PETA YANG TIDAK PERNAH DIGUNAKAN
Nara tidak pernah mengira bahwa peta akan mengkhianatinya.
Laki-laki itu adalah seorang kartografer. Pekerjaannya menggambar peta. Bukan peta digital yang bisa diperbesar dan diperkecil dengan ujung jari, melainkan peta kertas. Peta yang digambar dengan tinta, penggaris, dan kesabaran yang tidak masuk akal. Selama dua puluh tiga tahun, ia telah menggambar lebih dari empat ratus peta. Peta kota. Peta provinsi. Peta jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi. Peta sungai yang berubah arah karena banjir. Peta wilayah yang tidak pernah dikunjungi siapa pun karena tidak ada jalan menuju ke sana.
Namun, ada satu peta yang tidak pernah selesai.
Peta itu tergantung di dinding ruang kerjanya, ditutupi kain putih. Setiap pagi, Nara membuka kain itu, memandang peta tersebut selama tepat sepuluh menit, lalu menutupnya kembali. Tidak pernah ia menambahkan satu garis pun. Tidak pernah ia menghapus satu titik pun. Peta itu sudah dalam keadaan yang sama sejak delapan tahun lalu.
Peta itu adalah peta terakhir yang ia gambar bersama Amira.
Amira adalah rekan kerjanya dulu. Seorang kartografer perempuan yang lebih suka bekerja di lapangan daripada di meja gambar. Ia yang mengukur jarak sebenarnya antara dua bukit. Ia yang menghitung kelokan sungai dengan berjalan di tepiannya. Ia yang memberi tahu Nara bahwa peta tidak cukup hanya indah—peta harus jujur.
Delapan tahun lalu, mereka mendapat proyek terbesar dalam karier mereka: memetakan daerah perbatasan antara dua provinsi yang sedang bersengketa. Wilayah itu tidak memiliki nama resmi. Warga setempat menyebutnya Tanah Antara. Tidak ada tanda batas. Tidak ada patok. Yang ada hanya hutan, bukit, dan sungai yang berkelok seperti huruf S yang terseok-seok.
Nara menggambar dari foto udara dan data satelit. Amira turun ke lapangan, mengukur langsung dengan teodolit dan kompas dan sepatu bot yang selalu penuh lumpur.
Mereka berdua tidak pernah bertengkar. Hingga suatu hari, Amira pulang dari lapangan dengan wajah pucat dan membawa sebuah cerita yang mengubah segalanya.
“Nara,” katanya, “aku bertemu dengan seorang perempuan tua di hutan. Ia tinggal sendirian di gubuk dekat sungai. Ia tidak punya peta. Ia tidak pernah tahu di mana perbatasan provinsi. Akan tetapi, ia tahu persis di mana rumahnya. Ia berkata: ‘Perbatasan hanya ada di kertas. Di tanah, yang ada hanyalah pohon, air, dan langit. Tidak ada garis merah yang memisahkan aku dari tetanggaku. Tidak ada garis biru yang mengatakan bahwa di sini kau boleh menanam padi, di sana kau tidak boleh.’”
Nara mengangkat bahu. “Itu metafora yang bagus, tetapi kita punya kontrak. Kita harus menentukan batasnya.”
“Namun, bagaimana jika batas itu tidak ada?” desak Amira. “Bagaimana jika yang disebut perbatasan selama ini hanyalah kesepakatan sekelompok orang di ruangan ber-AC, sementara di lapangan, orang-orang hidup tanpa peduli garis imajiner itu?”
“Itu bukan urusan kita. Tugas kita menggambar apa yang diminta.”
Amira terdiam. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa.”
“Tidak bisa apa?”
“Aku tidak bisa membantu menggambar batas yang tidak pernah ada. Aku tidak bisa menjadi bagian dari kebohongan yang dicetak di atas kertas lalu disebut ‘fakta’. Peta harus jujur, Nara. Kau yang mengajarkanku itu.”
Nara menatap peta setengah jadi di mejanya. Garis perbatasan masih putus-putus, menunggu keputusan final.
“Kau tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak menyelesaikan peta ini?” tanya Nara. “Kita dipecat. Proyek ini diberikan ke kartografer lain. Dan mereka akan menggambar batasnya tanpa pernah menginjakkan kaki di Tanah Antara. Tanpa tahu tentang sungai yang berkelok seperti huruf S yang terseok-seok. Tanpa tahu tentang gubuk perempuan tua di tepi hutan.”
“Maka biarkan,” kata Amira. “Aku lebih rela kertas itu kosong daripada diisi dengan garis yang tidak benar.”
Malam itu, Amira pergi.
Bukan dari kota, mrlainkan dari proyek itu. Ia mengundurkan diri. Ia memilih tinggal di Tanah Antara, di gubuk dekat sungai, bersama perempuan tua yang ia temui. Nara tidak pernah mendengar kabarnya lagi.
Delapan tahun.
Delapan tahun Nara menyelesaikan peta itu sendirian—atau setidaknya mencoba. Akan tetapi, setiap kali ia hendak menarik garis batas, tangannya berhenti. Pena di ujung jarinya seperti kehilangan tinta. Atau lebih tepat: ia kehilangan alasan untuk menggambar.
Peta itu tetap setengah jadi. Digantung di dinding. Ditutupi kain.
Dan Nara tetap di ruang kerjanya setiap pagi, membuka kain itu, memandang, lalu menutupnya kembali.
---
Inilah konflik yang tidak pernah Nara bayangkan: bukan soal garis batas di peta, melainkan soal batas dalam dirinya. Ia tidak tahu lagi di mana ia berakhir dan di mana Amira dimulai. Ia tidak tahu apakah ia masih mencintai Amira, atau ia hanya terbiasa dengan ketidakhadirannya. Ia tidak tahu apakah ia merindukan Amira, atau ia merindukan dirinya yang dulu, yang percaya bahwa peta bisa jujur.
Dilemanya sederhana tetapi membelit: jika ia menyelesaikan peta itu—menarik garis batas sesuai permintaan klien—ia akan mengkhianati Amira dan prinsipnya sendiri. Jika ia tidak menyelesaikannya, ia akan kehilangan pekerjaan, reputasi, dan satu-satunya hal yang membuatnya bangun setiap pagi: tujuan.
Selama delapan tahun, ia memilih jalan tengah: tidak menyelesaikan, tidak meninggalkan. Ia hanya menunggu. Namun, menunggu apa? Ia tidak tahu.
Suatu hari, kantor pos mengirimkan sebuah paket. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak kayu kecil dengan tulisan tangan di tutupnya: UNTUK NARA, DARI TANAH ANTARA.
Nara membuka kotak itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya: sebuah peta.
Bukan peta yang digambar dengan tinta dan penggaris. Peta ini digambar di atas kain tipis, seperti sisa karung beras yang dijemur terlalu lama. Garis-garisnya tidak lurus. Tidak ada skala. Tidak ada legenda. Yang ada hanya goresan pensil dan arang, kadang disambung dengan jahitan kasar, seolah pembuatnya menggunakan benang untuk menyambung dua titik yang tidak bisa dijangkau pena.
Nara membentangkan peta itu di meja.
Ia butuh waktu sepuluh menit untuk memahami apa yang ia lihat.
Peta itu tidak menggambarkan Tanah Antara. Peta itu menggambarkan dirinya.
Ada sungai yang berkelok seperti urat di tangan kirinya. Ada bukit yang tingginya sama seperti tinggi bahunya ketika ia duduk membungkuk di meja gambar. Ada gubuk kecil yang persis seperti ruang kerjanya—jendela di sisi timur, meja di tengah, kursi putar yang selalu berdecit.
Dan di sudut kanan bawah peta, ada sebuah titik yang diberi tanda silang. Di sampingnya, tulisan kecil:
“Di sinilah kau terakhir kali tersenyum untukku. Sebelum kau memilih kertas dan klien dan ketakutanmu. Aku masih di sini. Di Tanah Antara. Di tempat yang tidak punya garis batas. Datanglah. Aku akan menunggumu. Akan tetapi, tidak selamanya. Peta ini akan usang. Seperti semua peta. Datanglah sebelum tinta arangku luntur.”
Nara membaca tulisan itu berulang kali. Matanya panas.
Delapan tahun. Amira tidak pergi. Amira menunggu. Dan selama delapan tahun, Nara tidak pernah berpikir untuk mencarinya. Ia terlalu sibuk menjaga peta yang tidak pernah selesai. Terlalu sibuk menjadi penjaga batas yang tidak pernah ada.
---
Keesokan paginya, Nara mengambil cuti. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengisi ransel dengan kompas, peta topografi (peta resmi, yang digambar dengan tinta dan skala), dan bekal secukupnya. Ia meninggalkan peta setengah jadi yang tergantung di dinding. Kain putih tetap menutupinya. Namun kali ini, ketika ia menutup pintu, ia tidak berpaling.
Perjalanan ke Tanah Antara tidak mudah. Butuh dua hari dengan bus ke kota kecamatan, lalu satu hari dengan ojek ke desa terakhir di perbatasan, lalu setengah hari berjalan kaki menyusuri sungai yang berkelok seperti huruf S yang terseok-seok.
Nara belum pernah ke Tanah Antara. Selama ini ia hanya menggambarnya dari foto dan data. Akan tetapi, ketika kakinya benar-benar menginjak tanah itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Tanah ini mengenalnya. Seperti ia sudah lama menjadi bagian dari peta ini, hanya saja ia tidak pernah menyadarinya.
Ia berjalan menyusuri sungai. Kompas di tangannya tidak banyak membantu karena ia tidak punya koordinat tujuan yang pasti. Yang ia punya hanyalah peta kain dari Amira. Dan peta itu, jika ia perhatikan lebih teliti, tidak menggunakan arah utara-selatan seperti peta biasa. Peta itu menggunakan arah lain. Arah yang lebih tua. Arah yang tidak diajarkan di sekolah kartografi.
Peta itu menggunakan arah jantung.
Nara mengikuti sungai. Ia melewati hutan yang rimbun. Ia melewati bukit yang lerengnya curam. Ia melewati ladang jagung yang sudah mulai mengering. Dan di setiap persimpangan, ia meraba peta kain itu, merasakan goresan arang di bawah ujung jarinya, dan tahu ke mana harus berbelok.
Pada sore hari kedua, ia sampai di sebuah gubuk.
Gubuk itu persis seperti yang digambar Amira di peta. Jendela di sisi timur. Cerobong asap yang miring. Dan di depan gubuk, seorang perempuan duduk di kursi anyaman, menatap ke arahnya.
Amira.
Ia tidak berubah banyak. Rambutnya lebih panjang, disisir sederhana ke belakang. Kulitnya lebih gelap karena delapan tahun di bawah matahari Tanah Antara. Namun matanya—matanya sama. Matanya yang dulu melihat peta dan berkata, “Peta harus jujur.”
“Kau datang,” kata Amira. Suaranya tidak terkejut. Seperti ia sudah tahu ini akan terjadi. Hanya tidak tahu kapan.
Nara berhenti beberapa langkah dari Amira. Ransel di pundaknya terasa berat.
“Aku datang,” katanya. “Meskipun aku tidak tahu apakah aku masih pantas.”
“Tidak ada yang tidak pantas di Tanah Antara,” kata Amira. “Di sini, kita tidak punya garis. Kita hanya punya tanah. Dan tanah tidak pernah menolak siapa pun.”
Nara mendekat. Ia duduk di tanah di depan Amira. Bukan di kursi. Di tanah. Karena itu yang dilakukan orang di Tanah Antara.
“Aku menyimpan peta itu,” kata Nara. “Peta yang tidak pernah selesai. Di dinding ruang kerjaku. Ditutupi kain.”
“Aku tahu,” kata Amira. “Aku tahu karena setiap malam, aku menggambar peta yang sama di sini. Namun versiku tidak punya garis batas. Versiku hanya punya sungai, bukit, dan satu titik tempat kau terakhir tersenyum untukku.”
“Maaf,” kata Nara. “Aku seharusnya mencari tahu lebih awal. Aku seharusnya—“
“Berhenti,” potong Amira. “Aku tidak meminta maaf. Aku meminta kau datang. Dan kau sudah datang. Itu cukup.”
Nara mengangkat wajahnya. “Akan tetapi, delapan tahun. Delapan tahun kau di sini. Sendirian. Aku—“
“Aku tidak sendiri,” kata Amira. Ia menunjuk ke belakang gubuk. Di sana, seorang perempuan tua sedang menjemur pakaian. Rambutnya putih semua. Wajahnya keriput. Namun tangannya masih kuat, masih lincah.
“Itu perempuan yang aku ceritakan dulu?” tanya Nara.
Amira mengangguk. “Ia sudah hampir seratus tahun. Akan tetapi, ia masih ingat nama semua pohon. Masih ingat lagu sungai. Masih ingat bahwa perbatasan tidak pernah ada. Ia mengajariku banyak hal. Tentang peta yang tidak digambar di kertas. Tentang peta yang digambar di ingatan.”
Nara menatap perempuan tua itu. Perempuan itu menoleh, tersenyum, lalu kembali menjemur pakaian.
“Ia juga yang mengajariku menggambar peta kain itu,” kata Amira. “Peta yang tidak menggunakan skala. Karena jarak sebenarnya tidak pernah diukur dalam kilometer. Jarak sebenarnya diukur dalam rindu.”
---
Nara tinggal di Tanah Antara selama sepuluh hari.
Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari terbit. Ia membantu Amira mengambil air dari sungai. Ia membantu perempuan tua itu membakar kayu. Ia belajar nama-nama pohon: kedondong, johar, ki hujan. Ia belajar bahwa sungai itu bernama Sungai Lupa—bukan karena membuat orang lupa, melainkan karena ia tidak pernah ingat di mana ia berawal. Ia belajar bahwa bukit di timur disebut Bukit Tunggu karena dari puncaknya, kau bisa melihat tiga provinsi sekaligus—dan tidak ada satu pun garis batas yang terlihat.
Pada malam hari, Nara dan Amira duduk di beranda. Mereka tidak banyak bicara. Namun keheningan mereka berbeda dari keheningan di kota. Di kota, keheningan adalah ketegangan. Di sini, keheningan adalah bahasa.
Pada malam kesepuluh, Nara berkata, “Aku ingin pulang.”
Amira menatapnya. “Ke mana?”
“Ke kota. Menyelesaikan pekerjaanku. Akan tetapi, tidak dengan cara yang dulu.”
“Maksudmu?”
“Aku akan menyelesaikan peta itu. Peta perbatasan. Namun aku akan menggambarnya dengan jujur. Aku akan menulis di legenda: ‘Garis batas dalam peta ini hanyalah usulan administratif. Di lapangan, tidak ada garis yang memisahkan tanah ini. Yang ada hanyalah sungai, bukit, dan orang-orang yang tinggal di antaranya.’”
Amira tersenyum. Senyum yang delapan tahun lalu ia bawa pergi dari ruang kerja Nara.
“Kau yakin?” tanyanya. “Klienmu tidak akan suka.”
“Biarkan mereka tidak suka. Aku lebih tidak suka kepada diriku sendiri karena telah menggambar kebohongan selama dua puluh tiga tahun.”
Amira meraih tangan Nara. Tangannya kasar, penuh kapalan. Namun hangat.
“Kau berubah,” katanya.
“Kau juga,” kata Nara. “Dulu kau pergi karena kau tidak tahan dengan kebohongan di peta. Sekarang kau tinggal di tempat yang tidak punya peta sama sekali.”
“Aku punya peta,” kata Amira. Ia menunjuk dadanya. “Peta di sini. Peta yang tidak bisa digambar di kertas. Peta yang hanya bisa dibaca oleh orang yang pernah tersesat cukup lama.”
Mereka berdua diam.
Lalu Nara berkata, “Aku akan kembali.”
“Kembali ke mana?”
“Ke sini. Setelah aku menyelesaikan peta itu. Aku akan kembali. Bukan untuk liburan, melainkan untuk ... tinggal. Jika kau mengizinkan.”
Amira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan Nara lebih erat.
Dan di kejauhan, Sungai Lupa mengalir tanpa pernah ingat di mana ia berawal.
---
Nara kembali ke kota. Ia menyelesaikan peta perbatasan dalam waktu dua minggu. Di legenda, ia menulis kalimat yang tidak pernah diminta klien. Ia menulis: “Tidak ada garis batas yang alami. Yang ada hanyalah kesepakatan yang rapuh. Peta ini tidak akan pernah bisa menggantikan kaki yang berjalan di tanah ini.”
Klien marah. Mereka meminta revisi. Nara menolak. Mereka mengancam akan memecatnya. Nara berkata, “Lakukan.”
Ia dipecat. Reputasinya hancur. Kartografer lain menyebutnya “idealis gila”. Akan tetapi, Nara tidak peduli.
Ia mengemas peta setengah jadi dari dinding ruang kerjanya. Kain putih yang selama delapan tahun menutupinya ia lipat rapi. Peta itu tidak akan pernah selesai. Namun tidak apa-apa. Karena ia akhirnya mengerti: peta tidak harus selesai. Peta hanya harus jujur pada apa yang ia gambarkan. Dan peta itu—peta perbatasan yang tidak pernah selesai—adalah peta paling jujur yang pernah ia buat. Karena ia menggambarkan ketidakmampuan untuk memutuskan. Dan itu, kadang, adalah bentuk kejujuran tertinggi.
Ia kembali ke Tanah Antara.
Bukan dengan bus dan ojek dan jalan kaki. Melainkan dengan peta kain pemberian Amira. Peta yang tidak punya skala. Peta yang menggunakan arah jantung.
Ia tidak tersesat. Tidak sekali pun.
---
Sekarang, Nara tinggal di gubuk dekat Sungai Lupa. Ia tidak lagi menggambar peta untuk klien. Ia menggambar peta untuk dirinya sendiri. Peta tentang letak pohon johar yang tertua di hutan. Peta tentang jalur rusa saat musim kemarau. Peta tentang tempat terbaik untuk melihat matahari terbit di Bukit Tunggu.
Amira ada di sampingnya. Perempuan tua itu—yang namanya tidak pernah disebut dalam cerita ini—masih hidup. Masih menjemur pakaian setiap pagi. Masih mengingat nama semua pohon. Masih tertawa ketika Nara salah menggambar arah sungai.
Suatu sore, Nara menggambar peta baru di atas kain. Bukan peta Tanah Antara. Bukan peta perbatasan. Melainkan peta tentang ia dan Amira.
Ia menggambar dua titik di sisi kiri dan kanan kain. Di antaranya, ia menggambar garis putus-putus. Bukan garis lurus. Garis itu berkelok, naik turun, kadang menghilang lalu muncul lagi.
Amira melihat peta itu. “Apa itu?” tanyanya.
“Peta tentang kita,” kata Nara. “Titik di kiri adalah kau delapan tahun lalu, saat kau pergi. Titik di kanan adalah kau sekarang, di sampingku. Garis putus-putus di antaranya adalah ... perjalananku. Perjalanan untuk menemukanmu. Tidak lurus. Tidak cepat. Kadang aku berhenti. Kadang aku mundur. Namun, aku tidak pernah berbalik.”
Amira mengambil peta itu. Ia menggambar satu garis lurus di atas garis putus-putus Nara.
“Ini versiku,” katanya. “Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya membuat garis yang berbeda. Akan tetapi, ujungnya sama. Di sini. Di Tanah Antara. Di tempat yang tidak punya perbatasan.”
Nara tersenyum. “Jadi, peta ini selesai?”
“Peta ini tidak pernah dimulai,” kata Amira. “Karena kita tidak pernah benar-benar berpisah. Kita hanya berpikir kita berpisah. Namun sungai yang sama yang mengalir di kotamu, mengalir juga di sini. Bukit yang sama yang kau lihat dari jendela ruang kerjamu, adalah bukit yang sama yang kau daki kemarin. Jarak tidak sejauh yang kau kira, Nara. Jarak hanya di peta. Di tanah, kita selalu bertetangga.”
Nara menatap peta itu lama. Lalu, ia menggulungnya dan menyimpannya di dekat tempat tidur.
Bukan karena ia takut kehilangan, melainkan karena ia ingin mengingat bahwa suatu kali, ia tersesat cukup lama untuk belajar membaca arah yang tidak diajarkan di sekolah.
Arah jantung.
Arah yang tidak pernah salah.
Meskipun tidak pernah ada di peta mana pun.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar