PANTOMIM

Bukan sekadar seni tanpa suara. Di ibu kota yang hiruk-pikuk dengan klakson dan orasi, seorang pantomim bernama Kenthus memilih untuk membisu total selama 1.000 hari. Ia tidak bicara, tidak berbisik, bahkan tidak mendengkur. Tubuhnya adalah satu-satunya medium. Tapi pada hari ke-997, ia mendapati bahwa dunia di sekitarnya mulai meniru gerakannya—bukan karena ia terkenal, tetapi karena ada sesuatu yang lebih kelam: setiap kali ia menarik garis imajiner di udara, sebuah retakan nyata muncul di aspal. Setiap kali ia berpura-pura memegang bola, sebuah lubang menganga di tanah. Dan hari ini, tanpa sengaja, ia berpura-pura meremas jantung seseorang.

---

Bagian Satu: Tubuh sebagai Bunyi

Penonton di Taman Ismail Marzuki mengira itu bagian dari pertunjukan.

Kenthus berdiri di tengah lingkaran manusia. Wajahnya putih oleh bedak, bibirnya merah menyala seperti luka segar. Ia mengenakan kaus loreng hitam-putih dan topi bowler yang terlalu kecil untuk kepalanya. Tanpa musik, tanpa properti, tanpa sepatah kata pun, ia mulai.

Ia menarik napas panjang. Lalu ia menggerakkan tangan kirinya perlahan, seolah memegang sebuah buku imajiner. Jari-jarinya membalik halaman demi halaman. Tiba-tiba ia berhenti. Matanya membelalak. Ia menutup buku itu dengan keras—tak ada suara, tapi penonton tersentak kaget—lalu ia menekan buku itu ke dadanya, meremasnya seperti orang yang menahan tangis.

Seorang anak perempuan di barisan depan mulai menangis. Bukan karena takut, tapi karena tangisan Kenthus terlihat. Ia tidak bersuara, tapi bahunya naik turun, mulutnya menganga hening, air mata bedak mengalir di pipinya. Dan anehnya, penonton merasa mendengar isak tangis itu di dalam kepala mereka masing-masing.

Itulah kekuatan Kenthus. Bukan sulap. Bukan hipnosis. Tapi semacam gangguan halusinasi kolektif—para ilmuwan di universitas negeri sudah tiga kali menelitinya, dan tiga kali menyatakan bahwa fenomena itu "tidak dapat dijelaskan oleh fisika known".

Kenthus sendiri tidak peduli dengan ilmuwan. Ia hanya peduli pada satu hal: hitungan mundur menuju 1.000 hari.

Hari ke-997.

---

Bagian Dua: Garis di Udara

Pertunjukan malam itu berbeda. Kenthus merasa ada energi ganjil yang mengalir dari ujung jarinya. Bukan energi mistis—lebih seperti statis listrik yang tidak bisa ia kendalikan. Saat ia menarik garis horizontal di udara, ia mendengar bunyi kreek yang nyata. Penonton juga mendengarnya. Mereka menoleh ke kiri dan kanan, mencari sumber suara.

Lalu seorang pemuda berteriak.

"Tanahnya! Tanahnya retak!"

Semua mata tertuju ke aspal di depan panggung darurat. Sebuah garis lurus, persis sepanjang tangan Kenthus, menganga di aspal. Hitam. Dalam. Bau tanah basah menyengat.

Kenthus berhenti. Ia melihat tangannya sendiri. Bedak di jari-jarinya bergetar seperti pasir di atas gendang.

Ia tidak sengaja membuat retakan itu. Ia hanya berpura-pura. Sejak kapan pura-pura menjadi nyata?

Tapi penonton tidak lari. Mereka bertepuk tangan. Mereka mengira itu efek khusus. Beberapa bahkan merekam dengan ponsel dan mengunggahnya dengan caption #PantomimGila #KenthusTheGreat.

Kenthus tidak bisa berteriak. Ia tidak bisa berkata, "Aku tidak sengaja!" Ia hanya bisa membisu, seperti 997 hari terakhir. Ia melanjutkan pertunjukan, kali ini lebih hati-hati. Ia tidak lagi menarik garis. Ia hanya berjalan di tempat, mendorong tembok imajiner, memanjat tangga tak kasat mata. Hal-hal aman.

Tapi ketika ia sampai pada adegan favoritnya—adegan meremas jantung—ia lengah. Ia terlalu larut. Ia membayangkan jantung yang berdetak di telapak tangannya. Ia meremas perlahan. Lalu keras. Lalu lebih keras.

Dan seorang wanita paruh baya di barisan ketiga jatuh pingsan.

Wanita itu mengerang, memegang dadanya. Wajahnya biru. Orang-orang di sekitarnya berteriak, "Ada dokter! Ada dokter!"

Kenthus membeku. Ia melihat tangannya. Di telapak tangannya, ia melihat denyut. Denyut yang bukan denyutnya. Denyut jantung orang lain. Jantung wanita itu.

Ia melepaskan. Wanita itu terbangun, terengah-engah, seperti baru saja selamat dari serangan jantung. Tapi setelah diperiksa paramedis, tidak ada yang salah dengan jantungnya. EKG normal. Tekanan darah normal. Yang tidak normal hanyalah ketakutan di matanya ketika ia menatap Kenthus.

"Kamu... kamu merasakannya?" bisik wanita itu.

Kenthus mengangguk pelan. Ia tidak bisa berkata, tapi anggukannya cukup.

"Aku juga merasakan tanganmu," kata wanita itu, suaranya gemetar. "Tangan dingin. Di dalam dadaku. Kamu sungguhan meremasnya."

---

Bagian Tiga: Delusi atau Realitas?

Malam itu, Kenthus tidak bisa tidur. Ia tinggal di kontrakan sempit di belakang pasar Senen. Dindingnya tipis, tetangganya berisik. Tapi malam ini sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dunia sedang menahan napas, menunggu gerakannya berikutnya.

Ia berdiri di depan cermin pecah. Wajahnya tanpa bedak kini—pucat, kusam, mata cekung seperti orang yang sudah mati seminggu tapi lupa merebahkan diri. Ia mengangkat tangan kanan. Pelan-pelan. Ia membayangkan memegang bola tenis. Lalu ia melemparnya ke dinding.

Bruk.

Bukan suara bola imajiner. Tapi suara sesuatu yang jatuh di kamar sebelah. Kenthus membeku. Ia mendengar tetangganya, seorang pedagang bakso bernama Mamat, berteriak, "Awas! Lemari!"

Kenthus menempelkan telinga ke dinding. Mamat menggerutu tentang lemari plastik yang tiba-tiba jatuh tanpa sebab. Tidak ada angin. Tidak ada gempa.

Kenthus mundur. Ia mencoba lagi. Sekarang ia membayangkan mendorong sebuah meja.

Dari kamar Mamat, terdengar suara kursi plastik terguling.

Kenthus berhenti. Jantungnya berdebar kencang. Ia sadar—gerakannya tidak hanya menciptakan efek di dunia nyata, tetapi efek itu terjadi di ruang terdekat yang memiliki kemiripan dengan objek imajinasinya. Meja imajiner menjadi kursi nyata. Bola tenis menjadi lemari plastik. Dan jantung? Jantung wanita itu menjadi jantung wanita itu sendiri.

Ia duduk di lantai. Kepalanya pusing. Apakah ini gila? Apakah ini bakat? Apakah ini kutukan? Ia tidak tahu. Yang ia tahu adalah: besok adalah hari ke-998. Dua hari menuju 1.000. Dan ia tidak yakin ia bisa bertahan tanpa membunuh seseorang secara tidak sengaja.

---

Bagian Empat: Eksistensialisme Pantomim

Pagi harinya, Kenthus mencari gurunya. Namanya Sastro, mantan pantomim era 80-an yang kini menjadi pemulung botol. Sastro duduk di emperan toko tutup, kakinya buntung sebelah karena diabetes. Ketika Kenthus menceritakan semuanya melalui gerakan dan ekspresi (karena ia tidak bisa bicara), Sastro hanya tertawa.

"Kamu pikir kamu gila?" kata Sastro. "Kamu tidak gila. Kamu baru menjadi. Selama 997 hari kamu membisu, tubuhmu belajar berbahasa tanpa bunyi. Tapi yang tidak kamu sadari: bahasa bukan hanya untuk manusia. Alam semesta juga berbahasa. Dan sekarang alam semesta mendengarkanmu."

"Maksudnya?" gerak Kenthus dengan tangan.

"Kamu bukan lagi sekadar meniru realitas. Kamu memproduksi realitas. Gerakanmu bukan simbol. Gerakanmu adalah perintah. Dan perintah itu dijalankan oleh sesuatu yang lebih besar dari Tuhan—yang aku sebut 'Kekosongan Yang Haus Akan Bentuk'."

Sastro mengambil sebatang rokok dari saku kumalnya. Ia tidak menyalakannya. Ia hanya memainkannya di antara jari-jari.

"Dulu, di tahun 1985, aku juga mengalami hal yang sama. Aku berpura-pura kakiku terpotong. Sehari kemudian, aku benar-benar kehilangan kakiku karena tertabrak kereta. Bukan karena takdir. Bukan karena kecelakaan. Tapi karena aku memerintahkannya, dan dunia menuruti."

Kenthus mundur. Wajahnya pucat.

"Jadi, jangan pernah berpura-pura memotong sesuatu, atau meremas sesuatu, atau menghancurkan sesuatu. Karena jika dunia mendengarkanmu, dunia akan menganggap pura-puramu adalah doa."

"Lalu bagaimana cara menghentikannya?" gerak Kenthus putus asa.

Sastro menghela napas. "Kamu tidak bisa menghentikannya. Tapi kamu bisa mengarahkannya. Kamu sudah 997 hari membisu. Coba bayangkan: apa yang terjadi pada hari ke-1.000? Mungkin kamu akan lenyap. Mungkin kamu akan menjadi suara. Mungkin kamu akan menjadi segalanya. Atau mungkin—" Sastro menatap Kenthus tajam, "—mungkin selama ini kamu bukan manusia. Mungkin kamu adalah sebuah gerakan yang lupa bahwa ia hanya gerakan. Dan sekarang kamu mulai mengingat."

---

Bagian Lima: Plot Twist Di Dalam Twist

Kenthus pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Ia berbaring di lantai kontrakan, menatap langit-langit yang berjamur. Tiba-tiba ia mendengar suara. Bukan dari luar. Dari dalam. Dari dalam tubuhnya.

Suara itu berkata: "Kenthus adalah nama yang kuberikan padamu saat kau lahir dari pahaku. Tapi kau bukan Kenthus. Kau adalah gerakan pertamaku setelah dua puluh tahun membisu."

Kenthus duduk tegak. Suara itu familiar. Suara seorang perempuan. Suara yang sama dengan wanita paruh baya yang jatuh pingsan semalam. Wanita yang jantungnya ia remas.

"Aku ibumu," lanjut suara itu. "Bukan ibu kandung. Tapi ibu yang melahirkanmu sebagai ide. Aku seorang pantomim tua yang membisu selama 20 tahun. Dan pada hari ke-7.305, aku berpura-pura melahirkan seorang anak laki-laki dari perutnya. Dan kau muncul. Di dunia ini. Sebagai manusia daging dan darah. Kau adalah pantomimku yang menjadi nyata, Nak."

Kenthus gemetar. Ia mengangkat tangan, hendak membantah, hendak bertanya. Tapi suara itu memotong.

"Jangan bergerak! Setiap gerakanmu adalah perintah. Jika kau bergerak sekarang, kau bisa membunuhku. Karena aku masih terhubung denganmu. Aku adalah asalmu. Dan asalmu adalah seorang perempuan tua yang sedang terbaring di rumah sakit jiwa, membisu, hanya bergerak sedikit—dan setiap gerakanku menggerakkanmu."

Kenthus membeku. Ia tidak berani bernapas pun.

"Kau tahu mengapa kau harus membisu 1.000 hari? Bukan untuk seni. Tapi agar kau melepaskan diri dari gerakanku. Setelah 1.000 hari, kau akan menjadi gerakanmu sendiri. Kau akan menjadi manusia sungguhan. Bukan pantomim. Tapi ada harga yang harus dibayar: aku akan mati. Karena tanpamu, aku hanya perempuan tua tanpa mimpi."

Air mata Kenthus jatuh. Ia tidak perlu meremas jantung ibunya. Jantungnya sudah hancur sejak mendengar kebenaran itu.

---

Bagian Enam: Hari Ke-1.000

Hari itu, Taman Ismail Marzuki dipenuhi ribuan orang. Kabar tentang pantomim yang bisa mengubah realitas telah tersebar luas. Kenthus berdiri di panggung. Wajahnya putih. Hatinya kosong.

Ia tidak melakukan gerakan apa pun. Ia hanya berdiri. Diam. Sepi.

Penonton mulai gelisah. "Ayo, gerak! Lakukan sesuatu!" teriak seseorang.

Kenthus menutup mata. Ia mengingat suara ibunya. Ibunya yang terbaring di rumah sakit jiwa di kota lain. Ibunya yang mungkin sedang sekarat saat ini.

Lalu ia mengambil keputusan.

Ia mengangkat tangan kanan perlahan. Bukan untuk menarik garis. Bukan untuk meremas jantung. Tapi untuk melambaikan tangan. Lambaian perpisahan.

Dan di seluruh penjuru kota, di setiap rumah sakit, di setiap panti jompo, di setiap kamar yang sunyi, para lansia yang terbaring tanpa suara mengangkat tangan mereka bersamaan. Mereka melambai. Mereka tersenyum. Lalu mereka mati.

Termasuk ibu Kenthus.

Kenthus merasakan ada yang putus di dalam dadanya. Seutas tali tak kasat mata yang selama ini menghubungkannya dengan asal-usul. Ia jatuh berlutut di panggung. Mulutnya terbuka. Untuk pertama kalinya dalam 1.000 hari, ia hendak bersuara.

Tapi yang keluar bukanlah kata-kata. Yang keluar adalah keheningan yang terlalu penuh, seperti semua suara di dunia dimasukkan ke dalam satu titik lalu diledakkan tanpa bunyi.

Penonton berteriak. Tapi suara mereka tidak terdengar. Seluruh Taman Ismail Marzuki mendadak sunyi. Bukan sunyi karena tidak ada suara. Tapi sunyi karena suara dihapus dari realitas.

Kenthus berdiri. Ia menatap ribuan mulut yang terbuka tapi tidak mengeluarkan bunyi. Ia mengangkat kedua tangannya. Lalu ia menarik garis vertikal di udara.

Aspal terbelah. Tanah menganga. Dan dari dalam bumi, bukan lava yang keluar—tapi bentuk-bentuk. Bentuk-bentuk yang belum pernah dilihat manusia. Bentuk yang hanya pernah ada di mimpi, di halusinasi, di lembar-lembar sketsa yang dibakar sebelum sempat dilihat orang.

Itulah hadiah kutukan Kenthus: sebagai pantomim yang menjadi nyata, ia bisa menciptakan apa pun dengan gerakannya. Tapi ia tidak pernah bisa menikmatinya. Karena ia sendiri tidak nyata. Ia hanyalah gerakan. Dan gerakan tidak punya hati untuk merasa.

---

Epilog

Tiga tahun kemudian, di Taman Ismail Marzuki, sebuah patung didirikan. Patung seorang pria dengan topi bowler, wajah putih, dan tangan terangkat seolah sedang melambai. Di bawah patung itu tertulis:

Kenthus (1990–2023)
Pantomim yang mengajarkan bahwa diam adalah bahasa paling keras, dan bahwa setiap gerakan adalah doa yang bisa dikabulkan—atau terkutuk.

Tapi tidak ada yang tahu bahwa patung itu sendiri sebenarnya bukan patung. Di malam hari, ketika lampu taman padam, patung itu bergerak. Perlahan. Seperti orang yang belajar berjalan untuk pertama kalinya. Seperti bayi yang baru lahir dari rahim keheningan.

Dan jika kau cukup dekat, kau bisa mendengarnya berbisik, tanpa suara:

"Aku tidak mati. Aku hanya berubah menjadi bentuk lain. Dan suatu hari nanti, ketika kau mengangkat tanganmu untuk melambai pada seseorang yang tidak pernah benar-benar ada... kau akan merasakanku. Di sela-sela jarimu. Di antara gerak dan makna."

Lalu patung itu tersenyum. Bedaknya retak. Dan dari retakan itu, keluar satu suara.

Suara tawa.

Tawa pertama dalam 1.000 hari.

Tawa yang terdengar oleh semua orang yang sedang bermimpi tentang sesuatu yang mustahil.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI