Menulis Ulang Waktu
Ketika nenek meninggal, dia meninggalkan aku sebuah mesin tik.
Bukan mesin tik biasa. Mesin tik ini tidak punya huruf di tutsnya. Yang ada hanyalah angka dari 1 sampai 31, dan dua tuts tambahan: satu bertuliskan ULANG, satu lagi bertuliskan HAPUS. Badannya terbuat dari kayu jati tua yang sudah hitam dimakan usia, dan di atas pita karbonnya—bukan pita hitam seperti mesin tik pada umumnya—pita itu berwarna putih bersih, seperti kanvas yang belum pernah disentuh kuas.
Nenek tidak pernah bilang mesin ini untuk apa. Sebelum meninggal, dia hanya berbisik, "Kalau kamu berani, tekan angka. Tapi ingat, waktu tidak suka diulang."
Aku pikir itu hanya omong kosong orang tua. Tapi malam itu, karena penasaran, aku duduk di depan mesin tik itu, memasukkan selembar kertas bergaris biru, dan menekan angka 17—tanggal 17 bulan lalu, ketika ibuku memutuskan untuk menikah lagi dengan pria yang aku benci.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya ingin membatalkan pernikahan itu. Aku ingin ibuku tidak bahagia jika kebahagiaannya berarti menerima pria yang pernah memukulku saat aku berusia 13 tahun.
Mesin tik itu bergerak sendiri. Suara tik tik tik seperti jarum jam yang berdetak mundur. Lalu kertas itu mulai berisi tulisan, bukan huruf—tapi angka, deretan angka yang tidak aku mengerti.
Dan dunia berubah.
1. Eksistensialisme yang Kehilangan Akar
Aku terbangun di ranjang yang sama, di kamar yang sama, tapi ibuku tidak sedang memasak di dapur. Dia duduk di ruang tamu, menatap foto pernikahannya dengan pria itu—foto yang seharusnya sudah dia sobek.
"Kamu bangun?" tanyanya. Suaranya datar. Matanya sembab, seperti baru saja berhenti menangis.
"Aku... aku baru saja," jawabku bingung. "Ma, hari ini tanggal berapa?"
"17 November. Sama seperti kemarin."
"Tahunnya?"
"Kamu kenapa, Le? Tahun 2023. Sudah seminggu sejak pernikahan ibu."
Aku menarik napas. Aku menekan angka 17 di mesin tik tadi malam. Aku ingin membatalkan pernikahan itu. Tapi pernikahan itu tetap ada. Yang berubah bukanlah masa lalu. Yang berubah adalah... sesuatu yang lain.
Aku pergi ke kamar. Mesin tik itu masih di meja. Kertas bergaris biru masih tergulung. Di atasnya, tertulis satu baris angka:
17 - 17 - 17 - 17
Aku tidak mengerti. Tapi di sudut kertas, ada tulisan tangan nenek—nenek yang sudah meninggal, tapi tulisannya seolah baru saja dibuat:
"Kamu tidak bisa mengubah masa lalu dengan menekan satu angka. Kamu hanya bisa mengulangnya. Selamanya."
2. Surealisme yang Haus Pengakuan
Aku mencoba lagi. Kali ini angka 8. Tanggal 8 Agustus 2010. Hari pertama aku masuk SMA. Hari di mana aku bertemu dengan perempuan yang akan menghancurkan hatiku bertahun-tahun kemudian. Aku ingin tidak pernah bertemu dengannya.
Mesin tik bergerak. Tik tik tik.
Aku terbangun. Lalu menyadari bahwa aku tidak pindah ke SMA lain. Aku tetap di SMA yang sama. Yang berbeda adalah: perempuan itu tidak menghancurkan hatiku. Dia tidak pernah mendekatiku. Sebaliknya, dia mendekati sahabatku. Dan sahabatku, yang dulu aku percaya, ternyata selama ini diam-diam membenciku. Kini, tanpa perempuan itu sebagai pemicu, kebencian sahabatku muncul dalam bentuk lain: dia menyebarkan rahasia keluargaku ke seluruh sekolah.
Aku pulang dengan wajah tertunduk. Ibu bertanya kenapa. Aku tidak bisa menjawab.
Di kamar, kertas bergaris biru itu sekarang bertuliskan:
8 - 17 - 8 - 17
Dan di bawahnya, tulisan nenek lagi:
"Waktu tidak suka diulang. Tapi waktu juga tidak suka dihindari. Setiap kali kamu menekan angka, waktu akan mencari celah untuk tetap menghasilkan penderitaan yang sama, hanya dengan cara yang berbeda. Selamat bermain, cucuku."
3. Absurdisme Gelap yang Tersenyum Miring
Aku marah. Aku menekan angka 1. Hari pertama aku lahir. Aku ingin tidak pernah dilahirkan.
Mesin tik bergerak sangat cepat. Tik tik tik tik tik. Suaranya seperti hujan es di atap seng. Kertas bergaris biru itu terisi penuh dengan angka 1, berulang-ulang, hingga hampir tidak ada ruang tersisa.
Dunia berputar.
Aku tidak terbangun di ranjang.
Aku tidak punya ranjang. Aku tidak punya tubuh. Aku tidak punya suara.
Aku adalah... kesadaran yang mengambang di dalam kekosongan. Tidak ada warna. Tidak ada suara. Tidak ada bau. Hanya aku, dan kesadaran bahwa aku tidak pernah ada.
Berapa lama aku di sana? Tidak ada waktu di tempat tanpa waktu. Tapi tiba-tiba, ada tangan. Tangan nenek. Tangan yang sama yang pernah mengusap kepalaku saat aku demam. Tangan itu meraihku—kesadaranku—dan menarikku keluar dari kekosongan.
Aku terbangun di depan mesin tik. Keringat dingin. Jantung berdebar seperti mau meledak.
Di kertas, tulisan baru:
"Kamu hampir berhasil. Jika kamu tidak dilahirkan, tidak ada masalah. Tapi juga tidak ada senyum. Tidak ada tawa. Tidak ada ibu yang memasak telur dadar untukmu. Kau mau itu?"
Di bawahnya, nenek menambahkan satu kalimat:
"Jangan pernah menekan angka 1 lagi. Aku tidak akan selalu bisa menjemputmu."
Aku memeluk mesin tik itu. Aku menangis. Bukan karena takut. Tapi karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa nenek—nenek yang sudah meninggal—masih ada. Di mana? Di dalam mesin ini. Di antara angka-angka. Di antara waktu-waktu yang gagal aku tulis ulang.
4. Plot Twist: Nenek Tidak Pernah Mati. Dia Terjebak di Dalam Mesin Tik.
"Nek," bisikku, "kamu di sana?"
Tidak ada jawaban dari kertas. Tapi mesin tik itu bergetar sedikit. Lalu tuts-tutsnya mulai bergerak sendiri, menekan angka-angka tanpa pola: 4 - 12 - 22 - 7 - 30 - 15.
Lalu berhenti.
Aku melihat kertas. Di sana, dalam huruf yang tidak sempurna karena terbentuk dari kumpulan angka yang dipaksa menjadi huruf, terbaca:
"Aku tidak mati. Aku hanya pindah. Ke sini. Ke ruang antara waktu. Dan aku tidak bisa keluar. Kamu satu-satunya yang bisa membebaskanku."
"Caranya?"
Tuts-tuts bergerak lagi. Kali ini lebih lambat, seperti orang yang sedang mengetik dengan sisa tenaga:
"Kamu harus menulis ulang kematianku."
"Kapan kamu mati?"
"Aku tidak mati. Itu yang harus kamu tulis ulang. Aku tidak pernah mati. Kamu yang memindahkanku ke sini dengan ketidaksengajaanmu saat kamu masih kecil. Kamu pernah bermain dengan mesin ini saat umur 7 tahun. Kamu menekan angka 24. Aku menghilang dari dunia. Keluarga bilang aku mati. Tapi aku di sini. Selama 27 tahun."
Aku terduduk. "Jadi selama ini... aku yang menyebabkan nenek hilang?"
"Bukan salahmu. Kamu masih kecil. Tapi sekarang kamu dewasa. Sekarang kamu bisa membetulkannya."
5. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Menulis Ulang Waktu Berarti Menghapus Dirinya Sendiri
"Caranya, Nek?"
"Kamu harus kembali ke tanggal 24. Bukan 24 bulan lalu, tapi 24 - 27 tahun yang lalu. 24 Februari 1996. Hari di mana kamu menekan angka itu. Kamu harus mencegah dirimu sendiri untuk menyentuh mesin ini."
"Tapi kalau aku mencegah diriku sendiri... apa yang terjadi padaku sekarang?"
Diam. Lalu kertas mulai berisi tulisan perlahan:
"Kamu akan terhapus. Karena jika kamu tidak pernah menyentuh mesin ini saat kecil, maka kamu tidak akan tahu tentang mesin ini. Kamu tidak akan tumbuh dengan rasa penasaran. Kamu tidak akan menulis ulang waktu apa pun. Kamu akan menjadi versi dirimu yang berbeda. Mungkin lebih bahagia. Mungkin lebih biasa. Tapi pasti bukan kamu yang sekarang. Kamu yang sekarang—kamu yang membaca kalimat ini—tidak akan pernah ada."
Aku membaca ulang kalimat itu tiga kali. "Berarti aku harus mati agar nenek bisa hidup?"
"Bukan mati. Tapi tidak pernah dilahirkan sebagai dirimu yang sekarang. Itu berbeda. Kematian adalah akhir. Ketidakterjadian adalah... tidak ada awalnya."
"Tidak ada bedanya, Nek. Bagiku, itu sama saja."
Diam lagi. Lebih lama. Lalu mesin tik bergetar. Lalu berhenti. Lalu bergerak lagi, sangat lambat, seperti mengetik dengan air mata:
"Maka jangan lakukan. Biarkan aku di sini. Aku sudah 27 tahun di sini. Aku bisa 27 tahun lagi. Aku rela."
6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Ibu Juga Ada di Dalam Mesin
Tiba-tiba, kertas bergaris biru itu mulai menulis sendiri tanpa tekanan dari tuts. Huruf-huruf muncul dari ujung kertas, seperti air yang merembes:
"Jangan dengarkan dia."
Aku mengenali tulisan itu. Tulisan ibu. Tapi ibu sedang di dapur. Bagaimana tulisannya bisa ada di sini?
"Ibu juga di dalam mesin. Bukan ibu yang di dapur. Ibu yang asli. Ibu yang kamu kenal sebelum menikah dengan pria itu. Ibu juga masuk ke sini saat kamu menekan angka 17 pertama kali. Ibu di dapur sekarang hanya bayangan. Tanpa ingatan. Tanpa jiwa. Hanya cangkang."
Aku bangkit. Aku berlari ke dapur. Ibu sedang memotong bawang. Matanya kosong. Tidak ada air mata. Tidak ada ekspresi. Hanya gerakan mekanis: potong, angkat, potong, angkat.
"Ibu?" panggilku.
Ibu menoleh. Tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Seperti boneka yang ditarik benangnya.
"Iya, Nak?" suaranya datar. Tidak ada nada.
"Kamu... kamu baik-baik saja?"
"Baik-baik saja. Kamu mau makan?"
Aku kembali ke kamar. Kertas bergaris biru sekarang penuh dengan tulisan, dari nenek dan ibu bergantian, seperti dua orang yang berebut berbicara:
"Dia benar, Le. Aku hanya cangkang."
"Jangan lepaskan dia. Biarkan aku di sini."
"Tapi cucuku, kamu tidak bisa hidup dengan ibuku yang hanya setengah."
"Aku bisa. Sudah 27 tahun aku di sini."
"Biar aku yang keluar. Kamu sudah tua, Bu."
"Kamu anakku. Tugas orang tua adalah melindungi anak, bukan sebaliknya."
Aku menekan tuts HAPUS. Semua tulisan di kertas hilang dalam sekejap. Kertas itu kembali bersih, putih, seperti kanvas yang belum pernah disentuh kuas.
"Nek," kataku. "Bu. Saya yang akan masuk."
7. Plot Twist Terakhir: Menulis Ulang Waktu Berarti Menjadi Waktu Itu Sendiri
Mesin tik itu diam. Tidak bergerak. Tidak bergetar.
Aku mengambil kertas baru. Aku memasukkannya ke mesin. Aku menekan angka 24. Tanggal di mana nenek masuk ke mesin. Lalu aku menekan angka 17. Tanggal di mana ibu masuk. Lalu aku menekan angka 8. Tanggal di mana sahabatku membenciku. Lalu aku menekan semua angka yang pernah aku tekan, satu per satu, tanpa takut.
Mesin tik bergerak kencang. Lebih kencang dari sebelumnya. Suaranya seperti badai. Kertas itu bergulung keluar dengan sendirinya, memanjang, memanjang, hingga melingkar di lantai seperti sungai yang tidak tahu arah.
Dan di tengah suara itu, aku mendengar suara nenek dan ibu bersamaan:
"Jangan!"
Tapi sudah terlambat.
Tubuhku mulai transparan. Seperti bayangan yang kehilangan cahaya. Seperti kata-kata yang kehilangan makna.
Aku tersenyum. "Sekarang kalian berdua bisa keluar. Aku yang akan menggantikan kalian di sini. Di ruang antara waktu. Aku akan menjaga mesin ini. Aku akan menjaga agar tidak ada yang menekan angka lagi."
"Tapi kamu akan sendirian!" suara nenek.
"Kamu akan hilang!" suara ibu.
"Aku tidak akan hilang. Aku hanya akan menjadi waktu itu sendiri. Dan waktu—kalian tahu apa itu waktu?"
Mereka diam.
"Waktu bukan mesin. Waktu bukan angka. Waktu adalah... kesediaan untuk kehilangan. Aku rela kehilangan diriku agar kalian bisa menemukan diri kalian."
Tubuhku hampir sepenuhnya transparan. Tinggal tangan yang masih memegang tuts mesin tik.
"Pergilah, Nek. Pergilah, Bu. Hidup untukku. Karena aku tidak bisa hidup untuk diriku sendiri."
Epilog:
Dunia berputar.
Nenek terbangun di ranjangnya. Dia melihat langit-langit kamar yang sudah 27 tahun tidak dia lihat. Dia menangis.
Ibu—ibu yang asli, bukan cangkang—berdiri di dapur. Tangannya memotong bawang. Air matanya jatuh ke talenan. Bukan karena bawang. Tapi karena dia merasakan ada yang hilang. Ada yang kosong di rumah ini. Tapi dia tidak ingat apa.
Nenek keluar dari kamar. Ibu menoleh. Mereka berdua berpelukan. Tidak ada yang bicara. Tapi mereka tahu: ada seseorang yang mengorbankan dirinya. Seseorang yang dulu kecil, yang dulu punya senyum lebar, yang dulu suka telur dadar buatan ibu.
"Nak..." bisik ibu.
"Dia baik-baik saja," kata nenek. "Dia di tempat yang tidak bisa kita jangkau. Tapi dia akan selalu melihat kita. Setiap kali kita tertawa, dia tertawa. Setiap kali kita menangis, dia diam-diam menghapus air mata kita."
"Bagaimana kamu tahu?"
Nenek tersenyum. Dia memegang perutnya. Di dalam perutnya—bukan janin, tapi sesuatu yang hangat, sesuatu yang berdenyut seperti detak jantung mesin tik.
"Karena dia sekarang adalah waktu. Dan waktu tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya berubah bentuk."
Di kamar kosong, di atas meja usang, sebuah mesin tik kayu jati berdiri sunyi. Di atas pita karbonnya yang putih bersih, selembar kertas bergaris biru mulai menulis sendiri satu kalimat, perlahan, seperti seseorang yang tersenyum sambil menangis:
"Halo. Aku di sini. Aku tidak sendirian. Aku bersama kalian. Selamanya."
Tidak ada yang membacanya.
Tapi tidak apa-apa.
Karena menulis ulang waktu tidak membutuhkan pembaca.
Menulis ulang waktu hanya membutuhkan seseorang yang rela kehilangan segalanya agar orang lain bisa memiliki sesuatu.
Dan di ruang antara waktu, di antara detak dan detak, di antara angka 1 sampai 31, di sana aku duduk. Mengetik. Tersenyum.
Menjadi waktu itu sendiri.
Tik... tik... tik...
Komentar
Posting Komentar