Pasar di Ujung Kenangan

Di pasar ini, semua barang dijual dengan harga kenangan.

Bukan uang. Bukan emas. Bukan utang budi. Setiap pembeli harus membayar dengan melepaskan satu ingatan—ingatan apa pun, seberapa pun berharganya—yang akan dihisap oleh penjual melalui telapak tangan. Semakin berharga ingatan itu, semakin langka barang yang bisa dibeli. Sebuah sepatu merah mungkin hanya butuh ingatan tentang sarapan pagi. Sebuah jam tangan emas butuh ingatan tentang ciuman pertama. Sebuah kotak kayu berukir yang dijual di ujung lorong paling selatan butuh ingatan tentang wajah ibu.

Aku masuk ke pasar ini pada suatu sore ketika hujan tidak kunjung berhenti. Di luar pasar, dunia masih basah dan kelabu. Di dalam pasar, semuanya kering, terang, dan sunyi. Sunyi yang aneh—bukan karena tidak ada suara, tapi karena semua suara terasa seperti sudah pernah didengar sebelumnya.

Pasar ini hanya buka untuk mereka yang lupa. Bukan lupa karena pikun. Tapi lupa karena pilihan. Karena hidup terlalu berat untuk diingat.

Aku lupa sejak kapan aku menjadi pelupa. Yang aku tahu, hari ini aku datang untuk membeli satu barang: cermin. Cermin yang bisa menunjukkan wajah seseorang sebelum dia kehilangan segalanya. Karena aku ingin tahu seperti apa rupaku dulu, sebelum aku memilih untuk melupakan.

Penjual cermin duduk di los nomor 7. Seorang perempuan tua dengan rambut putih panjang yang disanggul rapi. Matanya satu buta, satu lagi silau—seperti lampu mobil yang menyorot terlalu terang. Di depannya, berjejer cermin-cermin berbagai ukuran. Ada yang kecil seperti genggaman tangan, ada yang besar seperti pintu.

"Mau cermin yang mana?" tanyanya. Suaranya seperti kerikil yang digesekkan.

"Yang bisa menunjukkan wajahku sebelum aku lupa."

Perempuan itu tersenyum. Satu giginya hilang di sisi kiri.

"Semua cermin di sini bisa melakukan itu. Tapi harganya berbeda. Yang ini," dia menunjuk cermin bundar kecil, "hanya butuh ingatan tentang warna kesukaanmu. Yang ini," dia menunjuk cermin persegi panjang, "butuh ingatan tentang namamu sendiri. Yang ini," dia menunjuk cermin besar dengan bingkai ukiran naga, "butuh ingatan tentang orang yang paling kamu cintai."

Aku meraba saku. Tidak ada uang. Yang ada hanya ingatan-ingatan yang tersisa. Beberapa sudah kabur, seperti foto yang terlalu lama terkena sinar matahari.

"Aku tidak punya ingatan tentang orang yang paling kucintai. Aku sudah lupa siapa dia."

"Tidak apa. Kamu bisa membayar dengan ingatan tentang apa pun. Nanti cermin itu akan mengambil sendiri ingatan yang paling sesuai dengan harga barang."

1. Realisme Magis yang Lapar

Aku memilih cermin besar berbingkai ukiran naga. Perempuan tua itu mengulurkan tangannya. Telapaknya penuh garis-garis yang tidak membentuk pola apa pun—seperti peta dari negeri yang tidak pernah ada.

"Letakkan tanganmu di atas tanganku," katanya. "Cermin akan mengambil ingatan yang diperlukan. Kamu tidak akan merasakan sakit. Hanya... kehilangan."

Aku meletakkan telapak tanganku di atas tangannya. Dingin. Bukan dingin mayat. Tapi dingin seperti air sumur di tengah malam.

Tiba-tiba, dari dalam dadaku, ada sesuatu yang terlepas. Seperti benang yang putus. Seperti burung yang dilepaskan dari sangkar. Aku tidak tahu ingatan apa yang diambil. Tapi aku merasakan kehilangannya—sebuah ruang kosong di kepalaku yang dulu berisi sesuatu yang hangat.

Perempuan itu mengangguk. "Cermin itu sekarang milikmu."

Aku membawa cermin besar itu pulang. Aku letakkan di ruang tamu, menempel di dinding yang kosong. Di dalam cermin, yang terlihat bukanlah wajahku sekarang—bukan wajah lusuh dengan kantung mata tebal dan kulit kering. Tapi wajah lain. Wajah yang lebih muda. Wajah yang tersenyum. Wajah yang sedang berdiri di depan sebuah rumah dengan pagar putih, memegang tangan seorang anak kecil.

Itu aku? Atau itu orang lain?

Aku menatap lebih lama. Wajah di cermin itu mulai bergerak. Tidak seperti video. Tapi seperti kenangan yang diputar ulang. Aku melihat diriku yang lebih muda tertawa. Aku melihat diriku menyuapi anak itu dengan bubur. Aku melihat diriku menggendong anak itu saat hujan, berlari masuk ke rumah dengan pagar putih.

Lalu adegan berubah.

Aku melihat diriku yang lebih muda berdiri di depan pintu rumah yang sama, tapi pintu itu tertutup. Aku mengetuk. Mengetuk lagi. Tidak ada yang membuka. Aku menangis. Aku memanggil nama seseorang—tapi namanya tidak terdengar. Cermin ini hanya menunjukkan gambar, bukan suara.

Aku benci cermin ini.

Tapi aku tidak bisa berhenti menatap.

2. Impresionisme yang Retak

Tiga hari berlalu. Aku tidak pergi ke pasar lagi. Aku hanya duduk di depan cermin, menonton hidupku yang dulu berulang-ulang. Setiap kali aku menatap, ada adegan baru. Adegan yang tidak pernah aku ingat sebelumnya. Seperti cermin itu bukan sekadar memantulkan masa lalu, tapi juga menciptakan masa lalu yang baru.

Pada hari keempat, aku melihat adegan yang tidak masuk akal. Aku melihat diriku yang lebih muda berdiri di tengah pasar yang sama—Pasar di Ujung Kenangan. Tapi di adegan itu, aku bukan pembeli. Aku penjual. Aku duduk di los nomor 7. Aku menjual cermin. Dan pembeliku adalah perempuan tua dengan rambut putih—perempuan yang menjual cermin kepadaku.

"Kamu melihatnya juga?" tiba-tiba sebuah suara di belakangku.

Aku menoleh. Perempuan tua itu berdiri di ambang pintu rumahku. Matanya yang buta kini terbuka. Matanya yang silau kini redup.

"Kamu... bagaimana kamu bisa masuk?"

"Kamu membeliku," katanya. "Cermin itu adalah aku. Aku tidak pernah menjadi penjual. Aku adalah barang yang dijual. Dan kamu membelinya dengan ingatan tentang... tentang anakmu."

Anakku. Kata itu menusuk. Aku tidak pernah punya anak. Atau aku lupa.

"Coba lihat lagi," kata perempuan itu.

Aku menatap cermin. Di dalamnya, adegan berubah. Aku melihat diriku yang lebih muda berlari ke rumah sakit. Menembus pintu UGD. Menjerit. Lalu adegan loncat. Aku melihat diriku berdiri di depan pusara kecil. Batu nisan bertuliskan nama. Tapi namanya buram. Tidak bisa kubaca.

"Siapa namanya?" bisikku.

"Itu yang kamu lupakan," kata perempuan itu. "Itu ingatan yang paling mahal. Dan kamu membayarnya untuk cermin ini."

3. Plot Twist: Aku Adalah Penjual, Bukan Pembeli

"Aku tidak pernah menjadi pembeli," kata perempuan itu. "Sejak awal, kamu yang menjual. Kamu yang duduk di los nomor 7. Kamu yang menawarkan cermin pada setiap orang yang lupa. Tapi suatu hari, kamu ingin melupakan sesuatu yang terlalu berat. Jadi kamu menciptakan aku. Kamu menciptakan penjual palsu agar kamu bisa menjadi pembeli. Agar kamu bisa membayar dengan ingatan yang paling mahal: ingatan tentang kematian anakmu."

"Tapi aku tidak merasakan sakit saat ingatan itu diambil."

"Karena ingatan itu bukan diambil dari kepalamu. Tapi dari hatimu. Dan hatimu sudah mati sejak anakmu mati. Yang diambil bukanlah ingatan. Tapi luka. Luka yang selama ini kamu rawat agar tidak sembuh. Sekarang lukanya hilang. Yang tersisa hanya kenangan palsu yang diciptakan cermin."

Aku memegang dadaku. Di sana, tidak ada rasa sakit. Tidak ada rindu. Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong yang terlalu kosong untuk disebut ruang.

"Kalau lukaku hilang, apa artinya aku masih mencintai anakku?"

Perempuan itu tersenyum. Kali ini, giginya lengkap.

"Kamu tidak perlu mencintai untuk mengingat. Dan kamu tidak perlu mengingat untuk mencintai. Sekarang kamu tidak punya luka dan tidak punya ingatan. Yang tersisa hanyalah cinta. Cinta yang tidak tahu kepada siapa harus ditujukan. Cinta yang menganggur."

4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Pasar Ini Adalah Kepalaku Sendiri

"Apa kamu tahu," kata perempuan itu, "kenapa pasar ini hanya buka untuk mereka yang lupa?"

Aku menggeleng.

"Karena pasar ini adalah kepalamu. Lorong-lorongnya adalah lipatan otakmu. Los-losnya adalah sinapsis-sinapsis yang mati. Dan setiap kali seseorang membeli sesuatu di pasar ini, sebenarnya dia sedang menjual ingatannya kepada dirinya sendiri. Tidak ada penjual lain. Hanya kamu. Hanya aku. Hanya cermin."

Aku melihat sekeliling. Rumahku yang dulu terasa nyata kini mulai buram. Dindingnya seperti kanvas yang basah, warnanya luntur satu per satu.

"Kamu bukan nyata," kataku pada perempuan itu.

"Kamu juga tidak."

"Tapi aku bisa merasakan lantai. Aku bisa merasakan dinginnya cermin."

"Kamu bisa merasakan karena kamu masih punya satu ingatan yang tersisa. Ingatan tentang sensasi. Tentang sentuhan. Tentang dingin. Tapi setelah ingatan itu habis, kamu tidak akan merasakan apa-apa. Kamu hanya akan menjadi... pengamat."

"Pengamat?"

"Pengamat dari kehampaanmu sendiri."

5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Anakku Tidak Mati. Akulah yang Mati.

Cermin itu bergetar. Retak. Bukan retak kaca, tapi retak waktu. Dari balik retakan, aku melihat adegan lain. Adegan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Aku melihat seorang anak laki-laki—mungkin berusia tujuh tahun—berdiri di depan sebuah rumah sakit. Dia menangis. Dia memegang tangan seorang perawat. Perawat itu membawanya masuk ke dalam ruangan. Di ruangan itu, di atas ranjang, terbaring seorang laki-laki dewasa. Wajahnya pucat. Matanya tertutup. Alat-alat medis terpasang di sekujur tubuh.

Laki-laki itu adalah aku.

Anak itu menangis. Dia berkata, "Ayah, bangun. Ayah janji mau ajari aku naik sepeda."

Aku tidak bangun. Karena di adegan itu, aku sudah mati. Bukan mati karena sakit. Tapi mati karena kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi saat aku sedang membelikan anakku hadiah ulang tahun. Sebuah sepeda merah.

Sepeda itu sekarang tergeletak di samping ranjang. Masih terbungkus kertas kado. Masih diikat pita.

"Kamu mati," kata perempuan itu. "Dan anakmu tidak pernah memaafkanmu. Dia tumbuh besar dengan kebencian. Bukan karena kamu mati. Tapi karena kamu pergi tanpa pamit. Karena kamu tidak sempat mengajarinya naik sepeda. Dan dia mengira itu karena kamu tidak mencintainya."

"Tapi aku mencintainya."

"Tentu saja. Tapi cinta tanpa waktu adalah surat yang tidak pernah sampai."

6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Aku Bisa Memilih Kembali

Cermin itu pecah. Kaca-kaca berserakan di lantai. Di setiap pecahan, aku melihat potongan-potongan wajah—wajah anakku di berbagai usia. Usia tujuh menangis di rumah sakit. Usia dua belas marah di pemakaman. Usia delapan belas membakar foto-fotoku. Usia dua puluh lima menangis di kamar kos, memeluk bantal, memanggil "Ayah" dalam tidurnya.

"Kamu bisa kembali," kata perempuan itu. "Tapi hanya sebentar. Dan kamu tidak bisa mengubah apa pun. Kamu hanya bisa... hadir."

"Hadir di mana?"

"Di detik terakhir anakmu mengingatmu. Dia sedang tidur sekarang. Dia sudah dewasa. Dia punya anak sendiri. Tapi setiap malam, sebelum tidur, dia memikirkanmu. Dia membayangkan bagaimana rasanya jika kamu masih hidup. Kamu bisa masuk ke mimpinya. Kamu bisa mengajarinya naik sepeda. Hanya dalam mimpi. Tapi itu cukup."

"Aku harus membayar apa?"

Perempuan itu menggeleng. "Kamu sudah membayar. Dengan semua ingatan yang kamu jual. Sekarang kamu miskin. Tidak punya ingatan. Tidak punya luka. Tidak punya apa-apa. Tapi untuk hadir di mimpinya, kamu tidak perlu membayar. Kamu hanya perlu... menginginkan."

Aku menginginkannya.

Maka aku ada.

7. Plot Twist Terakhir: Cermin Itu Tidak Pernah Pecah. Yang Pecah Adalah Aku.

Aku berdiri di taman. Sore hari. Matahari oranye, hampir merah. Di depanku, seorang anak laki-laki sedang belajar naik sepeda. Sepeda merah. Roda tambahan masih terpasang di kiri dan kanan.

Dia jatuh. Aku menghampiri. Aku membantunya berdiri.

"Ayah," katanya. "Aku takut."

"Tidak perlu takut," kataku. "Ayah di sini."

Dia menatapku. Matanya cokelat. Sama persis dengan mata anakku—anak yang sudah dewasa, yang sedang tidur di suatu tempat, yang bermimpi tentang ayah yang tidak pernah sempat mengajarinya naik sepeda.

"Ayah," katanya lagi. "Kenapa ayah pergi?"

Aku tidak bisa menjawab. Karena di mimpi ini, aku tidak punya lidah untuk bicara. Aku hanya punya tangan untuk memegang setang sepeda, dan kaki untuk berlari di sampingnya.

"Ayah tidak pergi," akhirnya aku berkata. Suaraku terdengar asing. Seperti suara orang lain. "Ayah hanya... tertinggal. Tapi sekarang ayah di sini. Ayo kita coba lagi."

Anak itu tersenyum. Dia mengayuh sepedanya. Aku berlari di sampingnya. Angin sore menerpa wajah. Wangi rumput dan tanah basah.

Lalu sepeda itu melaju. Roda tambahan terlepas satu per satu. Anak itu berteriak kegirangan.

"Ayah! Aku bisa!"

Aku berhenti berlari. Aku berdiri di tempat, menatap punggung anak itu yang semakin kecil. Sepeda merah itu melaju ke arah matahari terbenam.

Anak itu tidak menoleh.

Dia tidak perlu menoleh. Karena dia tahu aku di belakangnya.

Aku menangis. Air mataku jatuh ke tanah. Dan di setiap tetes air mata, aku melihat pantulan. Pantulan cermin. Pantulan pasar. Pantulan perempuan tua dengan rambut putih.

Tapi aku tidak lagi peduli.

Karena di mimpi ini, aku bukan penjual, bukan pembeli, bukan cermin, bukan kenangan.

Aku hanya ayah.

Ayah yang terlambat.

Tapi hadir.

Epilog yang Tidak Pernah Diingat:

Di suatu kamar, di suatu kota, seorang laki-laki dewasa terbangun dari tidurnya. Wajahnya basah. Dia tidak ingat apa yang dia mimpi. Tapi dia ingat satu hal: ada seseorang yang memegang setang sepeda merah, dan berlari di sampingnya, dan berkata, "Ayah di sini."

Laki-laki itu menangis. Lalu dia tersenyum. Lalu dia bangun, berjalan ke kamar anaknya yang masih kecil, membangunkan dia dengan pelan.

"Nak," katanya. "Ayah mau mengajarimu naik sepeda. Hari ini."

Anak itu mengucek mata. "Hari ini? Tapi Ayah janji minggu depan."

"Tidak perlu minggu depan. Hari ini saja."

Mereka berdua keluar rumah. Sepeda merah kecil sudah menunggu di teras.

Matahari baru saja terbit.

Dan di kejauhan, di ujung jalan, seorang pria dengan baju basah dan wajah tidak jelas tersenyum, lalu menghilang bersama embun pagi.

Pasar di Ujung Kenangan tidak pernah tutup. Tapi juga tidak pernah buka. Pasar itu ada di antara detak jantung dan hentak napas. Di antara lupa dan ingin diingat. Di antara kamu yang membaca cerita ini, dan aku yang menulisnya, dan kita semua yang pernah kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi.

La da dum dum dum...

Oh. Maaf. Itu lagu lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI