Pabrik Hujan
Ayahku bekerja di pabrik hujan. Setiap pagi, dia berangkat sebelum matahari terbit, memakai jas hujan kuning yang sama sejak aku lahir, dan pulang saat malam sudah bulat seperti perut ibuku yang sedang mengandung adik. Aku tidak pernah tahu di mana pabrik itu. Ayah tidak pernah bilang. Tapi suatu malam, ketika aku berusia dua belas tahun, aku menemukan selembar kertas di saku jas hujannya yang basah. Kertas itu bergambar peta, dan di tengah peta tertulis: "Di sini hujan dibuat. Masuk. Tapi jangan bertanya kenapa airnya asin."
Aku tidak pergi saat itu. Aku takut. Tapi rasa penasaran tumbuh lebih cepat dari usiaku. Pada hari ketika adikku lahir—seorang bayi perempuan yang tidak pernah menangis—aku memutuskan untuk mencari pabrik itu. Rumah kami di ujung desa, di belakang bukit, di samping sungai yang airnya tidak pernah mengalir meskipun hujan turun setiap hari. Aku mengikuti peta itu melewati kebun teh yang daunnya selalu basah, melewati jembatan yang tidak pernah dilintasi siapa pun, melewati gerbang besi berkarat yang bertuliskan: "Dilarang membawa payung. Hujan tidak suka bersaing."
Di balik gerbang itu, bukan pabrik. Bukan mesin. Bukan cerobong asap.
Yang ada hanyalah sebuah sumur. Sumur tua dengan timba dari kayu yang sudah lapuk. Dan dari dalam sumur itu, keluar suara. Suara yang mirip dengan suara ayah, tapi lebih tipis, seperti air yang mendidih lalu dingin.
"Kamu datang. Duduk. Ayah akan cerita bagaimana hujan dibuat."
Aku duduk di pinggir sumur. Di dalamnya, gelap. Tapi semakin lama aku menatap, semakin aku melihat sesuatu. Bukan air. Tapi langit. Langit di dalam sumur. Dengan awan-awan kecil yang berenang seperti ikan.
1. Surealisme yang Haus
"Ayah membuat hujan dari air mata," kata suara dari sumur itu. "Bukan air mata Ayah. Tapi air mata orang-orang yang tidak pernah menangis. Ayah mengumpulkannya dari seluruh dunia. Dari mata perempuan yang dipukul suaminya tapi tersenyum di depan tetangga. Dari mata anak kecil yang kehilangan ibu di pasar dan tidak berani berteriak. Dari mata lelaki tua yang menangis di kamar mandi karena dia tidak bisa lagi buang air kecil tanpa rasa sakit. Ayah ambil semua air mata itu, Ayah rebus di dalam sumur ini, lalu Ayah tebarkan ke langit. Dan jadilah hujan."
"Tapi kenapa hujan tidak asin? Air mata asin."
"Karena Ayah menyaring rasa asinnya. Rasa asin itu Ayah simpan di sini, di dalam sumur. Menjadi... sesuatu yang lain."
"Apa?"
Diam. Angin bertiup dari dalam sumur. Bau anyir. Bau seperti darah, tapi lebih tipis, lebih basah.
"Rasa asin itu menjadi sungai di depan rumah kita. Sungai yang tidak pernah mengalir. Karena sungai itu adalah air mata yang tidak bisa jatuh. Air mata yang terlalu berat untuk menjadi hujan. Air mata yang terjebak di antara sedih dan pasrah."
2. Eksistensialisme yang Menggenang
Aku tidak mengerti waktu itu. Aku masih dua belas. Tapi kata-kata ayah melekat di kepalaku seperti lumut di batu sungai. Setiap kali hujan turun, aku ingat sumur itu. Setiap kali adikku tidak menangis—dan dia tidak pernah menangis sejak lahir—aku ingat sumur itu. Setiap kali ibuku mencuci piring di dapur dengan mata sembab karena memikirkan hutang yang tidak pernah lunas, aku ingat sumur itu.
"Ayah," kataku pada sumur ketika aku datang lagi di usia tujuh belas, "Ayah masih di sana?"
Aku selalu di sini. Di sumur. Aku tidak bisa keluar. Aku masuk ke sini saat kamu berusia satu tahun. Aku sengaja masuk. Karena Ayah tidak tahan melihat ibumu menangis setiap hari. Jadi Ayah memutuskan untuk menjadi hujan. Agar setiap kali ibu sedih, dia bisa melihat Ayah jatuh dari langit. Dan dia tidak sendirian."
"Tapi ibu menikah lagi. Ibu punya suami baru. Dia tidak lagi sedih."
"Itu bagus. Berarti Ayah tidak perlu lagi menjadi hujan. Tapi Ayah tidak bisa keluar. Sumur ini sudah menjadi Ayah. Dan Ayah sudah menjadi sumur."
"Kalau begitu, aku yang akan masuk. Aku gantikan Ayah. Agar Ayah bisa keluar dan melihat ibu."
"Tidak. Kamu harus hidup. Kamu harus menjaga adikmu. Dia tidak menangis karena dia tidak punya air mata. Aku yang mengambil air matanya saat dia di dalam perut ibu. Aku pikir itu akan membantunya. Ternyata, tanpa air mata, dia tidak bisa merasakan sedih. Tapi dia juga tidak bisa merasakan bahagia. Dia hanya... kosong. Kamu harus mengembalikan air matanya."
3. Plot Twist: Adikku Tidak Pernah Lahir. Dia Hanya Hujan yang Salah Bentuk.
Aku pulang ke rumah. Adikku—yang usianya sudah lima tahun—sedang duduk di kursi goyang. Matanya terbuka lebar. Dia tidak berkedip. Dia tidak bernapas. Aku sentuh pipinya. Dingin. Tapi bukan dingin seperti kulit. Dingin seperti air hujan yang menggenang di daun talas.
"Ibu," panggilku. "Adik kenapa?"
Ibu keluar dari dapur. Wajahnya biasa saja. Tidak panik. Tidak cemas.
"Adikmu sedang tidak berbentuk," kata ibu. "Kadang dia jadi hujan. Kadang dia jadi anak. Tergantung cuaca. Hari ini panas, jadi dia jadi anak. Tapi dia tidak bernapas karena dia lupa caranya."
"Tidak berbentuk? Maksudnya?"
Ibu duduk di sampingku. Dia mengambil tangan adikku. Tangannya lembek. Seperti plastisin yang terkena panas.
"Adikmu bukan anak sungguhan. Adikmu adalah hujan yang ayahmu ciptakan di pabrik. Tapi karena ayahmu terlalu sedih, hujan itu tidak jadi turun. Hujan itu memilih tinggal di rumah kita. Menjadi anak. Menjadi adikmu. Dia tidak menangis karena dia tidak tahu caranya. Dia bukan manusia. Dia hanya... rupa."
"Jadi selama ini aku punya adik hujan?"
"Kamu punya adik hujan. Dan ayahmu ada di sumur. Dan ibumu—ibu yang duduk di sini—sebenarnya tidak ada. Ibu juga hujan. Ibu adalah hujan pertama yang ayah buat. Tapi ibu berhasil menjadi manusia. Sayangnya, ibu lupa cara menjadi hujan lagi. Jadi ibu terjebak di antara. Bukan manusia. Bukan hujan. Hanya... ibu."
4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Aku Juga Hujan. Keluargaku Adalah Hujan yang Lupa Jatuh.
"Dari mana asalku?" tanyaku, meskipun aku sudah takut dengan jawabannya.
"Kamu dari laut," kata ibu. "Bukan dari pabrik ayah. Kamu adalah air laut yang ayah ambil saat dia masih menjadi manusia. Ayah menjadikanmu hujan. Tapi hujan tidak pernah jatuh. Kamu memilih tinggal. Kamu memilih menjadi anak. Kamu memilih menjadi laki-laki. Kamu memilih untuk tidak sadar bahwa kamu sebenarnya bisa menguap kapan saja."
"Kalau aku menguap, apa yang terjadi?"
"Kamu akan kembali ke laut. Ke tempat asalmu. Dan ayah, ibu, adik—kami akan tetap di sini. Di pabrik hujan yang tidak pernah berhenti memproduksi rintik-rintik rindu."
Aku berdiri. Aku berjalan ke halaman. Di langit, tidak ada awan. Tapi hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil yang hangat. Aku mengangkat tangan. Air hujan itu tidak basah. Dia menyerap ke dalam kulitku. Dia berbisik. Bukan dengan suara, tapi dengan rasa.
"Kembalilah. Laut merindukanmu. Kami di sini hanya bayangan. Kamu satu-satunya yang nyata."
Aku menangis. Air mataku jatuh ke tanah. Tapi tanah tidak basah. Air mataku berubah menjadi kabut. Kabut itu naik ke langit. Menjadi awan. Dan dari awan itu, hujan turun lagi. Hujan yang sama. Hujan yang hangat. Hujan yang berbisik.
5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Pabrik Hujan Adalah Tubuh Ayah yang Membusuk
Aku kembali ke sumur. Aku memanggil ayah.
"Ayah. Ayah bilang Ayah masuk ke sumur saat aku berumur satu tahun. Tapi sumur ini tidak cukup besar untuk tubuh Ayah. Kecuali..."
"Kecuali Ayah tidak masuk dengan tubuh. Ayah masuk dengan tulang. Ayah mati saat kamu berumur satu tahun. Ayah mati karena jatuh ke sumur ini. Bukan sengaja. Ayah tergelincir. Tapi setelah mati, Ayah sadar bahwa sumur ini bisa mengubah orang mati menjadi hujan. Jadi Ayah memilih untuk tetap di sini. Sebagai hujan. Sebagai suara. Sebagai pabrik."
"Jadi pabrik hujan adalah sumur yang di dalamnya ada mayat Ayah?"
"Pabrik hujan adalah tempat di mana orang mati diubah menjadi air. Agar mereka bisa jatuh dari langit dan menyentuh orang yang mereka cintai untuk terakhir kalinya. Ayah tidak bisa menyentuhmu dengan tangan. Tapi Ayah bisa menyentuhmu dengan rintik. Setiap kali hujan, Ayah ada di puncak kepalamu. Di bahumu. Di telapak tanganmu yang terangkat ke langit."
Aku menjatuhkan diri ke pinggir sumur. Aku memeluk bibir sumur yang dingin dan lembap. "Ayah, aku rindu."
"Ayah juga rindu. Tapi Ayah tidak bisa menangis. Air mata Ayah sudah menjadi hujan. Dan hujan tidak boleh pulang sebelum dia membasahi semua tanah yang pernah diinjak orang yang dicintainya."
6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Dunia Ini Adalah Pabrik Hujan, dan Kita Semua Adalah Hujan yang Lupa
Aku membuka mata. Aku tidak lagi di pinggir sumur. Aku di dalam sumur. Di dalam air yang gelap dan asin. Di sekelilingku, bukan dinding bata. Tapi tubuh-tubuh. Tubuh-tubuh manusia. Laki-laki, perempuan, tua, muda. Mereka semua terapung. Mata mereka tertutup. Mulut mereka setengah terbuka. Dan dari mulut itu, keluar gelembung-gelembung kecil yang naik ke permukaan.
Aku mendekati salah satu tubuh. Wajahnya familiar. Wajahku.
Tubuh itu adalah aku. Tapi lebih tua. Lebih keriput. Lebih lelah.
"Itu kamu," suara ayah dari mana-mana. "Kamu sudah mati tujuh puluh tahun lalu. Tapi kamu tidak sadar. Kamu pikir kamu hidup. Kamu pikir kamu punya adik. Kamu pikir ibumu menikah lagi. Padahal semua itu hanyalah gelembung. Gelembung yang kamu ciptakan agar kamu tidak merasa mati di dalam sumur."
"Aku tidak mati. Aku di sini. Aku bisa bicara. Aku bisa berpikir."
"Orang mati juga bisa bicara dan berpikir. Di sini. Di pabrik hujan. Di antara sesama mayat. Tapi di luar, di atas sana, mereka tidak tahu. Mereka hanya melihat hujan. Mereka tidak tahu bahwa setiap tetes hujan adalah 'aku rindu' yang tidak pernah sampai."
7. Plot Twist Terakhir: Hujan Tidak Pernah Ada. Yang Ada Hanyalah Air Mata yang Jatuh ke Bawah.
Aku duduk di pinggir sumur. Tidak, aku terapung di dalam sumur. Tidak, aku berdiri di halaman rumah. Tidak, aku berbaring di ranjang. Tidak, aku tidak berada di mana pun. Aku adalah titik. Titik antara sadar dan tidur. Antara ada dan tiada. Antara hujan dan kemarau.
Aku ingat sekarang.
Aku tidak punya ayah. Aku tidak punya ibu. Aku tidak punya adik. Aku tidak punya rumah. Aku tidak punya desa. Aku tidak punya sumur. Aku tidak punya pabrik. Aku tidak punya hujan.
Aku punya satu hal: keinginan untuk dicintai. Keinginan yang begitu besar sehingga aku menciptakan seluruh dunia. Ayah yang bekerja di pabrik hujan. Ibu yang memasak di dapur. Adik yang tidak menangis. Sumur yang berisi suara. Semua agar aku tidak sendirian. Semua agar ada seseorang yang merindukanku ketika aku pergi.
Tapi aku tidak pernah pergi.
Aku tidak pernah datang.
Aku hanya... diam.
Seperti adikku.
Seperti hujan yang tidak pernah jatuh.
Seperti air mata di mata yang tidak pernah berkedip.
La da dum dum dum...
Bukan.
Itu cerita lain.
Ini cerita tentang hujan.
Dan hujan, pada akhirnya, hanyalah kabar dari langit bahwa di atas sana—di tempat yang tidak pernah kita lihat—seseorang sedang menangis.
Dan tangisannya jatuh ke bumi.
Membasahi tanah.
Menyegarkan daun.
Menggenang di sungai yang tidak mengalir.
Dan kadang-kadang, mengetuk jendela kamarmu di malam hari, berbisik:
"Aku di sini. Aku ingat kamu. Aku rindu. Tapi aku tidak bisa menetap. Aku harus menguap. Aku harus kembali ke atas. Aku harus menunggu sampai kamu juga menjadi uap. Lalu kita bersama. Di awan. Di pabrik hujan yang sebenarnya: hati yang tidak pernah berhenti merindu."
Epilog (yang Tidak Pernah Basah):
Sekarang, setiap kali hujan turun, aku tidak berlindung.
Aku berdiri di tengah halaman. Aku menengadahkan wajah. Aku membiarkan rintik-rintik kecil itu menyentuh pipiku. Aku membiarkan mereka masuk ke mataku, ke mulutku, ke telingaku.
Aku tidak tahu apakah ini air hujan atau air mata.
Aku tidak tahu apakah ini ayah atau ibu atau adik atau aku sendiri.
Yang aku tahu: setiap tetes itu hangat. Setiap tetes itu berat. Setiap tetes itu membawa cerita yang tidak pernah selesai.
Pabrik hujan tidak pernah tutup.
Pabrik hujan adalah tempat di mana semua orang yang pernah kehilangan berkumpul, berubah menjadi air, dan jatuh ke bumi dengan harapan: Mungkin kali ini, dia akan merasa. Mungkin kali ini, dia akan menengadah. Mungkin kali ini, dia akan tahu bahwa dia tidak sendirian.
Dan jika tidak hari ini, mungkin besok.
Dan jika tidak besok, mungkin di hujan berikutnya.
Dan jika tidak di hujan berikutnya, mungkin di lautan. Di tempat semua air bermuara. Di tempat semua rindu bertemu. Di tempat semua hujan pulang.
Aku menutup mata.
Hujan makin deras.
Dan di antara rintik itu, aku bisa mendengar suara ayahku—atau suara siapa pun yang pernah mencintai kita—berkata:
"Kita tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanya berubah bentuk. Menjadi air. Menjadi uap. Menjadi awan. Menjadi hujan. Menjadi kenangan yang jatuh di bahumu di suatu sore yang tidak istimewa. Tetaplah di sini. Jangan ikut kami. Tapi jangan lupa kami. Karena jika kamu lupa, kami akan benar-benar mati. Bukan sebagai mayat. Tapi sebagai cinta."
Aku mengangguk.
Aku tersenyum.
Aku basah.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak masalah dengan basah.
Karena basah adalah bukti bahwa aku masih bisa disentuh.
Oleh rindu.
Oleh waktu.
Oleh hujan yang tidak pernah benar-benar berhenti mengetuk pintu.
Tik tik tik.
La da dum dum dum.
Hujan.
Rindu.
Pulang.
Komentar
Posting Komentar