NOL DERAJAT KEBEBASAN

Orang-orang di kota ini tidak pernah mati. Bukan karena mereka abadi—mereka mati setiap hari, dalam setiap kecelakaan lalu lintas, setiap serangan jantung di tengah malam, setiap peluru menyasar yang tak pernah benar-benar menyasar. Lalu, tiga menit kemudian, mereka bangun lagi. Di tempat tidur yang sama. Dengan luka yang persis sama, yang mengering dan memutih menjadi kenangan yang tak bisa dibagi.

Marni baru saja menggendong anaknya yang berlumuran darah. Anaknya, Raga, baru saja tertabrak truk di depan pasar—kepalanya pecah, isinya tumpah ke aspal, dan Marni menjerit hingga suaranya sobek. Tiga menit kemudian, Raga bangun di ayunan halaman belakang, utuh, tersenyum, memanggil "Bunda" seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Itulah konfliknya: Marni mengingat setiap kematian anaknya. Raga tidak. Dan Marni tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau putus asa.

"Bunda menangis kenapa?" tanya Raga.

Marni memeluk anaknya begitu erat hingga tulang-tulang kecilnya berkeretak. "Bunda kehilangan kamu," bisiknya. "Akan tetapi, kamu tidak pernah tahu bahwa kamu hilang. Jadi, kamu tidak pernah tahu bahwa kamu ditemukan kembali."

Ini adalah hari ketujuh puluh tiga Raga mati dan hidup lagi. Marni sudah menghitung. Di lemari dapurnya, ada tujuh puluh tiga catatan kematian, masing-masing ditulis dengan detail mengerikan: Hari ke-12: tenggelam di bak mandi. Hari ke-31: jatuh dari pohon mangga. Hari ke-48: digigit ular yang tidak pernah ada di kota ini sebelumnya. Marni tidak tahu siapa yang mengirim ular itu. Marni tidak tahu siapa yang menggerakkan truk itu. Marni hanya tahu bahwa setiap tiga hari sekali, anaknya akan mati, dan dia akan mengingat semuanya, sementara seluruh kota—termasuk suaminya—akan berkata, "Tidak, kamu salah, Raga tidak pernah apa-apa."

Apakah Marni gila? Atau, seluruh kota yang gila? Atau, realitas itu sendiri yang sedang sakit?

---

Dokter Sumarno—satu-satunya orang yang bersedia mendengarkan Marni tanpa langsung merujuknya ke rumah sakit jiwa—duduk di seberang meja kayu jati yang telah dimakan rayap. Rumah Marni mulai lapuk. Tidak hanya kayunya; ingatannya juga. Namun ingatan tentang kematian Raga tidak pernah lapuk. Setiap kali, segar seperti darah yang baru saja mengalir.

"Dokter," kata Marni, "saya ingin mati. Akan tetapi, saya takut kalau saya mati, saya juga akan bangun lagi seperti Raga. Lalu, saya akan terjebak di sini selamanya."

Dokter Sumarno menghela napas. Ia sudah mendengar ini puluhan kali. Namun ia tidak punya jawaban, karena ia sendiri tidak tahu apakah ia benar-benar dokter atau sekadar halusinasi kolektif yang diproduksi oleh otak Marni yang kelelahan.

"Ada teori," kata dokter itu perlahan, "bahwa kita semua sudah mati. Bahwa ini adalah semacam bardo—kehidupan antara kehidupan dan kematian. Dan Raga ... Raga adalah pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanya mengulang."

"Teori dari mana?"

"Teori dari saya," kata dokter itu jujur. "Karena saya juga bingung."

---

Marni pulang melewati pasar yang sama di mana Raga pertama kali mati. Pasar itu tidak berubah. Bau ikan asin, teriakan pedagang, anak-anak berlarian—tetapi Marni tahu bahwa setiap tiga hari sekali, seorang anak akan mati di sini, dan tidak ada yang ingat. Ia sudah mencoba merekam. Setiap kali, rekamannya kosong. Ia sudah mencoba menulis di tangan dengan spidol: RAGA MATI HARI INI. Setiap kali, tulisannya hilang saat ia mengucek mata. Seolah dunia punya penghapus khusus untuk tragedinya.

Di dalam rumah, Raga sedang menggambar. Kertas gambarnya penuh dengan sosok-sosok yang tidak bisa Marni kenali: makhluk dengan tiga mata, atau satu mata di tengah dahi, atau tanpa mata sama sekali tetapi memiliki mulut di telapak tangan.

"Itu apa, Sayang?" tanya Marni.

"Teman-teman Bunda," kata Raga tanpa melihat ke arah ibunya. "Mereka bilang Bunda sebentar lagi akan ingat semuanya. Terus, setelah itu Bunda akan lupa lagi. Terus ingat lagi. Kayak aku."

Marni merinding. "Siapa yang bilang?"

Raga menunjuk ke langit-langit rumah yang bolong. Di balik lubang itu, bukan langit yang Marni lihat—melainkan sebuah mata raksasa, tanpa kelopak, tanpa ekspresi, menatapnya dengan sabar yang mengerikan. Marni berteriak. Ia menutup wajahnya. Saat ia membuka mata, lubang itu sudah kembali menjadi lubang biasa, memperlihatkan awan kelabu yang tidak pernah hujan.

---

Malam itu, Marni tidak tidur. Ia duduk di samping ranjang Raga, memegang tangan kecil yang hangat, dan mengamati setiap helaan napas anaknya. Lalu ia sadar: Raga tidak pernah mati di malam hari. Selalu siang. Selalu di tempat umum. Selalu dihadiri oleh saksi-saksi yang kemudian lupa. Seperti ada aturan. Seperti ada sesuatu yang mengatur kematian anaknya dengan protokol yang tidak tertulis.

Marni mengambil buku catatannya, buku fisik yang tidak pernah hilang meski rekaman dan tulisan di tangannya lenyap. Ia buka halaman pertama. Hari ke-1: tenggelam di empang belakang rumah. Pukul 14.00. Saksi: 3 orang tetangga.

Marni menelusuri semua catatan. Polanya tiba-tiba terlihat: setiap kematian Raga terjadi tepat 72 jam setelah kematian sebelumnya. Tepat. Tidak kurang semenit, tidak lebih. Seperti program.

Lalu, Marni teringat sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam: anaknya tidak lahir normal. Raga lahir dalam keadaan tidak bernapas. Sempat mati selama sembilan menit sebelum tim medis menghidupkannya kembali. Sembilan menit. Dan setelah itu, semuanya aneh.

Marni menelepon Dokter Sumarno tengah malam. "Dokter, apakah mungkin Raga ... tidak pernah benar-benar hidup? Mungkin ia mati sembilan menit itu, dan semua ini adalah ... semacam gema dari kematiannya?"

Dokter Sumarno diam lama. Lalu berkata, "Kalau itu benar, maka Bundalah yang hidup dalam gema. Bukan Raga."

---

Keesokan harinya, Marni melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan dalam tujuh puluh tiga kali siklus: ia tidak melindungi Raga. Ia membiarkan anaknya bermain di pinggir jalan. Ia membiarkan truk itu datang. Ia menyaksikan dari kejauhan—bukan karena ia tega, melainkan karena ia harus tahu: apakah kematian Raga adalah sesuatu yang harus terjadi, atau sesuatu yang bisa dicegah?

Truk itu datang. Raga tersenyum ke arah truk itu. Lalu truk itu berhenti.

Tidak pernah terjadi sebelumnya. Truk selalu menabrak. Akan tetapi, kali ini, sopir truk—seorang pria botak dengan kacamata hitam meski mendung—menurunkan kaca dan berkata, "Hari ini tidak, Nak. Aku sudah diingatkan."

Marni berlari. "Diingatkan siapa?"

Sopir itu menatap Marni. Lalu melepas kacamatanya. Matanya tidak memiliki pupil—hanya putih bersih, seperti telur rebus yang dikupas. "Oleh kamu," katanya. "Kamu di siklus ke-47 mengingatkanku. Namun kamu di sini tidak ingat karena itu belum terjadi. Waktu itu rumit."

Marni mundur. Raga tertawa kecil. "Bunda, itu Om Jaya. Om Jaya baik."

"Aku tidak baik," kata Om Jaya. "Aku hanya menjalankan protokol. Akan tetapi, kamu, Marni ... kamu mulai melanggar protokol dengan mengamati tanpa ikut campur. Itu tidak diperbolehkan."

"Oleh siapa?"

Om Jaya tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya yang putih. "Oleh sistem yang membuatmu percaya bahwa kamu manusia."

---

Marni pingsan. Ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia tidak berada di kota itu. Ia berada di dalam ruangan abu-abu, tanpa dinding, tanpa lantai—hanya ruang, dan di tengah ruang ada meja, dan di atas meja ada Raga yang sudah dewasa, berkulit keriput, beruban, menggendong Marni yang masih bayi.

"Kau mengerti sekarang?" tanya Raga tua itu.

Marni bayi itu menangis. Marni dewasa yang sedang bermimpi hanya bisa terdiam.

"Kau dan aku adalah orang yang sama," kata Raga tua. "Aku adalah kamu yang memutuskan untuk membagi diri menjadi ibu dan anak, agar bisa merasakan kehilangan. Karena hanya dengan kehilangan kau bisa tahu bahwa kau benar-benar ada."

Marni—yang bermimpi, yang bayi, yang dewasa, yang entah—berusaha mencerna. "Jadi ... Raga mati setiap tiga hari karena aku ingin merasakan kehilangan?"

"Bukan karena kau ingin. Karena kau perlu. Tanpa rasa kehilangan, kau tidak punya bukti bahwa kau mencintai sesuatu. Dan tanpa bukti itu, kau tidak akan yakin bahwa kau layak dicintai."

"Namun, aku bukan siapa-siapa," bisik Marni. "Aku hanya seorang ibu yang anaknya mati terus."

"Kamu tidak mengerti," kata Raga tua sambil mengelus kepala bayi Marni yang botak mulus. "Tidak ada yang namanya 'hanya'. Kamu adalah semesta yang mencoba mengingat dirinya sendiri dengan cara melukai dirinya sendiri. Dan aku ... aku adalah luka itu."

---

Marni bangun. Ia berada di tempat tidurnya. Raga di sampingnya, tidur pulas. Tidak ada truk. Tidak ada Om Jaya. Tidak ada mata di langit-langit.

Marni ragu. Apakah semua itu mimpi? Apakah ia benar-benar seorang ibu yang waras dengan anak normal yang tidak pernah mati?

Lalu ia melihat tangannya. Ada tulisan dengan spidol merah: RAHASIANYA BUKAN DI MATI, MELAINKAN DI INGAT. Tulisan itu tidak hilang meski ia mengucek mata. Marni gemetar. Itu tulisannya sendiri. Akan tetapi, ia tidak ingat kapan menulisnya.

Ia bangun, berjalan ke lemari dapur, membuka buku catatannya. Halaman terakhir yang ia tulis bukanlah catatan kematian ke-73. Halaman terakhir adalah sebuah kalimat:

Hari ini aku memutuskan untuk tidak menulis lagi. Karena jika aku tidak menulis, maka tidak ada yang membuktikan bahwa kematian Raga pernah terjadi. Dan jika tidak ada yang membuktikan, maka mungkin itu tidak pernah terjadi. Dan jika tidak pernah terjadi, maka Raga benar-benar selamanya hidup.

Selamat tinggal, ingatan.

Di bawah kalimat itu, ada tulisan lain dengan tinta berbeda, warna biru, jelas bukan tulisan Marni:

SELAMAT, ANDA TELAH MEYAKINI DIRI SENDIRI BAHWA TRAUMA ANDA TIDAK PERNAH ADA. INILAH SATU-SATUNYA CARA MANUSIA BERTAHAN. SISTEM TIDAK AKAN MENGHAPUS ANDA LAGI.

Marni memejamkan mata. Lalu membuka buku itu lagi. Halaman terakhir sekarang kosong. Bersih. Tidak ada satu huruf pun.

Marni menangis lega. Atau menangis kehilangan bukti. Ia tidak tahu lagi.

---

Tiga puluh tahun kemudian, Raga tumbuh menjadi pemuda yang baik. Tidak pernah mati lagi setelah hari itu. Marni menjadi nenek-nenek yang lupa-lupa ingat. Kadang ia bertanya, "Kamu siapa, Nak?" dan Raga akan menjawab, "Aku Raga, Bun. Anak Bunda."

Kadang Marni tersenyum. Kadang Marni menangis tanpa tahu sebabnya. Kadang, di saat-saat paling sunyi antara tengah malam dan subuh, ia merasakan sebuah luka di dadanya—luka yang tidak terlihat, tidak sakit, tetapi terasa seperti sesuatu yang seharusnya ada tetapi tidak pernah diakui.

Di kuburan tua di pinggir kota, di bawah pohon mangga yang tidak pernah berbuah, ada sebuah nisan tanpa nama. Nisan itu sudah retak. Lumut menutupi hampir seluruh permukaannya. Namun jika seseorang membersihkannya dengan saksama, ia akan membaca sebuah kalimat yang terukir sangat dalam:

DI SINI BERISTIRAHAT SEORANG ANAK YANG MATI SETIAP TIGA HARI SELAMA TUJUH PULUH TIGA KALI, DAN SEORANG IBU YANG MATI SETIAP HARI SELAMA 'SELAMANYA' KARENA TIDAK BISA BERHENTI MENGINGAT.

Tidak ada yang tahu siapa yang menguburkan siapa di sana.

Raga, yang sudah berusia tiga puluh tahun, kadang-kadang bermimpi tentang seorang perempuan tua yang memeluknya erat sambil berkata, "Kamu tidak pernah tahu bahwa kamu hilang. Jadi, kamu tidak pernah tahu bahwa kamu ditemukan kembali."

Dan dalam mimpinya, Raga menjawab, "Aku tahu, Bu. Aku tahu sejak awal. Namun aku pura-pura tidak tahu karena Bunda butuh seseorang yang bisa Bunda selamatkan."

Lalu, Raga bangun dengan pipi basah, dan tidak tahu mengapa.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI