ORANG KEDUA YANG TIDAK PERNAH DIUNDANG

Ruang makan keluarga itu selalu diatur untuk lima orang: Ayah, Ibu, kakak laki-laki, adik perempuan, dan satu kursi kosong di ujung meja. Kursi itu tidak pernah diduduki siapa pun. Tapi setiap malam, Anindya—perempuan berusia sembilan belas tahun yang duduk di antara kakak dan ibunya—harus meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk di depan kursi kosong itu. Sejak dia berusia tujuh tahun. Dua belas tahun. Tanpa pernah diberi alasan yang masuk akal.

"Untuk siapa, Bu?" tanyanya pertama kali, dulu, dengan suara kecil.

Ibunya menjawab: "Untuk orang kedua."

"Orang kedua siapa?"

"Kamu tahu sendiri."

Anindya tidak tahu. Tapi dia berhenti bertanya setelah melihat mata ibunya—mata yang tiba-tiba kosong seperti jendela rumah terbengkalai, yang bagian dalamnya terlalu gelap untuk diterka isinya.

Masalahnya bukan pada ritual itu. Masalahnya adalah: setiap kali Anindya melupakan kursi kosong itu—hanya sekali, karena dia sedang demam, atau karena dia terlalu sibuk mengerjakan tugas—sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang kecil tapi tepat. Ibu akan jatuh di kamar mandi. Kakak akan kehilangan dompet yang baru saja dipegang. Adik akan bermimpi buruk tentang seorang pria yang wajahnya tidak bisa dia ingat tapi suaranya terdengar seperti suara Ayah yang marah—padahal Ayah tidak pernah marah.

Dan satu hal lagi: setiap kali itu terjadi, Anindya akan menemukan sebuah foto di bawah bantalnya. Foto seorang anak perempuan seusianya saat itu, dengan wajah yang sama persis dengan wajah Anindya—tapi matanya berbeda. Lebih tua. Lebih lelah. Seperti mata yang sudah melihat kematian berkali-kali.

Foto itu tidak pernah sama. Yang pertama, saat dia berumur tujuh tahun, menunjukkan anak perempuan itu tersenyum dengan dua gigi depan yang copot. Yang kedua, saat dia sembilan tahun, menunjukkan anak itu berlari di halaman. Yang ketiga, saat dia dua belas, menunjukkan anak itu berdiri di depan cermin dengan gaun merah.

Yang terakhir—yang dia temukan tadi malam setelah lupa menyiapkan makan malam karena sedang menangis diputusin pacar—menunjukkan anak perempuan itu sudah dewasa. Wajahnya jelas: itu Anindya. Tapi latar fotonya adalah ruang makan yang sama, dengan kursi kosong yang sama, dan di kursi kosong itu duduk seorang pria tua yang tidak pernah Anindya kenal.

Di belakang foto itu, tertulis:

"Umur dua puluh tiga. Rumah sakit. Dia datang lagi."

Anindya sekarang berumur sembilan belas. Artinya, foto itu berasal dari masa depan. Atau dari masa lalu yang tidak terjadi. Atau dari kehidupan lain yang berjalan paralel dengan hidupnya—kehidupan di mana Anindya bukanlah Anindya yang duduk di kursi antara kakak dan ibunya, melainkan Anindya yang duduk di kursi kosong itu.

---

BAGIAN SATU: SIAPA ORANG KEDUA ITU?

Keluarga Anindya tidak pernah membahas kursi kosong itu di luar jam makan malam. Seolah-olah di luar pukul tujuh malam, kursi itu tidak ada. Tapi Anindya sudah cukup besar untuk memperhatikan hal-hal yang tidak diucapkan:

Kakak laki-lakinya, Bara, selalu menunduk saat lewat di dekat kursi itu. Bukan karena hormat. Karena takut. Seperti ada sesuatu di kursi itu yang bisa melihatnya.

Adik perempuannya, Dara, tidak pernah duduk di sebelah kursi itu. Dia memilih duduk di ujung lain, sedekat mungkin dengan Ayah. Padahal Dara adalah anak paling dekat dengan Ibu.

Dan Ibu—Ibu memasak untuk lima orang setiap malam. Lima porsi. Lima piring. Lima gelas. Tapi empat mulut yang makan. Kelebihan satu porsi akan diletakkan di kursi kosong itu, lalu setelah satu jam—setelah semua selesai makan—Ibu akan mengambil piring itu dan membuang makanannya ke tong sampah dengan gerakan yang terlihat seperti membuang sesuatu yang hidup.

Bukan sekadar sisa makanan. Sesuatu yang hidup.

Suatu malam, saat Anindya berusia enam belas tahun, dia nekat bertanya pada Ayah. Ayah sedang membaca koran di ruang tamu. Anindya duduk di sampingnya.

"Yah, kursi kosong itu untuk siapa?"

Ayah tidak menurunkan koran. Hanya matanya yang bergerak ke arah Anindya, lalu kembali ke halaman koran.

"Untuk orang kedua," jawab Ayah, sama persis dengan jawaban Ibu dua belas tahun lalu.

"Orang kedua dari mana?"

"Dari keluarga ini."

"Apa dia anggota keluarga?"

Ayah diam lama. Lalu dia melipat koran, meletakkannya di pangkuan, dan menatap Anindya dengan mata yang—untuk pertama kalinya—terlihat tua. Sangat tua. Lebih tua dari usianya yang lima puluh tiga tahun.

"Dia adalah anggota keluarga," kata Ayah. "Tapi dia tidak pernah diundang."

"Kalau dia anggota keluarga, kenapa tidak diundang?"

Ayah bangkit. Dia berjalan ke kursi kosong itu—yang sudah tidak ada di ruang tamu karena sudah jam sembilan malam—lalu menunjuk ke udara kosong.

"Karena jika dia diundang, dia akan duduk di kursi itu. Dan jika dia duduk, dia tidak akan pernah pergi."

Ayah kembali ke kursinya. Membuka koran lagi. Tidak ada sepatah kata pun setelah itu.

Anindya tidak tidur malam itu.

Dia duduk di kamarnya, memandangi foto terbaru yang ditemukan di bawah bantal—foto dirinya di masa depan, di ruang makan yang sama, di samping pria tua yang tidak dikenal. Lalu dia memperhatikan detail kecil di foto itu yang sebelumnya tidak dia sadari:

Pria tua itu memegang tangan Anindya. Di pergelangan tangan Anindya—yang di foto itu, di masa depan, berumur dua puluh tiga—ada sebuah gelang. Gelang dari anyaman rambut. Rambut hitam panjang. Rambut Ibu.

Dan di atas meja makan, di depan pria tua itu, ada piring kosong. Tidak ada makanan. Padahal di piring Anindya dan anggota keluarga lain, makanan masih utuh.

Hanya piring pria tua itu yang kosong.

Seolah-olah dia tidak pernah diundang untuk makan. Hanya untuk duduk.

---

BAGIAN KEDUA: TWIST DI DALAM TWIST

Keesokan harinya, Anindya membolos kuliah. Dia pergi ke kamar Ibu, yang jarang dimasuki siapa pun karena Ibu menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur atau di ruang makan. Kamar Ibu gelap. Gorden tebal menutup semua cahaya. Bau kapur barus dan sesuatu yang manis—mungkin minyak rambut—memenuhi udara.

Di atas meja rias Ibu, ada sebuah album foto. Kulitnya sudah mengelupas. Anindya membukanya perlahan.

Halaman pertama: foto pernikahan Ayah dan Ibu. Ayah tampak muda. Ibu tampak cantik. Tapi di antara mereka, berdiri seorang anak perempuan—mungkin berumur lima tahun—yang tidak pernah Anindya lihat sebelumnya. Wajahnya persis seperti Anindya di usia itu. Tapi di foto itu, anak itu tidak tersenyum. Dia menatap kamera dengan mata yang kosong, seperti mata Ibu saat ditanya tentang kursi kosong.

Anindya membalik halaman. Foto selanjutnya: anak itu duduk di pangkuan Ayah. Ayah tertawa. Tapi di sebelah Ayah, ada seorang perempuan lain yang wajahnya disilet dengan silet—bekas sobekan rapi, bukan robekan marah. Perempuan itu memakai gaun pengantin. Mungkin itu Ibu. Mungkin Ibu menyilet wajahnya sendiri dari foto itu.

Halaman berikutnya: hanya anak itu. Berdiri di depan kursi kosong. Tapi di foto ini, kursi itu tidak kosong. Seorang perempuan setengah baya duduk di sana—wajahnya tua, keriput, tapi matanya muda, segar, seperti mata Anindya.

Di bawah foto itu, tertulis dengan tinta yang sudah pudar:

"Aku dan ibuku. Usiaku tujuh tahun. Usia ibuku dua puluh sembilan. Usia asliku? Tidak ada yang tahu."

Anindya merinding.

Dia membaca ulang kalimat itu. "Usia asliku?" Maksudnya usia asli? Apakah anak itu bukan anak yang sungguhan? Atau apakah angka "tujuh tahun" itu palsu?

Dia membalik halaman lagi. Foto terakhir: anak itu sudah dewasa. Dia berdiri di depan cermin, memegang sebuah kepala—kepala perempuan lain. Kepala itu tersenyum. Wajah kepala itu adalah wajah Ibu yang sekarang. Tapi tubuh yang memegang kepala itu—tubuh itu tidak punya wajah. Kosong. Hanya kulit halus tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut.

Anindya menutup album. Dadanya sesak.

Dia keluar dari kamar Ibu. Di lorong, dia berpapasan dengan Dara, adiknya. Dara menatapnya aneh.

"Kak, muka kamu pucat."

"Tidak apa-apa."

"Mama lagi cari kamu. Katanya kamu lupa siapin kursi buat makan malam nanti."

Anindya baru sadar. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kesembilan belas. Dia lupa. Dia lupa menyiapkan kursi. Dia lupa menyiapkan nasi. Dan dia lupa sesuatu yang lain—sesuatu yang dia rasakan sejak bangun tidur: ada tangan di pundaknya. Tangan dingin. Tangan yang terasa seperti tangan perempuan tua.

Dia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

Tapi di cermin ujung lorong, dia melihat bayangannya sendiri berjalan—tidak ke arah yang sama dengan arah tubuhnya. Bayangan itu berjalan ke kamar Ibu. Membuka pintu. Masuk. Dan tidak pernah keluar.

---

BAGIAN KETIGA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST

Malam itu, ruang makan terasa berbeda. Lampu lebih redup dari biasanya. Ibu memasak untuk enam orang. Enam piring. Enam gelas. Tapi yang hadir hanya Anindya, Bara, Dara, Ayah, dan Ibu. Satu kursi kosong—bukan kursi biasa, tetapi kursi yang selama ini kosong. Dan satu kursi lagi, di sebelah Ibu, yang juga kosong.

Anindya menghitung. Dua kursi kosong.

"Bu, kok ada dua?"

Ibu tidak menjawab. Ibu sibuk mengatur posisi sendok dan garpu di piring kosong itu. Gerakannya cepat, hampir panik, seperti orang yang sedang bersiap menyambut tamu yang sangat ditakuti.

Ayah duduk di kursinya tanpa berkata apa-apa. Tangannya memegang koran, tapi koran itu terbalik. Dia tidak membaca. Dia hanya menatap dinding.

Bara memainkan ponselnya. Tangannya gemetar.

Dara menggigit kukunya sampai berdarah.

Lalu bel rumah berbunyi.

Tidak ada yang membuka pintu. Bel berbunyi lagi. Lalu ketukan. Tiga kali. Pelan. Teratur. Seperti ketukan seseorang yang tahu persis bahwa dia tidak diinginkan.

Ibu berdiri. Dia berjalan ke pintu. Anindya mengikutinya dari belakang.

Ibu membuka pintu.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi di atas meja teras, ada sebuah bungkusan kertas coklat. Ibu mengambilnya tanpa menyentuh—menggunakan ujung jari, seperti mengambil benda yang panas. Dia membawanya ke ruang makan. Dia membukanya.

Isinya: sebuah foto.

Foto itu menunjukkan ruang makan yang sama, pada malam yang sama, dengan orang yang sama. Tapi di foto itu, kursi kosong pertama diduduki oleh seorang perempuan tua—perempuan yang tidak dikenal, dengan rambut putih panjang dan mata hitam pekat. Dan kursi kosong kedua—kursi di sebelah Ibu—diduduki oleh seorang anak laki-laki, sekitar lima tahun, yang sedang tersenyum.

Tidak ada yang mengenali anak laki-laki itu. Tidak ada yang mengenali perempuan tua itu.

Tapi di belakang foto itu, tertulis:

"Yang pertama adalah masa depan. Yang kedua adalah masa lalu. Kalian tidak diundang di keduanya. Tapi kalian tetap akan duduk di sana."

Ibu menjatuhkan foto itu. Wajahnya pucat.

"Bu, ini foto siapa?" tanya Anindya.

Ibu menatapnya. Lalu untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Ibu menjawab dengan kalimat lengkap:

"Perempuan tua itu adalah aku. Empat puluh tahun dari sekarang. Dan anak laki-laki itu—" Ibu berhenti. Menelan ludah. "Anak laki-laki itu adalah kakak yang belum pernah lahir."

Anindya bingung. "Kakak? Aku punya kakak lain?"

Ibu menggeleng. "Bukan kakakmu. Kakakku."

Diam.

"Aku punya kakak laki-laki," lanjut Ibu. "Dia meninggal sebelum aku lahir. Ibuku—nenekmu—selalu menyiapkan kursi untuknya setiap makan malam. Persis seperti yang aku lakukan selama ini. Dan aku pikir itu normal. Aku pikir semua keluarga melakukan itu. Sampai suatu hari, saat aku berumur tujuh tahun, kakak yang sudah meninggal itu muncul. Duduk di kursi kosong. Tersenyum. Lalu dia berkata: 'Sekarang giliranmu yang akan melakukan ini untuk anakmu.'"

Anindya merasakan udara di sekitarnya berubah dingin.

"Sejak malam itu," kata Ibu, "aku tahu bahwa aku akan punya anak perempuan. Dan anak perempuan itu—kau, Ndia—akan mewarisi ritual yang sama. Bukan untuk kakakku yang mati. Tapi untuk seseorang yang belum lahir. Seseorang yang mungkin tidak akan pernah lahir. Tapi jika kau lupa menyiapkan kursi untuknya, dia akan lahir. Dan jika dia lahir, kau akan mati."

---

BAGIAN KEEMPAT: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT

Anindya mundur tiga langkah.

"Jadi selama ini... aku menyiapkan kursi untuk calon adikku? Atau calon anakku? Siapa?"

Ibu menggeleng. "Bukan adikmu. Bukan anakmu. Kau menyiapkan kursi untuk dirimu sendiri."

"Tidak masuk akal."

"Tidak masuk akal memang. Tapi lihatlah fotonya." Ibu mengambil foto yang baru saja datang, menunjuk ke anak laki-laki berusia lima tahun. "Ini aku. Waktu kecil. Tapi aku perempuan. Lalu kenapa di foto ini aku menjadi laki-laki? Karena foto ini berasal dari dunia di mana aku terlahir sebagai laki-laki. Dunia di mana kau—Ndia—tidak pernah lahir. Dunia di mana ritual ini tidak pernah ada karena tidak ada yang mewarisinya."

Anindya pusing.

"Jadi, setiap kali aku menyiapkan kursi kosong, aku mencegah kelahiran versi lain dari diriku?"

"Kau mencegah kelahiran versi dirimu yang tidak pernah menjadi dirimu," kata Ibu. "Tapi kau juga memastikan bahwa versi dirimu yang sekarang tetap hidup. Ritual ini egois, Ndia. Itu sebabnya tidak pernah dijelaskan kepada siapa pun. Karena jika kau tahu, kau akan berhenti melakukannya. Dan jika kau berhenti, kau akan mati."

Anindya menatap kursi kosong itu. Untuk pertama kalinya, kursi itu tidak tampak sebagai kursi. Ia tampak sebagai sebuah pertanyaan: Apakah kau pantas hidup menggantikan versi dirimu yang lain?

Dia tidak tahu jawabannya.

Tapi kemudian dia teringat foto di bawah bantalnya—foto dirinya di umur dua puluh tiga, di ruang makan, di samping pria tua. Pria tua itu tidak lain adalah Ayah di masa depan. Dan di foto itu, kursi kosong tidak ada. Artinya, di masa depan, ritual ini berhenti.

"Kursi kosong tidak ada. Artinya aku berhenti melakukannya. Lalu kenapa aku masih hidup di foto itu?"

Anindya menatap Ibu.

"Bu, foto aku yang umur dua puluh tiga—Ayah ada di sampingku, tapi kursi kosong tidak ada. Apa artinya?"

Ibu terdiam. Lalu dia berbisik, nyaris tidak terdengar:

"Itu artinya kau bukan yang mewarisi ritual ini. Itu artinya... kau adalah orang kedua."

---

BAGIAN KELIMA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT—PENUTUP YANG MEMBUKA LAGI

Anindya tidak mengerti. Tapi sebelum dia sempat bertanya, lampu ruang makan padam. Semua orang berteriak. Hanya sesaat. Lalu lampu menyala lagi.

Dan di kursi kosong pertama, duduk seorang perempuan tua.

Bukan perempuan tua dari foto tadi. Bukan Ibu di masa depan. Perempuan tua yang berbeda. Wajahnya keriput, punggungnya bungkuk, tapi matanya—matanya masih muda. Masih sembilan belas tahun. Masih mata Anindya.

"Halo," kata perempuan tua itu. Suaranya lembut, seperti suara angin yang masuk lewat celah pintu. "Aku kamu. Umur delapan puluh tujuh. Aku datang ke sini untuk menghentikan semuanya."

Ibu jatuh pingsan. Ayah memegang dada. Bara dan Dara berlari keluar ruangan.

Hanya Anindya yang tetap berdiri.

"Kamu datang untuk menghentikan ritual ini?"

Perempuan tua itu mengangguk. "Tidak ada yang perlu dihentikan, karena ritual ini tidak pernah ada. Ini hanya cerita yang Ibu ceritakan pada dirinya sendiri agar dia merasa bahwa kematian kakak laki-lakinya memiliki makna. Tapi kematian tidak perlu bermakna, Ndia. Kematian hanya kematian. Dan kita—kita yang hidup—tidak perlu menyiapkan kursi untuk ketakutan kita sendiri."

Anindya menangis.

"Tapi foto-foto itu? Mereka nyata."

"Foto-foto itu nyata karena kau percaya mereka nyata. Sejak usia tujuh tahun, kau diajari untuk takut pada kursi kosong. Ketakutan itu menciptakan foto-foto itu. Bukan sebaliknya."

Anindya memeluk perempuan tua itu. Tubuhnya dingin. Tapi pelukannya hangat—hangat seperti pelukan yang tidak pernah dia dapatkan dari Ibu.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Perempuan tua itu melepaskan pelukan. Dia berjalan ke kursi kosong kedua—kursi yang tadi malam disiapkan untuk anak laki-laki tak dikenal. Dia duduk di sana. Lalu dia tersenyum.

"Sekarang aku yang akan duduk di kursi kosong. Agar kau tidak perlu lagi menyiapkannya. Biarkan aku yang menjadi orang kedua yang tidak pernah diundang. Karena aku sudah tua. Aku tidak takut pada kursi. Aku hanya takut pada ketakutanmu."

Perempuan tua itu mulai memudar. Perlahan. Seperti kabut yang dimakan matahari.

Anindya berteriak. "Jangan pergi!"

Tapi perempuan tua itu hanya tersenyum. Dan sebelum benar-benar lenyap, dia berbisik:

"Kursi kosong tidak pernah untuk orang mati, Ndia. Kursi kosong selalu untuk orang hidup yang belum berani duduk."

Lalu dia pergi.

Lampu menyala terang.

Ibu tersadar. Ayah menangis diam-diam. Bara dan Dara kembali ke ruang makan dengan wajah penuh tanda tanya.

Tapi Anindya sudah tidak ada di sana.

Dia duduk di kursi kosong.

Bukan kursi yang tadi diduduki perempuan tua itu. Bukan kursi yang selama ini disediakan. Tapi kursi biasa—kursi yang memang sudah ada sejak awal, hanya saja tidak pernah ada yang berani mendudukinya.

"Kenapa kamu duduk di situ, Ndia?" tanya Ibu.

Anindya tersenyum.

"Karena ini kursiku, Bu. Selama ini aku duduk di kursi yang salah."

Ibu menatapnya lama. Lalu Ibu tersenyum—tersenyum untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun.

"Iya," kata Ibu. "Ini kursimu. Maafkan Ibu karena lupa."

Dan untuk pertama kalinya, keluarga itu makan malam dengan semua kursi terisi. Tanpa kursi kosong. Tanpa piring berisi makanan yang dibuang ke tong sampah. Tanpa ritual.

Di luar jendela, seorang perempuan tua berjalan perlahan meninggalkan rumah itu. Dia tidak menoleh. Dia tidak perlu menoleh. Karena dia tahu bahwa Anindya—dirinya yang muda—akhirnya berani duduk di tempat yang selama ini takut dia duduki: tempatnya sendiri.

Bukan orang kedua.
Bukan orang yang diundang.
Bukan orang yang menunggu.

Hanya Anindya.
Yang dulu takut pada kursi kosong.
Sekarang tahu bahwa kursi itu tidak pernah kosong.

Dia hanya belum berani melihat siapa yang sudah duduk di sana sepanjang waktu.

---

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI