MIMPI DICULIK UFO
Jatmiko tidak pernah percaya pada UFO. Baginya, benda terbang tak dikenal hanyalah alibi bagi orang-orang yang tidak dapat membedakan antara pesawat, balon cuaca, dan halusinasi. Ia lulusan fisika Universitas Indonesia, bekerja sebagai analis data di Badan Riset dan Inovasi Nasional, punya istri seorang guru matematika dan dua anak yang juga pandai berhitung. Rumahnya rapi, jadwalnya teratur, hidupnya tidak menyisakan ruang untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus.
Namun, pada suatu malam di bulan Maret, ketika Jakarta sedang diguyur hujan deras dan petir menyambar-nyambar seperti lampu strobo raksasa, Jatmiko bermimpi.
Ia bermimpi terbang. Bukan terbang seperti burung, dengan sayap dan angin di bawah ketiak. Ia terbang seperti benda yang ditarik—kaku, tidak bisa bergerak, hanya bisa melihat awan-awan bergerak cepat ke bawah. Di sekelilingnya, cahaya hijau kebiruan. Di bawahnya, lampu-lampu kota yang semakin kecil. Di atasnya, langit yang semakin gelap hingga tidak ada lagi bintang, hanya hitam pekat seperti beledu yang baru dicelup tinta.
Ia mencoba berteriak, tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya.
Ia mencoba membuka mata lebih lebar, tetapi matanya sudah terbuka. Inilah yang ia lihat: sebuah ruangan bundar, dinding dari logam mengkilap, lantai dari kaca yang tembus cahaya, dan di depannya, tiga sosok.
Mereka tidak seperti gambaran alien di film-film. Tidak berkulit hijau, tidak berkepala besar, tidak bermata hitam tanpa pupil. Mereka justru terlihat sangat manusiawi—tinggi, kurus, berambut putih, berpakaian seperti biarawan dari abad pertengahan, jubah putih panjang dengan tali di pinggang. Hanya satu yang membedakan: mereka tidak memiliki wajah. Bukan wajah yang polos tanpa mata dan hidung, melainkan wajah yang berubah-ubah. Setiap detik, ciri dan sifat mereka berganti: sesaat terlihat seperti Jatmiko sendiri, sesaat seperti ibunya, sesaat seperti dosen fisika dulu, sesaat seperti tokoh kartun anaknya. Wajah mereka adalah cermin dari ingatan Jatmiko.
"Jangan takut," kata salah satu dari mereka. Suaranya tidak keluar dari mulut (karena mereka tidak punya mulut tetap), tetapi dari udara di sekitar Jatmiko, seperti getaran yang langsung masuk ke tulang telinga.
"Kamu tidak sedang bermimpi, tetapi juga tidak sedang sadar. Kamu berada di antara."
Jatmiko ingin bertanya, "Di antara apa?", tetapi suaranya tetap tidak keluar.
"Di antara percaya dan tidak percaya. Di antara sains dan takhayul. Di antara hidup yang kau jalani dan hidup yang kau hindari."
---
Jatmiko bangun dengan keringat dingin. Kepalanya pusing. Jam di samping tempat tidur menunjukkan pukul 02.17. Istrinya, Rini, tidur nyenyak di sampingnya. Ia memeriksa tubuhnya—masih utuh. Tidak ada bekas suntikan, tidak ada luka aneh, tidak ada implan di bawah kulit.
"Bodoh," bisiknya kepada diri sendiri. "Cuma mimpi."
Ia kembali tidur.
Namun mimpi itu terulang. Malam berikutnya, dan malam berikutnya, dan malam berikutnya. Setiap kali dengan detail yang sama: ruangan bundar, dinding logam, tiga sosok tanpa wajah, dan perasaan kaku tidak bisa bergerak. Hanya dialognya yang berubah.
Pada mimpi ketiga, sosok-sosok itu berkata, "Kami telah mengamati kamu selama 28 tahun, Jatmiko. Sejak kamu masih dalam kandungan ibumu. Kamu adalah salah satu dari 1.237 manusia di Bumi yang kami pilih."
"Pilih untuk apa?" pikir Jatmiko.
"Pilih untuk mengingat. Sebagian besar manusia hidup dalam amnesia kosmik. Mereka lupa bahwa mereka pernah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Akan tetapi kamu—kamu punya potensi untuk mengingat. Kami akan membantumu."
Pada mimpi kelima, Jatmiko mulai bisa bicara di dalam mimpinya. "Aku tidak mau mengingat apa pun. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang."
Sosok tanpa wajah itu mendekat. Wajah mereka berubah menjadi wajah Rini, istrinya. "Kenyamanan adalah penjara yang paling indah, tetapi tetaplah penjara."
"Kenapa kalian memilihku? Aku tidak istimewa."
"Kamu istimewa karena kamu tidak percaya pada hal-hal yang tidak bisa dibuktikan. Namun, justru ketidakpercayaanmu itulah yang membuatmu jujur. Kami tidak butuh penganut. Kami butuh saksi."
---
Setelah dua minggu bermimpi terus-menerus, Jatmiko mulai kehilangan fokus. Di kantor, ia salah memasukkan data. Di rumah, ia lupa menjemput anaknya dari sekolah. Rini mulai khawatir.
"Mas, kamu kurang tidur?" tanya Rini sembari menyiapkan kopi.
"Aku tidur cukup, tetapi mimpiku melulu aneh."
"Mimpi apa?"
Jatmiko ragu. Istrinya adalah perempuan rasional. Jika ia bercerita tentang diculik UFO, Rini akan menyuruhnya periksa ke psikolog atau mengurangi konsumsi kafein. Akan tetapi, ia tidak bisa terus memendam sendiri.
"Aku bermimpi diculik makhluk luar angkasa, setiap malam, dua minggu berturut-turut."
Rini berhenti menuang kopi. Ia menatap Jatmiko dengan mata yang tidak biasa—bukan mata skeptis, bukan mata khawatir, melainkan mata yang mengerti.
"Mas," kata Rini pelan. "Aku juga. Sejak dua minggu lalu. Namun aku tidak bilang karena takut Mas mengira aku gila."
Jatmiko terperanjat. "Kamu juga? Ruangan bundar? Tiga sosok tanpa wajah?"
"Ruangan bundar. Tiga sosok. Akan tetapi wajah mereka berubah-ubah menjadi wajah Mas, wajah anak-anak, wajah ayahku yang sudah meninggal. Dan mereka bilang aku dipilih."
"Dua orang dalam satu rumah? Itu tidak mungkin kebetulan."
Mereka berdua diam. Di luar, hujan mulai turun. Sama seperti malam pertama Jatmiko bermimpi.
---
Malam itu, mereka memutuskan untuk tidak tidur. Mereka merekam kamar tidur dengan ponsel, menyiapkan buku catatan untuk menulis apa pun yang terjadi, dan bergandengan tangan. Jika mimpi itu nyata, setidaknya mereka akan mengalaminya bersama.
Pukul 01.47, listrik padam. Bukan padam biasa—lampu mati, tetapi ponsel mereka tetap menyala. Bahkan ponsel yang tidak diisi daya pun menunjukkan baterai penuh. Dari luar, suara hujan berhenti tiba-tiba. Tidak ada suara anjing menggonggong, tidak ada suara klakson, tidak ada suara apa pun. Keheningan total.
Jatmiko merasakan tubuhnya menjadi ringan. Ia melihat Rini di sampingnya—Rini juga terlihat melayang beberapa sentimeter dari kasur.
"Mimpi lagi," bisik Rini.
"Ini bukan mimpi," jawab Jatmiko. "Aku sadar. Aku tidak tidur."
Sebelum mereka bisa mengatakan apa-apa lagi, langit-langit rumah mereka terbuka. Bukan pecah, bukan roboh—terbuka seperti kelopak bunga, menunjukkan langit malam yang dihiasi cahaya hijau kebiruan. Dari cahaya itu, tiga sosok turun. Mereka mengenakan jubah putih, tanpa wajah, tinggi semampai. Sekarang, di dunia nyata, mereka terlihat lebih padat. Tidak seperti bayangan atau ilusi.
"Jatmiko. Rini. Kalian berdua tidak perlu takut," kata sosok pertama.
"Kalian adalah pasangan ke-47 di Bumi yang kami pilih. Kami membawa kalian ke tempat yang seharusnya kalian kunjungi 28 tahun lalu, sebelum kalian lahir."
Tubuh Jatmiko dan Rini terangkat. Mereka melayang melewati langit-langit yang terbuka, melewati atap rumah, melewati awan-awan hitam, menuju cahaya hijau kebiruan yang semakin membesar hingga menelan seluruh penglihatan mereka.
---
Di dalam kapal itu, semuanya putih. Bukan putih seperti cat tembok, melainkan putih seperti tidak ada warna. Jatmiko dan Rini duduk di dua kursi yang tidak terbuat dari logam atau plastik, tetapi dari semacam udara padat—empuk seperti busa, tetapi tembus pandang.
"Kami akan menjelaskan dari awal," kata sosok kedua. Wajahnya berganti menjadi wajah Albert Einstein—atau Albert Einstein yang pernah dilihat Jatmiko di poster.
"Alam semesta tidak sendiri. Ada banyak alam semesta, bertumpuk seperti lembaran kertas. Bumi adalah salah satu lembaran. Namun ada lembaran-lembaran lain yang lebih dekat dengan sumber. Kami berasal dari lembaran kedua. Kami menyebut diri kami Pengamat."
"Tugas kami adalah mengamati peradaban di lembaran pertama—Bumi—dan membantu ketika terjadi ketidakseimbangan. Dua puluh delapan tahun lalu, terjadi ketidakseimbangan besar: seorang anak akan lahir dengan kemampuan melihat lembaran lain. Anak itu bisa menjadi jembatan antara Bumi dan alam semesta lain. Akan tetapi, anak itu tidak pernah lahir. Ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil saat hamil tujuh bulan."
Jatmiko merasa dadanya sesak. "Kecelakaan mobil ... ibuku meninggal saat mengandung adikku. Dan adikku tidak selamat."
"Adikmu itu adalah anak yang kami tunggu. Kami sudah menanamkan 'benih penglihatan' kepadanya sejak dalam kandungan. Ketika ia meninggal, benih itu terpecah menjadi dua. Satu jatuh kepadamu. Satu jatuh kepada Rini. Karena kalian berdua hadir di lokasi kecelakaan itu—kamu, Jatmiko, sebagai kakak laki-laki yang menunggu ibunya di rumah sakit. Kamu, Rini, sebagai anak tetangga yang ikut ambulans karena ibumu perawat."
Rini mengangguk. "Aku ingat. Aku masih kecil. Aku melihat ibumu dibawa masuk ke UGD. Aku ingat ada cahaya ... cahaya aneh di sekujur tubuhmu, Mas. Namun aku pikir itu imajinasi."
"Itu bukan imajinasi. Itu benih yang pindah. Dan selama dua puluh delapan tahun, benih itu tumbuh perlahan. Sekarang, ia sudah cukup besar. Kalian berdua mulai bermimpi. Mulai merasakan ada yang tidak beres dengan realitas. Mulai bertanya-tanya, apakah ini semua hanya kebetulan."
Jatmiko menunduk. Ia ingat semua kegelisahannya selama ini. Rasa asing yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan bahwa ia menjalani hidup yang salah, meskipun secara logika semuanya baik-baik saja. Sekarang ia tahu: itu bukan depresi. Itu panggilan.
---
"Kami memberi kalian pilihan," kata sosok ketiga. Wajahnya berganti menjadi wajah ibu Jatmiko yang sudah tiada. "Kalian bisa kembali ke Bumi, hidup seperti biasa, dan suatu hari benih itu akan mati dengan sendirinya. Kalian akan lupa pernah di sini. Mimpi-mimpi itu akan berhenti. Kalian akan tua, sakit, mati, dan tidak pernah tahu bahwa kalian bisa menjadi lebih."
"Atau?"
"Atau kalian menerima benih itu. Kalian menjadi jembatan. Kalian akan bisa melihat lembaran-lembaran lain dari alam semesta. Kalian akan bisa berkomunikasi dengan kami kapan pun kalian mau. Namun ada konsekuensi: kalian tidak akan pernah bisa diam di satu tempat. Tubuh kalian akan tetap di Bumi, tetapi kesadaran kalian akan mengembara. Kalian akan menjadi trubadur antardimensi—menyaksikan kematian bintang, kelahiran galaksi, peradaban yang lebih maju dan lebih hancur dari Bumi. Kalian akan kehilangan rasa takut, tetapi juga kehilangan rasa nyaman. Karena kenyamanan hanya ada di dalam ketidaktahuan."
Jatmiko menatap Rini. Rini menatap Jatmiko. Mereka tidak perlu bicara. Mereka sudah tahu jawabannya.
"Menerima," kata Jatmiko.
"Menerima," kata Rini.
Sosok-sosok itu mengangguk bersamaan. Wajah-wajah mereka berubah menjadi cahaya—bukan cahaya hijau kebiruan lagi, melainkan cahaya keemasan, seperti matahari terbit di atas laut yang tenang.
"Selamat datang di sisi lain," kata mereka serempak.
---
Jatmiko dan Rini terbangun di tempat tidur mereka. Langit-langit rumah utuh. Hujan masih turun di luar. Ponsel mereka masih merekam—rekaman menunjukkan mereka tidur nyenyak selama delapan jam tanpa gerakan.
Namun mereka berbeda.
Mereka bisa melihat.
Bukan melihat menembus dinding, bukan melihat masa depan. Melainkan melihat lembaran. Di samping lemari es, ada lipatan tipis di udara—seperti kain yang dilipat tetapi tidak rapat. Di balik lipatan itu, samar-samar, Jatmiko melihat gunung-gunung mengambang. Di balik cermin kamar mandi, Rini melihat lautan dengan ombak membeku. Mereka bisa masuk kapan pun, dengan satu syarat: bersama-sama. Benih yang terpecah tidak akan pernah utuh jika salah satu dari mereka pergi sendirian.
"Kita tidak bisa bercerita kepada siapa pun," kata Rini.
"Orang akan bilang kita gila."
"Atau kita hanya akan merusak keyakinan mereka. Biarkan mereka percaya pada realitas yang nyaman."
Jatmiko menghela napas. "Aku dulu juga nyaman."
"Kau sekarang tidak?"
Jatmiko tersenyum. "Aku sekarang bebas. Itu lebih baik dari nyaman."
Mereka berdua pergi ke dapur, membuat kopi, dan duduk di teras. Hujan sudah reda. Langit timur mulai terang. Dan di antara awan-awan, samar-samar, Jatmiko melihat bayangan kapal bundar yang tidak pernah terlihat oleh radar, satelit, atau mata manusia biasa.
Ia tidak takut.
Ia hanya melambai.
---
Sepuluh tahun kemudian, Jatmiko dan Rini masih tinggal di rumah yang sama. Anak-anak mereka tumbuh dewasa, menjadi insinyur dan dokter. Tidak ada yang tahu rahasia orang tua mereka. Jatmiko masih bekerja di BRIN, Rini masih mengajar matematika. Mereka masih terlihat seperti keluarga biasa.
Namun, setiap malam Minggu, ketika anak-anak tidur, mereka pergi. Tubuh mereka tertidur lelap, tetapi kesadaran mereka melesat melewati lembaran-lembaran alam semesta. Mereka melihat peradaban yang sudah punah, bintang yang meledak menjadi debu, nebula yang melahirkan jutaan dunia. Mereka berbicara dengan Pengamat, belajar tentang asal-usul ruang dan waktu. Mereka juga kadang bertemu dengan manusia lain yang dipilih—di Brasil, di Jepang, di sebuah desa di Afrika yang tidak dimuat peta dunia.
Mereka tidak menulis buku tentang pengalaman mereka. Tidak membuat vlog, tidak memberikan wawancara, tidak menjadi pemimpin sekte. Mereka hanya hidup dengan pengetahuan itu, dan itu cukup.
Suatu malam, cucu mereka yang berusia tujuh tahun bertanya, "Kek, kenapa Nenek dan Kakek sering tersenyum tanpa alasan?"
Jatmiko menatap Rini. Rini mengangguk tipis.
"Karena kami punya rahasia," kata Jatmiko.
"Rahasia apa?"
"Rahasia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun suatu hari, jika kamu juga bermimpi tentang ruangan bundar dan tiga sosok tanpa wajah, kamu akan tahu."
Cucu itu mengernyit, lalu berlari bermain.
Jatmiko dan Rini bergandengan tangan. Di balik daun jendela, sebuah cahaya hijau kebiruan melintas cepat. Tidak ada yang melihatnya kecuali mereka.
Dan itu juga sudah cukup.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar