RADIO YANG TIDAK PERNAH MATI

RADIO YANG TIDAK PERNAH MATI

Sebuah Cerpen Absurdisme Gelap

---

PEMBUKAAN

Radio tua di pojok ruang keluarga itu menyala sejak tiga puluh tahun lalu dan tidak pernah bisa dimatikan. Bukan rusak. Tombol power-nya bekerja sempurna. Volume bisa dinaikkan dan diturunkan. Frekuensi bisa diganti. Tapi setiap kali seseorang menekan tombol mati, radio itu akan terdiam tepat tiga detik, lalu menyala kembali dengan suara yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Keluarga itu sudah menyerah.

Ayah membiarkannya menyala sepanjang malam. Ibu tidur dengan bantal menutup kepala. Anak pertama pindah ke kota lain. Anak kedua belajar hidup dengan dengungan konstan yang kini terasa seperti detak jantung kedua.

Tapi masalah sebenarnya bukan pada suaranya.

Masalahnya adalah: radio itu kadang berbicara.

Bukan menyiarkan berita atau lagu. Radio itu berbicara dengan suara yang tidak pernah sama dua kali. Kadang suara anak kecil, kadang suara orang tua, kadang suara yang terdengar seperti suara seseorang yang sedang tenggelam di dalam sumur. Dan apa yang diucapkannya selalu berupa pernyataan yang hampir benar—tentang masa depan, tentang masa lalu, tentang rahasia yang belum terungkap.

Dua minggu lalu, radio itu berkata dengan suara perempuan paruh baya: "Pompa air di belakang rumah akan macet besok pagi pukul setengah tujuh."

Besok paginya, pompa air macet pukul setengah tujuh.

Seminggu lalu, radio itu berkata dengan suara serak: "Kucing belang di atap tetangga sebenarnya sudah mati tiga hari lalu. Yang kalian lihat adalah bayangannya."

Kucing itu memang tidak pernah terlihat lagi setelah itu.

Tiga hari lalu, radio itu berkata dengan suara yang terdengar persis seperti suara Ibu—tapi Ibu sedang tidur di kamar: "Ayah akan meninggal Kamis depan jam makan malam."

Sekarang hari Kamis. Jam menunjukkan pukul enam sore. Ayah sedang duduk di kursi favoritnya, membaca koran yang sama sejak pagi karena dia terlalu takut untuk beranjak. Ibu menggenggam tangannya. Anak kedua—namanya Amir, laki-laki dua puluh tahun yang belum lulus kuliah—berdiri di depan radio itu, jari telunjuknya mengarah ke tombol power, meskipun dia tahu itu tidak akan berguna.

Dan radio itu, seperti biasa, menyala.

Tapi hari ini tidak mengeluarkan suara.

Hanya lampu indikatornya yang berkedip-kedip pelan, seperti mata yang sedang berpikir.

---

BAGIAN SATU: SEBELUM JAM MAKAN MALAM

Amir tidak percaya pada radio itu. Bukan karena dia rasional. Dia sudah terlalu sering melihat ramalan radio itu menjadi kenyataan. Tapi dia memilih untuk tidak percaya karena jika dia percaya, maka dia harus menerima bahwa Ayah akan mati dalam beberapa jam. Dan menerima itu, baginya, sama saja dengan membunuh Ayah sendiri dengan cara pasrah.

"Matikan radio itu," perintah Ayah. Suaranya datar. Seperti orang yang sudah pasrah tapi tidak mau terlihat pasrah.

"Tidak bisa, Yah. Tidak pernah bisa."

"Cabut kabelnya."

"Kabelnya tidak ada. Radio itu tidak pakai kabel. Tidak pakai baterai. Kami sudah coba masukkan ke dalam air, ke dalam lemari besi, ke dalam tanah. Tetap menyala."

Ayah meletakkan korannya. Dia menatap radio itu. Radio itu berkedip-kedip balik.

"Kalau begitu," kata Ayah, "kita tunggu."

Ibu menangis pelan. Tangannya menggenggam erat lengan Ayah. Kukunya hampir menembus kain kemeja.

Amir berjalan mendekati radio itu. Dia membungkuk. Dia berbisik, nyaris tak terdengar: "Kenapa kau melakukan ini?"

Radio itu tidak menjawab.

Tapi lampu indikatornya berubah warna dari merah menjadi biru. Lalu menjadi hijau. Lalu menjadi ungu. Lalu menjadi bening—seperti cahaya yang tidak punya warna.

Dan untuk pertama kalinya, Amir melihat ada sesuatu di balik kisi-kisi pengeras suara radio itu. Bukan komponen elektronik. Bukan kumparan kawat. Tapi sebuah mata. Mata manusia. Mata yang tidak berkedip. Mata yang menatap langsung ke arah Amir.

"Bukan aku yang melakukan ini," suara dari radio itu akhirnya keluar. Suara kali ini adalah suara Amir sendiri—tapi Amir yang lebih muda, mungkin umur lima tahun, ketika dia masih percaya pada peri dan monster di bawah tempat tidur. "Kalian yang melakukan ini pada diri kalian sendiri."

Amir mundur selangkah.

"Apa maksudmu?"

Radio itu tidak menjawab. Lampunya berkedip tiga kali, lalu padam—tidak mati, hanya berhenti berkedip. Diam. Senyap. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ruang keluarga itu sunyi.

Lalu jam dinding berdentang. Pukul setengah tujuh.

Tidak ada yang terjadi.

Ayah masih hidup. Ibu masih menangis. Pompa air tidak berbunyi. Kucing tetangga tidak mengeong.

"Kita selamat," bisik Ibu.

"Belum," kata radio itu, tiba-tiba, dengan suara yang paling aneh sejauh ini: suara yang terdengar seperti satu kata diucapkan oleh seribu orang berbeda di waktu yang sama. "Jam makan malam belum tiba."

---

BAGIAN KEDUA: TWIST DI DALAM TWIST

Pukul tujuh tepat, Ibu menyiapkan meja makan. Bukan karena dia tidak takut. Tapi karena dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Ayah duduk di kursinya, pucat, tapi tetap mengambil sendok dan menyendok nasi ke piringnya sendiri.

Amir duduk di hadapan Ayah. Dia tidak sanggup makan.

Radio itu menyala dengan volume paling rendah, hampir berbisik. Tapi semua orang bisa mendengarnya karena ruangan itu sunyi seperti kuburan.

"Kalian ingin tahu kenapa radio ini tidak pernah bisa mati?" tanya radio itu. Suaranya sekarang netral. Tanpa emosi. Seperti komputer yang membacakan manual instruksi.

Tidak ada yang menjawab.

"Karena radio ini bukan radio. Radio ini adalah ingatan. Bukan ingatan salah satu dari kalian. Tapi ingatan tentang keluarga ini. Semua yang pernah terjadi, semua yang pernah dikatakan, semua yang pernah disembunyikan—direkam di sini. Dan selama masih ada yang mengingat, radio ini akan tetap menyala."

Amir meletakkan sendoknya. "Jadi kalau kami semua lupa, radio itu mati?"

"Tidak. Karena kalian tidak bisa lupa. Mencoba melupakan adalah bentuk mengingat juga."

Ayah tiba-tiba tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa getir. Tawa orang yang sudah lelah berpura-pura tidak tahu.

"Dulu," kata Ayah, "aku yang membuat radio ini."

Ibu menoleh cepat. "Apa?"

"Tiga puluh tahun lalu. Aku masih muda. Aku seorang teknisi radio. Aku membuat radio ini untuk ibumu—nenek kalian. Dia sedang sekarat. Dia minta aku membuatkan radio yang bisa menyuarakan kenangan kita berdua. Tapi aku bodoh. Aku membuat radio yang merekam semua kenangan. Termasuk kenangan yang tidak seharusnya diingat. Termasuk kenangan tentang—"

Ayah berhenti. Mulutnya terbuka, tapi suaranya tidak keluar.

Radio itu menyelesaikan kalimatnya: "—kenangan tentang selingkuhannya Ayah dengan bibimu."

Diam. Sangat diam.

Ibu menatap Ayah. Matanya tidak marah. Matanya kosong. Kosong seperti ruangan yang baru saja dirampok.

"Kau selingkuh dengan adik perempuanku?"

Ayah tidak menjawab. Dia hanya menatap radio itu. Radio itu balik menatapnya dengan lampu indikator yang berkedip pelan—seperti mata yang sedang menunggu.

"Bukan selingkuh," kata radio itu. "Pemerkosaan. Ayah memerkosa bibimu saat dia berumur lima belas tahun. Bibimu hamil. Dia melahirkan. Anak itu—"

"JANGAN!" teriak Ayah.

Tapi radio itu tidak peduli. Radio itu melanjutkan: "—anak itu adalah kakak tiri Amir. Perempuan. Namanya Salma. Dia sekarang tinggal di kota yang sama dengan kakak pertama kalian. Dia bekerja sebagai perawat panti jompo. Dia tidak tahu bahwa Ayah adalah ayah kandungnya. Tapi bibimu tahu. Bibimu tidak pernah bicara karena takut. Dan radio ini tahu segalanya."

Amir muntah di piringnya.

Ibu berdiri. Perlahan. Seperti mayat yang bangkit dari kubur. Dia berjalan ke dapur. Mengambil pisau daging. Mengambil talenan. Lalu dia berjalan kembali ke ruang makan, meletakkan pisau itu di meja, tepat di hadapan Ayah.

"Kau tahu," kata Ibu. Suaranya datar. "Selama tiga puluh tahun, aku bertanya-tanya kenapa radio ini tidak pernah bisa mati. Aku pikir itu kutukan. Ternyata itu ingatanmu. Dan ingatanmu tidak bisa mati karena kau tidak pernah mengaku."

Ayah menatap pisau itu. Lalu menatap Ibu. Lalu menatap Amir.

"Kau ingin aku bunuh diri?" tanya Ayah.

"Aku ingin radio itu mati," jawab Ibu.

---

BAGIAN KETIGA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST

Amir meraih pisau itu sebelum Ayah sempat menyentuhnya. Dia meletakkan pisau di pangkuannya. Dia berdiri. Dia berjalan ke radio itu.

"Radio ini tidak akan mati selama ingatan itu masih ada," kata Amir. "Tapi ingatan itu bukan hanya ingatan Ayah. Ingatan itu juga ingatan Ibu yang diam saja selama tiga puluh tahun. Ingatan itu juga ingatanku yang tidak pernah bertanya kenapa bibiku tidak pernah datang ke rumah lagi sejak aku kecil."

Dia menatap radio itu. Lampu indikatornya sekarang berwarna merah darah.

"Jadi kalau kita semua mati, radio itu mati?" tanya Amir.

"Tidak perlu mati," kata radio itu dengan suara yang tiba-tiba menjadi suara seorang anak perempuan—mungkin Salma, mungkin bukan. "Cukup maafkan."

Amir tertawa pahit. "Maafkan? Atas pemerkosaan? Atas keheningan tiga puluh tahun? Atas kebohongan yang terus dipelihara setiap kali kami duduk di meja makan ini?"

"Bukan memaafkan perbuatannya," radio itu menjawab. "Memaafkan diri kalian sendiri karena tidak pernah cukup berani untuk berbicara. Selama tiga puluh tahun, kalian semua tahu ada yang tidak beres. Ibu tahu ada yang tidak beres dengan senyum bibimu yang terlalu pucat. Ayah tahu ada yang tidak beres dengan radio yang tidak bisa mati. Amir tahu ada yang tidak beres dengan namanya yang tidak pernah disebut siapa pun di keluarga ini. Tapi kalian diam. Dan diam kalian adalah memori yang paling keras. Itu yang radio ini rekam."

Amir memegang radio itu. Panas. Bukan panas listrik. Panas seperti kulit manusia yang sedang demam.

"Kalau kami bicara sekarang?"

"Radio ini akan mati. Karena ingatan yang diucapkan bukan lagi ingatan yang mengendap. Ingatan yang diucapkan adalah cerita. Dan cerita bisa berakhir."

Amir menoleh ke Ibu. Ibu masih berdiri di samping meja, tangan kosong, pisau sudah diambil Amir. Matanya berkaca-kaca.

"Bu, ayo kita bicara."

Ibu menggeleng. "Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena jika aku bicara, aku harus mengakui bahwa aku tahu. Selama tiga puluh tahun, aku tahu bahwa Ayah-mu memperkosa adikku. Aku tahu. Dan aku diam. Karena jika aku tidak diam, aku harus memilih antara suamiku dan adikku. Aku memilih suamiku. Dan itu berarti aku memilih untuk menjadi orang yang buruk."

Radio itu berdetak. Bunyi tik-tik-tik seperti jam tangan yang berdetak terlalu cepat.

"Itu benar," kata radio itu. "Ibu memilih. Dan pilihan itu tercatat di sini, seperti luka yang sengaja tidak diobati agar bisa mengingat."

Ayah, yang selama ini diam, tiba-tiba berbicara. Suaranya kecil. Suara orang yang baru pertama kali menangis setelah tiga puluh tahun.

"Aku... aku minta maaf."

"Terlalu mudah," kata Ibu.

"Aku tahu. Tapi itu yang bisa aku katakan sekarang. Maaf."

Radio itu berkedip-kedip cepat. Lampunya berganti warna seperti disko—merah, biru, hijau, ungu, putih, hitam.

"Satu maaf tidak cukup," kata radio itu. "Tiga puluh tahun kebohongan tidak bisa dibayar dengan satu kata. Tapi kalian bisa memulai."

---

BAGIAN KEEMPAT: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT

Amir mengambil keputusan yang tidak diduga siapa pun.

Dia mengambil radio itu. Dia berjalan ke pintu belakang. Dia berjalan ke sumur tua di belakang rumah—sumur yang sudah kering sejak dua puluh tahun lalu.

"Apa yang kau lakukan, Mir?" teriak Ibu.

"Mengakhiri ini dengan caraku."

Amir melemparkan radio itu ke dalam sumur.

Radio itu jatuh. Lampu indikatornya menyala terang di dalam gelap. Lalu terdengar suara—bukan dari radio, tapi dari dasar sumur. Suara seribu orang bicara bersamaan. Suara yang mengenakan.

"KAU TIDAK BISA MEMBUANG INGATAN, AMIR. INGATAN ADA DI DALAM KEPALAMU, BUKAN DI DALAM RADIO."

Amir berteriak ke dalam sumur: "MAKA HANCURKAN KEPALAKU JUGA!"

Dia mengambil batu besar. Batu itu berat. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia akan membantingkan batu itu ke kepalanya sendiri—

Tapi Ayah menahan tangannya dari belakang. Ayah memeluknya. Ayah yang tidak pernah memeluk siapa pun sejak Amir kecil, tiba-tiba memeluknya erat-erat.

"Jangan," bisik Ayah. "Bukan kau yang harus mati. Aku."

Ayah melepaskan pelukan. Dia berjalan ke sumur. Dia melihat ke dalam. Radio itu masih menyala di dasar, berkedip-kedip seperti jantung yang berdegup kencang.

"Radio ini adalah ingatanku," kata Ayah. "Aku yang memulainya. Aku yang harus mengakhirinya."

Dia melompat.

Ibu berteriak. Amir meraih pinggang Ayah tapi terlambat. Ayah jatuh ke dalam sumur. Tidak ada suara benturan. Tidak ada suara tulang patah. Hanya suara radio itu yang tiba-tiba berubah menjadi suara manusia—suara Ayah saat masih muda, saat pertama kali menyalakan radio itu tiga puluh tahun lalu.

"Untukmu, Ibu. Agar kau tidak pernah lupa."

Lalu diam.

Lalu lampu indikator radio itu padam.

Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, radio itu benar-benar mati.

Amir dan Ibu menunduk ke dalam sumur. Ayah tidak ada di sana. Radio tidak ada di sana. Sumur itu kosong. Kering. Gelap. Seperti tidak pernah ada yang jatuh ke dalamnya.

"Ayah... hilang?"

Ibu tidak menjawab. Dia menangis. Dia jatuh berlutut di tepi sumur. Tangannya meraba tanah kering. Lalu dia menemukan sesuatu: sebuah foto usang, menguning, dengan pinggiran robek.

Foto itu menunjukkan Ayah dan bibimu. Bibimu masih muda—mungkin lima belas tahun. Ayah masih tampan—mungkin dua puluh lima tahun. Tapi yang aneh: di foto itu, Ayah tidak tersenyum. Dia menatap kamera dengan mata ketakutan. Dan bibimu—dia menangis. Dia memegang perutnya yang sedikit membuncit.

Di belakang foto itu, tertulis dengan tinta biru yang hampir pudar:

"Maafkan aku. Aku akan mati sebelum radio itu mati. Agar kalian bisa hidup tanpa ingatan."

Ibu meremas foto itu. Lalu dia merobeknya menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Lalu dia menghamburkan kertas-kertas kecil itu ke dalam sumur.

"Kita tidak akan pernah melupakan ini," kata Ibu. "Tapi setidaknya kita tidak perlu mendengarnya setiap malam."

---

BAGIAN KELIMA: PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM PLOT DI DALAM TWIST DI DALAM PLOT—PENUTUP

Dua minggu kemudian, Amir menemukan sesuatu di kamar Ayah.

Sebuah radio.

Radio yang sama. Model yang sama. Tapi masih baru—masih terbungkus plastik, masih ada stiker harga dari toko elektronik yang tutup dua puluh tahun lalu.

Amir membuka bungkusannya. Dia menyalakan radio itu. Suara keluar jernih. Sebuah stasiun musik. Lagu lama. Tidak ada suara aneh. Tidak ada ramalan. Tidak ada mata di balik kisi-kisi pengeras suara.

Dia mematikan radio itu. Mati. Dia menyalakan lagi. Hidup. Dia mematikan lagi. Mati.

Normal.

Dia membawa radio itu ke Ibu.

"Bu, Ayah menyimpan radio baru di lemari. Mungkin dia membelinya sebelum dia... menghilang."

Ibu mengambil radio itu. Diamelirik. Lalu dia tersenyum—senyum kecil, nyaris tidak terlihat.

"Dulu," kata Ibu, "Ayah membeli radio ini untuk hadiah pernikahan kami. Tapi dia tidak pernah memberikannya. Dia lebih memilih memberikan radio yang dia buat sendiri—radio yang merekam ingatan, bukan menyiarkan lagu."

Amir menatap radio itu. Lalu menatap Ibu.

"Apa aku harus membuang radio ini?"

Ibu menggeleng. "Jangan. Nyalakan. Dengar lagu. Biarkan rumah ini punya suara yang bukan suara ketakutan."

Amir menyalakan radio itu. Sebuah lagu pop lawas mengalun pelan. Ibu duduk di kursi Ayah. Amir duduk di kursinya. Mereka tidak bicara. Mereka hanya mendengarkan.

Radio itu terus menyala.

Tapi kali ini, ketika Amir menekan tombol power, radio itu mati.

Benar-benar mati.

Dan untuk pertama kalinya, keluarga itu tidur dalam keheningan yang tidak membuat mereka takut.

Di dasar sumur tua di belakang rumah, sisa-sisa foto yang disobek Ibu berkumpul menjadi satu lagi—menyatu, seperti puzzle yang menyusun dirinya sendiri. Foto itu utuh kembali. Ayah dan bibimu masih di sana. Bibimu masih menangis. Ayah masih ketakutan.

Tapi di sudut foto itu, sekarang ada tulisan baru, dengan tinta yang masih basah:

"Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan berarti ingatan itu tidak lagi menyakiti."

Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya.

Tapi malam itu, bibimu—yang tinggal di kota yang sama dengan kakak pertama Amir—bermimpi tentang seorang laki-laki tua yang jatuh ke dalam sumur. Dalam mimpinya, laki-laki itu berkata, "Maaf." Dan bibimu, dalam mimpinya, menjawab, "Maaf juga."

Bukan karena dia memaafkan.

Tapi karena dia lelah menyimpan marah yang tidak pernah didengar.

Dan kadang, di dunia yang penuh dengan radio yang tidak bisa mati, melepas marah adalah satu-satunya cara untuk menekan tombol power.

---

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI