Nama yang Terapung di Atas Kepala

Sejak lahir, setiap manusia memiliki nama yang terapung di atas kepalanya—terlihat oleh semua orang, seperti balon tak kasatmata yang hanya bisa dibaca. Nama itu tidak bisa diubah, tidak bisa disembunyikan, tidak bisa dipalsukan. Ia adalah kebenaran paling mutlak. Namun, seorang pemuda bernama Jati lahir tanpa nama di atas kepalanya. Bukan kosong—melainkan bening, seperti kaca, seperti air, seperti sesuatu yang sengaja dihapus. Sepanjang hidup ia dicap "tak bertuan", "anak siluman", "yang tak bernama". Akan tetapi, pada malam kedua puluh lima tahunnya, ia menemukan rahasia: orang-orang yang namanya terhapus bukan karena terkutuk, melainkan karena mereka ditakdirkan untuk mengganti nama Tuhan yang sudah usang.

---

Di dunia ini, tidak ada yang lebih penting daripada nama terapung.

Sejak bayi, setiap orang memiliki namanya melayang 20 sentimeter di atas ubun-ubun. Warnanya bervariasi: biru untuk laki-laki, merah muda untuk perempuan, ungu untuk yang tidak teridentifikasi, hitam untuk yang sudah meninggal. Nama itu bisa dibaca dari kejauhan. Guru tidak perlu mengabsen. Polisi tidak perlu KTP. Kekasih tidak perlu bertanya siapa nama pacar barunya—cukup lihat ke atas kepalanya.

Namun, Jati tidak punya apa-apa di atas kepalanya.

Bukan nama kosong, bukan warna hitam, bukan juga warna lain. Yang ada di atas kepala Jati adalah bening sempurna, seperti gelas yang baru dicuci. Orang bisa melihat tembus ke langit-langit. Bahkan rambut Jati yang ikal pun tampak jelas di balik ketiadaan itu.

Sejak TK, Jati sudah diasingkan. Teman-temannya takut bermain dengannya. "Dia tidak punya nama," bisik mereka. "Mungkin dia bukan manusia." Guru-gurunya berusaha baik, tetapi tetap saja ada jarak. Di rapor, kolom nama selalu ditulis dengan pensil, karena guru tidak yakin apakah "Jati" adalah nama asli atau nama panggilan.

Ibunya—seorang perempuan sederhana penjual gado-gado—tidak pernah menjelaskan. Setiap Jati bertanya, "Bu, kenapa aku tidak punya nama di atas kepala?" ibunya hanya tersenyum dan menjawab, "Karena namamu terlalu berat untuk diterbangkan."

Jati tumbuh besar dengan rasa penasaran yang menggerogoti. Di usia 17 tahun, ia nekat pergi ke Pencatat Nama Agung—sebuah institusi pemerintah yang mengelola data semua nama terapung di dunia. Ia ingin mendaftarkan namanya, meskipun harus dipalsukan.

Petugas di loket menatapnya lama. Lalu berkata, "Kamu tidak bisa mendaftar, Nak. Nama terapung bukan pilihan. Nama terapung adalah pengakuan dari alam semesta bahwa kamu ada. Kalau alam semesta tidak mengakui keberadaanmu, tidak ada yang bisa memaksanya."

"Jadi, saya tidak ada?" tanya Jati.

Petugas itu diam. Ia menekan tombol di bawah meja, dan dua pria berjas hitam keluar dari pintu belakang. Mereka membawa Jati ke ruang bawah tanah, menyuntiknya dengan sesuatu yang membuatnya pingsan, dan ketika ia bangun, ia sudah berada di dalam sel.

Selama seminggu, Jati ditahan tanpa alasan jelas. Tidak ada surat penangkapan, tidak ada pengadilan. Yang ada hanyalah seorang perempuan tua yang datang setiap malam, duduk di hadapannya, dan menatap ubun-ubunnya dengan mata sayu.

"Aku tahu kenapa kamu tidak punya nama," kata perempuan tua itu pada malam ketujuh.

"Kenapa?"

"Karena nama aslimu sudah dipakai oleh seseorang yang lebih berkuasa darimu. Nama itu bukan hilang. Nama itu dicuri. Dan pencurinya adalah penguasa dunia ini."

---

Perempuan tua itu bernama Mbok Rondo. Dulu ia adalah Pencatat Nama Agung sebelum pensiun paksa karena "melanggar kode etik". Pelanggarannya: ia ketahuan mengganti warna nama seorang koruptor dari hitam (mati) menjadi biru (hidup) agar koruptor itu bisa diadili secara hukum. Atasannya tidak suka.

"Apa maksudnya nama dicuri?" tanya Jati.

Mbok Rondo menghela napas. "Kamu tahu, nama terapung itu tidak muncul begitu saja. Ada sumber nama—seperti sungai bawah tanah yang mengaliri semua sumur. Sumber itu bernama Nama Purba. Nama Purba adalah nama Tuhan yang sebenarnya. Namun, karena tidak ada manusia yang sanggup mengucapkannya, Nama Purba terpecah menjadi jutaan keping. Setiap keping menjadi nama manusia. Jadi, sebenarnya, setiap orang membawa satu huruf dari nama Tuhan di atas kepalanya."

Jati mengerjap. "Jadi, Tuhan tidak punya nama sendiri? Tuhan punya nama yang terpecah-pecah?"

"Tepat. Dan ketika semua manusia mati, nama-nama itu akan kembali menyatu menjadi Nama Purba. Akan tetapi, ada satu masalah: beberapa orang tidak pernah mati. Mereka abadi. Dan keabadian mereka mencuri kepingan nama Tuhan selamanya. Akibatnya, Nama Purba tidak pernah utuh. Tuhan tidak pernah sempurna."

"Siapa yang abadi?"

Mbok Rondo menatap Jati tajam. "Penguasa dunia ini. Para politisi, konglomerat, diktator yang tidak pernah benar-benar mati—mereka hanya berganti wajah, berganti tubuh, tetapi nama terapung mereka tetap sama selama ribuan tahun. Lihat ke atas kepala mereka: warna biru keemasan. Itu tanda keabadian. Dan setiap kali mereka 'hidup kembali' dalam wujud baru, mereka mencuri satu nama manusia untuk menutupi jejak mereka."

Jati merinding. "Dan nama saya ... dicuri oleh siapa?"

"Oleh penguasa tertinggi. Tidak ada yang tahu namanya. Namun setiap orang mengenal namanya sebagai Yang Tidak Boleh Disebut. Namanya adalah satu-satunya nama yang tidak pernah terapung di atas kepala, karena ia sengaja menyembunyikannya. Dan untuk menyembunyikan namanya, ia harus menghapus nama orang lain. Kamu adalah korban ke-7.000.000 dari program penghapusan nama massal."

---

Mbok Rondo membawa Jati kabur dari sel. Mereka melewati lorong bawah tanah yang gelap, berbau tanah dan tinta basah. Setelah berjam-jam berjalan, mereka sampai di sebuah ruangan besar yang penuh dengan lemari arsip.

"Ini adalah Arsip Nama yang Hilang," kata Mbok Rondo. "Di sinilah semua nama yang dicuri disimpan. Kamu bisa mengambil namamu kembali, tetapi ada konsekuensi."

"Apa konsekuensinya?"

"Begitu kamu mengambil namamu, namamu akan terapung di atas kepalamu seperti orang lain. Akan tetapi, nama asli penguasa—Yang Tidak Boleh Disebut—akan muncul di atas kepalanya. Dan ia akan marah. Seluruh dunia akan marah kepadamu. Karena selama ribuan tahun, manusia sudah terbiasa dengan ketiadaan nama penguasa. Mereka takut melihat nama aslinya. Mereka akan membencimu karena telah mengganggu kenyamanan mereka."

Jati tidak peduli. Ia sudah 25 tahun hidup tanpa nama. Ia sudah lelah dianggap siluman, lelah ditahan tanpa alasan, lelah menjadi tidak ada.

Ia membuka lemari arsip. Jutaan dokumen. Ia mencari namanya.

Setelah tiga jam, ia menemukan sebuah amplop cokelat bertuliskan: "Jati, lahir 12 Agustus 1999, nama dicuri 13 Agustus 1999, pukul 00.01."

Ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada selembar kertas, dan di kertas itu tertulis satu kata:

"Jati".

Namun bukan nama Jati. Kata "jati" dalam bahasa berarti kayu keras, asli, sejati. Nama itu adalah nama universal, bukan nama individual. Jati sadar—ia tidak pernah punya nama pribadi. Nama "Jati" adalah nama yang diberikan ibunya karena ibunya tidak tahu nama aslinya. Nama aslinya, yang dicuri, adalah sesuatu yang lain.

Ia membaca dokumen itu lebih teliti. Di bagian bawah, dalam aksara sangat kecil, tertulis:

"Nama asli subjek: nama yang akan menggantikan Nama Purba setelah Nama Purba usang. Subjek adalah calon Tuhan baru. Karena itu, namanya sengaja disembunyikan oleh penguasa lama yang takut digantikan."

Jati jatuh berlutut. Ia bukan korban. Ia adalah ancaman bagi penguasa.

Ia tidak kehilangan nama. Ia belum mendapatkannya.

---

Mbok Rondo membantu Jati berdiri. "Sekarang kamu tahu," katanya. "Kamu bukan manusia biasa. Kamu adalah wadah untuk nama Tuhan yang baru. Namun masalahnya, nama Tuhan yang baru tidak bisa ditulis, tidak bisa diucapkan, tidak bisa dipikirkan. Ia hanya bisa dihidupi. Dan untuk menghidupinya, kamu harus melakukan sesuatu yang mustahil."

"Apa?"

"Kamu harus mati sebagai manusia. Bukan mati fisik, melainkan mati sebagai 'Jati'—sebagai individu dengan ingatan, dengan emosi, dengan keinginan. Kamu harus menjadi kosong. Sepenuhnya kosong. Baru kemudian nama Tuhan yang baru bisa mengisi kekosongan itu."

Jati menggeleng. "Itu bunuh diri eksistensial. Aku tidak akan menjadi aku lagi."

"Tidak," kata Mbok Rondo. "Kamu akan menjadi lebih dari aku. Akan tetapi mungkin kamu tidak menginginkannya. Mungkin kamu lebih suka menjadi Jati yang tidak punya nama daripada menjadi Tuhan yang memiliki semua nama."

Itulah dilema. Jati tidak pernah meminta takdir ini. Ia hanya ingin diakui sebagai manusia biasa. Namun sekarang, ia dihadapkan pada pilihan: menjadi biasa dengan mengambil nama curian yang bukan miliknya (nama "Jati" yang tidak pernah asli), atau menjadi kosong untuk diisi sesuatu yang tidak bisa ia bayangkan.

"Apakah ada jalan ketiga?" tanya Jati.

Mbok Rondo tersenyum. "Ada. Kamu bisa membiarkan nama aslimu tetap tersimpan di arsip ini. Kamu bisa kembali ke desa, menjadi penjual gado-gado seperti ibumu, hidup tanpa nama sampai mati. Namun, kematianmu tidak akan pernah tercatat. Kamu akan menjadi hantu yang tidak pernah ada."

"Jadi, tidak ada pilihan yang baik."

"Pilihan tidak pernah baik, Jati. Pilihan hanya ada. Dan kau harus memilih."

---

Jati berjalan keluar dari ruang arsip. Ia melewati koridor panjang menuju pintu keluar. Di ujung koridor, ada dua pintu. Pintu kiri bertuliskan "Kembali ke Dunia Sebagai Jati Tanpa Nama". Pintu kanan bertuliskan "Masuk ke Kekosongan dan Menjadi Tuhan Baru".

Ia berdiri di antara keduanya. Ia ingat ibunya. Ia ingat gado-gado buatan ibunya yang tidak pernah enak tetapi selalu ia habiskan. Ia ingat desa, ingat teman-teman yang menjauh, ingat guru-guru yang ragu. Ia ingat semua rasa sakit karena tidak diakui.

Namun, ia juga ingat satu hal: selama 25 tahun tanpa nama, ia adalah orang yang paling bebas di dunia. Karena tanpa nama, tidak ada yang bisa melabelinya. Tidak ada yang bisa menuduhnya. Tidak ada yang bisa mengklaimnya. Tanpa nama, ia tidak terikat pada ekspektasi, pada reputasi, pada masa lalu.

Tanpa nama, ia adalah kanvas kosong.

Dan kanvas kosong, bagi seorang seniman sejati, adalah hal paling berharga.

Jati tersenyum.

Ia tidak memilih pintu kiri, tidak juga pintu kanan.

Ia membuka pintu ketiga—pintu yang tidak bertuliskan apa pun, yang selama ini tersembunyi di balik bayangan koridor. Pintu itu terbuka dengan sendirinya ketika Jati mendekat.

Di balik pintu, bukan dunia, bukan kekosongan. Yang ada hanyalah cermin. Cermin besar dari lantai ke langit-langit. Jati melihat bayangannya. Di atas kepala bayangannya, tidak ada nama. Masih bening. Masih kosong.

Namun, untuk pertama kalinya, Jati tidak merasa sedih.

Ia menatap bayangannya, lalu berkata:

"Aku tidak butuh nama. Aku butuh apa yang nama wakili: pengakuan. Akan tetapi, aku sudah mengakui diriku sendiri. Maka aku tidak perlu apa pun dari dunia."

Cermin itu pecah. Setiap pecahan memantulkan satu versi Jati: Jati kecil, Jati remaja, Jati tua, Jati yang menjadi Tuhan, Jati yang tetap menjadi penjual gado-gado. Semua versi itu nyata. Semua versi itu mungkin.

Dan Jati memilih untuk menjadi semuanya sekaligus.

---

Keesokan harinya, penduduk Desa Cibodas dikejutkan dengan sebuah fenomena aneh. Nama-nama yang terapung di atas kepala mereka mulai berubah warna. Ada yang dari biru menjadi hijau, dari merah muda menjadi putih, dari ungu menjadi emas. Beberapa nama bahkan berubah ejaan.

Para ilmuwan kebingungan. Pencatat Nama Agung dilaporkan lumpuh total. Data nama di seluruh dunia kacau-balau.

Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda bernama Jati berjalan di pasar. Di atas kepalanya, masih kosong. Akan tetapi kini, setiap kali orang menatap kekosongan itu, mereka melihat wajah mereka sendiri.

Bukan karena Jati berubah menjadi mereka, melainkan karena kekosongan di atas kepala Jati adalah cermin. Dan cermin mengajarkan satu hal yang tidak pernah diajarkan nama: bahwa dirimu tidak ditentukan oleh label di atas kepalamu, tetapi oleh apa yang kau lihat ketika tidak ada label sama sekali.

Jati membuka warung gado-gado kecil di pinggir pasar. Ia melayani siapa pun tanpa melihat nama mereka. Suatu hari, seorang anak kecil bertanya kepadanya:

"Om, kenapa Om tidak punya nama?"

Jati membungkuk, menatap mata anak itu, dan berkata dengan lembut:

"Karena suatu hari nanti, ketika semua nama di dunia ini hilang, yang tersisa hanyalah apa yang kita lakukan untuk satu sama lain. Dan tidak ada nama yang bisa mencatat kebaikan. Kebaikan hanya bisa dirasakan."

Anak itu tersenyum, meskipun tidak mengerti.

Namun di atas kepala anak itu, nama "Budi" yang tadinya biru berubah menjadi bening selama tiga detik.

Bening seperti kaca.
Bening seperti air.
Bening seperti ketiadaan yang penuh kemungkinan.

Dan untuk tiga detik itu, Budi merasakan apa yang Jati rasakan selama 25 tahun: kebebasan untuk menjadi apa pun tanpa terikat apa pun.

Itulah hadiah terbesar dari orang tanpa nama.

Bukan untuk memiliki nama Tuhan, melainkan untuk mengingatkan dunia bahwa Tuhan pun, sebelum punya nama, adalah kekosongan.

Dan kekosongan—selalu—adalah awal dari segalanya.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI