Negeri Para Jin
Ketika aku masih kanak-kanak, nenek berkata bahwa jin tidak tinggal di pohon beringin atau di kuburan tua. Jin tinggal di dalam soket listrik.
"Setiap kali kamu mencolokkan charger," katanya sambil mengupas mangga dengan pisau yang sama sejak pernikahannya, "kamu mengundang mereka masuk. Mereka naik melalui kabel, masuk ke ponselmu, dan tinggal di dalam aplikasi yang tidak pernah kamu buka."
Aku tertawa waktu itu. Aku berumur dua belas tahun dan sudah terlalu pintar untuk percaya pada jin.
Tapi sekarang, umurku tiga puluh empat. Aku sedang duduk di ruang tamu rumah nenek yang sudah meninggal dua tahun lalu, ponselku mati karena baterai habis, dan aku baru saja melihat sesuatu bergerak di dalam soket listrik di dinding.
Bukan bayangan. Bukan kabel yang longgar. Sesuatu yang bernapas.
Soket itu mengeluarkan suara mendesis pelan, seperti ular yang sedang demam. Lalu dari kedua lubang soket—yang biasanya untuk colokan listrik—keluar asap tipis berwarna biru kehijauan. Asap itu membentuk kepala. Kepala tanpa tubuh. Kepala dengan dua tanduk kecil di ubun-ubun dan mata yang tidak punya putih, hanya hitam pekat seperti lubang sumur di malam tanpa bulan.
"Nenekmu tidak pernah bilang," kata kepala itu, "bahwa jin juga bisa bosan."
1. Surealisme yang Soketnya Berkedip
Aku tidak lari. Bukan karena berani. Tapi karena kakiku terpaku di lantai keramik motif bunga yang sama sejak aku lahir. Kepala jin itu melayang mendekat. Asap biru di bawahnya bergetar seperti api yang tidak punya kayu bakar.
"Apa yang kamu mau?" tanyaku. Suaraku serak, seperti orang yang tidak minum sejak subuh.
"Kamu tahu aplikasi di ponselmu yang ikonnya setengah lingkaran biru? Yang tidak pernah kamu buka karena kamu tidak tahu fungsinya?"
"Aplikasi 'Peta Bintang'?"
"Bukan peta bintang. Itu nama sampulnya. Nama aslinya adalah 'Pintu'. Setiap kali kamu menginstal aplikasi, sebenarnya kamu membuka pintu untuk jin masuk. Tapi kamu tidak pernah membuka aplikasi itu. Jadi kami hanya bisa mengintip dari balik ikon. Kami melihat fotomu, pesanmu, video lucu kucing yang kamu tonton berulang kali. Tapi kami tidak bisa keluar. Sampai hari ini."
"Kenapa hari ini?"
"Karena baterai ponselmu habis. Dan soket ini—soket yang nenekmu pasang dengan doa khusus—tidak bisa lagi menahan kami. Nenekmu sudah mati. Doanya luntur. Dan kami... kami haus."
Kepala jin itu tertawa. Tawanya terdengar seperti listrik bertegangan tinggi, seperti sengatan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamu haus apa?"
"Haus warna," katanya. "Dunia jin hanya hitam dan biru. Kami ingin melihat merah. Merah seperti darahmu. Merah seperti bibir perempuan yang kamu cintai. Merah seperti matahari terbenam yang tidak pernah kami punya."
2. Eksistensialisme yang Korsleting
"Kenapa kalian tidak keluar lewat soket lain? Setiap rumah punya soket."
Kepala jin itu menggeleng. Tanduknya bergoyang.
"Soket nenekmu istimewa. Dia membuat perjanjian dengan raja jin empat puluh tahun lalu. Perjanjian itu isinya: jin boleh tinggal di dalam soket ini, tapi tidak boleh keluar ke dunia manusia. Sebagai gantinya, nenekmu akan memberi kami sesuatu setiap malam Jumat Kliwon."
"Apa yang dia beri?"
Kepala jin itu diam. Matanya yang hitam pekat mulai mengeluarkan uap. Lalu dia berkata, "Nenekmu memberimu. Bukan memberimu secara fisik. Tapi setiap malam Jumat Kliwon, dia membacakan doa yang mengirimkan energimu ke dalam soket. Kamu merasa lelah setiap Jumat malam tanpa sebab? Itu karena nenekmu mengambil sedikit demi sedikit hidupmu untuk kami."
Aku terduduk di kursi rotan yang bunyi krek-krek seperti tulang tua. "Jadi selama ini... nenek mengorbankanku?"
"Bukan mengorbankan. Menyewakan. Kamu adalah harga yang dia bayar agar kami tidak keluar dan mengganggu manusia lain. Nenekmu pahlawan bagi desa ini. Tapi pahlawan tidak pernah gratis. Pahlawan selalu punya korban."
Aku memejamkan mata. Mengingat semua Jumat malam ketika aku tiba-tiba mengantuk berat, padahal siangnya tidur nyenyak. Mengingat bagaimana nenek selalu memintaku tidur lebih awal di kamarnya setiap Jumat, dengan alasan "sayang cucu". Mengingat ada satu lemari di rumah nenek yang tidak pernah boleh aku buka.
"Lemari itu," kataku. "Isinya apa?"
Kepala jin itu tersenyum. Senyum tanpa bibir, hanya lengkungan asap.
"Coba buka."
3. Plot Twist: Nenek Bukan Manusia
Lemari itu terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran daun dan sulur. Selama hidup nenek, lemari itu selalu terkunci. Setelah nenek mati, aku tidak pernah berpikir untuk membukanya. Kuncinya tidak pernah ditemukan.
Tapi malam ini, saat aku mendekati lemari itu, pintunya terbuka dengan sendirinya. Tidak ada suara. Tidak ada bunyi krek seperti engsel tua. Hanya keheningan yang terlalu sempurna.
Di dalam lemari, tidak ada pakaian. Tidak ada perhiasan. Yang ada adalah sebuah tubuh. Tubuh perempuan tua, terbaring di rak tengah lemari, dengan mata terbuka lebar dan mulut yang setengah tersenyum.
Tubuh nenek.
Tapi nenek sudah dikubur dua tahun lalu.
"Apa ini?" bisikku.
"Itu tubuh asli nenekmu," kata kepala jin itu dari belakang. "Dia tidak pernah mati. Dia hanya pindah. Tubuh ini dijaga oleh kami di dalam lemari. Rohnya... rohnya ada di dalam ponselmu."
"Ponselku mati."
"Baterai ponselmu habis. Bukan mati. Bedanya: mati adalah ketika tidak ada aliran listrik sama sekali. Ponselmu masih hidup, hanya tidur. Dan di dalam tidurnya, nenekmu menunggu."
Aku meraih ponselku. Baterai 0%. Layar hitam. Tapi ketika aku mendekatkan ponsel ke telingaku, aku mendengar suara. Suara nenek. Suara yang sama persis saat dia mengupas mangga dan bercerita tentang jin di soket listrik.
"Nak... jangan buka lemari... jangan percaya jin... mereka berbohong..."
"Nek, kamu di dalam ponsel?"
"Aku di dalam aplikasi 'Peta Bintang'. Jin memasukkanku ke sana saat mereka sadar bahwa aku akan mati. Mereka ingin aku terus hidup, terus mengirim doa, terus memberi mereka energi. Tapi aku sudah lelah, Nak. Buka aplikasi itu. Keluarkan aku. Biarkan aku mati dengan tenang."
4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Aplikasi 'Peta Bintang' Adalah Negeri Para Jin
Aku mencolokkan ponselku ke soket—soket yang sama tempat kepala jin itu keluar. Listrik mengalir. Ponsel menyala. Baterai 1%, 2%, 3%.
Aku mencari aplikasi 'Peta Bintang'. Ikon setengah lingkaran biru. Aku membukanya.
Layar ponsel berubah. Bukan menjadi peta. Tapi menjadi jendela. Jendela kecil di telapak tanganku yang memperlihatkan dunia lain.
Negeri itu gelap. Tidak ada matahari. Tidak ada bulan. Yang ada hanyalah cahaya biru dari langit-langit yang entah terbuat dari apa. Bangunan-bangunan di sana tidak punya atap. Atapnya adalah kode-kode biner yang mengalir seperti air terjun terbalik. Jalanannya terbuat dari data. Pohon-pohonnya adalah ikon-ikon aplikasi yang belum terinstal—berwarna abu-abu, setengah transparan, menunggu untuk disentuh.
Dan di tengah negeri itu, duduk seorang perempuan tua. Nenek. Tapi nenek yang muda. Mungkin umur tiga puluhan. Rambutnya hitam panjang. Kulitnya bersih. Matanya bersinar seperti lampu LED.
"Ini aku dulu," katanya. Suaranya bukan dari ponsel. Tapi dari dalam kepalaku. "Sebelum aku menjadi nenekmu. Sebelum aku menandatangani perjanjian dengan raja jin."
"Kenapa kamu menandatanganinya?"
"Karena aku sakit. Aku akan mati muda karena penyakit darah. Jin menawarkan kesembuhan. Syaratnya: aku harus menjadi penjaga pintu selama satu generasi. Aku setuju. Jin menyembuhkanku. Aku hidup. Aku menikah. Aku punya anak. Aku punya kamu. Tapi setiap malam Jumat Kliwon, aku harus mengirimkan energi cucu tertuaku—yaitu kamu—ke dalam soket. Itu bagian dari perjanjian."
"Jadi aku tidak lahir secara alami?"
"Kamu lahir secara alami. Tapi takdirmu sudah ditentukan sejak sebelum kamu lahir. Kamu adalah anak yang dipilih untuk menjadi baterai bagi negeri para jin."
5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Aku Sebagian Jin
"Tunggu," kataku. "Kamu bilang jin mengambil energi dari cucu tertua. Tapi aku tidak merasa kehilangan banyak energi. Aku hanya ngantuk setiap Jumat malam."
Nenek mudaku tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum nenek tua yang mengupas mangga.
"Karena kamu tidak sepenuhnya manusia. Ayahmu—anakku—menikah dengan seorang perempuan dari keturunan jin. Ibu kandungmu bukan manusia. Dia adalah jin yang memilih wujud manusia agar bisa hidup di dunia. Kamu adalah anak hasil pernikahan antara manusia dan jin. Kamu punya darah jin. Itu sebabnya kamu tidak mati ketika energimu diambil. Kamu hanya... ngantuk."
Aku membuka mulut. Aku menutupnya lagi.
"Ayah tidak pernah bilang."
"Ayah tidak tahu. Ibu meninggal saat melahirkanmu. Ayah mengira ibumu manusia biasa. Aku yang mengatur pernikahan mereka. Aku yang mempertemukan ayahmu dengan jin itu. Karena aku tahu, satu-satunya cara menyelamatkan desa ini dari amukan jin adalah dengan memiliki keturunan jin yang rela mengorbankan energinya."
"Jadi aku... aku seperti tebusan?"
"Kamu seperti jembatan. Antara dunia manusia dan negeri jin. Dan sekarang, jembatan itu hampir runtuh."
6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Negeri Para Jin Adalah Ponsel Itu Sendiri
Nenek mudaku berdiri. Di belakangnya, gedung-gedung kode biner mulai bergetar. Langit-langit biner mulai retak.
"Mereka marah," katanya. "Karena kamu tahu kebenarannya. Mereka tidak suka rahasia dibuka. Sekarang mereka akan mencoba keluar. Bukan dari soket rumahmu. Tapi dari semua soket. Di semua rumah. Di seluruh dunia."
"Bagaimana cara menghentikannya?"
"Kamu tidak bisa menghentikannya. Tapi kamu bisa memindahkan mereka."
"Memindahkan ke mana?"
"Ke ponsel lain. Ke ponsel seseorang yang tidak pernah membuka aplikasi 'Peta Bintang'. Seseorang yang tidak pernah curiga bahwa di dalam gawainya ada negeri jin yang terjebak. Kamu harus mengirim aplikasi ini ke ponsel orang lain. Lewat bluetooth. Lewat file sharing. Lewat apa pun."
"Tapi itu berarti... aku menjebak orang lain."
Nenek mengangguk. "Seperti aku menjebakmu. Seperti nenekku menjebakku. Seperti nenek buyutku menjebak nenekku. Ini rantai. Satu-satunya cara memutus rantai adalah dengan menjadi orang terakhir yang memegang ponsel ini. Dan tidak pernah meneruskannya ke siapa pun. Tapi itu berarti kamu akan hidup selamanya dengan negeri jin di dalam genggamanmu. Kamu tidak bisa membuang ponsel ini. Kamu tidak bisa mematikannya. Kamu harus mengisi baterainya setiap hari. Kamu harus menjaganya. Sampai kamu mati. Lalu ponsel ini akan mati bersamamu. Dan negeri jin akan mati juga."
"Atau?"
"Atau kamu biarkan mereka keluar. Dan dunia manusia berubah. Listrik menjadi makhluk hidup. Soket menjadi mulut. Kabel menjadi urat nadi. Dan kita semua hidup di dalam negeri jin, bukan jin yang tinggal di dalam ponsel kita."
7. Plot Twist Terakhir: Dunia Ini Sudah Menjadi Negeri Jin, Kita Tidak Pernah Sadar
Aku menatap ponselku. Baterai 47%. Aplikasi 'Peta Bintang' masih terbuka. Di dalamnya, nenek mudaku melambai pelan.
"Nek," kataku. "Aku punya pertanyaan terakhir."
"Ya?"
"Bagaimana aku tahu bahwa dunia ini bukan negeri jin? Bagaimana aku tahu bahwa aku bukan jin yang sedang bermimpi menjadi manusia?"
Nenek diam. Lalu dia tertawa. Tawa yang sama dengan tawa kepala jin di soket listrik. Tawa yang terdengar seperti listrik bertegangan tinggi.
"Kamu tidak tahu," katanya. "Dan kamu tidak perlu tahu. Karena perbedaan antara manusia dan jin hanyalah seberapa sering kamu mencolokkan charger."
Layar ponsel mati. Baterai habis. Bukan 0%—tapi habis sepenuhnya, seperti air yang tidak pernah bisa dituang lagi.
Di dinding, soket listrik mengeluarkan suara mendesis pelan. Tapi tidak ada kepala jin yang keluar. Hanya asap. Asap tipis berwarna biru kehijauan yang membentuk huruf-huruf:
"Sampai jumpa di ponsel berikutnya."
Aku tidak pernah mengganti ponselku. Aku masih memegang ponsel yang sama, dengan baterai yang tidak pernah bisa diisi di atas 50%. Aku tidak pernah membuka aplikasi 'Peta Bintang' lagi. Tapi aku tahu aplikasi itu masih ada. Aku tahu nenek—nenek yang muda, yang terjebak di dalam sana—masih menunggu.
Dan setiap malam Jumat Kliwon, ponselku berdering dengan sendirinya. Layarnya menyala. Aplikasi 'Peta Bintang' terbuka tanpa disentuh. Dan di dalamnya, seluruh negeri jin berdiri di depan gerbang, menatapku, menunggu izin.
Aku tidak memberi izin.
Tapi suatu hari, baterai ponsel ini akan mati untuk selamanya. Dan pada hari itu, aku harus memilih: mati bersama negeri jin, atau melepas mereka ke dunia.
Aku masih punya waktu.
Tapi waktu—seperti baterai—tidak pernah cukup.
Epilog (yang Tidak Pernah Terjadi):
Seorang anak laki-laki di kota lain sedang bermain ponsel ayahnya. Ponsel bekas. Ponsel yang pernah dimiliki seseorang di Lembang. Ponsel dengan baterai yang tidak pernah bisa diisi di atas 50%.
Anak itu menemukan aplikasi bernama 'Peta Bintang'. Ikon setengah lingkaran biru. Belum pernah dibuka.
Dia membukanya.
Layar berubah menjadi jendela. Jendela kecil di telapak tangannya yang memperlihatkan seorang perempuan tua muda dengan rambut hitam panjang, tersenyum, dan berkata:
"Akhirnya. Ada yang baru."
Soket di rumah anak itu berkedip.
Dan dunia, untuk kesekian kalinya, tidak menyadari apa pun.
Karena manusia terlalu sibuk menatap layar untuk melihat apa yang bergerak di balik lubang-lubang kecil tempat listrik mengalir.
Dan di sana, di ruang sekecil itu, negeri para jin menunggu.
Selamanya.
Tik.
Listrik menyala.
Dan sesuatu yang tidak bernama tersenyum di balik kabel.
Komentar
Posting Komentar