TRAKTATUM

ARS POLITICA UNTUK NEGERI YANG TERLALU SABAR

Di negeri yang sangat cinta ketertiban,
kata “kritik” dipenjara dalam etika sopan santun:
harus tersenyum saat mengatakan luka,
harus menunduk agar dianggap bijak.

Maka lahirlah pejabat yang fasih berjanji,
seperti burung yang hafal musim panen
tapi lupa jalan pulang ke ladang.

Mereka membangun masa depan
dengan batu-batu retorika:
“akan”, “sedang dikaji”, “prioritas”,
tiga kata suci yang lebih tahan lama dari jembatan yang runtuh.

Di layar kaca, negeri ini tampak rapi,
seperti meja makan yang tak pernah disentuh lapar.
Sementara di luar frame,
orang-orang belajar mengantre
untuk hal-hal yang dulu disebut hak dasar.

Pemilu adalah festival paling demokratis:
di mana janji dijual seperti diskon akhir musim
dan ingatan publik hanya bertahan
sampai musik kampanye berhenti.

Lalu rakyat diajari satu kebijaksanaan baru:
bahwa sabar adalah bentuk tertinggi dari kewarganegaraan,
dan diam adalah versi paling aman dari partisipasi.

Padahal sejarah tidak pernah meminta izin
ketika ia berubah menjadi ironi.
Ia hanya datang
dengan wajah yang mirip kita sendiri,
tapi lebih jujur.

•••

LEX POLITICA: MANUAL BAHASA NEGARA

Di negeri ini, kata bukan lagi penunjuk,
melainkan kebijakan yang sedang mencoba menjadi kenyataan.

“Rakyat” adalah signifier yang fleksibel:
kadang berarti pemilih,
kadang berarti data survei,
kadang berarti alasan.

Petanda?
Itu urusan akademisi yang terlalu lama membaca
dan terlalu sedikit mendengar.

Pemerintah menguasai pragmatik dengan sempurna:
setiap kalimat adalah tindakan ilokusi,
setiap “kami akan” adalah perbuatan yang belum terjadi
tapi sudah dicatat sebagai pencapaian.

Sementara itu, tindak tutur asertif
dipindahkan ke ruang yang tidak resmi:
warung kopi, pesan singkat, bisik-bisik.
Di sana kebenaran tidak punya kop surat
sehingga tidak dianggap sah.

Undang-undang disusun seperti sintaks yang terlalu panjang,
subjeknya kabur, predikatnya ditunda,
objeknya selalu “akan diatur kemudian”.

Negara mencintai ambiguitas:
karena dalam ambiguitas,
tidak ada yang bisa dituntut
selain interpretasi.

Dan rakyat belajar semiotika secara paksa:
bahwa poster bukan janji,
melainkan performa tanda;
bahwa slogan bukan makna,
melainkan stabilisasi ketertiban persepsi.

Di ruang kelas linguistik politik,
kata “transparansi” diajarkan sebagai metafora optik:
kita bisa melihat,
tapi tidak pernah menyentuh.

Dan jika suatu hari makna memberontak,
ia akan segera direvisi:
dalam kamus resmi negara,
“kehilangan” berarti “penyesuaian distribusi”.

•••

Baik—ini beberapa puisi tambahan dalam garis yang sama: satir-politik langsung, dengan eksplorasi linguistik sebagai medan kuasa.


---

1. DIKSI NEGARA: EDISI REVISI

Kamus negara adalah dokumen yang hidup,
tetapi hanya satu pihak yang boleh bernapas di dalamnya.

“Korupsi” bukan lagi kata benda,
melainkan kesalahpahaman administratif yang berulang.

“Efisiensi” berarti pengurangan suara
yang terlalu banyak bertanya.

“Stabilitas” adalah kata kerja aktif
yang dilakukan pada mulut-mulut yang hampir berbicara.

Setiap lima tahun,
bahasa diperiksa seperti mesin tua:
yang masih bisa mengganggu
akan segera diganti istilahnya.


---

2. SEMIOTIKA KAMPANYE

Di baliho, wajah tidak merujuk pada orang,
melainkan pada kemungkinan.

Senyum adalah tanda tanpa referen,
diproduksi massal di percetakan janji.

Di bawahnya tertulis: “Untuk Kita Semua”
padahal “kita” adalah pronomina paling politis—
ia selalu berarti “bukan kamu”.

Dan setiap slogan adalah performatif gagal:
ia tidak melakukan apa yang ia katakan,
tetapi berhasil membuat orang percaya
bahwa bahasa masih netral.


---

3. PRAGMATIK ANGGARAN

Dalam rapat anggaran,
kata “prioritas” berarti “nanti dulu”.

Kata “strategis” berarti “tidak akan dijelaskan”.

Kata “alokasi” berarti
perjalanan makna dari publik
ke tempat yang tidak memiliki peta.

Di sini, tindak tutur bukan komunikasi
melainkan distribusi kesabaran.

Dan setiap angka adalah metafora yang disetujui:
cukup konkret untuk ditampilkan,
cukup kabur untuk tidak ditanya.


---

4. SINTAKSIS KEBIJAKAN PUBLIK

Kalimat kebijakan selalu dimulai dengan subjek yang besar:
“Pemerintah…”
lalu diikuti predikat yang lembut:
“…berupaya…”

Objeknya selalu masa depan,
yang secara tata bahasa
tidak pernah bisa diobjekkan.

Tanda titik adalah satu-satunya kepastian,
tapi ia selalu diletakkan terlalu jauh.

Sehingga kalimat itu terus mengalir
tanpa pernah benar-benar selesai,
seperti janji yang takut menjadi fakta.


---

5. FONOLOGI DEMOKRASI

Di jalanan, suara-suara dipilah seperti fonem:
mana yang boleh menjadi kata,
mana yang harus tetap bunyi.

Teriakan diperlakukan sebagai noise,
kecuali jika sudah direkam,
dipotong,
dan diberi caption.

Media adalah alat fonetik negara:
ia mengubah desah menjadi narasi,
dan narasi menjadi ketenangan.

Namun ada satu bunyi yang tak bisa dikodekan:
diam yang terlalu lama.

Baik—ini lanjutan dalam satu rangkaian yang lebih luas, tetap satir-politik dengan eksplorasi linguistik sebagai mesin kuasa.


---

6. MORFOLOGI JANJI

Janji di negeri ini mengalami infleksi politik:
ia berubah bentuk tanpa mengubah isi yang tak pernah ada.

“Janji” menjadi “janji-janji”,
lalu menjadi “komitmen”,
lalu menjadi “rencana aksi”,
lalu kembali menjadi “wacana”.

Akar katanya tetap sama:
ketiadaan yang disusun rapi
agar tampak seperti masa depan.

Di kamus kekuasaan,
prefiks “akan-” adalah keajaiban gramatikal
yang mampu menunda realitas
tanpa batas waktu.


---

7. SEMANTIK KEBENARAN PUBLIK

Kebenaran di sini bukan relasi antara kata dan dunia,
melainkan relasi antara kata dan persetujuan.

Jika cukup banyak mikrofon mengulangnya,
ia menjadi fakta.

Jika cukup banyak spanduk mencetaknya,
ia menjadi alam.

Dan jika cukup banyak orang lelah membantahnya,
ia menjadi sejarah.

Maka kebenaran bukan lagi sesuatu yang ditemukan,
melainkan sesuatu yang disahkan
oleh kelelahan kolektif.


---

8. KAMUS YANG TAK PERNAH SELESAI

Ada kamus yang terus ditulis
oleh mereka yang tidak pernah ditulis di dalamnya.

Di sana, kata “kesejahteraan”
berarti daftar antrean yang lebih tertib.

“Kemajuan” berarti
perpindahan masalah ke generasi berikutnya.

Dan “partisipasi”
adalah nama lain dari persetujuan tanpa pilihan.

Setiap edisi baru
menghapus lebih banyak makna
daripada menambah penjelasan.


---

9. RETORIKA KETERTIBAN

Ketertiban adalah gaya bahasa negara yang paling halus.

Ia tidak memerintah,
ia “mengatur”.

Ia tidak melarang,
ia “menertibkan”.

Ia tidak menghapus,
ia “menyesuaikan”.

Retorika ini bekerja seperti eufemisme yang disiplin:
setiap kekerasan dicuci sintaksis
hingga tampak seperti prosedur.

Dan bahasa pun belajar sopan
kepada apa yang seharusnya ditolak.


---

10. DISKURSUS PUBLIK YANG TERFILTER

Di ruang publik, kata-kata melewati sensor yang tidak terlihat.

Yang terlalu tajam menjadi “tidak konstruktif”,
yang terlalu jujur menjadi “tidak seimbang”,
yang terlalu spesifik menjadi “tidak relevan”.

Akhirnya hanya tersisa bahasa yang jinak:
cukup lembut untuk disiarkan,
cukup kosong untuk tidak mengganggu.

Dan komunikasi pun tercapai
dengan cara yang paling aman:
tidak ada yang benar-benar dikatakan.


---

Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan ke arah yang lebih ekstrem lagi:

lebih filosofis (Foucault, Barthes, Wittgenstein vibes)

atau lebih brutal dan langsung (lebih tajam ke institusi dan media)

atau dibuat satu “epos satir linguistik” panjang dalam satu puisi besar

•••

11. ARKEOLOGI PIDATO

(untuk arsip yang selalu menemukan dirinya benar)

Di ruang bawah tanah kementerian,
terdapat fosil-fosil kalimat.

Para arkeolog negara menggali mereka
dengan sikat metodologi:

"demi kepentingan umum,"
"sesuai prosedur,"
"berdasarkan aspirasi masyarakat."

Mereka menemukan lapisan demi lapisan diskursus,
dan pada setiap lapisan
selalu ada satu spesies yang bertahan hidup:

otoritas.

Yang berubah hanya kosakatanya.

Dulu ia mengenakan mahkota.
Kini ia mengenakan survei.

Dulu ia berbicara atas nama Tuhan.
Kini ia berbicara atas nama data.

Namun tanah selalu mengenali jejak sepatu yang sama.


---

12. BARTHES MEMBACA SIARAN PERS

Mitos modern tidak lahir dari legenda,
melainkan dari konferensi pers.

Di sana, sejarah dicuci
hingga tampak seperti alam.

Kemiskinan menjadi statistik.

Penggusuran menjadi penataan.

Ketimpangan menjadi konsekuensi pertumbuhan.

Dan publik diajarkan bahwa semua ini wajar,
seperti hujan,
seperti gravitasi,
seperti kematian.

Mitos bekerja paling baik
ketika ia berhasil menghapus bekas jahitannya.

Ketika yang politis tampak natural.

Ketika keputusan tampak takdir.


---

13. WITTGENSTEIN DI GEDUNG PARLEMEN

Batas bahasaku adalah batas duniaku,
kata filsuf itu.

Maka para politisi segera memperluas kamus.

Bukan dunia.

Kata-kata baru diproduksi massal:

"optimalisasi,"
"transformasi,"
"sinergi,"
"akselerasi."

Setiap istilah membuka ruang permainan bahasa baru
di mana kegagalan dapat disebut transisi
dan kebuntuan dapat disebut proses.

Akhirnya dunia tetap sama.

Yang berubah hanya tata cara
mendeskripsikan kekecewaan.


---

14. TENTANG REZIM KEBENARAN

Kebenaran tidak berdiri sendirian.

Ia membutuhkan podium,
anggaran,
sertifikat,
siaran langsung.

Seekor burung dapat berkicau bahwa langit runtuh.

Tak ada yang peduli.

Tetapi jika sebuah lembaga menerbitkan laporan,
langit bahkan tidak perlu runtuh
untuk dianggap runtuh.

Maka orang-orang tidak lagi bertanya:

"Apakah ini benar?"

Mereka bertanya:

"Siapa yang berhak mengatakannya?"

Dan sejak saat itu,
epistemologi berubah menjadi administrasi.


---

15. TRAKTATUS UNTUK PEMILIH

Dunia adalah segala sesuatu yang ditayangkan.

Apa yang tidak ditayangkan
bukanlah fakta.

Apa yang tidak menjadi tren
bukanlah peristiwa.

Apa yang tidak memperoleh sponsor
bukanlah masalah.

Tentang apa yang tidak dapat dimonetisasi,
orang harus diam.

Dan diam itu sendiri
kemudian dijual sebagai konten.


---

16. PANOPTIKON SEMANTIK

Tak seorang pun tahu
siapa yang sedang mengawasi.

Karena itu semua orang mulai menyunting dirinya sendiri.

Kata-kata dipoles sebelum diucapkan.

Lelucon diperiksa.

Keraguan direvisi.

Kemarahan diedit.

Sensor yang sempurna
adalah sensor yang tidak perlu hadir.

Cukup tanamkan penjaga
di dalam tata bahasa pikiran.

Maka setiap kalimat akan memenjarakan dirinya sendiri.


---

17. KEMATIAN PETANDA

Suatu hari petanda mati.

Ia ditemukan mengambang
di sungai komunikasi massa.

Tubuhnya penuh bekas logo.

Polisi semiotika menyimpulkan
bahwa ia telah lama dibunuh
oleh reproduksi tanpa henti.

Sejak saat itu tanda-tanda hidup sendiri.

Mereka tidak lagi merujuk pada dunia.

Mereka hanya merujuk pada tanda lain.

Wajah merujuk pada citra.

Citra merujuk pada iklan.

Iklan merujuk pada survei.

Survei merujuk pada persepsi.

Dan persepsi merujuk pada apa pun
selain kenyataan.


---

18. GENEALOGI KATA "RAKYAT"

Jangan tanya apa arti rakyat.

Tanyakan:

siapa yang pertama kali mengucapkannya,
dalam situasi apa,
untuk tujuan apa.

Karena kata tidak memiliki esensi.

Ia memiliki riwayat kekuasaan.

Di setiap zaman,
"rakyat" adalah boneka ventriloquis.

Mulut yang berbicara selalu berbeda.

Suaranya selalu sama:

"kami mewakili mereka."

Dan sejarah bahasa
adalah sejarah perebutan kata ganti orang ketiga.


---

19. POST-STRUKTURALISME UNTUK PEMULA

Tak ada pusat.

Tak ada fondasi.

Tak ada makna final.

Mendengar ini,
politikus tersenyum paling lebar.

Sebab jika semua tafsir sah,
maka kritik hanyalah opini.

Jika semua narasi setara,
maka kebohongan hanya perspektif.

Dan dekonstruksi yang lahir
untuk membongkar istana makna

akhirnya disewa
untuk mendekorasi ruang konferensi.


---

20. EPITAF BAGI KATA "TRANSPARANSI"

Di sini dimakamkan transparansi.

Ia meninggal
karena terlalu sering digunakan.

Awalnya ia berarti jendela.

Lalu menjadi slogan.

Lalu menjadi program.

Lalu menjadi logo.

Lalu menjadi penghargaan.

Lalu menjadi hashtag.

Ketika akhirnya seseorang mencoba melihat melalui dirinya,

tak ada apa-apa lagi di sana.

Selain pantulan kata itu sendiri.

Dan batu nisannya berbunyi:

"informasi tersedia sesuai ketentuan yang berlaku."

•••

22. MEDIA DAN INDUSTRI KETIDAKINGATAN

Media modern bukan mesin informasi.

Ia adalah mesin pelupa.

Setiap pagi ia menciptakan skandal baru
agar skandal kemarin dapat dikubur secara terhormat.

Setiap jam ia memproduksi urgensi
agar tidak ada waktu memikirkan sebab.

Perhatian publik diperah seperti tambang.

Lalu dijual kembali kepada pengiklan.

Di akhir siaran,
semua orang mengetahui lebih banyak fakta

dan memahami lebih sedikit dunia.


---

23. REDAKSI

Di ruang redaksi,
kebenaran duduk menunggu giliran.

Tetapi ia kalah cepat dari klik.

Editor bertanya:

"Bukan apakah ini benar."

Melainkan:

"Apakah ini menarik?"

Karena algoritma tidak mengenal verifikasi.

Ia hanya mengenal keterlibatan.

Maka kemarahan menjadi komoditas.

Ketakutan menjadi strategi distribusi.

Dan berita berubah menjadi olahraga ekstrem
yang dimainkan dengan sistem saraf publik.


---

24. SURVEI

Survei adalah sihir statistik:

sepuluh ratus orang bicara,

dua ratus juta orang dianggap telah berbicara.

Lalu layar televisi menampilkan grafik.

Garis naik.

Garis turun.

Dan bangsa sebesar benua

direduksi menjadi diagram batang.

Tak ada yang bertanya:

siapa yang membuat pertanyaan?

siapa yang memilih pilihan jawaban?

siapa yang membayar penelitian?

Karena angka selalu tampak netral

bahkan ketika sedang berbohong.


---

25. JURU BICARA

Tugas juru bicara bukan mengatakan yang benar.

Tugasnya memastikan

bahwa kebenaran tidak pernah tiba sendirian.

Ia harus dikelilingi konteks.

Dihiasi nuansa.

Dikawal klarifikasi.

Dipagari interpretasi.

Sampai publik terlalu lelah

untuk membedakan fakta

dari prosedur penjelasannya.


---

26. DEBAT TELEVISI

Mereka menyebutnya debat.

Padahal yang diperdebatkan

sudah ditentukan sponsor.

Sudah ditentukan durasi.

Sudah ditentukan format.

Sudah ditentukan jeda iklan.

Kandidat berbicara kepada kamera.

Kamera berbicara kepada pasar.

Pasar berbicara kepada pemilik modal.

Dan rakyat

mendapat hak istimewa

untuk menyaksikan percakapan itu.


---

27. KULTUS DATA

Dulu penguasa berkata:

"Percayalah kepada kami."

Kini ia berkata:

"Percayalah kepada dashboard."

Grafik baru menjadi mahkota.

Infografik menjadi tongkat kerajaan.

Angka menjadi imam besar.

Tak penting apakah hidup membaik.

Yang penting indikatornya naik.

Tak penting apakah orang kenyang.

Yang penting presentasinya meyakinkan.

Karena dalam agama data,

pengalaman manusia hanyalah anekdot.


---

28. NEGARA DAN KAMERA

Negara modern memahami satu hal:

kamera lebih murah daripada perubahan.

Maka masalah direkam.

Diresmikan.

Didokumentasikan.

Diunggah.

Diberi musik latar.

Diberi narasi optimistis.

Lalu dianggap telah ditangani.

Seolah-olah penderitaan

kehilangan separuh bobotnya

setelah memperoleh pencahayaan yang baik.


---

29. TENTANG KEBEBASAN BERPENDAPAT

"Tentu saja Anda bebas berbicara,"

kata mereka.

"Silakan."

Maka orang berbicara.

Lalu datang pasukan komentar.

Potongan video.

Pabrik fitnah.

Akun anonim.

Judul tendensius.

Konteks yang dicincang.

Reputasi yang dibakar.

"Tapi lihat,"

kata mereka lagi,

"tak ada yang melarang Anda berbicara."

Dan memang benar.

Tiang gantungan tidak selalu berbentuk hukum.

Kadang berbentuk kerumunan.


---

30. PIDATO TERAKHIR SEORANG WARTAWAN

Aku mencari fakta,

kata wartawan itu.

Tetapi fakta memiliki pemilik.

Aku mencari dokumen.

Tetapi dokumen memiliki pengacara.

Aku mencari saksi.

Tetapi saksi memiliki ketakutan.

Aku mencari kebenaran.

Tetapi kebenaran memiliki harga pasar.

Lalu ia menutup buku catatannya.

Di luar jendela,

gedung-gedung kekuasaan tetap berdiri.

Bukan karena terlalu kuat.

Melainkan karena terlalu banyak orang

dibayar untuk menjelaskan

mengapa mereka tidak boleh runtuh.

•••

EPOS BAHASA NEGARA

(atau: Riwayat Singkat Kekuasaan yang Belajar Berbicara)

Pada mulanya bukan firman.

Pada mulanya siaran pers.

Dan siaran pers itu bersama kekuasaan, dan siaran pers itu adalah kekuasaan.

Lalu dunia diciptakan dari kalimat-kalimat resmi.

Cahaya dipisahkan dari kegelapan sebagaimana fakta dipisahkan dari arsip.

Air dipisahkan dari daratan sebagaimana peristiwa dipisahkan dari narasi.

Dan kekuasaan melihat segala yang dijadikannya itu, lalu membentuk tim komunikasi agar semua orang melihat hal yang sama.


---

Pada zaman purba, raja-raja memerintah dengan pedang.

Mereka naif.

Mereka mengira tubuh lebih penting daripada bahasa.

Lalu berabad-abad kemudian, para penerus mereka menemukan teknologi yang lebih murah:

definisi.

Sejak saat itu, siapa yang menguasai kamus tidak perlu terlalu sering menguasai pasukan.

Karena manusia rela masuk ke dalam penjara asal diberi kebebasan memilih nama selnya.


---

Maka didirikanlah Kementerian Makna.

Gedungnya luas, arsipnya tak terhingga.

Di sana para ahli bekerja tanpa lelah mengawasi perpindahan arti.

Mereka menetapkan:

bahwa penggusuran adalah revitalisasi,

bahwa pemotongan adalah efisiensi,

bahwa monopoli adalah stabilitas,

bahwa pengawasan adalah keamanan,

bahwa kemiskinan adalah tantangan,

bahwa kemarahan adalah misinformasi,

bahwa kebohongan adalah perspektif alternatif.

Dan ketika ada yang bertanya:

“Apakah kenyataannya berubah?”

para ahli itu menjawab:

“Pertanyaan Anda tidak sesuai terminologi resmi.”


---

Di sayap timur gedung, para linguis negara mempelajari morfologi janji.

Mereka menemukan bahwa janji adalah organisme yang unik.

Ia tidak mati ketika gagal.

Ia hanya mengalami perubahan bentuk.

Janji menjadi komitmen.

Komitmen menjadi agenda.

Agenda menjadi peta jalan.

Peta jalan menjadi visi.

Visi menjadi aspirasi.

Aspirasi menjadi harapan.

Harapan menjadi kesabaran.

Dan kesabaran menjadi statistik.

Begitulah siklus hidup seekor janji.


---

Sementara itu, di universitas-universitas yang dibiayai dengan anggaran terbatas, para mahasiswa mempelajari semiotika.

Mereka membaca bahwa tanda terdiri dari penanda dan petanda.

Tetapi setelah lulus, mereka bekerja di industri media dan menemukan kenyataan yang lebih praktis:

penanda tidak lagi membutuhkan petanda.

Cukup ada logo.

Cukup ada slogan.

Cukup ada citra.

Cukup ada survei.

Cukup ada pengulangan.

Maka wajah menjadi kebijakan.

Tagar menjadi gerakan.

Grafik menjadi kenyataan.

Dan kenyataan sendiri perlahan kehilangan fungsi.


---

Pada tahun-tahun berikutnya, lahirlah para imam baru.

Mereka disebut analis data.

Mereka mengenakan jas, bukan jubah.

Mereka berbicara dengan persentase, bukan wahyu.

Tetapi fungsi sosial mereka sama:

menjelaskan dunia dengan bahasa yang tidak dipahami umat.

Mereka berkata:

“Kepercayaan publik naik tiga persen.”

Dan orang-orang miskin tetap miskin.

Mereka berkata:

“Optimisme meningkat signifikan.”

Dan harga-harga tetap naik.

Mereka berkata:

“Indeks kebahagiaan membaik.”

Dan rumah-rumah tetap penuh kecemasan.

Namun grafik telah berbicara.

Siapa manusia berani membantah grafik?


---

Di pusat kota, berdiri Katedral Opini Publik.

Setiap hari jutaan orang beribadah di sana.

Mereka tidak datang untuk mencari kebenaran.

Mereka datang untuk mencari konfirmasi.

Pendeta-pendetanya disebut influencer.

Kitab sucinya disebut tren.

Mukjizatnya disebut viral.

Dosa terbesarnya disebut tidak relevan.

Di altar utama, algoritma duduk tak terlihat.

Ia tidak memiliki ideologi.

Ia hanya lapar.

Dan seperti semua dewa yang lapar, ia menyukai korban yang berulang.

Kemarahan.

Ketakutan.

Kebencian.

Kepanikan.

Skandal.

Skandal.

Skandal.


---

Lalu datanglah media.

Media berkata:

“Kami netral.”

Dan para pemilik modal tersenyum.

Media berkata:

“Kami objektif.”

Dan para pengiklan tersenyum.

Media berkata:

“Kami independen.”

Dan para pemegang saham tersenyum.

Sementara itu, wartawan muda yang masih percaya pada fakta duduk di sudut ruangan menghitung jumlah kata yang boleh digunakan untuk menjelaskan kenyataan yang rumit.

Seratus kata.

Lima puluh kata.

Dua puluh kata.

Sepuluh kata.

Judul.

Klik.

Selesai.


---

Pada masa itu, rakyat masih sesekali mencoba berbicara.

Mereka turun ke jalan.

Mereka menulis.

Mereka berteriak.

Mereka bertanya.

Dan kekuasaan menjawab dengan inovasi linguistik.

“Kami mendengar aspirasi Anda.”

Artinya: kami tidak akan mengubah apa pun.

“Kami menghargai masukan masyarakat.”

Artinya: kami telah menerima dokumennya.

“Kami akan mengevaluasi.”

Artinya: kami membutuhkan waktu agar Anda lelah.

“Kami berkomitmen.”

Artinya: kami belum tentu melakukan apa-apa.

Bahasa berkembang pesat.

Kenyataan tidak.


---

Pada suatu malam, seorang filsuf tua berdiri di alun-alun.

Ia berkata:

“Masalah kita bukan kebohongan.”

Orang-orang terkejut.

“Masalah kita adalah kebohongan yang berhasil menjadi tata bahasa.”

Kerumunan diam.

Karena mereka mulai mengerti.

Kebohongan yang berdiri sendiri mudah dikenali.

Tetapi kebohongan yang menjadi sintaksis akan diwariskan kepada anak-anak.

Ia masuk ke buku pelajaran.

Masuk ke pidato.

Masuk ke iklan.

Masuk ke percakapan sehari-hari.

Sampai akhirnya orang tidak lagi mengucapkannya.

Ia yang mengucapkan orang.


---

Tahun demi tahun berlalu.

Kata-kata semakin banyak.

Makna semakin sedikit.

Dokumen semakin tebal.

Penjelasan semakin panjang.

Klarifikasi semakin rinci.

Namun kehidupan sehari-hari tetap harus diselesaikan oleh orang-orang yang tidak pernah muncul dalam laporan tahunan.

Mereka yang memperbaiki jalan, mengangkat sampah, menjaga pasar, mengajar anak-anak, menanam padi, mengemudikan kendaraan, mengangkut barang.

Mereka yang selalu disebut “masyarakat” tetapi hampir tidak pernah diajak bicara.


---

Dan akhirnya tibalah zaman yang paling sempurna.

Tak ada sensor.

Tak perlu.

Tak ada larangan.

Tak perlu.

Semua orang bebas berbicara.

Sangat bebas.

Begitu bebas hingga tak ada yang sempat didengar.

Setiap orang memiliki mikrofon.

Tak seorang pun memiliki perhatian.

Setiap orang memiliki pendapat.

Tak seorang pun memiliki waktu.

Setiap orang memiliki suara.

Tak seorang pun memiliki percakapan.

Kebebasan mencapai bentuk tertingginya:

kebisingan total.


---

Lalu bahasa, yang selama berabad-abad dipaksa bekerja untuk kekuasaan, diam-diam memberontak.

Ia melarikan diri dari pidato resmi.

Keluar dari konferensi pers.

Keluar dari laporan.

Keluar dari slogan.

Ia bersembunyi di tempat-tempat kecil:

di meja makan.

Di warung kopi.

Di percakapan dua orang sahabat.

Di catatan harian.

Di puisi.

Di kalimat sederhana yang berkata:

“Tidak. Itu tidak benar.”

Dan kekuasaan takut.

Bukan kepada senjata.

Bukan kepada massa.

Bukan kepada revolusi.

Melainkan kepada kemungkinan bahwa suatu hari nanti

kata-kata kembali merujuk pada dunia.

Bahwa “lapar” kembali berarti lapar.

Bahwa “korupsi” kembali berarti korupsi.

Bahwa “perang” kembali berarti perang.

Bahwa “kemiskinan” kembali berarti kemiskinan.

Bahwa bahasa berhenti menjadi tirai.

Dan kembali menjadi jendela.

Sebab pada hari itu, seluruh istana eufemisme akan runtuh.

Bukan karena diserang.

Melainkan karena akhirnya disebut dengan nama yang tepat.

•••

REPUBLIK PENANDA

(epos satir linguistik tentang negeri yang diperintah oleh kata-kata yang kehilangan benda-bendanya)

Pada suatu masa yang tidak tercatat karena arsipnya telah direvisi,

terdapat sebuah republik yang berhasil mencapai kemajuan luar biasa:

ia tidak lagi diperintah oleh manusia.

Ia diperintah oleh kosakata.

Menteri Keuangan bernama "Pertumbuhan."

Menteri Dalam Negeri bernama "Stabilitas."

Menteri Pendidikan bernama "Kompetensi."

Menteri Informasi bernama "Transparansi."

Tak seorang pun pernah melihat mereka.

Namun setiap hari nama-nama itu muncul di televisi, dan dianggap cukup nyata untuk mengatur kehidupan jutaan orang.


---

Di republik itu, kata benda memiliki hak istimewa.

Mereka dapat hidup bahkan setelah bendanya mati.

"Kepercayaan publik" tetap hidup meskipun tak seorang pun percaya.

"Kesejahteraan" tetap hidup meskipun pasar penuh wajah cemas.

"Partisipasi" tetap hidup meskipun keputusan telah dibuat jauh sebelum rapat dimulai.

Bahasa di sana telah berhasil memisahkan diri dari kenyataan.

Dan dianggap sebagai pencapaian nasional.


---

Anak-anak sekolah diajari sejarah resmi bahasa.

Mereka diberitahu:

dahulu kata-kata digunakan untuk menggambarkan dunia.

Namun metode itu dianggap tidak efisien.

Terlalu banyak konflik.

Terlalu banyak perbedaan.

Terlalu banyak fakta.

Maka para leluhur yang bijaksana mengubah fungsi bahasa.

Sejak saat itu, bahasa digunakan untuk menggantikan dunia.

Dan produktivitas meningkat.


---

Setiap tahun diadakan Festival Sinonim Nasional.

Para pejabat berkumpul untuk menemukan nama baru bagi masalah lama.

Kemiskinan menjadi:

kerentanan ekonomi.

Lalu menjadi:

kesenjangan akses.

Lalu menjadi:

tantangan inklusivitas.

Lalu menjadi:

dinamika distribusi.

Tak ada yang berubah kecuali jumlah suku kata.

Dan negeri itu bangga karena tingkat inovasi linguistiknya terus meningkat.


---

Pada suatu hari, seorang petani tua datang ke ibu kota.

Ia membawa kata "lapar."

Kata itu kusut, berbau tanah, dan tidak memiliki sertifikat akademik.

Para ahli bahasa negara segera panik.

Mereka berkata:

"Kata ini terlalu konkret."

"Kata ini tidak produktif."

"Kata ini tidak kompatibel dengan narasi pembangunan."

Lalu mereka mengembalikannya kepada petani itu dalam bentuk yang telah diperbaiki:

"tantangan pemenuhan kebutuhan nutrisi."

Petani itu pulang.

Perutnya tetap kosong.

Tetapi secara terminologis, situasinya jauh lebih maju.


---

Di televisi, para pakar diskusi setiap malam.

Mereka memperdebatkan representasi.

Mereka memperdebatkan persepsi.

Mereka memperdebatkan framing.

Mereka memperdebatkan konstruksi realitas.

Tak seorang pun memperdebatkan realitas.

Karena realitas tidak memiliki sponsor.


---

Kemudian lahirlah generasi baru.

Generasi yang dibesarkan oleh layar.

Mereka tidak mengenal sungai.

Mereka mengenal konten tentang sungai.

Mereka tidak mengenal kemiskinan.

Mereka mengenal data kemiskinan.

Mereka tidak mengenal perang.

Mereka mengenal visualisasi perang.

Mereka tidak mengenal dunia.

Mereka mengenal antarmuka dunia.

Dan antarmuka itu terus diperbarui.


---

Sementara itu, algoritma tumbuh dewasa.

Awalnya ia hanyalah pelayan.

Kemudian ia menjadi editor.

Lalu menjadi guru.

Lalu menjadi hakim.

Lalu menjadi nabi.

Orang-orang mulai bertanya kepadanya:

Apa yang penting?

Apa yang benar?

Apa yang sedang terjadi?

Dan algoritma menjawab dengan satu prinsip sederhana:

apa yang menghasilkan keterlibatan.

Maka kemarahan memperoleh prioritas.

Ketakutan memperoleh jangkauan.

Kebodohan memperoleh amplifikasi.

Dan perhatian manusia berubah menjadi sumber daya alam yang ditambang tanpa henti.


---

Di parlemen, undang-undang baru disahkan.

Namanya:

Undang-Undang Harmonisasi Makna.

Pasal pertama:

Tidak boleh ada kata yang menyebabkan ketidaknyamanan berlebihan.

Pasal kedua:

Setiap kritik wajib disertai optimisme.

Pasal ketiga:

Setiap kemarahan wajib dinyatakan dalam bahasa yang konstruktif.

Pasal keempat:

Definisi resmi lebih resmi daripada kenyataan.

Undang-undang itu disambut meriah.

Akhirnya terdapat kepastian hukum mengenai ketidakjelasan.


---

Namun jauh dari ibu kota,

di sebuah warung kecil,

dua orang tua sedang berbicara.

Mereka tidak memiliki gelar.

Tidak memiliki kanal media.

Tidak memiliki pengikut.

Tidak memiliki data.

Yang mereka miliki hanya pengalaman.

Orang pertama berkata:

"Harga beras naik."

Orang kedua mengangguk.

"Hasil panen turun."

Orang kedua mengangguk.

"Hidup makin susah."

Orang kedua mengangguk.

Percakapan itu berlangsung tanpa istilah teknokratis.

Tanpa eufemisme.

Tanpa strategi komunikasi.

Dan justru karena itu,

ia terdengar berbahaya.


---

Kabar tentang percakapan tersebut akhirnya sampai ke ibu kota.

Para pejabat panik.

Para analis berkumpul.

Para konsultan dipanggil.

Tim krisis dibentuk.

Komite khusus dibentuk.

Subkomite dibentuk.

Laporan setebal seribu halaman disusun.

Kesimpulannya:

terdapat masalah komunikasi.

Tidak seorang pun berani menulis:

terdapat masalah.


---

Malam itu,

seluruh republik tertidur.

Hanya satu makhluk yang tetap terjaga.

Namanya Makna.

Ia telah lama diburu.

Terlalu liar untuk birokrasi.

Terlalu jujur untuk propaganda.

Terlalu sederhana untuk televisi.

Ia berjalan melewati gedung kementerian.

Melewati studio berita.

Melewati kantor partai.

Melewati universitas.

Melewati pusat data.

Melewati papan iklan raksasa.

Dan di setiap tempat ia menemukan hal yang sama:

kata-kata yang sangat sibuk menjelaskan dunia,

tetapi semakin jauh dari dunia itu sendiri.


---

Menjelang fajar,

Makna berdiri di atas atap kota.

Ia melihat jutaan kalimat berterbangan di udara seperti burung yang kehilangan arah.

Janji.

Slogan.

Tagar.

Pidato.

Laporan.

Klarifikasi.

Narasi.

Konten.

Konten.

Konten.

Semuanya berebut perhatian.

Tak satu pun mencari kebenaran.

Lalu Makna tersenyum sedih.

Karena ia tahu:

peradaban tidak runtuh ketika berhenti berbicara benar.

Peradaban runtuh

ketika tidak lagi mampu membedakan

antara berbicara

dan mengatakan sesuatu.

•••

KITAB SUCI BIROKRASI

(epos satir linguistik tentang agama baru yang menyembah formulir)

Pada mulanya adalah formulir.

Bukan manusia.

Bukan kebutuhan.

Bukan kenyataan.

Formulir.

Dan formulir itu mempunyai kolom-kolom.

Dan kolom-kolom itu melihat manusia, lalu berkata:

"Silakan sesuaikan diri."

Sejak saat itu, kehidupan menjadi proses panjang untuk mengubah diri menjadi data.


---

Di negeri ini, setiap orang lahir dua kali.

Pertama sebagai bayi.

Kedua sebagai berkas.

Kelahiran pertama bersifat biologis.

Kelahiran kedua bersifat administratif.

Dan birokrasi menganggap yang kedua jauh lebih dapat dipercaya.

Karena bayi bisa menangis.

Berkas tidak.


---

Maka manusia tumbuh dengan satu pelajaran utama:

jangan menjadi dirimu sendiri.

Jadilah kategori.

Jika terlalu rumit, kau akan ditolak sistem.

Jika terlalu unik, kau akan menyulitkan database.

Jika terlalu nyata, kau akan mengganggu statistik.

Karena negara modern lebih mencintai klasifikasi daripada manusia yang diklasifikasikannya.


---

Di pusat ibu kota berdiri Kuil Standardisasi.

Di sana para imam prosedur membacakan mantra-mantra suci:

"sesuai ketentuan yang berlaku."

"berdasarkan regulasi."

"mengacu pada pedoman."

"mengikuti mekanisme."

Tak seorang pun tahu siapa yang pertama kali menulis pedoman itu.

Namun semua orang tahu:

pedoman lebih abadi daripada orang yang harus hidup di bawahnya.


---

Pada suatu hari seorang perempuan datang.

Ia berkata:

"Ada masalah."

Petugas menjawab:

"Masalah jenis apa?"

Perempuan itu menjelaskan.

Petugas menggeleng.

"Maaf. Jenis masalah tersebut belum tersedia pada menu pilihan."

Perempuan itu mencoba lagi.

Ia menangis.

Petugas kembali menggeleng.

"Sistem tidak dapat memproses emosi."


---

Lalu perempuan itu pulang.

Masalahnya tetap ada.

Tetapi kini ia memiliki nomor tiket pengaduan.

Dan dalam peradaban birokratis,

nomor tiket adalah bentuk pengakuan yang lebih penting daripada penyelesaian.


---

Sementara itu, di menara-menara kementerian,

para ahli sibuk memproduksi bahasa.

Mereka menemukan bahwa kenyataan sangat sulit dikendalikan.

Tetapi laporan tahunan jauh lebih kooperatif.

Maka mereka mulai mengelola laporan.

Bukan kenyataan.

Jika sekolah rusak, ubah indikator.

Jika rumah sakit penuh, ubah metodologi.

Jika rakyat marah, ubah instrumen survei.

Karena mengubah kata selalu lebih murah daripada mengubah dunia.


---

Pada abad berikutnya, lahirlah kasta baru:

para Konsultan Narasi.

Mereka tidak menanam padi.

Tidak membangun jembatan.

Tidak mengobati penyakit.

Tidak mengajar anak-anak.

Mereka mengelola persepsi.

Dan karena persepsi lebih mudah dipindahkan daripada gunung, mereka menjadi sangat berpengaruh.


---

Ketika jembatan runtuh, mereka berkata:

"Ini kesempatan evaluasi."

Ketika harga naik, mereka berkata:

"Ini fase penyesuaian."

Ketika kemiskinan meningkat, mereka berkata:

"Ini tantangan transisional."

Ketika rakyat marah, mereka berkata:

"Ini dinamika demokratis."

Mereka adalah penyair resmi kekuasaan.

Bedanya, metafora mereka dibayar dengan anggaran negara.


---

Lalu datang zaman digital.

Dan semua orang bersorak.

Mereka berkata:

"Akhirnya informasi bebas."

Namun yang bebas bukan informasi.

Melainkan distribusinya.

Kebohongan kini dapat berlari dengan kecepatan cahaya.

Kebodohan dapat direplikasi tanpa biaya produksi.

Dan kemarahan dapat dipersonalisasi untuk setiap pengguna.

Peradaban menyebut ini kemajuan.

Karena server-server baru telah dibangun.


---

Pada masa itu, bahasa mengalami inflasi.

Kata-kata dicetak lebih cepat daripada makna.

Setiap hari muncul istilah baru.

Disrupsi.

Transformasi.

Akselerasi.

Inovasi.

Resiliensi.

Sinergi.

Optimalisasi.

Semuanya terdengar penting.

Tak satu pun membantu seorang buruh membayar sewa rumahnya.


---

Namun kata-kata itu terus diproduksi.

Karena di negeri ini,

bahasa bukan alat komunikasi.

Bahasa adalah industri.

Dan seperti industri lain,

ia membutuhkan pertumbuhan.


---

Di televisi, para pakar terus berdiskusi.

Mereka membahas representasi kemiskinan.

Narasi kemiskinan.

Persepsi kemiskinan.

Framing kemiskinan.

Estetika kemiskinan.

Politik kemiskinan.

Tak seorang pun mengundang orang miskin.

Karena ia tidak memiliki kompetensi untuk menjelaskan kemiskinannya sendiri.


---

Maka lahirlah paradoks terbesar republik ini:

semakin banyak orang berbicara tentang dunia,

semakin sedikit orang menyentuhnya.

Semakin banyak laporan ditulis,

semakin sedikit kenyataan dibaca.

Semakin banyak data dikumpulkan,

semakin sedikit manusia dikenali.


---

Dan pada akhirnya,

ketika seluruh negeri telah dipenuhi oleh kata-kata, dokumen, presentasi, indikator, dashboard, narasi, algoritma, dan kebijakan,

seorang anak kecil berdiri di tengah alun-alun.

Ia menunjuk ke arah istana.

Lalu bertanya:

"Kalau semuanya berjalan baik, kenapa banyak orang masih susah?"

Pertanyaan itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Karena itu tidak dapat dijawab oleh para ahli.

Tidak dapat diproses oleh sistem.

Tidak dapat diukur oleh indikator.

Tidak dapat dipresentasikan dalam grafik.

Maka seluruh negeri terdiam.

Dan untuk sesaat,

lebih jujur daripada semua pidato resmi,

lebih tajam daripada semua editorial,

lebih berbahaya daripada semua manifesto,

terdengar suara seorang anak

yang belum belajar

bahasa kekuasaan.

•••

SEJARAH ALAMIAH KATA-KATA RESMI

(epos satir linguistik tentang evolusi spesies yang disebut "bahasa publik")

Pada mulanya, kata-kata masih liar.

Mereka hidup di ladang, di pelabuhan, di pasar, di dapur, di jalanan.

Mereka lahir dari kebutuhan.

"Air" berarti air.

"Roti" berarti roti.

"Lapar" berarti lapar.

Tidak ada seminar untuk menjelaskan maksudnya.

Tidak ada panel diskusi.

Tidak ada konferensi internasional.

Kata-kata masih cukup miskin untuk menjadi jujur.


---

Kemudian datang peradaban.

Dan bersama peradaban datanglah para pengelola bahasa.

Mereka berkata:

"Ketepatan terlalu berbahaya."

Karena kata yang tepat selalu menunjuk seseorang.

Sedangkan kata yang kabur dapat dipakai semua pihak.

Maka dimulailah proyek besar yang berlangsung berabad-abad:

penjinakan makna.


---

"Lapar" diubah menjadi "kerawanan pangan."

"Tak punya rumah" diubah menjadi "tantangan hunian."

"Tak punya pekerjaan" diubah menjadi "masa transisi tenaga kerja."

"Putus asa" diubah menjadi "penyesuaian psikososial."

Dan para pengelola bahasa sangat bangga.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah,

orang dapat menderita tanpa terdengar menderita.


---

Di zaman modern, kata-kata resmi berevolusi semakin jauh.

Mereka kehilangan hubungan dengan benda-benda.

Lalu kehilangan hubungan dengan manusia.

Lalu kehilangan hubungan dengan pengalaman.

Namun anehnya, mereka justru menjadi semakin berkuasa.

Karena seekor kata yang tidak lagi terikat kenyataan

lebih mudah dipindahkan sesuai kebutuhan.


---

Maka lahirlah spesies baru.

Namanya:

Bahasa Strategis.

Ia tidak digunakan untuk mengatakan sesuatu.

Ia digunakan agar sesuatu tidak perlu dikatakan.

Jika terjadi krisis, Bahasa Strategis berkata:

"Kami sedang melakukan langkah-langkah komprehensif."

Jika terjadi kegagalan, ia berkata:

"Terdapat ruang perbaikan."

Jika terjadi kemarahan, ia berkata:

"Kami memahami aspirasi publik."

Jika terjadi bencana, ia berkata:

"Kami berkomitmen melakukan evaluasi."

Bahasa Strategis memiliki kemampuan unik:

ia dapat berbicara selama tiga jam

tanpa menyentuh satu pun kenyataan.


---

Para ilmuwan komunikasi kemudian mengklasifikasikan spesies tersebut.

Kingdom: Retorika.

Filum: Ambiguitas.

Kelas: Eufemisme.

Ordo: Pengalihan.

Famili: Narasi.

Genus: Klarifikasi.

Spesies: Tidak Menjawab Pertanyaan.


---

Di habitat alaminya, Bahasa Strategis berkembang biak dengan cepat.

Ia menyukai konferensi pers.

Ia menyukai rapat koordinasi.

Ia menyukai forum nasional.

Ia menyukai webinar.

Ia sangat menyukai webinar.

Karena webinar memungkinkan ribuan kata diproduksi

tanpa risiko bertemu kenyataan.


---

Sementara itu, kata-kata biasa mulai terancam punah.

"Benar."

"Salah."

"Ya."

"Tidak."

Terlalu sederhana.

Terlalu langsung.

Terlalu berbahaya.

Kata-kata seperti itu tidak cocok hidup di lingkungan modern.

Mereka tidak memiliki fleksibilitas politik.


---

Pada abad berikutnya,

para akademisi mulai memperingatkan:

terjadi krisis ekologis makna.

Populasi kata-kata konkret menurun drastis.

Sebaliknya, populasi istilah abstrak meledak tak terkendali.

Ekosistem bahasa menjadi tidak seimbang.

Muncul wabah:

inflasi retorika.

Gejalanya antara lain:

orang berbicara semakin banyak,

namun memahami semakin sedikit.


---

Pemerintah segera membentuk Badan Nasional Ketahanan Narasi.

Tugasnya:

melindungi populasi kata-kata resmi.

Karena beberapa warga mulai menggunakan bahasa sehari-hari untuk menggambarkan keadaan mereka.

Ini dianggap ancaman serius.

Jika dibiarkan, orang mungkin mulai menyadari hubungan antara kata dan kenyataan.


---

Maka kampanye nasional diluncurkan.

Poster-poster dipasang.

Iklan-iklan ditayangkan.

Influencer direkrut.

Mereka mengingatkan masyarakat:

jangan menggunakan kata yang terlalu sederhana.

Gunakan istilah yang tepat.

Gunakan istilah yang profesional.

Gunakan istilah yang berstandar internasional.

Gunakan istilah yang membuat masalah terdengar seperti topik konferensi.

Bukan seperti masalah.


---

Dan kampanye itu berhasil.

Sangat berhasil.

Kini orang tidak lagi kehilangan pekerjaan.

Mereka mengalami disrupsi karier.

Tidak lagi miskin.

Mereka berada dalam segmen ekonomi rentan.

Tidak lagi dibohongi.

Mereka menerima informasi yang berkembang secara dinamis.

Tidak lagi ditinggalkan.

Mereka berada dalam proses penyesuaian layanan.

Peradaban maju selangkah lagi.


---

Namun jauh di luar kota,

di sebuah desa yang tidak masuk laporan tahunan,

seorang kakek duduk di beranda rumah.

Ia mendengar radio.

Mendengar pidato.

Mendengar debat.

Mendengar analisis.

Mendengar jargon.

Mendengar narasi.

Mendengar istilah-istilah yang panjang dan berlapis-lapis.

Lalu ia mematikan radio.

Menatap sawahnya yang mengering.

Menatap cucunya yang kurus.

Menatap langit yang tidak memberi hujan.

Dan berkata pelan:

"Ini susah."

Hanya itu.

Tidak ada metodologi.

Tidak ada kerangka konseptual.

Tidak ada indikator.

Tidak ada strategi komunikasi.

Hanya dua kata.

"Ini susah."

Dan mungkin,

di seluruh republik yang penuh laporan, dashboard, grafik, visi, misi, roadmap, blueprint, dan transformasi,

tak ada kalimat

yang lebih dekat kepada kebenaran

daripada itu.

•••

TRAKTATUS UNTUK PARA PENGELOLA MAKNA

(fragmen-fragmen dari sebuah republik yang kehilangan objek, tetapi mempertahankan seluruh predikatnya)

1. 

Pada mulanya manusia mengira bahasa diciptakan untuk menggambarkan dunia.

Kemudian lahir birokrasi.

Dan dunia mulai dipaksa menyesuaikan diri dengan deskripsi.


---

2. 

Tidak ada rezim yang benar-benar takut pada kebohongan.

Kebohongan mudah dipatahkan.

Yang ditakuti adalah penamaan.

Karena sesuatu yang telah memperoleh nama yang tepat akan sulit dipindahkan ke kategori lain.


---

3. 

Kekuasaan tidak pertama-tama mengendalikan manusia.

Ia mengendalikan kemungkinan kalimat yang dapat diucapkan tentang manusia.

Tubuh hanyalah akibat administratif dari tata bahasa.


---

4. 

Penjara yang paling efisien tidak dibangun dari batu.

Ia dibangun dari kosakata.

Ketika seseorang hanya memiliki kata-kata tertentu untuk memahami penderitaannya,

ia telah dikurung sebelum sempat memberontak.


---

5. 

Arsip bukan tempat penyimpanan masa lalu.

Arsip adalah mesin produksi masa lalu.

Ia tidak mengingat.

Ia memilih apa yang layak diingat.

Dan pilihan itu selalu berbicara lebih keras daripada dokumen yang disimpannya.


---

6. 

Setiap kamus adalah parlemen yang disamarkan.

Di dalamnya terdapat hierarki.

Terdapat pengakuan.

Terdapat pengusiran.

Terdapat kewarganegaraan semantik.

Dan terdapat kata-kata gelandangan yang tidak memperoleh definisi resmi.


---

7. 

Mitos modern tidak berbentuk naga.

Tidak berbentuk dewa.

Tidak berbentuk monster.

Mitos modern berbentuk sesuatu yang lebih sederhana:

"Beginilah kenyataannya."


---

8. 

Kalimat yang paling ideologis sering kali adalah kalimat yang mengaku tidak memiliki ideologi.


---

9. 

Ketika sebuah keputusan politik berhasil tampil sebagai fakta alam,

mitos telah mencapai bentuknya yang sempurna.


---

10. 

Bahasa kekuasaan tidak berusaha meyakinkan.

Ia berusaha menjadi latar belakang.

Karena sesuatu yang terus terlihat masih dapat diperdebatkan.

Tetapi sesuatu yang menjadi udara akan dihirup tanpa disadari.


---

11. 

Orang sering berkata:

"Fakta tidak memihak."

Tetapi fakta selalu datang dengan tata cara kemunculannya sendiri.

Siapa yang mengumpulkan?

Siapa yang mengukur?

Siapa yang menyimpan?

Siapa yang menampilkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah bayangan yang mengikuti setiap angka.


---

12. 

Tidak semua sensor menghapus kalimat.

Sebagian sensor bekerja dengan membuat kalimat tertentu terdengar tidak masuk akal.


---

13. 

Kemenangan tertinggi kekuasaan bukan ketika semua orang setuju.

Melainkan ketika semua orang menggunakan kategori yang sama untuk tidak setuju.


---

14. 

Setiap zaman memiliki metafisika tersembunyinya sendiri.

Zaman feodal menyebutnya darah.

Zaman religius menyebutnya wahyu.

Zaman modern menyebutnya data.

Namun fungsi sosialnya sering serupa:

mengakhiri percakapan.


---

15. 

Data tidak pernah berkata apa-apa.

Manusialah yang berbicara melalui data.

Keajaiban modern adalah bahwa setelah berbicara, manusia berpura-pura yang berbicara adalah data.


---

16. 

Dalam masyarakat disipliner, orang diawasi.

Dalam masyarakat informasi, orang dilihat.

Dalam masyarakat algoritmik, orang diprediksi.

Dan prediksi perlahan-lahan mengambil alih fungsi pengawasan.


---

17. 

Ketika seseorang mulai bertindak sesuai model yang memprediksinya,

kekuasaan tidak lagi memerlukan polisi.

Cukup statistik.


---

18. 

Ada perbedaan antara mengetahui dunia dan mengetahui representasi dunia.

Sebagian besar institusi modern hidup dari mengaburkan perbedaan itu.


---

19. 

Peta pernah dibuat untuk menggambarkan wilayah.

Kini ada saat-saat ketika wilayah dipaksa menyerupai peta.


---

20. 

Masyarakat tontonan tidak menyembunyikan kenyataan.

Ia menenggelamkannya dalam jumlah representasi yang berlebihan.


---

21. 

Dahulu orang bertanya:

"Apakah ini benar?"

Kini mereka bertanya:

"Apakah ini viral?"

Perubahan kecil dalam tata bahasa.

Perubahan besar dalam peradaban.


---

22. 

Permainan bahasa tidak pernah netral.

Sebab aturan permainan menentukan apa yang dapat dianggap langkah yang sah.


---

23. 

Setiap institusi adalah mesin yang mengubah kalimat menjadi kenyataan.

Pengadilan melakukannya dengan vonis.

Sekolah melakukannya dengan kurikulum.

Media melakukannya dengan agenda.

Negara melakukannya dengan definisi.


---

24. 

Kata "normal" adalah salah satu penemuan politik paling berhasil dalam sejarah umat manusia.

Karena setelah sesuatu disebut normal,

kekerasan yang menjaganya akan tampak sebagai akal sehat.


---

25. 

Tidak ada istilah yang lebih kuat daripada istilah yang tampak teknis.

Bahasa teknis adalah pakaian laboratorium yang dikenakan oleh keputusan sosial.


---

26. 

Suatu hari seorang anak bertanya:

"Mengapa dunia seperti ini?"

Lalu seribu ahli datang menjelaskan.

Teori dipresentasikan.

Grafik ditampilkan.

Kerangka konseptual dibangun.

Model dirumuskan.

Namun mungkin pertanyaan anak itu lebih berbahaya daripada semua jawaban tersebut.

Karena ia masih mengandaikan bahwa dunia sebenarnya bisa berbeda.


---

27. 

Dan mungkin di situlah seluruh persoalan bermula.

Bukan pada kebohongan.

Bukan pada propaganda.

Bukan pada sensor.

Melainkan pada saat ketika bahasa berhenti membuka kemungkinan,

dan mulai mengelola kepatuhan.


---

28. 

Maka tugas kritik bukan menemukan kebenaran terakhir.

Tugas kritik jauh lebih sederhana.

Membuat kalimat-kalimat resmi kehilangan kesan kealamiannya.

Mengingatkan bahwa apa yang tampak abadi pernah diciptakan.

Bahwa apa yang tampak netral pernah dipilih.

Bahwa apa yang tampak sebagai kenyataan mungkin hanyalah tata bahasa yang terlalu lama berkuasa.


---

29. 

Sebab batas dunia kita mungkin bukan batas bahasa kita.

Melainkan batas bahasa yang diizinkan untuk terdengar.


---

30. 

Dan setiap kali seseorang berkata:

"Tidak, itu bukan nama yang tepat untuk hal ini,"

sebuah retakan kecil muncul di dinding besar yang disebut kewajaran.

Dari retakan itu,

sejarah sering kali masuk.

•••

GENEALOGI KEHENINGAN

(aforisme-aforisme untuk sebuah republik yang terlalu banyak berbicara)

31. 

Setiap rezim memiliki teori bahasanya sendiri.

Yang paling canggih bukan yang melarang orang berbicara.

Melainkan yang membuat semua orang berbicara terus-menerus hingga tidak ada yang dapat didengar.


---

32. 

Dahulu kekuasaan menyensor kalimat.

Kini ia membanjiri kalimat dengan kalimat lain.

Lautan informasi adalah bentuk modern dari gurun.


---

33. 

Kebebasan berekspresi mencapai ironi tertingginya ketika setiap orang memperoleh mikrofon dan kehilangan pendengar.


---

34. 

Ada saat ketika bahasa tidak lagi menyembunyikan kenyataan.

Ia menggantikannya.

Pada titik itu, perdebatan tidak lagi terjadi tentang dunia.

Melainkan tentang versi dunia yang paling berhasil diedarkan.


---

35. 

Kekuasaan tidak selalu berkata:

"Ini benar."

Kadang ia hanya berkata:

"Ini masuk akal."

Dan manusia lebih sering ditaklukkan oleh kewajaran daripada oleh kekuatan.


---

36. 

Hal paling berbahaya dari ideologi bukan bahwa ia salah.

Melainkan bahwa ia tampak seperti akal sehat.


---

37. 

Akal sehat adalah kemenangan ideologi yang telah melupakan sejarah kelahirannya.


---

38. 

Ketika sebuah konsep berhenti dipertanyakan, ia mulai bekerja seperti hukum alam.

Padahal sebagian besar hukum sosial hanya kebiasaan yang berhasil memperoleh seragam.


---

39. 

Normalitas adalah metafisika yang menyamar sebagai statistik.


---

40. 

Setiap angka membawa biografinya sendiri.

Tetapi tabel tidak pernah mencantumkan biografi.


---

41. 

Di balik setiap kategori terdapat seseorang yang memutuskan batasnya.

Dan di balik batas itu terdapat kekuasaan yang ingin dilupakan.


---

42. 

Orang sering mengira objektivitas adalah ketiadaan sudut pandang.

Padahal lebih sering ia hanyalah sudut pandang yang berhasil menjadi institusi.


---

43. 

Lembaga yang paling kuat adalah lembaga yang tidak tampak sebagai lembaga.


---

44. 

Kekuasaan mencapai kesempurnaannya ketika kehadirannya terasa seperti cuaca.


---

45. 

Cuaca tidak diperdebatkan.

Orang hanya menyesuaikan diri.

Itulah impian abadi setiap sistem dominasi.


---

46. 

Bahasa administrasi memiliki kejeniusan tertentu:

ia mampu menghasilkan kalimat yang tidak memiliki pelaku.

"Kesalahan telah terjadi."

"Data telah hilang."

"Prosedur telah dilanggar."

Seolah-olah dunia dipenuhi peristiwa yang berlangsung sendiri.


---

47. 

Kalimat pasif adalah salah satu tempat persembunyian yang paling ramai dalam sejarah politik.


---

48. 

Setiap kali seseorang berkata "kesalahan sistem",

cobalah mencari manusia yang memperoleh manfaat darinya.


---

49. 

Tidak ada sistem yang benar-benar anonim.

Yang anonim hanyalah keuntungan.


---

50. 

Mitos modern tidak berkata:

"Percayalah kepada kami."

Ia berkata:

"Percayalah kepada proses."


---

51. 

Dan ketika proses gagal, akan dibentuk proses baru untuk menyelidiki kegagalan proses lama.


---

52. 

Birokrasi adalah seni mengubah pertanyaan moral menjadi persoalan prosedural.


---

53. 

Dengan demikian, ketidakadilan dapat didiskusikan tanpa pernah menyebut keadilan.


---

54. 

Bahasa teknokratis bekerja seperti anestesi.

Masalahnya tetap ada.

Tetapi rasa sakit konseptualnya berkurang.


---

55. 

Eufemisme adalah pajak yang dikenakan bahasa atas keberanian.


---

56. 

Semakin besar sebuah institusi, semakin panjang nama yang digunakannya untuk menghindari kata-kata sederhana.


---

57. 

"Penggusuran" menjadi "penataan kawasan."

"Pemecatan" menjadi "rasionalisasi tenaga kerja."

"Perang" menjadi "operasi stabilisasi."

Kenyataan tetap berdarah.

Hanya kosakatanya yang steril.


---

58. 

Peradaban modern sangat percaya pada transparansi.

Karena itu ia memproduksi dokumen dalam jumlah yang tak terbaca.


---

59. 

Informasi yang terlalu banyak sering kali memiliki fungsi politik yang sama dengan informasi yang terlalu sedikit.


---

60. 

Arsip yang sempurna dapat menyembunyikan sesuatu sama efektifnya dengan arsip yang dibakar.


---

61. 

Masyarakat tontonan tidak melarang realitas.

Ia menjadikannya episode.


---

62. 

Skandal kemarin mati bukan karena terselesaikan.

Melainkan karena algoritma menemukan skandal baru.


---

63. 

Dalam ekonomi perhatian, pelupaan adalah bentuk konsumsi.


---

64. 

Dulu sejarah ditulis oleh pemenang.

Kini sejarah ditulis oleh metrik.


---

65. 

Apa yang tidak memperoleh cukup klik berisiko tidak pernah menjadi peristiwa.


---

66. 

Barangkali definisi paling akurat tentang kekuasaan adalah ini:

kemampuan menentukan apa yang layak dianggap nyata.


---

67. 

Dan definisi paling akurat tentang kritik:

upaya mengembalikan kenyataan kepada hal-hal yang telah direduksi menjadi istilah.


---

68. 

Karena manusia lapar sebelum menjadi statistik.

Manusia menangis sebelum menjadi kasus.

Manusia mati sebelum menjadi data.


---

69. 

Setiap teori besar berisiko melupakan itu.

Setiap institusi besar hampir pasti melupakan itu.


---

70. 

Maka tugas bahasa yang paling sederhana, dan mungkin paling revolusioner,

bukan menciptakan konsep baru.

Melainkan menjaga agar kata-kata lama tetap memiliki benda yang dirujuknya.

Agar "lapar" tetap berarti lapar.

Agar "perang" tetap berarti perang.

Agar "bohong" tetap berarti bohong.

Agar "manusia" tetap berarti manusia.

Sebab ketika hubungan terakhir itu putus,

yang tersisa bukan sekadar krisis bahasa.

Melainkan sebuah peradaban

yang telah belajar berbicara

tanpa lagi memiliki sesuatu

untuk dikatakan.

•••

FRAGMEN-FRAGMEN DARI ARKEOLOGI KEWAJARAN

(catatan untuk mereka yang hidup di dalam tata bahasa yang tidak mereka tulis)

71. 

Tidak ada kekuasaan yang pertama-tama bekerja melalui larangan.

Larangan terlalu mahal.

Kekuasaan yang matang bekerja melalui kebiasaan.

Ia membuat sesuatu terasa wajar, lalu meminta kita melupakan bahwa kewajaran itu pernah diciptakan.


---

72. 

Arkeologi bukan pencarian asal-usul.

Ia adalah pencarian retakan.

Karena setiap hal yang tampak alamiah biasanya dibangun di atas reruntuhan yang disapu bersih.


---

73. 

Apa yang disebut "tradisi" sering kali adalah sejarah yang berhasil menghapus jejak konfliknya sendiri.


---

74. 

Setiap institusi bermimpi menjadi tata bahasa.

Sebab hukum masih dapat dilanggar.

Tata bahasa dipatuhi bahkan ketika tidak disadari.


---

75. 

Polisi menjaga jalanan.

Tata bahasa menjaga kemungkinan pikiran.

Yang kedua sering lebih efektif.


---

76. 

Seorang tahanan mengetahui bahwa ia dipenjara.

Seorang penutur jarang mengetahui bahwa ia berbicara dari dalam suatu rezim bahasa.


---

77. 

Mungkin tidak ada yang lebih sulit daripada menemukan kata-kata yang belum disediakan oleh sistem yang ingin dikritik.


---

78. 

Karena kritik sering lahir dengan menggunakan kamus lawannya sendiri.

Dan setiap kamus membawa metafisikanya.


---

79. 

Kata-kata bukan alat netral.

Mereka adalah fosil dari pertarungan lama.

Setiap istilah menyimpan sejarah kemenangan dan kekalahan yang sudah terlupakan.


---

80. 

Ketika sebuah konsep menjadi dominan, yang lenyap bukan hanya konsep lain.

Yang lenyap adalah kemungkinan pengalaman lain.


---

81. 

Masyarakat tidak hanya mengatur apa yang boleh dikatakan.

Ia mengatur apa yang terasa mungkin untuk dipikirkan.


---

82. 

Ada bentuk sensor yang lebih tua daripada negara.

Ia bernama ejekan.


---

83. 

Ada bentuk sensor yang lebih tua daripada ejekan.

Ia bernama rasa malu.


---

84. 

Dan ada bentuk sensor yang lebih tua daripada rasa malu.

Ia bernama keinginan untuk diterima.


---

85. 

Karena itu kekuasaan tidak selalu datang dari luar.

Sering kali ia tumbuh dari dalam, menggunakan suara kita sendiri.


---

86. 

Barangkali panoptikon yang paling sempurna adalah hati nurani yang telah dijajah.


---

87. 

Dalam dunia modern, pengawasan tidak lagi bertanya:

"Apa yang kau lakukan?"

Ia bertanya:

"Apa yang mungkin akan kau lakukan?"


---

88. 

Prediksi adalah kolonialisme terhadap masa depan.


---

89. 

Statistik tidak hanya menggambarkan populasi.

Kadang-kadang ia mulai mendidik populasi agar menyerupai statistiknya.


---

90. 

Kategori sosial memiliki kebiasaan aneh:

mula-mula mereka menjelaskan manusia.

Kemudian mereka menggantikan manusia.


---

91. 

Ketika seseorang berkata:

"Aku adalah ini."

Sering kali yang berbicara bukan dirinya.

Melainkan klasifikasi yang telah menetap terlalu lama.


---

92. 

Mitos tidak bekerja dengan berbohong.

Mitos bekerja dengan menghilangkan pertanyaan.


---

93. 

Keberhasilan terbesar mitos adalah ketika orang tidak lagi bertanya:

"Siapa yang diuntungkan oleh definisi ini?"


---

94. 

Sebab setiap definisi adalah distribusi kekuasaan dalam bentuk yang ringkas.


---

95. 

Tanda tidak pernah sesederhana dirinya.

Di belakang satu kata berdiri seluruh jaringan institusi yang membuatnya masuk akal.


---

96. 

Ketika seorang hakim mengucapkan "bersalah", ia tidak sedang mendeskripsikan dunia.

Ia sedang mengubah dunia.


---

97. 

Ketika seorang negara mengucapkan "darurat", ia tidak sedang melaporkan kenyataan.

Ia sedang menciptakan kondisi baru bagi kenyataan.


---

98. 

Ketika media mengucapkan "isu utama", ia tidak sedang menemukan perhatian publik.

Ia sedang mengorganisasikannya.


---

99. 

Maka sebagian besar bahasa publik bukan bersifat deskriptif.

Melainkan performatif.

Ia tidak mengatakan apa yang ada.

Ia membantu menentukan apa yang akan ada.


---

100. 

Di sinilah letak persoalan etis bahasa.

Bukan apakah bahasa benar.

Melainkan dunia seperti apa yang mulai terbentuk ketika bahasa itu dipercaya.


---

101. 

Ada kalanya sebuah kalimat salah namun membebaskan.

Ada kalanya sebuah kalimat benar namun menundukkan.

Kebenaran dan fungsi sosial tidak selalu berjalan beriringan.


---

102. 

Karena itu kritik tidak cukup bertanya:

"Apakah ini faktual?"

Ia juga harus bertanya:

"Jenis manusia apa yang diproduksi oleh cara berbicara ini?"


---

103. 

Setiap rezim pengetahuan diam-diam memproduksi subjek idealnya.

Sekolah memproduksi murid.

Rumah sakit memproduksi pasien.

Penjara memproduksi narapidana.

Statistik memproduksi populasi.


---

104. 

Dan setelah cukup lama, manusia mulai mengenali dirinya melalui kategori yang memeriksanya.


---

105. 

Barangkali tidak ada kemenangan yang lebih elegan.

Yang diperintah akhirnya menggunakan bahasa penguasa untuk menjelaskan dirinya sendiri.


---

106. 

Tetapi tidak ada sistem yang sepenuhnya tertutup.

Selalu ada sesuatu yang bocor.

Lelucon.

Dialek.

Puisi.

Kesalahan bicara.

Salah dengar.

Sindiran.

Kegagalan terjemahan.


---

107. 

Kekuasaan mencintai bahasa yang stabil.

Karena itu ia selalu sedikit takut kepada puisi.


---

108. 

Puisi tidak berbahaya karena mengandung kebenaran.

Puisi berbahaya karena menunjukkan bahwa hubungan antara kata dan dunia dapat disusun ulang.


---

109. 

Dan jika kata dapat disusun ulang,

mungkin institusi juga dapat.

Mungkin sejarah juga dapat.

Mungkin kewajaran juga dapat.


---

110. 

Maka tugas pemikiran bukan menemukan fondasi terakhir.

Barangkali fondasi terakhir memang tidak ada.

Tugasnya lebih sederhana dan lebih sulit:

menjaga agar apa yang tampak alamiah tetap terlihat sebagai hasil sejarah,

agar apa yang tampak niscaya tetap dapat dibayangkan berbeda,

dan agar bahasa

tidak sepenuhnya lupa

bahwa dunia

selalu lebih besar

daripada tata bahasa yang mencoba mengaturnya.

•••

CATATAN-CATATAN DARI LUAR KAMUS

(fragmen 111–150 untuk sebuah kritik atas bahasa yang terlalu lama berkuasa)

111. 

Barangkali setiap zaman memiliki kata yang tidak boleh disentuh.

Bukan karena suci.

Melainkan karena terlalu berguna bagi tatanan yang ada.


---

112. 

Kata-kata yang paling dilindungi jarang merupakan kata-kata yang paling benar.

Mereka adalah kata-kata yang paling banyak menopang bangunan.


---

113. 

Jika ingin memahami suatu masyarakat, jangan periksa apa yang dirayakannya.

Periksa apa yang tidak dapat dipertanyakannya.


---

114. 

Di situlah metafisika bekerja: bukan sebagai teori tentang realitas, melainkan sebagai larangan halus terhadap pertanyaan tertentu.


---

115. 

Sebagian besar orang tidak hidup di dalam dunia.

Mereka hidup di dalam deskripsi dunia yang diwariskan kepada mereka.


---

116. 

Dan sebagian besar konflik intelektual adalah konflik antara dua deskripsi yang sama-sama lupa bahwa mereka adalah deskripsi.


---

117. 

Fanatisme dimulai ketika metafora lupa bahwa ia metafora.


---

118. 

Dogma dimulai ketika sejarah lupa bahwa ia sejarah.


---

119. 

Ideologi dimulai ketika pilihan lupa bahwa ia pilihan.


---

120. 

Tidak ada yang lebih politis daripada kata "alami".


---

121. 

Karena setiap kali sesuatu disebut alami,

seseorang dibebaskan dari kewajiban menjelaskannya.


---

122. 

Bahasa kekuasaan selalu berusaha menjadi geografi.

Ia ingin tampak seperti lanskap.

Sesuatu yang sudah ada sebelum kita lahir.


---

123. 

Padahal hampir semua yang disebut "normal"

adalah keputusan lama yang berhasil bertahan cukup lama.


---

124. 

Setiap institusi bermimpi menjadi cuaca.


---

125. 

Sebab hujan tidak perlu memperoleh legitimasi.

Orang hanya membawa payung.


---

126. 

Kritik dimulai ketika seseorang bertanya:

"Siapa yang membuat hujan ini tampak alamiah?"


---

127. 

Filsafat sering dipahami sebagai pencarian jawaban.

Padahal sering kali ia hanyalah seni membuat pertanyaan lama menjadi asing kembali.


---

128. 

Keasingan adalah musuh terbesar kekuasaan.

Karena yang asing masih dapat dipikirkan.

Yang biasa hanya dijalani.


---

129. 

Orang yang paling berbahaya bagi sebuah sistem

bukan orang yang membencinya.

Melainkan orang yang berhenti menganggapnya wajar.


---

130. 

Kewajaran adalah polisi yang tidak berseragam.


---

131. 

Ia tidak menangkap.

Ia membuat penangkapan tampak masuk akal.


---

132. 

Ia tidak menyensor.

Ia membuat sensor tampak diperlukan.


---

133. 

Ia tidak memerintah.

Ia membuat kepatuhan tampak rasional.


---

134. 

Setiap rezim pengetahuan memiliki wilayah-wilayah yang gelap.

Bukan karena belum diketahui.

Melainkan karena tidak dianggap layak diketahui.


---

135. 

Ketidaktahuan sering kali bukan kekurangan informasi.

Ia adalah hasil distribusi perhatian.


---

136. 

Apa yang tidak diberi nama sering kali lebih efektif disembunyikan daripada apa yang dilarang.


---

137. 

Karena larangan masih mengakui keberadaan sesuatu.

Penghapusan bahkan tidak memberikan pengakuan itu.


---

138. 

Mungkin bentuk kekerasan konseptual yang paling sempurna

adalah membuat pengalaman tertentu kehilangan kosakatanya.


---

139. 

Orang masih merasakan sakit.

Tetapi tidak lagi memiliki kata untuk menjelaskannya.


---

140. 

Dan penderitaan yang tidak memiliki bahasa

mudah dianggap tidak ada.


---

141. 

Di sinilah politik bertemu linguistik.

Bukan pada pidato.

Bukan pada slogan.

Melainkan pada distribusi kemungkinan untuk berbicara.


---

142. 

Bahasa tidak hanya menjelaskan dunia.

Ia juga menentukan siapa yang dianggap mampu menjelaskannya.


---

143. 

Tidak semua orang memiliki hak yang sama atas kredibilitas.


---

144. 

Dalam banyak masyarakat, fakta yang sama akan terdengar berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya.


---

145. 

Karena otoritas bukan hanya soal kebenaran.

Ia adalah institusi yang mengelilingi kebenaran.


---

146. 

Seorang profesor dan seorang buruh dapat mengucapkan kalimat yang identik.

Namun masyarakat sering kali mendengar dua kalimat yang berbeda.


---

147. 

Maka persoalan pengetahuan tidak pernah hanya soal isi.

Ia juga soal posisi.


---

148. 

Dan posisi adalah bentuk ruang yang diproduksi oleh sejarah.


---

149. 

Mungkin itu sebabnya setiap kritik yang serius

pada akhirnya harus menjadi kritik terhadap bahasa.

Karena sebelum manusia tunduk kepada hukum,

ia terlebih dahulu tunduk kepada nama-nama.


---

150. 

Dan mungkin kebebasan tidak dimulai ketika seseorang dapat mengatakan apa saja.

Mungkin ia dimulai jauh lebih awal:

ketika seseorang mampu melihat

bahwa kata-kata yang mengelilinginya

bukanlah alam,

bukan takdir,

bukan kebenaran terakhir,

melainkan bangunan-bangunan rapuh

yang dibuat manusia,

dan karena itu

dapat dibuat ulang.

•••

MANUAL OPERASIONAL UNTUK PRODUKSI KEWAJARAN

(fragmen 151–190 dari republik yang mengelola persepsi lebih baik daripada kenyataan)

151. 

Media tidak selalu berbohong.

Sering kali ia melakukan sesuatu yang lebih efektif:

memilih.

Dan apa yang tidak dipilih akan mati tanpa perlu dibantah.


---

152. 

Setiap halaman depan adalah kuburan.

Untuk satu berita yang tampil, seratus berita lain dikuburkan.


---

153. 

Sensor kuno membakar buku.

Sensor modern memberi buku itu jangkauan nol.


---

154. 

Apa yang tidak muncul di layar semakin sulit dianggap nyata.


---

155. 

Dan karena itu, kekuasaan tidak lagi harus mengontrol pikiran.

Cukup mengontrol visibilitas.


---

156. 

Perhatian publik adalah tanah.

Institusi yang menguasainya tidak perlu menguasai seluruh kebenaran.


---

157. 

Cukup menentukan apa yang layak diperhatikan hari ini.


---

158. 

Skandal adalah teknologi pengalihan yang sempurna.

Ia membuat masyarakat marah

tanpa harus membuatnya mengerti.


---

159. 

Orang yang marah terus-menerus jarang memiliki energi untuk berpikir sistematis.


---

160. 

Karena itu sebagian kemarahan publik tidak dipadamkan.

Ia dibudidayakan.


---

161. 

Media modern menemukan rahasia lama:

ketakutan lebih laku daripada pemahaman.


---

162. 

Kepanikan memiliki tingkat keterlibatan yang sangat tinggi.


---

163. 

Dan algoritma tidak dibayar untuk menciptakan warga negara yang bijaksana.

Ia dibayar untuk mempertahankan perhatian.


---

164. 

Perhatian adalah komoditas.

Warga negara adalah bahan bakunya.


---

165. 

Maka lahirlah industri yang paling menguntungkan dalam sejarah manusia:

perdagangan kesadaran.


---

166. 

Dulu manusia menjual tenaga.

Kini mereka juga menjual fokus.


---

167. 

Dan sering kali mereka bahkan tidak tahu sedang menjualnya.


---

168. 

Setiap kali seseorang berkata:

"Ini yang sedang dibicarakan semua orang,"

pertanyaan yang jarang diajukan adalah:

siapa yang memutuskan bahwa semua orang harus membicarakannya?


---

169. 

Agenda bukan cermin masyarakat.

Agenda adalah instrumen untuk mengaturnya.


---

170. 

Berita tidak hanya melaporkan kenyataan.

Ia mengurutkan kenyataan.

Dan urutan adalah bentuk kekuasaan.


---

171. 

Apa yang ditempatkan di judul menjadi prioritas moral.

Apa yang ditempatkan di halaman belakang menjadi statistik.


---

172. 

Media sering mengaku netral.

Pisau juga netral.

Pertanyaannya selalu:

di tangan siapa?


---

173. 

Objektivitas institusional sering kali berarti:

sudut pandang yang dominan berhasil tampil tanpa aksen.


---

174. 

Ideologi paling sukses adalah ideologi yang terdengar seperti berita cuaca.


---

175. 

Ketika seorang presenter berkata "faktanya adalah..."

perhatikan baik-baik.

Sering kali yang datang sesudahnya bukan fakta,

melainkan kerangka untuk memahami fakta.


---

176. 

Dan kerangka selalu memilih.


---

177. 

Tidak ada kamera yang sepenuhnya netral.

Bahkan sebelum merekam, kamera sudah menentukan ke mana ia menghadap.


---

178. 

Setiap sudut pengambilan gambar adalah keputusan filosofis yang menyamar.


---

179. 

Setiap pemotongan video adalah teori tentang realitas.


---

180. 

Setiap judul adalah hipotesis politik.


---

181. 

Institusi modern tidak hidup dari kebenaran.

Ia hidup dari kredibilitas.

Dan kredibilitas sering kali bertahan lebih lama daripada kebenaran.


---

182. 

Karena manusia tidak memverifikasi seluruh dunia.

Mereka mempercayai perantara.


---

183. 

Maka perebutan otoritas lebih penting daripada perebutan fakta.


---

184. 

Fakta tanpa institusi sering terdengar seperti opini.

Institusi tanpa fakta sering terdengar seperti fakta.


---

185. 

Di sinilah media dan kekuasaan menjadi saudara dekat.

Keduanya memproduksi realitas publik.

Yang satu melalui hukum.

Yang lain melalui perhatian.


---

186. 

Negara berkata:

"Inilah yang sah."

Media berkata:

"Inilah yang penting."

Dan sebagian besar masyarakat hidup di antara dua kalimat itu.


---

187. 

Kadang sebuah tragedi menjadi berita.

Kadang tidak.

Perbedaannya sering bukan pada tragedinya.

Melainkan pada nilai pasarnya.


---

188. 

Dalam ekonomi informasi,

penderitaan juga bersaing.


---

189. 

Ada korban yang memperoleh siaran langsung.

Ada korban yang hanya memperoleh angka.

Ada korban yang bahkan tidak memperoleh kategori.


---

190. 

Dan mungkin kritik media yang paling mendasar bukan bertanya:

"Apakah mereka berbohong?"

Melainkan:

"Berapa banyak kenyataan yang harus dihilangkan

agar narasi ini dapat terlihat utuh?"


---

LAMPIRAN UNTUK HUBUNGAN MASYARAKAT NEGARA

191. 

Hubungan masyarakat adalah seni mengelola jarak antara kenyataan dan persepsi tentang kenyataan.


---

192. 

Semakin besar jarak itu,

semakin mahal biaya komunikasinya.


---

193. 

Jika sebuah kebijakan berhasil, publikasikan.

Jika gagal, bentuk tim evaluasi.


---

194. 

Jika evaluasi gagal, umumkan reformasi.


---

195. 

Jika reformasi gagal, luncurkan visi baru.


---

196. 

Jika visi gagal, ganti slogan.


---

197. 

Jika slogan gagal, ganti logo.


---

198. 

Jika logo gagal, ganti juru bicara.


---

199. 

Tetapi jangan sekali-kali mengakui bahwa masalahnya mungkin bukan komunikasi.


---

200. 

Karena dalam republik citra,

pengakuan terhadap kenyataan

sering kali dianggap

lebih berbahaya

daripada kenyataan itu sendiri.

•••

KERAJAAN HUMAS

(epos satir tentang negeri yang mengelola citra lebih serius daripada kenyataan)

Ketika jembatan runtuh,

hal pertama yang dicari bukan korban.

Bukan penyebab.

Bukan penanggung jawab.

Melainkan mikrofon.

Sebab di negeri ini, peristiwa tidak benar-benar terjadi sampai seseorang menjelaskannya di depan kamera.

Maka ambulans datang.

Polisi datang.

Petugas datang.

Lalu yang paling cepat tiba:

tim komunikasi.

Mereka berdiri di antara reruntuhan seperti imam di antara puing-puing kuil.

Mereka tidak membawa semen.

Tidak membawa alat berat.

Tidak membawa obat.

Mereka membawa narasi.

Dan narasi harus segera bekerja sebelum kenyataan sempat berbicara sendiri.


---

Di ruang rapat berpendingin udara, orang-orang yang tidak pernah mengangkat batu mulai mengangkat istilah.

Mereka berkata:

"Kita harus mengendalikan persepsi."

Karena persepsi dianggap lebih mendesak daripada beton yang patah.

Lebih mendesak daripada keluarga korban.

Lebih mendesak daripada pertanyaan sederhana:

siapa yang salah?

Pertanyaan seperti itu dianggap tidak produktif.

Ia tidak menghasilkan stabilitas.

Ia tidak meningkatkan kepercayaan.

Ia tidak memperbaiki sentimen pasar.

Maka pertanyaan itu harus ditunda sampai masyarakat cukup lelah untuk melupakannya.


---

Lalu konferensi pers digelar.

Di atas panggung, seorang pejabat membaca kalimat-kalimat yang telah dibersihkan dari manusia.

"Kami prihatin."

"Kami berkomitmen."

"Kami melakukan evaluasi."

"Kami akan menindaklanjuti."

Tak ada subjek.

Tak ada pelaku.

Tak ada kesalahan.

Kalimat-kalimat itu bergerak sendiri seperti hantu administratif.

Mereka berjalan mondar-mandir di antara reruntuhan tanpa pernah menyentuh satu batu pun.


---

Keesokan harinya, surat kabar menampilkan foto besar.

Bukan foto korban.

Bukan foto retakan.

Bukan foto dokumen yang dipalsukan.

Melainkan foto kunjungan.

Foto peninjauan.

Foto rapat koordinasi.

Foto kepedulian.

Di republik citra, kepedulian lebih mudah difoto daripada tanggung jawab.


---

Sementara itu, televisi bekerja seperti biasa.

Satu kanal membahas tragedi.

Kanal lain membahas pernyataan tentang tragedi.

Kanal berikutnya membahas reaksi terhadap pernyataan tentang tragedi.

Lalu datang pakar untuk membahas respons publik terhadap reaksi atas pernyataan tersebut.

Dan perlahan-lahan,

tragedi itu sendiri

menghilang dari percakapan.

Yang tersisa hanyalah lapisan komentar di atas komentar di atas komentar.

Seperti kuburan yang ditimbun oleh analisis tanpa akhir.


---

Media modern memiliki kemampuan luar biasa.

Ia dapat membuat seluruh bangsa berbicara tentang sesuatu

tanpa pernah menyentuh inti persoalannya.

Ia dapat mengubah kemiskinan menjadi perdebatan mengenai definisi kemiskinan.

Ia dapat mengubah korupsi menjadi perdebatan mengenai prosedur hukum.

Ia dapat mengubah ketidakadilan menjadi perdebatan mengenai etika komunikasi.

Dan ketika perdebatan selesai,

kemiskinan masih ada.

Korupsi masih ada.

Ketidakadilan masih ada.

Tetapi semua orang merasa sesuatu telah dilakukan.


---

Di studio-studio televisi,

orang-orang berdasi memperdebatkan rakyat.

Mereka membahas rakyat.

Menganalisis rakyat.

Mengukur rakyat.

Menginterpretasikan rakyat.

Mewakili rakyat.

Segala sesuatu dilakukan terhadap rakyat,

kecuali mendengarkan mereka.

Karena rakyat yang sesungguhnya berbicara terlalu tidak teratur untuk format siaran.

Mereka tidak memiliki data pendukung.

Mereka tidak memiliki gelar.

Mereka tidak berbicara dalam paragraf-paragraf yang rapi.

Mereka hanya memiliki pengalaman.

Dan pengalaman adalah jenis bukti yang semakin tidak dihargai oleh institusi besar.


---

Di kementerian, laporan tahunan terus bertambah tebal.

Halaman demi halaman.

Grafik demi grafik.

Diagram demi diagram.

Indikator demi indikator.

Semakin banyak angka dicetak, semakin sedikit manusia terlihat.

Pada akhirnya, seluruh bangsa berubah menjadi spreadsheet raksasa.

Kelahiran menjadi statistik.

Penyakit menjadi statistik.

Pengangguran menjadi statistik.

Kematian menjadi statistik.

Dan statistik itu kemudian dibahas oleh orang-orang yang tidak pernah muncul di dalamnya.


---

Tetapi keajaiban terbesar belum terjadi.

Keajaiban terbesar adalah ini:

orang-orang mulai percaya bahwa representasi lebih penting daripada kenyataan.

Jika sekolah rusak, yang penting citra pendidikan meningkat.

Jika rumah sakit penuh, yang penting indeks kepuasan naik.

Jika kota banjir, yang penting komunikasi krisis berjalan baik.

Seolah-olah manusia dapat hidup dari presentasi PowerPoint.

Seolah-olah laporan tahunan dapat dimakan.

Seolah-olah grafik dapat dijadikan tempat berlindung saat hujan.


---

Dan ketika seseorang akhirnya berkata:

"Masalahnya bukan persepsi. Masalahnya adalah kenyataan."

Seluruh mesin mulai bergetar.

Karena kalimat itu adalah musuh alami setiap industri citra.

Ia terlalu sederhana.

Terlalu langsung.

Terlalu dekat dengan dunia.

Ia tidak membutuhkan moderator.

Tidak membutuhkan konsultan.

Tidak membutuhkan survei.

Tidak membutuhkan strategi komunikasi.

Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menyebut sesuatu dengan nama yang tepat.


---

Maka seluruh kerajaan humas segera bergerak.

Siaran pers diterbitkan.

Narasi diperbarui.

Tagar diluncurkan.

Influencer direkrut.

Panel diskusi diselenggarakan.

Opini diproduksi.

Klarifikasi diedarkan.

Penjelasan diperpanjang.

Konteks diperluas.

Nuansa ditambahkan.

Segala sesuatu dilakukan untuk mengubur satu kalimat sederhana itu.

Sebab mereka tahu:

sebuah sistem dapat bertahan dari kebohongan yang terbongkar.

Ia dapat bertahan dari skandal yang terungkap.

Ia bahkan dapat bertahan dari kemarahan publik.

Tetapi ada satu hal yang selalu membuatnya takut:

saat orang berhenti membicarakan narasi,

dan mulai membicarakan kenyataan.

•••

PABRIK PERSETUJUAN

(epos satir tentang industri yang memproduksi kenyataan publik)

Di pinggir ibu kota, di antara gedung kaca dan menara komunikasi, berdiri sebuah pabrik terbesar di negeri itu.

Ia tidak memproduksi makanan.

Tidak memproduksi pakaian.

Tidak memproduksi obat.

Ia memproduksi persetujuan.

Asapnya tidak terlihat.

Mesinnya tidak berisik.

Namun hasil produksinya masuk ke setiap rumah, setiap telepon genggam, setiap ruang kelas, setiap kantor, setiap percakapan.

Di sanalah kenyataan publik dirakit.


---

Setiap pagi, truk-truk besar datang membawa bahan mentah.

Ada korupsi.

Ada kemiskinan.

Ada pengangguran.

Ada banjir.

Ada penggusuran.

Ada utang.

Ada kemarahan.

Ada ketakutan.

Ada kegagalan.

Semua itu diturunkan di halaman belakang.

Lalu para teknisi narasi mulai bekerja.

Mereka memilah.

Memotong.

Menghaluskan.

Menyaring.

Mengemas.

Karena kenyataan mentah terlalu berbahaya untuk dikonsumsi langsung.


---

Seorang buruh pabrik bertanya:

"Kenapa tidak kita tampilkan saja apa adanya?"

Mandornya tertawa.

Karena ia masih muda.

Karena ia belum mengerti ekonomi informasi.

Karena ia masih mengira fungsi komunikasi adalah menjelaskan.

Padahal fungsi komunikasi modern adalah mengelola dampak.

Bukan menjelaskan kebakaran.

Melainkan mengelola persepsi tentang kebakaran.

Bukan menghapus penderitaan.

Melainkan mengatur narasi penderitaan.

Bukan memperbaiki dunia.

Melainkan menjaga agar dunia yang rusak tetap tampak dapat diterima.


---

Di ruang pengemasan, terdapat departemen khusus untuk mengubah bahasa.

Di sana para ahli bekerja dengan ketelitian seorang ahli bedah.

Mereka mengambil kata:

"gagal"

dan mengubahnya menjadi

"belum optimal."

Mereka mengambil kata:

"bohong"

dan mengubahnya menjadi

"perbedaan informasi."

Mereka mengambil kata:

"janji yang diingkari"

dan mengubahnya menjadi

"dinamika implementasi."

Setelah diproses, kenyataan yang tajam menjadi aman untuk ditayangkan.


---

Di ruang lain, para produser berita duduk menghadap layar.

Mereka bukan sensor.

Sensor adalah profesi kuno.

Mereka melakukan pekerjaan yang lebih elegan.

Mereka memilih.

Hanya memilih.

Dan dengan memilih, mereka menentukan apa yang akan dianggap ada.

Hari ini:

skandal artis.

Besok:

perseteruan selebritas.

Lusa:

kontroversi media sosial.

Minggu depan:

isu baru yang lebih segar.

Sementara itu, krisis yang berlangsung bertahun-tahun tetap berada di ruang tunggu sejarah.

Karena penderitaan yang berulang tidak menghasilkan rating yang baik.


---

Kemudian datang para pakar.

Mereka memasuki studio dengan wajah serius.

Mereka berbicara tentang indeks.

Tentang tren.

Tentang sentimen.

Tentang persepsi.

Tentang positioning.

Tentang branding nasional.

Mereka berbicara selama dua jam.

Dan tidak sekali pun menyebut orang yang harus bangun pukul empat pagi untuk bekerja.

Tidak sekali pun menyebut orang yang tidak mampu berobat.

Tidak sekali pun menyebut orang yang kehilangan rumah.

Karena manusia konkret terlalu mengganggu abstraksi.


---

Lalu layar dipenuhi grafik.

Grafik naik.

Grafik turun.

Grafik bergerak.

Grafik berwarna.

Dan seluruh negeri memandang grafik itu seperti nenek moyang mereka dahulu memandang bintang.

Mencari petunjuk.

Mencari arah.

Mencari harapan.

Padahal grafik itu sendiri tidak pernah lapar.

Tidak pernah kehilangan pekerjaan.

Tidak pernah menunggak sewa.

Tidak pernah mengantre obat.

Namun grafik berbicara lebih keras daripada manusia.

Karena grafik memiliki legitimasi.

Manusia hanya memiliki pengalaman.


---

Pada suatu hari, seorang reporter muda melakukan kesalahan.

Ia pergi ke lapangan.

Ia berbicara dengan orang-orang.

Ia melihat sendiri.

Ia mendengar sendiri.

Ia menulis:

"Banyak orang hidup dalam kesulitan."

Redakturnya mengembalikan naskah itu.

"Terlalu langsung."

Reporter itu bingung.

"Terlalu emosional."

"Terlalu sederhana."

"Terlalu manusia."

Ia diminta merevisinya.

Akhirnya kalimat itu berubah menjadi:

"Terdapat tantangan sosial-ekonomi yang memerlukan pendekatan lintas sektor."

Naskah diterima.

Kemanusiaannya ditolak.


---

Dan begitulah pabrik itu bekerja.

Tahun demi tahun.

Dekade demi dekade.

Mengubah kenyataan menjadi konten.

Mengubah tragedi menjadi segmen.

Mengubah kemarahan menjadi statistik.

Mengubah ketidakadilan menjadi opini.

Mengubah warga negara menjadi audiens.


---

Namun ada satu cacat yang tidak pernah berhasil diperbaiki.

Kenyataan selalu bocor.

Kadang melalui percakapan di warung.

Kadang melalui cerita keluarga.

Kadang melalui pengalaman sehari-hari.

Kadang melalui seorang anak yang bertanya pertanyaan sederhana.

Kadang melalui seorang penyair yang menolak menggunakan eufemisme.

Kadang melalui seseorang yang kehilangan kesabaran terhadap jargon.

Dan setiap kali kebocoran itu terjadi,

seluruh pabrik panik.

Karena mereka tahu sesuatu yang jarang diakui secara terbuka:

narasi hanya kuat selama kenyataan masih diam.


---

Itulah sebabnya setiap institusi besar lebih takut kepada pengalaman langsung

daripada kepada teori.

Lebih takut kepada kesaksian

daripada kepada statistik.

Lebih takut kepada kalimat sederhana:

"Aku melihatnya sendiri."

daripada kepada seribu halaman laporan.

Sebab laporan masih dapat diperdebatkan.

Data masih dapat ditafsirkan.

Grafik masih dapat disusun ulang.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu tentang manusia yang berkata:

"Tidak. Itu bukan yang terjadi."

Dan mungkin, di situlah seluruh industri citra menemukan batas akhirnya.

Karena pada suatu titik,

setelah seluruh slogan dicetak, seluruh iklan ditayangkan, seluruh survei dipublikasikan, seluruh pakar diwawancarai, seluruh narasi disempurnakan,

kenyataan tetap memiliki kebiasaan buruk:

ia terus ada.

•••

KEMENTERIAN KENYATAAN

(epos satir tentang lembaga yang ditugaskan mengelola dunia tanpa pernah menyentuhnya)

Di ibu kota berdiri sebuah gedung yang tidak tercantum dalam peta resmi.

Namanya Kementerian Kenyataan.

Namun jangan salah paham.

Lembaga itu tidak bertugas memahami kenyataan.

Ia bertugas mengelolanya.

Dan dalam administrasi modern, mengelola sesuatu jauh lebih penting daripada memahaminya.


---

Setiap pagi, para pejabat datang membawa map.

Di dalam map terdapat dunia.

Bukan dunia yang sebenarnya.

Dunia yang telah diringkas.

Dunia yang telah diklasifikasikan.

Dunia yang telah diberi kode.

Dunia yang telah kehilangan bau, suara, suhu, dan penderitaannya.

Di atas meja rapat, kelaparan menjadi diagram.

Kesedihan menjadi indikator.

Keputusasaan menjadi tren.

Kematian menjadi variabel.

Dan para pejabat mengangguk puas.

Karena akhirnya kenyataan cukup rapi untuk dibahas.


---

Mereka tidak menyukai kenyataan yang asli.

Terlalu berisik.

Terlalu tidak teratur.

Terlalu penuh manusia.

Manusia selalu menjadi masalah.

Ia menangis di saat yang salah.

Marah pada waktu yang tidak dijadwalkan.

Mengeluh tanpa mengikuti format.

Menderita tanpa mengisi formulir.

Karena itu, institusi besar selalu berusaha mengubah manusia menjadi kategori.

Kategori lebih mudah diatur.

Kategori tidak berteriak.


---

Di ruang rapat utama, tergantung sebuah semboyan besar:

"Apa yang tidak dapat diukur tidak dapat dikelola."

Semua orang mengangguk.

Tak seorang pun bertanya apakah sesuatu yang dapat diukur otomatis layak dikelola.

Atau apakah sesuatu yang tidak dapat diukur otomatis tidak penting.

Karena jika pertanyaan itu muncul,

setengah gedung harus ditutup.


---

Suatu hari, seorang petugas junior melakukan kesalahan.

Ia mengunjungi lapangan.

Ia melihat sendiri orang-orang yang hidup di dalam laporan yang setiap hari dibacanya.

Ia pulang dalam keadaan gelisah.

Katanya:

"Angka-angka itu tidak mirip manusia."

Atasannya tersenyum sabar.

Seperti guru menjelaskan sesuatu kepada murid yang belum dewasa.

"Tentu saja tidak."

"Kalau angka terlalu mirip manusia, kita tidak akan bisa bekerja."


---

Lalu rapat dilanjutkan.

Presentasi berjalan.

Grafik bergerak.

Persentase meningkat.

Target tercapai.

Indikator membaik.

Dan seseorang mendapat promosi.

Sementara itu, di luar gedung,

orang-orang tetap mengantre.

Tetapi antrean tidak muncul dalam slide presentasi.

Maka secara administratif, ia hampir tidak ada.


---

Kementerian Kenyataan memiliki hubungan dekat dengan media nasional.

Mereka saling membutuhkan.

Kementerian menghasilkan angka.

Media menghasilkan perhatian.

Kementerian menghasilkan laporan.

Media menghasilkan persepsi.

Kementerian menghasilkan narasi resmi.

Media menghasilkan pengulangan.

Dan pengulangan adalah bentuk kebenaran yang paling murah.


---

Setelah sebuah laporan diterbitkan, stasiun televisi segera mengundang para pakar.

Para pakar duduk di bawah lampu terang.

Mereka membahas angka.

Membahas tren.

Membahas metodologi.

Membahas signifikansi statistik.

Membahas implikasi kebijakan.

Tak seorang pun membahas manusia.

Karena manusia sulit diringkas dalam segmen tujuh menit.


---

Lama-kelamaan, bangsa itu mulai berubah.

Mereka tidak lagi bertanya:

"Apakah hidup kita lebih baik?"

Mereka bertanya:

"Apakah indeksnya naik?"

Mereka tidak lagi bertanya:

"Apakah kita bahagia?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana hasil surveinya?"

Mereka tidak lagi bertanya:

"Apa yang terjadi?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana narasinya?"

Dan ketika suatu bangsa lebih percaya kepada representasi daripada pengalaman,

institusi tidak perlu lagi memerintah.

Cukup mengukur.


---

Namun setiap sistem memiliki kebocoran.

Setiap kementerian memiliki hantu.

Di Kementerian Kenyataan, hantu itu adalah pengalaman langsung.

Ia muncul tanpa undangan.

Tanpa izin.

Tanpa metodologi.

Tanpa kerangka konseptual.

Seorang ibu yang tidak mampu membeli obat.

Seorang buruh yang kehilangan pekerjaan.

Seorang petani yang gagal panen.

Seorang anak yang putus sekolah.

Mereka muncul seperti gangguan di dalam mesin abstraksi.

Mereka tidak cocok dengan grafik.

Mereka tidak sesuai dengan narasi.

Mereka tidak dapat dimasukkan ke dalam kolom catatan kaki.


---

Karena itu, institusi besar selalu memiliki ketakutan rahasia.

Bukan terhadap oposisi.

Bukan terhadap demonstrasi.

Bukan terhadap kritik.

Ketakutan terbesar mereka adalah ini:

bahwa suatu hari nanti

orang-orang berhenti melihat dunia melalui laporan,

dan mulai melihat laporan melalui dunia.


---

Sebab saat itu terjadi,

grafik harus menjawab kepada kenyataan.

Bukan kenyataan kepada grafik.

Statistik harus menjawab kepada pengalaman.

Bukan pengalaman kepada statistik.

Dan seluruh hierarki representasi yang dibangun selama puluhan tahun

akan berdiri terbalik.


---

Maka Kementerian Kenyataan terus bekerja.

Siang dan malam.

Mengubah kehidupan menjadi data.

Mengubah data menjadi kebijakan.

Mengubah kebijakan menjadi pidato.

Mengubah pidato menjadi berita.

Mengubah berita menjadi persepsi.

Mengubah persepsi menjadi legitimasi.

Dan mengubah legitimasi kembali menjadi kekuasaan.

Sebuah siklus yang nyaris sempurna.

Nyaris.

Karena selalu ada seseorang di luar gedung,

yang setelah mendengar seluruh pidato, seluruh laporan, seluruh klarifikasi, seluruh presentasi,

tetap berkata dengan tenang:

"Tapi hidup saya tidak seperti itu."

Dan tidak ada institusi mana pun

yang pernah menemukan cara sepenuhnya aman

untuk membungkam kalimat tersebut.

•••

DIREKTORAT JENDERAL PENJELASAN

(epos satir tentang negeri yang menjelaskan segalanya kecuali penyebabnya)

Di negeri ini, tidak ada kekurangan jawaban.

Yang langka adalah pertanyaan yang tepat.

Sebab setiap kali sesuatu runtuh, sebuah institusi segera berdiri untuk menjelaskannya.

Jembatan runtuh.

Tim penjelasan dibentuk.

Sekolah ambruk.

Tim penjelasan dibentuk.

Korupsi terbongkar.

Tim penjelasan dibentuk.

Harga naik.

Tim penjelasan dibentuk.

Banjir datang.

Tim penjelasan dibentuk.

Di republik modern, penjelasan diproduksi lebih cepat daripada perbaikan.


---

Di pusat kota, berdiri Direktorat Jenderal Penjelasan.

Gedungnya megah.

Anggarannya besar.

Prestasinya luar biasa.

Tak ada lembaga lain yang mampu menghasilkan begitu banyak kata dari begitu sedikit tindakan.

Di dalamnya bekerja para spesialis.

Ada ahli konteks.

Ada ahli klarifikasi.

Ada ahli framing.

Ada ahli mitigasi persepsi.

Ada ahli pengelolaan ekspektasi.

Tak ada ahli kenyataan.

Posisi itu telah lama dihapus karena dianggap tidak strategis.


---

Setiap pagi, para pejabat berkumpul.

Mereka tidak bertanya:

"Apa yang harus diperbaiki?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana ini akan terlihat?"

Dan dari pertanyaan itulah seluruh kebijakan komunikasi lahir.

Karena dalam birokrasi citra, penampilan bukan akibat.

Penampilan adalah tujuan.


---

Suatu hari, seorang pegawai muda mengangkat tangan.

"Maaf," katanya.

"Mungkin masalahnya bukan cara kita menjelaskan keadaan."

Ruangan menjadi sunyi.

"Barangkali masalahnya adalah keadaan itu sendiri."

Para senior saling berpandangan.

Seperti mendengar seseorang mengusulkan pembubaran gravitasi.

Karena gagasan semacam itu terlalu radikal.

Terlalu berbahaya.

Terlalu dekat dengan kenyataan.


---

Direktur Jenderal kemudian berdiri.

Dengan suara tenang ia berkata:

"Saudara masih muda."

"Saudara belum memahami administrasi modern."

"Kenyataan adalah sumber daya yang terbatas."

"Tetapi penjelasan dapat diproduksi tanpa batas."

Semua orang bertepuk tangan.

Pegawai muda itu dipindahkan ke bagian arsip.


---

Di luar gedung, media bekerja sama tanpa perlu perjanjian.

Bukan karena mereka menerima instruksi.

Melainkan karena mereka menerima logika yang sama.

Logika perhatian.

Logika rating.

Logika keterlibatan.

Logika pasar.

Mereka memahami bahwa penderitaan harus bersaing untuk memperoleh visibilitas.

Dan tidak semua penderitaan memiliki nilai komersial yang setara.

Seorang selebritas tersandung.

Berita utama.

Seribu petani bangkrut.

Catatan ekonomi.

Lima ribu buruh kehilangan pekerjaan.

Laporan singkat.

Karena tragedi memiliki harga pasar.

Dan pasar memiliki preferensinya sendiri.


---

Maka lahirlah bentuk baru ketidakadilan.

Bukan ketidakadilan distribusi.

Bukan ketidakadilan hukum.

Melainkan ketidakadilan perhatian.

Ada orang yang menderita di depan kamera.

Ada orang yang menderita di luar jangkauan sinyal.

Yang pertama menjadi isu nasional.

Yang kedua menjadi statistik.


---

Di ruang redaksi, editor berkata:

"Kita perlu sudut yang menarik."

Tidak ada niat jahat di sana.

Tidak ada konspirasi.

Hanya rutinitas.

Tetapi sejarah sering kali dibentuk bukan oleh kejahatan besar.

Melainkan oleh kebiasaan kecil yang diulang jutaan kali.

Maka perlahan-lahan,

yang menarik menggantikan yang penting.

Yang viral menggantikan yang benar.

Yang emosional menggantikan yang struktural.

Yang segera menggantikan yang mendasar.


---

Akibatnya, bangsa itu mengetahui segalanya tentang gejala.

Dan hampir tidak mengetahui apa pun tentang sebab.

Mereka mengetahui siapa yang marah.

Mereka tidak mengetahui mengapa.

Mereka mengetahui siapa yang gagal.

Mereka tidak mengetahui sistem yang membuat kegagalan itu mungkin.

Mereka mengetahui nama skandal.

Mereka tidak mengetahui mekanisme yang melahirkannya.

Mereka mengetahui peristiwa.

Mereka tidak mengetahui struktur.

Dan institusi sangat menyukai keadaan tersebut.

Karena struktur adalah tempat di mana pertanyaan berbahaya tinggal.


---

Lalu datang musim pemilu.

Musim paling produktif bagi Direktorat Jenderal Penjelasan.

Slogan dicetak.

Narasi dipoles.

Janji dirumuskan.

Ketakutan dikelola.

Harapan dikemas.

Kemarahan disegmentasi.

Kekecewaan ditargetkan.

Optimisme dipersonalisasi.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, setiap warga negara memperoleh versi kenyataan yang dirancang khusus untuk dirinya.


---

Setelah pemilu selesai, semua mesin tetap bekerja.

Karena produksi persepsi tidak mengenal musim.

Ia berlangsung terus-menerus.

Dua puluh empat jam sehari.

Tujuh hari seminggu.

Tiga ratus enam puluh lima hari setahun.

Sampai akhirnya masyarakat lupa bahwa ada perbedaan antara:

mengetahui sesuatu

dan terus-menerus mendengar tentang sesuatu.


---

Namun sejarah memiliki kebiasaan buruk.

Ia sesekali menolak dijelaskan.

Ia datang dalam bentuk antrean panjang.

Dalam bentuk upah yang tak cukup.

Dalam bentuk rumah yang tergenang.

Dalam bentuk sekolah yang bocor.

Dalam bentuk tubuh yang sakit.

Dalam bentuk hidup yang semakin sulit.

Dan semua itu memiliki sifat yang merepotkan:

mereka dialami langsung.


---

Pengalaman langsung adalah musuh alami Direktorat Jenderal Penjelasan.

Karena pengalaman tidak membaca siaran pers.

Tidak menonton konferensi pers.

Tidak mengikuti strategi komunikasi.

Tidak peduli pada manajemen reputasi.

Ia hanya terjadi.

Dan ketika jutaan pengalaman mulai bertentangan dengan jutaan penjelasan,

institusi menemukan batasnya.


---

Pada titik itu,

tak peduli berapa banyak pakar diundang.

Tak peduli berapa banyak laporan diterbitkan.

Tak peduli berapa banyak narasi diperbarui.

Tak peduli berapa banyak istilah baru ditemukan.

Akan selalu ada seseorang yang berdiri di tengah semua itu dan mengucapkan kalimat sederhana:

"Saya tahu apa yang saya alami."

Dan bagi seluruh industri penjelasan,

tidak ada lawan yang lebih sulit

daripada seseorang

yang masih mempercayai pengalamannya sendiri.

•••

REPUBLIK SURVEI

(epos satir tentang negeri yang lebih percaya pada jawaban yang dihitung daripada kehidupan yang dijalani)

Pada suatu masa, orang-orang pergi ke pasar untuk mengetahui keadaan negeri.

Mereka berbicara.

Mendengar.

Berdebat.

Mengeluh.

Bersaksi.

Lalu datang zaman yang lebih modern.

Kini keadaan negeri diketahui melalui grafik.

Dan grafik dianggap lebih sopan daripada manusia.


---

Di Republik Survei, setiap warga negara hidup dua kali.

Pertama sebagai manusia.

Kedua sebagai responden.

Kehidupan pertama penuh kerumitan.

Kehidupan kedua jauh lebih mudah dikelola.

Karena manusia bisa berubah pikiran.

Angka tidak.

Manusia bisa marah.

Angka tidak.

Manusia bisa menangis.

Angka tidak.

Maka perlahan-lahan, institusi belajar mencintai angka lebih daripada orang yang dihitungnya.


---

Setiap bulan, para imam statistik turun ke lapangan.

Mereka membawa kuesioner.

Mereka bertanya:

"Apakah Anda puas?"

Dan seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan menjawab sambil tersenyum sopan.

"Ya."

Karena ia lelah.

Karena ia terburu-buru.

Karena ia tidak percaya jawabannya akan mengubah apa pun.

Karena hidup terlalu rumit untuk dijelaskan dalam skala satu sampai lima.

Tetapi sistem tidak mengenal kerumitan.

Sistem mengenal data.

Maka jawaban itu dicatat.

Dan kesedihan seseorang berubah menjadi titik kecil di dalam tabel besar.


---

Beberapa minggu kemudian, sebuah konferensi pers digelar.

Grafik diproyeksikan ke layar raksasa.

Panah naik.

Indeks meningkat.

Kepercayaan membaik.

Optimisme menguat.

Semua orang bertepuk tangan.

Tidak ada yang bertanya apakah kehidupan juga bertepuk tangan.


---

Di televisi, para analis membahas hasil survei.

Mereka memperdebatkan margin kesalahan.

Mereka memperdebatkan metodologi.

Mereka memperdebatkan representativitas sampel.

Tak seorang pun memperdebatkan mengapa masyarakat harus hidup di dalam dunia yang begitu buruk hingga perlu diukur setiap bulan apakah mereka masih percaya padanya.


---

Dan begitulah Republik Survei bekerja.

Ia tidak bertanya:

"Mengapa orang marah?"

Ia bertanya:

"Berapa persen yang marah?"

Ia tidak bertanya:

"Mengapa orang miskin?"

Ia bertanya:

"Berapa jumlahnya?"

Ia tidak bertanya:

"Mengapa hidup terasa tidak adil?"

Ia bertanya:

"Bagaimana persepsinya?"

Segala sesuatu yang menyakitkan diterjemahkan menjadi angka.

Segala sesuatu yang kompleks diterjemahkan menjadi persentase.

Segala sesuatu yang manusiawi diterjemahkan menjadi indikator.

Dan setelah diterjemahkan, ia dianggap telah dipahami.


---

Namun republik itu memiliki rahasia.

Rahasia yang diketahui semua orang tetapi tidak pernah disebutkan.

Survei tidak mengukur kenyataan.

Ia mengukur hubungan seseorang dengan pertanyaan tertentu pada saat tertentu dalam kondisi tertentu.

Tetapi hasilnya diperlakukan seolah-olah dunia sendiri telah berbicara.

Dan dunia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan.


---

AKADEMI ILMU KETIDAKPEDULIAN

Di jantung ibu kota, berdiri sebuah universitas ternama.

Di sanalah para ahli dilatih untuk mengubah tragedi menjadi terminologi.

Tahun pertama:

pengantar abstraksi.

Tahun kedua:

metodologi penghilangan manusia.

Tahun ketiga:

statistik lanjutan.

Tahun keempat:

cara berbicara tentang penderitaan tanpa pernah menyentuhnya.


---

Mahasiswa terbaik diberi penghargaan khusus.

Mereka mampu membahas kelaparan selama tiga jam tanpa sekali pun menyebut rasa lapar.

Mereka mampu membahas perumahan tanpa pernah memasuki rumah.

Mereka mampu membahas pendidikan tanpa pernah berbicara dengan murid.

Mereka mampu membahas kemiskinan tanpa pernah bertemu orang miskin.

Dan kemampuan itu disebut objektivitas.


---

Suatu hari, seorang mahasiswa membuat kesalahan.

Ia pergi ke lapangan.

Ia berbicara dengan orang-orang.

Ia mendengar cerita mereka.

Ia kembali ke kampus dengan wajah murung.

Katanya:

"Teori kita tidak cukup."

Profesor-profesor senior tersenyum iba.

Karena mereka telah lama belajar cara hidup nyaman tanpa diganggu kenyataan.


---

"Saudara terlalu emosional,"

kata mereka.

Di universitas itu, "emosional" berarti terlalu dekat dengan objek penelitian.

Terlalu dekat dengan manusia.

Terlalu dekat dengan penderitaan.

Terlalu dekat dengan dunia.


---

Maka mahasiswa itu gagal.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia mulai memahami sesuatu.


---

NEGARA YANG DIPERINTAH OLEH PRESENTASI

Pada akhirnya, semua institusi besar bertemu dalam satu ruangan.

Pemerintah.

Media.

Konsultan.

Analis.

Akademisi.

Influencer.

Mereka berkumpul di bawah cahaya proyektor.

Di depan mereka, slide demi slide berganti.

Target.

Indikator.

Roadmap.

Transformasi.

Visi.

Misi.

Strategi.

Optimasi.

Resiliensi.

Inovasi.

Sinergi.

Kata-kata itu berbaris rapi seperti pasukan yang sangat disiplin.


---

Lalu seseorang dari belakang ruangan bertanya:

"Apakah semua ini berhasil?"

Ruangan menjadi sunyi.

Karena pertanyaan itu tidak terdapat dalam agenda rapat.


---

Seseorang menjawab:

"Berdasarkan indikator, terdapat kemajuan."

Orang itu bertanya lagi:

"Tetapi apakah hidup manusia membaik?"

Sunyi semakin panjang.

Karena hidup manusia adalah variabel yang sulit dipresentasikan.


---

Dan untuk sesaat, seluruh sistem tampak rapuh.

Semua grafik.

Semua laporan.

Semua survei.

Semua narasi.

Semua strategi komunikasi.

Semua konferensi.

Semua presentasi.

Berdiri di atas satu asumsi sederhana:

bahwa representasi cukup dekat dengan kenyataan.


---

Tetapi bagaimana jika tidak?

Bagaimana jika seluruh republik ini telah menjadi ahli dalam mengukur bayangan?

Bagaimana jika institusi-institusi besar telah menghabiskan puluhan tahun mengelola peta dan melupakan wilayah?

Bagaimana jika seluruh peradaban sedang berbicara tentang deskripsi kehidupan

sambil perlahan kehilangan kehidupan itu sendiri?


---

Tak seorang pun menjawab.

Lampu proyektor tetap menyala.

Grafik tetap bergerak.

Slide berikutnya muncul.

Rapat berlanjut.

Karena di negeri itu,

lebih mudah mengganti presentasi

daripada menghadapi pertanyaan.

•••

KEMENTERIAN NARASI NASIONAL

(epos satir tentang negara yang kehilangan dunia dan menggantinya dengan penjelasan)

Pada suatu pagi, ketika matahari terbit seperti biasa dan harga-harga juga terbit seperti biasa,

Kementerian Narasi Nasional mengadakan rapat darurat.

Bukan karena ada bencana.

Bencana selalu ada.

Bukan karena ada kemiskinan.

Kemiskinan juga selalu ada.

Bukan karena ada ketidakadilan.

Ketidakadilan sudah menjadi bagian dari kalender.

Rapat darurat diadakan karena terlalu banyak orang mulai menggambarkan keadaan dengan kata-kata yang terlalu sederhana.

Dan tidak ada yang lebih ditakuti oleh sebuah institusi besar daripada bahasa yang sederhana.


---

"Kita punya masalah serius,"

kata Menteri Narasi.

"Orang-orang mulai menyebut sesuatu dengan nama yang tepat."

Ruangan langsung hening.

Seorang direktur jatuh pucat.

Seorang staf meminta air minum.

Seorang konsultan komunikasi mengundurkan diri saat itu juga.

Karena mereka semua tahu:

jika masyarakat mulai menggunakan kata yang tepat,

separuh pekerjaan mereka selesai.

Dan separuh lainnya menjadi mustahil.


---

Maka dibentuklah Satuan Tugas Eufemisme.

Tugasnya mulia.

Menyelamatkan kenyataan dari kejelasan.

Mereka bekerja sepanjang malam.

Menyusun glosarium baru.

"Kelaparan" diubah menjadi "ketidakstabilan akses nutrisi."

"Pemecatan" diubah menjadi "restrukturisasi sumber daya manusia."

"Korupsi" diubah menjadi "anomali tata kelola."

"Janji palsu" diubah menjadi "tantangan implementasi kebijakan."

Mereka bekerja dengan penuh dedikasi.

Seperti dokter yang mengobati gejala dengan menghapus nama penyakitnya.


---

Sementara itu, di televisi nasional, para pembawa acara berbicara dengan suara tenang.

Mereka selalu berbicara dengan suara tenang.

Tak peduli apa yang terjadi.

Ekonomi goyah.

Suara tenang.

Banjir besar.

Suara tenang.

Skandal baru.

Suara tenang.

Karena kepanikan publik bukan ancaman terbesar.

Ancaman terbesar adalah kesadaran publik.

Dan kesadaran sering lahir dari nada yang tepat.


---

Di ruang redaksi, editor senior mengajari wartawan muda.

"Jangan tulis bahwa orang marah."

"Tulis bahwa terdapat dinamika respons masyarakat."

"Jangan tulis bahwa sistem gagal."

"Tulis bahwa terdapat ruang evaluasi."

"Jangan tulis bahwa seseorang berbohong."

"Tulis bahwa terjadi perbedaan narasi."

Wartawan muda itu mencatat semuanya.

Ia ingin menjadi profesional.

Dan profesionalisme, sebagaimana dipahami institusi besar, sering kali berarti kemampuan menghilangkan benda dari kata-kata.


---

Maka lahirlah generasi baru penulis berita.

Mereka sangat terampil.

Mereka mampu menulis artikel seribu kata tentang penderitaan

tanpa membuat siapa pun merasakan penderitaan itu.

Mereka mampu menulis tentang kemiskinan tanpa ada satu pun orang miskin di dalam teks.

Mereka mampu menulis tentang pendidikan tanpa murid.

Tentang kesehatan tanpa pasien.

Tentang perumahan tanpa penghuni.

Tentang rakyat tanpa rakyat.

Dan kemampuan itu memperoleh penghargaan jurnalistik.


---

Pada tahun-tahun berikutnya, masyarakat mulai terbiasa.

Mereka mendengar kata "transformasi."

Mereka mengangguk.

Mereka mendengar kata "optimalisasi."

Mereka mengangguk.

Mereka mendengar kata "akselerasi."

Mereka mengangguk.

Mereka tidak tahu persis artinya.

Tetapi justru itulah kekuatannya.

Kata yang terlalu jelas dapat diperiksa.

Kata yang terlalu kabur dapat digunakan untuk apa saja.


---

Lalu suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya:

"Ayah, apa itu transformasi?"

Ayahnya diam.

Ia mencoba mengingat.

Pidato.

Iklan.

Berita.

Seminar.

Presentasi.

Semua pernah menggunakan kata itu.

Tetapi tak satu pun memberinya benda yang bisa ditunjuk.

Akhirnya ia menjawab:

"Mungkin itu sesuatu yang baik."

Dan mungkin itulah definisi politik paling jujur yang pernah dibuat.


---

Sementara itu, Kementerian Narasi terus berkembang.

Anggarannya naik.

Pegawainya bertambah.

Kampanyenya meluas.

Karena dalam masyarakat modern, kenyataan memiliki kelemahan besar:

ia terbatas.

Sedangkan narasi dapat diperbanyak tanpa biaya berarti.

Satu kenyataan.

Seribu penafsiran.

Sepuluh ribu penjelasan.

Sejuta unggahan.

Dan semakin jauh jarak antara peristiwa dan penjelasannya,

semakin besar industri yang hidup di antaranya.


---

Namun ada satu masalah yang tidak pernah berhasil diselesaikan kementerian itu.

Masalah yang muncul berulang kali di seluruh sejarah manusia.

Masalah pengalaman langsung.

Karena seseorang dapat dibujuk untuk meragukan berita.

Dapat dibujuk untuk meragukan statistik.

Dapat dibujuk untuk meragukan lawan politik.

Tetapi jauh lebih sulit membujuk seseorang untuk meragukan hidup yang ia jalani sendiri.


---

Maka kementerian bekerja lebih keras.

Mereka mengeluarkan laporan.

Menerbitkan survei.

Mengadakan forum.

Meluncurkan kampanye.

Mengundang pakar.

Menyusun narasi baru.

Tetapi di luar sana,

seorang buruh masih menghitung gajinya.

Seorang petani masih melihat sawahnya.

Seorang ibu masih melihat isi dapurnya.

Seorang siswa masih melihat sekolahnya.

Dan semua orang itu memiliki kebiasaan yang merepotkan:

mereka membandingkan kata-kata dengan dunia.


---

Di situlah seluruh mesin mulai retak.

Karena tidak peduli berapa banyak istilah baru ditemukan,

tidak peduli berapa banyak slogan dicetak,

tidak peduli berapa banyak pakar diwawancarai,

selalu ada kemungkinan bahwa seseorang akan berkata:

"Bukan itu yang saya lihat."

Dan kalimat itu,

yang begitu sederhana, yang begitu biasa, yang begitu tidak akademis,

sering kali lebih berbahaya bagi kekuasaan

daripada seluruh perpustakaan kritik politik.

Sebab setiap rezim narasi hidup dari satu harapan:

bahwa orang-orang akhirnya akan lebih mempercayai penjelasan

daripada mata mereka sendiri.

•••

DEWAN AGUNG PENGELOLA KEMARAHAN

(epos satir tentang negeri yang tidak menyelesaikan masalah, melainkan mengatur siklus reaksinya)

Di ibu kota berdiri sebuah gedung yang tidak pernah disebut dalam undang-undang, tidak pernah diumumkan dalam konferensi pers, dan tidak pernah muncul dalam laporan tahunan.

Namun semua orang bekerja untuknya.

Namanya:

Dewan Agung Pengelola Kemarahan.

Karena para penguasa modern telah mempelajari sesuatu yang tidak diketahui para tiran lama:

kemarahan publik tidak perlu dihilangkan.

Kemarahan hanya perlu diarahkan.


---

Para tiran kuno membuat orang diam.

Para teknokrat modern membuat orang sibuk.

Perbedaannya sangat penting.

Orang yang diam masih dapat berpikir.

Orang yang terus-menerus bereaksi tidak memiliki waktu untuk memahami.


---

Maka setiap pagi, dewan itu berkumpul.

Di atas meja terdapat laporan:

Apa yang membuat masyarakat marah hari ini?

Apa yang membuat mereka takut?

Apa yang membuat mereka cemas?

Apa yang membuat mereka saling membenci?

Bukan untuk menyelesaikannya.

Untuk mengelolanya.

Karena kemarahan adalah energi.

Dan setiap energi dapat dimanfaatkan.


---

Seorang anggota dewan bertanya:

"Bagaimana jika mereka mulai marah kepada struktur?"

Ruangan langsung tegang.

Karena struktur adalah kata berbahaya.

Struktur berarti hubungan.

Struktur berarti sebab.

Struktur berarti pola.

Struktur berarti seseorang mulai melihat bahwa seribu masalah berbeda mungkin berasal dari mesin yang sama.

Dan tidak ada institusi besar yang menyukai orang yang mulai melihat pola.


---

"Jangan biarkan itu terjadi,"

kata ketua dewan.

"Alihkan ke individu."

Maka berita segera dipenuhi tokoh.

Wajah.

Nama.

Skandal.

Karakter.

Kontroversi.

Karena sistem lebih aman ketika seluruh persoalan sosial dipersempit menjadi cerita tentang individu.


---

Jika rumah sakit gagal, cari pejabat.

Jika sekolah gagal, cari menteri.

Jika ekonomi gagal, cari juru bicara.

Jika masyarakat marah, cari kambing hitam.

Apa pun boleh.

Asalkan tidak ada yang bertanya:

"Mengapa kegagalan seperti ini terus berulang meskipun nama-namanya selalu berganti?"


---

Karena pertanyaan itu adalah awal dari kesadaran politik.

Dan kesadaran politik adalah mimpi buruk industri persepsi.


---

Di ruang lain, para analis media bekerja.

Mereka memiliki layar raksasa yang memantau seluruh percakapan publik.

Mereka melihat tagar.

Mereka melihat komentar.

Mereka melihat tren.

Mereka melihat kemarahan.

Lalu mereka mengukur:

Apakah kemarahan ini cukup dangkal untuk menghilang dalam tiga hari?

Atau cukup dalam untuk menjadi pertanyaan?

Jika hanya kemarahan, mereka tenang.

Jika mulai menjadi pertanyaan, alarm berbunyi.


---

Karena kemarahan melelahkan.

Pertanyaan mengorganisasi.

Kemarahan dapat dijual.

Pertanyaan dapat mengubah sesuatu.

Kemarahan dapat menjadi konten.

Pertanyaan dapat menjadi gerakan.

Dan seluruh ekonomi perhatian dibangun di atas keyakinan bahwa manusia lebih mudah dipertahankan sebagai penonton yang marah daripada warga yang berpikir.


---

Maka setiap hari negeri itu dipenuhi amarah.

Marah kepada artis.

Marah kepada politisi.

Marah kepada selebritas.

Marah kepada influencer.

Marah kepada lawan politik.

Marah kepada kelompok lain.

Marah kepada komentar.

Marah kepada unggahan.

Marah kepada simbol.

Marah kepada kata-kata.

Marah kepada kemarahan lain.

Dan selama semua orang sibuk marah,

tak seorang pun sempat menghitung siapa yang memperoleh keuntungan.


---

Sementara itu, di ujung kota,

sebuah sungai tetap tercemar.

Sekolah tetap kekurangan guru.

Rumah sakit tetap penuh.

Upah tetap rendah.

Harga tetap naik.

Sewa tetap mencekik.

Tetapi semua itu tidak sedang viral.

Maka secara budaya, mereka nyaris tidak ada.


---

Lalu seorang tua berkata di warung kopi:

"Lucu ya."

"Dulu kita marah karena hidup sulit."

"Sekarang kita marah karena internet menyuruh kita marah."

Tak ada yang menjawab.

Karena semua sedang melihat layar.


---

Dewan Agung Pengelola Kemarahan sangat menyukai layar.

Layar adalah teknologi politik terbesar sejak ditemukannya tembok.

Tembok memisahkan tubuh.

Layar memisahkan perhatian.

Dan perhatian adalah wilayah yang lebih penting.


---

Karena siapa yang menguasai perhatian tidak perlu menguasai seluruh dunia.

Ia hanya perlu menentukan bagian dunia mana yang sempat terlihat.


---

Maka setiap hari jutaan orang bangun pagi.

Membuka telepon.

Menerima agenda emosional mereka.

Menerima ketakutan mereka.

Menerima kemarahan mereka.

Menerima musuh mereka.

Menerima prioritas mereka.

Semuanya sudah dipilihkan.

Semuanya sudah diurutkan.

Semuanya sudah dikurasi.

Dan proses itu disebut kebebasan informasi.


---

Tetapi sesekali terjadi kecelakaan.

Kecelakaan yang paling ditakuti dewan.

Seseorang mematikan layar.

Lalu berjalan keluar rumah.

Ia berbicara dengan tetangga.

Berbicara dengan rekan kerja.

Berbicara dengan orang yang mengalami hal yang sama.

Dan tiba-tiba ia menemukan sesuatu yang tidak disediakan algoritma:

konteks.


---

Dari konteks lahir perbandingan.

Dari perbandingan lahir pola.

Dari pola lahir pertanyaan.

Dari pertanyaan lahir kesadaran.

Dan dari kesadaran,

kadang-kadang,

lahir sejarah.


---

Itulah sebabnya institusi besar tidak pernah benar-benar takut kepada orang yang marah.

Orang marah mudah diprediksi.

Mudah diarahkan.

Mudah dikonsumsi.

Mudah dijadikan metrik.

Yang mereka takuti adalah sesuatu yang lebih tenang.

Lebih lambat.

Lebih membosankan.

Lebih berbahaya.

Seseorang yang berhenti bereaksi,

dan mulai memahami.

•••

PUSAT NASIONAL PRODUKSI KONSENSUS

(epos satir tentang negeri yang tidak lagi memaksa orang setuju, melainkan membuat ketidaksetujuan menjadi tidak relevan)

Di masa lalu, kekuasaan harus bekerja keras.

Ia harus melarang buku.

Menutup surat kabar.

Membubarkan pertemuan.

Menangkap orang.

Menyensor pidato.

Sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Mahal.

Berisik.

Meninggalkan jejak.

Lalu datang zaman yang lebih efisien.

Kini tidak perlu lagi melarang.

Cukup menenggelamkan.


---

Di pusat ibu kota, berdiri Pusat Nasional Produksi Konsensus.

Motto mereka sederhana:

"Mengapa membungkam satu suara jika kita dapat menambahkan sejuta suara lain?"

Dan seluruh negeri mengangguk tanpa menyadari bahwa itu bukan slogan.

Itu strategi pemerintahan.


---

Setiap hari, mesin-mesin raksasa bekerja.

Bukan menghasilkan kebenaran.

Kebenaran terlalu mahal.

Mereka menghasilkan kebisingan.

Karena kebisingan jauh lebih efektif.

Kebenaran masih dapat didengar.

Kebisingan membuat pendengaran itu sendiri kehilangan fungsi.


---

Jika seseorang mengungkap skandal, jangan bantah.

Produksi kontroversi baru.

Jika seseorang mengajukan pertanyaan, jangan jawab.

Produksi seribu perdebatan lain.

Jika seseorang menunjukkan masalah, jangan selesaikan.

Produksi topik yang lebih menarik.

Dan perlahan-lahan, perhatian publik bergerak seperti kawanan burung yang dikejutkan suara tembakan.


---

Di ruang kontrol utama, para teknisi informasi memantau layar.

Mereka tidak bertanya:

"Apakah masyarakat memahami keadaan?"

Mereka bertanya:

"Apakah masyarakat masih fokus?"

Jika jawabannya ya, alarm berbunyi.

Karena fokus adalah ancaman.


---

Fokus menghasilkan pemahaman.

Pemahaman menghasilkan hubungan.

Hubungan menghasilkan pola.

Pola menghasilkan kritik.

Dan kritik yang sistematis lebih berbahaya daripada kemarahan sesaat.


---

Maka fokus harus dihancurkan.

Setiap hari.

Setiap jam.

Setiap menit.


---

Karena itu, negeri tersebut menjadi sangat informatif.

Semua orang mengetahui segalanya.

Harga saham.

Drama selebritas.

Kontroversi influencer.

Perselisihan tokoh publik.

Skandal terbaru.

Tagar terbaru.

Aplikasi terbaru.

Kemarahan terbaru.

Kepanikan terbaru.

Semua orang mengetahui segalanya.

Kecuali bagaimana semua itu saling berhubungan.


---

Dan pengetahuan yang kehilangan hubungan

adalah bentuk ketidaktahuan yang sangat canggih.


---

Di universitas, para profesor mengagumi fenomena ini.

Mereka menyebutnya masyarakat informasi.

Mereka menulis jurnal tentangnya.

Mengadakan seminar tentangnya.

Mempresentasikan konferensi tentangnya.

Sementara itu, masyarakat yang sedang mereka teliti semakin kesulitan membedakan

antara mengetahui banyak hal

dan memahami sesuatu.


---

Karena memahami memerlukan waktu.

Dan waktu adalah musuh ekonomi perhatian.


---

Perusahaan media mengetahui hal itu.

Perusahaan teknologi mengetahui hal itu.

Partai politik mengetahui hal itu.

Pemerintah mengetahui hal itu.

Konsultan komunikasi mengetahui hal itu.

Bahkan algoritma mengetahui hal itu.

Hanya warga negara yang sering kali tidak.


---

Maka mereka terus diberi informasi.

Lebih banyak.

Lebih cepat.

Lebih sering.

Lebih pendek.

Lebih dangkal.

Lebih mendesak.

Lebih emosional.

Lebih mudah dibagikan.

Lebih sulit direnungkan.


---

Dan setiap kali seseorang berkata:

"Aku tidak punya waktu untuk memikirkan semua ini."

Seluruh sistem tersenyum.

Karena itulah tujuan akhirnya.


---

Pusat Nasional Produksi Konsensus tidak ingin masyarakat setuju.

Kesepakatan terlalu rapuh.

Mereka hanya ingin masyarakat kelelahan.

Karena orang yang lelah akan menerima apa pun yang membebaskannya dari keharusan berpikir.


---

Di situlah konsensus modern lahir.

Bukan dari keyakinan.

Bukan dari kepercayaan.

Bukan dari legitimasi.

Melainkan dari keletihan.


---

Masyarakat tidak berkata:

"Ini benar."

Mereka berkata:

"Mungkin."

"Entahlah."

"Aku tidak tahu lagi."

"Semuanya sama saja."

Dan kalimat-kalimat itulah yang dipasang dalam bingkai emas di ruang direktur utama.


---

Karena sinisme adalah bentuk kepatuhan yang paling elegan.

Orang yang percaya masih dapat kecewa.

Orang yang berharap masih dapat menuntut.

Orang yang marah masih dapat bergerak.

Tetapi orang yang menganggap semuanya sia-sia

akan pulang ke rumah.


---

Maka negeri itu dipenuhi orang-orang cerdas.

Orang-orang terdidik.

Orang-orang yang mengetahui banyak fakta.

Tetapi semakin sedikit yang percaya bahwa dunia dapat berubah.

Dan bagi institusi besar,

tidak ada kemenangan yang lebih lengkap.


---

Namun sejarah memiliki satu kebiasaan buruk.

Ia tidak menghormati teori komunikasi.

Ia tidak membaca laporan konsultan.

Ia tidak mengikuti strategi media.

Ia tidak peduli pada manajemen persepsi.


---

Kadang-kadang sejarah dimulai karena seseorang memperhatikan sesuatu lebih lama daripada yang diizinkan sistem.

Sebuah tagihan.

Sebuah upah.

Sebuah penggusuran.

Sebuah kebohongan.

Sebuah ketidakadilan.

Sebuah pola.


---

Lalu ia menolak berpindah ke topik berikutnya.


---

Dan seluruh mesin panik.

Karena mesin itu dibangun untuk menghadapi kemarahan.

Untuk menghadapi kontroversi.

Untuk menghadapi skandal.

Untuk menghadapi kebisingan.

Tetapi tidak untuk menghadapi perhatian yang bertahan cukup lama

hingga berubah menjadi pemahaman.


---

Sebab ketika manusia mulai memahami,

mereka berhenti menjadi audiens.

Mereka berhenti menjadi data.

Mereka berhenti menjadi target.

Mereka berhenti menjadi pasar.

Mereka berhenti menjadi metrik.


---

Dan mulai kembali menjadi sesuatu yang paling ditakuti setiap sistem besar:

warga negara yang sadar.

•••

TATA BAHASA KEKUASAAN

(fragmen filosofis dari sebuah negeri yang diperintah oleh kalimat-kalimatnya sendiri)

Barangkali kekeliruan terbesar dalam memahami kekuasaan adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang dimiliki.

Seolah-olah kekuasaan berada di dalam istana.

Di dalam parlemen.

Di dalam kementerian.

Di dalam ruang direksi.

Di dalam tangan seseorang.

Padahal kekuasaan yang paling berhasil jarang berada di sana.

Ia berada di dalam kalimat.


---

Seorang raja dapat jatuh.

Seorang presiden dapat kalah.

Seorang menteri dapat dipecat.

Seorang direktur dapat diganti.

Namun kategori-kategori yang mereka gunakan sering tetap hidup.

Dan sering kali kategori itulah yang sesungguhnya memerintah.


---

Sebab manusia tidak hidup langsung di dalam dunia.

Ia hidup di dalam dunia yang telah dinamai.

Dan penamaan tidak pernah sesederhana yang tampak.

Ketika sesuatu memperoleh nama, ia sekaligus memperoleh batas.

Ketika memperoleh batas, ia memperoleh aturan.

Ketika memperoleh aturan, ia memperoleh kemungkinan penggunaan.

Dan pada titik itu, bahasa mulai melakukan politiknya.


---

Bayangkan sebuah negeri yang tidak memiliki kata untuk kemiskinan.

Bukan karena kemiskinan tidak ada.

Melainkan karena semua bentuk penderitaan ekonomi dibagi ke dalam seratus istilah administratif.

Kerentanan.

Ketimpangan akses.

Kesenjangan produktivitas.

Defisit partisipasi.

Disparitas distribusi.

Ketidakoptimalan sumber daya.

Kemiskinan tetap ada.

Tetapi ia telah kehilangan namanya.

Dan sesuatu yang kehilangan nama lebih sulit menjadi objek kemarahan.


---

Mungkin itulah sebabnya setiap rezim selalu memiliki hubungan khusus dengan kamus.

Tidak harus mengubah seluruh isinya.

Cukup menggeser beberapa definisi.

Sedikit demi sedikit.

Tahun demi tahun.

Dekade demi dekade.

Sampai masyarakat lupa bahwa kata-kata itu pernah berarti hal lain.


---

Apa yang disebut Barthes sebagai mitos barangkali bukan kebohongan.

Kebohongan terlalu sederhana.

Mitos adalah sejarah yang berhasil menyamar sebagai alam.

Ia mengambil sesuatu yang dibuat manusia lalu menghapus jejak pembuatannya.

Kemudian ia menunjukkannya kepada kita dan berkata:

"Lihat. Memang begitulah dunia."


---

Maka tugas utama mitos bukan membuat kita percaya sesuatu.

Tugas utamanya adalah membuat kita berhenti bertanya.


---

Karena pertanyaan paling berbahaya bukan:

"Apakah ini benar?"

Pertanyaan paling berbahaya adalah:

"Mengapa ini tampak begitu wajar?"


---

Setiap institusi besar hidup dari kewajaran.

Universitas.

Media.

Pasar.

Negara.

Birokrasi.

Semuanya membutuhkan sejumlah besar asumsi yang tidak boleh terlalu sering diperiksa.

Bukan karena asumsi itu pasti salah.

Melainkan karena pemeriksaan terus-menerus akan membuat mesin berhenti bekerja.


---

Maka lahirlah apa yang disebut akal sehat.

Akal sehat bukan sekadar kumpulan gagasan.

Ia adalah kuburan pertanyaan.

Tempat pertanyaan-pertanyaan lama dikuburkan setelah terlalu sering dijawab.


---

Foucault mungkin akan tertawa melihat betapa sering orang mencari kekuasaan di tempat yang salah.

Mereka mencarinya di puncak.

Padahal sebagian besar kekuasaan bekerja di tingkat yang jauh lebih rendah.

Di formulir.

Di klasifikasi.

Di kurikulum.

Di diagnosis.

Di arsip.

Di statistik.

Di prosedur.

Di semua hal kecil yang tampak terlalu membosankan untuk dianggap politis.


---

Tetapi justru karena membosankan mereka menjadi efektif.


---

Tak ada yang bangun pagi dan berkata:

"Hari ini aku akan tunduk kepada statistik."

Namun jutaan keputusan dibuat karenanya.

Tak ada yang berkata:

"Hari ini aku akan mematuhi klasifikasi."

Namun seluruh hidup diorganisasikan olehnya.

Tak ada yang berkata:

"Hari ini aku akan menjadi produk diskursus."

Namun sebagian besar identitas modern dibentuk dengan cara itu.


---

Barangkali kemenangan terbesar kekuasaan bukan membuat manusia patuh.

Melainkan membuat manusia menjelaskan dirinya sendiri menggunakan bahasa kekuasaan.


---

Pada titik itu, penjara tidak lagi memerlukan tembok.

Pengawasan tidak lagi memerlukan penjaga.

Sensor tidak lagi memerlukan sensor.

Karena subjek telah menjadi administrator dirinya sendiri.


---

Dan Wittgenstein, yang selalu curiga terhadap metafisika, mungkin akan bertanya:

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan kata-kata ini?

Bukan apa artinya.

Bukan apa esensinya.

Apa fungsinya?


---

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tetapi sangat merusak.

Karena banyak istilah besar hidup dari anggapan bahwa maknanya sudah jelas.

Bangsa.

Kemajuan.

Pembangunan.

Keamanan.

Pertumbuhan.

Normalitas.

Stabilitas.

Semua terdengar kokoh.

Sampai seseorang bertanya:

"Baiklah.

Tetapi dalam permainan apa kata ini sedang digunakan?"


---

Dan tiba-tiba seluruh bangunan mulai bergoyang.


---

Karena makna tidak tinggal di dalam kata.

Makna tinggal di dalam praktik.

Di dalam institusi.

Di dalam penggunaan.

Di dalam hubungan kekuasaan.

Di dalam kehidupan sehari-hari.


---

Kata "keamanan" berarti satu hal bagi pejabat.

Hal lain bagi demonstran.

Hal lain bagi investor.

Hal lain bagi tahanan.

Hal lain bagi orang yang kelaparan.

Namun negara sering berbicara seolah-olah hanya ada satu makna.

Dan dari ilusi itulah sebagian besar konflik politik lahir.


---

Barangkali tidak ada kekuasaan yang lebih tua daripada kemampuan membuat satu penggunaan bahasa tertentu tampak sebagai satu-satunya penggunaan yang masuk akal.


---

Maka filsafat tidak selalu bertugas menemukan fondasi.

Kadang tugasnya jauh lebih sederhana.

Membuat kata-kata kehilangan kenyamanannya.

Membuat istilah-istilah besar terlihat aneh kembali.

Membuat apa yang tampak alami kembali tampak historis.

Membuat apa yang tampak niscaya kembali tampak sebagai pilihan.


---

Karena mungkin kebebasan tidak dimulai ketika manusia memperoleh jawaban baru.

Mungkin ia dimulai lebih awal.

Pada saat seseorang memandang kata yang paling biasa,

kata yang paling sering diucapkan,

kata yang paling dihormati,

lalu bertanya:

"Tunggu sebentar."

"Mengapa kita berbicara seperti ini?"

Dan dari pertanyaan kecil itu,

seluruh tata bahasa kekuasaan

mulai kehilangan kesuciannya.

•••

REPUBLIK PENANDA

(sebuah meditasi satiris tentang dunia yang semakin penuh tanda dan semakin miskin benda)

Pada mulanya manusia menciptakan tanda karena dunia terlalu besar.

Tanda membantu.

Nama membantu.

Peta membantu.

Klasifikasi membantu.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Masalah dimulai ketika tanda-tanda berhenti melayani dunia

dan dunia mulai melayani tanda-tanda.


---

Di Republik Penanda, setiap benda hidup di bawah representasinya.

Petani hidup di bawah statistik pertanian.

Guru hidup di bawah indikator pendidikan.

Pasien hidup di bawah data kesehatan.

Pekerja hidup di bawah angka produktivitas.

Warga hidup di bawah survei kepuasan.

Dan perlahan-lahan,

representasi tidak lagi menjelaskan kehidupan.

Ia menggantikannya.


---

Seorang pejabat melihat grafik.

Grafik berkata keadaan membaik.

Maka keadaan membaik.

Seorang warga melihat dompetnya.

Dompet berkata keadaan memburuk.

Tetapi dompet tidak memiliki legitimasi metodologis.


---

Maka dalam pertarungan antara pengalaman dan indikator,

pengalaman sering kalah.

Karena pengalaman hanya milik seseorang.

Sedangkan indikator milik institusi.


---

Dan institusi selalu berbicara dengan suara yang lebih keras.


---

Di sekolah, anak-anak diajarkan berpikir kritis.

Kemudian mereka diuji menggunakan jawaban yang telah ditentukan.

Di universitas, mahasiswa diajarkan mempertanyakan asumsi.

Kemudian mereka dinilai berdasarkan kemampuan mengulang asumsi yang benar.

Di media, wartawan diajarkan mencari kebenaran.

Kemudian mereka diberi target keterlibatan.

Di parlemen, wakil rakyat berbicara atas nama rakyat.

Kemudian mereka berbicara terutama kepada kamera.


---

Tidak ada konspirasi besar.

Tidak ada ruang rahasia.

Tidak ada dewan jahat.

Yang ada hanyalah jaringan praktik yang saling menguatkan.

Dan justru karena itu ia begitu sulit dilawan.


---

Foucault mungkin akan berkata:

lihatlah bagaimana kekuasaan bekerja bukan melalui larangan,

tetapi melalui produksi.

Produksi kategori.

Produksi norma.

Produksi identitas.

Produksi kebenaran.

Produksi subjek.


---

Kita sering membayangkan kekuasaan sebagai tangan yang menekan.

Padahal jauh lebih sering ia adalah mesin yang mencetak.

Mencetak definisi.

Mencetak klasifikasi.

Mencetak kemungkinan hidup.


---

Dan setelah cukup lama, manusia mulai mengenali dirinya melalui cetakan itu.


---

Seorang anak disebut berbakat.

Anak itu menjadi berbakat.

Seorang anak disebut gagal.

Anak itu belajar menjadi gagal.

Seseorang disebut normal.

Seseorang disebut menyimpang.

Seseorang disebut produktif.

Seseorang disebut tidak kompetitif.

Lalu semua orang bertingkah laku seolah kategori itu ditemukan di alam.


---

Padahal kategori-kategori itu sering kali lebih dekat kepada hukum daripada kepada fakta.

Mereka tidak sekadar menggambarkan dunia.

Mereka membantu membentuknya.


---

Barthes mungkin akan menambahkan:

dan setelah kategori itu cukup tua,

ia akan mulai tampak alami.


---

Tidak ada mitos yang lebih kuat daripada mitos yang telah melupakan dirinya sendiri.


---

Ketika seseorang berkata:

"Memang begitulah kenyataannya."

Barangkali yang sedang berbicara bukan kenyataan.

Melainkan sejarah yang telah terlalu lama diam.


---

Kita hidup di zaman yang mengagungkan transparansi.

Namun tidak pernah ada begitu banyak lapisan di antara manusia dan dunia.

Laporan.

Survei.

Algoritma.

Indeks.

Metrik.

Analitik.

Prediksi.

Simulasi.

Model.

Dashboard.


---

Semuanya menjanjikan akses yang lebih dekat kepada kenyataan.

Tetapi kadang-kadang justru menghasilkan efek sebaliknya.


---

Karena semakin banyak layar yang ditempatkan di antara kita dan dunia,

semakin mudah kita lupa

bahwa layar bukanlah dunia.


---

Wittgenstein mungkin akan tersenyum di sini.

Bukan karena ia menemukan jawaban.

Melainkan karena ia mencurigai pertanyaannya.


---

Apa yang terjadi ketika seluruh masyarakat berbicara menggunakan kosakata yang sama?

Apa yang terjadi ketika seluruh institusi menggunakan permainan bahasa yang sama?

Apa yang terjadi ketika kata-kata seperti:

"efisiensi"

"pertumbuhan"

"keamanan"

"optimalisasi"

"stabilitas"

beredar begitu luas hingga tak seorang pun lagi bertanya bagaimana kata-kata itu digunakan?


---

Mungkin tidak terjadi apa-apa.

Mungkin justru itulah masalahnya.


---

Karena bahasa yang benar-benar dominan tidak terasa dominan.

Ia terasa normal.

Ia terasa netral.

Ia terasa seperti udara.

Dan manusia jarang memikirkan udara selama masih bisa bernapas.


---

Tetapi filsafat, dalam bentuknya yang paling mengganggu,

selalu mencoba melakukan satu hal sederhana:

membuat udara terlihat.


---

Bukan untuk menggantinya.

Bukan untuk menciptakan dogma baru.

Bukan untuk menawarkan keselamatan.

Melainkan untuk menunjukkan bahwa apa yang kita hirup setiap hari

ternyata memiliki sejarah.

Memiliki struktur.

Memiliki kepentingan.

Memiliki aturan.


---

Dan mungkin di situlah satire bertemu filsafat.

Keduanya memiliki musuh yang sama:

kewajaran yang tidak diperiksa.


---

Satire menertawakannya.

Filsafat membongkarnya.

Satire menunjukkan betapa absurdnya.

Filsafat menunjukkan bagaimana absurditas itu bekerja.


---

Keduanya, dengan cara berbeda, berusaha mengingatkan kita akan satu kemungkinan yang hampir selalu dilupakan oleh institusi:

bahwa dunia tidak harus seperti ini.

Bahwa kategori-kategori dapat berubah.

Bahwa permainan bahasa dapat berubah.

Bahwa mitos dapat retak.

Bahwa definisi dapat diperebutkan.

Bahwa apa yang tampak sebagai alam

mungkin hanyalah kebiasaan

yang memperoleh kekuasaan terlalu lama.


---

Dan setiap kali seseorang berkata:

"Tapi bukankah kita selalu melakukannya seperti ini?"

barangkali itulah saat yang tepat untuk mulai curiga.

Karena sejarah penuh dengan hal-hal yang dilakukan sangat lama,

sangat sering,

oleh sangat banyak orang,

dan tetap saja salah.

•••

ORANG-ORANG YANG DIBAYAR UNTUK TIDAK MELIHAT

(satir tentang institusi, media, dan profesi-profesi yang hidup dari pengelolaan kenyataan)

Ada profesi-profesi aneh di negeri ini.

Mereka tidak dibayar untuk berbohong.

Itu terlalu kasar.

Mereka dibayar untuk sesuatu yang lebih elegan:

tidak melihat.


---

Bukan tidak melihat sama sekali.

Hanya tidak melihat hal-hal tertentu.

Tidak melihat pola.

Tidak melihat hubungan.

Tidak melihat penyebab.

Tidak melihat keuntungan.

Tidak melihat struktur.


---

Mereka melihat gejala dengan sangat teliti.

Tetapi penyebabnya selalu kabur.

Mereka melihat asap.

Tetapi tidak pernah menemukan api.

Mereka melihat korban.

Tetapi tidak pernah menemukan pelaku.

Mereka melihat krisis.

Tetapi tidak pernah menemukan sistem yang memproduksinya.


---

Dan untuk kemampuan luar biasa itu,

mereka memperoleh jabatan.

Penghargaan.

Kolom opini.

Acara televisi.

Undangan seminar.

Dana penelitian.

Posisi strategis.


---

Suatu hari sebuah kota tenggelam.

Media datang.

Kamera datang.

Drone datang.

Pakar datang.

Grafik datang.

Infografik datang.

Tagar datang.

Semua datang.

Kecuali pertanyaan yang tepat.


---

Mereka berbicara tentang cuaca.

Tentang curah hujan.

Tentang perubahan iklim.

Tentang anomali musim.

Tentang fenomena atmosfer.

Segala sesuatu dibahas.

Kecuali siapa yang memberi izin pembangunan.

Kecuali siapa yang mengubah tata ruang.

Kecuali siapa yang memperoleh keuntungan.

Kecuali siapa yang telah diperingatkan bertahun-tahun sebelumnya.


---

Karena institusi modern sangat pandai mengubah keputusan menjadi cuaca.


---

Sesuatu diputuskan manusia.

Lalu dijelaskan sebagai fenomena.


---

Sesuatu dirancang.

Lalu dijelaskan sebagai konsekuensi.


---

Sesuatu diuntungkan oleh seseorang.

Lalu dijelaskan sebagai dinamika.


---

Sesuatu dipilih.

Lalu dijelaskan sebagai keniscayaan.


---

Dan media membantu proses itu dengan kesetiaan yang hampir religius.

Bukan karena mereka jahat.

Justru karena mereka profesional.


---

Profesionalisme modern memiliki definisi yang menarik.

Ia berarti mengetahui banyak hal tanpa pernah sampai pada kesimpulan yang berbahaya.


---

Seorang wartawan muda berkata:

"Mungkin masalahnya terletak pada sistem."

Redakturnya menggeleng.

"Terlalu normatif."

"Mungkin masalahnya pada relasi kekuasaan."

"Terlalu ideologis."

"Mungkin ada kelompok tertentu yang terus memperoleh manfaat."

"Terlalu spekulatif."


---

Akhirnya wartawan itu belajar.

Ia menulis:

"Terdapat berbagai faktor yang kompleks."

Dan kariernya selamat.


---

Institusi mencintai kata "kompleks."

Bukan karena dunia tidak kompleks.

Dunia memang kompleks.

Tetapi kata itu sering digunakan seperti bom asap.


---

Ketika sesuatu terlalu jelas, teriakkan "kompleksitas!"

Ketika hubungan sebab-akibat mulai terlihat, teriakkan "nuansa!"

Ketika tanggung jawab mulai mengerucut, teriakkan "multifaktor!"


---

Dan seluruh percakapan kembali kabur.


---

Ada ribuan orang pintar di negeri ini.

Ekonom.

Analis.

Pengamat.

Konsultan.

Akademisi.

Pakar komunikasi.

Pakar kebijakan.

Pakar tata kelola.

Pakar strategi.

Pakar kepemimpinan.

Pakar transformasi.

Pakar inovasi.

Pakar resiliensi.

Pakar keberlanjutan.

Pakar masa depan.


---

Anehnya,

semakin banyak pakar yang muncul,

semakin sedikit orang yang mampu mengatakan:

"Itu salah."


---

Karena bahasa institusi selalu lebih nyaman dengan diagnosis daripada penilaian.


---

Ia dapat membahas korupsi selama berjam-jam.

Tetapi takut menyebut koruptor.

Ia dapat membahas ketimpangan selama berhari-hari.

Tetapi takut menyebut siapa yang diuntungkan.

Ia dapat membahas krisis demokrasi selama bertahun-tahun.

Tetapi takut menyebut struktur yang membuatnya mungkin.


---

Karena begitu nama disebut,

analisis berubah menjadi politik.

Dan sebagian besar institusi lebih takut kepada politik daripada kepada kebohongan.


---

Maka lahirlah kelas sosial baru:

para pengelola kewajaran.


---

Mereka bekerja di televisi.

Di universitas.

Di lembaga survei.

Di kantor konsultan.

Di kementerian.

Di think tank.

Di ruang redaksi.


---

Mereka memiliki satu fungsi utama:

memastikan bahwa hal-hal yang luar biasa tetap tampak biasa.


---

Bahwa ketimpangan ekstrem terlihat seperti statistik.

Bahwa eksploitasi terlihat seperti efisiensi.

Bahwa monopoli terlihat seperti kompetisi.

Bahwa propaganda terlihat seperti komunikasi.

Bahwa kepatuhan terlihat seperti stabilitas.


---

Dan mereka sangat berhasil.

Sangat berhasil hingga masyarakat mulai menganggap keanehan sebagai bagian alami dari hidup.


---

Orang bekerja lebih keras dan hidup lebih sulit.

Normal.

Rumah semakin mahal dan upah tertinggal.

Normal.

Layanan publik memburuk dan biaya meningkat.

Normal.

Informasi melimpah dan pemahaman menurun.

Normal.


---

Kata "normal" adalah mahakarya terbesar institusi modern.


---

Ia mampu mengubah kegagalan sistemik menjadi latar belakang.

Ia mampu mengubah skandal permanen menjadi rutinitas.

Ia mampu mengubah absurditas menjadi kebiasaan.


---

Dan media memainkan musik pengiringnya.

Setiap hari.

Setiap jam.

Tanpa henti.

Menyajikan tragedi sebagai segmen.

Menyajikan konflik sebagai hiburan.

Menyajikan penderitaan sebagai konten.

Menyajikan kemarahan sebagai produk.


---

Lalu mereka bertanya mengapa masyarakat sinis.


---

Seolah-olah seseorang dapat hidup bertahun-tahun di dalam sirkus informasi

tanpa akhirnya kehilangan kepercayaan kepada semua pemainnya.


---

Tetapi bahkan sistem sebesar ini memiliki titik lemahnya.

Titik lemahnya bukan demonstrasi.

Bukan oposisi.

Bukan kritik akademik.

Bukan debat televisi.


---

Titik lemahnya adalah momen sederhana ketika seseorang melihat sesuatu dengan matanya sendiri,

membandingkannya dengan apa yang dikatakan institusi,

lalu menyadari bahwa keduanya tidak cocok.


---

Pada saat itu,

seluruh gedung narasi mulai retak.

Karena tidak ada media yang cukup besar,

tidak ada survei yang cukup canggih,

tidak ada pakar yang cukup fasih,

tidak ada institusi yang cukup kuat,

untuk sepenuhnya mengalahkan

pengalaman yang terus-menerus bertentangan

dengan cerita resmi tentang dunia.

•••

MESIN PENERJEMAH KENYATAAN

Di ruang bawah tanah peradaban modern terdapat sebuah mesin raksasa. Tidak pernah dipamerkan. Tidak pernah dipilih melalui pemilu. Tidak pernah diumumkan kepada publik. Namun hampir semua institusi bergantung padanya. Namanya: Mesin Penerjemah Kenyataan.

Tugasnya sederhana. Mengubah dunia menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengganggu.

Ketika seorang buruh berkata:
"Aku tidak mampu hidup dari upah ini."

Mesin bekerja. Kalimat itu masuk. Gear berputar. Sabuk bergerak. Lampu menyala. Lalu keluar hasilnya:
"Terdapat tantangan daya beli pada kelompok tertentu."

Ketika seorang petani berkata:
"Panenku gagal dan aku bangkrut."

Mesin bekerja. Lalu keluar:
"Terdapat volatilitas produktivitas sektor agrikultur."

Ketika seorang warga berkata:
"Rumahku tenggelam."

Mesin bekerja. Lalu keluar:
"Terjadi peristiwa hidrometeorologis."

Mesin itu sangat efisien. Ia menghilangkan pelaku, menghilangkan konflik, menghilangkan sejarah, menghilangkan keuntungan, menghilangkan tanggung jawab.

Dan mempertahankan hanya satu hal: kesan bahwa semuanya masih terkendali.

Institusi mencintai mesin ini karena kenyataan mentah terlalu sulit ditangani. Kenyataan mentah membuat orang marah. Kenyataan mentah menuntut tindakan. Kenyataan mentah menciptakan pertanyaan. Sedangkan kenyataan yang telah diterjemahkan hanya memerlukan rapat koordinasi.

Maka setiap pagi, para pejabat menerima dunia dalam bentuk yang telah diproses. Mereka tidak menerima kemiskinan, tetapi menerima indikator. Mereka tidak menerima penderitaan di tetapi menerima variabel. Mereka tidak menerima manusia, tetapi menerima kategori.

Dan setelah bertahun-tahun, mereka mulai lupa bahwa pernah ada perbedaan.

Di universitas, mesin yang sama dipasang. Mahasiswa datang dengan rasa ingin tahu. Mesin menerima mereka.

Empat tahun kemudian, keluar lulusan yang mampu menjelaskan segalanya kecuali mengapa masyarakat tetap sengsara.

Mereka dapat menjelaskan hubungan antara variabel A dan variabel B. Mereka dapat menjelaskan model. Mereka dapat menjelaskan kerangka teoretis. Mereka dapat menjelaskan indikator keberhasilan. Mereka dapat menjelaskan metodologi evaluasi.

Namun, ketika seseorang bertanya:
"Baiklah. Siapa yang memperoleh manfaat?"

Ruangan mendadak tidak nyaman karena pertanyaan itu tidak diterjemahkan dengan baik oleh mesin.

Di televisi, mesin bekerja lebih cepat lagi. Sebuah krisis yang memerlukan sejarah seratus tahun harus dijelaskan dalam tujuh menit. Sebuah struktur ekonomi harus dijelaskan sebelum jeda iklan. Sebuah konflik sosial harus dikemas menjadi dua kubu.

Seorang pembawa acara tersenyum. Grafik muncul. Pakar berbicara. Sponsor tampil. Acara selesai.

Dan dunia kembali menjadi cukup sederhana untuk ditoleransi.

Media sangat bangga pada efisiensi ini. Mereka menyebutnya aksesibilitas. Padahal sering kali yang terjadi adalah amputasi.

Apa yang terlalu rumit dipotong. Apa yang terlalu mengganggu dipotong. Apa yang terlalu mendasar dipotong. Apa yang terlalu politis dipotong. Apa yang terlalu dekat dengan kekuasaan dipotong.

Pada akhirnya, yang tersisa adalah kenyataan versi ramah pemirsa. Kenyataan yang tidak membuat sponsor cemas. Kenyataan yang tidak membuat pemegang saham gugup. Kenyataan yang tidak membuat institusi besar kehilangan tidur. Dan masyarakat perlahan-lahan belajar berbicara dalam bahasa yang sama.

Mereka tidak lagi berkata:
"Ada orang yang mengambil terlalu banyak."
Mereka berkata:
"Terdapat ketimpangan distribusi."

Mereka tidak lagi berkata:
"Ada yang berbohong."
Mereka berkata:
"Terdapat perbedaan perspektif."

Mereka tidak lagi berkata:
"Ada yang merampok."
Mereka berkata:
"Terdapat masalah tata kelola."

Bahasa menjadi semakin sopan. Dan dunia menjadi semakin brutal.

Ironisnya, semakin banyak kata yang digunakan, semakin sedikit yang dikatakan.

Laporan bertambah tebal. Pidato bertambah panjang. Artikel bertambah banyak. Panel diskusi bertambah ramai. Seminar bertambah sering. Webinar bertambah padat. Konsultan bertambah kaya.

Namun pertanyaan yang benar-benar penting terus menyusut. Karena seluruh sistem modern diam-diam bergantung pada satu asumsi: bahwa penjelasan adalah pengganti tindakan.

Jika sebuah masalah cukup lama dibahas, ia akan terasa seperti sedang diselesaikan.

Jika sebuah tragedi cukup sering dianalisis, ia akan terasa seperti telah dipahami.

Jika sebuah ketidakadilan cukup sering diberi konteks, ia akan terasa seperti tidak lagi mendesak.

Dan di situlah mesin mencapai bentuk sempurnanya. Ia tidak menutupi kenyataan, tetapi mengelolanya. Ia tidak menyensor, tetapi menginterpretasi. Ia tidak memaksa orang diam, tetapi membuat semua orang berbicara dengan bahasa yang sama.

Sampai suatu hari seorang perempuan tua berdiri dalam rapat warga.

Semua pakar sudah berbicara. Semua pejabat sudah menjelaskan. Semua data sudah dipresentasikan. Semua grafik sudah ditampilkan.

Lalu perempuan itu berkata:
"Aku tidak mengerti semua itu."

Ruangan tersenyum sopan. Mereka mengira ia bingung.

Lalu ia melanjutkan:
"Namun aku tahu hidup kami makin susah."

Dan seketika seluruh mesin kehilangan keanggunannya. Karena kalimat itu tidak dapat diproses, tidak dapat dipoles, tidak dapat disederhanakan, tidak dapat dipindahkan ke lampiran teknis, tidak dapat ditenggelamkan dalam jargon.

Ia terlalu dekat dengan dunia. Dan seluruh peradaban birokratis-modern selalu memiliki hubungan yang canggung dengan orang-orang yang masih berbicara terlalu dekat dengan dunia.

•••

ARSIPARIS KEHILANGAN

Di pusat pemerintahan berdiri gedung arsip nasional. Gedung itu sangat besar, sangat rapi, sangat modern.

Setiap dokumen memiliki nomor. Setiap nomor memiliki klasifikasi. Setiap klasifikasi memiliki prosedur. Setiap prosedur memiliki pengawas. Dan setiap pengawas memiliki laporan.

Negeri itu mencatat segalanya. Atau setidaknya begitu yang mereka yakini.

Mereka mencatat angka kelahiran, mencatat angka kematian, mencatat ekspor, mencatat impor, mencatat inflasi, mencatat produktivitas, mencatat konsumsi, mencatat mobilitas, mencatat kepuasan, mencatat kepercayaan, mencatat sentimen, mencatat perhatian, mencatat hampir segala sesuatu.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berhasil mereka arsipkan: apa yang hilang.

Mereka dapat menghitung jumlah sekolah, tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak rasa ingin tahu yang mati di dalamnya.

Mereka dapat menghitung jumlah rumah sakit, tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak martabat yang hilang di ruang tunggu.

Mereka dapat menghitung jumlah pekerjaan, tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak kehidupan yang habis untuk mempertahankannya.

Karena institusi selalu lebih mahir menghitung benda daripada mengukur pengurangan manusia.

Setiap tahun, laporan nasional diterbitkan. Ribuan halaman, ratusan tabel, puluhan ribu angka. Semuanya sangat presisi, sangat ilmiah, sangat profesional.

Namun tak satu pun memiliki kolom bernama: "Apa yang membuat hidup ini layak dijalani?"

Karena pertanyaan semacam itu tidak memiliki metodologi yang nyaman.

Maka negara menghitung pertumbuhan, tetapi tidak menghitung kesepian. Menghitung investasi, tetapi tidak menghitung keterasingan. Menghitung efisiensi, tetapi tidak menghitung kelelahan. Menghitung konsumsi, tetapi tidak menghitung kehampaan.

Dan ketika sesuatu tidak dihitung cukup lama, ia mulai tampak tidak nyata.

Inilah sihir statistik modern.

Bukan karena statistik berbohong. Justru karena ia berkata jujur tentang hal-hal yang dipilih untuk dihitung. Masalahnya adalah siapa yang memilih. Dan mengapa.

Suatu hari, seorang pegawai arsip muda bertanya, "Mengapa tidak ada berkas tentang harapan?"

Atasannya tertawa. "Harapan bukan kategori administratif."

"Bagaimana dengan kehormatan?"

"Bukan indikator resmi."

"Bagaimana dengan rasa putus asa?"

"Tidak masuk kerangka evaluasi."

"Bagaimana dengan makna hidup?"

Pegawai senior memandangnya seperti seseorang yang baru saja mengusulkan pengukuran berat dosa dengan timbangan digital.

Maka pegawai muda itu belajar. Ia belajar bahwa birokrasi modern tidak selalu menolak kemanusiaan. Ia hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Dan ketidaktahuan itu disalahartikan sebagai objektivitas.

•••

TELEVISI UNTUK ORANG YANG LELAH

Setiap malam, jutaan orang pulang kerja. Tubuh lelah. Pikiran lelah. Harapan lelah.

Mereka menyalakan televisi. Atau telepon genggam. Atau layar apa pun yang kini mengambil alih fungsi jendela.

Lalu para pembawa acara muncul. Mereka tersenyum. Mereka selalu tersenyum. Tak peduli apa yang terjadi. Karena industri informasi sangat memahami sesuatu: orang yang lelah adalah pasar yang sangat baik.

Orang yang lelah tidak membutuhkan penjelasan. Ia membutuhkan gangguan. Tidak membutuhkan analisis. Ia membutuhkan pelarian. Tidak membutuhkan struktur. Ia membutuhkan cerita.

Maka media bekerja keras. Bukan membuat masyarakat bodoh. Itu tuduhan yang terlalu sederhana. Mereka melakukan sesuatu yang lebih menguntungkan: mereka memastikan masyarakat tetap lelah.

Karena orang yang benar-benar beristirahat mungkin mulai berpikir. Dan orang yang mulai berpikir mungkin mulai membandingkan. Dan orang yang mulai membandingkan mungkin mulai melihat pola.

Pola adalah musuh utama industri narasi. Karena pola menghubungkan hal-hal yang sengaja dipisahkan.

Harga rumah. Upah. Pendidikan. Kesehatan. Utang. Media. Politik. Pekerjaan. Semuanya tampak terpisah. Sampai seseorang melihat cukup lama.

Dan industri informasi modern dibangun untuk mencegah siapa pun melihat cukup lama.

Setiap lima menit topik berubah. Setiap lima jam skandal berganti. Setiap lima hari musuh baru muncul. Setiap lima minggu kepanikan baru diproduksi. Dan setiap lima tahun semua orang bertanya: "Mengapa tidak ada yang berubah?"

Pertanyaan itu muncul dengan keteraturan yang hampir puitis.

•••

KONSULTAN REALITAS

Di gedung-gedung tinggi, terdapat profesi baru: konsultan realitas.

Mereka tidak menyebut diri demikian. Mereka memiliki nama yang lebih elegan. Konsultan strategi. Konsultan komunikasi. Konsultan reputasi. Konsultan transformasi. Konsultan persepsi.

Namun fungsi dasarnya sama.

Mereka membantu institusi hidup berdampingan dengan kenyataan tanpa harus terlalu banyak menyentuhnya.

Jika publik marah, mereka tidak bertanya:
"Apa yang salah?"
Mereka bertanya:
"Bagaimana ini terlihat?"

Jika kepercayaan turun, mereka tidak bertanya:
"Mengapa?"
Mereka bertanya:
"Bagaimana narasinya?"

Jika masyarakat kehilangan harapan, mereka tidak bertanya:
"Apa yang harus diubah?"
Mereka bertanya:
"Bagaimana pesannya?"

Dan perlahan-lahan, seluruh dunia menjadi ruang cermin. Masalah merefleksikan citra. Citra merefleksikan narasi. Narasi merefleksikan survei. Survei merefleksikan persepsi. Persepsi merefleksikan media. Media merefleksikan institusi. Institusi merefleksikan laporan. Laporan merefleksikan indikator. Dan indikator merefleksikan keputusan lama.

Di tengah semua pantulan itu, kenyataan berdiri di luar gedung, mengetuk pintu.

Namun tak seorang pun mendengarnya. Karena di dalam, rapat tentang persepsi kenyataan masih berlangsung.

•••

MUSEUM MASA KINI

Pada abad ini, terjadi sesuatu yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah peradaban memutuskan untuk menjadi arsip bagi dirinya sendiri.

Segala sesuatu dicatat. Segala sesuatu direkam. Segala sesuatu disimpan. Segala sesuatu didokumentasikan.

Makan siang. Pendapat. Perjalanan. Kesedihan. Kemarahan. Kegagalan. Kebahagiaan. Semuanya.

Tidak ada generasi sebelumnya yang memiliki begitu banyak bukti keberadaan dirinya. Dan mungkin tidak ada generasi sebelumnya yang begitu sering mempertanyakan apakah keberadaannya sungguh berarti.

Maka lahirlah Museum Masa Kini. Sebuah museum raksasa yang tidak berada di satu gedung. Ia berada di mana-mana.

Di server. Di cloud. Di platform. Di basis data. Di arsip digital. Di pusat data yang dingin dan sangat jauh dari manusia.

Setiap hari, jutaan orang menjadi kurator bagi pameran kehidupan mereka sendiri. Mereka memilih gambar. Memilih sudut. Memilih kata. Memilih ekspresi. Memilih versi diri. Lalu memajangnya.

Bukan karena mereka narsis. Penjelasan itu terlalu malas. Mereka melakukannya karena mulai takut bahwa sesuatu yang tidak direkam mungkin tidak pernah sungguh terjadi. Dan ketakutan itu adalah salah satu tragedi metafisik terbesar zaman ini.

Dahulu manusia mengalami sesuatu. Kini mereka sering mengalami pengalaman sambil memikirkan dokumentasinya.

Seorang ayah melihat anaknya tertawa. Dan sebagian pikirannya berkata: "Ini momen yang indah."

Bagian lain berkata: "Ini harus direkam."

Seorang perempuan melihat matahari terbenam. Dan sebagian pikirannya berkata: "Betapa indahnya."

Bagian lain berkata: "Bagaimana ini akan terlihat?"

Sedikit demi sedikit, kehidupan memperoleh penonton internal. Dan penonton itu tidak pernah pergi.

•••

PABRIK IDENTITAS

Di pinggir Museum Masa Kini berdiri bangunan lain. Jauh lebih besar. Jauh lebih sibuk. Namanya: Pabrik Identitas.

Di sana, jutaan manusia datang untuk menemukan diri mereka sendiri. Dan jutaan manusia pulang membawa kategori.

Kategori jauh lebih praktis. Kategori dapat diukur, diklasifikasikan, ditargetkan, dijual, dianalisis.

Diri yang sesungguhnya terlalu rumit, terlalu kontradiktif, terlalu hidup.

Maka pabrik itu menawarkan kemudahan. Pilihlah identitas, pilihlah kubu, pilihlah label, pilihlah komunitas, pilihlah algoritme, pilihlah musuh, pilihlah narasi.

Dan masyarakat modern, yang kelelahan oleh kompleksitas, sering menerimanya dengan rasa syukur. Karena menjadi manusia itu sulit. Menjadi kategori jauh lebih mudah.

Foucault mungkin akan berjalan-jalan di antara mesin-mesin itu dengan senyum yang suram. Karena ia tahu: institusi paling efektif bukan yang memaksa orang menjadi sesuatu, melainkan yang membuat orang ingin menjadi sesuatu yang telah disiapkan.

Penjara terbaik adalah penjara yang disebut kebebasan memilih. Pilih selmu sendiri. Hias selmu sendiri. Banggalah pada selmu sendiri. Pertahankan selmu sendiri. Serang sel lain. Lalu sebut semua itu ekspresi individualitas.

Dan sistem berjalan tanpa penjaga.

•••

EKONOMI PERHATIAN DAN KEMATIAN KONTEMPLASI

Pada masa lalu, ada profesi yang disebut pertapa. Ada filsuf. Ada penyair. Ada pemikir. Ada orang-orang yang dianggap aneh karena menghabiskan waktu lama untuk memikirkan satu hal.

Kini perilaku itu hampir tampak patologis karena ekonomi modern tidak menghasilkan keuntungan dari perhatian yang mendalam.

Ia menghasilkan keuntungan dari perhatian yang terpecah.

Setiap kali seseorang gagal berkonsentrasi, seseorang memperoleh uang. Setiap kali seseorang teralihkan, seseorang memperoleh uang. Setiap kali seseorang tidak sempat berpikir, seseorang memperoleh uang. Maka lahirlah industri terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia: industri gangguan.

Industri ini tidak menjual produk. Ia menjual interupsi. Ia tidak menghasilkan benda. Ia menghasilkan dorongan. Ia tidak memerlukan kebohongan. Ia hanya memerlukan ketergesaan. Karena kebenaran dan kebohongan sama-sama membutuhkan waktu untuk diperiksa sedangkan ketergesaan membuat keduanya tampak identik.

Dan ketika semuanya tampak identik, institusi besar dapat bernapas lega.

•••

PARLEMEN BAYANGAN

Ada sebuah parlemen yang tidak pernah dipilih rakyat, tidak pernah disumpah, tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Namun keputusan-keputusannya mengalir ke seluruh masyarakat.

Anggotanya bukan politisi. Mereka adalah: algoritme.

Mereka memutuskan apa yang layak dilihat, apa yang layak didengar, apa yang layak diperhatikan, apa yang layak dilupakan.

Mereka tidak memiliki ideologi.

Itulah yang membuat mereka berbahaya. Karena ideologi setidaknya dapat diperdebatkan.

Algoritme hanya memiliki optimasi. Dan optimasi tidak pernah bertanya: "Apakah ini baik?"

Ia hanya bertanya: "Apakah ini berhasil?"

Pertanyaan itu tampak tidak berbahaya. Namun seluruh sejarah modern dapat dibaca sebagai perluasan wilayah di mana pertanyaan moral digantikan oleh pertanyaan teknis.

Bukan:
"Apakah kita seharusnya melakukan ini?"
Melainkan:
"Bisakah kita melakukan ini?"

Bukan:
"Apakah ini adil?"
Melainkan:
"Apakah ini efisien?"

Bukan:
"Apakah ini manusiawi?"
Melainkan:
"Apakah ini skalabel?"

Dan setiap kali pertanyaan kedua menggantikan pertanyaan pertama, sesuatu yang kecil hilang.

Bukan revolusi. Bukan demokrasi. Bukan konstitusi.

Sesuatu yang lebih sunyi, lebih sulit diukur, lebih sulit dimasukkan ke laporan. Yaitu kemampuan manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Mengapa?"

Karena seluruh mesin peradaban modern dapat menjawab hampir semua pertanyaan teknis. Namun masih tampak gugup ketika berhadapan dengan pertanyaan yang paling tua.

Pertanyaan yang tidak menghasilkan data, idak menghasilkan pertumbuhan, tidak menghasilkan keterlibatan, tidak menghasilkan keuntungan.

Pertanyaan yang hanya menghasilkan kesadaran.

Dan mungkin, di situlah seluruh bangunan mulai bergetar.

•••

EPIK TATA BAHASA IMPERIUM

Pada mulanya bukan firman. Pada mulanya bukan pedang. Pada mulanya bukan uang. Pada mulanya adalah formulir. Dan formulir itu bersama negara. Dan formulir itu adalah negara.

Sebelum jalan dibangun, sebelum bendungan didirikan, sebelum tentara berbaris, sebelum bendera dikibarkan, seseorang terlebih dahulu menciptakan kolom, nama, alamat, jenis, kategori, status, kode, nomor, lampiran, tanda tangan.

Dan sejak saat itu, manusia mulai hidup di dalam tata bahasa administrasi.

Mula-mula mereka hanya ingin mengatur dunia. Lalu mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih menguntungkan: dunia yang telah diatur lebih mudah dipercayai daripada dunia yang nyata.

Maka lahirlah Imperium Bahasa. Tidak memiliki ibu kota, idak memiliki perbatasan, tidak memiliki raja tunggal. Namun menguasai hampir segala sesuatu.

Ia hidup di kementerian, di universitas, di ruang redaksi, di lembaga survei, di rapat direksi, di laporan tahunan, di buku pelajaran, di layar televisi, di algoritme, di kepala kita.

Imperium ini tidak memungut pajak. Ia memungut makna.

Setiap pagi, jutaan manusia bangun. Mereka mengira sedang menggunakan bahasa. Padahal bahasa juga sedang menggunakan mereka.

Di pusat imperium berdiri Kementerian Nomina. Lembaga tertua di negeri itu. Tugasnya memberi nama kepada segala sesuatu.

Dan seperti semua pekerjaan yang tampak sederhana, ia mengandung kekuasaan yang tak terhingga.

Sebab sesuatu yang tidak memiliki nama sulit diatur. Akan tetapi, sesuatu yang telah memiliki nama mulai memiliki nasib.

Seorang anak disebut berbakat. Seorang anak disebut bermasalah. Seorang warga disebut produktif. Seorang warga disebut beban. Suatu daerah disebut tertinggal. Suatu daerah disebut strategis.

Lalu seluruh birokrasi bergerak. Dana bergerak. Perhatian bergerak. Media bergerak. Harapan bergerak. Ketakutan bergerak. Karena sebuah kata baru saja ditempelkan pada sebuah kehidupan.

Di sebelahnya berdiri Direktorat Verba Nasional. Mereka bertugas menentukan siapa melakukan apa kepada siapa. Atau lebih tepatnya: siapa yang boleh tampak melakukannya.

Ketika seorang warga mencuri, kalimat aktif digunakan.

"Pria itu mencuri."

Ketika sebuah korporasi menghancurkan sungai, kalimat pasif muncul secara ajaib.

"Terjadi pencemaran lingkungan."


Ketika seorang anak melempar batu:
"Pelaku melakukan tindakan."

Ketika kebijakan menghancurkan ribuan kehidupan:
"Terdapat dampak yang tidak diharapkan."

Verba bergerak. Tanggung jawab menghilang. Dan tata bahasa bekerja lembur.

Di lantai berikutnya terdapat Departemen Adjektiva. Tempat para ahli mengelola kesan.

Tidak ada proyek. Hanya proyek strategis. Tidak ada kebijakan. Hanya kebijakan progresif. Tidak ada pemotongan. Hanya rasionalisasi. Tidak ada kegagalan. Hanya tantangan. Tidak ada krisis. Hanya dinamika.

Di ruangan itu realitas dipoles hingga mengilap. Dan setiap kali dunia mulai tampak buruk, adjektiva baru ditemukan.

Ketika kemiskinan tidak berkurang:
"Transformasi sedang berlangsung."

Ketika pendidikan memburuk:
"Terdapat proses adaptasi."

Ketika rumah sakit kolaps:
"Sedang dilakukan optimalisasi layanan."

Adjektiva adalah kosmetik metafisik. Ia tidak menyembuhkan luka. Ia membuat luka tampak profesional.

Di luar kementerian, Universitas Imperium berdiri megah. Di sana mahasiswa belajar bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Lalu menghabiskan empat tahun untuk mempelajari cara bahasa menyembunyikan komunikasi.

Mereka menulis tesis. Mereka membuat kerangka teoretis. Mereka mengutip otoritas. Mereka menyusun bibliografi. Mereka memperoleh gelar.

Dan setelah lulus, mereka bergabung dengan institusi yang sama yang mereka kritik dalam skripsi.

Itulah siklus pengetahuan modern. Kritik diproduksi, diterbitkan, diseminarkan, diarsipkan. Lalu dinetralkan.

Sementara itu, media nasional bekerja siang malam.

Mereka memiliki satu tugas utama: mengubah peristiwa menjadi kalimat sebelum masyarakat sempat mengalaminya sendiri. Karena siapa yang lebih dulu memberi nama, sering kali menang.

Banjir terjadi.

Dalam satu jam ia telah menjadi narasi. Dalam tiga jam ia menjadi debat. Dalam enam jam ia menjadi konten. Dalam dua belas jam ia menjadi statistik. Dalam dua puluh empat jam ia menjadi arsip.

Dan setelah seminggu, ia menjadi masa lalu. Meski airnya belum surut.

Media memahami rahasia tua bahasa: yang mengendalikan urutan cerita tidak perlu mengendalikan kenyataan. Karena manusia hidup bukan hanya dari peristiwa. Mereka hidup dari penafsiran atas peristiwa.

Maka Imperium membangun Lembaga Survei Semantik. Setiap bulan mereka mengukur: kepercayaan, kepuasan, optimisme, persepsi, sentimen.

Mereka mengukur semuanya. Kecuali pertanyaan sederhana: mengapa orang hidup seperti ini?

Pertanyaan itu dianggap terlalu normatif, terlalu politis, terlalu manusiawi. Maka ia dikeluarkan dari metodologi.

Dan dunia menjadi semakin presisi, semakin terukur, semakin terdokumentasi, semakin tidak dipahami.

Pada tahun-tahun berikutnya, Imperium tumbuh besar. Ia tidak lagi membutuhkan polisi bahasa. Tidak lagi membutuhkan sensor. Tidak lagi membutuhkan pembakaran buku.

Karena warga negara telah belajar menyensor dirinya sendiri. Mereka belajar kata-kata yang aman. Mereka belajar kalimat yang aman. Mereka belajar pertanyaan yang aman. Mereka belajar kemarahan yang aman.

Dan kebebasan berbicara berkembang pesat. Semua orang boleh berbicara asalkan menggunakan tata bahasa yang tepat. Asalkan kemarahan mereka tetap berada dalam format yang dikenali. Asalkan kritik mereka tidak mengganggu struktur kalimat utama. Asalkan seluruh percakapan tetap berlangsung di dalam kamus resmi.

Maka Imperium tersenyum. Karena kemenangan tertingginya bukan membuat manusia diam, melainkan membuat manusia berbicara menggunakan bahasa yang telah disiapkan.

Lalu suatu hari, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Seorang perempuan tua berdiri di sebuah rapat warga.

Para pakar telah berbicara. Para pejabat telah menjelaskan. Para akademisi telah mempresentasikan. Para jurnalis telah meliput. Para konsultan telah mengelola narasi.

Semua istilah sudah digunakan. Semua kategori sudah dipasang. Semua indikator sudah ditampilkan.

Perempuan itu mendengarkan dengan sabar.

Lalu berkata: "Aku tidak mengerti sebagian besar kata-kata kalian."

Ruangan tersenyum. Mereka mengira ia tidak terdidik.

Kemudian ia melanjutkan: "Namun aku tahu kapan kalian menyembunyikan sesuatu."

Dan untuk pertama kalinya, seluruh Imperium Bahasa menjadi gugup. Karena di luar semua teori linguistik, di luar semua semiotika, di luar semua diskursus, di luar semua strategi komunikasi, di luar semua manajemen persepsi, terdapat sesuatu yang selalu mengganggu kekuasaan.

Bukan kebenaran. Kebenaran terlalu abstrak. Bukan fakta. Fakta masih dapat diperdebatkan. Melainkan pengalaman. Pengalaman seorang manusia yang membandingkan kata dengan dunia.

Sebab selama ribuan tahun, semua imperium memiliki musuh yang sama.

Saat ketika seseorang mendengar pidato, membaca laporan, menonton berita, mengikuti survei, mempelajari istilah, memahami kategorinya, lalu perlahan mengangkat kepala dan berkata:

"Tidak."

"Benda itu tidak sama dengan namanya."

"Kalimat itu tidak sama dengan hidupku."

"Penjelasan itu tidak sama dengan kenyataan."

Dan pada saat itulah, seluruh tata bahasa imperium, yang dibangun bertahun-tahun, yang dipoles oleh pakar, yang dijaga oleh institusi, yang disebarkan oleh media, yang diajarkan oleh sekolah, yang diulang oleh birokrasi, mulai kehilangan sihirnya.

Karena setiap kekuasaan linguistik, betapapun canggihnya, pada akhirnya bergantung pada satu harapan yang rapuh: bahwa manusia akan terus mencintai kata-kata lebih daripada dunia yang mereka tunjuk.

Dan sejarah, berulang kali, adalah catatan tentang apa yang terjadi ketika harapan itu gagal.

•••

SEJARAH ALAMIAH KATA "NORMAL"

Di antara semua kata yang pernah ditemukan manusia, tidak ada yang lebih sukses daripada kata normal.

Bukan kata "Tuhan". Bukan kata "bangsa". Bukan kata "revolusi". Bukan kata "kemerdekaan". Semua kata itu masih memiliki lawan, masih memiliki penentang, masih memiliki pengkritik.

Akan tetapi "normal" berhasil melakukan sesuatu yang lebih hebat: ia berhasil menjadi latar belakang. Dan segala sesuatu yang menjadi latar belakang akhirnya memperoleh kekuasaan.

Pada mulanya, normal hanyalah kata sederhana. Ia tidak memiliki tentara, tidak memiliki parlemen, tidak memiliki polisi, tidak memiliki penjara.

Ia hanya memiliki satu kemampuan kecil: membuat sesuatu tampak wajar. Lalu institusi menemukannya. Dan sejak hari itu karier kata tersebut melejit.

Rumah terlalu mahal?
Normal.

Jam kerja terlalu panjang?
Normal.

Kota terlalu sesak?
Normal.

Orang terlalu lelah?
Normal.

Pendidikan terlalu mahal?
Normal.

Kesehatan menjadi komoditas?
Normal.

Kesepian menjadi epidemi?
Normal.

Normal bekerja tanpa suara.

Ia tidak membela. Ia tidak menyerang. Ia tidak berargumentasi. Ia hanya duduk di sudut kalimat dan menghapus pertanyaan. Karena pertanyaan yang paling berbahaya selalu dimulai dengan: "Mengapa?"

Dan kata normal adalah mesin penghancur "mengapa".

Mengapa kita hidup seperti ini?
Karena memang normal.

Mengapa semuanya semakin sulit?
Karena memang normal.

Mengapa ketidakadilan terus terjadi?
Karena dunia memang seperti itu.

Perhatikan baik-baik. Tidak ada jawaban. Hanya penghentian pertanyaan.

Maka lahirlah Republik Normalitas. Sebuah negeri yang sangat stabil, sangat tenang, sangat rasional, dan sangat sakit.

Di republik itu, anak-anak belajar sejak kecil. Mereka belajar bahwa kompetisi itu normal. Mereka belajar bahwa kecemasan itu normal. Mereka belajar bahwa kelelahan itu normal. Mereka belajar bahwa keterasingan itu normal. Mereka belajar bahwa kesepian itu normal. Mereka belajar bahwa ketidakamanan itu normal.

Dan setelah dua puluh tahun pendidikan, tak seorang pun ingat siapa yang memutuskan semua itu. Karena normalitas yang sempurna selalu tampak tanpa pencipta.

Seperti cuaca. Seperti gravitasi. Seperti alam. Padahal sebagian besar hal yang disebut normal lebih muda daripada kakek-nenek kita.

Jam kerja modern. Pasar modern. Iklan modern. Media massa. Birokrasi. Algoritme. Korporasi global. Semuanya memiliki tanggal lahir.

Namun setelah cukup lama, mereka mulai menyamar sebagai takdir. Dan normalitas adalah kostum terbaik yang pernah ditemukan sejarah.

Di pusat republik berdiri Akademi Ilmu Kewajaran. Di sana para ahli bekerja siang malam. Mereka meneliti fenomena sosial, menganalisis data, membangun model, menyusun indikator.

Lalu secara perlahan, hampir tanpa sadar, mereka mulai menganggap objek penelitian mereka sebagai kondisi alamiah.

Mereka tidak bertanya: "Mengapa sistem ini ada?"
Mereka bertanya: "Bagaimana sistem ini bekerja?"

Mereka tidak bertanya: "Haruskah ini dipertahankan?"
Mereka bertanya: "Bagaimana mengoptimalkannya?"

Dan dari pergeseran kecil itu, lahirlah ribuan jurnal, puluhan ribu seminar, ratusan ribu laporan.

Semuanya sangat ilmiah, sangat objektif, sangat profesional. Dan hampir semuanya menerima dunia sebagai premis. Bukan sebagai pertanyaan. Itulah sebabnya institusi besar mencintai profesionalisme.

Profesionalisme yang sejati jarang berkata: "Ini salah."

Ia lebih suka berkata: "Ini tidak efisien."

Profesionalisme yang sejati jarang berkata: "Ini tidak adil."

Ia lebih suka berkata: "Ini tidak optimal."

Karena keadilan adalah pertanyaan moral. Sedangkan optimalisasi adalah pertanyaan teknis. Dan institusi jauh lebih nyaman dengan masalah teknis.

Masalah teknis tidak memberontak. Masalah teknis tidak menuntut. Masalah teknis tidak memiliki sejarah. Masalah teknis hanya membutuhkan konsultan. Maka konsultan datang.

Mereka datang dengan presentasi, dengan diagram, dengan matriks, dengan panah-panah berwarna. Mereka menjelaskan dunia seolah dunia adalah mesin.

Lalu seseorang dari belakang ruangan bertanya: "Bagaimana dengan manusia?"

Ruangan menjadi hening.

Karena manusia selalu menjadi gangguan bagi model yang elegan.


Manusia tidak konsisten, tidak rasional, tidak efisien, tidak dapat diprediksi. Dengan kata lain: manusia tidak normal.

Dan mungkin di situlah masalah sebenarnya dimulai. Karena seluruh peradaban modern diam-diam bermimpi tentang dunia yang lebih mudah dikelola.

Dunia yang lebih terukur, lebih stabil, lebih dapat diprediksi, lebih normal. Namun dunia seperti itu memerlukan sesuatu yang mahal.

Ia memerlukan manusia yang sedikit demi sedikit berhenti menjadi manusia, berhenti bertanya, berhenti heran, berhenti curiga, berhenti membayangkan alternatif, berhenti menganggap hidup dapat diatur secara berbeda.

Maka kata normal terus tumbuh. Ia masuk ke sekolah, masuk ke kantor, masuk ke televisi, masuk ke algoritme, masuk ke percakapan sehari-hari, masuk ke kepala kita.

Dan semakin besar kekuasaannya, semakin jarang ia disebut. Karena kekuasaan tertinggi selalu tampak seperti akal sehat.

Namun sejarah memiliki kebiasaan buruk. Sesekali muncul seseorang yang gagal menjadi normal. Seorang penyair. Seorang filsuf. Seorang buruh yang terlalu banyak berpikir. Seorang guru yang terlalu banyak bertanya. Seorang anak yang belum belajar takut. Mereka memandang dunia yang dianggap wajar oleh semua orang.

Lalu mereka bertanya: "Mengapa?"

Mengapa kita bekerja seperti ini?
Mengapa kita hidup seperti ini?
Mengapa kita berbicara seperti ini?
Mengapa kita menerima semua ini?

Dan seluruh Republik Normalitas langsung merasa tidak nyaman.

Karena tidak ada institusi yang benar-benar takut pada kemarahan. Kemarahan dapat dikelola.

Tidak ada institusi yang benar-benar takut pada kritik. Kritik dapat diserap.

Yang mereka takuti adalah sesuatu yang lebih kecil, lebih tenang, lebih filosofis, lebih berbahaya.

Keheranan. Karena keheranan adalah saat normalitas kehilangan perlindungannya.

Saat seseorang melihat kebiasaan seolah-olah untuk pertama kali. Saat seseorang melihat dunia bukan sebagai fakta, melainkan sebagai keputusan-keputusan lama yang telah dilupakan.

Dan pada saat itu, kata normal, yang selama ini tampak sebesar gunung, tiba-tiba terlihat seperti apa adanya: hanya sebuah kata yang terlalu lama tidak diperiksa.

•••

BIOGRAFI RESMI KATA "KENYATAAN"

Pada mulanya, kenyataan adalah sesuatu yang sederhana. Ia adalah hujan yang membasahi tubuh. Ia adalah batu yang melukai kaki. Ia adalah perut yang lapar. Ia adalah rumah yang roboh. Ia adalah suara tangisan yang tidak memerlukan interpretasi.

Kenyataan tidak membutuhkan juru bicara, tidak membutuhkan panel diskusi, tidak membutuhkan moderator, tidak membutuhkan lembaga survei, tidak membutuhkan analis, tidak membutuhkan pakar komunikasi.

Ia hanya ada. Lalu institusi menemukannya. Dan sejak saat itu, hidup kenyataan menjadi jauh lebih rumit.

Mula-mula mereka ingin menjelaskannya. Itu masih dapat dimengerti. Manusia memang makhluk yang suka menjelaskan.

Namun lama-kelamaan, mereka tidak lagi puas menjelaskan kenyataan. Mereka ingin mewakilinya. Kemudian mereka ingin mengelolanya. Kemudian mereka ingin mengukurnya. Kemudian mereka ingin mengatur cara orang memahaminya. Dan akhirnya, mereka mulai berbicara atas namanya.

Di sinilah tragedi dimulai. Karena kenyataan, seperti banyak korban penculikan lainnya, perlahan-lahan kehilangan hak untuk berbicara.

Sebagai gantinya, muncul para ahli kenyataan. Mereka sangat terpelajar. Mereka memiliki gelar. Mereka memiliki sertifikat. Mereka memiliki metodologi. Mereka memiliki konferensi tahunan. Dan mereka menjelaskan kepada masyarakat apa yang sesungguhnya terjadi. Kadang-kadang kepada masyarakat yang sedang mengalaminya.

Seorang petani berkata: "Panen saya gagal."
Seorang ahli menjawab: "Data menunjukkan tren produktivitas jangka panjang yang positif."

Seorang buruh berkata: "Saya tidak mampu membeli rumah."
Seorang analis menjawab: "Secara agregat terdapat peningkatan akses kepemilikan aset."

Seorang pasien berkata: "Saya tidak mendapat perawatan."
Seorang konsultan menjawab: "Terdapat tantangan distribusi layanan."

Dan setiap kali itu terjadi, kenyataan kehilangan sebagian kecil dirinya. Karena kini ia harus melewati penerjemah.

•••

PENGADILAN BESAR PENANDA

Di pusat Imperium Bahasa terdapat sebuah pengadilan. Bukan pengadilan manusia, melainkan pengadilan kata.

Di sana setiap istilah diadili berdasarkan kegunaannya bagi ketertiban.

Kata "eksploitasi" dianggap terlalu agresif. Diganti dengan "hubungan ekonomi".

Kata "penindasan" dianggap terlalu emosional. Diganti dengan "mekanisme sosial".

Kata "perampasan" dianggap terlalu normatif. Diganti dengan "restrukturisasi kepemilikan".

Kata "kebohongan" dianggap terlalu menghakimi. Diganti dengan "perbedaan informasi".

Dan setiap kali sebuah kata kehilangan giginya, institusi memperoleh tidur yang lebih nyenyak.

Karena bahasa yang tajam membuat kekuasaan gugup. Bahasa yang tumpul membuat rapat berjalan lancar.

Maka ribuan kata dimasukkan ke program rehabilitasi. Mereka diajarkan sopan santun. Mereka diajarkan netralitas. Mereka diajarkan profesionalisme. Mereka diajarkan cara hidup tanpa melukai siapa pun lagi. Termasuk mereka yang seharusnya dilukai.

•••

KATEDRAL OBJEKTIVITAS

Di jantung ibu kota berdiri bangunan paling suci dalam seluruh peradaban modern. Namanya: Katedral Objektivitas.

Di sana para imam statistik membakar dupa metodologi. Mereka mengenakan jubah data. Mereka mengutip margin kesalahan. Mereka menyanyikan liturgi regresi. Mereka mengangkat grafik ke udara. Dan seluruh jemaat berlutut.

Bukan karena grafik itu salah. Sering kali justru benar. Masalahnya adalah sesuatu yang lain.

Grafik menjawab pertanyaan yang telah dipilih sebelumnya. Dan siapa yang memilih pertanyaan sering kali lebih berkuasa daripada siapa yang memberikan jawaban.

Namun itu jarang dibahas. Karena pertanyaan tentang pertanyaan selalu membuat institusi gelisah.

Lebih nyaman membahas hasil. Lebih nyaman membahas data. Lebih nyaman membahas angka. Daripada membahas mengapa angka tertentu dianggap penting sementara yang lain diabaikan.

Mengapa pertumbuhan dihitung, tetapi keterasingan tidak. Mengapa produktivitas dihitung, tetapi kelelahan tidak. Mengapa keuntungan dihitung, tetapi makna hidup tidak. Karena beberapa pertanyaan tidak cocok dimasukkan ke spreadsheet. Dan apa yang tidak cocok dimasukkan ke spreadsheet sering kali kehilangan status ontologisnya. Seolah-olah tidak ada.

•••

PEMBERONTAKAN KATA BENDA

Sejarah bahasa, seperti sejarah manusia, tidak pernah sepenuhnya patuh.

Suatu hari, kata-kata mulai memberontak.

"Kelaparan" menolak disebut "ketidakamanan pangan".

"Kebohongan" menolak disebut "misinformasi yang tidak disengaja".

"Perampokan" menolak disebut "optimalisasi kepemilikan".

"Perang" menolak disebut "operasi stabilisasi".

"Pengangguran" menolak disebut "masa transisi tenaga kerja".

Kata-kata itu lelah. Mereka lelah menjadi kosmetik. Mereka lelah menjadi tirai. Mereka lelah menjadi peredam kejut bagi sistem yang tidak ingin melihat dirinya sendiri.

Maka mereka mulai kembali kepada benda-benda yang mereka tunjuk.

Dan setiap kali itu terjadi, institusi menjadi gugup. Karena institusi tidak pernah benar-benar takut kepada kata-kata. Mereka takut kepada hubungan antara kata dan dunia. Mereka takut pada saat penanda kembali menemukan petandanya. Pada saat istilah kembali menemukan tubuh. Pada saat statistik kembali menemukan manusia. Pada saat laporan kembali menemukan kehidupan. Pada saat bahasa berhenti menjadi kabut. Dan kembali menjadi jendela.

Sebab setiap kekuasaan besar pada akhirnya bergantung pada satu operasi linguistik yang sederhana: menjaga jarak antara kata dan benda.

Dan setiap pembebasan besar selalu dimulai dengan tindakan yang sama sederhananya: menyatukan keduanya kembali.

Membuat "lapar" kembali berarti lapar. Membuat "takut" kembali berarti takut. Membuat "bohong" kembali berarti bohong. Membuat "hidup" kembali berarti hidup.

Dan pada saat itu, seluruh imperium semiotik, seluruh katedral objektivitas, seluruh birokrasi penamaan, seluruh industri narasi, untuk sesaat, kehilangan kemampuan berbicara.

Karena tidak ada jargon yang pernah benar-benar mampu bertahan lama di hadapan benda yang kembali dipanggil dengan namanya sendiri.

•••

TRAKTATUS UNTUK PARA JURU BICARA


Apa yang dapat dikatakan, akan dikatakan oleh juru bicara. Apa yang tidak dapat dikatakan, akan dimasukkan ke lampiran. Apa yang terlalu berbahaya untuk dimasukkan ke lampiran, akan disebut kompleks. Inilah seluruh filsafat komunikasi publik.

Di negeri ini, setiap institusi memiliki mulut. Tidak semuanya memiliki telinga.

Kementerian memiliki mulut. Korporasi memiliki mulut. Universitas memiliki mulut. Media memiliki mulut. Partai memiliki mulut. Lembaga survei memiliki mulut. Platform digital memiliki mulut. Dan semuanya berbicara.

Mereka berbicara tentang transparansi. Mereka berbicara tentang akuntabilitas. Mereka berbicara tentang partisipasi. Mereka berbicara tentang demokrasi. Mereka berbicara tentang keberlanjutan. Mereka berbicara tentang inklusivitas. Mereka berbicara tentang masa depan. Mereka berbicara begitu banyak hingga dunia mulai terdengar seperti gema dari dirinya sendiri.

Suatu hari seorang filsuf tua berkata:
"Barangkali masalah kita bukan kekurangan informasi."

Tak seorang pun mendengarnya karena terlalu banyak informasi.

Dan begitulah kemenangan pertama institusi modern. Bukan menyembunyikan suara, melainkan menenggelamkannya.

Foucault pernah curiga bahwa penjara bukan hanya bangunan, rumah sakit bukan hanya bangunan, sekolah bukan hanya bangunan, barak bukan hanya bangunan. Mereka adalah mesin penghasil subjek. Mesin yang mengubah manusia menjadi sesuatu yang dapat dibaca, diklasifikasi, diprediksi, diintervensi, diperbaiki, dioptimalisasi.

Negeri ini mendengarkan gagasan itu. Lalu berkata: "Bagus sekali."

Kemudian mereka memperluasnya.

Sekarang bukan hanya sekolah. Seluruh internet menjadi sekolah. Bukan hanya rumah sakit. Seluruh kehidupan menjadi diagnosis. Bukan hanya penjara. Seluruh masyarakat menjadi sistem evaluasi berkelanjutan.

Setiap klik menjadi pengakuan. Setiap unggahan menjadi kesaksian. Setiap pencarian menjadi pengungkapan diri. Dan manusia modern, tanpa dipaksa, berjalan ke ruang interogasinya sendiri. Lalu mengunggah hasilnya.

Kita hidup di zaman yang berhasil mengubah pengawasan menjadi bentuk ekspresi diri. Itulah jenis kemenangan yang membuat diktator-diktator lama terlihat amatir.

Mereka membutuhkan polisi rahasia. Kita menyediakan datanya sendiri. Mereka membutuhkan informan. Kita menjadi informan bagi diri kita sendiri. Mereka membutuhkan arsip. Kita membangun arsip itu secara sukarela. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit.

Barthes mungkin akan berdiri di tengah pusat data raksasa dan tertawa getir karena mitos modern tidak lagi bekerja melalui cerita rakyat. Ia bekerja melalui antarmuka.

Ia tidak berkata: "Percayalah."
Ia berkata: "Setujui syarat dan ketentuan."

Ia tidak berkata: "Inilah ideologi."
Ia berkata: "Inilah pengalaman pengguna."

Ia tidak berkata: "Inilah bentuk kehidupan yang kami inginkan."
Ia berkata: "Kami meningkatkan kenyamanan Anda."

Dan seperti semua mitos yang berhasil, ia menyembunyikan sejarahnya sendiri.

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan desain ini."

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan metrik ini."

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan apa yang akan diperkuat dan apa yang akan ditenggelamkan."

Semuanya tampak alami, semuanya tampak teknis, semuanya tampak netral. Padahal netralitas sering kali hanyalah politik yang telah berhasil mencuci mukanya.

Di ruang redaksi nasional, para editor bekerja keras. Mereka tidak perlu menerima telepon dari pemerintah. Mereka tidak perlu menerima ancaman. Mereka tidak perlu disensor. Mereka hanya perlu memahami aturan permainan.

Dan aturan permainan itu sederhana: Jangan bohong.

Lebih baik dari itu. Pilih kebenaran yang tidak berbahaya. Liput skandal, jangan liput struktur. Liput konflik, jangan liput distribusi kekuasaan. Liput gejala, jangan liput mesin yang memproduksi gejala. Liput ledakan, jangan liput pabrik bahan peledak. Karena gejala memiliki wajah, struktur memiliki alamat. Dan alamat sering kali terhubung dengan pemasang iklan, atau pemegang saham, atau mitra strategis, atau anggota dewan, atau teman kuliah, atau masa depan karier seseorang.

Maka media menjadi sangat berani. Sangat berani terhadap individu dan sangat sopan terhadap sistem. Mereka dapat menghancurkan seorang menteri, tetapi tidak menyentuh logika yang memproduksi menteri itu. Mereka dapat mengecam seorang koruptor, tetapi tidak menyentuh mekanisme yang membuat korupsi menjadi fungsi normal. Mereka dapat memburu seekor tikus ambil melindungi laboratorium. Lalu mereka menyebutnya objektivitas.

Wittgenstein mungkin akan masuk ke studio televisi suatu malam. Ia akan duduk diam. Mendengarkan panel diskusi, mendengarkan pakar, mendengarkan analis, mendengarkan moderator, mendengarkan politisi. Dan setelah dua jam, ia mungkin hanya bertanya satu hal: "Dalam permainan bahasa apa kalian sedang bermain?"

Karena kata-kata yang sama terus beredar dari mulut ke mulut. Reformasi. Pertumbuhan. Keamanan. Stabilitas. Kemajuan. Inovasi. Investasi.

Tak seorang pun berhenti cukup lama untuk bertanya: Apa yang sedang dilakukan kata-kata ini?

Bukan apa artinya, melainkan apa fungsinya? Siapa yang diuntungkan ketika kata itu diucapkan? Siapa yang menghilang ketika kata itu diucapkan? Siapa yang memperoleh legitimasi? Siapa yang kehilangan suara?

Akan tetapi, pertanyaan seperti itu buruk untuk televisi. Ia tidak dapat diringkas menjadi tiga puluh detik. Ia tidak menghasilkan keterlibatan tinggi. Ia tidak cocok untuk sponsor. Maka ia dibuang.

Dan masyarakat terus berbicara menggunakan kosakata yang diwariskan institusi. Mereka marah menggunakan kata-kata institusi. Mereka protes menggunakan kata-kata institusi. Mereka mengkritik menggunakan kata-kata institusi. Bahkan pemberontakan mereka telah memperoleh izin tata bahasa.

Inilah tahap tertinggi kekuasaan. Bukan ketika orang mematuhi, melainkan ketika orang tidak dapat membayangkan cara berbicara yang lain.

Ketika seluruh pemikiran dibatasi oleh kamus yang sama, ketika seluruh oposisi berlangsung di dalam arena yang dibangun oleh lawannya, ketika seluruh kritik menggunakan kategori yang disediakan oleh objek kritiknya. Pada titik itu, kekuasaan tidak lagi tampak seperti kekuasaan. Ia tampak seperti kenyataan. Dan itulah karya agung institusi modern.

Bukan membuat kebohongan dipercaya. Itu terlalu sulit. Mereka melakukan sesuatu yang lebih sederhana: Mereka membuat alternatif tampak tidak masuk akal. Mereka membuat kemungkinan lain tampak utopis. Mereka membuat imajinasi tampak naif. Mereka membuat keheranan tampak kekanak-kanakan. Mereka membuat sejarah tampak selesai. Mereka membuat masa kini tampak final. Lalu seluruh masyarakat berjalan di dalam koridor sempit kemungkinan. Sambil menyebutnya kebebasan.

Namun sejarah memiliki satu kebiasaan buruk yang tidak pernah berhasil dipahami institusi.

Kadang-kadang seseorang menolak memainkan permainan bahasa yang tersedia.

Seorang buruh berkata: "Aku tidak peduli istilahnya. Aku tahu aku dieksploitasi."

Seorang petani berkata: "Aku tidak peduli statistiknya. Aku tahu tanahku hilang."

Seorang warga berkata: "Aku tidak peduli narasinya. Aku tahu hidupku memburuk."

Dan tiba-tiba seluruh mesin diskursif mulai mengeluarkan suara aneh. Karena tidak ada teori komunikasi, tidak ada manajemen reputasi, tidak ada strategi media, tidak ada survei persepsi, tidak ada optimasi algoritmik, yang benar-benar siap menghadapi momen sederhana itu: ketika seseorang membandingkan bahasa dengan dunia. Lalu memilih dunia.

Dan pada saat itulah, seluruh katedral tanda, seluruh birokrasi makna, seluruh industri narasi, seluruh republik statistik, seluruh kekaisaran komunikasi, untuk sesaat yang berharga, kehilangan kemampuan terbesarnya: kemampuan membuat manusia lupa bahwa kata-kata bukanlah kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI