PERKARA BAHASA



•••

PERKARA BAHASA XXXI

Badan Nasional Penghapusan Subjek

Negara mendirikan lembaga baru.

Namanya panjang.

Sangat resmi.

Sangat birokratis.

Sangat tidak mencurigakan.

Badan Nasional Penghapusan Subjek.

Tugasnya sederhana:

Menghilangkan pelaku dari setiap peristiwa penting.

Setelah beberapa tahun bekerja, hasilnya mengagumkan.

Hutan gundul.

Tetapi tidak ada yang menggunduli.

Sungai tercemar.

Tetapi tidak ada yang mencemari.

Dana hilang.

Tetapi tidak ada yang mengambil.

Aktivis dipenjara.

Tetapi tidak ada yang memenjarakan.

Kebebasan dibatasi.

Tetapi tidak ada yang membatasi.

Segala sesuatu terjadi sendiri.

Negara itu perlahan berubah menjadi alam semesta metafisis.

Tidak ada agen.

Tidak ada tanggung jawab.

Tidak ada tangan.

Hanya akibat.

Hanya konsekuensi.

Hanya nasib.

Dan karena takdir tidak bisa dituntut, maka semua orang yang seharusnya dituntut hidup bahagia.


---

PERKARA BAHASA XXXII

Kudeta oleh Kata Hubung

Kata Hubung selama ini diremehkan.

Ia hanya menghubungkan.

Dan.

Atau.

Tetapi.

Namun.

Karena.

Meskipun.

Kelihatannya tidak penting.

Sampai suatu hari ia melakukan kudeta.

Peristiwa itu terjadi diam-diam.

Tidak ada tank.

Tidak ada senjata.

Tidak ada pasukan.

Hanya satu perubahan kecil.

"Korup, tetapi berprestasi."

Kata "tetapi" bekerja keras.

Ia menghapus setengah dosa.

"Melanggar hukum, tetapi berjasa."

"Tidak jujur, tetapi visioner."

"Menindas, tetapi membangun."

Lalu datang kata "karena".

"Kita harus diam karena stabilitas."

"Kita harus patuh karena keamanan."

"Kita harus lupa karena masa depan."

Kata Hubung tertawa.

Ternyata sejarah tidak selalu diubah oleh fakta.

Kadang cukup dengan mengubah hubungan antarfakta.


---

PERKARA BAHASA XXXIII

Dinas Pariwisata Hiperrealitas

Realitas dianggap terlalu kusam.

Terlalu berdebu.

Terlalu banyak antrean.

Terlalu banyak tagihan.

Terlalu banyak orang miskin.

Maka dibangunlah Hiperrealitas.

Sebuah kota wisata.

Di sana semua tampak sempurna.

Rumput selalu hijau.

Gedung selalu berkilau.

Statistik selalu naik.

Warga selalu tersenyum.

Pengunjung dilarang masuk ke gang-gang belakang.

Pengunjung dilarang bertanya kepada buruh.

Pengunjung dilarang berbicara dengan penganggur.

Karena tugas Hiperrealitas bukan menggantikan kenyataan.

Tugasnya membuat kenyataan tampak sebagai fitnah.


---

PERKARA BAHASA XXXIV

Persekongkolan Sinonim

Pada malam hari para Sinonim berkumpul.

Mereka mengadakan rapat rahasia.

Agenda tunggal:

Menyelamatkan reputasi para pencuri.

"Koruptor" dianggap terlalu kasar.

Diganti menjadi:

Elite.

Pebisnis.

Pemangku kepentingan.

Aktor strategis.

Mitra pembangunan.

Investor nasional.

Tokoh berpengaruh.

Semua peserta rapat puas.

Karena mereka tahu satu rahasia.

Masyarakat lebih mudah marah kepada kata "pencuri"

daripada kepada kata "pengusaha strategis."

Padahal kadang-kadang keduanya tidur di ranjang yang sama.


---

PERKARA BAHASA XXXV

Festival Nasional Pleonasme

Setiap tahun negara mengadakan festival besar.

Tema tahun ini:

Pengulangan yang Tidak Perlu.

Pejabat datang satu per satu.

Mereka memberikan pidato.

"Kami akan maju ke depan."

"Kami akan turun ke bawah."

"Kami akan bekerja sama bersama-sama."

"Kami akan kembali lagi."

Tepuk tangan bergemuruh.

Tak seorang pun menyadari bahwa isi pidato itu seperti pleonasme:

Panjang tetapi tidak bertambah.

Berputar tetapi tidak bergerak.

Mengembang tetapi tidak tumbuh.

Setelah acara selesai, rakyat pulang membawa satu kesimpulan.

Ternyata sebagian besar propaganda hanyalah pleonasme yang diberi anggaran negara.


---

PERKARA BAHASA XXXVI

Lembaga Sensor Semantik

Sensor zaman dulu membakar buku.

Sensor modern lebih elegan.

Ia mengubah makna.

Buku masih ada.

Kata masih ada.

Kalimat masih ada.

Tetapi arti-artinya telah dipindahkan.

"Kebebasan" berarti kepatuhan.

"Patriotisme" berarti keseragaman.

"Kritik" berarti ancaman.

"Keamanan" berarti pengawasan.

Sensor Semantik tidak pernah melarang.

Ia hanya mengganti isi perabotan di dalam kepala.

Dan seperti pencuri profesional, ia meninggalkan rumah dalam keadaan rapi.

Korban baru sadar berbulan-bulan kemudian.

Ketika membuka kamus dan menemukan dirinya telah menjadi orang asing bagi bahasanya sendiri.


---

PERKARA BAHASA XXXVII

Fenomena Elipsis Politik

Elipsis terkenal karena kebiasaannya menghilangkan sesuatu.

Suatu hari para politisi mengundangnya.

Mereka bekerja sama dengan baik.

"Dana itu berasal dari..."

"Kami tidak tahu siapa..."

"Keputusan tersebut dibuat oleh..."

"Perintah itu datang dari..."

Kalimat-kalimat berhenti sebelum mencapai bagian berbahaya.

Nama-nama hilang.

Alamat hilang.

Nomor rekening hilang.

Jejak hilang.

Bukti hilang.

Elipsis menjadi pegawai teladan.

Ia berhasil menghilangkan lebih banyak pelaku daripada seluruh program perlindungan saksi.


---

PERKARA BAHASA XXXVIII

Pusat Penelitian Ambiguitas

Ambiguitas hidup makmur.

Ia menerima hibah besar.

Penelitiannya sangat berguna.

Misalnya:

Bagaimana berbicara tanpa benar-benar mengatakan sesuatu.

Bagaimana berjanji tanpa berkomitmen.

Bagaimana menjawab tanpa menjawab.

Bagaimana meminta maaf tanpa mengakui kesalahan.

Laporan tahunannya sangat sukses.

Tidak ada seorang pun yang memahami isinya.

Karena itulah semua orang setuju.


---

PERKARA BAHASA XXXIX

Aliterasi dan Kampanye

Aliterasi awalnya penyair.

Ia menyukai bunyi-bunyi yang berulang.

Lalu industri politik merekrutnya.

Muncullah slogan-slogan:

Bersih, Berani, Berbakti.

Maju, Mandiri, Modern.

Cepat, Cerdas, Cemerlang.

Adil, Aman, Amanah.

Rakyat terpesona.

Bunyi-bunyian itu berdentang seperti musik.

Sampai seseorang bertanya:

"Apakah ada hubungan antara slogan dan kenyataan?"

Aliterasi menjawab jujur:

"Tidak ada."

"Tugasku hanya membuat kebohongan lebih mudah diingat."


---

PERKARA BAHASA XL

Negasi yang Kehilangan Pekerjaan

Negasi dulunya sangat dihormati.

Ia memiliki tugas penting:

Mengatakan tidak.

Tidak setuju.

Tidak benar.

Tidak sah.

Tidak adil.

Namun suatu hari masyarakat lelah berpikir.

Mereka mulai menyukai afirmasi.

Positif.

Optimistis.

Inspiratif.

Motivatif.

Negasi dianggap mengganggu.

Pesimis.

Toksik.

Kontraproduktif.

Akhirnya Negasi dipecat.

Sejak saat itu tidak ada lagi yang berkata:

"Ini salah."

Hanya ada orang-orang yang berkata:

"Mari kita fokus pada sisi positifnya."

Korupsi tetap berjalan.

Ketidakadilan tetap berjalan.

Penyalahgunaan kekuasaan tetap berjalan.

Tetapi suasana hati jauh lebih baik.

Dan begitulah sebuah bangsa dapat kehilangan kemampuan moralnya

bukan karena terlalu banyak kebencian,

melainkan karena terlalu sedikit kata "tidak."


---

PERKARA BAHASA XLI

Tragedi Fonem

Fonem adalah unit pembeda makna.

Perbedaannya kecil.

Kadang hanya satu bunyi.

Tetapi akibatnya besar.

Suatu malam Fonem berdiri di depan gedung parlemen dan berkata:

"Demokrasi."

Gema dari dalam gedung menjawab:

"Demoralisasi."

Fonem terkejut.

Ia memeriksa kembali bunyi-bunyinya.

Ternyata yang berubah hanya sedikit.

Sangat sedikit.

Hampir tak terdengar.

Tetapi sejarah sering bergerak seperti itu.

Bukan melalui ledakan besar.

Melainkan melalui perubahan kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Karena itu Fonem menangis.

Ia tahu bahwa peradaban dapat bergeser sejauh bencana

hanya dengan satu bunyi yang tidak diperhatikan.

PERKARA BAHASA XLII

Sidang Paripurna Pragmatik

Pragmatik akhirnya dipanggil ke parlemen.

Sudah lama ia dicurigai.

Terlalu banyak orang merasa dibohongi oleh kalimat yang secara gramatikal benar.

Terlalu banyak warga merasa ditipu oleh pidato yang tidak mengandung kesalahan sintaksis.

Terlalu banyak korban merasa dihina oleh kata-kata yang secara leksikal terdengar sopan.

Ketua sidang membuka rapat.

"Saudara Pragmatik, apakah benar makna suatu ujaran tidak ditentukan oleh kata-katanya saja?"

"Benar."

"Kami keberatan."

"Kenapa?"

"Karena jika itu benar, maka setengah pidato di ruangan ini menjadi barang bukti."

Ruangan mendadak gaduh.

Pragmatik membuka map.

Ia mulai membaca arsip.

"Kami mendengar aspirasi rakyat."

Arsip menjelaskan:

Tidak mendengar.

"Kami akan mempertimbangkan."

Arsip menjelaskan:

Tidak akan.

"Kami menghormati kritik."

Arsip menjelaskan:

Sampai kritik itu efektif.

"Kami terbuka terhadap masukan."

Arsip menjelaskan:

Selama tidak mengubah keputusan.

Parlemen semakin gelisah.

Seorang anggota berdiri.

"Keberatan! Saudara Pragmatik terlalu menafsirkan!"

Pragmatik tersenyum.

"Aku tidak menafsirkan."

"Lalu?"

"Aku hanya mencatat kebiasaan."

Dan memang itulah yang paling ditakuti kekuasaan.

Bukan tuduhan.

Melainkan pola.

Karena satu kebohongan masih dapat disebut kekhilafan.

Dua kebohongan masih dapat disebut kesalahpahaman.

Tetapi seribu kebohongan yang tersusun rapi mulai menyerupai tata bahasa.


---

PERKARA BAHASA XLIII

Negara yang Diperintah oleh Akronim

Pada awalnya akronim diciptakan untuk menghemat tenaga.

Manusia malas mengucapkan nama yang panjang.

Maka lahirlah singkatan.

Semua berjalan baik.

Lalu birokrasi jatuh cinta.

Setiap lembaga memiliki akronim.

Setiap program memiliki akronim.

Setiap proyek memiliki akronim.

Setiap kegagalan bahkan memiliki akronim.

Rakyat tidak lagi hidup dalam negara.

Mereka hidup di dalam tumpukan huruf kapital.

Suatu hari seorang petani datang ke kantor pemerintahan.

Ia bertanya:

"Bagaimana cara memperoleh bantuan?"

Pegawai menjawab:

"Harus melalui Program SIPATUH yang terintegrasi dengan SIMPATI, kemudian diverifikasi oleh SATRIA dan dievaluasi oleh BERKAH."

Petani itu pulang.

Ia tetap miskin.

Tetapi kini miskinnya terdokumentasi dengan sangat profesional.

Negara itu perlahan menemukan sebuah penemuan administratif yang luar biasa:

Jika sebuah masalah diberi akronim yang cukup indah, orang akan mengira masalah tersebut sedang ditangani.


---

PERKARA BAHASA XLIV

Koloni Kata Serapan

Kata Serapan datang dari jauh.

Sebagian dari Yunani.

Sebagian dari Arab.

Sebagian dari Sanskerta.

Sebagian dari Belanda.

Sebagian dari Inggris.

Mereka membawa sejarah panjang.

Membawa perjalanan.

Membawa luka kolonial.

Membawa perdagangan.

Membawa penaklukan.

Membawa perjumpaan.

Suatu malam mereka berkumpul.

Mereka membicarakan nasib mereka.

"Kita semua pendatang."

kata Demokrasi.

"Kita semua pernah dianggap asing."

kata Konstitusi.

"Kita semua pernah dicurigai."

kata Republik.

Lalu dari sudut ruangan terdengar suara kecil.

Suara itu milik kata Asli.

Ia bertanya:

"Kalau begitu siapa yang paling berhak menyebut dirinya pemilik bahasa ini?"

Ruangan hening.

Tak ada yang menjawab.

Karena bahasa, seperti sejarah, ternyata dibangun oleh percampuran.

Hanya nasionalisme yang terlalu malas membaca etimologi yang percaya pada kemurnian.


---

PERKARA BAHASA XLV

Pemberontakan Tanda Kurung

Tanda Kurung selama ini hidup di pinggiran.

Ia menampung catatan kecil.

Keterangan tambahan.

Bisikan yang tidak cukup penting untuk masuk ke kalimat utama.

Namun suatu hari ia memberontak.

Ia mengumpulkan seluruh isi dirinya.

Fakta-fakta kecil.

Nama-nama yang disembunyikan.

Korban yang dilupakan.

Catatan kaki sejarah.

Semua berkumpul.

Kemudian Tanda Kurung berkata:

"Sudah terlalu lama aku menjadi tempat pembuangan."

Kalimat utama tertawa.

"Kalian hanya detail."

Tanda Kurung membuka arsip.

Ternyata di dalamnya tersimpan:

Jumlah korban.

Nama penyiksa.

Alamat penjara.

Dokumen rahasia.

Perjanjian gelap.

Rekening tersembunyi.

Tiba-tiba seluruh sejarah resmi tampak rapuh.

Karena ternyata yang disebut "detail"

sering kali hanyalah kebenaran yang belum memperoleh mikrofon.


---

PERKARA BAHASA XLVI

Teori Konspirasi tentang Konjungsi

Suatu hari Konjungsi dituduh terlibat konspirasi.

Tuduhan itu berasal dari media.

Katanya Konjungsi terlalu sering menghubungkan hal-hal yang tidak berhubungan.

"Kelompok ini bertemu kelompok itu."

"Orang ini mengenal orang itu."

"Peristiwa ini terjadi sebelum peristiwa itu."

Maka muncullah kesimpulan besar.

Konjungsi membela diri.

"Aku hanya mengatakan dan."

"Tetapi orang-orang mengubahnya menjadi karena."

Pengadilan terdiam.

Konjungsi melanjutkan.

"Aku hanya menghubungkan."

"Mereka sendiri yang menciptakan sebab-akibat."

Sejak saat itu para linguistis memahami sesuatu.

Manusia memiliki bakat luar biasa untuk mengubah kebetulan menjadi takdir.

Dan sebagian besar teori konspirasi lahir dari kata sambung yang bekerja terlalu keras.


---

PERKARA BAHASA XLVII

Kematian Harfiah

Makna Harfiah ditemukan meninggal dunia.

Tubuhnya tergeletak di media sosial.

Penyebab kematian tidak jelas.

Sebagian saksi menyebut ironi.

Sebagian menyebut satire.

Sebagian menyebut propaganda.

Sebagian menyebut algoritma.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Akhirnya ditemukan fakta.

Makna Harfiah tidak dibunuh.

Ia mati karena kelaparan.

Terlalu sedikit orang yang membacanya sampai selesai.

Terlalu sedikit orang yang peduli pada konteks.

Terlalu sedikit orang yang memeriksa sumber.

Di dunia yang dipenuhi reaksi cepat, Harfiah perlahan kehilangan habitatnya.

Ia menjadi spesies langka.

Seperti burung yang hanya hidup di hutan-hutan perhatian panjang.


---

PERKARA BAHASA XLVIII

Balada Vokal

Vokal mengadakan demonstrasi.

Mereka menuntut pengakuan.

"Tanpa kami, kalian tidak bisa berbicara."

Konsonan tertawa.

"Itu berlebihan."

Vokal marah.

Mereka mogok kerja.

Hasilnya mengerikan.

Pidato presiden berubah menjadi deretan bunyi patah.

Slogan kampanye terdengar seperti batuk massal.

Debat politik berubah menjadi gangguan sinyal.

Negara lumpuh.

Barulah semua orang sadar.

Bahwa sesuatu yang paling penting dalam kehidupan publik sering kali bukan yang paling keras.

Melainkan yang paling sering dianggap remeh.


---

PERKARA BAHASA XLIX

Museum Kata Mati

Di pusat kota terdapat museum yang aneh.

Isinya bukan fosil.

Bukan artefak.

Bukan kerangka dinosaurus.

Melainkan kata-kata.

Kata-kata yang pernah hidup.

Integritas.

Malu.

Pengabdian.

Kejujuran.

Tanggung jawab.

Setiap kata ditempatkan di balik kaca.

Anak-anak sekolah datang berkunjung.

Mereka menunjuk satu kata.

"Apa itu?"

Pemandu menjawab:

"Dulu itu bagian penting dari kehidupan politik."

Anak-anak tertawa.

Mereka mengira itu lelucon.

Pemandu tidak.


---

PERKARA BAHASA L

Perang Saudara dalam Kamus

Perang besar akhirnya pecah.

Bukan antarnegara.

Bukan antarkelas.

Bukan antaragama.

Melainkan antarkata.

Fakta berperang melawan Narasi.

Data berperang melawan Opini.

Argumen berperang melawan Slogan.

Verifikasi berperang melawan Viralisme.

Pertempuran berlangsung lama.

Tidak ada pihak yang benar-benar menang.

Karena setiap kali Fakta berhasil merebut wilayah,

Viralisme datang dengan pasukan baru.

Setiap kali Argumen membangun benteng,

Slogan menjual kaus dan stiker.

Setiap kali Verifikasi mengumpulkan bukti,

Narasi mengumpulkan pengikut.

Perang itu masih berlangsung sampai hari ini.

Dan sebagian besar warga bahkan tidak sadar mereka sedang hidup di medan tempur.

Karena tidak semua peperangan menghasilkan reruntuhan bangunan.

Sebagian hanya menghasilkan reruntuhan makna.

•••

PERKARA BAHASA LI

Kementerian Sinonimisasi Nasional

Pada tahun-tahun yang dianggap sensitif, negara membentuk sebuah kementerian baru.

Namanya Kementerian Sinonimisasi Nasional.

Tugasnya sederhana:

Mencari kata lain untuk segala sesuatu yang tidak boleh disebut dengan nama sebenarnya.

Kemiskinan menjadi kerentanan ekonomi.

Kelaparan menjadi tantangan nutrisi.

Pengangguran menjadi masa transisi kerja.

Penggusuran menjadi penataan ruang.

Kegagalan menjadi evaluasi berkelanjutan.

Korupsi menjadi anomali tata kelola.

Seorang pegawai muda bertanya:

"Mengapa kita tidak menyelesaikan masalahnya saja?"

Ruangan mendadak sunyi.

Direktur utama menatapnya lama.

Lalu berkata:

"Itu bukan tupoksi kami."

Pegawai itu akhirnya mengerti.

Kementerian ini tidak dibentuk untuk memperbaiki kenyataan.

Ia dibentuk untuk memperbaiki kosakata.

Dan dalam beberapa rezim, itu dianggap cukup.


---

PERKARA BAHASA LII

Tragedi Kata Dasar

Kata Dasar hidup sederhana.

Ia tidak memiliki prefiks.

Tidak memiliki sufiks.

Tidak memiliki gelar akademik.

Tidak memiliki jabatan struktural.

Ia hanya mengatakan sesuatu secara langsung.

Curi.

Bohong.

Rampas.

Bunuh.

Tipu.

Karena terlalu lugas, ia tidak disukai.

Pejabat lebih menyukai kata-kata yang telah diproses.

Kata-kata yang mengenakan jas.

Kata-kata yang memiliki banyak morfem.

Kata-kata yang terdengar mahal.

Maka "curi" diganti.

Menjadi penyimpangan.

Menjadi maladministrasi.

Menjadi ketidaksesuaian prosedural.

Menjadi ketidakoptimalan tata kelola.

Kata Dasar berjalan pulang dengan sedih.

Ia baru menyadari sesuatu:

Semakin besar suatu kejahatan, semakin panjang kata yang digunakan untuk menyembunyikannya.


---

PERKARA BAHASA LIII

Lobi Rahasia Metonimia

Metonimia mengadakan pertemuan tertutup.

Pesertanya orang-orang penting.

Gedung hadir.

Istana hadir.

Pasar hadir.

Kampus hadir.

Media hadir.

Seorang wartawan baru kebingungan.

Ia bertanya:

"Bagaimana mungkin gedung menghadiri rapat?"

Metonimia tertawa.

"Tenang saja."

"Di dunia politik, bangunan sering berbicara lebih banyak daripada manusia."

Maka berita pun ditulis.

"Pasar menolak kebijakan."

"Istana menginginkan stabilitas."

"Kampus bereaksi keras."

Tak seorang pun bertanya siapa sebenarnya yang berbicara.

Karena metonimia memahami rahasia kekuasaan:

Semakin kabur pelakunya, semakin mudah klaim itu terdengar agung.


---

PERKARA BAHASA LIV

Republik Parafrase

Republik Parafrase adalah negara yang sangat damai.

Tidak pernah ada perdebatan.

Tidak pernah ada oposisi.

Tidak pernah ada kritik.

Sebab setiap kritik segera diparafrasekan.

"Ini korupsi."

diparafrasekan menjadi:

"Perlu pendalaman lebih lanjut."

"Ini ketidakadilan."

diparafrasekan menjadi:

"Perspektif yang menarik."

"Ini pelanggaran HAM."

diparafrasekan menjadi:

"Kompleksitas historis."

Lama-kelamaan rakyat kehilangan kemampuan marah.

Bukan karena masalah selesai.

Melainkan karena setiap masalah dipaksa memakai pakaian baru.

Di negeri itu, parafrase bukan lagi alat pemahaman.

Ia telah menjadi mesin penenang massal.


---

PERKARA BAHASA LV

Nasib Kata Kerja Transitif

Kata Kerja Transitif mengajukan protes.

"Aku membutuhkan objek."

katanya.

"Aku tidak bisa hidup sendirian."

Membaca membutuhkan sesuatu yang dibaca.

Menghukum membutuhkan seseorang yang dihukum.

Mencuri membutuhkan sesuatu yang dicuri.

Menindas membutuhkan seseorang yang ditindas.

Tetapi politik tidak menyukai kebutuhan semacam itu.

Karena objek sering kali berisi nama.

Dan nama sering kali mengarah pada tanggung jawab.

Maka kalimat-kalimat mulai dipangkas.

"Telah dilakukan tindakan."

"Telah diambil langkah."

"Telah diberikan perhatian."

"Telah dilaksanakan proses."

Kata Kerja Transitif frustrasi.

Ia tahu bahwa sesuatu yang dilakukan tanpa objek biasanya adalah sesuatu yang tidak ingin dijelaskan.


---

PERKARA BAHASA LVI

Sekolah Tinggi Retorika

Sekolah itu sangat bergengsi.

Lulusannya tersebar di mana-mana.

Di parlemen.

Di televisi.

Di perusahaan.

Di kementerian.

Mata kuliahnya menarik.

Pengantar Pengalihan Isu.

Dasar-Dasar Pengaburan Pelaku.

Praktikum Emosi Kolektif.

Seminar Hiperbola Terapan.

Metodologi Kebingungan Publik.

Mahasiswa terbaik memperoleh penghargaan.

Mereka mampu berbicara selama dua jam tanpa menyampaikan informasi apa pun.

Mereka mampu menjawab lima pertanyaan tanpa menyentuh satu jawaban.

Mereka mampu meminta maaf tanpa mengakui kesalahan.

Mereka mampu berjanji tanpa menciptakan kewajiban.

Dan karena kemampuan-kemampuan itu sangat dibutuhkan, para lulusan segera direkrut oleh dunia nyata.


---

PERKARA BAHASA LVII

Fonologi Kekuasaan

Suara mempunyai hierarki.

Tidak semua bunyi memperoleh volume yang sama.

Bisikan seorang miliarder dapat terdengar sampai kementerian.

Teriakan seribu buruh kadang berhenti di gerbang pabrik.

Fonologi memperhatikan hal ini dengan heran.

Secara akustik, itu tidak masuk akal.

Secara politik, itu sangat masuk akal.

Maka ia menyimpulkan:

Yang menentukan keras atau pelannya suara bukan selalu desibel.

Kadang-kadang rekening bank.


---

PERKARA BAHASA LVIII

Pertemuan Rahasia antara Ironi dan Sejarah

Ironi bertemu Sejarah di sebuah perpustakaan tua.

Mereka minum kopi.

Mengobrol sampai malam.

Ironi berkata:

"Aku lelah."

"Mengapa?"

"Dulu aku bekerja membuat hal-hal absurd."

"Lalu?"

"Sekarang kenyataan melakukannya sendiri."

Sejarah mengangguk.

Ia membuka beberapa arsip.

Di sana terdapat rezim yang berbicara tentang kebebasan sambil menyensor.

Terdapat pemerintahan yang berbicara tentang kesederhanaan sambil bermewah-mewah.

Terdapat penguasa yang berbicara tentang hukum sambil melanggarnya.

Ironi membaca semuanya.

Kemudian menghela napas panjang.

"Aku kehilangan pekerjaan."

Sejarah menjawab:

"Jangan khawatir."

"Selama manusia mencintai kekuasaan lebih daripada konsistensi, kau akan selalu punya pelanggan."


---

PERKARA BAHASA LIX

Koperasi Kata Keterangan

Kata Keterangan membentuk koperasi.

Mereka merasa kurang dihargai.

Padahal sering kali mereka menentukan seluruh arah makna.

Seorang pejabat berkata:

"Kami akan menyelesaikan masalah ini."

Kedengarannya meyakinkan.

Lalu datang Kata Keterangan.

"Segera."

Publik senang.

Beberapa tahun kemudian:

"Secara bertahap."

Publik mulai curiga.

Lima tahun kemudian:

"Pada waktunya."

Publik menyerah.

Kata Keterangan tersenyum.

Ia tahu bahwa kekuasaan sering tidak mengubah isi janji.

Ia hanya mengubah keterangannya.


---

PERKARA BAHASA LX

Balai Konservasi Makna

Di ujung kota berdiri sebuah bangunan tua.

Tidak megah.

Tidak populer.

Tidak ramai.

Namanya Balai Konservasi Makna.

Di sana beberapa orang bekerja diam-diam.

Mereka menjaga agar kata "keadilan" tetap berarti keadilan.

Agar kata "korupsi" tetap berarti korupsi.

Agar kata "penyiksaan" tetap berarti penyiksaan.

Agar kata "kebohongan" tetap berarti kebohongan.

Pekerjaan mereka berat.

Karena setiap hari ada pihak-pihak yang mencoba mengubah definisi.

Ada yang menawarkan dana.

Ada yang menawarkan jabatan.

Ada yang menawarkan ancaman.

Namun para penjaga makna tetap bertahan.

Mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan peradaban:

Bahwa ketika kata-kata kehilangan arti,

yang runtuh bukan hanya kamus.

Melainkan kemampuan manusia untuk membedakan yang benar dari yang salah.

Dan sesudah itu, hampir semua kejahatan dapat berjalan masuk melalui pintu depan sambil membawa sertifikat kebajikan.

•••

PERKARA BAHASA: SINTAKSIS DALAM KOMISI PENYELIDIKAN

Sintaksis dipanggil menjadi ahli.

Tugasnya menyusun hubungan antarkata.

Subjek.

Predikat.

Objek.

Keterangan.

Pekerjaan yang terhormat.

Sampai suatu hari ia menerima setumpuk dokumen negara.

Halaman pertama berbunyi:

"Kesalahan telah terjadi."

Sintaksis mengernyit.

"Mana subjeknya?"

Tidak ada.

Halaman kedua:

"Pelanggaran telah dilakukan."

"Mana pelakunya?"

Tidak ada.

Halaman ketiga:

"Hak-hak warga telah terabaikan."

"Siapa yang mengabaikan?"

Tidak ada.

Sintaksis membaca sampai larut malam.

Semakin banyak halaman dibaca,

semakin banyak manusia menghilang dari kalimat.

Akhirnya ia menyadari sesuatu.

Ini bukan masalah tata bahasa.

Ini operasi penyelundupan tanggung jawab.


---

PERKARA BAHASA: AFIKSASI DAN KARIER POLITIK

Afiksasi adalah seniman perubahan.

Dengan satu imbuhan,

kata dapat berubah nasib.

Jujur menjadi kejujuran.

Adil menjadi keadilan.

Bangun menjadi pembangunan.

Suatu hari seorang politikus datang.

"Aku ingin bantuan."

"Perubahan seperti apa?"

"Aku ingin mengubah pencurian menjadi kebijakan."

Afiksasi terkejut.

"Itu tidak mungkin."

Politikus itu tersenyum.

"Lihat saja."

Beberapa bulan kemudian muncul istilah:

penyesuaian.

optimalisasi.

restrukturisasi.

rasionalisasi.

Afiksasi membaca dokumen itu lama sekali.

Lalu bergumam:

"Ternyata beberapa imbuhan bukan dipakai untuk membentuk kata."

"Untuk apa?"

"Menyamarkan sidik jari."


---

PERKARA BAHASA: KORPUS NASIONAL

Korpus adalah gudang kata.

Ia menyimpan jutaan kalimat.

Pidato.

Berita.

Laporan.

Wawancara.

Suatu hari para peneliti menjalankan pencarian.

Mereka ingin mengetahui kata yang paling sering muncul dalam pidato pemerintah.

Hasilnya mengejutkan.

Bukan "rakyat."

Bukan "keadilan."

Bukan "kesejahteraan."

Kata yang paling sering muncul adalah:

komitmen.

Mereka mencari kata berikutnya.

Sinergi.

Transformasi.

Kolaborasi.

Optimalisasi.

Integrasi.

Peneliti muda bertanya:

"Apakah semua itu sudah terjadi?"

Peneliti senior menggeleng.

"Kalau sudah terjadi, frekuensinya biasanya turun."


---

PERKARA BAHASA: ETIMOLOGI KORUPSI

Etimologi mencintai asal-usul.

Ia selalu ingin tahu dari mana sebuah kata datang.

Suatu hari ia memeriksa kata "korupsi."

Akar katanya berarti:

rusak.

busuk.

membusukkan.

Etimologi mengangguk.

Masuk akal.

Lalu ia menghadiri konferensi bisnis.

Di sana ia mendengar istilah baru.

Facilitation fee.

Success fee.

Operational appreciation.

Strategic gratitude.

Etimologi pulang dengan kebingungan.

Kata "korupsi" ternyata tidak hilang.

Ia hanya menjalani operasi plastik.


---

PERKARA BAHASA: ONOMATOPE DALAM PARLEMEN

Onomatope mencatat bunyi.

Gedebuk.

Brak.

Dug.

Krak.

Suatu hari ia duduk di balkon parlemen.

Awalnya ia siap mencatat debat.

Argumen.

Data.

Analisis.

Namun yang terdengar justru:

Tok.

Palu sidang.

Tok.

Palu sidang.

Tok.

Palu sidang.

Rancangan disahkan.

Onomatope membuka naskah undang-undang.

Belum dibaca.

Belum dibahas.

Belum dipahami.

Ia menuliskan satu catatan:

"Bunyi tercepat dalam demokrasi adalah suara palu."


---

PERKARA BAHASA: IDIOLEK

Idiolek adalah bahasa pribadi.

Cara khas seseorang berbicara.

Suatu hari seorang jurnalis menyelidiki kasus korupsi besar.

Ia membaca ratusan dokumen.

Ribuan pesan.

Puluhan surat elektronik.

Lalu menemukan sesuatu yang aneh.

Setiap kali uang menghilang,

muncul frasa yang sama:

"Tolong dibantu."

"Sudah diamankan."

"Sudah diatur."

"Sudah beres."

Frasa itu muncul di mana-mana.

Pada pejabat berbeda.

Perusahaan berbeda.

Kota berbeda.

Jurnalis itu tersenyum.

Karena korupsi ternyata memiliki dialeknya sendiri.


---

PERKARA BAHASA: PRESUPOSISI

Presuposisi hidup dari asumsi.

Ia bekerja diam-diam.

Tanpa disadari.

Seorang pejabat bertanya di televisi:

"Kapan kelompok itu berhenti mengganggu stabilitas?"

Presuposisi tersenyum.

Karena sebelum pertanyaan dijawab,

sesuatu sudah diterima sebagai benar:

bahwa kelompok itu memang mengganggu stabilitas.

Hari berikutnya muncul pertanyaan lain.

"Kapan masyarakat belajar memahami kebijakan ini?"

Lagi-lagi Presuposisi tersenyum.

Karena sebelum diskusi dimulai,

masyarakat sudah dianggap tidak memahami.

Presuposisi tidak membutuhkan bukti.

Ia hanya membutuhkan bentuk kalimat.

Dan kadang-kadang itu lebih berbahaya.


---

PERKARA BAHASA: REDUPLIKASI

Reduplikasi adalah pecinta pengulangan.

Rumah-rumah.

Jalan-jalan.

Orang-orang.

Anak-anak.

Suatu hari ia bekerja di media.

Di sana ia menemukan bentuk baru.

Janji-janji.

Wacana-wacana.

Komitmen-komitmen.

Evaluasi-evaluasi.

Koordinasi-koordinasi.

Reduplikasi heran.

"Kenapa semuanya diulang?"

Seorang reporter menjawab:

"Karena realisasinya tidak ada."


---

PERKARA BAHASA: DIAKRONI

Diakroni mempelajari bahasa sepanjang waktu.

Ia membuka arsip pidato dari berbagai zaman.

Tahun pertama:

"Kita sedang menghadapi tantangan sementara."

Tahun kelima:

"Kita sedang menghadapi tantangan sementara."

Tahun kedua puluh:

"Kita sedang menghadapi tantangan sementara."

Tahun keempat puluh:

"Kita sedang menghadapi tantangan sementara."

Diakroni menghitung.

Ternyata kata "sementara"

sudah berusia lebih panjang daripada beberapa generasi warga negara.


---

PERKARA BAHASA: POLISEMI

Polisemi adalah kata yang memiliki banyak makna.

Ia biasanya menyenangkan.

Kaya.

Luwes.

Puitis.

Suatu hari ia direkrut ke dunia politik.

Kata "reformasi" dipakai untuk lima belas hal berbeda.

Kata "demokrasi" dipakai untuk dua puluh hal berbeda.

Kata "kebebasan" dipakai untuk tiga puluh hal berbeda.

Polisemi mulai kelelahan.

"Kenapa semua makna dicampur begini?"

Konsultan politik menjawab:

"Karena semakin banyak arti, semakin sulit menagih janji."


---

PERKARA BAHASA: KOHESI

Kohesi bertugas menjaga agar teks tetap menyatu.

Agar satu kalimat terhubung dengan kalimat lain.

Suatu hari ia membaca manifesto politik.

Halaman pertama:

Mendukung petani.

Halaman kedua:

Mendukung industri besar.

Halaman ketiga:

Mengurangi pajak.

Halaman keempat:

Menambah belanja negara.

Halaman kelima:

Mengurangi belanja negara.

Halaman keenam:

Menambah pajak.

Kohesi pusing.

Ia mencari hubungan logis.

Tidak ada.

Akhirnya ia menyadari bahwa manifesto itu tidak ditulis untuk dibaca.

Ia ditulis untuk dikutip sepotong-sepotong.


---

PERKARA BAHASA: REGISTER

Register adalah pakaian bahasa.

Bahasa hukum.

Bahasa ilmiah.

Bahasa pasar.

Bahasa sehari-hari.

Suatu hari Register menghadiri sidang korupsi.

Terdakwa berbicara dengan bahasa sederhana.

"Saya mengambil uang itu."

Pengacaranya langsung panik.

Register segera dipanggil.

Beberapa menit kemudian kalimat itu berubah menjadi:

"Terjadi proses pemanfaatan sumber daya yang belum sepenuhnya selaras dengan koridor regulatif."

Hakim berkedip.

Wartawan berkedip.

Terdakwa sendiri berkedip.

Karena kejahatan yang sama

tiba-tiba terdengar seperti seminar kebijakan publik.


---

PERKARA BAHASA: LINGUA FRANCA

Lingua Franca adalah bahasa perantara.

Ia menyatukan orang-orang yang berbeda.

Suatu hari ia menghadiri pertemuan antara rakyat dan oligarki.

Rakyat berbicara tentang harga beras.

Oligarki berbicara tentang stabilitas pasar.

Rakyat berbicara tentang upah.

Oligarki berbicara tentang fleksibilitas tenaga kerja.

Rakyat berbicara tentang rumah.

Oligarki berbicara tentang aset properti.

Lingua Franca bekerja keras sepanjang hari.

Namun menjelang sore ia menyerah.

"Ada apa?" tanya semua orang.

Lingua Franca menjawab:

"Aku bisa menerjemahkan bahasa."

"Lalu?"

"Aku tidak bisa menerjemahkan kepentingan."


---

PERKARA BAHASA: ARSIP

Arsip tinggal di ruang gelap.

Ia sabar.

Sangat sabar.

Ia tidak ikut kampanye.

Tidak ikut debat.

Tidak ikut konferensi pers.

Ia hanya menyimpan.

Pidato.

Surat.

Laporan.

Perintah.

Tanda tangan.

Nama.

Tanggal.

Kekuasaan sering melupakannya.

Karena kekuasaan mencintai hari ini.

Arsip mencintai lima puluh tahun kemudian.

Ketika rezim berganti,

ketika slogan memudar,

ketika baliho runtuh,

ketika juru bicara pensiun,

orang-orang datang kepadanya.

Membuka kotak-kotak tua.

Membaca dokumen yang dulu dirahasiakan.

Dan hampir selalu menemukan hal yang sama:

kebohongan paling percaya diri ternyata memiliki umur yang lebih pendek

daripada secarik kertas yang disimpan dengan baik.

•••

PERKARA BAHASA: DEIKSIS

Deiksis adalah kata-kata yang menunjuk.

Di sini.

Di sana.

Ini.

Itu.

Kami.

Mereka.

Hari ini.

Besok.

Biasanya ia hidup tenang dalam buku tata bahasa.

Sampai suatu hari ia direkrut menjadi konsultan politik.

Tugas pertamanya sederhana.

Mengubah arah telunjuk.

Dalam sebuah pidato tertulis:

"Mereka telah merusak negeri ini."

Deiksis bertanya:

"Siapa mereka?"

"Kita lihat nanti."

Pidato berikutnya:

"Kita harus bersatu melawan mereka."

"Siapa kita?"

"Kita lihat nanti."

Pidato berikutnya lagi:

"Ini adalah ancaman bagi masa depan kita."

"Apa yang dimaksud dengan ini?"

"Kita lihat nanti."

Deiksis mulai bingung.

Semua orang bertepuk tangan.

Semua orang marah.

Semua orang bersorak.

Padahal tak seorang pun tahu siapa yang sedang dibicarakan.

Beberapa tahun kemudian, Deiksis menemukan rahasianya.

Kekuasaan tidak selalu membutuhkan musuh.

Kadang-kadang ia hanya membutuhkan kata ganti.


---

PERKARA BAHASA: FONOLOGI DALAM RAPAT PROPAGANDA

Fonologi diundang ke rapat propaganda nasional.

Ketua rapat membuka presentasi.

"Kami ingin program ini terdengar baik."

"Baik dalam arti apa?"

"Mudah diterima telinga."

Fonologi mengangguk.

Lalu ia melihat daftar istilah.

Pemotongan anggaran.

Pemecatan massal.

Penggusuran.

Penyadapan.

Ketua rapat bertanya:

"Bisa diperhalus?"

Fonologi mulai bekerja.

Beberapa konsonan dipangkas.

Beberapa vokal dilembutkan.

Beberapa bunyi dibuat mengalir.

Hasilnya terdengar jauh lebih nyaman.

Seorang pegawai muda memperhatikan.

"Jadi masalahnya selesai?"

"Masalah apa?"

"Yang tadi."

Fonologi menggeleng.

"Aku hanya mengubah bunyinya."

"Artinya tetap sama?"

"Ya."

Pegawai itu termenung.

Malam itu ia menyadari bahwa beberapa kebijakan buruk tidak hidup dari logika.

Mereka hidup dari musikalitas.


---

PERKARA BAHASA: MORFOLOGI TIKUS BERDASI

Morfologi adalah ahli bentuk kata.

Suatu hari ia menerima laporan aneh.

Kata "koruptor" mulai kehilangan popularitas.

Sebagai gantinya muncul istilah baru.

Mitra strategis.

Penghubung proyek.

Broker kebijakan.

Pelaku usaha.

Pemangku kepentingan.

Morfologi meneliti semua itu.

Lalu menemukan kejanggalan.

Semakin panjang istilahnya,

semakin kecil kemungkinan seseorang masuk penjara.

Ia menulis laporan ilmiah:

"Terdapat hubungan kuat antara jumlah suku kata dan tingkat kekebalan hukum."

Laporan itu tidak pernah diterbitkan.

Karena salah satu penyandang dananya memiliki sembilan suku kata jabatan.


---

PERKARA BAHASA: PRAGMATIK DALAM SIDANG

Pragmatik diundang menjadi saksi ahli.

Hakim bertanya:

"Apa keahlian Anda?"

"Mempelajari makna yang tidak diucapkan."

Sidang pun dimulai.

Seorang pejabat berkata:

"Kami menghargai masukan masyarakat."

Pragmatik mencatat.

"Maksud sebenarnya?"

"Kami berharap masyarakat diam setelah memberi masukan."

Pejabat berikutnya berkata:

"Kami terbuka terhadap kritik."

Pragmatik mencatat lagi.

"Maksud sebenarnya?"

"Kritik yang setuju dengan kami."

Pejabat berikutnya berkata:

"Kami akan mempertimbangkan aspirasi publik."

Pragmatik tersenyum.

"Maksud sebenarnya?"

"Kami sudah memutuskan."

Hakim mulai gelisah.

"Apakah semua ucapan publik seperti ini?"

Pragmatik mengangkat bahu.

"Tidak."

"Lalu?"

"Hanya yang terlalu sering diulang."


---

PERKARA BAHASA: METONIMIA DAN OLIGARKI

Metonimia sedang berlibur.

Tiba-tiba ia melihat berita.

"Pasar menginginkan kebijakan baru."

Metonimia tertawa.

Ia tahu persis siapa yang sedang berbicara.

Pasar tidak pernah menelepon wartawan.

Pasar tidak pernah menghadiri rapat.

Pasar tidak pernah mengirim surat.

Yang berbicara hanyalah segelintir orang dengan saham yang sangat besar.

Hari berikutnya berita lain muncul.

"Investor khawatir."

Metonimia tertawa lagi.

Investor yang mana?

Petani yang membeli dua lembar saham?

Guru yang menabung sedikit untuk masa pensiun?

Atau lima orang yang bisa menggerakkan grafik dengan sekali panggilan telepon?

Metonimia mulai memahami perannya.

Ia tidak lagi dipakai untuk menyingkat bahasa.

Ia dipakai untuk memperbesar minoritas hingga tampak seperti alam semesta.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT

Kalimat Majemuk Bertingkat adalah birokrat sejati.

Ia tidak pernah berjalan lurus.

Selalu membawa lampiran.

Catatan kaki.

Penjelasan tambahan.

Subpenjelasan.

Sub-subpenjelasan.

Suatu hari ia ditugaskan menjelaskan hilangnya dana publik.

Ia mulai berbicara.

"Dengan mempertimbangkan dinamika pelaksanaan program yang secara administratif mengalami proses penyesuaian..."

Dua jam berlalu.

"...yang dalam konteks perubahan regulasi..."

Empat jam berlalu.

"...serta memperhatikan hasil evaluasi awal..."

Enam jam berlalu.

Akhirnya seorang petugas kebersihan bertanya:

"Jadi uangnya ke mana?"

Kalimat Majemuk Bertingkat berhenti.

Lalu menjawab:

"Itulah bagian yang tidak sempat saya jelaskan."


---

PERKARA BAHASA: SEMANTIK KAMP PENGUNGSIAN

Semantik mengunjungi kamp pengungsian.

Ia ingin meneliti perubahan makna.

Di gerbang tertulis:

PUSAT RELOKASI.

Di dalam terdapat tenda.

Lumpur.

Anak-anak kurus.

Air yang terbatas.

Semantik bertanya kepada seorang pejabat:

"Mengapa disebut relokasi?"

"Karena lebih netral."

"Daripada apa?"

"Pengusiran."

Semantik mencatat.

Kemudian berjalan lebih jauh.

Di sana ada keluarga yang kehilangan rumah.

Ia bertanya kepada seorang ibu:

"Menurut Ibu, tempat ini apa?"

Ibu itu menjawab:

"Nama resminya saya tidak tahu."

"Lalu?"

"Saya hanya tahu rumah saya sudah tidak ada."

Semantik menutup buku catatannya.

Untuk pertama kalinya hari itu,

ia menemukan definisi yang tidak membutuhkan kamus.


---

PERKARA BAHASA: ALITERASI DALAM PEMILU

Aliterasi mencintai bunyi yang berulang.

Karena itu ia sangat laku saat pemilu.

Program Pembangunan Produktif.

Gerakan Gemilang Generasi Global.

Strategi Sejahtera Serentak.

Misi Maju Mandiri Modern.

Semua terdengar mengagumkan.

Seorang pemilih bertanya:

"Apakah programnya bagus?"

Konsultan kampanye menjawab:

"Bagus sekali."

"Kenapa?"

"Mudah diingat."

"Itu bukan program."

"Benar."

"Lalu apa?"

"Musik."


---

PERKARA BAHASA: DIKSI DAN TIKUS-TIKUS BERDASI

Diksi membuka klinik rehabilitasi bahasa.

Pasiennya banyak.

Salah satunya sekelompok tikus berdasi.

Mereka mengeluh.

"Kami punya masalah citra."

Diksi bertanya:

"Masalah apa?"

"Kami disebut koruptor."

"Karena?"

"Kami koruptor."

Diksi berpikir sejenak.

Lalu berkata:

"Coba gunakan istilah lain."

Apa misalnya?

Pelaku ekonomi-politik.

Fasilitator jaringan.

Mediator sumber daya.

Aktor distribusi anggaran.

Tikus-tikus itu gembira.

Mereka pulang dengan istilah baru.

Keesokan harinya mereka tetap korup.

Namun kini terdengar seperti panel diskusi akademik.


---

PERKARA BAHASA: ANAFORA DALAM PIDATO TIRAN

Tiran itu menyukai Anafora.

Ia suka mengulang kalimat.

Kami berjuang.

Kami berkorban.

Kami membangun.

Kami melindungi.

Kami menyelamatkan.

Pidato berlangsung tiga jam.

Rakyat bertepuk tangan.

Anafora senang.

Lalu seorang anak bertanya:

"Siapa kami?"

Ruangan mendadak sunyi.

Karena sepanjang tiga jam itu,

kata yang paling sering diucapkan

adalah kata yang paling tidak pernah dijelaskan.


---

PERKARA BAHASA: LEKSIKON RAHASIA

Di ruang bawah tanah sebuah kementerian terdapat kamus rahasia.

Isinya berbeda dari kamus biasa.

Di sana tertulis:

Kritik = ancaman potensial.

Demonstrasi = gangguan lalu lintas.

Jurnalisme = risiko reputasi.

Transparansi = masalah komunikasi.

Whistleblower = sumber kebocoran.

Korupsi = narasi negatif.

Suatu hari kamus itu bocor.

Masyarakat membacanya.

Semua marah.

Menteri segera mengadakan konferensi pers.

"Itu hanya kesalahpahaman terminologis."

Seorang ahli bahasa tertawa.

Karena bahkan ketika tertangkap,

kamus itu masih sedang bekerja.


---

PERKARA BAHASA: KATA BENDA KOLEKTIF

Kata benda kolektif suatu hari menghadiri rapat elit.

Bangsa.

Rakyat.

Publik.

Masyarakat.

Semuanya hadir.

Aneh.

Karena ruangan itu hanya berisi dua belas orang.

Salah satu kata kolektif bertanya:

"Kenapa kalian terus memakai nama kami?"

Seorang oligark menjawab:

"Karena terdengar lebih besar."

"Padahal yang hadir hanya kalian."

"Benar."

"Dan keputusan ini dibuat oleh kalian."

"Benar."

"Kenapa tidak memakai kata 'kami berdua belas'?"

Ruangan tertawa.

Seolah-olah kejujuran baru saja melontarkan lelucon yang sangat tidak pantas.


---

PERKARA BAHASA: DIALEK TERAKHIR

Ketika semua surat kabar sudah seragam,

ketika semua pidato memakai kata yang sama,

ketika semua berita terdengar identik,

masih ada satu tempat yang belum berhasil ditaklukkan.

Percakapan di warung.

Di teras rumah.

Di pasar.

Di perahu nelayan.

Di bangku tukang cukur.

Di sana bahasa masih hidup tanpa juru bicara.

Tanpa konferensi pers.

Tanpa konsultan komunikasi.

Tanpa departemen citra.

Seorang pejabat mendengar kabar itu.

Ia bertanya:

"Bagaimana cara mengendalikan semua percakapan itu?"

Seorang ahli bahasa tua menjawab:

"Anda tidak bisa."

"Kenapa?"

Karena bahasa yang hidup di dokumen dapat diatur.

Bahasa yang hidup di mulut dapat ditakuti.

Tetapi bahasa yang hidup dalam pengalaman bersama

akan selalu menemukan jalan pulang kepada kenyataan.

•••

PERKARA BAHASA: PLEONASME DALAM RAPAT ANGGARAN

Pleonasme datang membawa koper besar.

"Isinya apa?" tanya bendahara.

"Kata-kata tambahan."

"Untuk apa?"

"Untuk mengamankan anggaran."

Rapat dimulai.

Seorang anggota bertanya:

"Kenapa biaya perjalanan ini naik tiga kali lipat?"

Pleonasme membuka koper.

"Karena adanya kebutuhan peningkatan kapasitas koordinatif yang bersifat komprehensif, integratif, kolaboratif, dan berkelanjutan."

Ruangan mengangguk.

Tak seorang pun mengerti.

Anggaran disetujui.

Pleonasme pulang dengan koper yang lebih ringan.

Kas negara tidak.


---

PERKARA BAHASA: METAFORA DALAM PIDATO PERANG

Metafora diundang menjadi penasihat negara.

Pidato sedang disusun.

"Kita membutuhkan citra yang kuat."

Metafora berpikir.

"Negara adalah kapal."

Bagus.

"Pemimpin adalah nahkoda."

Bagus.

"Rakyat adalah awak."

Bagus.

Tiba-tiba seorang jenderal berdiri.

"Kalau begitu mereka yang tidak setuju adalah lubang di lambung kapal."

Metafora terdiam.

Beberapa bulan kemudian, orang-orang mulai dibuang ke laut.

Metafora mengajukan surat keberatan.

Ditolak.

Dengan alasan keamanan pelayaran.


---

PERKARA BAHASA: HIPERBOLA DAN LAPORAN RESMI

Hiperbola mendapat penghargaan nasional.

Alasannya luar biasa.

Prestasinya fenomenal.

Kontribusinya monumental.

Dedikasinya historis.

Pencapaiannya spektakuler.

Seorang wartawan bertanya:

"Sebenarnya dia melakukan apa?"

Panitia membuka map.

"Menaikkan pelayanan publik sebesar nol koma tujuh persen."

"Dan itu monumental?"

"Menurut Hiperbola, ya."

Hiperbola menerima medali.

Statistik menerima obat penenang.


---

PERKARA BAHASA: PERSONIFIKASI DI RUANG INTEROGASI

Keadilan dipanggil sebagai saksi.

Ia datang pincang.

"Kenapa kakimu?"

"Terlalu sering ditarik ke dua arah."

Kebenaran dipanggil berikutnya.

Ia datang dengan wajah lebam.

"Kenapa wajahmu?"

"Terlalu sering dibantah oleh orang yang tidak membacaku."

Terakhir, Kekuasaan masuk.

Sehat.

Bersih.

Tegap.

Hakim bertanya:

"Apakah Anda mengenal kedua saksi ini?"

Kekuasaan menjawab:

"Tidak pernah bertemu."

Keadilan tertawa.

Kebenaran ikut tertawa.

Hakim mencatat:

"Saksi menunjukkan perilaku tidak kooperatif."


---

PERKARA BAHASA: ANTONIM DALAM NEGARA SATU SUARA

Suatu hari pemerintah melarang antonim.

Terlalu memecah belah, katanya.

Sejak itu hanya ada:

maju,

hebat,

berhasil,

unggul.

Tidak ada lagi:

mundur,

gagal,

buruk,

salah.

Awalnya berita tampak lebih optimistis.

Kemudian masyarakat kehilangan kemampuan membedakan keadaan.

Karena tanpa kata "gelap,"

cahaya hanyalah kebiasaan.


---

PERKARA BAHASA: IRONI MENERIMA PENGHARGAAN

Ironi menerima penghargaan integritas.

Piala diserahkan oleh tersangka korupsi.

Sertifikat ditandatangani oleh pemalsu dokumen.

Acara didukung oleh perusahaan yang sedang diselidiki.

Pembawa acara berkata:

"Ini momen bersejarah."

Ironi mengangguk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia merasa tidak dibutuhkan.


---

PERKARA BAHASA: ELIPSIS DALAM BUKU PELAJARAN

Bab itu membahas sejarah nasional.

Halaman pertama penuh.

Halaman kedua penuh.

Halaman ketiga penuh.

Halaman keempat hanya berisi:

"Pada periode tersebut terjadi beberapa peristiwa ..."

Seorang murid bertanya:

"Apa yang ada di titik-titik itu?"

Guru menatap pintu kelas.

Lalu jendela.

Lalu langit.

Kemudian menjawab:

"Karier saya."


---

PERKARA BAHASA: PARADOKS KEAMANAN

Paradoks bekerja sebagai menteri.

Program utamanya sederhana.

Membatasi kebebasan demi kebebasan.

Menyensor informasi demi keterbukaan.

Mengawasi warga demi privasi.

Mengintimidasi kritik demi demokrasi.

Setiap kebijakan lolos.

Karena terdengar masuk akal jika dibaca cepat.

Paradoks terpilih kembali.

Logika mengundurkan diri.


---

PERKARA BAHASA: MAJAS LITOTES DALAM PERSIDANGAN

Terdakwa berdiri di depan hakim.

"Saya hanya menerima hadiah kecil."

Berapa nilainya?

"Dua puluh miliar."

"Saya hanya memiliki pengaruh terbatas."

Berapa jabatan yang Anda kendalikan?

"Dua belas lembaga."

"Saya hanya melakukan kesalahan administratif."

Apa kesalahannya?

"Mengalihkan dana bencana."

Litotes menunduk malu.

Ia diciptakan untuk kerendahan hati.

Bukan untuk pencucian moral.


---

PERKARA BAHASA: SARKASME MENJADI JUBIR

Sarkasme ditunjuk menjadi juru bicara sementara.

Hari pertama ia berkata:

"Pemerintah sangat transparan sehingga dokumen-dokumennya bahkan tidak dapat ditemukan."

Hari kedua:

"Korupsi berhasil ditekan sampai hanya tersisa di setiap sektor."

Hari ketiga:

"Kebebasan pers berkembang pesat. Wartawan kini bebas kehilangan pekerjaan."

Kontraknya tidak diperpanjang.

Alasannya:

terlalu akurat.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT PASIF DALAM BERITA MALAM

Pembawa berita membaca naskah:

"Dana telah disalahgunakan."

"Dokumen telah dimusnahkan."

"Saksi telah diintimidasi."

"Korban telah diabaikan."

Seorang anak bertanya kepada ayahnya:

"Siapa yang melakukan semua itu?"

Ayahnya menunjuk televisi.

"Kalau mereka tahu, kalimatnya tidak akan seperti itu."


---

PERKARA BAHASA: OKSIMORON DALAM PROYEK PEMBANGUNAN

Pemerintah memperkenalkan konsep baru:

Penggusuran Humanis.

Pengawasan Sukarela.

Pemaksaan Partisipatif.

Kerahasiaan Transparan.

Oksimoron sangat terharu.

Selama hidupnya ia hanya dianggap majas.

Kini ia menjadi kebijakan publik.


---

PERKARA BAHASA: ALUSI DI KANTOR SENSOR

Sensor membaca sebuah puisi.

Di dalamnya ada singa.

Ada kandang.

Ada pemburu.

Ada hutan.

Sensor marah.

"Ini sindiran politik."

Penyair terkejut.

"Tidak. Itu tentang singa."

"Jangan bohong."

"Itu benar."

"Kalau begitu kenapa saya merasa tersinggung?"

Penyair berpikir sejenak.

"Mungkin karena singanya bukan masalah utama."


---

PERKARA BAHASA: TANDA SERU DALAM KAMPANYE

Tanda Seru bekerja tanpa istirahat.

Hebat!

Luar biasa!

Bersejarah!

Fenomenal!

Spektakuler!

Seorang warga bertanya:

"Apakah ada datanya?"

Tanda Seru menjawab:

"Spektakuler!"

"Apakah ada laporannya?"

"Fenomenal!"

"Apakah ada buktinya?"

"Bersejarah!"

Warga itu pulang.

Tanda Seru tetap bekerja.

Karena antusiasme jauh lebih murah daripada pembuktian.


---

PERKARA BAHASA: EUFEMISME DI KUBURAN

Eufemisme berjalan melewati deretan makam.

Ia membawa map dan jas resmi.

Di salah satu batu nisan tertulis:

"Korban relokasi keamanan."

Di makam lain:

"Dampak kolateral."

Di makam berikutnya:

"Insiden operasional."

Penjaga kuburan bertanya:

"Kenapa tidak ditulis saja 'dibunuh'?"

Eufemisme terdiam.

Lama sekali.

Kemudian menjawab:

"Karena beberapa kata terlalu jujur untuk diizinkan menghadiri upacara resmi."

•••

Berikut beberapa contoh PERKARA BAHASA dengan tokoh yang berbeda-beda: majas, istilah linguistik, kategori gramatikal, atau gejala bahasa yang dipersonifikasikan untuk membicarakan politik, kekuasaan, korupsi, propaganda, dan absurditas publik.


---

PERKARA BAHASA: HIPERBOLA DALAM LAPORAN KINERJA

Hiperbola datang membawa grafik.

"Kami berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat secara luar biasa."

"Berapa persen?" tanya seseorang.

"Dua koma tiga."

"Itu biasa saja."

Hiperbola menggeleng.

"Persentasenya biasa. Kata keterangannya yang luar biasa."

Laporan disahkan.

Kemiskinan tetap tidak membaca dokumen itu.


---

PERKARA BAHASA: KATA SANDANG DAN PEMUJAAN JABATAN

Kata sandang berdiri di depan nama pejabat.

Yang satu disebut: "seorang menteri."

Yang lain disebut: "Sang Menteri."

Yang satu bisa dikritik.

Yang lain mulai menyerupai cuaca: selalu ada, selalu benar, dan tidak boleh dipersoalkan.

Bahasa tidak menciptakan kultus.

Ia hanya menyediakan kursinya.


---

PERKARA BAHASA: METAFORA NEGARA

Metafora dipanggil ke sidang parlemen.

Seorang anggota berkata:

"Negara adalah kapal."

Semua setuju.

Lalu awak kapal mulai dibungkam demi ketertiban.

Penumpang dilarang bertanya arah.

Mereka yang tercebur disebut pengganggu pelayaran.

Metafora itu berdiri dan berkata:

"Aku hanya perbandingan."

Namun kekuasaan sudah mengubahnya menjadi peraturan.


---

PERKARA BAHASA: PASIF DALAM BERITA

Kalimat pasif menjadi pembawa acara berita.

"Dana publik telah disalahgunakan."

"Oleh siapa?" tanya penonton.

"Belum diketahui."

"Mobil dinas telah dipakai untuk kepentingan pribadi."

"Oleh siapa?"

"Masih didalami."

"Dokumen telah dimusnahkan."

"Oleh siapa?"

Pasif memeriksa naskahnya.

Ternyata pelaku selalu hilang tepat sebelum kata kerja muncul.


---

PERKARA BAHASA: SINONIM DALAM KAMPANYE

Seorang calon sedang mencari kata.

Ia tidak suka kata "gagal."

Maka dipilihlah:

"belum optimal."

Ia tidak suka kata "bohong."

Maka dipilihlah:

"terjadi perbedaan data."

Ia tidak suka kata "korupsi."

Maka dipilihlah:

"ketidaksesuaian prosedur administratif."

Rakyat mendengar semua sinonim itu.

Kemudian kehilangan kamus.


---

PERKARA BAHASA: IRONI DI DEPAN PENJARA KORUPSI

Ironi berdiri di gerbang penjara.

Di dalam, para koruptor mengikuti seminar integritas.

Mereka menerima sertifikat antikorupsi.

Mereka berfoto bersama.

Mereka tersenyum.

Ironi mencatat semuanya dengan tekun.

Ia tidak perlu menambahkan apa pun.


---

PERKARA BAHASA: AKRONIM NEGARA

Negara mencintai akronim.

Setiap krisis diberi singkatan.

Setiap kegagalan diberi singkatan.

Setiap kemarahan rakyat diberi singkatan.

Masalah yang panjang dipotong menjadi empat huruf.

Begitu pendeknya nama masalah itu

hingga orang lupa bahwa ia masih ada.


---

PERKARA BAHASA: LITOTES PEJABAT

Litotes dipanggil untuk konferensi pers.

"Saya hanya pelayan rakyat yang sederhana."

Katanya sambil turun dari mobil mewah.

"Saya hanya orang biasa."

Katanya sambil dikawal puluhan petugas.

"Saya tidak punya kepentingan."

Katanya sambil menunjuk perusahaan milik keluarganya.

Litotes merasa bersalah.

Ia diciptakan untuk kerendahan hati,

bukan untuk penyamaran.


---

PERKARA BAHASA: TANDA BACA DALAM NEGARA DARURAT

Tanda tanya ditangkap lebih dulu.

Ia dianggap mengganggu stabilitas.

Tanda seru diangkat menjadi juru bicara resmi.

Setiap hari ia berpidato:

"Hebat!"

"Maju!"

"Berhasil!"

Ketika keadaan memburuk,

masyarakat mencari tanda tanya.

Namun arsipnya sudah disegel.


---

PERKARA BAHASA: DEFINISI RESMI

Kamus dipanggil oleh pemerintah.

"Kami ingin memperbarui beberapa arti."

"Seperti apa?"

"Demonstrasi menjadi gangguan."

"Kritik menjadi provokasi."

"Pembangkangan menjadi hoaks."

Kamus menolak.

Malamnya ia dibakar.

Keesokan harinya,

semua orang masih memakai kata yang sama,

tetapi artinya sudah ketakutan.


---

PERKARA BAHASA: PERSONIFIKASI ANGGARAN

Anggaran negara kabur dari dokumen.

Ia ditemukan beberapa bulan kemudian

di garasi seorang pejabat.

"Aku diculik," katanya.

Pejabat membantah.

"Itu fitnah."

"Kalau begitu mengapa kau ada di sini?"

Anggaran menjawab:

"Aku juga sedang mencoba memahami laporan pertanggungjawabannya."


---

PERKARA BAHASA: PARADOKS KEAMANAN

Pemerintah berkata:

"Demi kebebasan, kami akan membatasi kebebasan."

"Demi keterbukaan, beberapa informasi harus dirahasiakan."

"Demi demokrasi, beberapa suara harus dibungkam."

Paradoks berdiri dari kursinya.

"Itu pekerjaanku."

Namun bahkan ia merasa kalimat-kalimat itu berlebihan.


---

PERKARA BAHASA: ALUSI SEJARAH

Setiap kali rakyat mengingat masa lalu,

penguasa berkata:

"Jangan hidup di masa lampau."

Setiap kali penguasa membutuhkan legitimasi,

penguasa berkata:

"Lihatlah jasa-jasa masa lampau."

Alusi sejarah bingung.

Ia tidak tahu apakah dirinya arsip,

atau gudang suku cadang politik.


---

PERKARA BAHASA: OKSIMORON PEMBANGUNAN

Proyek itu disebut:

"Penggusuran humanis."

Warga dipindahkan secara manusiawi.

Rumah diratakan secara manusiawi.

Kenangan dihancurkan secara manusiawi.

Oksimoron mendapat penghargaan bahasa tahun itu.

Tak pernah sebelumnya dua kata

saling menampar dengan begitu sopan.


---

PERKARA BAHASA: REPETISI DALAM PIDATO

Pidato itu diulang.

Kemajuan.

Kemajuan.

Kemajuan.

Keberhasilan.

Keberhasilan.

Keberhasilan.

Rakyat bertanya:

"Kalau memang sebanyak itu, mengapa harus terus diulang?"

Repetisi tidak menjawab.

Ia sedang sibuk menciptakan gema.


---

PERKARA BAHASA: SENSOR

Sensor tidak menghapus kalimat.

Ia hanya menghapus beberapa kata.

Setelah itu, kalimat akan tampak berkata sendiri bahwa tidak ada masalah.

Sensor sangat menghargai tata bahasa.

Karena itu ia selalu membiarkan subjek dan predikat tetap hidup.

Hanya kenyataannya yang dibunuh.


---

Bentuk semacam ini menarik karena memungkinkan kritik politik dan kemanusiaan dilakukan melalui "drama internal bahasa". Yang menjadi tokoh bukan presiden, jenderal, koruptor, atau oligarki, melainkan perangkat linguistik itu sendiri. Akibatnya satir dapat menjadi lebih tajam sekaligus lebih universal: yang diadili bukan hanya pelaku tertentu, tetapi cara kekuasaan beroperasi melalui bahasa.

•••

PERKARA BAHASA: DIATESIS PASIF MENGHADIRI SIDANG KORUPSI

Sidang dimulai pukul sembilan pagi.

Hakim membuka berkas dan membaca:

"Dana publik telah dialihkan."

"Proyek telah dimarkup."

"Dokumen telah dimusnahkan."

"Kesaksian telah ditekan."

Diatesis pasif duduk di kursi saksi.

Hakim bertanya:

"Siapa yang melakukan semua itu?"

Pasif mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana mungkin tidak tahu? Semua kalimat itu memakai dirimu."

"Aku hanya menyediakan struktur."

"Jadi pelakunya?"

"Selalu berada di luar kalimat."

Ruang sidang menjadi hening.

Jaksa membuka berkas lain.

Isinya sama.

Hanya tindakan.

Tidak ada pelaku.

Hanya akibat.

Tidak ada penyebab.

Hanya kerugian.

Tidak ada penanggung jawab.

Akhirnya hakim mengetuk palu.

"Karena tidak ditemukan subjek, sidang ditunda."

Di luar gedung, para terdakwa tersenyum.

Mereka memahami tata bahasa lebih baik daripada hukum.


---

PERKARA BAHASA: METONIMIA DALAM RAPAT RAHASIA

Metonimia sedang bekerja lembur.

Ia mengganti nama orang dengan jabatan.

Mengganti jabatan dengan lembaga.

Mengganti lembaga dengan gedung.

Mengganti gedung dengan negara.

Dalam rapat tertutup, seseorang berkata:

"Negara menghendaki ini."

Metonimia langsung mengenali suaranya.

Yang berbicara hanya tiga orang.

Namun yang disebut "negara" adalah tiga ratus juta jiwa.

Seorang staf muda mengangkat tangan.

"Maaf, apakah rakyat setuju?"

Ruangan menjadi dingin.

Ketua rapat menjawab:

"Rakyat tidak perlu dilibatkan. Negara sudah setuju."

Metonimia merasa bersalah.

Ia diciptakan untuk memudahkan bahasa.

Bukan untuk menyamarkan ukuran kekuasaan.


---

PERKARA BAHASA: HIPERBOLA DAN LAPORAN KEMISKINAN

Hiperbola mendapat kontrak baru.

Tugasnya sederhana:

menjelaskan kenyataan tanpa membuat kenyataan tampak nyata.

Maka ia mulai bekerja.

Program kecil menjadi revolusi.

Perbaikan kecil menjadi lompatan sejarah.

Keberhasilan biasa menjadi pencapaian monumental.

Setiap angka diberi sayap.

Setiap statistik diberi trompet.

Setiap pidato diberi kembang api.

Lalu seorang ibu bertanya:

"Apakah harga beras ikut turun?"

Hiperbola membuka grafik.

"Pertumbuhan ekonomi meningkat."

"Itu bukan jawaban."

"Indeks kepercayaan naik."

"Itu juga bukan jawaban."

"Stabilitas terjaga."

"Itu tetap bukan jawaban."

Ibu itu pulang membawa kantong belanja yang semakin ringan.

Di belakangnya, Hiperbola masih berbicara.

Semakin keras.

Semakin megah.

Semakin jauh dari dapur.


---

PERKARA BAHASA: ANTONIM YANG DILARANG

Pada suatu masa, pemerintah melarang antonim.

Kata "atas" boleh ada.

Kata "bawah" tidak.

Kata "maju" boleh ada.

Kata "mundur" tidak.

Kata "sukses" boleh ada.

Kata "gagal" tidak.

Alasannya demi optimisme nasional.

Mula-mula orang tertawa.

Lalu kamus mulai direvisi.

Lalu buku sekolah diperbarui.

Lalu berita hanya memuat setengah kenyataan.

Akhirnya masyarakat kehilangan kemampuan membandingkan.

Karena sesuatu hanya tampak tinggi jika ada yang rendah.

Sesuatu hanya tampak terang jika ada yang gelap.

Sesuatu hanya tampak berhasil jika kegagalan masih boleh disebut.

Negara itu dipenuhi pujian.

Dan karena tidak ada lagi antonim,

tak seorang pun dapat menjelaskan mengapa hidup mereka terasa berlawanan dengan berita.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT MAJEMUK DALAM SKANDAL BESAR

Skandal itu sebenarnya sederhana.

Seorang pejabat mencuri uang.

Selesai.

Namun para penasihat bahasa segera bekerja.

Kalimat pendek dianggap berbahaya.

Terlalu jelas.

Terlalu mudah dipahami.

Maka mereka mulai menambahkan anak kalimat.

"Dugaan terjadinya penyimpangan yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu dalam proses yang sedang dikaji oleh tim independen..."

Kalimat itu berjalan selama tiga halaman.

Ketika selesai dibaca, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi.

Pejabat itu pun lega.

Ia berhasil bersembunyi di antara konjungsi.


---

PERKARA BAHASA: PERSONIFIKASI STATISTIK

Statistik ditemukan menangis di lorong kementerian.

"Kenapa?" tanya seorang pegawai.

"Aku lelah."

"Lelah karena apa?"

"Aku terus dipaksa menjelaskan sesuatu yang tidak pernah kukatakan."

Pegawai itu bingung.

Statistik melanjutkan:

"Setiap kali angka naik sedikit, mereka bilang rakyat bahagia."

"Setiap kali angka turun sedikit, mereka bilang sejarah berubah."

"Padahal aku hanya angka."

"Yang memberi makna berlebihan itu manusia."

Malam itu Statistik mengajukan pengunduran diri.

Permohonannya ditolak.

Negara terlalu membutuhkan angka

untuk menghindari kenyataan.


---

PERKARA BAHASA: TANDA PETIK

Tanda petik ditugaskan meliput perang.

Ia mencatat semua pidato.

Semua konferensi pers.

Semua pernyataan resmi.

Suatu hari seorang juru bicara berkata:

"Kami melakukan operasi kemanusiaan."

Tanda petik langsung bekerja.

Operasi "kemanusiaan".

Hari berikutnya:

"Kami menahan beberapa provokator."

Tanda petik kembali bekerja.

Beberapa "provokator".

Hari berikutnya lagi:

"Tidak ada penyiksaan."

Tanda petik tersenyum pahit.

Tidak ada "penyiksaan".

Lama-kelamaan seluruh laporan dipenuhi tanda petik.

Begitu banyak tanda petik

hingga masyarakat mulai bertanya:

"Kalau semuanya harus dikutip dengan curiga,

apakah masih ada kata yang benar-benar percaya pada dirinya sendiri?"


---

PERKARA BAHASA: SINONIM DALAM PENJARA

Koruptor memasuki perpustakaan.

Ia mencari sinonim.

Penjaga bertanya:

"Untuk apa?"

"Aku sedang menulis pembelaan."

Ia membuka kamus.

Korupsi menjadi kekeliruan administratif.

Suap menjadi bentuk apresiasi.

Kolusi menjadi koordinasi.

Nepotisme menjadi kepercayaan personal.

Penggelapan menjadi kesalahan pencatatan.

Pencurian menjadi ketidaksesuaian prosedur.

Setelah selesai, ia tersenyum.

Kejahatannya tetap sama.

Namun sekarang terdengar seperti seminar manajemen.


---

PERKARA BAHASA: ELIPSIS DALAM BUKU SEJARAH

Buku sejarah baru diterbitkan.

Banyak halaman.

Banyak foto.

Banyak tanggal.

Banyak nama.

Namun Elipsis menemukan sesuatu yang aneh.

Beberapa peristiwa hilang.

Beberapa korban hilang.

Beberapa pelaku hilang.

Beberapa kuburan hilang.

Murid bertanya:

"Pak, mengapa bagian ini kosong?"

Guru menjawab:

"Itu bukan kosong."

"Lalu apa?"

"Itu bagian yang tidak ditulis."

"Kenapa tidak ditulis?"

Guru menatap jendela.

Karena kadang-kadang,

yang paling menentukan sebuah sejarah

bukan apa yang dicatat,

melainkan apa yang berhasil dihilangkan.


---

PERKARA BAHASA: RETORIKA DALAM KAMP PENAHANAN

Retorika mengunjungi kamp penahanan.

Di gerbang tertulis:

PUSAT PEMBINAAN.

Di dalam ada pagar kawat.

Di dalam ada sel.

Di dalam ada teriakan.

Retorika bertanya:

"Mengapa tempat ini disebut pusat pembinaan?"

Petugas menjawab:

"Karena pusat penahanan terdengar buruk."

"Apakah namanya mengubah kenyataan?"

"Tidak."

"Lalu mengapa diganti?"

Petugas tersenyum.

Karena manusia lebih mudah mengganti papan nama

daripada memperbaiki bangunan di belakangnya.


---

PERKARA BAHASA: KIASAN TERAKHIR

Ketika semua surat kabar disensor,

ketika semua pidato diawasi,

ketika semua laporan diperiksa,

orang-orang mulai berbicara dengan kiasan.

Mereka menyebut singa ketika membicarakan penguasa.

Mereka menyebut kandang ketika membicarakan negara.

Mereka menyebut musim kemarau ketika membicarakan kebebasan.

Pemerintah marah.

"Kalian menyebarkan kritik terselubung!"

"Kami hanya bicara tentang hewan dan cuaca."

Pemerintah membentuk tim ahli.

Mereka memeriksa setiap metafora.

Setiap peribahasa.

Setiap dongeng.

Setiap puisi.

Namun semakin keras pencarian dilakukan,

semakin banyak makna bersembunyi.

Akhirnya kekuasaan menemukan musuh terbesarnya:

bukan pemberontakan.

Bukan demonstrasi.

Bukan oposisi.

Melainkan kemampuan bahasa

untuk mengatakan sesuatu

tanpa mengatakannya.

•••

PERKARA BAHASA: DEFINISI

Definisi dipanggil ke kantor kementerian.

Di ruang rapat sudah hadir para ahli strategi, konsultan citra, dan beberapa pejabat yang sedang mengalami masalah hukum.

Ketua rapat membuka pembicaraan:

"Kami ingin memperbarui beberapa pengertian."

Definisi bertanya:

"Untuk kepentingan ilmu?"

"Bukan."

"Untuk memperjelas komunikasi?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Untuk memperjelas posisi kami."

Maka pekerjaan dimulai.

Korupsi dipersempit.

Akuntabilitas diperluas sampai kehilangan bentuk.

Transparansi diartikan sebagai kesediaan memberi informasi yang tidak berbahaya.

Partisipasi diartikan sebagai mendengarkan keputusan yang sudah dibuat.

Kritik diartikan sebagai gangguan apabila terlalu tepat sasaran.

Definisi memandangi hasilnya.

"Ini bukan penjelasan."

"Apa bedanya?"

"Penjelasan membantu orang memahami kenyataan."

"Dan ini?"

"Ini membantu kenyataan menghindari pemahaman."

Rapat ditutup dengan tepuk tangan.


---

PERKARA BAHASA: KOMA

Koma bekerja sebagai pegawai rendah di birokrasi.

Tugasnya kecil.

Hanya memisahkan.

Hanya memberi jeda.

Hanya menentukan siapa melakukan apa.

Suatu hari ia menerima dokumen.

Bunyinya:

"Hukum mati koruptor tidak berlaku."

Koma menaruh dirinya setelah kata "mati".

Hukum, mati koruptor tidak berlaku.

Maksud kalimat berubah.

Panik terjadi.

Rapat darurat diselenggarakan.

Tim hukum dipanggil.

Koma diinterogasi selama enam jam.

"Kenapa kau melakukan itu?"

"Aku hanya berada di tempat yang logis."

"Itu mengubah makna negara."

Koma mengangguk.

"Makna sering kali lebih rapuh daripada kekuasaan mengakuinya."

Sejak hari itu semua orang lebih takut kepada tanda baca daripada filsafat.


---

PERKARA BAHASA: PARAFRASE

Seorang diktator membenci kutipan langsung.

Terlalu berbahaya.

Terlalu jelas.

Terlalu mudah diperiksa.

Maka ia mempekerjakan Parafrase.

Tugasnya sederhana.

Mengubah semua perkataan tanpa mengubah maksud.

Awalnya berjalan lancar.

Kemudian Parafrase mulai bosan.

Ia mengubah sedikit lebih banyak.

Pidato yang semula berbunyi:

"Kami harus mengendalikan rakyat."

Menjadi:

"Rakyat harus dikendalikan karena kami takut kepada mereka."

Pidato yang semula berbunyi:

"Kami menjaga stabilitas."

Menjadi:

"Kami menjaga posisi."

Pidato yang semula berbunyi:

"Kami melindungi negara."

Menjadi:

"Kami melindungi diri sendiri dengan memakai nama negara."

Diktator marah.

Parafrase dipecat.

Namun kerusakan sudah terjadi.

Untuk pertama kalinya, orang memahami isi pidato itu.


---

PERKARA BAHASA: PLEONASME

Pleonasme diangkat menjadi penasihat komunikasi.

Ia terkenal karena kemampuannya memperbanyak kata.

Masalah kecil menjadi persoalan yang sangat amat luar biasa penting.

Keputusan biasa menjadi keputusan strategis nasional yang sangat krusial.

Kebijakan sederhana menjadi terobosan monumental bersejarah.

Semua orang terkesan.

Bukan karena isi.

Karena panjangnya.

Lalu seorang anak bertanya:

"Kalau semua kata tambahan itu dihapus, apa yang tersisa?"

Ruangan menjadi sunyi.

Mereka mulai menghapus.

Sangat.

Amat.

Luar biasa.

Strategis.

Monumental.

Historis.

Transformasional.

Setelah semuanya hilang,

tinggal satu kalimat:

"Kami belum tahu harus berbuat apa."


---

PERKARA BAHASA: FUTURUM

Futurum adalah bentuk gramatikal yang hidup di masa depan.

Ia sangat disukai para politisi.

Karena masa depan tidak bisa mengajukan gugatan.

Setiap masalah dipindahkan ke sana.

Kemiskinan akan diatasi.

Korupsi akan diberantas.

Ketidakadilan akan diselesaikan.

Pendidikan akan diperbaiki.

Kesejahteraan akan meningkat.

Futurum bekerja siang dan malam.

Menampung janji.

Menampung rencana.

Menampung harapan.

Suatu hari ia roboh kelelahan.

Terlalu banyak beban.

Terlalu sedikit pelaksanaan.

Saat diperiksa dokter bahasa, ditemukan bahwa Futurum menderita penumpukan kata "akan".


---

PERKARA BAHASA: ANAFORA

Anafora memenangkan tender pidato kenegaraan.

Setiap kalimat dimulai sama.

Kami berjuang.

Kami bekerja.

Kami membangun.

Kami mengabdi.

Kami melayani.

Pidato berlangsung dua jam.

Setelah selesai, seorang wartawan mengangkat tangan.

"Siapa kami?"

Pidato tidak memiliki jawaban.

Karena selama dua jam itu

kata yang paling sering diulang

justru tidak pernah dijelaskan.


---

PERKARA BAHASA: ETIMOLOGI

Etimologi membuka arsip tua.

Ia sedang menelusuri sejarah beberapa kata.

Ternyata banyak kata mengalami nasib tragis.

Pelayanan berubah menjadi kekuasaan.

Pengabdian berubah menjadi karier.

Perwakilan berubah menjadi profesi.

Kepemimpinan berubah menjadi merek dagang.

Etimologi menghela napas.

Kata-kata itu lahir dengan cita-cita tertentu.

Namun sepanjang sejarah,

mereka dipaksa bekerja untuk hal yang berlawanan.

Ketika laporan selesai ditulis,

arsip segera disegel.

Terlalu banyak kata yang dapat menuntut ganti rugi.


---

PERKARA BAHASA: SUBJEK

Subjek menghilang dari negara itu.

Awalnya tidak ada yang sadar.

Kalimat tetap berjalan.

Perintah tetap keluar.

Kebijakan tetap dibuat.

Hukuman tetap dijatuhkan.

Namun perlahan muncul kejanggalan.

Ditetapkan.

Diputuskan.

Diperintahkan.

Dilaksanakan.

Diwajibkan.

Tidak seorang pun tahu siapa yang melakukan semua itu.

Hanya ada tindakan.

Tidak ada pelaku.

Hanya kewajiban.

Tidak ada penanggung jawab.

Pencarian besar-besaran dilakukan.

Bertahun-tahun kemudian Subjek ditemukan.

Ia bersembunyi di ruang bawah tanah birokrasi.

"Kenapa kau kabur?"

Subjek menjawab:

"Aku lelah dijadikan tersangka."


---

PERKARA BAHASA: IRONI DAN MONUMEN

Pemerintah membangun monumen antikorupsi.

Biayanya membengkak tiga kali lipat.

Tendernya bermasalah.

Auditnya hilang.

Laporan keuangannya tidak lengkap.

Namun monumen itu selesai tepat waktu.

Ironi datang untuk menghadiri peresmian.

Ia tidak membawa pidato.

Tidak membawa spanduk.

Tidak membawa kritik.

Ia hanya berdiri.

Terkadang keberadaan fakta sudah cukup menjadi satire.


---

PERKARA BAHASA: MAKNANYA BELAKANGAN

Seorang pejabat mengadakan konferensi pers.

Ia berbicara selama empat puluh lima menit.

Semua kalimatnya sempurna.

Tidak ada kesalahan tata bahasa.

Tidak ada kontradiksi.

Tidak ada data yang bisa diperiksa.

Tidak ada klaim yang bisa diuji.

Setelah selesai, wartawan bertanya:

"Jadi maksud Bapak apa?"

Pejabat tersenyum.

"Itu akan kami jelaskan kemudian."

"Tapi bukankah itu inti konferensi pers?"

"Inti akan menyusul."

"Kalau begitu yang tadi apa?"

Pejabat berpikir sejenak.

"Lingkarannya."


---

PERKARA BAHASA: KAMUS

Kamus ditangkap pada pukul tiga pagi.

Tuduhannya berat.

Terlalu banyak menyimpan arti.

Pemeriksaan berlangsung berhari-hari.

Petugas menemukan kata-kata mencurigakan:

keadilan,

kesetaraan,

kebebasan,

pertanggungjawaban.

"Apakah semua kata ini legal?"

tanya penyidik.

"Tentu."

"Siapa yang memberi izin?"

"Kenyataan."

Penyidik mencatat jawaban itu.

Lalu bertanya lagi:

"Dan di mana kenyataan sekarang?"

Kamus terdiam.

Karena untuk pertama kalinya dalam sejarahnya,

ia tidak yakin kata itu masih memiliki alamat tetap.

•••

PERKARA BAHASA: PROKLITIK

Proklitik adalah kata kecil yang hidup menempel pada kata lain.

Ia tidak pernah punya rumah sendiri.

Suatu hari, kekuasaan memanggilnya.

"Kami punya pekerjaan."

"Apa?"

"Tempelkan kata 'anti' pada semua yang tidak kami sukai."

Maka lahirlah:

anti-pembangunan,

anti-negara,

anti-kemajuan,

anti-ketertiban.

"Bagus," kata kekuasaan.

"Tapi mereka sebenarnya hanya mengkritik kebijakan."

"Itu bukan urusanku," jawab Proklitik. "Aku hanya menempel."

Beberapa tahun kemudian, Proklitik membaca sejarah.

Ia menemukan bahwa hampir semua orang yang akhirnya terbukti benar

pernah lebih dulu diberi awalan yang salah.


---

PERKARA BAHASA: ALITERASI

Seorang menteri sangat mencintai aliterasi.

Ia percaya pengulangan bunyi lebih penting daripada pengulangan keberhasilan.

Maka lahirlah program:

Gerakan Gemilang Generasi Gemas Gemilang.

Strategi Sinergi Sistemik Sejahtera.

Pusat Produktivitas Progresif Percepatan Pembangunan.

Semua terdengar indah.

Semua mudah dihafal.

Semua cocok dicetak di baliho.

Lalu seorang petani bertanya:

"Programnya apa?"

Menteri menjawab:

"Itu tadi."

Petani menggeleng.

"Itu bunyinya."


---

PERKARA BAHASA: METAFORA PENYAKIT

Ketika demonstrasi membesar, seorang pejabat berkata:

"Ini virus sosial."

Ketika kritik meluas, ia berkata:

"Ini infeksi opini."

Ketika oposisi bertambah, ia berkata:

"Ini wabah ketidakpercayaan."

Metafora Penyakit tersinggung.

"Aku dipakai terlalu jauh."

"Maksudmu?"

"Jika lawan politik dianggap penyakit, maka pengobatan akan menggantikan dialog."

"Tidak ada masalah."

"Itu yang selalu dikatakan orang sebelum mulai mengkarantina manusia."


---

PERKARA BAHASA: ANAK KALIMAT

Anak Kalimat tumbuh di lingkungan birokrasi.

Ia belajar bahwa kalimat utama berbahaya.

Kalimat utama terlalu jelas.

Terlalu mudah dipahami.

Karena itu setiap keputusan dibungkus.

"Dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan serta memperhatikan dinamika..."

"Dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip..."

"Dengan mempertimbangkan hasil kajian yang sedang dikaji kembali..."

Setelah lima halaman,

keputusan akhirnya muncul.

Naik.

Turun.

Setuju.

Tolak.

Rakyat membutuhkan tiga jam membaca

untuk menemukan satu kata kerja.


---

PERKARA BAHASA: DIKSI

Diksi bekerja sebagai penjahit.

Tugasnya memilih pakaian bagi kenyataan.

Ketika kelaparan datang,

orang meminta baju.

Diksi memberi jas.

Ketika penggusuran datang,

orang meminta nama.

Diksi memberi dasi.

Ketika penyiksaan datang,

orang meminta pengakuan.

Diksi memberi parfum.

Kenyataan tetap sama.

Namun kini ia tampak cukup sopan

untuk diundang ke konferensi pers.


---

PERKARA BAHASA: KIASME

Seorang diktator berpidato:

"Kami menguasai negara agar negara tidak menguasai kami."

Rakyat bertepuk tangan.

"Kami membatasi kebebasan demi membebaskan pembatasan."

Rakyat bertepuk tangan.

"Kami melindungi hukum dari rakyat demi melindungi rakyat dari hukum."

Rakyat bertepuk tangan.

Kiasme berdiri dari kursinya.

"Itu sangat indah."

"Terima kasih."

"Sayangnya aku tidak menemukan maknanya."


---

PERKARA BAHASA: FONEM

Fonem adalah makhluk kecil.

Sangat kecil.

Hanya bunyi.

Suatu hari satu fonem hilang dari arsip.

Korupsi berubah menjadi koreksi.

Sensor berubah menjadi sponsor.

Militer berubah menjadi milenial.

Penjara berubah menjadi penjara wisata.

Pemerintah panik.

Mereka baru sadar

bahwa kebohongan besar sering kali hanya membutuhkan

pergeseran bunyi yang sangat kecil.


---

PERKARA BAHASA: AMBIGUITAS

Ambiguitas mendapat penghargaan jasa negara.

Ia berhasil menyelamatkan banyak pejabat.

"Apakah Bapak mendukung tindakan itu?"

"Saya mendukung stabilitas."

"Apakah itu berarti ya?"

"Saya mendukung stabilitas."

"Apakah itu berarti tidak?"

"Saya mendukung stabilitas."

Wartawan menyerah.

Ambiguitas menerima bonus tahunan.

Keunggulannya sederhana:

ia dapat berbicara sepanjang hari

tanpa pernah benar-benar tiba.


---

PERKARA BAHASA: PARAGRAF

Paragraf adalah kawasan permukiman ide.

Suatu hari polisi bahasa melakukan penggerebekan.

Mereka mencari kritik.

Mereka menyisir setiap kalimat.

Mereka memeriksa setiap kata.

Tidak ditemukan apa-apa.

Padahal kritik ada di sana.

Berjalan bebas.

Bernapas.

Tumbuh.

Mereka lupa memeriksa hubungan antar-kalimat.

Karena sering kali pemberontakan tidak tinggal dalam kata.

Ia tinggal dalam susunannya.


---

PERKARA BAHASA: ONOMATOPE

Negara itu sangat menyukai suara.

Tepuk tangan.

Tepuk tangan.

Tepuk tangan.

Setiap pidato disambut:

BRAK!

Setiap peresmian disambut:

DUARR!

Setiap janji disambut:

PROK!

Seorang penyair bertanya:

"Apakah ada isi di balik semua bunyi itu?"

Tidak ada yang mendengar.

Terlalu berisik.


---

PERKARA BAHASA: MAJAS PERSONIFIKASI MENGADU KE KOMNAS HAM

Personifikasi datang sebagai pelapor.

"Ada masalah."

"Apa?"

"Kalian terlalu sering memberiku pekerjaan."

Petugas bingung.

Personifikasi membuka berkas.

Pasar panik.

Negara cemas.

Demokrasi sakit.

Keadilan tersandung.

Kebenaran dibunuh.

"Kau keberatan?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Masalahnya semua itu sudah bukan majas lagi."

Ruangan menjadi sunyi.


---

PERKARA BAHASA: SARKASME

Sarkasme ditangkap karena dianggap tidak sopan.

Di pengadilan ia ditanya:

"Apakah benar kau mengatakan pejabat itu sangat jujur?"

"Benar."

"Padahal kau tahu ia korup?"

"Benar."

"Jadi kau berbohong?"

"Tidak."

"Jadi kau berkata jujur?"

"Tidak juga."

Hakim mulai pusing.

Sarkasme tersenyum.

Karena keahliannya memang membuat kebohongan

terlihat lebih jujur daripada kejujuran resmi.


---

PERKARA BAHASA: KATA GANTI ORANG PERTAMA JAMAK

"Kami memutuskan."

"Kami menetapkan."

"Kami menyimpulkan."

"Kami menghendaki."

Kata ganti "kami" menjadi sangat terkenal.

Ia muncul di semua pidato.

Semua surat keputusan.

Semua konferensi pers.

Suatu hari seorang warga bertanya:

"Siapa kami?"

Jawaban tidak pernah datang.

Karena jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur,

kata yang tersisa mungkin bukan "kami",

melainkan "kami bertiga."


---

PERKARA BAHASA: TAFSIR RESMI

Tafsir Resmi membuka kantor baru.

Jam kerjanya panjang.

Tugasnya sederhana:

mengatakan apa yang sebenarnya dimaksud oleh sesuatu.

Undang-undang tidak boleh menjelaskan dirinya sendiri.

Pidato tidak boleh menjelaskan dirinya sendiri.

Data tidak boleh menjelaskan dirinya sendiri.

Semuanya harus melewati Tafsir Resmi.

Suatu hari seorang anak datang membawa kalimat:

"Semua warga setara di hadapan hukum."

"Apa maksudnya?" tanya anak itu.

Tafsir Resmi membuka buku tebal.

Membuka lampiran.

Membuka catatan kaki.

Membuka pengecualian.

Membuka addendum.

Membuka surat edaran.

Membuka surat klarifikasi.

Setelah empat jam, anak itu bertanya lagi:

"Jadi maksudnya apa?"

Tafsir Resmi menjawab:

"Itu tergantung siapa yang bertanya."


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT TERAKHIR

Suatu rezim memutuskan untuk mengawasi seluruh bahasa.

Setiap kata diperiksa.

Setiap buku diperiksa.

Setiap puisi diperiksa.

Setiap lelucon diperiksa.

Mereka yakin akhirnya akan menguasai pikiran manusia.

Lalu seorang tua menulis satu kalimat di tembok kota:

"Semua orang tahu."

Tidak ada nama.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada data.

Tidak ada sasaran yang jelas.

Namun pagi itu seluruh aparat bergerak.

Karena mereka tahu.

Dan karena mereka tahu bahwa semua orang tahu.

Kalimat itu segera dihapus.

Tetapi masalahnya bukan tulisan di tembok.

Masalahnya adalah kalimat itu ternyata sudah lebih dulu ditulis

di dalam kepala banyak orang.

•••

PERKARA BAHASA: KONJUNGSI

Konjungsi adalah pegawai penghubung.

Ia menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, alasan dengan akibat.

Suatu hari ia direkrut oleh seorang pejabat.

Tugasnya sederhana:

menghubungkan hal-hal yang tidak berhubungan.

"Kami menaikkan pajak karena cinta tanah air."

"Kami memperpanjang masa jabatan karena stabilitas."

"Kami membatasi kritik karena demokrasi."

Konjungsi membaca naskah itu.

"Maaf, hubungan logisnya di mana?"

Pejabat tersenyum.

"Itu urusanmu."

Sejak hari itu Konjungsi bekerja lembur.

Bukan menghubungkan pikiran.

Melainkan menjembatani jurang.


---

PERKARA BAHASA: ETIMOLOGI KORUPSI

Etimologi sedang menelusuri sejarah kata "korupsi."

Ia menemukan bahwa kata itu berasal dari gagasan tentang pembusukan.

Kerusakan.

Peluruhan.

Kemerosotan.

Namun ketika ia tiba di abad modern, ia menemukan sesuatu yang aneh.

Orang-orang tidak lagi membenci pembusukan.

Mereka mengelolanya.

Menganggarkannya.

Menjadwalkannya.

Menginstitusikannya.

Korupsi bukan lagi bangkai dalam sistem.

Ia telah menjadi salah satu organnya.

Etimologi menutup arsip.

Kadang-kadang sejarah kata lebih jujur daripada sejarah negara.


---

PERKARA BAHASA: ANTONOMASIA

Antonomasia adalah kebiasaan mengganti nama dengan gelar.

Awalnya tidak berbahaya.

Penyair menyebut seorang pahlawan sebagai "Sang Penakluk."

Seorang filsuf disebut "Bapak Logika."

Lalu kekuasaan ikut bermain.

Presiden menjadi Sang Penyelamat.

Menteri menjadi Arsitek Peradaban.

Gubernur menjadi Putra Rakyat.

Setelah beberapa tahun, tidak ada yang lagi mengingat nama mereka.

Hanya gelarnya.

Dan karena gelar lebih besar daripada manusia,

kesalahan-kesalahan mereka ikut mengecil.


---

PERKARA BAHASA: ELIPSIS DALAM LAPORAN HAM

Laporan itu tebal.

Ratusan halaman.

Ribuan catatan.

Puluhan saksi.

Namun ada beberapa bagian yang hanya berisi titik-titik.

...

...

...

Seorang mahasiswa bertanya:

"Apa yang hilang?"

Penyusun laporan menjawab:

"Nama."

"Nama siapa?"

"Terlalu berbahaya untuk ditulis."

"Kalau begitu bagaimana sejarah akan mengingatnya?"

Penyusun laporan terdiam.

Karena terkadang elipsis bukan tanda bahwa sesuatu tidak diketahui.

Melainkan tanda bahwa sesuatu diketahui terlalu jelas.


---

PERKARA BAHASA: OMONIM

Di negeri itu ada dua kata yang bunyinya sama.

"Sidang."

Yang pertama berarti pencarian keadilan.

Yang kedua berarti pengaturan hasil sebelum keadilan datang.

Masyarakat sering bingung.

Karena keduanya menggunakan ruangan yang sama.

Jubah yang sama.

Palu yang sama.

Berita yang sama.

Perbedaannya hanya satu:

yang pertama membutuhkan hukum.

Yang kedua membutuhkan telepon.


---

PERKARA BAHASA: KATA KERJA

Kata Kerja sedang menganggur.

Ia duduk di taman bersama beberapa kata benda.

"Kenapa murung?" tanya mereka.

"Aku jarang dipakai."

"Bagaimana bisa?"

"Semua orang sekarang lebih suka kata benda."

Pembangunan.

Kemajuan.

Transformasi.

Inovasi.

Stabilitas.

Keunggulan.

Visi.

Misi.

"Memangnya apa masalahnya?"

"Kata benda tidak perlu dilakukan."

Malam itu Kata Kerja pulang dengan sedih.

Ia sadar bahwa banyak negara lebih menyukai slogan daripada tindakan.


---

PERKARA BAHASA: PERTANYAAN RETORIS

Pertanyaan Retoris menjadi tersangka.

Ia dituduh menghasut publik.

Barang buktinya sederhana.

"Kalau rakyat sejahtera, mengapa dapur mereka kosong?"

"Kalau hukum netral, mengapa hanya lawan politik yang dipenjara?"

"Kalau semuanya baik-baik saja, mengapa kalian marah saat ditanya?"

Hakim membaca berkas.

"Apakah pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban?"

"Tidak."

"Lalu mengapa berbahaya?"

Jaksa menjawab:

"Karena semua orang sudah mengetahui jawabannya."


---

PERKARA BAHASA: NOMINALISASI

Nominalisasi adalah mesin sulap birokrasi.

Ia dapat mengubah tindakan menjadi benda.

Membunuh menjadi penembakan.

Menyiksa menjadi penanganan.

Menggusur menjadi relokasi.

Mencuri menjadi penyimpangan.

"Hebat," kata pejabat.

"Kenapa?"

"Karena setelah menjadi benda, tidak ada lagi pelaku."

Nominalisasi tersenyum pahit.

Ia memang ahli tata bahasa.

Namun ia tidak pernah menyangka akan dipakai untuk menghilangkan manusia dari kejahatan.


---

PERKARA BAHASA: PARADIGMA

Paradigma membuka sekolah.

Pelajarannya sederhana:

cara melihat dunia.

Murid pertama belajar bahwa rakyat ada untuk negara.

Murid kedua belajar bahwa negara ada untuk rakyat.

Mereka membaca koran yang sama.

Mereka melihat fakta yang sama.

Mereka hidup di jalan yang sama.

Namun mereka tiba pada kesimpulan yang berlawanan.

Paradigma menutup kelas hari itu dengan satu kalimat:

"Fakta sering kali tidak bertengkar satu sama lain.

Yang bertengkar adalah bingkainya."


---

PERKARA BAHASA: AKSARA KECIL

Aksara kecil tinggal di catatan kaki.

Ia tidak pernah muncul di judul.

Tidak pernah tampil di baliho.

Tidak pernah masuk pidato.

Namun suatu hari seorang peneliti membacanya.

Di sanalah tersembunyi syarat-syarat.

Pengecualian.

Batasan.

Kontrak.

Klausul.

Segala sesuatu yang tidak ingin dibaca orang.

Peneliti itu lalu berkata:

"Seluruh kebijakan ini sebenarnya berbeda dari yang diumumkan."

Pemerintah marah.

Mereka tidak menyalahkan isi dokumen.

Mereka menyalahkan orang yang membaca huruf kecil.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT SERU

Tanda Seru menjadi juru bicara negara.

Setiap hari ia berbicara:

"Berhasil!"

"Maju!"

"Hebat!"

"Sejarah!"

"Prestasi!"

Warga bertanya:

"Bagaimana datanya?"

Tanda Seru menjawab:

"Hebat!"

"Bagaimana laporannya?"

"Prestasi!"

"Bagaimana auditnya?"

"Sejarah!"

Akhirnya seorang ahli bahasa memberi diagnosis.

Tanda Seru tidak berbohong.

Ia hanya kehilangan kemampuan untuk menjelaskan.


---

PERKARA BAHASA: DENOTASI

Denotasi adalah makhluk sederhana.

Ia menyukai arti harfiah.

Jika seseorang mengatakan "lapar," maka itu berarti lapar.

Jika seseorang mengatakan "dipukul," maka itu berarti dipukul.

Jika seseorang mengatakan "mencuri," maka itu berarti mencuri.

Karena itulah Denotasi tidak pernah disukai konferensi pers.

Terlalu lugas.

Terlalu terang.

Terlalu sedikit ruang untuk manuver.

Suatu hari Denotasi dilarang masuk ke gedung pemerintahan.

Alasannya resmi:

mengganggu fleksibilitas komunikasi.


---

PERKARA BAHASA: KATA DEPAN

Kata Depan mendapat promosi besar.

Ia kini mengatur arah politik.

Demi rakyat.

Untuk rakyat.

Bersama rakyat.

Atas nama rakyat.

Rakyat memperhatikan semua itu.

Lalu bertanya:

"Kenapa selalu ada kami setelah kata depan?"

"Karena kalian penting."

"Kalau begitu kenapa tidak pernah ada kami sebelum kata kerja?"

Ruangan menjadi sunyi.

Karena pertanyaan itu ternyata mengandung lebih banyak tata bahasa daripada politik.


---

PERKARA BAHASA: HIPOKORISTIK

Hipokoristik adalah seni membuat sesuatu terdengar akrab.

Koruptor dipanggil "om."

Makelar dipanggil "abang."

Bos besar dipanggil "pak tua."

Pengusaha hitam dipanggil "koh."

Semua terdengar hangat.

Kekeluargaan.

Bersahabat.

Dekat.

Sampai suatu hari seorang penyidik bertanya:

"Kenapa kalian tidak pernah menyebut mereka penjahat?"

Orang-orang saling berpandangan.

Karena bahasa kadang-kadang bukan sekadar alat menyebut sesuatu.

Ia juga alat untuk memaafkannya.


---

PERKARA BAHASA: TATA BAHASA TERAKHIR

Ketika rezim itu runtuh, para sejarawan mulai menyusun arsip.

Mereka mengumpulkan pidato.

Dokumen.

Peraturan.

Konferensi pers.

Semuanya dibaca ulang.

Dan mereka menemukan pola yang aneh.

Semakin besar kebohongan,

semakin panjang kalimatnya.

Semakin berat kejahatan,

semakin abstrak istilahnya.

Semakin besar ketakutan,

semakin sering kata "stabilitas" muncul.

Akhirnya salah seorang sejarawan berkata:

"Mungkin kita tidak perlu mencari rahasia rezim ini dalam arsip intelijen."

"Di mana lagi?"

"Dalam tata bahasanya."

Karena setiap kekuasaan, cepat atau lambat,

akan meninggalkan sidik jari

pada cara ia berbicara.

•••

PERKARA BAHASA: KATA SIFAT

Kata Sifat dipanggil ke istana.

"Tolong bantu kami."

"Apa masalahnya?"

"Kenyataan terlalu buruk."

"Dan?"

"Kami ingin memperbaikinya."

Kata Sifat tersenyum.

"Itu pekerjaan insinyur, ekonom, dan pembuat kebijakan."

"Bukan. Kami ingin memperbaiki cara orang melihatnya."

Maka kemiskinan menjadi sementara.

Kegagalan menjadi teknis.

Kemarahan menjadi sporadis.

Krisis menjadi dinamis.

Penindasan menjadi adaptif.

"Bagaimana hasilnya?" tanya penguasa.

"Kenyataannya tetap sama."

"Bagus."

"Bagus?"

"Ya. Yang penting sifatnya berubah."


---

PERKARA BAHASA: KATA BAKU

Kata Baku hidup tenang di dalam kamus.

Suatu hari ia dipanggil menjadi saksi ahli.

Kasusnya besar.

Seorang pejabat dituduh berbohong.

Pejabat itu membela diri:

"Saya tidak berbohong."

"Lalu?"

"Saya hanya menyampaikan narasi alternatif."

Kata Baku membuka kamus.

Ia mencari.

Tidak ada.

Ia membuka kamus lain.

Tidak ada.

Akhirnya ia bertanya:

"Narasi alternatif itu apa?"

Pejabat tersenyum.

"Versi yang tetap dapat dipertahankan setelah fakta meninggalkannya."


---

PERKARA BAHASA: MAJAS APOSTROF

Apostrof adalah majas yang berbicara kepada sesuatu yang tidak hadir.

Biasanya kepada laut.

Langit.

Maut.

Atau sejarah.

Namun pada suatu masa, rakyat mulai berbicara kepada keadilan.

"Wahai Keadilan, di mana engkau?"

Tidak ada jawaban.

Mereka berbicara lagi.

"Wahai Keadilan, apakah engkau masih hidup?"

Tidak ada jawaban.

Mereka berbicara sekali lagi.

"Wahai Keadilan, apakah alamatmu berubah?"

Masih tidak ada jawaban.

Akhirnya seseorang berkata:

"Mungkin ini bukan lagi majas."

"Maksudmu?"

"Mungkin kita benar-benar kehilangan dia."


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT TUNGGAL

Kalimat Tunggal dilarang memasuki gedung pemerintahan.

Alasannya resmi:

terlalu sederhana.

Terlalu mudah dipahami.

Terlalu berbahaya.

Contoh-contohnya adalah:

"Kami salah."

"Kami gagal."

"Kami mencuri."

"Kami menipu."

Kalimat-kalimat seperti itu dianggap tidak produktif.

Sebagai gantinya, pemerintah menggunakan kalimat majemuk bertingkat dengan berbagai pertimbangan strategis yang mempertimbangkan dinamika kompleks situasi yang berkembang.

Rakyat membaca.

Kemudian bertanya:

"Jadi siapa yang salah?"

Tidak ada yang tahu.

Kalimatnya terlalu panjang untuk menemukan pelaku.


---

PERKARA BAHASA: KATA HUBUNG SEBAB

Kata "karena" mengajukan pengunduran diri.

Ia merasa disalahgunakan.

Setiap hari ia mendengar hal-hal aneh.

"Kami menang karena rakyat mendukung."

"Kami kalah karena provokasi."

"Kami berhasil karena kepemimpinan."

"Kami gagal karena keadaan."

Karena memperhatikan pola itu, ia mulai curiga.

Ketika hasilnya baik, penyebabnya selalu pemimpin.

Ketika hasilnya buruk, penyebabnya selalu cuaca.

Maka "karena" menulis surat terbuka:

Aku diciptakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat.

Bukan untuk memindahkan tanggung jawab.


---

PERKARA BAHASA: PREDIKAT

Predikat hidup bersama Subjek selama bertahun-tahun.

Mereka pasangan yang serasi.

Suatu hari Subjek menghilang dari berita.

Predikat panik.

"Bagaimana aku bisa bekerja?"

"Kau bisa sendiri."

"Tidak bisa."

"Dalam berita modern bisa."

Lalu muncullah kalimat-kalimat baru:

Telah diputuskan.

Telah disetujui.

Telah dilakukan.

Telah diamankan.

Predikat bekerja sendirian.

Namun setiap malam ia menangis.

Karena tindakan tanpa pelaku

adalah kesepian paling birokratis yang pernah ada.


---

PERKARA BAHASA: RETORIKA ANGKA

Angka dipanggil ke konferensi pers.

Mereka datang dengan sopan.

Satu per satu.

Persentase.

Indeks.

Grafik.

Diagram.

Pejabat berkata:

"Lihatlah angka-angka ini."

Semua orang melihat.

Lalu seorang wartawan bertanya:

"Angka yang mana?"

"Yang ini."

"Itu naik."

"Benar."

"Yang itu turun."

"Benar."

"Yang ini stagnan."

"Benar."

"Jadi kesimpulannya?"

Pejabat tersenyum.

"Kesimpulan sudah kami siapkan sebelum angka datang."


---

PERKARA BAHASA: PARADOKS

Paradoks datang ke kantor pemerintahan untuk mengurus izin tinggal.

Petugas membaca formulirnya.

"Pekerjaan?"

"Menunjukkan kontradiksi."

Petugas mengangguk.

"Lalu mengapa Anda tinggal di sini?"

"Karena saya dibutuhkan."

"Sebesar apa?"

Paradoks membuka koran.

Ada berita tentang pembungkaman demi kebebasan.

Pengawasan demi privasi.

Perang demi perdamaian.

Kemiskinan demi pertumbuhan.

Petugas menandatangani izin tinggal lima puluh tahun.


---

PERKARA BAHASA: DIALEK

Dialek datang dari daerah.

Logatnya berbeda.

Katanya tidak sama.

Caranya bicara tidak sama.

Orang kota tertawa.

Orang televisi tertawa.

Orang pusat kekuasaan tertawa.

Dialek diam.

Ia sudah terbiasa.

Lalu pemilu datang.

Tiba-tiba semua politisi belajar berbicara seperti dirinya.

Belajar logatnya.

Belajar sapaan daerahnya.

Belajar aksennya.

Dialek tersenyum.

Ia akhirnya memahami sesuatu:

Mereka tidak pernah menghormati bahasanya.

Mereka hanya sedang berburu suaranya.


---

PERKARA BAHASA: MAJAS LITOTES

Litotes adalah majas kerendahan hati.

Suatu hari ia diculik oleh para pejabat.

Mereka memaksanya bekerja.

"Saya hanya pelayan rakyat."

kata seseorang yang memiliki tiga rumah mewah.

"Saya hanya orang sederhana."

kata seseorang yang dikawal puluhan kendaraan.

"Saya hanya menjalankan amanah."

kata seseorang yang baru saja memenangkan tender untuk sepupunya.

Litotes melapor ke polisi bahasa.

"Aku diperdagangkan."

"Bagaimana maksudmu?"

"Mereka mengubah kerendahan hati menjadi kamuflase."


---

PERKARA BAHASA: TANDA TITIK

Tanda Titik adalah musuh alami kekuasaan.

Ia mengakhiri kalimat.

Menutup alasan.

Menghentikan penjelasan.

Membatasi omong kosong.

Karena itu banyak pidato tidak menyukainya.

Mereka lebih suka koma.

Lebih suka anak kalimat.

Lebih suka klarifikasi.

Lebih suka penjelasan tambahan.

Lebih suka lampiran.

Lebih suka adendum.

Lebih suka revisi.

Lebih suka interpretasi.

Titik berdiri sendirian.

Kecil.

Hitam.

Hampir tak terlihat.

Namun ia tahu sesuatu yang ditakuti semua pembohong:

Pada akhirnya, setiap kalimat harus selesai.


---

PERKARA BAHASA: KATA "MUNGKIN"

Kata "mungkin" sangat dicintai para pejabat.

Mungkin ada kesalahan prosedur.

Mungkin terjadi miskomunikasi.

Mungkin ada pihak lain yang terlibat.

Mungkin data belum lengkap.

Mungkin publik salah paham.

Mungkin media kurang akurat.

Mungkin sistem sedang diperbaiki.

Mungkin.

Mungkin.

Mungkin.

Suatu hari "mungkin" memberontak.

"Aku lelah."

"Kenapa?"

"Aku diciptakan untuk ketidakpastian yang jujur."

"Bukankah itu yang kau lakukan?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku sedang dipaksa menyembunyikan kepastian yang memalukan."


---

PERKARA BAHASA: KESALAHAN KETIK

Sebuah laporan rahasia bocor karena kesalahan ketik.

Hanya satu huruf.

Satu huruf saja.

Cukup untuk mengubah:

"Program stabilisasi"

menjadi

"Program stigmatisasi."

Pemerintah panik.

Tim IT dipanggil.

Ahli keamanan dipanggil.

Pakar forensik dipanggil.

Mereka mencari pelaku.

Namun Kesalahan Ketik sudah menghilang.

Meninggalkan satu pesan di layar komputer:

"Aku tidak menciptakan kebenaran. Aku hanya tersandung padanya."

•••

PERKARA BAHASA: PARAGRAF YANG HILANG

Seorang sejarawan menemukan dokumen negara yang sangat tua.

Halaman pertama utuh.

Halaman kedua utuh.

Halaman ketiga utuh.

Namun tepat di tengah dokumen terdapat satu paragraf yang hilang.

Bukan dicoret.

Bukan rusak.

Bukan terbakar.

Hilang dengan sangat rapi.

Seolah-olah seseorang pernah datang membawa gunting yang sangat sabar.

Isi dokumen sebelum paragraf itu:

"Keadaan berjalan normal."

Isi sesudahnya:

"Oleh karena itu diperlukan tindakan luar biasa."

Sejarawan itu bingung.

Apa yang terjadi di antara keduanya?

Mengapa keadaan normal tiba-tiba membutuhkan tindakan luar biasa?

Ia mencari selama bertahun-tahun.

Arsip demi arsip.

Perpustakaan demi perpustakaan.

Sampai akhirnya ia memahami sesuatu.

Paragraf yang hilang itu bukan kekosongan.

Paragraf itu adalah seluruh cerita.


---

PERKARA BAHASA: ADJEKTIVA DALAM PASAR SENI

Adjektiva membuka galeri.

Di sana dipamerkan berbagai kata sifat.

Progresif.

Visioner.

Transformatif.

Inklusif.

Berkelanjutan.

Semua tampak indah.

Semua tampak mahal.

Seorang pengunjung bertanya:

"Di mana bendanya?"

"Apa?"

"Yang progresif itu apa?"

"Program."

"Program apa?"

"Itu tidak dipamerkan."

"Yang visioner itu?"

"Pidato."

"Pidatonya mana?"

"Tidak tersedia."

Pengunjung itu mengangguk.

Ia baru sadar bahwa beberapa kata sifat hidup seperti bangsawan.

Mereka memiliki gelar panjang,

tetapi tidak jelas pekerjaannya.


---

PERKARA BAHASA: PERIBAHASA

Pemerintah membentuk Kementerian Peribahasa.

Tugasnya mengelola kebijaksanaan rakyat.

Awalnya terdengar baik.

Lalu kementerian mulai merevisi beberapa peribahasa.

"Berani karena benar"

diubah menjadi

"Berani setelah mendapat izin."

"Air beriak tanda tak dalam"

diubah menjadi

"Air tenang tanda setuju."

"Sepandai-pandai tupai melompat"

diubah menjadi

"Selama memiliki koneksi yang tepat."

Masyarakat protes.

Kementerian menjawab:

"Kami hanya melakukan pembaruan budaya."

Malam itu semua peribahasa lama kabur ke mulut para nenek.


---

PERKARA BAHASA: FUTURISME

Futurisme hidup di tahun depan.

Ia tidak pernah tinggal di masa kini.

Setiap kali ada masalah, ia muncul.

"Kapan jalan ini diperbaiki?"

"Tahun depan."

"Kapan kasus itu diselesaikan?"

"Tahun depan."

"Kapan janji itu dipenuhi?"

"Tahun depan."

Lama-kelamaan Tahun Depan menjadi kota yang sangat padat.

Di sana tinggal ribuan proyek.

Ribuan penyelesaian.

Ribuan harapan.

Tak satu pun pernah lahir.

Karena setiap kali tahun depan tiba,

ia berubah nama menjadi tahun ini,

dan segera ditinggalkan.


---

PERKARA BAHASA: TATA KRAMA

Tata Krama dipanggil ke sebuah debat publik.

Di sana ia melihat sesuatu yang aneh.

Seorang pembicara berbicara sangat sopan.

Sangat santun.

Sangat terukur.

Sangat hormat.

Isi perkataannya:

fitnah.

Kebencian.

Manipulasi.

Ancaman.

Pembicara lain berbicara kasar.

Terbata-bata.

Kurang elegan.

Kurang terpelajar.

Isi perkataannya:

fakta.

Data.

Bukti.

Kesaksian.

Tata Krama pulang dengan sakit kepala.

Ia baru sadar bahwa kesopanan dan kebenaran ternyata tetangga yang berbeda rumah.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT SYARAT

Negara itu mencintai kalimat syarat.

Segala sesuatu diberi syarat.

Anda bebas berbicara jika tidak mengganggu.

Anda bebas berkumpul jika tidak mengganggu.

Anda bebas berpendapat jika tidak mengganggu.

Anda bebas mengkritik jika tidak mengganggu.

Seorang mahasiswa bertanya:

"Mengganggu siapa?"

Tidak ada jawaban.

Karena seluruh sistem bergantung pada ketidakjelasan kata itu.


---

PERKARA BAHASA: SUKU KATA

Suku Kata hidup damai.

Mereka kecil.

Mereka sederhana.

Suatu hari mereka dipanggil untuk membuat slogan.

Tiga suku kata untuk perang.

Dua suku kata untuk sensor.

Empat suku kata untuk penggusuran.

Semuanya harus pendek.

Mudah diingat.

Mudah diteriakkan.

Seorang suku kata tua mengeluh:

"Kenapa semua kebijakan buruk selalu ingin disingkat?"

Yang lain menjawab:

"Karena semakin pendek bunyinya, semakin sulit melihat panjang akibatnya."


---

PERKARA BAHASA: MAJAS PARABEL

Parabel sedang bercerita tentang seekor serigala.

Para pejabat gelisah.

"Apakah serigala itu kami?"

"Bukan."

Parabel melanjutkan cerita.

Tentang kawanan domba.

Para pejabat semakin gelisah.

"Apakah domba itu rakyat?"

"Bukan."

Parabel melanjutkan cerita lagi.

Tentang pagar.

Tentang kandang.

Tentang penjaga.

Tentang musim dingin.

Ketika cerita selesai, seorang pejabat berdiri.

"Saudara sedang menyindir pemerintah."

Parabel tersenyum.

"Aneh sekali."

"Apa yang aneh?"

"Saya tidak pernah menyebut pemerintah."


---

PERKARA BAHASA: KUTIPAN

Kutipan hidup dari apa yang pernah dikatakan orang.

Suatu hari ia dipanggil ke televisi.

Produser berkata:

"Kami hanya membutuhkan tiga kata."

"Tiga kata dari pidato dua jam?"

"Benar."

"Tapi itu mengubah makna."

"Itulah gunanya."

Malam itu jutaan orang marah kepada seseorang.

Bukan karena apa yang ia katakan.

Melainkan karena apa yang dipotong.

Kutipan pulang dengan rasa bersalah.

Ia merasa baru saja menyaksikan amputasi terhadap sebuah pikiran.


---

PERKARA BAHASA: HURUF KAPITAL

Huruf Kapital sangat ambisius.

Ia suka tampil besar.

Suatu hari ia menguasai seluruh surat kabar.

SEMUA JUDUL MENJADI SEPERTI INI.

SEMUA PERNYATAAN MENJADI SEPERTI INI.

SEMUA PERINGATAN MENJADI SEPERTI INI.

Awalnya orang terkejut.

Kemudian lelah.

Lalu kebal.

Huruf Kapital menangis.

"Kenapa tidak ada yang mendengarkan lagi?"

Seorang huruf kecil menjawab:

"Karena jika semua orang berteriak, tidak ada lagi yang terdengar penting."


---

PERKARA BAHASA: TERJEMAHAN

Terjemahan bekerja di perbatasan.

Ia menerjemahkan bahasa satu ke bahasa lain.

Suatu hari ia menerima tugas baru:

menerjemahkan penderitaan menjadi statistik.

Menerjemahkan pengungsian menjadi laporan.

Menerjemahkan kematian menjadi angka.

Menerjemahkan trauma menjadi indikator.

Terjemahan mencoba bekerja.

Namun selalu gagal.

Karena beberapa hal memang bisa dihitung,

tetapi tidak bisa sepenuhnya diterjemahkan.


---

PERKARA BAHASA: KATA KUNCI

Sebuah rezim membangun mesin pencari sendiri.

Mesin itu hanya mengenal kata kunci.

Stabilitas.

Kemajuan.

Pertumbuhan.

Keamanan.

Kemakmuran.

Setiap pertanyaan yang tidak mengandung kata-kata itu dianggap mencurigakan.

Suatu hari seorang anak mengetik:

"Mengapa?"

Mesin itu berhenti bekerja.

Teknisi dipanggil.

Insinyur dipanggil.

Menteri dipanggil.

Tidak ada yang bisa memperbaikinya.

Karena mereka telah membangun sistem yang mampu menjawab segalanya,

kecuali pertanyaan.


---

PERKARA BAHASA: DONGENG

Dongeng dituduh menyebarkan kebohongan.

"Anda berbicara tentang naga."

"Benar."

"Tentang raksasa."

"Benar."

"Tentang kerajaan jahat."

"Benar."

Jaksa tersenyum.

"Jadi Anda mengakui semuanya fiktif?"

Dongeng mengangguk.

"Tentu."

"Kalau begitu mengapa orang-orang berkuasa selalu merasa tersinggung saat membacanya?"

Untuk pertama kalinya ruang sidang menjadi sunyi.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT PENUTUP

Kalimat Penutup bekerja di banyak pidato.

Biasanya tugasnya sederhana:

mengakhiri.

Suatu hari ia diminta menutup sebuah laporan tentang kejahatan kemanusiaan.

Ia membaca seluruh isinya.

Nama korban.

Nama pelaku.

Kesaksian.

Foto.

Kuburan.

Tangisan.

Setelah selesai, ia diminta menulis satu kalimat.

Ia berpikir lama.

Sangat lama.

Lalu menulis:

"Bahasa telah selesai bekerja; sekarang giliran ingatan."

Tidak ada yang berani merevisinya.

•••

PERKARA BAHASA: FOOTNOTE

Footnote hidup di bagian bawah halaman.

Ia terbiasa tidak diperhatikan.

Orang-orang membaca judul.

Membaca slogan.

Membaca kesimpulan.

Lalu menutup buku.

Tak banyak yang turun sejauh dirinya.

Suatu hari sebuah laporan pembangunan nasional diterbitkan.

Sampulnya megah.

Grafiknya menanjak.

Pidatonya optimistis.

Berita-berita memuji.

Para pejabat saling memberi selamat.

Footnote membaca semuanya dengan tenang.

Lalu ia menunjuk catatan kecil nomor 47.

Hurufnya sangat kecil.

Nyaris tak terlihat.

Isinya:

"Data tidak mencakup wilayah yang mengalami konflik, pengungsian, bencana, serta daerah yang tidak berhasil dijangkau tim survei."

Footnote tersenyum pahit.

Karena wilayah-wilayah itulah yang paling membutuhkan penghitungan.

Namun justru merekalah yang hilang dari statistik.

Malam itu seorang mahasiswa membaca catatan kecil tersebut.

Keesokan harinya ia bertanya dalam seminar:

"Jika orang-orang yang paling menderita tidak masuk ke dalam data, lalu data ini sebenarnya sedang menghitung siapa?"

Ruangan menjadi sunyi.

Bukan karena pertanyaannya sulit.

Melainkan karena jawabannya terlalu mudah.


---

PERKARA BAHASA: TANDA KURUNG

Tanda Kurung memiliki pekerjaan yang aneh.

Ia bertugas menampung hal-hal yang dianggap tidak terlalu penting.

Keterangan tambahan.

Penjelasan kecil.

Catatan pinggir.

Namun suatu hari ia menemukan sesuatu.

Dalam sebuah buku sejarah resmi tertulis:

"Keadaan berlangsung tertib dan terkendali."

Lalu di dalam kurung terdapat kalimat:

(Menurut laporan militer.)

Di halaman lain tertulis:

"Masyarakat menerima kebijakan tersebut dengan baik."

Lalu di dalam kurung:

(Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga pemerintah.)

Lalu lagi:

"Operasi berjalan sukses."

Di dalam kurung:

(Korban sipil tidak dihitung.)

Tanda Kurung mulai gelisah.

Semakin banyak ia membaca,

semakin besar bagian yang berada di dalam dirinya.

Akhirnya ia menyadari sesuatu.

Buku itu sebenarnya terbalik.

Yang utama berada di dalam kurung.

Yang di luar hanya dekorasi.


---

PERKARA BAHASA: ANAK TANGGA SEMANTIK

Pada awalnya seorang pejabat hanya berbohong sedikit.

Sangat sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Ia berkata:

"Data belum lengkap."

Padahal datanya sudah lengkap.

Beberapa bulan kemudian ia berkata:

"Data masih diverifikasi."

Padahal sudah diverifikasi.

Setahun kemudian ia berkata:

"Belum ada bukti."

Padahal bukti sudah menumpuk.

Lima tahun kemudian ia berkata:

"Tidak pernah terjadi."

Padahal semua orang mengingatnya.

Seorang ahli bahasa yang memperhatikan berkata:

"Ini menarik."

"Apa?"

"Setiap kebohongan ternyata membutuhkan kebohongan berikutnya."

"Kenapa?"

"Karena bahasa seperti tangga."

Sekali seseorang naik ke anak tangga pertama,

ia harus terus memanjat agar tidak jatuh.

Dan semakin tinggi ia naik,

semakin mematikan kebenaran di bawahnya.


---

PERKARA BAHASA: DICTIONARY OF ACCEPTABLE WORDS

Di sebuah negara yang sangat modern, pemerintah menerbitkan kamus baru.

Namanya:

Kamus Kata-Kata yang Dapat Diterima.

Buku itu sangat tipis.

Di dalamnya terdapat kata-kata seperti:

produktif,

positif,

optimistis,

stabil,

aman,

tertib.

Sementara kata-kata lain tidak dimasukkan.

Ketimpangan.

Penyiksaan.

Korupsi.

Diskriminasi.

Kelaparan.

Penghilangan.

Seorang guru bertanya:

"Kalau kata-kata itu tidak ada, bagaimana murid-murid akan membicarakan masalahnya?"

Pejabat menjawab:

"Mereka tidak akan membicarakannya."

"Itu bukan solusi."

"Bukan."

"Lalu apa?"

"Kebijakan bahasa."

Guru itu pulang dengan murung.

Karena ia tahu:

hal pertama yang dibunuh oleh tirani bukan manusia.

Melainkan kosakata.


---

PERKARA BAHASA: MAJAS EUFONI

Eufoni adalah seni bunyi yang indah.

Ia membuat kata-kata mengalir lembut seperti sungai.

Karena itu ia sangat disukai propaganda.

Setiap tindakan keras diberi nama yang merdu.

Program Pemulihan.

Operasi Penertiban.

Inisiatif Harmoni.

Gerakan Rekonsiliasi.

Semua terdengar seperti festival bunga.

Tak satu pun terdengar seperti kendaraan lapis baja.

Suatu hari Eufoni pergi ke lapangan.

Ia ingin melihat hasil pekerjaannya.

Di sana ia menemukan rumah-rumah yang rata dengan tanah.

Orang-orang yang kehilangan keluarga.

Anak-anak yang kehilangan sekolah.

Eufoni pulang dan menangis.

Karena untuk pertama kalinya ia mendengar kenyataan

berbicara tanpa bantuan bunyi yang indah.


---

PERKARA BAHASA: PRONOMINA

Pronomina bekerja di kantor pemerintahan.

Tugasnya mengganti orang.

Aku.

Kamu.

Mereka.

Kami.

Kita.

Awalnya pekerjaan itu sederhana.

Sampai suatu hari ia menemukan pola aneh.

Ketika keberhasilan diumumkan, selalu muncul kata:

"Kami."

Ketika kegagalan dibahas, selalu muncul kata:

"Mereka."

"Kami berhasil."

"Mereka menghambat."

"Kami membangun."

"Mereka merusak."

"Kami berkorban."

"Mereka tidak memahami."

Pronomina menghitung selama bertahun-tahun.

Hasilnya konsisten.

Keberhasilan selalu memiliki pemilik.

Kegagalan selalu yatim piatu.


---

PERKARA BAHASA: METAFORA KEBUN

Seorang diktator tua sangat menyukai metafora.

Suatu hari ia berkata:

"Negara adalah kebun."

Orang-orang mengangguk.

"Rakyat adalah tanaman."

Orang-orang masih mengangguk.

"Kami adalah tukang kebun."

Orang-orang mulai gelisah.

"Dan gulma harus dicabut."

Ruangan menjadi hening.

Karena semua orang tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Metafora Kebun berdiri dan memprotes.

"Itu bukan maksudku."

"Apa?"

"Aku diciptakan untuk membantu manusia memahami dunia."

"Bukankah itu yang sedang terjadi?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku berubah menjadi izin."


---

PERKARA BAHASA: ANTOLOGI PIDATO

Setelah rezim runtuh, para peneliti mengumpulkan semua pidatonya.

Mereka menyusun antologi besar.

Ribuan halaman.

Puluhan tahun.

Ratusan janji.

Kemudian mereka melakukan eksperimen sederhana.

Mereka menghapus semua kata sifat.

Semua kata keterangan.

Semua pujian terhadap diri sendiri.

Semua metafora heroik.

Semua slogan.

Yang tersisa hanya fakta.

Buku itu menyusut menjadi dua puluh halaman.


---

PERKARA BAHASA: SUARA PASIF

Suara Pasif suatu hari bertemu dengan Suara Aktif.

Aktif berkata:

"Aku sedang sibuk."

"Kenapa?"

"Banyak pekerjaan."

"Membunuh?"

"Ya."

"Menyiksa?"

"Ya."

"Mencuri?"

"Ya."

"Menghilangkan orang?"

"Ya."

Pasif terkejut.

"Aku juga melakukan semua itu."

"Aneh. Aku tidak pernah melihatmu."

Pasif tersenyum.

"Itulah keahlianku."

Aktif menunjuk koran.

Di sana tertulis:

"Beberapa orang telah diamankan."

"Kesalahan telah terjadi."

"Pelanggaran telah dilakukan."

"Korban telah berjatuhan."

Aktif membaca lama sekali.

Lalu berkata:

"Sekarang aku mengerti."

"Apa?"

"Di negara tertentu, pelaku paling berbahaya bukan yang melakukan tindakan."

"Siapa?"

"Yang menghilangkan pelakunya."


---

PERKARA BAHASA: KESIMPULAN

Kesimpulan bekerja di bagian akhir laporan.

Biasanya ia hanya datang setelah bukti selesai berbicara.

Namun suatu hari ia diundang ke rapat khusus.

Saat tiba, ia terkejut.

Kesimpulan sudah ditulis.

Padahal penelitian belum dimulai.

Data belum dikumpulkan.

Wawancara belum dilakukan.

Analisis belum dibuat.

Kesimpulan bertanya:

"Lalu untuk apa penelitian ini?"

Ketua tim menjawab:

"Untuk mendukung kesimpulan."

"Itu terbalik."

"Kami tahu."

"Kalau begitu ini bukan penelitian."

"Benar."

"Lalu apa?"

Ketua tim tersenyum.

"Manajemen pembuktian."

Sejak hari itu Kesimpulan sering sakit.

Ia lelah dipaksa lahir sebelum waktunya.


---

PERKARA BAHASA: KATA TERAKHIR KORBAN

Arsip Nasional menerima ribuan dokumen.

Perintah operasi.

Surat rahasia.

Memo internal.

Pidato pejabat.

Laporan intelijen.

Semuanya disimpan rapi.

Namun di pojok ruangan terdapat satu kotak kecil yang hampir terlupakan.

Isinya bukan dokumen negara.

Bukan keputusan politik.

Bukan strategi.

Bukan kebijakan.

Isinya hanya catatan terakhir para korban.

Surat yang tidak sempat dikirim.

Nama yang tidak sempat disebut.

Pesan yang tidak sempat selesai.

Seorang arsiparis membacanya satu per satu.

Lalu ia menyadari sesuatu yang mengerikan.

Seluruh arsip negara menjelaskan bagaimana kejahatan dilakukan.

Namun kotak kecil itu menjelaskan mengapa kejahatan tersebut penting untuk diingat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia melihat perbedaan antara administrasi dan kemanusiaan.

•••

PERKARA BAHASA: KAMUS DWIBAHASA

Seorang penerjemah bekerja di perbatasan antara negara dan rakyat.

Di mejanya ada dua kamus.

Kamus pertama menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Indonesia.

Kamus kedua juga menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Indonesia.

Tamu yang baru datang merasa bingung.

"Kenapa dua?"

Penerjemah menjawab:

"Karena yang satu bahasa rakyat, yang satu bahasa kekuasaan."

"Lalu apa bedanya?"

Penerjemah membuka halaman pertama.

Penyesuaian harga
= kenaikan harga.

Penataan kawasan
= penggusuran.

Efisiensi tenaga kerja
= pemecatan.

Penyederhanaan informasi
= penyensoran.

Keadaan kondusif
= semua orang sedang takut bicara.

"Kenapa tidak langsung memakai arti yang sebenarnya?"

Penerjemah menutup kamus perlahan.

"Karena beberapa kebijakan tidak cukup kuat untuk bertahan hidup tanpa terjemahan."


---

PERKARA BAHASA: PARAGRAF PEMBUKA

Paragraf Pembuka sangat terkenal.

Ia menentukan kesan pertama.

Ia menentukan arah pembacaan.

Ia menentukan suasana.

Karena itu setiap rezim mencintainya.

Suatu hari sebuah laporan investigasi diterbitkan.

Paragraf pembukanya berbunyi:

"Dalam semangat pembangunan nasional dan kemajuan bersama..."

Lima puluh halaman kemudian ditemukan:

penghilangan dana,

penghilangan arsip,

penghilangan saksi.

Seorang pembaca bertanya:

"Mengapa laporan tentang kejahatan dimulai seperti brosur wisata?"

Paragraf Pembuka mengangkat bahu.

"Aku hanya disuruh membuat orang nyaman sebelum mereka menemukan isi sebenarnya."


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT TIDAK LANGSUNG

Kalimat Tidak Langsung hidup dari perantara.

Ia selalu datang membawa kabar dari orang lain.

"Ia mengatakan bahwa..."

"Menurut sumber..."

"Disebutkan bahwa..."

Suatu hari ia dipanggil oleh seorang pejabat.

"Aku membutuhkan bantuan."

"Tentang apa?"

"Aku ingin menyerang seseorang."

"Lalu?"

"Tapi aku tidak mau bertanggung jawab."

Kalimat Tidak Langsung menghela napas.

Ia sudah tahu tugasnya.

Keesokan hari media dipenuhi berita:

"Beredar informasi bahwa..."

"Terdapat dugaan bahwa..."

"Beberapa pihak menyebut bahwa..."

Tak ada nama.

Tak ada sumber.

Tak ada penanggung jawab.

Hanya tuduhan yang berjalan bebas seperti anjing liar.


---

PERKARA BAHASA: TANDA HUBUNG

Tanda Hubung memiliki bakat menyatukan hal-hal yang berbeda.

Ia menghubungkan kata dengan kata.

Konsep dengan konsep.

Makna dengan makna.

Suatu hari seorang konsultan politik datang.

"Tolong bantu kami."

"Apa yang perlu dihubungkan?"

Konsultan menyerahkan daftar.

Patriotisme-keuntungan.

Moralitas-kepentingan.

Keadilan-elektabilitas.

Kemanusiaan-anggaran.

Tanda Hubung membaca lama sekali.

"Lho, ini tidak cocok disambungkan."

"Kami tahu."

"Lalu?"

"Itulah sebabnya kami membutuhkanmu."


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT PENJELAS

Kalimat Penjelas mengajukan protes.

"Kenapa?"

Karena setiap kali skandal muncul, ia dipanggil.

Setiap kali kebohongan terbongkar, ia dipanggil.

Setiap kali janji gagal, ia dipanggil.

Tugasnya selalu sama:

menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.

"Apakah dana itu hilang?"

"Tidak. Perlu dijelaskan bahwa dana tersebut sedang mengalami proses perpindahan administratif."

"Apakah proyek gagal?"

"Tidak. Perlu dijelaskan bahwa proyek sedang berada dalam fase penyesuaian target."

"Apakah laporan itu dipalsukan?"

"Tidak. Perlu dijelaskan bahwa terdapat perbedaan pendekatan dokumentasi."

Akhirnya Kalimat Penjelas berkata:

"Aku diciptakan untuk memperjelas kenyataan."

"Lalu?"

"Sekarang aku dipakai untuk memperjelas kabut."


---

PERKARA BAHASA: KATA ASING

Ketika kebijakan buruk muncul, pemerintah tiba-tiba sangat menyukai bahasa asing.

Pemecatan massal menjadi:

rightsizing.

Penyensoran menjadi:

content moderation.

Pengawasan menjadi:

monitoring architecture.

Manipulasi opini menjadi:

narrative engineering.

Seorang buruh bertanya:

"Kalau diterjemahkan ke bahasa saya artinya apa?"

Pejabat menjawab:

"Itu terlalu kompleks."

Padahal yang kompleks bukan kebijakannya.

Yang kompleks adalah upaya menyembunyikannya.


---

PERKARA BAHASA: DIKSI BERKELAS

Diksi membuka sekolah elit.

Murid-muridnya berasal dari kementerian, perusahaan besar, dan lembaga humas.

Pelajaran hari pertama:

cara menyebut hal yang sama dengan harga moral yang berbeda.

Jika dilakukan orang miskin:

mencuri.

Jika dilakukan perusahaan besar:

optimalisasi aset.

Jika dilakukan pedagang kecil:

pelanggaran.

Jika dilakukan investor:

inovasi regulatif.

Seorang murid bertanya:

"Apakah arti kata bergantung pada siapa yang melakukannya?"

Diksi menjawab:

"Seharusnya tidak."

"Kalau begitu mengapa begitu?"

Diksi menatap keluar jendela.

Karena beberapa kamus ditulis oleh pemenang.


---

PERKARA BAHASA: KLAUSA BERSYARAT

Klausa Bersyarat sangat populer.

Ia selalu datang membawa kata "jika."

Jika ekonomi stabil.

Jika situasi memungkinkan.

Jika keadaan mendukung.

Jika kondisi kondusif.

Jika masyarakat memahami.

Jika rakyat bersabar.

Janji-janji besar disimpan di belakangnya.

Suatu hari rakyat bertanya:

"Kapan syarat-syarat itu terpenuhi?"

Pejabat menjawab:

"Itu tergantung."

"Tergantung apa?"

"Pada syarat berikutnya."

Maka lahirlah negara yang seluruh masa depannya hidup di dalam anak kalimat.


---

PERKARA BAHASA: AKSEN

Aksen datang ke ibu kota.

Ia membawa logat desa.

Logat pesisir.

Logat pegunungan.

Logat pulau-pulau kecil.

Orang-orang tertawa.

Mereka menganggap aksen sebagai tanda keterbelakangan.

Lalu pemilu tiba.

Tiba-tiba semua calon berbicara dengan aksen daerah.

Tiba-tiba semua iklan memakai logat rakyat.

Tiba-tiba semua pidato terdengar seperti pasar.

Aksen menggeleng.

"Lucu sekali."

"Apa?"

"Mereka tidak pernah menghormati suaraku."

"Lalu?"

"Mereka hanya menghormati jumlahku."


---

PERKARA BAHASA: MAJAS ANTIKLIMAKS

Seorang pemimpin berpidato.

Ia berbicara tentang peradaban.

Tentang sejarah.

Tentang masa depan.

Tentang kemanusiaan.

Tentang pengorbanan.

Tentang keadilan.

Tentang kebebasan.

Tentang martabat.

Pidato itu berlangsung dua jam.

Ketika selesai, seorang wartawan bertanya:

"Apakah Bapak sudah membaca laporan korupsi yang baru terbit?"

Pemimpin itu menjawab:

"Belum."

Maka seluruh pidato tadi runtuh dalam satu kalimat pendek.

Antiklimaks mencatatnya dengan senang hati.

Karena tidak ada satir yang lebih baik daripada kenyataan yang kehilangan tangga.


---

PERKARA BAHASA: KOREKTOR

Korektor bekerja di penerbit.

Biasanya ia memperbaiki salah ketik.

Salah eja.

Salah tanda baca.

Suatu hari ia menerima dokumen negara.

Ia mulai membaca.

Halaman pertama.

Bohong.

Halaman kedua.

Bohong.

Halaman ketiga.

Bohong.

Halaman keempat.

Bohong.

Ia panik.

"Ini bukan salah ketik."

"Lalu?"

"Ini salah kenyataan."

"Kau bisa memperbaikinya?"

Korektor menggeleng.

Karena bahasa memiliki alat untuk memperbaiki kalimat.

Tetapi tidak memiliki alat untuk memperbaiki niat.


---

PERKARA BAHASA: GLOSARIUM

Di akhir sebuah laporan resmi terdapat glosarium.

Biasanya tidak ada yang membacanya.

Namun seorang mahasiswa membacanya sampai selesai.

Di sana tertulis:

Insiden: peristiwa yang mengakibatkan korban.

Gangguan keamanan: situasi yang mengakibatkan korban.

Operasi khusus: tindakan yang mengakibatkan korban.

Penertiban: kegiatan yang mengakibatkan korban.

Mahasiswa itu menutup buku.

Lalu berkata:

"Aneh."

"Apa?"

"Korban ada di semua definisi."

"Lalu?"

"Tapi tidak ada satu pun pelaku."

Glosarium tidak menjawab.

Karena bahkan di bagian yang menjelaskan arti kata,

beberapa orang masih berhasil menghilangkan manusia.

•••

PERKARA BAHASA: TANDA TANYA

Tanda Tanya ditangkap pada dini hari.

Tuduhannya belum jelas.

Sebagaimana biasa.

Ia dibawa ke ruang pemeriksaan.

Petugas membuka berkas.

"Nama?"

"Mengapa?"

Petugas menghela napas.

"Usia?"

Sejak kapan usia lebih penting daripada alasan penangkapan?

Petugas memukul meja.

"Kau lihat? Ini masalahnya."

"Apa?"

"Kau selalu menjawab dengan pertanyaan."

Tanda Tanya mengangguk.

"Itulah pekerjaanku."

"Kau mengganggu ketertiban."

"Ketertiban yang seperti apa?"

"Ketertiban yang tidak perlu menjelaskan diri."

Pemeriksaan berlangsung tiga hari.

Pada hari keempat, pemerintah mengumumkan bahwa Tanda Tanya adalah ancaman bagi stabilitas nasional.

Sejak saat itu semua kalimat harus diakhiri titik.

Negara menjadi sangat tenang.

Sangat tertib.

Sangat sunyi.

Dan sangat bodoh.


---

PERKARA BAHASA: SINONIM

Sinonym bekerja di kantor humas.

Tugasnya mencari nama lain untuk hal-hal yang memalukan.

Ia sangat berbakat.

Skandal menjadi polemik.

Kegagalan menjadi tantangan.

Korupsi menjadi penyimpangan.

Penyiksaan menjadi tindakan berlebihan.

Pembantaian menjadi peristiwa.

Suatu hari seorang anak magang bertanya:

"Kenapa kita terus mengganti nama?"

Sinonym menjawab:

"Karena kenyataan terlalu keras."

"Apakah mengganti nama mengubah kenyataan?"

"Tidak."

"Lalu untuk apa?"

Sinonym diam cukup lama.

Kemudian berkata:

"Untuk membeli waktu."


---

PERKARA BAHASA: KONOTASI

Konotasi adalah pedagang bayangan.

Ia tidak menjual arti.

Ia menjual suasana di sekitar arti.

Suatu hari dua orang melakukan hal yang sama.

Yang pertama disebut aktivis.

Yang kedua disebut provokator.

Yang pertama disebut investor.

Yang kedua disebut oligark.

Yang pertama disebut patriot.

Yang kedua disebut fanatik.

Konotasi tersenyum.

Karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui kamus:

manusia sering kali tidak bertengkar mengenai fakta.

Mereka bertengkar mengenai aura.


---

PERKARA BAHASA: HURUF MIRING

Huruf Miring hidup sederhana.

Biasanya ia hanya dipakai untuk kata asing.

Namun suatu hari ia mendapat pekerjaan baru.

Ia diminta memiringkan tanggung jawab.

Dalam laporan resmi tertulis:

"Terjadi pelanggaran prosedur."

Huruf Miring bertanya:

"Siapa yang melanggar?"

"Itu tidak penting."

"Dana menghilang dari sistem."

"Siapa yang menghilangkan?"

"Itu juga tidak penting."

"Kesalahan terjadi."

"Pada siapa?"

"Terlalu sensitif."

Huruf Miring mulai curiga.

Ia tidak sedang memiringkan huruf.

Ia sedang memiringkan kenyataan.


---

PERKARA BAHASA: RIMA

Rima biasanya tinggal di puisi.

Ia menyukai keselarasan bunyi.

Suatu hari ia diundang ke kampanye politik.

Di sana ia menemukan banyak slogan.

Maju dan melaju.

Hebat dan kuat.

Bersatu dan bermutu.

Rakyat dan semangat.

Semuanya berima.

Semuanya mudah diingat.

Namun setelah kampanye selesai, Rima mencari makna.

Ia tidak menemukannya.

Yang tersisa hanya gema.

Dan gema tidak pernah membangun jembatan.


---

PERKARA BAHASA: KATA SERAPAN

Kata Serapan adalah pengembara.

Ia datang dari jauh.

Dari bahasa asing.

Dari peradaban lain.

Dari sejarah panjang manusia.

Suatu hari ia heran melihat nasib beberapa kata.

Demokrasi datang sebagai gagasan.

Lalu berubah menjadi prosedur.

Akuntabilitas datang sebagai prinsip.

Lalu berubah menjadi dokumen.

Transparansi datang sebagai tuntutan.

Lalu berubah menjadi slogan.

Kata Serapan mencatat semuanya.

Ia sudah sering melihat negara mengimpor kata.

Yang lebih jarang adalah mengimpor maknanya.


---

PERKARA BAHASA: KATA DEPAN "ATAS NAMA"

Kata depan itu sangat sibuk.

Atas nama rakyat.

Atas nama bangsa.

Atas nama keamanan.

Atas nama agama.

Atas nama masa depan.

Setiap hari ia dipakai.

Setiap hari ia bekerja.

Suatu hari ia mendatangi rakyat.

"Aku ingin bertanya."

"Tentang apa?"

"Kenapa namamu selalu dipakai?"

Rakyat mengangkat bahu.

"Kami juga ingin tahu."


---

PERKARA BAHASA: DIKTAT

Diktat adalah buku pelajaran.

Ia percaya bahwa pengetahuan harus disusun dengan rapi.

Bab demi bab.

Topik demi topik.

Namun suatu hari ia dipaksa mengajar sejarah baru.

Bab pertama:

Tidak ada masalah.

Bab kedua:

Tidak pernah ada masalah.

Bab ketiga:

Jika ada masalah, itu bukan masalah.

Bab keempat:

Jika itu masalah, maka masalah itu sudah selesai.

Murid membaca sampai akhir.

Lalu bertanya:

"Kalau semuanya baik-baik saja, mengapa buku ini begitu takut pada pertanyaan?"

Diktat tidak bisa menjawab.

Karena beberapa pelajaran dirancang untuk mengajar.

Yang lain dirancang untuk melupakan.


---

PERKARA BAHASA: ALUSI

Alusi hidup dari isyarat.

Ia jarang berbicara langsung.

Suatu hari seorang penyair menulis:

"Kerajaan itu dipenuhi cermin."

Tidak ada nama.

Tidak ada alamat.

Tidak ada tanggal.

Namun semua orang tahu yang dimaksud.

Pemerintah marah.

"Apa maksud puisi ini?"

Penyair menjawab:

"Tentang cermin."

"Jangan bercanda."

"Kalau begitu mungkin masalahnya bukan puisinya."

"Lalu?"

"Mungkin masalahnya karena kalian mengenali diri sendiri."


---

PERKARA BAHASA: VERBA TRANSITIF

Verba Transitif menyukai objek.

Mencuri sesuatu.

Menangkap seseorang.

Menghukum seseorang.

Membunuh seseorang.

Ia percaya bahwa tindakan harus bertemu akibatnya.

Suatu hari ia membaca laporan resmi.

Objeknya hilang.

Menangkap.

Mengamankan.

Menertibkan.

Menindak.

Verba Transitif bingung.

"Siapa yang ditangkap?"

Tidak jelas.

"Siapa yang diamankan?"

Tidak jelas.

"Siapa yang ditindak?"

Tidak jelas.

Laporan itu penuh tindakan.

Namun tidak ada manusia.

Seolah-olah seluruh negara sedang beroperasi di ruang kosong.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT BERSYARAT

Kebebasan akan diberikan jika keadaan memungkinkan.

Keadilan akan ditegakkan jika situasi kondusif.

Transparansi akan diperluas jika masyarakat siap.

Pemeriksaan akan dilakukan jika diperlukan.

Kalimat Bersyarat mendengarkan semua itu.

Lalu bertanya:

"Siapa yang menentukan syaratnya?"

Tidak ada jawaban.

"Siapa yang menentukan kapan syarat itu terpenuhi?"

Tidak ada jawaban.

"Siapa yang diuntungkan oleh ketidakjelasan itu?"

Rapat ditutup.


---

PERKARA BAHASA: KATA KUNCI

Dalam sebuah negara modern, semua kebijakan harus memiliki kata kunci.

Inovasi.

Transformasi.

Disrupsi.

Akselerasi.

Optimalisasi.

Sinkronisasi.

Digitalisasi.

Integrasi.

Suatu hari seorang petani datang ke kantor pemerintah.

Ia membawa padi yang gagal panen.

Pejabat memberinya brosur.

Penuh kata kunci.

Petani membaca lama sekali.

Kemudian bertanya:

"Dari semua kata ini, yang mana bisa dimasak?"


---

PERKARA BAHASA: EPILOG

Epilog selalu datang terakhir.

Ia menyaksikan semuanya.

Pidato.

Perang.

Pemilu.

Kudeta.

Skandal.

Pengadilan.

Revolusi.

Ia membaca arsip berdebu.

Membaca berita lama.

Membaca memo rahasia yang akhirnya dibuka.

Dan setiap kali ia tiba di akhir sebuah rezim, ia menemukan pola yang sama.

Kekuasaan selalu percaya bahwa ia mengendalikan bahasa.

Namun waktu bekerja sebaliknya.

Lambat.

Diam.

Tanpa konferensi pers.

Tanpa juru bicara.

Tanpa slogan.

Sampai suatu hari kata-kata yang dulu tampak perkasa berubah menjadi bahan catatan kaki.

Dan kalimat-kalimat kecil yang dulu dibisikkan dengan takut-takut berubah menjadi sejarah.

Epilog tidak pernah terburu-buru.

Ia tahu bahwa sebagian besar propaganda hanya perlu satu musuh:

umur panjang arsip.

•••

PERKARA BAHASA: KATA KERJA BANTU

Kata Kerja Bantu merasa dirinya tidak pernah mendapat penghargaan.

Ia hanya membantu.

Tidak pernah menjadi tokoh utama.

Tidak pernah menjadi subjek sejarah.

Namun suatu hari ia menemukan bahwa kekuasaan sangat mencintainya.

Terutama satu kata:

"akan."

Kami akan menyelidiki.

Kami akan mengevaluasi.

Kami akan memperbaiki.

Kami akan menindak.

Kami akan mengusut.

Kami akan membuka.

Kami akan mendengar.

Kata "akan" bekerja tanpa libur.

Ia mengangkut janji dari masa kini ke masa depan.

Dari konferensi pers ke tahun berikutnya.

Dari tahun berikutnya ke tahun berikutnya lagi.

Suatu malam "akan" menghitung usianya.

Ia sudah berumur puluhan tahun.

Tetapi belum pernah bertemu kata "sudah."


---

PERKARA BAHASA: TITIK DUA

Titik Dua sangat percaya diri.

Ia selalu mengira sesuatu yang penting akan datang setelah dirinya.

Ia hidup untuk pembukaan.

Untuk penjelasan.

Untuk pengungkapan.

Suatu hari seorang pejabat berpidato:

"Kami menemukan penyebab utama masalah ini:"

Semua orang menunggu.

Tidak ada yang datang.

Pejabat melanjutkan ke topik lain.

Hari berikutnya:

"Kami memiliki solusi yang jelas:"

Semua orang menunggu lagi.

Tidak ada yang datang.

Minggu berikutnya:

"Kami akan mengumumkan nama-nama yang bertanggung jawab:"

Semua orang menunggu sekali lagi.

Tidak ada yang datang.

Titik Dua akhirnya mengalami depresi.

Ia merasa terus-menerus menjanjikan kedatangan sesuatu

yang tidak pernah muncul.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT PERINTAH

Kalimat Perintah sangat disiplin.

Ia tidak suka keraguan.

Ia tidak suka ambiguitas.

Ia tidak suka diskusi panjang.

Lakukan.

Diam.

Pergi.

Tunggu.

Ikuti.

Patuhi.

Pada masa damai, ia hanya muncul sesekali.

Pada masa krisis, ia mulai sering terlihat.

Pada masa darurat, ia ada di mana-mana.

Suatu hari ia bertanya kepada seorang filsuf:

"Mengapa semua orang membenciku?"

Filsuf itu menggeleng.

"Mereka tidak membencimu."

"Lalu?"

"Mereka membenci saat hanya engkau yang tersisa."


---

PERKARA BAHASA: KATA SAMBUNG "NAMUN"

"Namun" bekerja sebagai penjaga pintu.

Ia berdiri di antara dua kalimat.

Biasanya ia bertugas memperkenalkan keberatan.

Keraguan.

Pengecualian.

Koreksi.

Suatu hari sebuah laporan resmi datang.

Isinya:

"Kami menghormati kebebasan berekspresi, namun..."

"Kami menjunjung transparansi, namun..."

"Kami mendukung kritik yang konstruktif, namun..."

"Kami berkomitmen pada hak asasi manusia, namun..."

"Namun" membaca semuanya.

Kemudian mengundurkan diri.

Alasannya sederhana.

Ia lelah menjadi tempat penyembunyian pengkhianatan.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT PEMBUKA PIDATO

Kalimat Pembuka Pidato memiliki kehidupan yang mewah.

Ia selalu berada di panggung.

Di televisi.

Di surat kabar.

Di media sosial.

Ia mengenal semua pejabat penting.

Suatu hari ia mulai menghitung.

Berapa kali ia mendengar kalimat:

"Dengan penuh kerendahan hati..."

dari orang yang tidak rendah hati.

"Dengan penuh keterbukaan..."

dari orang yang tidak terbuka.

"Dengan penuh kejujuran..."

dari orang yang sedang berbohong.

Setelah bertahun-tahun bekerja, ia menemukan pola.

Semakin keras suatu pidato mengumumkan sifat baiknya,

semakin besar kemungkinan sifat itu sedang tidak hadir.


---

PERKARA BAHASA: KATA ABSTRAK

Kata Abstrak sangat populer.

Keberlanjutan.

Ketahanan.

Transformasi.

Pemberdayaan.

Optimalisasi.

Resiliensi.

Harmonisasi.

Semua orang menyukainya.

Karena kata-kata itu sangat besar.

Sangat luas.

Sangat sulit disentuh.

Suatu hari seorang nelayan bertanya:

"Bagaimana cara memancing resiliensi?"

Tidak ada yang menjawab.

Seorang buruh bertanya:

"Di pasar, satu kilogram harmonisasi harganya berapa?"

Tidak ada yang menjawab.

Kata Abstrak mulai malu.

Ia sadar bahwa dirinya sering dipakai

untuk menutupi ketiadaan benda nyata.


---

PERKARA BAHASA: AKTIF DAN PASIF

Suara Aktif dan Suara Pasif bertemu di sebuah kafe.

Aktif datang lebih dulu.

Ia selalu langsung.

"Siapa yang melakukan?"

"Itu yang ingin kutahu."

Pasif datang terlambat.

Ia tampak santai.

"Ada apa?"

Aktif menunjukkan koran.

"Dana telah disalahgunakan."

"Kesalahan telah dilakukan."

"Hak-hak warga telah dilanggar."

Aktif menunjuk berita itu.

"Ini pekerjaanmu."

Pasif tersenyum.

"Buktinya?"

"Aku mengenali gayamu."

Pasif menyeruput kopi.

"Aku hanya menyediakan bentuk."

Aktif menggeleng.

"Itulah masalahnya."


---

PERKARA BAHASA: PARAGRAF PENUTUP

Paragraf Penutup memiliki tugas yang berat.

Ia harus memberi kesan terakhir.

Harapan.

Peringatan.

Kesimpulan.

Makna.

Suatu hari ia diminta menutup laporan korupsi setebal seribu halaman.

Ia membaca semuanya.

Tender fiktif.

Dokumen palsu.

Suap.

Kolusi.

Pemerasan.

Penghilangan bukti.

Setelah selesai ia bertanya:

"Apakah ada yang dipenjara?"

"Tidak."

"Apakah uangnya kembali?"

"Tidak."

"Apakah sistemnya diperbaiki?"

"Tidak."

"Lalu apa yang harus kutulis?"

Ruangan menjadi hening.

Karena bahkan paragraf penutup tidak mampu menciptakan harapan dari kekosongan.


---

PERKARA BAHASA: TANDA PETIK GANDA

Tanda Petik Ganda mulai curiga terhadap pekerjaannya sendiri.

Awalnya ia dipakai untuk mengutip.

Lalu ia mulai dipakai untuk menjaga jarak.

Operasi "kemanusiaan."

Pemilu "bebas."

Penyelidikan "independen."

Media "netral."

Kemitraan "sukarela."

Semakin lama, semakin banyak kata masuk ke dalam dirinya.

Suatu hari ia melihat sebuah berita.

Seluruh paragraf berada di dalam tanda petik.

Ia panik.

Karena itu berarti tidak ada lagi satu pun kata

yang dipercaya berdiri sendirian.


---

PERKARA BAHASA: KALIMAT MAJEMUK

Kalimat Majemuk sangat panjang.

Begitu panjang hingga kadang-kadang lupa di mana ia dimulai.

Karena itu ia sering diundang ke rapat birokrasi.

Suatu hari ia menerima tugas menjelaskan kegagalan proyek.

Kalimat itu dimulai pada halaman satu.

Berlanjut ke halaman dua.

Masuk halaman tiga.

Menyentuh halaman empat.

Melewati enam belas anak kalimat.

Tujuh belas pengecualian.

Dua puluh dua pertimbangan.

Lalu berakhir pada kesimpulan:

"Proyek tidak selesai."

Seorang warga membaca laporan itu.

Kemudian berkata:

"Kalau begitu kenapa tidak langsung bilang begitu dari awal?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena beberapa kalimat panjang diciptakan

untuk melindungi pelaku dari kecepatan pemahaman.


---

PERKARA BAHASA: DEFINISI OPERASIONAL

Definisi Operasional bekerja di laboratorium penelitian.

Ia biasanya sederhana.

Menjelaskan apa yang dimaksud oleh suatu istilah.

Namun suatu hari ia dipanggil ke rapat politik.

"Kami membutuhkan bantuan."

"Tentang apa?"

"Kami ingin mendefinisikan ulang keberhasilan."

"Bagaimana caranya?"

"Kami ingin tetap berhasil meskipun gagal."

Definisi Operasional terdiam.

Kemudian seseorang menyerahkan dokumen.

Target diturunkan.

Standar diubah.

Indikator dipilih ulang.

Metode dihitung kembali.

Hasil akhirnya mengejutkan.

Semua berhasil.

Meski tidak ada yang berubah.

Definisi Operasional pulang lebih cepat hari itu.

Ia merasa baru saja menyaksikan matematika dipaksa menjadi sastra.


---

KATA TERAKHIR

Kata Terakhir tinggal di ujung percakapan.

Ia datang paling akhir. Ia tidak pernah terburu-buru. Karena ia tahu satu rahasia.

Semua pidato besar akhirnya selesai. Semua slogan akhirnya usang. Semua propaganda akhirnya menua. Semua rezim akhirnya menjadi arsip.

Suatu hari ia mengunjungi perpustakaan sejarah.

Di sana tersimpan ribuan pidato kemenangan, ribuan deklarasi, ribuan janji, ribuan ancaman.

Ia membuka satu per satu.

Sebagian besar sudah tidak dibaca lagi.

Yang masih dibaca justru surat-surat kecil.

Catatan korban.

Kesaksian saksi.

Puisi yang diselundupkan.

Nama-nama yang hampir hilang.

Kata Terakhir tersenyum.

Karena ia tahu sesuatu yang sering dilupakan kekuasaan:

bahasa mungkin dapat dipaksa berbicara,

tetapi ingatan memilih sendiri apa yang akan didengarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI