhir kalinya. Aku menunggu. Aku berharap. Aku membutuhkan kata-kata itu.

Namun Ayah hanya berkata, "Nak ... jaga lukisan itu."

Bukan "aku bangga kepadamu".

Bukan "aku mencintaimu".

Hanya "jaga lukisan itu".

Dan selama sepuluh tahun setelah kematiannya, aku menjaga lukisan itu. Bukan karena aku mencintai lukisan itu, melainkan karena itu adalah satu-satunya pesan terakhir Ayah. Dan jika aku mengabaikan lukisan itu, berarti aku mengabaikan Ayah. Berarti aku durhaka.

Aku membuka mata.

"Aku tidak perlu menjaga lukisan itu," kataku, pelan.

Laki-laki tua itu mengangguk.

"Aku tidak perlu menjadi pelukis yang Ayah inginkan."

Laki-laki tua itu tersenyum.

"Aku bisa menjadi pelukis yang aku inginkan. Bahkan jika itu berarti Ayah tidak akan pernah bilang 'aku bangga kepadamu'. Bahkan jika itu berarti aku harus kecewa kepadanya. Bahkan jika itu berarti aku harus menerima bahwa orang yang kucintai bisa saja tidak sempurna."

Laki-laki tua itu—diriku yang lebih tua—mulai pudar. Seperti lukisan yang terkena air. Warna-warnanya luntur. Bentuknya meleleh. Dan di tempat dia berdiri, sekarang hanya ada satu kanvas kecil. Kanvas itu berisi lukisan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, sedang tersenyum, memegang kuas.

Aku mengambil kanvas itu.

Aku membawanya keluar dari ruangan.

Aku melewati lorong pendek.

Aku melewati pintu kayu dengan gagang kuningan.

Aku kembali ke ruang tamuku.

---

Aku meletakkan kanvas kecil itu di samping lukisan tua. Lalu aku mengambil kuas dan cat minyak. Aku mulai melukis. Bukan di kanvas baru. Di atas lukisan tua itu. Langsung di atas permukaannya.

Aku melukis wajah Ayah, tetapi bukan wajah Ayah yang ideal. Wajah Ayah yang asli. Dengan kerutan di keningnya. Dengan bibir yang tipis dan jarang tersenyum. Dengan mata yang sayu karena dia sendiri tidak tahu cara mencintai dengan benar.

El keluar dari lukisan itu. Dia berdiri di sampingku, diam, menatap apa yang kulakukan.

"Kau merusaknya," katanya.

"Aku menyelesaikannya," jawabku. "Lukisan ini tidak pernah selesai karena aku tidak pernah berani melukis yang sebenarnya. Selama dua puluh tiga tahun, lukisan ini menunggu kebenaran. Bukan kebenaran tentang Ayah, melainkan kebenaran tentang perasaanku sendiri: bahwa aku bisa mencintai Ayah dan kecewa kepadanya pada saat yang sama."

Ketika aku selesai, lukisan itu berbeda. Tidak lebih indah. Tidak lebih buruk. Hanya berbeda. Lebih berat. Lebih rumit. Ada sesuatu di dalamnya yang dulu tidak ada: kejujuran.

Dan untuk pertama kalinya, lukisan itu berhenti bernapas. Berhenti berubah. Berhenti menambahkan burung atau menghilangkan awan.

Lukisan itu mati. Menjadi lukisan biasa.

"Akhirnya," bisik El.

Dia mulai pudar. Juga. Seperti laki-laki tua di ruangan itu. Seperti semua versi diriku yang tidak lagi kubutuhkan.

"Kau akan pergi?" tanyaku.

"Aku sudah tidak diperlukan. Kau tidak perlu lagi menyembunyikan dirimu di dalam lukisan. Kau tidak perlu lagi menciptakan aku sebagai pelarian. Kau utuh sekarang. Utuh tidak berarti sempurna. Utuh berarti menerima semua bagian—yang baik, yang buruk, yang menyenangkan, yang menyakitkan."

El tersenyum. Senyum yang sama seperti di lukisan dulu, ketika aku masih tujuh tahun dan tidak tahu bahwa suatu hari nanti aku harus memilih antara menjadi aman atau menjadi nyata.

"Aku akan merindukanmu," kataku.

"Kau tidak perlu. Karena aku tidak pergi ke mana-mana. Aku hanya berubah. Menjadi bagian dari dirimu yang tidak perlu dipisahkan lagi. Aku adalah keberanianmu untuk melukis kebenaran. Dan selama kau terus melukis dengan jujur, aku ada di setiap goresan kuasmu."

Dan dia pergi. Bukan seperti menghilang, melainkan seperti warna yang meresap ke dalam kanvas. Menjadi satu. Menjadi latar. Menjadi sesuatu yang tidak terlihat tetapi selalu ada.

---

Sekarang, lukisan itu tidak lagi menggantung di ruang tamu. Aku memindahkannya ke kamar tidurku. Di samping tempat tidur. Jadi, setiap pagi, ketika aku membuka mata, aku melihat wajah Ayah yang asli. Dengan kerutan di keningnya. Dengan bibir tipis yang jarang tersenyum. Dengan mata sayu.

Aku tidak marah lagi.

Aku juga tidak sedih.

Aku hanya—menerima.

Bahwa cinta tidak selalu berbentuk kata-kata manis. Bahwa kebanggaan tidak selalu diucapkan. Bahwa Ayah mencintaiku dengan caranya sendiri—cara yang cacat, cara yang tidak sempurna, cara yang membuatku harus bertahun-tahun mencari validasi di dalam lukisan tua.

Namun sekarang, aku tidak perlu mencari lagi.

Aku cukup berdiri di depan kanvas kosong, memegang kuas, dan melukis apa pun yang aku mau. Tanpa takut Ayah akan berkata "kau mencontek". Tanpa takut Ayah tidak akan bangga.

Karena Ayah sudah mati.

Dan yang tersisa hanyalah aku.

Dan lukisan-lukisan yang tidak pernah selesai—sampai aku memutuskan untuk menyelesaikannya dengan cara yang paling jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI