MEMORIAM YANG TAK PERNAH MATI

Aru baru saja membaca namanya sendiri di daftar mahasiswa yang akan "dihilangkan".

Bukan dibunuh. Bukan ditangkap. Dihilangkan. Sebuah kata kerja tanpa objek, tanpa pelaku, tanpa waktu. Seperti orang yang dihilangkan bukanlah seseorang yang pernah hidup, melainkan sebuah kalimat yang salah ketik dalam naskah besar sejarah—cukup ditekan tombol delete, dan tidak ada yang akan ingat bahwa huruf itu pernah ada.

Masalahnya, Aru membaca daftar itu dari ponsel temannya, Bima, yang mendapatkannya dari seseorang yang mendapatkannya dari seseorang yang bekerja di suatu tempat yang tidak boleh disebut. Daftar itu tidak resmi. Tidak ada stempel, tidak ada tanda tangan, tidak ada kop surat. Namun, Aru tahu itu nyata karena tiga nama di atas namanya—Lisa, Andre, Kuncoro—sudah "hilang" minggu lalu. Rumah mereka kosong. Orang tua mereka tidak ingat punya anak. Teman sekelas mereka heran mengapa ada bangku kosong di ruang 407, tetapi tidak ada yang bisa menjelaskan siapa yang seharusnya duduk di sana.

Konfliknya bukanlah, apakah Aru akan melawan atau melarikan diri. Konfliknya adalah: Aru tidak yakin apakah ia pernah ada.

Sejak kecil, Aru memiliki keanehan: ingatannya tidak pernah cocok dengan ingatan orang lain. Ia ingat ibunya memasak sup ayam setiap Kamis malam. Ibunya bilang, "Kamu salah, sup ayam hanya saat Lebaran." Ia ingat pernah jatuh dari sepeda di depan rumah nenek, luka di lutut kirinya berdarah. Bekas lukanya ada di lutut kanan.

Dulu Aru mengira itu masalah saraf. Akan tetapi, setelah tiga tahun kuliah di Jurusan Sejarah, setelah membaca tentang damnatio memoriae—penghukuman agar seseorang tidak diingat—setelah belajar bagaimana rezim-rezim besar membangun kekuasaan di atas mayat-mayat ingatan yang dikubur hidup-hidup, Aru mulai sadar: mungkin ia bukan orang yang salah ingat. Mungkin ia orang yang berkali-kali "dihilangkan" tetapi gagal dihilangkan sepenuhnya. Mungkin ada sisa-sisa memorinya yang lolos, bocor ke masa kini, membuatnya hidup dalam dua lapis realitas: satu yang sudah dihapus, satu yang sedang dijalani.

Dan sekarang, namanya ada di daftar. Lagi.

"Kau harus kabur," kata Bima. Wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang ponsel. "Kau tahu apa yang terjadi kalau kau sampai dijemput."

Aru tersenyum. "Apa yang terjadi? Aku akan dilupakan? Aku sudah hampir tidak ingat diriku sendiri, Bim. Mungkin ini saatnya."

"Jangan gila."

"Atau mungkin ini saatnya aku menguji sesuatu," kata Aru, matanya menyipit ke arah jendela indekos yang menghadap ke timur, tempat matahari terbit di antara dua menara kembar milik kementerian yang tidak ada siapa pun berani menyebut namanya dengan lantang. "Selama ini aku hanya ingat ingatan yang salah. Sekarang aku ingin melihat apakah aku bisa membuat ingatan yang benar. Ingatan yang tidak bisa dihapus."

Bima menatapnya seperti melihat orang yang akan mati. "Apa rencanamu?"

Aru bangkit dari dipan. Ia meraih buku catatan biru—buku yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, buku yang berisi semua ingatan "salah" sejak ia kecil, semua versi sejarah yang tidak pernah terjadi menurut buku teks, semua nama yang sudah hilang tetapi masih ia ingat. Empat ratus tiga puluh tujuh halaman.

"Aku akan menulis sejarah versi lain," kata Aru. "Dan aku akan memastikan bahwa sejarah itu hidup. Bukan di arsip. Bukan di perpustakaan. Melainkan di dalam tubuh orang-orang yang membaca. Di dalam sel-sel mereka. Di dalam gen mereka. Sehingga untuk menghapusnya, rezim harus membunuh semua orang, bukan hanya aku."

"Itu tidak mungkin," bisik Bima.

"Itu tidak mungkin," ulang Aru, "karena kau dan semua orang diajari bahwa ketidakmungkinan itu nyata. Akan tetapi, siapa yang mengajari? Mereka yang berkuasa. Dan mereka yang berkuasa bisa salah. Bisa kalah. Bisa dihilangkan."

---

Aru memulai malam itu juga. Ia tidak tidur. Ia menulis di buku catatan biru—bukan dengan pena biasa, melainkan dengan tinta yang ia buat sendiri dari arang, getah pohon beringin, dan darahnya sendiri. Ia menusuk ujung jari telunjuknya dengan jarum pentul, meneteskannya ke dalam botol kecil berisi arang dan getah, lalu mengaduknya dengan sumbu yang ia ambil dari lentera tua peninggalan kakeknya.

Darahnya terasa aneh. Tidak panas, tidak dingin—tetapi seperti membisikkan sesuatu. Seperti mengingatkan Aru bahwa darah ini pernah ditumpahkan sebelumnya, di tempat lain, di waktu lain, untuk alasan yang sama.

Aru mulai menulis:

Pada tahun yang tidak boleh disebut, sekelompok mahasiswa di sebuah kota yang tidak boleh disebut namanya, memutuskan bahwa sejarah bukanlah milik mereka yang menulis, melainkan milik mereka yang mengingat.

Ia berhenti. Kalimat itu tidak asing. Ia pernah menulisnya. Atau seseorang pernah menulisnya untuknya. Atau ia akan menulisnya nanti, di masa depan yang belum terjadi, tetapi sedang terjadi sekarang karena waktu bukanlah garis lurus melainkan jerat yang melingkar di leher setiap orang yang berani mengingat.

Ia melanjutkan.

Mereka disebut pengacau. Mereka disebut penghasut. Mereka disebut musuh negara. Namun, nama asli mereka—nama yang diberikan ibu mereka, nama yang dipanggil di kamar indekos, nama yang diucapkan dalam doa sebelum tidur—itu semua telah dihapus. Kita tidak akan menyebutnya di sini, karena menyebut nama mereka justru memberi kepuasan pada para penghapus: lihat, kau masih ingat, padahal seharusnya kau lupa.

Kita akan menyebut mereka dengan julukan yang mereka pilih sendiri: PARA PENGINGAT.

Aru menggigit bibir. Tangannya sakit. Darah di jari telunjuknya sudah membeku. Ia tusuk lagi. Menulis lagi.

Para Pengingat tidak ingin merebut kekuasaan. Mereka tidak ingin membangun negara baru. Mereka hanya ingin satu hal: bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menghapus ingatan orang lain tentang cinta, tentang penderitaan, tentang janji yang dilanggar, tentang bendera yang dicabik-cabik lalu dijahit kembali dengan cara yang keliru sehingga lipatannya tidak pernah lagi sama.

Untuk keinginan sekecil itu, mereka dihilangkan. Satu per satu. Keluarganya lupa. Temannya lupa. Bahkan anjing peliharaannya lupa bahwa pernah ada tangan yang mengelus kepalanya setiap sore.

Namun, ada yang tidak pernah lupa: bumi tempat mereka berjalan. Rumput yang mereka injak. Pohon tempat mereka bersandar saat lelah. Bumi menyimpan ingatan dalam bentuk lain. Dalam getaran. Dalam frekuensi. Dalam denyut magnetik yang tidak bisa dihapus oleh dokumen atau peluru.

Aru menulis hingga jarinya kebas. Halaman keempat puluh. Kedelapan puluh. Seratus dua puluh. Ia tidak merasakan lelah. Ia tidak merasakan lapar. Ia hanya merasakan bahwa sesuatu sedang lahir dari ujung jarum pentul yang menusuk kulitnya—sesuatu yang lebih besar dari dirinya, lebih tua dari rezim yang berkuasa, lebih keras dari baja yang digunakan untuk membangun penjara bawah tanah.

Lampu kamar indekosnya berkedip. Mati. Hidup. Mati lagi. Lalu suara truk lewat di depan gang. Aru tahu itu bukan truk biasa. Itu truk tanpa plat nomor, dengan jendela gelap tak tembus pandang, yang selalu lewat setiap kali seseorang mulai menulis sesuatu yang tidak boleh ditulis.

Aru memejamkan mata. Ia terus menulis dalam gelap.

---

Pukul tiga dini hari, Bima kembali. Ia menerobos pintu indekos yang tidak terkunci. Wajahnya basah—bukan oleh air mata, melainkan oleh sesuatu yang lebih aneh: darah dari hidungnya yang mengalir deras tetapi tidak terasa sakit.

"Aru, hentikan," kata Bima. Suaranya datar. Tidak seperti biasanya.

"Kenapa?" Aru tidak mengangkat pena.

"Karena aku sudah membaca apa yang kau tulis. Dari halaman pertama."

"Namun, kau tidak pernah lihat buku ini."

"Aku membacanya dalam mimpiku, Aru. Semua orang di indekos ini membacanya dalam mimpi mereka malam ini. Itu artinya ... tintamu bekerja. Darahmu bekerja. Namun, itu juga artinya mereka akan tahu. Mereka sudah tahu. Dan jika mereka tahu, mereka akan datang bukan hanya untukmu, melainkan untuk semua yang memimpikan tulisammu."

Aru terdiam. Itu yang ia inginkan—tulisannya hidup dalam tubuh orang lain. Namun, ia tidak menyangka akan secepat ini.

"Mereka akan membunuh semua orang yang memimpikan tulisammu," kata Bima. "Bukan menghilangkan. Membunuh. Karena mimpi tidak bisa dihapus dengan amnesia paksa. Mimpi hanya bisa dihentikan dengan mematikan yang bermimpi."

Aru menatap Bima. Lalu ia sadar: Bima tidak benar-benar Bima. Bima sudah dihilangkan tiga jam yang lalu, ketika Aru sedang asyik menulis halaman seratus lima. Orang yang berdiri di depannya sekarang adalah sesuatu yang meminjam tubuh Bima untuk menyampaikan ancaman, atau mungkin sesuatu yang meminjam tubuh Bima untuk menyelamatkannya. Aru tidak bisa membedakan.

"Kau dari siapa?" tanya Aru.

Bima—atau bukan Bima—tersenyum. "Dari yang kau tulis. Dari halaman empat puluh dua, ketika kau bilang bumi menyimpan ingatan dalam bentuk getaran. Aku adalah getaran itu, Aru. Aku adalah ingatan yang tidak bisa dihapus. Aku datang untuk memberitahumu bahwa kau tidak sendirian. Namun juga untuk memberitahumu bahwa kau tidak akan selamat."

"Tidak apa-apa," kata Aru. "Aku tidak menulis untuk selamat."

---

Pagi itu, Aru tidak pergi ke kampus. Ia pergi ke stasiun kereta tua yang sudah tidak beroperasi sejak dua puluh tahun lalu—tempat yang menurut ingatan "salah"-nya, dulu menjadi lokasi pertemuan rahasia para mahasiswa yang menolak kebijakan penghapusan ingatan massal. Tidak ada catatan resmi tentang pertemuan itu. Tidak ada foto. Tidak ada nama. Akan tetapi, Aru ingat. Ia ingat dengan jelas: aula besar dengan lantai marmer hitam, jendela kaca patri bergambar seorang perempuan menari di atas lidah api, dan di tengah aula, sebuah panggung kecil tempat seorang perempuan bernama Surti membacakan manifesto yang dimulai dengan kalimat, "Kita tidak akan menang, tetapi kita akan diingat."

Aru tidak pernah bertemu Surti. Surti sudah "hilang" tiga puluh tahun sebelum Aru lahir. Namun Aru ingat wajahnya. Aru ingat suaranya. Aru ingat cara Surti memegang mikrofon seperti memegang anak kecil yang ketakutan. Dan itu aneh, sangat aneh, karena ingatan itu tidak mungkin dimiliki oleh seorang mahasiswa dua puluh tahun yang lahir satu dekade setelah Surti menghilang.

Kecuali—ingatan itu bukan ingatannya. Ingatan itu ditanamkan. Oleh seseorang. Atau oleh bumi itu sendiri.

Stasiun tua itu sekarang menjadi pasar loak ilegal. Pedagang-pedagang berjualan barang-barang yang tidak jelas asal-usulnya: jam dinding tanpa jarum, buku tanpa halaman, cermin yang tidak memantulkan apa pun kecuali bayangan orang yang sudah mati. Aru berjalan menyusuri lorong. Di ujung lorong, seorang pedagang tua dengan mata buta satu menawarkan kotak kayu kecil.

"Apa isinya?" tanya Aru.

"Semua nama yang sudah kau tulis di buku biru," kata pedagang itu. "Belilah, maka kau tidak perlu repot-repot mengingatnya."

"Saya tidak mau lupa."

"Kau tidak akan lupa. Kotak ini bukan penghapus. Kotak ini adalah penjaga. Kau taruh nama-nama itu di dalam, maka mereka akan aman. Tubuhmu tidak akan jadi sasaran."

Aru ragu. "Siapa kau?"

Pedagang itu tertawa. Suaranya serak seperti gesekan antara dua batu. "Aku Surti, Dik. Aku tidak pernah hilang. Aku hanya pindah ke tempat yang lebih aman."

Surti. Perempuan dari ingatan "salah" Aru. Perempuan yang matanya buta satu, yang kulitnya keriput seperti peta jalan yang sudah usang, yang tangannya gemetar memegang kotak kayu—tangannya sama persis dengan tangan yang dalam ingatan Aru memegang mikrofon di stasiun kereta tua tiga puluh tahun lalu.

"Ini jebakan," kata Aru.

"Ini keselamatan," kata Surti.

"Kotak itu akan membuat nama-nama itu sunyi. Diam. Tidak bisa berbicara. Tidak bisa berteriak. Dan jika mereka tidak bisa berteriak, maka mereka mati untuk selamanya."

Surti menghela napas. "Kau pintar, Dik. Sayangnya, kau juga naif. Terkadang mati untuk selamanya lebih manusiawi daripada hidup abadi dalam penyiksaan ingatan."

Aru mengambil kotak itu. Membukanya. Di dalamnya, tidak ada apa pun. Hanya kegelapan yang bergerak. Ia menutupnya kembali. Mengembalikannya ke tangan Surti.

"Maaf, Bu. Saya lebih suka menyiksa diri."

Surti tersenyum. Senyum yang sama persis dengan senyum di ingatan Aru, ketika Surti di atas panggung berkata, "Kita tidak akan menang."

---

Aru keluar dari stasiun. Di luar, langit berwarna oranye—bukan matahari terbit atau terbenam, melainkan warna yang tidak pernah ada dalam spektrum normal. Semua pedagang di pasar loak ikut keluar. Mereka berdiri berbaris di sepanjang rel yang sudah berkarat. Mereka menatap Aru. Semua matanya—yang buta, yang juling, yang normal—menatap Aru dengan ekspresi yang sama: harap yang putus asa.

"Kami adalah para Pengingat yang gagal," kata seorang perempuan muda dengan lengan baju berlubang. "Kami menulis sejarah kami sendiri. Namun kami tidak punya darahmu, Aru. Darah kami biasa. Tidak istimewa. Tulisannya hilang dalam sehari."

"Kami butuh tulisannu," kata seorang lelaki tua dengan janggut putih hampir menyentuh tanah. "Bukan untuk kami, melainkan untuk anak cucu kami yang bahkan belum lahir. Agar mereka tahu bahwa kami pernah ada."

Aru menatap mereka satu per satu. Lima puluh delapan orang. Mungkin dulu ribuan. Namun ribuan sudah dihilangkan, dan yang tersisa hanyalah mereka yang ingatannya begitu keras kepala sehingga gagal dihapus sepenuhnya—seperti dirinya.

"Bukan tinta darahku yang membuat tulisan itu abadi," kata Aru pelan. "Melainkan kemauan kalian untuk terus mengingat meski sakit. Kalian tidak butuh aku. Kalian butuh percaya bahwa ingatan kalian sendiri cukup."

"Akan tetapi, buktinya tidak cukup!" teriak seorang anak laki-laki tidak lebih dari dua belas tahun. "Kami lupa terus! Setiap hari kami lupa sedikit! Aku lupa nama ibuku kemarin! Aku harus menulisnya di tangan supaya ingat, tetapi tulisannya hilang kalau kuyup!"

Aru membeku. Anak itu mirip dirinya. Dua puluh tahun lalu. Duduk di sudut ruang tamu, menulis nama ibunya di telapak tangan dengan bolpoin merah, karena ia takut suatu hari nanti ia akan bangun dan tidak tahu siapa perempuan yang memberinya susu setiap pagi.

"Baiklah," kata Aru. "Aku akan menulis untuk kalian. Akan tetapi, bukan di buku biruku. Buku itu sudah hampir penuh. Aku akan menulis ... di sini."

Aru menunjuk ke tanah. Tanah stasiun tua yang retak, ditumbuhi rumput lalang, bercampur kerikil dan debu. Ia berlutut. Mengeluarkan jarum pentul yang sama dari saku jaketnya. Menusuk jari telunjuknya. Mulai menulis di tanah:

HARI INI, TANGGAL YANG TIDAK AKAN KAMU INGAT TETAPI TUBUHMU AKAN TAHU, ADA LIMA PULUH SEMBILAN ORANG YANG BERDIRI DI STASIUN TUA INI.

Ia berhenti. Lalu melanjutkan.

EMPAT PULUH TIGA TAHUN YANG LALU, ADA SERIBU LIMA RATUS ORANG DI TEMPAT YANG SAMA. MEREKA DISEBUT PENGACAU. MEREKA DIHILANGKAN. NAMANYA HILANG. WAJAHNYA HILANG.

NAMUN TANAH INI TIDAK LUPA.

Aru menulis hingga jarinya remuk. Hingga darahnya habis. Hingga langit oranye itu berubah menjadi merah, lalu ungu, lalu hitam. Lima puluh sembilan orang itu menatapnya tanpa berkedip. Tanah mulai bergetar. Getaran kecil di awal, lalu semakin keras, seperti ada sesuatu yang terbangun dari tidur yang sangat panjang.

---

Aru tidak sadar kapan ia pingsan. Ketika ia membuka mata, ia berada di sebuah ruangan putih bersih. Bukan rumah sakit. Bukan penjara. Sebuah ruangan tanpa jendela, tanpa pintu, dengan satu meja besi di tengah. Di atas meja, buku catatan birunya terbuka di halaman pertama. Akan tetapi, tulisannya sudah berbeda. Bukan tulisannya. Tulisan orang lain. Mungkin tulisan mereka yang berkuasa.

Aru membaca:

Atas nama stabilitas nasional dan ketenteraman bersama, dengan ini dinyatakan bahwa Aru, mahasiswa Jurusan Sejarah, tidak pernah ada. Seluruh dokumen kependudukan atas namanya dinyatakan tidak sah. Seluruh rekam jejak akademiknya dinyatakan sebagai hasil manipulasi data. Seluruh individu yang mengaku mengenalnya dimohon untuk melaporkan diri guna mendapat reorientasi ingatan.

Keputusan ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

Ditetapkan di: [lokasi dihapus]
Pada: [tanggal dihapus]
Atas nama: [nama dihapus]

Aru tertawa. Tertawa hingga air matanya keluar. Bukan karena putus asa. Bukan karena marah. Melainkan karena ia sadar: semakin tegas mereka menyatakan bahwa ia tidak pernah ada, semakin jelas bahwa ia sangat ada. Tidak ada yang perlu dihapus kecuali sesuatu yang mengancam. Dan ia, dengan buku catatan biru dan darahnya yang aneh, telah menjadi ancaman.

Pintu muncul. Seorang perempuan masuk. Ia tidak mengenakan seragam—hanya kaus oblong lusuh dan celana jin belel. Ia duduk di seberang meja, di hadapan Aru.

"Halo, Aru," katanya. "Namaku Surti. Surti yang asli. Bukan yang di stasiun tadi."

Aru mengerutkan dahi. "Kau ... kau Surti? Namun kau masih muda. Kau seumurku."

"Karena aku tidak pernah tua, Aru. Aku mati tiga puluh tahun lalu. Tubuhku mati, tetapi ingatanku ... ingatanku dititipkan ke tanah. Ke pohon. Ke sungai. Dan tiga puluh tahun kemudian, ketika seorang anak laki-laki lahir dengan keanehan—ingatannya tidak pernah cocok dengan ingatan orang lain—aku tahu tanah itu memilih satu tubuh lagi untuk menampung ingatan para Pengingat."

"Tubuhku," bisik Aru.

"Tubuhmu," kata Surti. "Kau bukan Aru, Aru. Kau adalah aku. Kau adalah Lisa, Andre, Kuncoro. Kau adalah seribu lima ratus orang di stasiun tua itu. Kau adalah ingatan kolektif yang mengambil wujud manusia agar bisa menulis ulang sejarah dengan tangan yang hidup."

Aru menutup wajahnya. Ia ingin menangis, tetapi air matanya tidak mau keluar. Mungkin karena ia sudah terlalu banyak kehilangan cairan dari jari-jarinya. Atau mungkin karena ia sadar: tidak ada yang namanya "Aru". Yang ada hanyalah sebuah proyek. Sebuah kendaraan. Sebuah surat yang dikirim oleh orang mati kepada orang yang belum lahir, berisi instruksi untuk tidak pernah lupa.

"Aku mau keluar," kata Aru.

"Tidak bisa," kata Surti. "Ini bukan penjara. Ini rahim. Kau sedang dilahirkan untuk kedua kalinya. Dan setelah ini, kau akan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun. Bukan karena kau kebal, melainkan karena kau sudah tersebar. Di tanah yang kau tulis. Di darah yang kau teteskan. Di hati lima puluh sembilan orang yang berdiri bersamamu di stasiun."

"Lalu ... aku mati?"

"Kau hidup," kata Surti. "Untuk pertama kalinya. Karena sebelumnya kau hanya hidup dalam ingatan orang lain. Sekarang, kau adalah ingatan itu sendiri."

---

Di stasiun tua, lima puluh sembilan orang masih berdiri di tempat Aru menulis. Tanah tempat Aru menulis dengan darahnya telah berubah. Tidak ada lagi rumput lalang. Tidak ada lagi kerikil. Yang ada hanyalah sebuah lingkaran sempurna dari tanah hitam legam, dan di tengah lingkaran itu, tumbuh sebuah pohon kecil. Bukan pohon beringin. Bukan pohon mangga. Pohon yang tidak pernah dilihat siapa pun sebelumnya, dengan daun berbentuk seperti telapak tangan manusia, dan di setiap telapak daun itu, tertulis satu nama.

Lima puluh sembilan orang itu membaca nama-nama itu. Ada yang menangis. Ada yang tertawa. Ada yang berlutut.

Lisa. Andre. Kuncoro. Dan seribu lima ratus nama lain yang sudah tiga puluh tahun tidak disebut.

Dan di dahan tertinggi pohon itu, tergantung sebuah buku catatan biru, halamannya berkibar tertiup angin—padahal tidak ada angin di stasiun tua itu. Setiap orang yang membaca buku itu akan lupa dalam waktu satu jam. Namun tubuh mereka akan mengingat. Tulang mereka akan mengingat. Darah mereka akan mengingat.

Dan di suatu tempat, di ruangan putih tanpa jendela, Aru—atau apa pun namanya sekarang—tersenyum. Ia tidak tahu apakah ia sedang hidup, mati, atau sedang diimpikan oleh seorang anak kecil yang takut lupa nama ibunya. Akan tetapi, ia tahu satu hal:

Sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi. Dan suatu hari, ia akan lahir lagi. Dengan nama yang berbeda. Dengan wajah yang berbeda. Namun dengan kemarahan yang sama, dengan cinta yang sama, dengan tulisan yang—sekali lagi—akan ditentang, dihapus, diperjuangkan, dan pada akhirnya, diingat.

---

Di ibu kota, di sebuah ruangan rapat bawah tanah yang tidak terdeteksi peta mana pun, seorang jenderal duduk di kursi kepalanya. Di depannya, sebuah laporan setebal tiga ratus halaman. Laporan itu berisi satu kesimpulan yang membuatnya tidak bisa tidur selama tiga malam:

Kita tidak bisa menghapus mereka. Karena setiap kali kita menghapus, justru kita yang menciptakan ingatan baru tentang penghapusan itu. Satu-satunya cara untuk membuat mereka benar-benar tidak ada adalah dengan tidak pernah mengakui bahwa mereka pernah ada. Akan tetapi, dengan menandatangani perintah penghilangan, kita justru mengakui keberadaan mereka. Kita berada dalam paradoks yang kita ciptakan sendiri.

Solusi: tidak ada. Kita kalah sebelum perang dimulai. Kita hanya tidak tahu.

Jenderal itu meremas laporan itu. Lalu membakarnya. Lalu memanggil ajudannya.

"Tambah dua ribu nama ke daftar penghilangan bulan depan," katanya.

"Baik, Pak. Atas nama siapa?"

Jenderal itu terdiam. Lalu menjawab, "Atas nama ketakutan."

Di luar, di atas tanah yang ditulisi darah, pohon aneh itu terus tumbuh. Setiap hari, setengah sentimeter. Tidak lebih, tidak kurang. Pada kecepatan itu, seribu tahun lagi, rantingnya akan menyentuh langit-langit ruang rapat bawah tanah itu.

Mungkin saat itulah mereka sadar: pohon tidak bisa dihilangkan.

Akar sudah tertanam terlalu dalam.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI