Negeri yang Menanam Gelar
(Cerpen Komikal-Satirik Anak-Anak Hiperbolis dan Metaforikal)
Di balik Pegunungan Permen Karet, terdapat sebuah negeri bernama Sertifikasia.
Di sana orang-orang tidak menanam jagung.
Tidak menanam padi.
Tidak menanam semangka.
Mereka menanam gelar.
Ya, gelar.
Gelar tumbuh di pohon.
Doktor tumbuh di cabang bawah.
Profesor tumbuh di cabang atas.
Sementara gelar yang sangat panjang harus dipanen menggunakan helikopter.
Penduduk Sertifikasia sangat bangga.
Mereka berjalan sambil membawa sepuluh gelar.
Dua puluh gelar.
Empat puluh gelar.
Bahkan ada seekor kambing yang memiliki gelar lebih banyak daripada jumlah giginya.
Suatu hari, seekor anak bernama Dodo bertanya:
"Apa yang dilakukan gelar-gelar itu?"
Warga terdiam.
Mereka belum pernah memikirkannya.
Mereka hanya sibuk mengumpulkannya.
Malam itu, Dodo melihat seekor burung tua yang tak punya satu gelar pun.
Namun burung itu tahu kapan hujan datang.
Tahu cara menemukan jalan pulang.
Tahu cara membantu anak burung yang jatuh.
Dan Dodo mulai curiga:
mungkin ada perbedaan antara memiliki nama yang panjang dan menjadi berguna.
---
Pulau Para Kolektor Payung
(Tentang ketakutan yang berlebihan)
Di tengah Laut Cemas, ada sebuah pulau.
Namanya Pulau Siaga.
Penduduknya sangat takut hujan.
Mereka membeli payung.
Satu payung.
Dua payung.
Seratus payung.
Sepuluh ribu payung.
Mereka menyimpan payung di rumah.
Di dapur.
Di lemari.
Di bawah kasur.
Di dalam kulkas.
Di dalam payung lainnya.
Semakin banyak payung, semakin khawatir mereka.
"Bagaimana kalau hujan?"
"Tapi kita punya sepuluh ribu payung."
"Bagaimana kalau hujannya sangat hujan?"
Akhirnya seluruh pulau tertutup payung.
Matahari tak terlihat.
Bunga-bunga tak tumbuh.
Anak-anak tak bisa bermain.
Lalu seekor katak datang.
"Hujan itu menyenangkan."
Penduduk marah.
Katak itu lalu menari di bawah hujan.
Melompat.
Bernyanyi.
Tertawa.
Dan untuk pertama kalinya, penduduk sadar bahwa mereka begitu sibuk bersiap menghadapi hujan, hingga lupa menikmati cuaca.
---
Kerajaan Para Pemburu Bintang
(Tentang ambisi tanpa akhir)
Di Kerajaan Astrolandia, semua orang ingin memiliki bintang.
Mula-mula satu.
Lalu dua.
Lalu seratus.
Lalu jutaan.
Mereka menangkap bintang dengan jaring.
Dengan ketapel.
Dengan kapal udara.
Dengan sendok raksasa.
Setiap malam, langit menjadi semakin kosong.
Dan istana menjadi semakin penuh.
Bintang-bintang ditumpuk di gudang.
Ditumpuk di loteng.
Ditumpuk di ruang makan.
Sampai suatu malam, langit benar-benar gelap.
Tak ada cahaya.
Tak ada kilau.
Tak ada arah.
Penduduk panik.
"Apa yang terjadi?"
Seorang anak menjawab:
"Kalian menyimpan semua bintang untuk diri sendiri."
"Jadi sekarang tak ada yang tersisa untuk menerangi dunia."
Malam itu, mereka mengembalikan bintang-bintang.
Dan langit kembali bernapas.
---
Pabrik Pembuat Pendakian
(Tentang kesuksesan sebagai tujuan tunggal)
Di Kota Tangga, berdiri pabrik terbesar di dunia.
Pabrik itu membuat tangga.
Tangga kecil.
Tangga besar.
Tangga emas.
Tangga berlian.
Tangga yang bisa bernyanyi opera.
Semua orang membeli tangga.
Mereka memanjat.
Terus memanjat.
Semakin tinggi.
Semakin tinggi.
Semakin tinggi.
Tak seorang pun tahu apa yang ada di atas.
Tetapi semua takut tertinggal.
Maka mereka terus naik.
Suatu hari, seekor kura-kura melihat ke atas.
"Ada apa di sana?"
"Tidak tahu."
"Lalu mengapa naik?"
"Karena semua orang naik."
Kura-kura itu mengangguk.
Lalu pergi memancing.
Sore itu, ia mendapat teman baru, menikmati matahari terbenam, dan makan semangka.
Sementara para pendaki masih memanjat.
Mereka bahkan lupa mengapa mereka mulai memanjat.
---
Kota yang Memelihara Gema
(Tentang pendapat yang diwariskan tanpa dipikirkan)
Di Kota Gema, setiap rumah memelihara gema.
Gema-gema itu lucu.
Mereka selalu mengulang apa yang didengar.
"Rumput itu biru!"
"Rumput itu biru!"
"Rumput itu biru!"
Tak ada yang memeriksa.
Tak ada yang melihat.
Tak ada yang bertanya.
Karena gema terdengar sangat yakin.
Suatu hari, seorang anak perempuan bernama Rara pergi ke padang rumput.
Ia melihat rumput.
Rumput itu hijau.
Ketika ia kembali, ia berkata:
"Rumput sebenarnya hijau."
Seluruh kota terkejut.
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku melihatnya."
Malam itu, seluruh gema sakit perut.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berbicara setelah melihat sendiri.
---
Raja yang Mengumpulkan Besok
(Tentang hidup yang selalu ditunda)
Raja Nantilah Pertama memiliki hobi yang aneh.
Ia mengumpulkan hari esok.
Jika ada pekerjaan:
"Besok."
Jika ada perjalanan:
"Besok."
Jika ada permainan:
"Besok."
Jika ada pesta:
"Besok."
Istana dipenuhi hari esok.
Bertumpuk sampai langit-langit.
Suatu pagi, pelayan bertanya:
"Yang Mulia, kapan kita memakai semua hari esok ini?"
Raja tertawa.
"Nanti."
Tahun berlalu.
Gunung hari esok semakin besar.
Sampai akhirnya istana roboh karena terlalu banyak besok.
Di antara reruntuhan, Raja menemukan sesuatu yang langka.
Sesuatu yang selama ini tak pernah ia kumpulkan.
Hari ini.
Ternyata ukurannya kecil.
Namun cukup luas untuk memulai hidup.
---
Sirkus Para Gajah Transparan
(Tentang hal-hal penting yang tak terlihat)
Sirkus terbesar di dunia datang ke kota.
Mereka memiliki:
Singa yang bisa bermain biola.
Badak yang menulis puisi.
Jerapah yang menyetir kapal selam.
Namun pertunjukan paling hebat adalah:
Gajah Transparan.
Masalahnya, tak seorang pun bisa melihatnya.
Penonton kecewa.
"Itu bukan pertunjukan!"
Tetapi seorang anak berkata:
"Aku bisa melihat jejaknya."
Ia menunjuk rumput yang tertekan.
Air yang bergoyang.
Daun yang bergerak.
Tiba-tiba semua mengerti.
Tidak semua hal penting selalu tampak mencolok.
Seperti persahabatan.
Kepercayaan.
Kebaikan.
Atau seseorang yang diam-diam membantu saat tak ada yang melihat.
Dan malam itu, Gajah Transparan mendapat tepuk tangan paling meriah.
Meskipun tak seorang pun benar-benar melihatnya. 🐘✨
•••
KOTA YANG KEHABISAN LANGIT
Di ujung dunia, tepat di sebelah kiri Hari Selasa dan sedikit di atas awan rasa mangga, terdapat sebuah kota bernama Langitjaya.
Kota itu terkenal karena memiliki langit terbaik di dunia. Langitnya biru. Langitnya luas. Langitnya penuh layang-layang, awan berbentuk dinosaurus, dan burung-burung yang suka menyanyikan lagu tentang kentang rebus.
Namun, suatu hari, Wali Kota Gempalumum mengumumkan sesuatu.
"Aku punya ide hebat!"
Semua warga berkumpul. Seekor kambing memakai jas. Seekor semangka memakai sepatu. Bahkan dua buah sendok datang bergandengan tangan.
Wali kota berdiri di atas tumpukan puding setinggi gedung.
"Kita akan menjual langit!"
Seluruh kota bersorak. Mereka tidak tahu maksudnya. Akan tetapi, kata "hebat" terdengar meyakinkan.
"Kita akan membaginya menjadi petak-petak!"
"Lalu menjualnya!"
"Makin banyak yang membeli langit, makin makmur kita!"
Tepuk tangan meledak. Sampai beberapa awan terpental ke negara tetangga.
---
Maka proyek besar dimulai. Para insinyur membangun tangga hingga ke awan. Para akuntan menghitung jumlah biru. Para pengacara membuat kontrak untuk matahari. Para arsitek memasang pagar di udara.
Tak lama kemudian, langit dibagi menjadi jutaan petak.
Petak Nomor 1.
Petak Nomor 2.
Petak Nomor 7.543.882.
Bahkan ada petak khusus untuk awan yang bentuknya mirip bakso.
Orang-orang berlomba membeli.
"Aku punya dua belas hektar senja!"
"Aku punya tiga puluh kilometer pelangi!"
"Aku memiliki hak eksklusif atas awan berbentuk kelinci!"
Mereka sangat bangga. Mereka mencetak sertifikat. Membingkainya. Memajangnya. Menciumnya sebelum tidur.
---
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Anak-anak berhenti bermain layang-layang. Karena layang-layang mereka sering masuk wilayah pribadi.
Burung-burung menjadi bingung. Karena setiap kali terbang, mereka harus meminta izin kepada tiga belas pemilik langit.
Awan kehilangan arah. Hujan tersesat. Pelangi terjebak administrasi. Bahkan bulan harus mengisi formulir setiap kali ingin muncul.
Segalanya menjadi rumit. Namun, para pemilik langit tetap tersenyum. Mereka merasa sangat kaya.
---
Suatu sore, seorang anak perempuan bernama Lusi sedang duduk di atas bukit.
Ia tidak punya sepetak langit. Tidak punya sertifikat. Tidak punya tanda tangan matahari. Tidak punya izin pelangi. Ia hanya membawa roti dan seekor kumbang hijau.
Lusi memandang ke atas. Langit terlihat aneh. Penuh garis. Penuh pagar. Penuh papan nama. Seperti kue ulang tahun yang dipotong menjadi terlalu banyak bagian.
Lalu, ia bertanya kepada kumbangnya.
"Kumbang, apakah langit benar-benar bisa dimiliki?"
Kumbang itu tidak menjawab. Ia sedang sibuk menjadi kumbang.
---
Keesokan harinya, terjadi kekacauan. Angin besar datang.
Angin itu tidak bisa membaca. Ia tidak tahu mana Petak Nomor 1 dan mana Petak Nomor 7.543.882.
Ia meniup semua pagar. Semua papan. Semua sertifikat. Semua cap resmi. Semuanya beterbangan. Melayang. Berputar. Berhamburan seperti dedaunan.
Warga panik.
"Langitku hilang!"
"Langitku terbang!"
"Itu awan milikku!"
"Itu warna biruku!"
Seluruh kota berlarian mengejar kertas.
Mereka mengejar sampai ke bukit. Sampai ke sungai. Sampai ke gunung. Sampai ke tempat mereka lupa mengapa berlari.
---
Saat matahari terbenam, semua orang kelelahan.
Mereka duduk bersama. Diam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tak ada yang membicarakan sertifikat. Tak ada yang membicarakan kepemilikan. Tak ada yang membicarakan petak langit.
Mereka hanya melihat senja. Senja yang sama. Untuk semua orang.
Tiba-tiba seekor kambing yang memakai jas berkata,
"Mungkin langit bukan sesuatu yang menjadi lebih baik ketika dimiliki."
Seekor semangka bersepatu mengangguk.
"Mungkin beberapa hal menjadi indah justru karena dibagi."
Semua terdiam.
Lalu seorang sendok menangis haru.
Tak seorang pun tahu alasannya.
---
Sejak hari itu, Langitjaya berhenti menjual langit. Mereka kembali menerbangkan layang-layang. Burung-burung kembali bernyanyi. Awan kembali berbentuk dinosaurus. Dan bulan tak perlu lagi mengisi formulir.
Sementara Wali Kota Gempalumum?
Ia membuka toko puding.
Ternyata ia jauh lebih pandai membuat puding daripada mengatur langit. Dan itu membuatnya jauh lebih bahagia.
---
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak masih menceritakan kisah itu. Tentang kota yang pernah menjual langit. Dan bagaimana seluruh penduduknya nyaris lupa bahwa beberapa hal paling besar di dunia—seperti langit, persahabatan, tawa, dan sore yang tenang—bukanlah benda yang bisa disimpan di lemari.
Karena begitu dimasukkan ke dalam kotak, mereka sering berhenti menjadi dirinya sendiri.
•••
KERAJAAN PENGGARIS YANG MENGUKUR SEGALANYA
(Satire tentang obsesi mengukur nilai segala sesuatu)
Di Negeri Garis Lurus, raja memerintahkan:
"Semua hal harus diukur!"
Maka para penggaris bekerja keras.
Mereka mengukur pohon.
Mereka mengukur awan.
Mereka mengukur tawa.
Mereka mengukur mimpi.
Mereka bahkan mengukur panjang hari Minggu.
"Berapa panjang kebahagiaan?" tanya seorang anak.
Para ilmuwan segera bekerja.
Mereka membangun menara.
Membangun laboratorium.
Membangun kalkulator sebesar gunung.
Tiga puluh tahun kemudian, mereka menghasilkan angka:
47,3 sentimeter.
Semua bertepuk tangan.
Kecuali si anak.
"Tapi aku masih tidak tahu rasanya bahagia."
Seluruh negeri terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, penggaris tampak sedikit bengkok.
---
KOTA PARA BADUT SERIUS
(Satire tentang kehilangan kemampuan tertawa pada diri sendiri)
Di Kota Hidung Merah, semua orang adalah badut.
Namun mereka sangat serius.
Mereka memakai sepatu sepanjang kereta api.
Dasi sepanjang sungai.
Topi setinggi mercusuar.
Tetapi tak seorang pun boleh tertawa.
"Itu tidak profesional," kata Walikota Badut.
Maka mereka berjalan kaku.
Jatuh dengan serius.
Terpeleset dengan serius.
Tersangkut pintu dengan serius.
Suatu hari, seekor anak anjing melihat badut terguling ke kolam puding.
Ia tertawa.
Lalu anak lain ikut tertawa.
Lalu seluruh kota tertawa.
Ternyata mereka bukan tertawa pada badut itu.
Mereka tertawa bersama badut itu.
Dan sejak saat itu, sepatu-sepatu panjang terasa lebih ringan.
---
PULAU PARA KOLEKTOR KUNCI
(Satire tentang kekuasaan tanpa tujuan)
Di Pulau Kuncilandia, semua orang mengumpulkan kunci.
Kunci emas.
Kunci perak.
Kunci berlian.
Kunci yang bisa bernyanyi.
Kunci yang bisa menari salsa.
Orang terkaya memiliki empat juta kunci.
Ia sangat bangga.
Suatu hari seekor burung bertanya:
"Kunci untuk apa?"
Orang itu membeku.
Ia berpikir keras.
Sangat keras.
Begitu keras hingga kumisnya tumbuh lumut.
Ternyata tak seorang pun memiliki pintu.
Mereka hanya mengumpulkan kunci.
Dan semakin banyak kunci mereka miliki, semakin sedikit yang bisa mereka buka.
---
AKADEMI PARA BURUNG MERAK
(Satire tentang pamer dan pencitraan)
Di Akademi Merak Agung, pelajaran utama adalah:
Cara Tampak Menakjubkan.
Murid belajar:
Cara Mengembang Bulu Tingkat Tinggi.
Cara Berpose Saat Tidak Ada yang Melihat.
Cara Berjalan Seolah Diiringi Orkestra.
Cara Terlihat Sibuk Saat Tidak Melakukan Apa-Apa.
Mereka mendapat nilai sempurna.
Medali sempurna.
Piagam sempurna.
Sertifikat kesempurnaan sempurna.
Namun suatu hari datang hujan.
Semua bulu melelempem.
Semua pose hilang.
Semua sertifikat basah.
Seekor burung pipit kecil yang tak pernah masuk akademi tetap bernyanyi seperti biasa.
Dan seluruh taman lebih suka mendengarnya.
---
PABRIK PEMBUAT GEMA
(Satire tentang mengulang tanpa memahami)
Di sebuah lembah berdiri Pabrik Gema.
Cara kerjanya sederhana.
Seseorang berteriak:
"Mentimun adalah masa depan!"
Pabrik menjawab:
"MENTIMUN ADALAH MASA DEPAN!"
Lalu seluruh lembah ikut berteriak.
"MENTIMUN ADALAH MASA DEPAN!"
Tak ada yang tahu artinya.
Tetapi semua mengulanginya.
Suatu hari seorang kura-kura tua bertanya:
"Mengapa?"
Pabrik berhenti.
Lembah berhenti.
Burung berhenti.
Angin berhenti.
Karena "mengapa" adalah satu-satunya kata yang tidak bisa dipantulkan gema.
---
ISTANA DARI SABUN
(Satire tentang hal-hal yang tampak megah tetapi rapuh)
Seekor katak membangun istana.
Bukan dari batu.
Bukan dari kayu.
Melainkan dari gelembung sabun.
Istana itu indah.
Menara berkilau.
Gerbang berkilau.
Jendela berkilau.
Semua datang mengagumi.
"Wah!"
"Luar biasa!"
"Spektakuler!"
Katak menjadi terkenal.
Ia memberi tur keliling.
Menjual kartu pos.
Menjual miniatur.
Menjual kursus membangun gelembung.
Lalu datang angin kecil.
PLOP.
Istana lenyap.
Seluruh kerajaan ternganga.
Katak duduk di rumput.
Lama sekali.
Lalu ia tertawa.
"Aku sibuk membangun sesuatu yang tampak kuat."
"Padahal yang kuat adalah kemampuan membangun lagi."
Dan ia mulai meniup gelembung baru.
---
LOMBA TERBANG PARA IKAN BATU
(Satire tentang mengejar sesuatu hanya karena sedang populer)
Suatu hari, ikan-ikan batu mendengar kabar:
"Terbang adalah masa depan!"
Mereka panik.
Semua harus terbang.
Mereka membeli sayap.
Membeli balon.
Membeli roket.
Membeli kursus "Terbang Dalam 7 Menit."
Mereka melompat.
Jatuh.
Melompat lagi.
Jatuh lagi.
Seorang ikan batu tua tetap di dasar sungai.
"Aku suka berenang."
Semua menertawakannya.
Setahun kemudian, demam terbang berakhir.
Kini semua ingin menjadi penyelam profesional.
Ikan tua itu tersenyum.
Ia masih berenang.
Sama seperti sebelumnya.
Karena tidak setiap ikan harus menjadi burung untuk menjadi ikan yang baik.
---
KOTA PEMBURU PELANGI
(Satire tentang selalu mengejar yang jauh dan melupakan yang dekat)
Penduduk Kota Ujung Langit terobsesi menangkap pelangi.
Mereka membuat jaring.
Membuat meriam.
Membuat kapal.
Membuat mesin pengejar warna.
Setiap kali pelangi muncul, mereka berlari.
Pelangi berpindah.
Mereka berlari lagi.
Pelangi berpindah lagi.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Suatu hari, seorang anak kelelahan.
Ia duduk di rumput.
Di sana ia menemukan:
seekor kumbang mengilap,
sekuntum bunga liar,
dan teman baru untuk bermain.
Ketika pulang, orang-orang bertanya:
"Apakah kau berhasil menangkap pelangi?"
Anak itu menggeleng.
"Tidak."
"Tapi aku menemukan banyak warna."
Dan mungkin itulah yang selama ini mereka cari. 🌈🪲🌼
•••
PARLEMEN BESAR PARA BALON
(Komikal-Satirik Anak-Anak Hiperbolis dan Metaforikal)
Di Negeri Karetopia, semua pemimpin adalah balon.
Ada Balon Stroberi.
Balon Nanas.
Balon Kumis.
Balon yang bentuknya menyerupai pendapat.
Suatu hari mereka mengadakan sidang darurat.
"Ada masalah besar!" teriak Balon Stroberi.
"Masalah apa?"
"Kita belum punya masalah besar!"
Seluruh parlemen panik.
Maka dibentuklah Komisi Pencarian Masalah.
Tiga ribu balon bekerja siang malam.
Mereka mencari masalah di bawah karpet.
Di dalam lemari.
Di balik pelangi.
Di dalam donat.
Akhirnya mereka menemukan seekor semut sedang membawa remah biskuit.
"Itu dia!"
"Itulah masalahnya!"
Dalam seminggu, semut itu menjadi berita nasional.
Dalam dua minggu, menjadi ancaman galaksi.
Dalam tiga minggu, menjadi ancaman antargalaksi.
Padahal semut itu hanya sedang sarapan.
---
PANGERAN PENGUMPUL TANGAN
Di Kerajaan Tepuk-Tepuk, hidup seorang pangeran.
Ia tidak mengumpulkan perangko.
Ia tidak mengumpulkan batu akik.
Ia mengumpulkan tepuk tangan.
Setiap pagi ia berkeliling kota.
"Lihat aku melompat!"
Warga bertepuk tangan.
"Lihat aku bersin!"
Warga bertepuk tangan.
"Lihat aku melihat orang bertepuk tangan!"
Warga bertepuk tangan lebih keras.
Akhirnya ia memiliki gudang raksasa berisi jutaan tepuk tangan.
Suatu malam, saat kota tertidur, ia masuk ke gudangnya.
Ia ingin bermain dengan tepuk tangan itu.
Namun tepuk tangan hanya berbunyi.
Tidak bisa diajak bicara.
Tidak bisa diajak tertawa.
Tidak bisa bermain petak umpet.
Pangeran duduk sendirian.
Di tengah gunungan suara.
Dan untuk pertama kalinya, ia mendengar kesunyian.
---
AKADEMI PARA JERAPAH PENDEK
Di sebuah padang rumput, semua jerapah berlomba memanjangkan leher.
Mereka memasang pegas.
Memasang derek.
Memasang menara air.
Memasang roket.
Leher mereka menjulang hingga menembus awan.
"Aku paling tinggi!"
"Aku lebih tinggi!"
"Aku bahkan bisa menjilat komet!"
Mereka sangat bangga.
Sampai seekor anak jerapah bertanya:
"Untuk apa?"
Semua terdiam.
Salah satu menjawab:
"Karena yang lain melakukannya."
Anak jerapah itu lalu bermain dengan kupu-kupu.
Lehernya tetap pendek.
Tetapi ia melihat lebih banyak bunga daripada seluruh akademi.
---
KOTA CERMIN BERJALAN
Di Kota Pantul-Pantul, setiap warga membawa cermin.
Cermin kecil.
Cermin besar.
Cermin beroda.
Cermin bersayap.
Cermin yang punya cermin sendiri.
Mereka berjalan sambil melihat diri sendiri.
Mereka makan sambil melihat diri sendiri.
Mereka bahkan bermimpi tentang diri sendiri.
Suatu hari, semua cermin retak bersamaan.
"Kita tamat!" teriak warga.
"Kita tidak bisa melihat dunia!"
Seekor burung hantu kebingungan.
"Memangnya selama ini kalian melihat dunia?"
Warga berpikir.
Lama sekali.
Begitu lama hingga beberapa tumbuh lumut.
---
PABRIK PEMBUAT MAHKOTA
Di Kota Gemerlap, ada pabrik yang membuat mahkota.
Awalnya satu mahkota per orang.
Lalu dua.
Lalu sepuluh.
Lalu seribu.
Lalu sejuta.
Tak lama kemudian, mahkota menjadi lebih besar daripada kepala.
Lalu lebih besar daripada rumah.
Lalu lebih besar daripada kota.
Warga tak bisa bergerak.
Tak bisa bermain.
Tak bisa berlari.
Tak bisa melihat langit.
Namun mereka tetap bangga.
"Lihat mahkotaku!"
teriak seseorang yang bahkan tak bisa melihat ujung mahkotanya.
Seekor tikus lewat sambil membawa keju.
Ia tidak punya mahkota.
Tidak punya gelar.
Tidak punya istana.
Tetapi ia bisa bergerak ke mana saja.
Tikus itu tertawa kecil.
Lalu pergi menikmati sore.
---
ORKESTRA PARA SENDOK EMAS
Semua sendok di dunia ingin menjadi sendok emas.
Mereka mengecat diri.
Memoles diri.
Mengilapkan diri.
Mengikuti seminar "Menjadi Sendok yang Menginspirasi."
Tak ada yang mau menjadi sendok biasa.
Akibatnya, tak ada yang mau dipakai makan.
Makanan menumpuk.
Sup menumpuk.
Bakso menumpuk.
Mie menumpuk.
Dunia hampir tenggelam oleh kuah soto.
Lalu datang satu sendok kayu tua.
Ia tidak mengilap.
Tidak terkenal.
Tidak punya pengikut.
Namun ia mulai menyendok sup.
Lalu nasi.
Lalu bubur.
Perlahan dunia kembali normal.
Dan semua sadar:
sendok yang sibuk menjadi emas kadang lupa menjadi sendok.
---
GUNUNG YANG MAKAN PETA
Ada sebuah gunung yang sangat suka peta.
Ia memakan peta desa.
Peta kota.
Peta negara.
Peta dunia.
Peta tata surya.
Akhirnya ia mengetahui semua jalan yang ada.
Namun ia tak pernah pergi ke mana-mana.
"Kenapa?" tanya seekor kelinci.
Gunung menjawab:
"Aku sedang mempersiapkan perjalanan."
"Sejak kapan?"
"Sejak tiga ratus tahun lalu."
Kelinci mengangguk.
Lalu melompat ke bukit sebelah.
Dan tanpa sadar, ia telah melihat lebih banyak dunia daripada gunung yang memakan semua peta.
---
PASAR PENJUAL BAYANGAN
Di Kota Senja, orang-orang memperjualbelikan bayangan.
Ada bayangan besar.
Bayangan gagah.
Bayangan pintar.
Bayangan keren.
Bayangan sukses.
Semua orang sibuk mempercantik bayangannya.
Tetapi tidak dirinya.
Suatu hari matahari tertutup awan.
Seluruh bayangan lenyap.
Panik melanda.
Tangis pecah.
Pasar runtuh.
Harga bayangan jatuh.
Seekor anak kecil bertanya:
"Kalau bayangannya hilang, apakah orangnya juga hilang?"
Tak seorang pun bisa menjawab.
Karena selama ini mereka lebih mengenal bayangan mereka daripada diri mereka sendiri.
Dan awan di atas sana tertawa pelan seperti badut tua yang akhirnya mengerti leluconnya sendiri. 🌥️🎪✨
•••
KEMENTERIAN PENGUMPULAN AWAN
(Satire tentang birokrasi dan obsesi mengatur segalanya)
Di Negeri Langit Berkas, awan tidak boleh mengapung sembarangan.
Setiap awan harus memiliki:
Surat Izin Menggumpal.
Kartu Identitas Uap.
Sertifikat Putih Resmi.
Lisensi Hujan Tingkat Dasar.
Seekor awan kecil datang ke kantor.
"Aku ingin melintas."
Petugas badak membuka lemari.
Lalu lemari lain.
Lalu lemari lain lagi.
Lalu sebuah lemari yang khusus menyimpan kunci lemari.
"Tolong kembali tahun depan."
"Tapi aku cuma mau lewat."
"Justru itu."
Akhirnya awan itu menunggu terlalu lama.
Ia berubah menjadi hujan.
Kemudian sungai.
Kemudian laut.
Kemudian awan lagi.
Ketika kembali ke kantor, berkasnya masih diproses.
---
REPUBLIK IKAN EMAS
(Satire tentang popularitas dan perhatian)
Di sebuah akuarium raksasa, tinggal jutaan ikan emas.
Setiap pagi mereka berlomba siapa yang paling berkilau.
Ada yang menempelkan berlian.
Ada yang mengecat sisik.
Ada yang membawa lampu sorot sendiri.
Seekor ikan bahkan memasang mercusuar di atas kepalanya.
"Wah!" teriak semua.
"Dia terkenal!"
"Tapi dia melakukan apa?"
Tak ada yang tahu.
"Tidak penting."
"Yang penting berkilau."
Akhirnya seluruh akuarium menjadi sangat terang.
Begitu terang hingga tak ada lagi yang bisa melihat siapa pun.
Mereka berhasil menarik perhatian.
Lalu kehilangan kemampuan memperhatikan.
---
PABRIK PEMBUAT MUSUH
(Satire tentang konflik yang diciptakan sendiri)
Di Kota Kerupuk, hidup damai terlalu lama.
Warga mulai bosan.
"Kita harus bertengkar tentang sesuatu."
Mereka mendirikan pabrik.
Pabrik itu membuat musuh.
Hari pertama, mesin menghasilkan:
Kentang Kiri.
Hari kedua:
Kentang Kanan.
Tak ada perbedaan.
Keduanya kentang.
Tetapi warga segera memilih kubu.
"Kentang kiri lebih bulat!"
"Kentang kanan lebih berwibawa!"
Perdebatan berlangsung selama sembilan musim hujan.
Akhirnya seorang anak bertanya:
"Kenapa mereka bertengkar?"
Orang dewasa berpikir keras.
Sangat keras.
Begitu keras hingga beberapa mengeluarkan asap.
Namun tak seorang pun ingat lagi.
Pabrik telah berhasil.
Musuhnya tidak penting.
Yang penting adalah gaduhnya.
---
PANGERAN KOLEKTOR PETA
(Satire tentang pengetahuan tanpa pengalaman)
Pangeran Atlas mengoleksi peta.
Peta gunung.
Peta laut.
Peta hutan.
Peta bintang.
Peta peta.
Ia memiliki jutaan peta.
Istana penuh sesak.
Suatu hari seorang burung pipit bertanya:
"Pernahkah Tuan melihat gunung?"
"Belum."
"Laut?"
"Belum."
"Hutan?"
"Belum."
"Lalu mengapa mengumpulkan semua peta ini?"
Pangeran tersenyum bangga.
"Aku sedang mempersiapkan perjalanan."
"Kapan berangkat?"
Pangeran membuka kalender.
Hari keberangkatan terus dipindahkan.
Dari Senin ke Selasa.
Dari Selasa ke Kamis.
Dari Kamis ke Tahun Depan.
Dari Tahun Depan ke Nanti Saja.
Sementara itu, burung pipit sudah mengelilingi dunia seratus kali.
---
SEKTE PEMUJA JAM
(Satire tentang kesibukan)
Di Kota Detik, semua orang menyembah jam.
Jam tangan.
Jam dinding.
Jam saku.
Jam raksasa.
Jam mini.
Jam untuk melihat jam lainnya.
Mereka sangat sibuk.
Berlari ke sana.
Berlari ke sini.
Berlari ke tempat mereka berlari sebelumnya.
Seekor kura-kura bertanya:
"Sedang apa kalian?"
"Kami tidak tahu!"
"Tapi kami terlambat melakukannya!"
Mereka berlari lebih cepat.
Lebih cepat.
Lebih cepat.
Sampai suatu hari mereka berhasil mengejar waktu.
Waktu berhenti.
Seluruh kota bersorak.
"Berhasil!"
Lalu seseorang bertanya:
"Sekarang kita mau ke mana?"
Tak ada yang tahu.
Karena selama ini mereka hanya sibuk berlari.
---
UNIVERSITAS GELAR TAK TERLIHAT
(Satire tentang status dan simbol)
Di atas Gunung Sertifikat berdiri Universitas Gelar Tak Terlihat.
Mahasiswanya belajar keras.
Empat tahun.
Delapan tahun.
Lima belas tahun.
Tiga puluh dua tahun.
Ketika lulus, mereka memperoleh gelar baru:
Maha-Ultra-Profesor-Agung-Galaktik.
Masalahnya, gelarnya tak terlihat.
Sama sekali.
Tetapi semua orang berpura-pura melihatnya.
"Wah!"
"Hebat sekali!"
"Gelarnya bersinar!"
"Warnanya indah!"
Padahal tak ada apa-apa.
Suatu hari seorang anak berkata:
"Aku tidak melihat apa pun."
Seluruh aula terdiam.
Lalu seorang nenek tersenyum.
"Akhirnya ada yang melihat dengan benar."
---
HUTAN PARA BURUNG BEO
(Satire tentang mengulang tanpa berpikir)
Di Hutan Seribu Echo, hidup jutaan burung beo.
Setiap kali satu burung berbicara, semua mengulanginya.
"Awan itu hijau!"
"Awan itu hijau!"
"Awan itu hijau!"
Padahal awannya biru.
Tetapi semakin banyak yang mengulang, semakin benar kedengarannya.
Suatu hari seekor burung kecil bertanya:
"Apakah ada yang pernah melihat sendiri?"
Seluruh hutan sunyi.
Sunyi sekali.
Karena untuk pertama kalinya mereka harus berpikir sebelum mengulang.
Dan itu jauh lebih sulit daripada berkicau.
---
KOTA PENJUAL MIMPI INSTAN
(Satire tentang jalan pintas)
Di Kota Permen Kilat, ada toko terkenal:
Mimpi Instan 5 Menit.
Mau menjadi pelukis?
Lima menit.
Astronot?
Lima menit.
Penyihir?
Lima menit.
Filsuf?
Bonus dua menit.
Warga sangat senang.
Tak ada yang mau belajar.
Tak ada yang mau berlatih.
Tak ada yang mau gagal.
Akhirnya kota dipenuhi:
pelukis yang tak pernah melukis,
astronot yang takut tangga,
penyihir yang lupa mantra,
dan filsuf yang tak suka berpikir.
Namun di ujung kota, seekor kura-kura tua terus berjalan pelan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Ketika semua mimpi instan meleleh seperti permen hujan, hanya langkah-langkah kecilnya yang masih bertahan.
Dan kura-kura itu berkata:
"Keajaiban yang tumbuh pelan biasanya lebih sulit dicabut angin." 🌱🐢✨
•••
BANK PENYIMPAN TEPUK TANGAN
Di Kota Gemuruh Manis, orang-orang tidak menabung uang.
Mereka menabung tepuk tangan.
Setiap kali seseorang melakukan sesuatu, ia mendapat tepuk tangan.
Menyapu halaman? Tepuk tangan.
Mengancingkan baju? Tepuk tangan.
Menguap dengan elegan? Dua ember tepuk tangan.
Segera seluruh kota dipenuhi gudang.
Gudang tepuk tangan.
Peti tepuk tangan.
Brankas tepuk tangan.
Ada yang begitu kaya, ia memiliki tujuh puluh tiga gunung tepuk tangan.
Suatu hari, seekor anak tupai bertanya:
"Lalu setelah itu?"
"Setelah apa?"
"Setelah semua tepuk tangan terkumpul?"
Warga terdiam.
Mereka membuka brankas terbesar.
Isinya:
BRAK! BRAK! BRAK!
Suara kosong bergema ke mana-mana.
Tak bisa dimakan.
Tak bisa dipeluk.
Tak bisa diajak bermain.
Ternyata mereka telah mengumpulkan gema, lalu mengira itu kebahagiaan.
---
KEBUN WORTEL YANG INGIN MENJADI HUTAN
Di sebuah lembah, hiduplah sebatang wortel.
Ia sedih.
"Aku kecil."
Lalu ia melihat pohon beringin.
"Aku ingin sebesar itu."
Maka wortel itu memakai sepatu jangkung.
Lalu menara.
Lalu derek.
Lalu roket.
Ia tumbuh menjulang hingga menusuk awan.
Semua wortel bertepuk tangan.
"Lihat!"
"Ia berhasil!"
Namun saat hujan turun, akar wortel itu ternyata tetap kecil.
Angin datang.
WUSSSSS!
Wortel raksasa roboh.
Pohon beringin tetap berdiri.
Seekor cacing berkata:
"Yang membuat pohon tinggi bukan puncaknya."
"Tetapi apa yang diam-diam tumbuh di bawah."
Seluruh kebun mendadak hening.
Kecuali kubis.
Kubis sedang berdebat dengan pelangi.
---
PASAR PENJUAL MASA DEPAN
Di Pasar Hari Esok, orang-orang menjual masa depan.
"Lima kilogram mimpi sukses!"
"Tiga ember ketenaran!"
"Sepuluh karung kemenangan!"
Pembeli berebut.
Mereka membeli masa depan untuk lima puluh tahun ke depan.
Seratus tahun ke depan.
Lima ratus tahun ke depan.
Sampai rak-rak habis.
Seorang anak kecil datang.
"Ada yang dijual untuk hari ini?"
Pedagang bingung.
"Hari ini?"
"Ya."
"Misalnya sore yang menyenangkan."
Atau teman bermain."
Atau waktu melihat kupu-kupu."
Seluruh pasar terdiam.
Ternyata tak seorang pun menjual hari ini.
Karena semua sibuk memperdagangkan besok.
---
MESIN PEMBUAT GUNUNG DARI KERIKIL
Profesor Marmalade menciptakan mesin hebat.
Mesin itu dapat mengubah kerikil menjadi gunung.
Semua orang kagum.
Lalu seseorang memasukkan masalah kecil.
"Aku lupa membawa pensil."
Mesin bekerja.
BRUMMMMM!
Masalah itu menjadi:
"BENCANA PENSIL NASIONAL!"
Seluruh kota panik.
Sirene berbunyi.
Helikopter terbang.
Parlemen darurat dibuka.
Seratus ahli dipanggil.
Lima ratus reporter datang.
Ternyata pensilnya terselip di belakang telinga.
Mesin itu kembali bekerja.
Lalu kembali.
Lalu kembali.
Tak lama kemudian, langit dipenuhi gunung-gunung masalah yang dulunya hanya kerikil.
Seekor siput berkata:
"Mungkin bukan masalahnya yang besar."
"Mungkin mesinnya."
---
PULAU PARA KOLEKTOR MAHKOTA
Di tengah lautan, ada pulau tempat semua orang menjadi raja.
Raja Biskuit.
Raja Sandal.
Raja Garpu.
Raja Serbet.
Raja Bayangan.
Raja Raja-Raja.
Semua memiliki mahkota.
Bahkan nyamuk memiliki tiga.
Masalah muncul karena tak ada yang mau menjadi rakyat.
Siapa yang menanam padi?
Tak ada.
Siapa yang memperbaiki jalan?
Tak ada.
Siapa yang memasak?
Tak ada.
Mereka terlalu sibuk menambah permata di mahkota.
Akhirnya pulau itu dipenuhi istana kosong.
Tak ada yang bekerja.
Tak ada yang bermain.
Tak ada yang bernyanyi.
Hanya mahkota-mahkota berkilau di bawah matahari.
Seekor burung camar lewat dan berkata:
"Lucu sekali."
"Mereka mengumpulkan atap, tetapi lupa membangun rumah."
---
SEKOLAH PARA AWAN
Di langit berdiri Sekolah Awan Nomor Satu.
Pelajarannya sederhana:
Cara Menjadi Awan yang Sempurna.
Awan Bulat ingin lebih bulat.
Awan Putih ingin lebih putih.
Awan Besar ingin lebih besar.
Awan Cepat ingin lebih cepat.
Mereka belajar siang malam.
Malam siang.
Siang malam lagi.
Setelah bertahun-tahun, mereka menjadi awan yang luar biasa.
Begitu sempurna hingga tak berani berubah bentuk.
Tak berani hujan.
Tak berani berpetir.
Tak berani bermain dengan angin.
Mereka takut kehilangan kesempurnaan.
Sementara itu, awan kecil yang sering gagal berubah menjadi naga, kapal laut, kuda, kastel, dan kadang-kadang kentang.
Anak-anak di bawah tertawa gembira melihatnya.
Dan langit sadar:
Kesempurnaan yang terlalu sibuk menjaga diri sering lupa cara bermain.
---
ORANG-ORANG YANG MENARIK BULAN
Suatu malam, wali kota mengumumkan:
"Bulan terlalu jauh."
"Kita harus menariknya lebih dekat."
Maka semua warga menarik tali raksasa.
Tarik!
Tarik!
Tarik!
Mereka bekerja tujuh belas hari.
Dua puluh tiga malam.
Seratus sembilan puluh sembilan lagu kerja.
Akhirnya bulan memang mendekat.
Terlalu dekat.
Es krim meleleh.
Lilin meleleh.
Sepatu meleleh.
Kumis ketua kota meleleh.
Semua panik.
"Siapa yang punya ide ini?"
Semua menunjuk semua orang.
Lalu seekor kucing berkata:
"Mungkin tidak semua yang jauh harus dimiliki."
Malam itu, mereka melepaskan tali.
Bulan kembali ke tempatnya.
Dan untuk pertama kalinya, mereka menikmati cahayanya tanpa berusaha memilikinya.
Karena beberapa hal lebih indah ketika menerangi, daripada ketika disimpan. 🌙✨
---
Puisi-puisi ini bekerja seperti kartun anak-anak: penuh benda hidup, kejadian mustahil, dan humor berlebihan. Namun di balik wortel raksasa, mahkota, balon, tepuk tangan, dan bulan yang ditarik dengan tali, tersembunyi metafora tentang ambisi, pencitraan, status, kecemasan, kesibukan, dan keinginan manusia untuk memiliki lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
•••
KERAJAAN TOPI YANG MEMAKAN KEPALA
Di Negeri Terbalik Sebelah Barat Laut Sedikit, orang-orang tidak memakai topi.
Topi-topilah yang memakai orang.
Setiap pagi, topi memilih kepala yang ingin ditumpanginya.
Topi Jenderal memilih tukang roti.
Topi Penyair memilih badak.
Topi Dokter memilih semangka.
Tak ada yang mempertanyakannya.
Sebab di negeri itu, yang penting bukan siapa dirimu, melainkan topi apa yang sedang duduk di atasmu.
Suatu hari, topi-topi mulai membesar.
Topi guru sebesar rumah.
Topi pejabat sebesar stadion.
Topi ahli sebesar gunung.
Kepala-kepala di bawahnya hanya sebesar kacang goreng.
Tetapi semua tetap bangga.
"Lihat topiku!"
"Lihat topiku!"
"Lihat topiku yang bisa terlihat dari bulan!"
Mereka saling memamerkan topi hingga lupa memakai kepala.
Akhirnya datang angin.
Semua topi terbang.
Dan untuk pertama kalinya, orang-orang harus berpikir sendiri.
Banyak yang pusing.
Ada yang mengeluarkan asap dari telinga.
Ada yang mengira sendok adalah paman jauh.
Namun perlahan mereka belajar.
Ternyata kepala kecil lebih berguna daripada topi besar.
•••
LOMBA MEMELIHARA BAYANGAN
Di Kota Matahari Berisik, diadakan lomba tahunan.
Bukan lomba lari.
Bukan lomba menyanyi.
Melainkan:
Lomba Bayangan Terbaik Sedunia.
Warga segera sibuk.
Mereka menyetrika bayangan.
Menyisir bayangan.
Mengecat bayangan.
Membelikan bayangan sepatu roda.
Seekor anak kambing bahkan menyekolahkan bayangannya ke universitas.
Bayangannya lulus dengan predikat cumlaude.
Sementara kambingnya sendiri masih belum bisa membuka pagar.
Hari penjurian tiba.
Semua bayangan tampak luar biasa.
Tetapi ketika malam datang, semua bayangan menghilang.
Panik!
Tangis!
Kekacauan!
Beberapa warga mencoba menggambar ulang bayangannya dengan krayon.
Yang lain menawarkan hadiah seribu ton puding.
Akhirnya seekor kunang-kunang berkata:
"Kalian menghabiskan hidup merawat bayangan, tetapi lupa merawat diri sendiri."
Semua terdiam.
Kecuali seekor ayam.
Ia sedang mengejar bulan karena mengira itu telur.
•••
PABRIK PEMBESAR PENDAPAT
Profesor Kacang menemukan mesin ajaib.
Mesin itu bisa membesarkan pendapat.
Pendapat kecil:
"Aku suka pisang."
Masuk mesin.
Keluar menjadi:
"SEMUA MAKHLUK DI ALAM SEMESTA WAJIB MENYUKAI PISANG ATAU LANGIT AKAN TERBALIK!"
Pendapat lain:
"Aku kurang suka hujan."
Masuk mesin.
Keluar menjadi:
"HUJAN ADALAH KONSPIRASI IKAN TERBANG!"
Kota menjadi gaduh.
Warga berteriak dari pagi sampai sore.
Dari sore sampai malam.
Dari malam sampai Selasa.
Tak ada yang mendengarkan.
Sebab semua sibuk memakai pengeras suara.
Akhirnya seekor kura-kura tua datang membawa pendapat mungil.
Kecil sekali.
Sebesar biji wijen.
"Bagaimana kalau kita mendengar dulu?"
Mesin itu langsung meledak.
Seluruh kota mendadak sunyi.
Dan ternyata sunyi lebih keras daripada semua teriakan mereka.
•••
PANGERAN YANG MENGUMPULKAN TANGGA
Pangeran Tanggawan suka naik.
Naik pohon.
Naik bukit.
Naik menara.
Naik kursi.
Naik meja.
Naik meja yang berada di atas meja.
Ia percaya:
"Semakin tinggi, semakin penting."
Maka ia mengumpulkan tangga.
Seratus tangga.
Seribu tangga.
Sejuta tangga.
Ia menyusun semuanya hingga mencapai awan.
Lalu bintang.
Lalu komet.
Lalu hampir menyenggol hidung matahari.
Saat mencapai puncak, ia berteriak:
"Aku yang tertinggi!"
Namun di sana tak ada siapa-siapa.
Tak ada teman.
Tak ada keluarga.
Tak ada penjual bakso.
Tak ada yang mendengar.
Di bawah, anak-anak sedang bermain layang-layang dan tertawa bersama.
Pangeran melihat mereka.
Lalu berkata:
"Aneh sekali."
"Aku berhasil naik ke mana-mana, tetapi lupa pergi ke mana yang penting."
•••
ORKESTRA BESAR PARA SENDOK
Suatu hari, para sendok membentuk orkestra.
Sendok Perak menjadi dirigen.
Sendok Kayu menjadi kritikus.
Sendok Plastik menjadi ahli filsafat musik.
Mereka berlatih siang malam.
Malam siang.
Siang malam lagi.
Latihan menjadi begitu penting hingga mereka tidak pernah benar-benar memainkan musik.
Mereka hanya membahas musik.
Mengukur musik.
Mengarsipkan musik.
Mendirikan kementerian musik.
Mendirikan lembaga pengawasan musik.
Mendirikan lembaga pengawasan lembaga pengawasan musik.
Akhirnya seekor bebek lewat.
"Apakah konsernya sudah mulai?"
"Tidak."
"Kami masih membahasnya."
Tiga belas tahun kemudian, mereka masih membahasnya.
Sementara bebek itu sudah menjadi legenda jazz internasional.
Karena diam-diam ia langsung memainkan lagu.
•••
KOTA BALON PRESTASI
Di kota itu, setiap prestasi berbentuk balon.
Nilai bagus? Balon.
Menang lomba? Balon.
Bisa bersiul? Balon.
Bisa bersin sambil jungkir balik? Balon raksasa.
Anak-anak mengikat balon-balon itu ke punggung mereka.
Makin lama, balonnya makin banyak.
Makin banyak.
Makin banyak.
Sampai mereka terangkat ke langit.
Mereka melayang begitu tinggi hingga tak bisa lagi bermain bersama.
Tak bisa lagi memanjat pohon.
Tak bisa lagi menangkap kupu-kupu.
Tak bisa lagi melihat rumput.
Seorang anak kecil melepaskan satu balonnya.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Ia turun ke tanah.
Teman-temannya heran.
"Kau kehilangan prestasimu!"
Anak itu tertawa.
"Tidak."
"Aku hanya ingin bisa menyentuh bumi lagi."
Dan sore itu ia bermain dengan semut, mengejar awan, dan pulang dengan lutut kotor.
Tanpa satu pun balon baru.
Tetapi dengan senyum yang tak bisa diterbangkan angin.
•••
KERAJAAN BALON YANG TERLALU BESAR
Di sebuah negeri yang seluruh penduduknya terbuat dari balon, tinggal Raja Mengembang Ketujuh.
Ia percaya satu hal:
"Yang paling besar, pasti yang paling hebat."
Maka setiap hari ia memerintahkan rakyatnya untuk membesar.
Rumah-rumah dipompa.
Sepeda-sepeda dipompa.
Kue ulang tahun dipompa.
Bahkan kecoak-kecoak dipompa sampai ukurannya sebesar bus sekolah.
Tak lama kemudian, semua orang menjadi sangat besar.
Tetapi ada masalah.
Tak seorang pun lagi bisa masuk pintu.
Maka pintu diperbesar.
Lalu rumah diperbesar.
Lalu kota diperbesar.
Lalu peta diperbesar.
Lalu dunia diperbesar.
Sampai akhirnya bulan mengeluh:
"Aku pusing. Kenapa semua orang terus membesar?"
Namun Raja Mengembang tersenyum.
"Lihatlah kemajuan!"
Padahal tak seorang pun tahu mereka sedang menuju ke mana.
Mereka hanya sibuk menjadi lebih besar daripada kemarin.
Dan diam-diam, seekor semut kecil berbisik:
"Mungkin mereka tidak tumbuh. Mungkin mereka hanya mengembang."
•••
SEKOLAH PARA PIALA
Di Kota Gemerincing, anak-anak tidak belajar membaca.
Mereka belajar mengumpulkan piala.
Piala Bangun Tidur.
Piala Mengunyah.
Piala Berkedip.
Piala Berdiri Tanpa Jatuh.
Piala Mengingat Nama Sendiri.
Setiap anak memakai seratus piala.
Lalu dua ratus.
Lalu lima ratus.
Sampai mereka berbunyi:
cling-clang-cling-clang!
setiap kali berjalan.
Suatu hari, seorang anak bertanya:
"Apa isi piala itu?"
Semua terdiam.
Mereka membuka satu.
Kosong.
Membuka dua.
Kosong.
Membuka seribu.
Tetap kosong.
Ternyata piala-piala itu hanya terbuat dari suara.
Dan seluruh kota tiba-tiba sadar:
mereka telah mengoleksi gema, lalu mengira itu prestasi.
•••
KOTA CERMIN
Di Kota Cermin, semua orang membawa cermin raksasa.
Mereka melihat diri sendiri setiap lima detik.
Saat makan: bercermin.
Saat tidur: bercermin.
Saat bercermin: bercermin lagi.
Mereka menjadi ahli tentang bentuk hidung mereka.
Ahli tentang gaya rambut mereka.
Ahli tentang cara tersenyum mereka.
Tetapi mereka lupa nama tetangga sebelah rumah.
Suatu hari, seluruh cermin pecah sekaligus.
"Celaka!" teriak warga.
"Kita tidak bisa melihat siapa diri kita!"
Lalu seekor kura-kura berkata:
"Kenapa tidak saling melihat saja?"
Untuk pertama kalinya, mereka melihat wajah orang lain.
Dan ternyata dunia jauh lebih luas daripada pantulan mereka sendiri.
•••
PABRIK PEMBUAT AWAN
Di atas Gunung Kapas, berdiri sebuah pabrik.
Pabrik itu membuat awan.
Setiap hari, awannya dibuat lebih besar.
Lebih putih.
Lebih megah.
Lebih mengilap.
"Kesempurnaan!" kata direktur.
Tetapi awan-awan itu menjadi terlalu berat.
Mereka tak bisa lagi terbang.
Mereka jatuh ke tanah seperti lemari pakaian.
Petani mengeluh.
Burung mengeluh.
Langit mengeluh.
Namun direktur tetap bangga.
"Lihat ukuran awan kita!"
Sampai seorang anak menunjuk awan kecil yang melayang santai.
"Yang itu kok bisa terbang?"
Karena awan kecil itu menjawab:
"Aku tidak sibuk menjadi hebat. Aku sibuk menjadi awan."
•••
PARLEMEN PARA SENDOK
Di Negeri Sup Semesta, para sendok menguasai pemerintahan.
Mereka mengadakan sidang setiap hari.
Membahas:
Apakah bakso harus berbentuk segitiga?
Apakah hujan perlu izin turun?
Apakah pelangi membayar pajak warna?
Sidang berlangsung tujuh tahun.
Delapan bulan.
Sembilan hari.
Dan tiga puluh detik.
Setelah perdebatan panjang, mereka mencapai keputusan bersejarah:
"Mari kita bentuk panitia untuk membahas kemungkinan membentuk panitia."
Seluruh negeri bersorak.
Tak ada masalah yang selesai.
Tetapi jumlah rapat bertambah dua kali lipat.
Dan seekor ikan tua tertawa:
"Mereka sedang memancing bayangan, lalu heran mengapa tidak mendapat ikan."
•••
GUNUNG ES KRIM YANG INGIN MENJADI RAJA
Di ujung dunia berdiri Gunung Es Krim.
Ia iri kepada gunung batu.
"Aku ingin tampak kuat."
Maka ia mengecat dirinya abu-abu.
Ia memasang kumis.
Ia memakai mahkota.
Ia berlatih suara berat:
"Aku gunung yang tangguh!"
Semua orang kagum.
Sampai matahari datang.
Lalu gunung itu mencair.
Mengalir menjadi sungai vanila.
Anak-anak memakannya sambil tertawa.
Dan dari tengah sungai terdengar suara:
"Aku gagal menjadi gunung batu!"
Seekor burung menjawab:
"Tidak."
"Kau gagal menjadi dirimu sendiri."
Mungkin itulah sebabnya kau meleleh.
•••
AKADEMI RESMI UNTUK BELAJAR MENJADI NAGA
Di Lembah Biskuit Berdengung, dibangun sebuah sekolah megah untuk mendidik anak-anak menjadi naga.
Pendaftarannya dibuka.
Yang datang:
empat ekor kambing,
sebuah teko,
dua puluh tujuh permen karet,
dan seorang paku payung yang bercita-cita menjadi awan.
"Bagus!" kata Kepala Sekolah.
"Kalian semua lulus seleksi."
"Tapi kami belum mengikuti ujian," kata teko.
"Itulah sebabnya kalian lulus." jawab Kepala Sekolah.
Pelajaran pertama: Cara Mengaum dengan Sopan.
Pelajaran kedua: Cara Terbang Tanpa Meninggalkan Kursi.
Pelajaran ketiga: Filsafat Selai Stroberi.
Seluruh murid mendapat nilai sempurna.
Bahkan meja guru mendapat penghargaan.
Bahkan papan tulis diangkat menjadi profesor.
Bahkan kapur tulis dinobatkan sebagai atlet terbaik.
Saat wisuda, semua murid menerima gelar:
Naga Tingkat Ultra-Mega-Super-Galaktik.
Tak seorang pun bisa terbang.
Tak seorang pun bisa mengaum.
Tetapi semua memperoleh topi yang sangat tinggi.
Dan itu dianggap lebih penting.
•••
PABRIK PEMBUAT PENDAPAT INSTAN
Di Kota Gemuruh, berdiri sebuah pabrik besar.
Pabrik itu tidak membuat roti.
Tidak membuat sepeda.
Tidak membuat mainan.
Pabrik itu membuat pendapat.
Setiap pagi, warga datang membawa kepala kosong.
Mereka memasukkan kepala ke mesin.
"BZZZZZZZZT!"
Keluar dengan pendapat baru.
Hari Senin:
"Mentimun harus menjadi astronot!"
Hari Selasa:
"Payung terlalu bulat!"
Hari Rabu:
"Gravitasi perlu diperbaiki!"
Semua warga setuju.
Lalu berubah pikiran.
Lalu setuju lagi.
Lalu berubah lagi.
Begitu cepat hingga leher mereka berputar seperti baling-baling.
Seekor kura-kura tua bertanya:
"Mengapa kalian berpikir begitu?"
Semua terdiam.
Lalu menjawab:
"Karena semua orang berpikir begitu."
Kura-kura mengangguk.
Kemudian pulang.
Kemudian tertawa selama tiga minggu.
•••
KERAJAAN PARA MEDALI
Di Negeri Gemerlap, setiap orang mendapat medali.
Bangun tidur: medali.
Mengikat tali sepatu: medali.
Makan bubur: medali.
Melihat bubur: medali.
Memikirkan bubur: dua medali.
Akhirnya seluruh warga tertutup medali dari kepala sampai kaki.
Mereka berkilauan seperti lampu pesta.
Namun muncul masalah besar.
Tak ada yang bisa berjalan.
Karena medali mereka terlalu berat.
Raja mengadakan sidang darurat.
"Kita harus memberi mereka medali karena berhasil membawa medali."
Semua bertepuk tangan.
Masing-masing mendapat tiga medali tambahan.
Negeri itu tenggelam perlahan ke dalam tanah.
Tetapi warga tetap bangga.
Karena mereka tenggelam dengan prestasi yang sangat mengesankan.
•••
PERTANDINGAN BESAR MENANGIS INTERNASIONAL
Suatu hari, diadakan Olimpiade Menangis Sedunia.
Pesertanya luar biasa.
Buaya Profesional.
Bawang Merah Nasional.
Awan Sensitif.
Dan seekor semangka yang baru saja ditinggal bijinya.
Lomba dimulai.
Buaya menangis sungai.
Bawang menangis danau.
Awan menangis samudra.
Tetapi semangka menangis begitu keras hingga seluruh tata surya memakai jas hujan.
Juri kebingungan.
"Kita harus memberi nilai berapa?"
"Seratus?"
"Terlalu kecil."
"Seribu?"
"Terlalu kecil."
"Sejuta?"
"Terlalu kecil."
Akhirnya mereka memberi nilai:
PISANG.
Semua setuju bahwa itu masuk akal.
Tak seorang pun berani menjelaskan alasannya.
•••
MENTERI URUSAN HAL-HAL YANG SAMA SEKALI BUKAN URUSANNYA
Di Republik Kancing Baju, ada seorang menteri terkenal.
Namanya: Menteri Campur Tangan.
Ia mengatur semuanya.
Ia mengatur awan.
Ia mengatur semut.
Ia mengatur arah angin.
Ia bahkan mencoba mengatur mimpi para kentang.
Suatu pagi ia berpidato:
"Mulai hari ini, semua pelangi harus berbaris lurus!"
Pelangi menolak.
"Mulai hari ini, semua kucing harus menggonggong!"
Kucing menolak.
"Mulai hari ini, semua bakso harus belajar matematika!"
Bakso juga menolak.
Akhirnya menteri marah besar.
Ia membuat seratus ribu peraturan baru.
Masalahnya, tak seorang pun membacanya.
Karena seluruh peraturan dicetak di atas mie yang direbus.
Menjelang sore, semua dokumen berubah menjadi makan malam.
Dan negara berjalan seperti biasa.
Mungkin sedikit lebih waras.
•••
PENEMU MESIN PEMBESAR MASALAH
Profesor Cengkeh menemukan mesin ajaib.
Mesin itu dapat membesarkan apa saja.
Ia membesarkan apel.
Menjadi sebesar rumah.
Ia membesarkan rumah.
Menjadi sebesar gunung.
Lalu tanpa sengaja ia membesarkan masalah kecil.
Masalah itu awalnya hanya:
"Siapa yang memakan biskuit terakhir?"
Tiba-tiba masalah itu tumbuh.
Menjadi sebesar stadion.
Menjadi sebesar kota.
Menjadi sebesar planet.
Segera para ahli, wartawan, badut, dan tujuh belas ribu bebek ikut berdebat.
Akhirnya ditemukan pelakunya.
Seekor hamster kecil.
Hamster itu berkata:
"Aku lapar."
Semua terdiam.
Kemudian seluruh dunia merasa agak malu.
Kecuali para bebek.
Mereka bahkan tidak tahu sedang membicarakan apa sejak awal.
•••
KONGRES BESAR PARA KAUS KAKI YANG TERSINGGUNG
Pada hari Selasa yang panjangnya tujuh kilometer, seluruh kaus kaki di dunia mengadakan rapat darurat.
"Kami keberatan!" teriak Kaus Kaki Bergaris.
"Kami selalu kehilangan pasangan!"
"Aku sudah mencari suamiku sejak Tahun Angin Ketiga!" teriak Kaus Kaki Polkadot sambil menangis air limun.
Maka dibentuklah Kementerian Pencarian Kaus Kaki Hilang dan Hal-Hal yang Sama Sekali Tidak Penting.
Menterinya seekor hamster yang memakai delapan belas dasi sekaligus.
"Menurut penelitian kami," kata hamster itu, "satu dari tiga kaus kaki kemungkinan besar kabur untuk menjadi penyair."
Seluruh kota gempar.
Lemari-lemari meledak menjadi perpustakaan.
Mesin cuci mulai menerbitkan majalah sastra.
Sementara itu, seekor sandal tua berdiri di podium:
"Ini fitnah!"
"Aku mengenal para kaus kaki!"
"Mereka tidak menjadi penyair!"
"Mereka menjadi pesulap!"
Tepuk tangan bergemuruh begitu keras hingga bulan terpental ke kebun tetangga.
Malam itu, semua bintang memakai penjepit jemuran sebagai tanda solidaritas.
Dan seekor kecoak wartawan menulis berita utama:
KAUS KAKI MENUNTUT KEADILAN, MESIN CUCI DITUDUH MENYEMBUNYIKAN BUKTI.
Tak seorang pun tahu apa sebenarnya masalahnya.
Tetapi semua orang setuju untuk marah bersama-sama.
Karena di Kota Kartunia, kadang-kadang rapat lebih penting daripada alasan mengapa rapat itu diadakan.
•••
RAJA PENSIL DAN PEMBERONTAKAN PENGHAPUS
Raja Pensil Keempat Belas menguasai negeri Buku Tulis.
Ia membuat undang-undang baru:
"Semua gambar gajah harus mempunyai tujuh belas ekor!"
"Dan semua awan harus berbentuk bakso!"
Rakyat mengangguk.
Bukan karena setuju.
Tetapi karena kepala mereka dipompa balon helium.
Suatu hari, para penghapus mengadakan pemberontakan.
"Kami lelah menghapus kesalahan!"
"Kami juga ingin membuat kesalahan!"
Mereka lalu menggambar kumis pada matahari.
Menggambar roda pada gunung.
Menggambar antena televisi pada semangka.
Negeri menjadi kacau.
Ikan-ikan naik sepeda.
Truk-truk bertelur.
Dan kalender mulai menagih uang sewa kepada hari Senin.
Raja Pensil panik.
Ia memanggil Jenderal Krayon.
Jenderal Krayon datang dengan tank berbentuk puding.
"Tenang, Yang Mulia."
"Akan saya selesaikan."
Lalu ia terpeleset kulit pisang.
Tank pudingnya berubah menjadi puding sungguhan.
Seluruh pasukan memakannya.
Perang pun berakhir karena semua terlalu kenyang untuk bertengkar.
Moral cerita menurut burung pelikan: "Jika aturan terlalu aneh, biasanya yang kalah adalah logika."
•••
PIDATO BERSEJARAH SEEKOR BROKOLI
Seekor brokoli hijau mencalonkan diri sebagai Wali Kota Kulkas.
Ia berkampanye:
"Jika aku terpilih, setiap warga akan mendapat tiga payung!"
"Tidak peduli cuaca!"
"Tidak peduli mereka punya tangan atau tidak!"
Massa bersorak.
Tomat-tomat melempar konfeti.
Keju menyanyikan lagu kebangsaan terbalik.
Dan es batu mencair karena terlalu emosional.
"Bagaimana dengan pendidikan?" tanya wortel kecil.
Brokoli mengangkat alis.
"Akan kubangun sekolah!"
"Untuk mengajari sendok cara mengeong!"
Sorak-sorai makin dahsyat.
"Bagaimana dengan kesehatan?"
"Akan kuberikan semua orang vitamin rasa kembang api!"
"Bagaimana dengan ekonomi?"
"Akan kuubah semua recehan menjadi biskuit!"
Pemilu berlangsung.
Brokoli menang dengan 102% suara.
Tak ada yang tahu bagaimana caranya.
Bahkan kalkulator pun pingsan.
Tetapi warga tetap merayakan.
Karena dalam kartun hiperbolis, angka hanyalah saran, janji adalah balon, dan tepuk tangan sering kali lebih besar daripada isi pidatonya.
Sementara itu, seekor kentang tua berbisik:
"Sepertinya tidak ada yang mendengarkan apa yang sebenarnya dikatakan brokoli."
Namun suara kentang tenggelam oleh parade seribu gajah roda satu yang sedang memainkan trombon raksasa.
Dan begitulah dunia terus berputar— kadang karena akal sehat, kadang karena trombon.
•••
Petualangan Super Gila di Kota Es Krim
Di kota di mana jalan-jalan terbuat dari spageti, anak-anak terbang naik balon keju raksasa. Sementara kucing-kucing memakai dasi dan berdansa, menyanyikan lagu tentang wortel yang ingin jadi presiden.
Si Tikus Kepala-Udang menuntut pajak per keju, dan burung beo mengumumkan berita—“Semua es krim akan lari!” Orang dewasa bingung, tetapi anak-anak menyalakan kembang api dari pensil. Menyulap sekolah jadi kastel raksasa yang melompat-lompat!
Di taman, pohon cokelat tumbuh terbalik. Daun-daunnya terbang seperti pesawat mainan, dan ular-ular memakai topi bowler. Berdebat apakah pelangi harus dikurangi atau ditambah satu warna lagi.
Oh, jangan lupa Ratu Kue Berbulu. Dia memerintahkan semut-serigala untuk menari polka, dan semua kentang di pasar berubah menjadi gitar mini, sehingga kota bergema dengan musik kacau tetapi menggemaskan.
Akhirnya, semua anak naik roket donat ke langit, melambai pada dunia yang terlalu serius. Dan kota pun tertawa, karena kadang hiperbola adalah hukum alam anak-anak: segala sesuatu terlalu besar, terlalu kecil, dan terlalu lucu untuk dimengerti!
Kalau kamu mau, aku bisa buat versi kedua yang lebih slapstick, dengan karakter-karakter kartun aneh, dialog absurd, dan aksi hiperbolis tiap baris, sehingga terasa seperti episode kartun 5 menit yang penuh ledakan komedi.
Apakah mau aku buat versi itu juga?
Komentar
Posting Komentar