Negeri Tanpa Tuhan
Hukuman mati di negeri ini bukan dengan tali gantung, kursi listrik, atau suntikan mematikan. Hukuman mati di sini adalah diam paksa. Terpidana disumpal mulutnya dengan tanah liat yang dikeraskan, lalu diikat di tiang pusat kota. Tidak ada yang boleh berbicara dengannya. Tidak ada yang boleh mendekat. Ia mati bukan karena lapar atau haus—tapi karena di negeri tanpa Tuhan, satu-satunya yang membuat manusia tetap hidup adalah suara manusia lain. Dan ketika tidak ada lagi yang mendengar isaknya, ia perlahan-lahan berubah menjadi patung tanah liat. Mati. Sunyi. Sempurna.
Petrus adalah algojo terbaik di negeri ini. Bukan karena ia kejam, tapi karena ia tidak pernah ragu. Tiga puluh tahun bekerja, tiga ratus nyawa telah ia diamkan. Ia tidak pernah mempersoalkan perintah. Ia hanya percaya bahwa negeri ini membutuhkan ketertiban, dan ketertiban membutuhkan keheningan dari mereka yang berani membuka mulut melawan hukum.
Sampai hari itu.
Sampai ia melihat nama terpidana berikutnya di atas surat perintah yang baru saja ia terima.
"FATIMAH. USIA 7 TAHUN. PELANGGARAN: BERTANYA 'KENAPA?' KEPADA PEJABAT NEGERI SEBANYAK 47 KALI."
Twist pertama:
Petrus menggenggam surat itu. Tangannya bergetar. Bukan gemetar takut—tapi gemetar karena untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia tidak bisa menemukan alasan di kepalanya untuk membenarkan perintah ini.
Ia pergi ke rumah Kepala Negeri. Melewati koridor yang dindingnya dihiasi ribuan patung tanah liat—bekas terpidana yang kini menjadi pajangan. Patung-patung itu tidak pernah membusuk. Tidak pernah hancur. Mereka hanya diam, dengan mulut terbuka lebar, seperti hendak berteriak di dalam tanah liat yang mengeras.
"Kau ragu?" tanya Kepala Negeri. Seorang perempuan tua dengan satu mata buta dan satu tangan dari logam. "Petrus, kau tahu aturan. Di negeri tanpa Tuhan, satu-satunya dosa adalah bertanya. Karena pertanyaan adalah bibit Tuhan. Dan kita sudah sepakat: tidak ada Tuhan di sini."
"Tapi dia anak kecil," bisik Petrus. "Dia belum mengerti."
"Anak kecil justru paling berbahaya. Mereka belum belajar takut. Mereka masih punya rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu adalah neraka yang berjalan di bumi."
Petrus terdiam. Ia menatap mata Kepala Negeri yang tinggal satu itu. Mata yang tidak berkedip. Mata yang sudah melihat terlalu banyak kematian hingga kehilangan kemampuan untuk melihat manusia.
"Kalau aku menolak?"
Kepala Negeri tersenyum. Senyum yang tidak membawa kehangatan. "Kau tahu sendiri, Petrus. Di negeri ini, algojo yang menolak tugas akan menjadi terpidana berikutnya."
Petrus berjalan keluar dari ruangan itu. Di tangannya, surat perintah masih tergenggam. Di dalam dadanya, sesuatu yang sudah mati sejak lama mulai bergerak lagi. Rasa. Mungkin rasa iba. Mungkin rasa marah. Mungkin rasa bertanya—tentang mengapa negeri ini begitu takut pada pertanyaan kecil seorang anak.
Twist di dalam twist:
Fatimah tidak menangis saat Petrus datang menjemputnya dari penjara bawah tanah. Gadis kecil itu duduk bersila di lantai batu, menggambar dengan kapur di dinding sel. Gambarnya sederhana: sebuah lingkaran dengan dua titik di dalamnya.
"Itu mata," kata Fatimah sebelum Petrus membuka mulut. "Mata Tuhan."
Petrus berlutut agar wajahnya sejajar dengan Fatimah. "Tidak ada Tuhan di negeri ini, Nak."
"Itu yang orang dewasa bilang. Tapi aku tidak percaya." Fatimah menunjuk ke langit-langit sel yang retak. "Tadi malam aku lihat cahaya masuk lewat retakan itu. Cahaya tidak bisa masuk kalau tidak ada yang mengirimnya. Kan?"
Petrus tidak menjawab. Ia mengeluarkan tanah liat dari kantong kulit di pinggangnya—tanah liat yang akan ia gunakan untuk menyumpal mulut Fatimah. Tapi tangannya tidak bergerak. Tangannya seperti membatu sendiri.
"Paman Petrus," kata Fatimah. "Aku tahu Paman algojo. Aku tahu Paman akan menyumpal mulutku. Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya satu kali lagi? Biar genap 48 kali?"
Petrus mengangguk pelan.
Fatimah tersenyum. Senyum yang tidak memiliki sedikit pun rasa takut. "Kenapa Paman terlihat sangat sedih? Padahal Paman yang akan menghukumku, bukan aku yang menghukum Paman."
Pertanyaan itu seperti pisau. Menusuk tepat di celah tulang rusuk Petrus yang selama tiga puluh tahun ia kira sudah tidak berfungsi.
"Aku sedih," kata Petrus, "karena aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dan di negeri tanpa Tuhan, tidak ada yang bisa kumintai petunjuk."
Fatimah mengulurkan tangan mungilnya. Meraih jari Petrus yang kasar dan penuh kapalan. "Tuhan itu tidak perlu dicari, Paman. Dia ada di sini." Fatimah menunjuk dadanya sendiri. "Dia ada di mana-mana. Cuma orang dewasa yang sengaja buta supaya mereka bisa tega melakukan hal-hal jahat."
Plot twist di dalam plot twist di dalam plot twist:
Petrus tidak menyumpal mulut Fatimah. Ia melemparkan tanah liat itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Ia menggandeng tangan gadis kecil itu, berjalan keluar dari penjara, melewati barisan penjaga yang membeku karena tidak mengerti perintah mana yang harus diikuti. Petrus adalah algojo tertinggi. Tidak ada yang berani menghentikannya. Tapi juga tidak ada yang berani membiarkannya pergi.
Di gerbang kota, mereka bertemu dengan barisan tentara berseragam hitam. Di belakang tentara, Kepala Negeri berdiri di atas kereta kuda, satu matanya membara seperti bara api.
"Petrus," suara Kepala Negeri menggema. "Kau tahu konsekuensinya. Kini kau juga terpidana."
"Aku tahu," kata Petrus. "Aku bersedia."
Fatimah menggenggam erat tangan Petrus. "Paman tidak usah ikut aku. Lepaskan aku. Biar Paman selamat."
Petrus menunduk pada Fatimah. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia tersenyum. Senyum yang tulus, yang tidak ia sadari masih tersimpan di suatu sudut wajahnya. "Fatimah, sejak tadi kau yang mengajarkanku tentang Tuhan. Sekarang giliranku mengajarkan sesuatu padamu: Di negeri tanpa Tuhan, satu-satunya cara menghadirkan Tuhan adalah dengan berbuat seperti Tuhan. Dan Tuhan tidak akan pernah menyumpal mulut anak kecil yang bertanya."
Ia membalikkan badan menghadap barisan tentara. Ia membuka mulut lebar-lebar.
Lalu ia berteriak.
"RAKYAT NEGERI INI! DENGARKAN! TIDAK ADA HUKUM YANG LEBIH ADIL SELAIN HATI NURANI! TIDAK ADA KEKUASAAN YANG LEBIH SAH SELAIN KEBENARAN! DAN TIDAK ADA TUHAN YANG LEBIH NYATA SELAIN CINTA YANG KITA BERIKAN PADA MEREKA YANG TIDAK BERDAYA!"
Suaranya menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Patung-patung tanah liat di dinding koridor Kepala Negeri mulai retak. Bukan karena suara—tapi karena getaran dari dalam. Karena jiwa-jiwa yang terperangkap di dalam tanah liat itu merespons. Mereka mendengar. Mereka mengingat. Mereka ingin bicara.
Kepala Negeri memerintahkan tentaranya maju.
Tapi tentara tidak bergerak. Mereka saling berpandangan. Pedang mereka masih di sarung. Tombak mereka masih di tanah.
Kepala Negeri berteriak, "APA KALIAN TULI? TANGKAP MEREKA!"
Seorang tentara muda, yang wajahnya masih terlalu polos untuk menjadi algojo, melepas helmnya. "Ibu Kepala," katanya pelan. "Sejak kapan negeri ini melarang orang bertanya?"
Twist kelima (yang terakhir, tapi membuka awal baru):
Di tengah kebekuan itu, langit di atas Negeri Tanpa Tuhan tiba-tiba terbuka. Bukan terbuka seperti langit biasa—tapi sobek, seperti kain yang disobek dari ujung ke ujung. Dan dari sobekan itu, cahaya turun. Cahaya yang tidak menyilaukan, tapi hangat. Hangat seperti pelukan. Hangat seperti suara ibu yang membacakan dongeng sebelum tidur.
Fatimah menunjuk ke atas. "Itu dia, Paman Petrus. Tuhan."
Petrus menengadah. Air matanya jatuh. Bukan karena takut. Bukan karena bahagia. Tapi karena lega. Setelah tiga puluh tahun hidup di negeri yang mengajarkan bahwa Tuhan itu mati atau tidak pernah ada, kini ia melihat bukti: langit terbuka. Dan dari balik langit, sebuah tangan raksasa turun. Tangan itu tidak memegang pedang. Tidak memegang kitab. Tangan itu memegang sebuah buku catatan kecil, dengan sampul kertas minyak lusuh.
Tangan itu membuka buku. Membaca satu halaman. Lalu tersenyum.
"PETRUS," suara dari langit itu bergema, tapi hanya Petrus yang bisa mendengar. "KAU TIDAK PERLU MENCARIKU. AKU TIDAK PERNAH PERGI. YANG PERGI ADALAH KEYAKINAN MANUSIA BAHWA AKU ADA. HARI INI, KAU MENGEMBALIKAN KEYAKINAN ITU. BUKAN DENGAN MUKJIZAT. TAPI DENGAN MEMILIH UNTUK BERBUAT BAIK KETIKA TIDAK ADA YANG MENGAWASI."
Petrus tersungkur. Ia menangis tersedu-sedu. Fatimah memeluknya dari samping, kecil dan hangat.
Di belakang mereka, Kepala Negeri jatuh dari kudanya. Tubuhnya berubah menjadi tanah liat—bukan karena hukuman, tapi karena ia sendiri yang memilih untuk menjadi patung. Karena tanpa rasa takut dan tanpa kebencian, ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipegang. Dan tanah liat lebih mudah daripada mengakui bahwa selama puluhan tahun, ia telah salah.
Tentara-tentara itu melepas seragam hitam mereka satu per satu. Mereka mendekati Petrus. Mereka bertanya, "Apa yang harus kami lakukan sekarang?"
Petrus berdiri. Ia mengusap air matanya. Ia menatap Fatimah, yang tersenyum dengan senyum yang tidak pernah ia miliki—senyum seorang anak yang tahu bahwa dunia bisa berubah hanya dengan satu pertanyaan.
"Kita bangun negeri baru," kata Petrus. "Negeri dengan Tuhan. Tapi bukan Tuhan yang duduk di singgasana dan menghukum. Tuhan yang duduk di hati kita, dan bertanya—setiap hari, setiap saat—'Apakah kau sudah jadi manusia yang baik hari ini?'"
Fatimah mengangkat tangannya. "Aku punya usul untuk nama negeri baru!"
"Apa?"
"Negeri Bersama Tuhan. Bukan negeri tanpa. Karena Tuhan itu tidak suka tempat kosong."
Malam itu juga, di bekas Negeri Tanpa Tuhan, sekelompok kecil manusia mulai membersihkan patung-patung tanah liat. Mereka tidak menghancurkannya. Mereka hanya meluluhkannya—dengan air mata, dengan tawa, dengan cerita-cerita yang sudah terlalu lama dibungkam.
Dan di antara patung yang paling tua, yang sudah berdiri sejak Petrus masih kecil, sebuah suara kecil terdengar. Suara laki-laki paruh baya, serak karena tiga puluh tahun terdiam.
"Terima kasih," bisik patung itu. "Aku sudah lama ingin bertanya: apakah sekarang sudah aman untuk percaya?"
Petrus meletakkan tangannya di atas kepala patung itu. "Mulai sekarang, aman. Karena kita yang akan menjadi penjaga iman satu sama lain. Bukan algojo."
Langit malam itu tidak menangis. Tapi bintang-bintang terasa lebih dekat. Seperti Tuhan yang sedang mendekatkan telinga, mendengarkan doa pertama dari sebuah bangsa yang baru belajar bicara setelah terlalu lama diam.
---
Di atas bukit di luar kota, Fatimah duduk sendirian menggambar di pasir. Gambarnya bukan lingkaran dengan dua titik lagi. Tapi lingkaran dengan banyak titik—ratusan, ribuan titik, seperti bintang, seperti manusia, seperti pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah mati.
"Kamu cantik," kata Fatimah pada gambarnya.
Dan angin malam itu berbisik, "Kamu juga."
Bukan suara Tuhan.
Tapi suara dunia yang mulai percaya bahwa kebaikan itu mungkin, bahkan di negeri yang dulunya tanpa harapan.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar