NAMA YANG TAK DAPAT DISEBUT SETELAH PUKUL ENAM

Ayah Lani meninggal tiga bulan lalu. Sejak itu, setiap pukul enam sore, mulut Lani terkunci. Bukan diplester. Bukan dijahit. Rahangnya berfungsi sempurna—ia bisa makan, minum, menguap. Namun, untuk mengucapkan nama ayahnya, atau kata "ayah", atau sekadar huruf 'A' yang mengawali namanya, mulutnya seperti kehilangan otot. Lidahnya lemas. Bibirnya rapat tanpa perintah.

Dari pukul enam hingga subuh, nama ayahnya tidak bisa keluar dari siapa pun di rumah itu. Ibunya mengalami hal yang sama. Adiknya yang berumur tujuh tahun juga. Bahkan burung Agapornis di teras, yang dulu bisa menirukan panggilan "Ayaaah", tiba-tiba diam setiap petang.

Tidak ada dokter yang bisa menjelaskan. Tidak ada ustaz yang bisa merukiah. Dunia hanya memberikan fakta itu dan membiarkan mereka hidup di dalamnya.

Lani sudah tiga bulan tidak menyebut nama ayahnya di malam hari. Tiga bulan ibunya tidak bisa memanggil suaminya saat berdoa setelah salat Magrib. Tiga bulan adiknya menangis setiap pukul enam karena ingin bilang "Ayah, aku kangen" tetapi hanya mengeluarkan suara seperti orang tercekik.

Hari ini, pukul setengah enam sore, telepon berdering.

Kakak ipar ayahnya dari luar kota. Suara panik.

"Lani, dengar. Makam ayahmu akan digusur. Besok pagi pukul delapan. Ada proyek jalan tol. Keluarga besar sudah berkumpul sekarang untuk memindahkan jenazah ke pemakaman lain. Cuma kalian yang belum datang. Cepat ke sini sebelum magrib."

Lani meletakkan telepon. Ia melihat jam dinding. Pukul 17.35.

Dua puluh lima menit lagi pukul enam.

Dua puluh lima menit lagi ia tidak akan bisa menyebut nama ayahnya.

Rumahnya ke makam—dengan kemacetan—setidaknya satu jam. Tidak mungkin sampai sebelum magrib. Tidak mungkin mengucapkan nama ayahnya di makam saat proses pemindahan jenazah. Tidak mungkin memanggil, berdoa, atau sekadar berkata "Ayah, maafkan kami harus memindahkanmu".

Namun, ada yang lebih buruk.

Ibunya, sejak ayah meninggal, setiap malam berbisik di kamar mandi—bukan berdoa, melainkan berbicara pada air yang mengalir. Lani pernah menguping. Ibunya berkata: "Yang, kalau nanti aku mati, jangan pisahkan aku dari ayah kalian. Satu liang lahat. Janji."

Janji itu tidak bisa diucapkan setelah pukul enam. Akan tetapi, janji itu tetap ada. Mengikat.

Sekarang, jika keluarga besar memindahkan ayahnya malam ini—karena mereka tidak mungkin menunggu sampai pagi mengingat waktu subuh hanya memberi jeda beberapa jam sebelum penggusuran—maka pemindahan akan terjadi di saat tidak ada seorang pun di keluarga inti Lani yang bisa menyebut nama ayahnya. Mereka akan diam. Mereka akan menurunkan peti mati ke tanah baru tanpa satu kata pun. Tanpa pamit. Tanpa doa.

Dan ibunya? Ibunya akan kehilangan kesempatan terakhir untuk berkata kepada suaminya: "Aku akan menyusul. Di liang yang sama."

Lani bisa memilih:

Pertama, berangkat sekarang juga. Sampai makam tepat saat magrib. Tidak bisa menyebut nama ayah, tetapi setidaknya hadir secara fisik. Namun, ibunya—ibunya akan patah karena tidak bisa mengucapkan janji terakhirnya.

Kedua, menolak pemindahan. Menghubungi keluarga besar dan bilang tunggu sampai besok pagi sebelum pukul delapan. Akan tetapi, pukul delapan pagi adalah batas waktu penggusuran. Jika hujan deras, jika truk molor, jika sesuatu terjadi—jenazah ayahnya bisa digusur paksa oleh buldoser. Tanpa pemindahan. Tanpa liang baru. Tanpa apa-apa.

Ketiga, berdoa tanpa nama. Namun, Lani sudah tiga bulan tahu: tanpa nama, doa tidak pernah sampai. Bukan karena Tuhan tidak mendengar, melainkan karena di dunia ini—dunia yang sejak tiga bulan lalu tunduk pada aturan absurd yang konsisten—nama adalah satu-satunya kunci yang membuka pintu antara yang hidup dan yang mati. Setelah pukul enam, pintu itu terkunci. Tidak ada doa yang tembus. Tidak ada janji yang sampai.

Lani melihat jam.

Pukul 17.42.

Ia menoleh ke ibunya yang sedang duduk di kursi teras, memandangi Agapornis yang diam sejak petang mulai merambat.

"Bu," kata Lani. "Telepon dari bibi. Mereka mau memindahkan ayah. Sekarang."

Ibunya tidak bergerak. Matanya tetap pada burung itu.

Lani tahu ibunya mendengar.

"Bu, kita harus memilih."

Ibunya akhirnya berbicara. Suaranya datar, seperti orang yang sudah lelah berperang melawan dunia yang tidak pernah adil.

"Lani," kata ibunya. "Apa kau tahu kenapa Tuhan tidak mengizinkan kita menyebut nama ayahmu setelah magrib?"

Lani tidak tahu.

"Karena," ibu melanjutkan, "setelah matahari terbenam, yang hidup harus sibuk hidup. Dan yang mati tidak boleh diganggu dengan kerinduan yang tak bisa dibalas."

Lani menangis. Bukan karena sedih, melainkan karena ia baru paham: konflik ini bukan tentang memilih antara hadir atau tidak hadir, antara memindahkan sekarang atau besok.

Konfliknya adalah:

Jika mereka pergi ke makam malam ini, mereka mengganggu ketenangan ayahnya dengan kerinduan yang tak bisa dibalas. Jika mereka tidak pergi, ayahnya digusur tanpa pamit.

Tidak ada pilihan yang tidak mengganggu.

Pukul 17.58.

Lani meraih tangan ibunya. Tangan itu dingin. Akan tetapi, ibunya berdiri. Meraih jaket. Meraih kunci motor.

"Kita berangkat," kata ibunya.

Lani membuka mulut. Masih bisa bicara. Dua menit lagi.

"Bu, nanti setelah magrib, kita tidak bisa—"

"Iya," potong ibunya. "Kita tidak bisa menyebut namanya. Namun kita bisa duduk di samping kuburnya. Diam-diam. Sampai subuh. Dan tepat sebelum azan Subuh berkumandang, kita bisikkan janji itu. Hanya satu kesempatan. Antara azan Magrib dan azan Subuh, ada satu detik saat langit paling gelap dan malaikat bergantian tugas. Kata nenekmu, di detik itu, nama bisa terdengar meski tidak diucap."

Lani tidak tahu apakah itu benar. Tidak ada yang pernah membuktikan. Dunia ini tidak pernah memberi jawaban, hanya memberi aturan yang harus dijalani dengan sisa-sisa harapan.

Pukul 18.00.

Mulut Lani terkunci.

Namun kakinya masih bisa berlari. Tangannya masih bisa memegang ibunya. Matanya masih bisa menangis.

Dan di langit yang mulai gelap, tidak ada bintang yang berkedip. Seolah alam pun sedang diam, tidak berani menyebut nama siapa pun, menunggu detik di antara dua kegelapan itu tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI