MESIN PENERJEMAH KENYATAAN

Di ruang bawah tanah peradaban modern terdapat sebuah mesin raksasa. Tidak pernah dipamerkan. Tidak pernah dipilih melalui pemilu. Tidak pernah diumumkan kepada publik. Namun hampir semua institusi bergantung padanya. Namanya: Mesin Penerjemah Kenyataan.

Tugasnya sederhana.

Mengubah dunia menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengganggu.


---

Ketika seorang buruh berkata:

"Aku tidak mampu hidup dari upah ini."

Mesin bekerja.

Kalimat itu masuk.

Gear berputar.

Sabuk bergerak.

Lampu menyala.

Lalu keluar hasilnya:

"Terdapat tantangan daya beli pada kelompok tertentu."


---

Ketika seorang petani berkata:

"Panenku gagal dan aku bangkrut."

Mesin bekerja.

Lalu keluar:

"Terdapat volatilitas produktivitas sektor agrikultur."


---

Ketika seorang warga berkata:

"Rumahku tenggelam."

Mesin bekerja.

Lalu keluar:

"Terjadi peristiwa hidrometeorologis."


---

Mesin itu sangat efisien.

Ia menghilangkan pelaku.

Menghilangkan konflik.

Menghilangkan sejarah.

Menghilangkan keuntungan.

Menghilangkan tanggung jawab.

Dan mempertahankan hanya satu hal:

kesan bahwa semuanya masih terkendali.


---

Institusi mencintai mesin ini.

Karena kenyataan mentah terlalu sulit ditangani.

Kenyataan mentah membuat orang marah.

Kenyataan mentah menuntut tindakan.

Kenyataan mentah menciptakan pertanyaan.

Sedangkan kenyataan yang telah diterjemahkan hanya memerlukan rapat koordinasi.


---

Maka setiap pagi, para pejabat menerima dunia dalam bentuk yang telah diproses.

Mereka tidak menerima kemiskinan.

Mereka menerima indikator.

Mereka tidak menerima penderitaan.

Mereka menerima variabel.

Mereka tidak menerima manusia.

Mereka menerima kategori.

Dan setelah bertahun-tahun, mereka mulai lupa bahwa pernah ada perbedaan.


---

Di universitas, mesin yang sama dipasang.

Mahasiswa datang dengan rasa ingin tahu.

Mesin menerima mereka.

Empat tahun kemudian, keluar lulusan yang mampu menjelaskan segalanya

kecuali mengapa masyarakat tetap sengsara.


---

Mereka dapat menjelaskan hubungan antara variabel A dan variabel B.

Mereka dapat menjelaskan model.

Mereka dapat menjelaskan kerangka teoritis.

Mereka dapat menjelaskan indikator keberhasilan.

Mereka dapat menjelaskan metodologi evaluasi.

Tetapi ketika seseorang bertanya:

"Baiklah. Siapa yang memperoleh manfaat?"

Ruangan mendadak tidak nyaman.


---

Karena pertanyaan itu tidak diterjemahkan dengan baik oleh mesin.


---

Di televisi, mesin bekerja lebih cepat lagi.

Sebuah krisis yang memerlukan sejarah seratus tahun harus dijelaskan dalam tujuh menit.

Sebuah struktur ekonomi harus dijelaskan sebelum jeda iklan.

Sebuah konflik sosial harus dikemas menjadi dua kubu.

Seorang pembawa acara tersenyum.

Grafik muncul.

Pakar berbicara.

Sponsor tampil.

Acara selesai.

Dan dunia kembali menjadi cukup sederhana untuk ditoleransi.


---

Media sangat bangga pada efisiensi ini.

Mereka menyebutnya aksesibilitas.

Padahal sering kali yang terjadi adalah amputasi.


---

Apa yang terlalu rumit dipotong.

Apa yang terlalu mengganggu dipotong.

Apa yang terlalu mendasar dipotong.

Apa yang terlalu politis dipotong.

Apa yang terlalu dekat dengan kekuasaan dipotong.


---

Pada akhirnya, yang tersisa adalah kenyataan versi ramah pemirsa.

Kenyataan yang tidak membuat sponsor cemas.

Kenyataan yang tidak membuat pemegang saham gugup.

Kenyataan yang tidak membuat institusi besar kehilangan tidur.


---

Dan masyarakat perlahan-lahan belajar berbicara dalam bahasa yang sama.

Mereka tidak lagi berkata:

"Ada orang yang mengambil terlalu banyak."

Mereka berkata:

"Terdapat ketimpangan distribusi."

Mereka tidak lagi berkata:

"Ada yang berbohong."

Mereka berkata:

"Terdapat perbedaan perspektif."

Mereka tidak lagi berkata:

"Ada yang merampok."

Mereka berkata:

"Terdapat masalah tata kelola."


---

Bahasa menjadi semakin sopan.

Dan dunia menjadi semakin brutal.


---

Ironisnya, semakin banyak kata yang digunakan,

semakin sedikit yang dikatakan.


---

Laporan bertambah tebal.

Pidato bertambah panjang.

Artikel bertambah banyak.

Panel diskusi bertambah ramai.

Seminar bertambah sering.

Webinar bertambah padat.

Konsultan bertambah kaya.

Namun pertanyaan yang benar-benar penting terus menyusut.


---

Karena seluruh sistem modern diam-diam bergantung pada satu asumsi:

bahwa penjelasan adalah pengganti tindakan.


---

Jika sebuah masalah cukup lama dibahas,

ia akan terasa seperti sedang diselesaikan.

Jika sebuah tragedi cukup sering dianalisis,

ia akan terasa seperti telah dipahami.

Jika sebuah ketidakadilan cukup sering diberi konteks,

ia akan terasa seperti tidak lagi mendesak.


---

Dan di situlah mesin mencapai bentuk sempurnanya.

Ia tidak menutupi kenyataan.

Ia mengelolanya.

Ia tidak menyensor.

Ia menginterpretasi.

Ia tidak memaksa orang diam.

Ia membuat semua orang berbicara dengan bahasa yang sama.


---

Sampai suatu hari seorang perempuan tua berdiri dalam rapat warga.

Semua pakar sudah berbicara.

Semua pejabat sudah menjelaskan.

Semua data sudah dipresentasikan.

Semua grafik sudah ditampilkan.

Lalu perempuan itu berkata:

"Aku tidak mengerti semua itu."

Ruangan tersenyum sopan.

Mereka mengira ia bingung.

Lalu ia melanjutkan:

"Tapi aku tahu hidup kami makin susah."

Dan seketika seluruh mesin kehilangan keanggunannya.

Karena kalimat itu tidak dapat diproses.

Tidak dapat dipoles.

Tidak dapat disederhanakan.

Tidak dapat dipindahkan ke lampiran teknis.

Tidak dapat ditenggelamkan dalam jargon.


---

Ia terlalu dekat dengan dunia.

Dan seluruh peradaban birokratis-modern selalu memiliki hubungan yang canggung

dengan orang-orang

yang masih berbicara

terlalu dekat

dengan dunia.

•••

ARSIPARIS KEHILANGAN

(satir filosofis tentang negara yang mencatat segalanya kecuali apa yang hilang)

Di pusat pemerintahan berdiri gedung arsip nasional.

Gedung itu sangat besar.

Sangat rapi.

Sangat modern.

Setiap dokumen memiliki nomor.

Setiap nomor memiliki klasifikasi.

Setiap klasifikasi memiliki prosedur.

Setiap prosedur memiliki pengawas.

Dan setiap pengawas memiliki laporan.

Negeri itu mencatat segalanya.

Atau setidaknya begitu yang mereka yakini.


---

Mereka mencatat angka kelahiran.

Mencatat angka kematian.

Mencatat ekspor.

Mencatat impor.

Mencatat inflasi.

Mencatat produktivitas.

Mencatat konsumsi.

Mencatat mobilitas.

Mencatat kepuasan.

Mencatat kepercayaan.

Mencatat sentimen.

Mencatat perhatian.

Mencatat hampir segala sesuatu.


---

Namun ada satu hal yang tidak pernah berhasil mereka arsipkan:

apa yang hilang.


---

Mereka dapat menghitung jumlah sekolah.

Tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak rasa ingin tahu yang mati di dalamnya.

Mereka dapat menghitung jumlah rumah sakit.

Tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak martabat yang hilang di ruang tunggu.

Mereka dapat menghitung jumlah pekerjaan.

Tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak kehidupan yang habis untuk mempertahankannya.


---

Karena institusi selalu lebih mahir menghitung benda

daripada mengukur pengurangan manusia.


---

Setiap tahun, laporan nasional diterbitkan.

Ribuan halaman.

Ratusan tabel.

Puluhan ribu angka.

Semuanya sangat presisi.

Sangat ilmiah.

Sangat profesional.

Namun tak satu pun memiliki kolom bernama:

"Apa yang membuat hidup ini layak dijalani?"


---

Karena pertanyaan semacam itu tidak memiliki metodologi yang nyaman.


---

Maka negara menghitung pertumbuhan.

Tetapi tidak menghitung kesepian.

Menghitung investasi.

Tetapi tidak menghitung keterasingan.

Menghitung efisiensi.

Tetapi tidak menghitung kelelahan.

Menghitung konsumsi.

Tetapi tidak menghitung kehampaan.


---

Dan ketika sesuatu tidak dihitung cukup lama,

ia mulai tampak tidak nyata.


---

Inilah sihir statistik modern.

Bukan karena statistik berbohong.

Justru karena ia berkata jujur tentang hal-hal yang dipilih untuk dihitung.

Masalahnya adalah siapa yang memilih.

Dan mengapa.


---

Suatu hari, seorang pegawai arsip muda bertanya:

"Mengapa tidak ada berkas tentang harapan?"

Atasannya tertawa.

"Harapan bukan kategori administratif."

"Bagaimana dengan kehormatan?"

"Bukan indikator resmi."

"Bagaimana dengan rasa putus asa?"

"Tidak masuk kerangka evaluasi."

"Bagaimana dengan makna hidup?"

Pegawai senior memandangnya seperti seseorang yang baru saja mengusulkan pengukuran berat dosa dengan timbangan digital.


---

Maka pegawai muda itu belajar.

Ia belajar bahwa birokrasi modern tidak selalu menolak kemanusiaan.

Ia hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya.


---

Dan ketidaktahuan itu disalahartikan sebagai objektivitas.


---

TELEVISI UNTUK ORANG YANG LELAH

Setiap malam, jutaan orang pulang kerja.

Tubuh lelah.

Pikiran lelah.

Harapan lelah.

Mereka menyalakan televisi.

Atau telepon genggam.

Atau layar apa pun yang kini mengambil alih fungsi jendela.


---

Lalu para pembawa acara muncul.

Mereka tersenyum.

Mereka selalu tersenyum.

Tak peduli apa yang terjadi.

Karena industri informasi sangat memahami sesuatu:

orang yang lelah adalah pasar yang sangat baik.


---

Orang yang lelah tidak membutuhkan penjelasan.

Ia membutuhkan gangguan.

Tidak membutuhkan analisis.

Ia membutuhkan pelarian.

Tidak membutuhkan struktur.

Ia membutuhkan cerita.


---

Maka media bekerja keras.

Bukan membuat masyarakat bodoh.

Itu tuduhan yang terlalu sederhana.

Mereka melakukan sesuatu yang lebih menguntungkan:

mereka memastikan masyarakat tetap lelah.


---

Karena orang yang benar-benar beristirahat mungkin mulai berpikir.

Dan orang yang mulai berpikir mungkin mulai membandingkan.

Dan orang yang mulai membandingkan mungkin mulai melihat pola.


---

Pola adalah musuh utama industri narasi.

Karena pola menghubungkan hal-hal yang sengaja dipisahkan.


---

Harga rumah.

Upah.

Pendidikan.

Kesehatan.

Utang.

Media.

Politik.

Pekerjaan.

Semuanya tampak terpisah.

Sampai seseorang melihat cukup lama.


---

Dan industri informasi modern dibangun untuk mencegah siapa pun melihat cukup lama.


---

Setiap lima menit topik berubah.

Setiap lima jam skandal berganti.

Setiap lima hari musuh baru muncul.

Setiap lima minggu kepanikan baru diproduksi.

Dan setiap lima tahun semua orang bertanya:

"Mengapa tidak ada yang berubah?"


---

Pertanyaan itu muncul dengan keteraturan yang hampir puitis.


---

KONSULTAN REALITAS

Di gedung-gedung tinggi, terdapat profesi baru:

konsultan realitas.

Mereka tidak menyebut diri demikian.

Mereka memiliki nama yang lebih elegan.

Konsultan strategi.

Konsultan komunikasi.

Konsultan reputasi.

Konsultan transformasi.

Konsultan persepsi.

Namun fungsi dasarnya sama.


---

Mereka membantu institusi hidup berdampingan dengan kenyataan tanpa harus terlalu banyak menyentuhnya.


---

Jika publik marah, mereka tidak bertanya:

"Apa yang salah?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana ini terlihat?"

Jika kepercayaan turun, mereka tidak bertanya:

"Mengapa?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana narasinya?"

Jika masyarakat kehilangan harapan, mereka tidak bertanya:

"Apa yang harus diubah?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana pesannya?"


---

Dan perlahan-lahan, seluruh dunia menjadi ruang cermin.

Masalah merefleksikan citra.

Citra merefleksikan narasi.

Narasi merefleksikan survei.

Survei merefleksikan persepsi.

Persepsi merefleksikan media.

Media merefleksikan institusi.

Institusi merefleksikan laporan.

Laporan merefleksikan indikator.

Dan indikator merefleksikan keputusan lama.


---

Di tengah semua pantulan itu,

kenyataan berdiri di luar gedung,

mengetuk pintu.


---

Tetapi tak seorang pun mendengarnya.

Karena di dalam,

rapat tentang persepsi kenyataan

masih berlangsung.

•••

MUSEUM MASA KINI

Pada abad ini, terjadi sesuatu yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah peradaban memutuskan untuk menjadi arsip bagi dirinya sendiri.

Segala sesuatu dicatat. Segala sesuatu direkam. Segala sesuatu disimpan. Segala sesuatu didokumentasikan.

Makan siang. Pendapat. Perjalanan. Kesedihan. Kemarahan. Kegagalan. Kebahagiaan. Semuanya.

Tidak ada generasi sebelumnya yang memiliki begitu banyak bukti keberadaan dirinya. Dan mungkin tidak ada generasi sebelumnya yang begitu sering mempertanyakan apakah keberadaannya sungguh berarti.

Maka lahirlah Museum Masa Kini. Sebuah museum raksasa yang tidak berada di satu gedung. Ia berada di mana-mana.

Di server. Di cloud. Di platform. Di basis data. Di arsip digital. Di pusat data yang dingin dan sangat jauh dari manusia.

Setiap hari, jutaan orang menjadi kurator bagi pameran kehidupan mereka sendiri. Mereka memilih gambar. Memilih sudut. Memilih kata. Memilih ekspresi. Memilih versi diri. Lalu memajangnya.

Bukan karena mereka narsis. Penjelasan itu terlalu malas. Mereka melakukannya karena mulai takut bahwa sesuatu yang tidak direkam mungkin tidak pernah sungguh terjadi. Dan ketakutan itu adalah salah satu tragedi metafisik terbesar zaman ini.

Dahulu manusia mengalami sesuatu. Kini mereka sering mengalami pengalaman sambil memikirkan dokumentasinya.

Seorang ayah melihat anaknya tertawa. Dan sebagian pikirannya berkata: "Ini momen yang indah."

Bagian lain berkata: "Ini harus direkam."

Seorang perempuan melihat matahari terbenam. Dan sebagian pikirannya berkata: "Betapa indahnya."

Bagian lain berkata: "Bagaimana ini akan terlihat?"

Sedikit demi sedikit, kehidupan memperoleh penonton internal. Dan penonton itu tidak pernah pergi.

•••

PABRIK IDENTITAS

Di pinggir Museum Masa Kini berdiri bangunan lain. Jauh lebih besar. Jauh lebih sibuk. Namanya: Pabrik Identitas.

Di sana, jutaan manusia datang untuk menemukan diri mereka sendiri. Dan jutaan manusia pulang membawa kategori.

Kategori jauh lebih praktis. Kategori dapat diukur, diklasifikasikan, ditargetkan, dijual, dianalisis.

Diri yang sesungguhnya terlalu rumit, terlalu kontradiktif, terlalu hidup.

Maka pabrik itu menawarkan kemudahan. Pilihlah identitas, pilihlah kubu, pilihlah label, pilihlah komunitas, pilihlah algoritme, pilihlah musuh, pilihlah narasi.

Dan masyarakat modern, yang kelelahan oleh kompleksitas, sering menerimanya dengan rasa syukur. Karena menjadi manusia itu sulit. Menjadi kategori jauh lebih mudah.

Foucault mungkin akan berjalan-jalan di antara mesin-mesin itu dengan senyum yang suram. Karena ia tahu: institusi paling efektif bukan yang memaksa orang menjadi sesuatu, melainkan yang membuat orang ingin menjadi sesuatu yang telah disiapkan.

Penjara terbaik adalah penjara yang disebut kebebasan memilih. Pilih selmu sendiri. Hias selmu sendiri. Banggalah pada selmu sendiri. Pertahankan selmu sendiri. Serang sel lain. Lalu sebut semua itu ekspresi individualitas.

Dan sistem berjalan tanpa penjaga.

•••

EKONOMI PERHATIAN DAN KEMATIAN KONTEMPLASI

Pada masa lalu, ada profesi yang disebut pertapa. Ada filsuf. Ada penyair. Ada pemikir. Ada orang-orang yang dianggap aneh karena menghabiskan waktu lama untuk memikirkan satu hal.

Kini perilaku itu hampir tampak patologis karena ekonomi modern tidak menghasilkan keuntungan dari perhatian yang mendalam.

Ia menghasilkan keuntungan dari perhatian yang terpecah.

Setiap kali seseorang gagal berkonsentrasi, seseorang memperoleh uang. Setiap kali seseorang teralihkan, seseorang memperoleh uang. Setiap kali seseorang tidak sempat berpikir, seseorang memperoleh uang. Maka lahirlah industri terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia: industri gangguan.

Industri ini tidak menjual produk. Ia menjual interupsi. Ia tidak menghasilkan benda. Ia menghasilkan dorongan. Ia tidak memerlukan kebohongan. Ia hanya memerlukan ketergesaan. Karena kebenaran dan kebohongan sama-sama membutuhkan waktu untuk diperiksa sedangkan ketergesaan membuat keduanya tampak identik.

Dan ketika semuanya tampak identik, institusi besar dapat bernapas lega.

•••

PARLEMEN BAYANGAN

Ada sebuah parlemen yang tidak pernah dipilih rakyat, tidak pernah disumpah, tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Namun keputusan-keputusannya mengalir ke seluruh masyarakat.

Anggotanya bukan politisi. Mereka adalah: algoritme.

Mereka memutuskan apa yang layak dilihat, apa yang layak didengar, apa yang layak diperhatikan, apa yang layak dilupakan.

Mereka tidak memiliki ideologi.

Itulah yang membuat mereka berbahaya. Karena ideologi setidaknya dapat diperdebatkan.

Algoritme hanya memiliki optimasi. Dan optimasi tidak pernah bertanya: "Apakah ini baik?"

Ia hanya bertanya: "Apakah ini berhasil?"

Pertanyaan itu tampak tidak berbahaya. Namun seluruh sejarah modern dapat dibaca sebagai perluasan wilayah di mana pertanyaan moral digantikan oleh pertanyaan teknis.

Bukan:
"Apakah kita seharusnya melakukan ini?"
Melainkan:
"Bisakah kita melakukan ini?"

Bukan:
"Apakah ini adil?"
Melainkan:
"Apakah ini efisien?"

Bukan:
"Apakah ini manusiawi?"
Melainkan:
"Apakah ini skalabel?"

Dan setiap kali pertanyaan kedua menggantikan pertanyaan pertama, sesuatu yang kecil hilang.

Bukan revolusi. Bukan demokrasi. Bukan konstitusi.

Sesuatu yang lebih sunyi, lebih sulit diukur, lebih sulit dimasukkan ke laporan. Yaitu kemampuan manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Mengapa?"

Karena seluruh mesin peradaban modern dapat menjawab hampir semua pertanyaan teknis. Namun masih tampak gugup ketika berhadapan dengan pertanyaan yang paling tua.

Pertanyaan yang tidak menghasilkan data, idak menghasilkan pertumbuhan, tidak menghasilkan keterlibatan, tidak menghasilkan keuntungan.

Pertanyaan yang hanya menghasilkan kesadaran.

Dan mungkin, di situlah seluruh bangunan mulai bergetar.

•••

EPIK TATA BAHASA IMPERIUM

Pada mulanya bukan firman. Pada mulanya bukan pedang. Pada mulanya bukan uang. Pada mulanya adalah formulir. Dan formulir itu bersama negara. Dan formulir itu adalah negara.

Sebelum jalan dibangun, sebelum bendungan didirikan, sebelum tentara berbaris, sebelum bendera dikibarkan, seseorang terlebih dahulu menciptakan kolom, nama, alamat, jenis, kategori, status, kode, nomor, lampiran, tanda tangan.

Dan sejak saat itu, manusia mulai hidup di dalam tata bahasa administrasi.

Mula-mula mereka hanya ingin mengatur dunia. Lalu mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih menguntungkan: dunia yang telah diatur lebih mudah dipercayai daripada dunia yang nyata.

Maka lahirlah Imperium Bahasa. Tidak memiliki ibu kota, idak memiliki perbatasan, tidak memiliki raja tunggal. Namun menguasai hampir segala sesuatu.

Ia hidup di kementerian, di universitas, di ruang redaksi, di lembaga survei, di rapat direksi, di laporan tahunan, di buku pelajaran, di layar televisi, di algoritme, di kepala kita.

Imperium ini tidak memungut pajak. Ia memungut makna.

Setiap pagi, jutaan manusia bangun. Mereka mengira sedang menggunakan bahasa. Padahal bahasa juga sedang menggunakan mereka.

Di pusat imperium berdiri Kementerian Nomina. Lembaga tertua di negeri itu. Tugasnya memberi nama kepada segala sesuatu.

Dan seperti semua pekerjaan yang tampak sederhana, ia mengandung kekuasaan yang tak terhingga.

Sebab sesuatu yang tidak memiliki nama sulit diatur. Akan tetapi, sesuatu yang telah memiliki nama mulai memiliki nasib.

Seorang anak disebut berbakat. Seorang anak disebut bermasalah. Seorang warga disebut produktif. Seorang warga disebut beban. Suatu daerah disebut tertinggal. Suatu daerah disebut strategis.

Lalu seluruh birokrasi bergerak. Dana bergerak. Perhatian bergerak. Media bergerak. Harapan bergerak. Ketakutan bergerak. Karena sebuah kata baru saja ditempelkan pada sebuah kehidupan.

Di sebelahnya berdiri Direktorat Verba Nasional. Mereka bertugas menentukan siapa melakukan apa kepada siapa. Atau lebih tepatnya: siapa yang boleh tampak melakukannya.

Ketika seorang warga mencuri, kalimat aktif digunakan.

"Pria itu mencuri."

Ketika sebuah korporasi menghancurkan sungai, kalimat pasif muncul secara ajaib.

"Terjadi pencemaran lingkungan."


Ketika seorang anak melempar batu:
"Pelaku melakukan tindakan."

Ketika kebijakan menghancurkan ribuan kehidupan:
"Terdapat dampak yang tidak diharapkan."

Verba bergerak. Tanggung jawab menghilang. Dan tata bahasa bekerja lembur.

Di lantai berikutnya terdapat Departemen Adjektiva. Tempat para ahli mengelola kesan.

Tidak ada proyek. Hanya proyek strategis. Tidak ada kebijakan. Hanya kebijakan progresif. Tidak ada pemotongan. Hanya rasionalisasi. Tidak ada kegagalan. Hanya tantangan. Tidak ada krisis. Hanya dinamika.

Di ruangan itu realitas dipoles hingga mengilap. Dan setiap kali dunia mulai tampak buruk, adjektiva baru ditemukan.

Ketika kemiskinan tidak berkurang:
"Transformasi sedang berlangsung."

Ketika pendidikan memburuk:
"Terdapat proses adaptasi."

Ketika rumah sakit kolaps:
"Sedang dilakukan optimalisasi layanan."

Adjektiva adalah kosmetik metafisik. Ia tidak menyembuhkan luka. Ia membuat luka tampak profesional.

Di luar kementerian, Universitas Imperium berdiri megah. Di sana mahasiswa belajar bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Lalu menghabiskan empat tahun untuk mempelajari cara bahasa menyembunyikan komunikasi.

Mereka menulis tesis. Mereka membuat kerangka teoretis. Mereka mengutip otoritas. Mereka menyusun bibliografi. Mereka memperoleh gelar.

Dan setelah lulus, mereka bergabung dengan institusi yang sama yang mereka kritik dalam skripsi.

Itulah siklus pengetahuan modern. Kritik diproduksi, diterbitkan, diseminarkan, diarsipkan. Lalu dinetralkan.

Sementara itu, media nasional bekerja siang malam.

Mereka memiliki satu tugas utama: mengubah peristiwa menjadi kalimat sebelum masyarakat sempat mengalaminya sendiri. Karena siapa yang lebih dulu memberi nama, sering kali menang.

Banjir terjadi.

Dalam satu jam ia telah menjadi narasi. Dalam tiga jam ia menjadi debat. Dalam enam jam ia menjadi konten. Dalam dua belas jam ia menjadi statistik. Dalam dua puluh empat jam ia menjadi arsip.

Dan setelah seminggu, ia menjadi masa lalu. Meski airnya belum surut.

Media memahami rahasia tua bahasa: yang mengendalikan urutan cerita tidak perlu mengendalikan kenyataan. Karena manusia hidup bukan hanya dari peristiwa. Mereka hidup dari penafsiran atas peristiwa.

Maka Imperium membangun Lembaga Survei Semantik. Setiap bulan mereka mengukur: kepercayaan, kepuasan, optimisme, persepsi, sentimen.

Mereka mengukur semuanya. Kecuali pertanyaan sederhana: mengapa orang hidup seperti ini?

Pertanyaan itu dianggap terlalu normatif, terlalu politis, terlalu manusiawi. Maka ia dikeluarkan dari metodologi.

Dan dunia menjadi semakin presisi, semakin terukur, semakin terdokumentasi, semakin tidak dipahami.

Pada tahun-tahun berikutnya, Imperium tumbuh besar. Ia tidak lagi membutuhkan polisi bahasa. Tidak lagi membutuhkan sensor. Tidak lagi membutuhkan pembakaran buku.

Karena warga negara telah belajar menyensor dirinya sendiri. Mereka belajar kata-kata yang aman. Mereka belajar kalimat yang aman. Mereka belajar pertanyaan yang aman. Mereka belajar kemarahan yang aman.

Dan kebebasan berbicara berkembang pesat. Semua orang boleh berbicara asalkan menggunakan tata bahasa yang tepat. Asalkan kemarahan mereka tetap berada dalam format yang dikenali. Asalkan kritik mereka tidak mengganggu struktur kalimat utama. Asalkan seluruh percakapan tetap berlangsung di dalam kamus resmi.

Maka Imperium tersenyum. Karena kemenangan tertingginya bukan membuat manusia diam, melainkan membuat manusia berbicara menggunakan bahasa yang telah disiapkan.

Lalu suatu hari, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Seorang perempuan tua berdiri di sebuah rapat warga.

Para pakar telah berbicara. Para pejabat telah menjelaskan. Para akademisi telah mempresentasikan. Para jurnalis telah meliput. Para konsultan telah mengelola narasi.

Semua istilah sudah digunakan. Semua kategori sudah dipasang. Semua indikator sudah ditampilkan.

Perempuan itu mendengarkan dengan sabar.

Lalu berkata: "Aku tidak mengerti sebagian besar kata-kata kalian."

Ruangan tersenyum. Mereka mengira ia tidak terdidik.

Kemudian ia melanjutkan: "Namun aku tahu kapan kalian menyembunyikan sesuatu."

Dan untuk pertama kalinya, seluruh Imperium Bahasa menjadi gugup. Karena di luar semua teori linguistik, di luar semua semiotika, di luar semua diskursus, di luar semua strategi komunikasi, di luar semua manajemen persepsi, terdapat sesuatu yang selalu mengganggu kekuasaan.

Bukan kebenaran. Kebenaran terlalu abstrak. Bukan fakta. Fakta masih dapat diperdebatkan. Melainkan pengalaman. Pengalaman seorang manusia yang membandingkan kata dengan dunia.

Sebab selama ribuan tahun, semua imperium memiliki musuh yang sama.

Saat ketika seseorang mendengar pidato, membaca laporan, menonton berita, mengikuti survei, mempelajari istilah, memahami kategorinya, lalu perlahan mengangkat kepala dan berkata:

"Tidak."

"Benda itu tidak sama dengan namanya."

"Kalimat itu tidak sama dengan hidupku."

"Penjelasan itu tidak sama dengan kenyataan."

Dan pada saat itulah, seluruh tata bahasa imperium, yang dibangun bertahun-tahun, yang dipoles oleh pakar, yang dijaga oleh institusi, yang disebarkan oleh media, yang diajarkan oleh sekolah, yang diulang oleh birokrasi, mulai kehilangan sihirnya.

Karena setiap kekuasaan linguistik, betapapun canggihnya, pada akhirnya bergantung pada satu harapan yang rapuh: bahwa manusia akan terus mencintai kata-kata lebih daripada dunia yang mereka tunjuk.

Dan sejarah, berulang kali, adalah catatan tentang apa yang terjadi ketika harapan itu gagal.

•••

SEJARAH ALAMIAH KATA "NORMAL"

Di antara semua kata yang pernah ditemukan manusia, tidak ada yang lebih sukses daripada kata normal.

Bukan kata "Tuhan". Bukan kata "bangsa". Bukan kata "revolusi". Bukan kata "kemerdekaan". Semua kata itu masih memiliki lawan, masih memiliki penentang, masih memiliki pengkritik.

Akan tetapi "normal" berhasil melakukan sesuatu yang lebih hebat: ia berhasil menjadi latar belakang. Dan segala sesuatu yang menjadi latar belakang akhirnya memperoleh kekuasaan.

Pada mulanya, normal hanyalah kata sederhana. Ia tidak memiliki tentara, tidak memiliki parlemen, tidak memiliki polisi, tidak memiliki penjara.

Ia hanya memiliki satu kemampuan kecil: membuat sesuatu tampak wajar. Lalu institusi menemukannya. Dan sejak hari itu karier kata tersebut melejit.

Rumah terlalu mahal?
Normal.

Jam kerja terlalu panjang?
Normal.

Kota terlalu sesak?
Normal.

Orang terlalu lelah?
Normal.

Pendidikan terlalu mahal?
Normal.

Kesehatan menjadi komoditas?
Normal.

Kesepian menjadi epidemi?
Normal.

Normal bekerja tanpa suara.

Ia tidak membela. Ia tidak menyerang. Ia tidak berargumentasi. Ia hanya duduk di sudut kalimat dan menghapus pertanyaan. Karena pertanyaan yang paling berbahaya selalu dimulai dengan: "Mengapa?"

Dan kata normal adalah mesin penghancur "mengapa".

Mengapa kita hidup seperti ini?
Karena memang normal.

Mengapa semuanya semakin sulit?
Karena memang normal.

Mengapa ketidakadilan terus terjadi?
Karena dunia memang seperti itu.

Perhatikan baik-baik. Tidak ada jawaban. Hanya penghentian pertanyaan.

Maka lahirlah Republik Normalitas. Sebuah negeri yang sangat stabil, sangat tenang, sangat rasional, dan sangat sakit.

Di republik itu, anak-anak belajar sejak kecil. Mereka belajar bahwa kompetisi itu normal. Mereka belajar bahwa kecemasan itu normal. Mereka belajar bahwa kelelahan itu normal. Mereka belajar bahwa keterasingan itu normal. Mereka belajar bahwa kesepian itu normal. Mereka belajar bahwa ketidakamanan itu normal.

Dan setelah dua puluh tahun pendidikan, tak seorang pun ingat siapa yang memutuskan semua itu. Karena normalitas yang sempurna selalu tampak tanpa pencipta.

Seperti cuaca. Seperti gravitasi. Seperti alam. Padahal sebagian besar hal yang disebut normal lebih muda daripada kakek-nenek kita.

Jam kerja modern. Pasar modern. Iklan modern. Media massa. Birokrasi. Algoritme. Korporasi global. Semuanya memiliki tanggal lahir.

Namun setelah cukup lama, mereka mulai menyamar sebagai takdir. Dan normalitas adalah kostum terbaik yang pernah ditemukan sejarah.

Di pusat republik berdiri Akademi Ilmu Kewajaran. Di sana para ahli bekerja siang malam. Mereka meneliti fenomena sosial, menganalisis data, membangun model, menyusun indikator.

Lalu secara perlahan, hampir tanpa sadar, mereka mulai menganggap objek penelitian mereka sebagai kondisi alamiah.

Mereka tidak bertanya: "Mengapa sistem ini ada?"
Mereka bertanya: "Bagaimana sistem ini bekerja?"

Mereka tidak bertanya: "Haruskah ini dipertahankan?"
Mereka bertanya: "Bagaimana mengoptimalkannya?"

Dan dari pergeseran kecil itu, lahirlah ribuan jurnal, puluhan ribu seminar, ratusan ribu laporan.

Semuanya sangat ilmiah, sangat objektif, sangat profesional. Dan hampir semuanya menerima dunia sebagai premis. Bukan sebagai pertanyaan. Itulah sebabnya institusi besar mencintai profesionalisme.

Profesionalisme yang sejati jarang berkata: "Ini salah."

Ia lebih suka berkata: "Ini tidak efisien."

Profesionalisme yang sejati jarang berkata: "Ini tidak adil."

Ia lebih suka berkata: "Ini tidak optimal."

Karena keadilan adalah pertanyaan moral. Sedangkan optimalisasi adalah pertanyaan teknis. Dan institusi jauh lebih nyaman dengan masalah teknis.

Masalah teknis tidak memberontak. Masalah teknis tidak menuntut. Masalah teknis tidak memiliki sejarah. Masalah teknis hanya membutuhkan konsultan. Maka konsultan datang.

Mereka datang dengan presentasi, dengan diagram, dengan matriks, dengan panah-panah berwarna. Mereka menjelaskan dunia seolah dunia adalah mesin.

Lalu seseorang dari belakang ruangan bertanya: "Bagaimana dengan manusia?"

Ruangan menjadi hening.

Karena manusia selalu menjadi gangguan bagi model yang elegan.


Manusia tidak konsisten, tidak rasional, tidak efisien, tidak dapat diprediksi. Dengan kata lain: manusia tidak normal.

Dan mungkin di situlah masalah sebenarnya dimulai. Karena seluruh peradaban modern diam-diam bermimpi tentang dunia yang lebih mudah dikelola.

Dunia yang lebih terukur, lebih stabil, lebih dapat diprediksi, lebih normal. Namun dunia seperti itu memerlukan sesuatu yang mahal.

Ia memerlukan manusia yang sedikit demi sedikit berhenti menjadi manusia, berhenti bertanya, berhenti heran, berhenti curiga, berhenti membayangkan alternatif, berhenti menganggap hidup dapat diatur secara berbeda.

Maka kata normal terus tumbuh. Ia masuk ke sekolah, masuk ke kantor, masuk ke televisi, masuk ke algoritme, masuk ke percakapan sehari-hari, masuk ke kepala kita.

Dan semakin besar kekuasaannya, semakin jarang ia disebut. Karena kekuasaan tertinggi selalu tampak seperti akal sehat.

Namun sejarah memiliki kebiasaan buruk. Sesekali muncul seseorang yang gagal menjadi normal. Seorang penyair. Seorang filsuf. Seorang buruh yang terlalu banyak berpikir. Seorang guru yang terlalu banyak bertanya. Seorang anak yang belum belajar takut. Mereka memandang dunia yang dianggap wajar oleh semua orang.

Lalu mereka bertanya: "Mengapa?"

Mengapa kita bekerja seperti ini?
Mengapa kita hidup seperti ini?
Mengapa kita berbicara seperti ini?
Mengapa kita menerima semua ini?

Dan seluruh Republik Normalitas langsung merasa tidak nyaman.

Karena tidak ada institusi yang benar-benar takut pada kemarahan. Kemarahan dapat dikelola.

Tidak ada institusi yang benar-benar takut pada kritik. Kritik dapat diserap.

Yang mereka takuti adalah sesuatu yang lebih kecil, lebih tenang, lebih filosofis, lebih berbahaya.

Keheranan. Karena keheranan adalah saat normalitas kehilangan perlindungannya.

Saat seseorang melihat kebiasaan seolah-olah untuk pertama kali. Saat seseorang melihat dunia bukan sebagai fakta, melainkan sebagai keputusan-keputusan lama yang telah dilupakan.

Dan pada saat itu, kata normal, yang selama ini tampak sebesar gunung, tiba-tiba terlihat seperti apa adanya: hanya sebuah kata yang terlalu lama tidak diperiksa.

•••

BIOGRAFI RESMI KATA "KENYATAAN"

Pada mulanya, kenyataan adalah sesuatu yang sederhana. Ia adalah hujan yang membasahi tubuh. Ia adalah batu yang melukai kaki. Ia adalah perut yang lapar. Ia adalah rumah yang roboh. Ia adalah suara tangisan yang tidak memerlukan interpretasi.

Kenyataan tidak membutuhkan juru bicara, tidak membutuhkan panel diskusi, tidak membutuhkan moderator, tidak membutuhkan lembaga survei, tidak membutuhkan analis, tidak membutuhkan pakar komunikasi.

Ia hanya ada. Lalu institusi menemukannya. Dan sejak saat itu, hidup kenyataan menjadi jauh lebih rumit.

Mula-mula mereka ingin menjelaskannya. Itu masih dapat dimengerti. Manusia memang makhluk yang suka menjelaskan.

Namun lama-kelamaan, mereka tidak lagi puas menjelaskan kenyataan. Mereka ingin mewakilinya. Kemudian mereka ingin mengelolanya. Kemudian mereka ingin mengukurnya. Kemudian mereka ingin mengatur cara orang memahaminya. Dan akhirnya, mereka mulai berbicara atas namanya.

Di sinilah tragedi dimulai. Karena kenyataan, seperti banyak korban penculikan lainnya, perlahan-lahan kehilangan hak untuk berbicara.

Sebagai gantinya, muncul para ahli kenyataan. Mereka sangat terpelajar. Mereka memiliki gelar. Mereka memiliki sertifikat. Mereka memiliki metodologi. Mereka memiliki konferensi tahunan. Dan mereka menjelaskan kepada masyarakat apa yang sesungguhnya terjadi. Kadang-kadang kepada masyarakat yang sedang mengalaminya.

Seorang petani berkata: "Panen saya gagal."
Seorang ahli menjawab: "Data menunjukkan tren produktivitas jangka panjang yang positif."

Seorang buruh berkata: "Saya tidak mampu membeli rumah."
Seorang analis menjawab: "Secara agregat terdapat peningkatan akses kepemilikan aset."

Seorang pasien berkata: "Saya tidak mendapat perawatan."
Seorang konsultan menjawab: "Terdapat tantangan distribusi layanan."

Dan setiap kali itu terjadi, kenyataan kehilangan sebagian kecil dirinya. Karena kini ia harus melewati penerjemah.

•••

PENGADILAN BESAR PENANDA

Di pusat Imperium Bahasa terdapat sebuah pengadilan. Bukan pengadilan manusia, melainkan pengadilan kata.

Di sana setiap istilah diadili berdasarkan kegunaannya bagi ketertiban.

Kata "eksploitasi" dianggap terlalu agresif. Diganti dengan "hubungan ekonomi".

Kata "penindasan" dianggap terlalu emosional. Diganti dengan "mekanisme sosial".

Kata "perampasan" dianggap terlalu normatif. Diganti dengan "restrukturisasi kepemilikan".

Kata "kebohongan" dianggap terlalu menghakimi. Diganti dengan "perbedaan informasi".

Dan setiap kali sebuah kata kehilangan giginya, institusi memperoleh tidur yang lebih nyenyak.

Karena bahasa yang tajam membuat kekuasaan gugup. Bahasa yang tumpul membuat rapat berjalan lancar.

Maka ribuan kata dimasukkan ke program rehabilitasi. Mereka diajarkan sopan santun. Mereka diajarkan netralitas. Mereka diajarkan profesionalisme. Mereka diajarkan cara hidup tanpa melukai siapa pun lagi. Termasuk mereka yang seharusnya dilukai.

•••

KATEDRAL OBJEKTIVITAS

Di jantung ibu kota berdiri bangunan paling suci dalam seluruh peradaban modern. Namanya: Katedral Objektivitas.

Di sana para imam statistik membakar dupa metodologi. Mereka mengenakan jubah data. Mereka mengutip margin kesalahan. Mereka menyanyikan liturgi regresi. Mereka mengangkat grafik ke udara. Dan seluruh jemaat berlutut.

Bukan karena grafik itu salah. Sering kali justru benar. Masalahnya adalah sesuatu yang lain.

Grafik menjawab pertanyaan yang telah dipilih sebelumnya. Dan siapa yang memilih pertanyaan sering kali lebih berkuasa daripada siapa yang memberikan jawaban.

Namun itu jarang dibahas. Karena pertanyaan tentang pertanyaan selalu membuat institusi gelisah.

Lebih nyaman membahas hasil. Lebih nyaman membahas data. Lebih nyaman membahas angka. Daripada membahas mengapa angka tertentu dianggap penting sementara yang lain diabaikan.

Mengapa pertumbuhan dihitung, tetapi keterasingan tidak. Mengapa produktivitas dihitung, tetapi kelelahan tidak. Mengapa keuntungan dihitung, tetapi makna hidup tidak. Karena beberapa pertanyaan tidak cocok dimasukkan ke spreadsheet. Dan apa yang tidak cocok dimasukkan ke spreadsheet sering kali kehilangan status ontologisnya. Seolah-olah tidak ada.

•••

PEMBERONTAKAN KATA BENDA

Sejarah bahasa, seperti sejarah manusia, tidak pernah sepenuhnya patuh.

Suatu hari, kata-kata mulai memberontak.

"Kelaparan" menolak disebut "ketidakamanan pangan".

"Kebohongan" menolak disebut "misinformasi yang tidak disengaja".

"Perampokan" menolak disebut "optimalisasi kepemilikan".

"Perang" menolak disebut "operasi stabilisasi".

"Pengangguran" menolak disebut "masa transisi tenaga kerja".

Kata-kata itu lelah. Mereka lelah menjadi kosmetik. Mereka lelah menjadi tirai. Mereka lelah menjadi peredam kejut bagi sistem yang tidak ingin melihat dirinya sendiri.

Maka mereka mulai kembali kepada benda-benda yang mereka tunjuk.

Dan setiap kali itu terjadi, institusi menjadi gugup. Karena institusi tidak pernah benar-benar takut kepada kata-kata. Mereka takut kepada hubungan antara kata dan dunia. Mereka takut pada saat penanda kembali menemukan petandanya. Pada saat istilah kembali menemukan tubuh. Pada saat statistik kembali menemukan manusia. Pada saat laporan kembali menemukan kehidupan. Pada saat bahasa berhenti menjadi kabut. Dan kembali menjadi jendela.

Sebab setiap kekuasaan besar pada akhirnya bergantung pada satu operasi linguistik yang sederhana: menjaga jarak antara kata dan benda.

Dan setiap pembebasan besar selalu dimulai dengan tindakan yang sama sederhananya: menyatukan keduanya kembali.

Membuat "lapar" kembali berarti lapar. Membuat "takut" kembali berarti takut. Membuat "bohong" kembali berarti bohong. Membuat "hidup" kembali berarti hidup.

Dan pada saat itu, seluruh imperium semiotik, seluruh katedral objektivitas, seluruh birokrasi penamaan, seluruh industri narasi, untuk sesaat, kehilangan kemampuan berbicara.

Karena tidak ada jargon yang pernah benar-benar mampu bertahan lama di hadapan benda yang kembali dipanggil dengan namanya sendiri.

•••

TRAKTATUS UNTUK PARA JURU BICARA


Apa yang dapat dikatakan, akan dikatakan oleh juru bicara. Apa yang tidak dapat dikatakan, akan dimasukkan ke lampiran. Apa yang terlalu berbahaya untuk dimasukkan ke lampiran, akan disebut kompleks. Inilah seluruh filsafat komunikasi publik.

Di negeri ini, setiap institusi memiliki mulut. Tidak semuanya memiliki telinga.

Kementerian memiliki mulut. Korporasi memiliki mulut. Universitas memiliki mulut. Media memiliki mulut. Partai memiliki mulut. Lembaga survei memiliki mulut. Platform digital memiliki mulut. Dan semuanya berbicara.

Mereka berbicara tentang transparansi. Mereka berbicara tentang akuntabilitas. Mereka berbicara tentang partisipasi. Mereka berbicara tentang demokrasi. Mereka berbicara tentang keberlanjutan. Mereka berbicara tentang inklusivitas. Mereka berbicara tentang masa depan. Mereka berbicara begitu banyak hingga dunia mulai terdengar seperti gema dari dirinya sendiri.

Suatu hari seorang filsuf tua berkata:
"Barangkali masalah kita bukan kekurangan informasi."

Tak seorang pun mendengarnya karena terlalu banyak informasi.

Dan begitulah kemenangan pertama institusi modern. Bukan menyembunyikan suara, melainkan menenggelamkannya.

Foucault pernah curiga bahwa penjara bukan hanya bangunan, rumah sakit bukan hanya bangunan, sekolah bukan hanya bangunan, barak bukan hanya bangunan. Mereka adalah mesin penghasil subjek. Mesin yang mengubah manusia menjadi sesuatu yang dapat dibaca, diklasifikasi, diprediksi, diintervensi, diperbaiki, dioptimalisasi.

Negeri ini mendengarkan gagasan itu. Lalu berkata: "Bagus sekali."

Kemudian mereka memperluasnya.

Sekarang bukan hanya sekolah. Seluruh internet menjadi sekolah. Bukan hanya rumah sakit. Seluruh kehidupan menjadi diagnosis. Bukan hanya penjara. Seluruh masyarakat menjadi sistem evaluasi berkelanjutan.

Setiap klik menjadi pengakuan. Setiap unggahan menjadi kesaksian. Setiap pencarian menjadi pengungkapan diri. Dan manusia modern, tanpa dipaksa, berjalan ke ruang interogasinya sendiri. Lalu mengunggah hasilnya.

Kita hidup di zaman yang berhasil mengubah pengawasan menjadi bentuk ekspresi diri. Itulah jenis kemenangan yang membuat diktator-diktator lama terlihat amatir.

Mereka membutuhkan polisi rahasia. Kita menyediakan datanya sendiri. Mereka membutuhkan informan. Kita menjadi informan bagi diri kita sendiri. Mereka membutuhkan arsip. Kita membangun arsip itu secara sukarela. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit.

Barthes mungkin akan berdiri di tengah pusat data raksasa dan tertawa getir karena mitos modern tidak lagi bekerja melalui cerita rakyat. Ia bekerja melalui antarmuka.

Ia tidak berkata: "Percayalah."
Ia berkata: "Setujui syarat dan ketentuan."

Ia tidak berkata: "Inilah ideologi."
Ia berkata: "Inilah pengalaman pengguna."

Ia tidak berkata: "Inilah bentuk kehidupan yang kami inginkan."
Ia berkata: "Kami meningkatkan kenyamanan Anda."

Dan seperti semua mitos yang berhasil, ia menyembunyikan sejarahnya sendiri.

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan desain ini."

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan metrik ini."

Tak seorang pun berkata: "Seorang manusia memutuskan apa yang akan diperkuat dan apa yang akan ditenggelamkan."

Semuanya tampak alami, semuanya tampak teknis, semuanya tampak netral. Padahal netralitas sering kali hanyalah politik yang telah berhasil mencuci mukanya.

Di ruang redaksi nasional, para editor bekerja keras. Mereka tidak perlu menerima telepon dari pemerintah. Mereka tidak perlu menerima ancaman. Mereka tidak perlu disensor. Mereka hanya perlu memahami aturan permainan.

Dan aturan permainan itu sederhana: Jangan bohong.

Lebih baik dari itu. Pilih kebenaran yang tidak berbahaya. Liput skandal, jangan liput struktur. Liput konflik, jangan liput distribusi kekuasaan. Liput gejala, jangan liput mesin yang memproduksi gejala. Liput ledakan, jangan liput pabrik bahan peledak. Karena gejala memiliki wajah, struktur memiliki alamat. Dan alamat sering kali terhubung dengan pemasang iklan, atau pemegang saham, atau mitra strategis, atau anggota dewan, atau teman kuliah, atau masa depan karier seseorang.

Maka media menjadi sangat berani. Sangat berani terhadap individu dan sangat sopan terhadap sistem. Mereka dapat menghancurkan seorang menteri, tetapi tidak menyentuh logika yang memproduksi menteri itu. Mereka dapat mengecam seorang koruptor, tetapi tidak menyentuh mekanisme yang membuat korupsi menjadi fungsi normal. Mereka dapat memburu seekor tikus ambil melindungi laboratorium. Lalu mereka menyebutnya objektivitas.

Wittgenstein mungkin akan masuk ke studio televisi suatu malam. Ia akan duduk diam. Mendengarkan panel diskusi, mendengarkan pakar, mendengarkan analis, mendengarkan moderator, mendengarkan politisi. Dan setelah dua jam, ia mungkin hanya bertanya satu hal: "Dalam permainan bahasa apa kalian sedang bermain?"

Karena kata-kata yang sama terus beredar dari mulut ke mulut. Reformasi. Pertumbuhan. Keamanan. Stabilitas. Kemajuan. Inovasi. Investasi.

Tak seorang pun berhenti cukup lama untuk bertanya: Apa yang sedang dilakukan kata-kata ini?

Bukan apa artinya, melainkan apa fungsinya? Siapa yang diuntungkan ketika kata itu diucapkan? Siapa yang menghilang ketika kata itu diucapkan? Siapa yang memperoleh legitimasi? Siapa yang kehilangan suara?

Akan tetapi, pertanyaan seperti itu buruk untuk televisi. Ia tidak dapat diringkas menjadi tiga puluh detik. Ia tidak menghasilkan keterlibatan tinggi. Ia tidak cocok untuk sponsor. Maka ia dibuang.

Dan masyarakat terus berbicara menggunakan kosakata yang diwariskan institusi. Mereka marah menggunakan kata-kata institusi. Mereka protes menggunakan kata-kata institusi. Mereka mengkritik menggunakan kata-kata institusi. Bahkan pemberontakan mereka telah memperoleh izin tata bahasa.

Inilah tahap tertinggi kekuasaan. Bukan ketika orang mematuhi, melainkan ketika orang tidak dapat membayangkan cara berbicara yang lain.

Ketika seluruh pemikiran dibatasi oleh kamus yang sama, ketika seluruh oposisi berlangsung di dalam arena yang dibangun oleh lawannya, ketika seluruh kritik menggunakan kategori yang disediakan oleh objek kritiknya. Pada titik itu, kekuasaan tidak lagi tampak seperti kekuasaan. Ia tampak seperti kenyataan. Dan itulah karya agung institusi modern.

Bukan membuat kebohongan dipercaya. Itu terlalu sulit. Mereka melakukan sesuatu yang lebih sederhana: Mereka membuat alternatif tampak tidak masuk akal. Mereka membuat kemungkinan lain tampak utopis. Mereka membuat imajinasi tampak naif. Mereka membuat keheranan tampak kekanak-kanakan. Mereka membuat sejarah tampak selesai. Mereka membuat masa kini tampak final. Lalu seluruh masyarakat berjalan di dalam koridor sempit kemungkinan. Sambil menyebutnya kebebasan.

Namun sejarah memiliki satu kebiasaan buruk yang tidak pernah berhasil dipahami institusi.

Kadang-kadang seseorang menolak memainkan permainan bahasa yang tersedia.

Seorang buruh berkata: "Aku tidak peduli istilahnya. Aku tahu aku dieksploitasi."

Seorang petani berkata: "Aku tidak peduli statistiknya. Aku tahu tanahku hilang."

Seorang warga berkata: "Aku tidak peduli narasinya. Aku tahu hidupku memburuk."

Dan tiba-tiba seluruh mesin diskursif mulai mengeluarkan suara aneh. Karena tidak ada teori komunikasi, tidak ada manajemen reputasi, tidak ada strategi media, tidak ada survei persepsi, tidak ada optimasi algoritmik, yang benar-benar siap menghadapi momen sederhana itu: ketika seseorang membandingkan bahasa dengan dunia. Lalu memilih dunia.

Dan pada saat itulah, seluruh katedral tanda, seluruh birokrasi makna, seluruh industri narasi, seluruh republik statistik, seluruh kekaisaran komunikasi, untuk sesaat yang berharga, kehilangan kemampuan terbesarnya: kemampuan membuat manusia lupa bahwa kata-kata bukanlah kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI