RAWI YANG LUPA CARANYA MATI

Rawi sudah mati tiga kali minggu ini, dan dia mulai bosan.

Pertama, hari Senin: dia tersambar petir saat berdiri di balkon apartemen lantai 12. Langit cerah. Tidak ada awan. Namun petir tetap datang, biru menyala, membakar dadanya hingga bolong seperti donat. Dia jatuh. Lalu bangun. Lalu melanjutkan menyeduh kopi.

Kedua, hari Rabu: dia ditabrak bus kota bernomor 14B di perempatan Jalan Hasanuddin. Tubuhnya terseret tujuh meter. Kepala terlepas, berguling ke selokan, menatap seekor kucing yang sedang buang air kecil. Kucing itu lari. Rawi memasang kembali kepalanya—agak terbalik, lehernya bunyi krek-krek—lalu berjalan pulang.

Ketiga, hari ini. Jumat. Dia tenggelam di bak mandi. Padahal airnya hanya setinggi pergelangan kaki. Akan tetapi, tetap tenggelam. Matanya merah menahan air sabun. Paru-parunya terisi busa. Lalu dia batuk, bangun, dan menyadari bahwa kematian telah kehilangan minat terhadapnya.

Masalahnya bukan pada kematian.

Masalahnya adalah setiap kali Rawi mati, orang yang paling dekat dengannya saat itu ikut mati—dan tidak pernah bangun.

Petir Senin itu menyambar Rawi, tetapi ibunya yang ada di dapur—jauh dari balkon, tidak terkena sambaran apa pun—tiba-tiba berhenti bernapas. Wajahnya biru. Dokter bilang serangan jantung mendadak. Namun Rawi tahu. Rawi tahu karena dia melihat bayangan ibunya melayang di atas tubuhnya sendiri sebelum menghilang seperti asap rokok di angin.

Rabu, bus 14B menabrak Rawi. Tiga detik kemudian, tetangga kamar sebelah—seorang pensiunan guru yang sedang merebus sayur untuk makan malam—jatuh tertelungkup di atas kompor. Wajahnya menempel di panci mendidih. Tidak ada yang mendengar jeritan. Karena dia mati sebelum sempat menjerit.

Dan hari ini, Jumat, setelah Rawi bangun dari bak mandi dengan rambut basah dan dada yang terasa aneh kosong, dia mendengar ponselnya berdering. Suara adik perempuannya, Lala, dari ujung sana:

"Kak ... mama baru saja meninggal."

"Sudah," kata Rawi. "Aku tahu."

"Tidak, Kak. Mama yang lain. Mama tiri kita. Yang di Bandung. Dia meninggal tiga menit yang lalu. Jatuh dari tangga padahal lagi duduk di kursi."

Rawi menutup telepon.

Dia melihat ke cermin. Wajahnya biasa saja. Hidung biasa. Bibir biasa. Mata seperti dua buah zaitun yang terlalu lama direndam air garam.

"Jadi," katanya pada pantulan, "kamu membunuh siapa pun yang mencintaimu?"

Pantulan itu menggeleng.

Namun Rawi tidak yakin pantulan itu berbicara jujur.

---

Rawi memutuskan untuk tidak mati lagi.

Bukan karena dia takut mati, melainkan karena dia takut dengan siapa yang akan ikut mati bersamanya. Dia mengunci diri di kamar. Tidak keluar. Tidak makan. Tidak minum. Hanya duduk di ranjang, menatap dinding, dan mendengarkan detak jantungnya sendiri—yang berdetak seperti jarum jam yang sadar bahwa waktu hanya lelucon buruk.

Hari pertama, dia tidak mati. Akan tetapi, tetangga seberang, seorang janda tua yang setiap pagi menyapanya dengan senyum ompong, meninggal dalam tidurnya. Tidak ada sebab. Hanya berhenti.

Hari kedua, Rawi memasang bantal di sekujur tubuhnya. Tidak membantu. Pembantu rumah tangga yang datang seminggu sekali—seorang perempuan bernama Minah yang hanya tahu Rawi dari foto di dinding—meninggal karena tersedak kerupuk. Di rumahnya. Di desa. Dua puluh kilometer dari apartemen Rawi.

Hari ketiga, Rawi keluar kamar. Dia pergi ke tengah hutan. Tidak ada orang. Hanya pohon, tanah, dan semut. Dia duduk di bawah pohon beringin, mengambil pisau dari sakunya, lalu menusuk lehernya sendiri.

Darah memancar. Seperti air mancur di taman kota yang lama terbiar. Dia pingsan.

Lalu bangun.

Kemudian dia mendengar suara tangisan. Dia buka ponsel. Dua puluh pemberitahuan berita:

"Pesawat Sriwijaya Air tergelincir di landasan, 187 penumpang tewas seketika."

Waktu kejadian: persis ketika pisau Rawi menusuk lehernya.

Rawi melempar ponselnya ke sungai.

"Jadi, bukan hanya yang dekat," bisiknya, "melainkan juga semua orang. Semua manusia yang kebetulan hidup di saat yang sama dengan kematianku. Mati. Semua."

Dia terdiam. Lalu dia tertawa. Tawanya pecah seperti kaca yang jatuh dari lantai sepuluh.

"Kalau begitu, satu-satunya cara untuk berhenti membunuh adalah berhenti mati. Akan tetapi, bagaimana cara berhenti mati, kalau aku sudah lupa caranya hidup?"

---

Pada malam hari ketiga, seseorang mengetuk pintu rumah di tengah hutan itu. Bukan rumah—gubuk tua tempat pemburu babi hutan dulu beristirahat. Rawi membuka pintu.

Seorang perempuan berdiri di sana. Jubah hitam. Wajahnya putih seperti porselen yang tidak pernah terkena sinar matahari. Di tangannya, sebuah jam pasir—tetapi pasirnya tidak jatuh ke bawah. Pasirnya jatuh ke atas.

"Halo, Rawi," katanya. "Aku Maut. Bukan metafora. Bukan simbol. Bukan jembatan menuju sesuatu yang lebih dalam. Aku Maut. Kerjaku mengambil nyawa. Namun kamu—kamu membuatku menganggur."

"Kerjamu mengambil nyawa? Bukannya setiap kali aku mati, semua orang di sekitarku mati tanpa sebab?"

"Itu karena kamu mencuri kematian mereka," kata Maut. Dia masuk tanpa diundang. Duduk di kursi bambu yang berbunyi krek-krek seperti tulang remuk. "Setiap manusia punya jatah mati sekali. Akan tetapi kamu, Rawi, kamu lahir dengan lubang di tempat seharusnya takdir berada. Kamu tidak punya jatah mati. Jadi, ketika kamu 'mati', alam semesta bingung. Alam semesta tidak tahu harus mengambil nyawa siapa. Dan karena panik, dia mengambil nyawa semua orang yang terhubung denganmu secara emosional—plus beberapa ribu orang asing sebagai bonus."

"Jadi, aku seperti ... pusat gempa kematian?"

"Kamu seperti virus yang membuat sistem operasi alam semesta crash. Dan aku, Maut, adalah admin IT yang tidak dibayar lembur."

Rawi memejamkan mata. "Bisa tidak kamu sembuhkan aku?"

Maut diam. Jam pasir di tangannya berhenti. Pasir yang tadinya jatuh ke atas sekarang melayang di tengah, seperti seribu titik cahaya yang tidak tahu harus ke mana.

"Aku bisa," kata Maut pelan. "Namun, kamu tidak akan suka caranya."

---

"Aku ibumu," kata Maut.

Rawi tertawa lagi. Tertawanya kali ini terdengar seperti kertas robek. "Apa?"

"Dulu, sebelum kamu lahir, aku adalah perempuan biasa. Namaku Sulastri. Aku hamil dengan seorang pria yang mati sebelum tahu aku hamil. Lalu aku mati saat melahirkanmu. Akan tetapi, karena perut waktu itu sedang tidak stabil—ada perang, ada kelaparan, ada terlalu banyak kematian dalam satu waktu—aku tidak jadi mati sepenuhnya. Aku berubah. Menjadi ini. Menjadi Maut."

"Jadi, kau ...."

"Dan kamu, Anakku, kamu lahir dari perempuan yang sudah setengah mati. Kamu tidak mewarisi darah. Kamu mewarisi keadaan. Kamu lahir sebagai manusia yang separuh nyawanya sudah berada di luar sistem. Kamu tidak bisa mati karena kamu belum pernah hidup sepenuhnya. Dan setiap kali kamu mencoba mati, alam semesta mengira yang mati adalah ibumu—dan ibumu sekarang adalah konsep, bukan orang. Konsep tidak bisa mati, tetapi dia bisa membunuh orang lain sebagai gantinya."

Rawi menatap Maut. Wajah putih porselen itu tiba-tiba tampak familier. Bentuk hidungnya. Lengkung alisnya. Sama persis dengan foto ibu yang terbakar petir Senin lalu.

"Ibu ... mati karena aku. Ibu yang di apartemen. Dia bukan ibu kandungku?"

"Dia ibu tirimu. Namun dia mencintaimu seperti anak sendiri. Dan ketika kamu mati tersambar petir, alam semesta mengambil nyawa siapa pun yang berani mencintai seperti ibu. Termasuk dia. Termasuk janda tua itu. Termasuk pensiunan guru yang setiap pagi mengirimimu nasi karena dia tidak punya siapa-siapa lagi."

"Jadi, semua orang yang baik kepadaku ...."

"Akan mati jika kamu mati. Itu hukum alam yang baru, Rawi. Dan hukum alam tidak peduli apakah kamu baik atau buruk. Hukum alam hanya peduli sebab-akibat. Kamu adalah sebab. Mereka adalah akibat."

---

"Namun ada cara lain," kata Maut. Jam pasirnya kembali berputar—pasir sekarang jatuh menyamping, seperti air terjun horizontal. "Kamu tidak bisa mati,  tetapi kamu bisa membuat orang lain mati tanpa harus mati sendiri. Setiap kali kamu membunuh seseorang dengan sengaja—bukan karena kecelakaan, bukan karena efek samping—maka satu lubang di takdirmu akan tertutup. Setelah kamu membunuh seribu orang, kamu akan menjadi manusia normal yang bisa mati sekali dan selesai."

Rawi membuka mata. "Kamu meminta aku menjadi pembunuh massal?"

"Aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya memberi tahu pilihan. Pilihan lain: kamu hidup selamanya, dan setiap tiga hari sekali ada bencana massal karena alam semesta masih panik dengan keberadaanmu. Pilihan ada di tanganmu. Tangan yang sama yang memegang pisau saat seratus delapan puluh tujuh orang mati di pesawat."

Rawi bangkit. Dia berjalan ke luar gubuk. Malam itu gelap. Tidak ada bintang. Seperti langit sedang sakit kepala dan memejamkan mata.

"Aku tidak akan membunuh siapa pun," katanya.

"Kamu sudah membunuh," kata Maut dari dalam gubuk. "Kamu hanya tidak sengaja. Dan ketidaksengajaan adalah bentuk kejujuran yang paling kejam. Karena kamu tidak perlu bertanggung jawab, tetapi korbannya tetap mati."

---

Rawi mengambil pisau dari sakunya. Akan tetapi, dia tidak menusuk lehernya sendiri. Dia memotong perutnya. Bukan untuk bunuh diri—melainkan untuk mengeluarkan sesuatu.

Dari dalam perutnya, keluar cahaya. Bukan cahaya biasa. Cahaya yang hangat. Seperti matahari yang lupa cara membakar dunia. Seperti pelukan yang tidak butuh alasan.

"Apa itu?" Maut berdiri di ambang pintu. Wajah porselennya retak. Satu garis tipis dari dahi ke dagu.

"Ini hidup," kata Rawi. Suaranya anehnya tenang. "Bukan hidupku, melainkan hidup yang seharusnya kumiliki sejak awal. Yang kau curi saat kau melahirkanku dalam keadaan setengah mati. Kau bilang kau ibuku? Kalau begitu, kembalikan apa yang kau ambil."

"Aku tidak bisa. Itu sudah jadi bagian dari sistem."

"Kalau begitu, sistemnya yang rusak. Dan aku akan memperbaikinya dengan cara paling bodoh."

Rawi memasukkan tangannya ke cahaya di perutnya. Dia menarik. Dan menarik. Dan menarik. Sampai keluar—bukan usus, bukan darah—melainkan bayangan. Bayangan seorang bayi. Bayangan Rawi saat baru lahir. Bayangan yang menangis tanpa suara karena mulutnya tidak terbentuk sempurna.

"Ambil dia," kata Rawi kepada Maut. "Dia jatah matiku yang hilang. Biarkan dia mati sekali. Cukup sekali. Lalu aku bisa hidup seperti manusia normal."

Maut menatap bayi itu. Jam pasir di tangannya bergetar. Pasir mulai berjatuhan ke segala arah—atas, bawah, samping, diagonal.

"Itu tidak mungkin," bisik Maut. "Kamu tidak bisa memisahkan dirimu dari kematianmu sendiri."

"Aku sudah memisahkannya. Lihat."

Rawi berdiri. Perutnya masih terbuka, tetapi tidak ada darah. Hanya kekosongan. Kekosongan yang bersih. Seperti kamar yang baru saja dibersihkan dari semua kenangan.

Bayi itu merangkak ke arah Maut. Dan ketika Maut menggendongnya, bayi itu tersenyum. Lalu mati. Jantungnya berhenti. Tubuhnya membeku. Lalu berubah menjadi debu yang beterbangan tertiup angin malam.

Maut menjerit. Bukan jeritan sakit. Jeritan lega. Seperti orang yang sudah lama memegang barang curian dan akhirnya bisa melepaskannya.

"Selesai," kata Maut. Tubuhnya mulai transparan. "Kamu sudah punya jatah mati sekarang. Kamu bisa mati suatu hari nanti. Akan tetapi ... aku harus pergi."

"Ke mana?"

"Menjadi ibu lagi. Di kehidupan lain. Di tubuh lain. Dengan anak yang tidak cacat seperti ini."

Maut tersenyum. Wajah porselennya retak seluruhnya, pecah, dan di balik pecahan itu ada wajah perempuan biasa. Berkeringat. Lelah. Namun bahagia.

"Sampai jumpa, Nak. Kali ini, aku akan menjadi ibu yang pulang."

Lalu dia menghilang.

---

Rawi duduk di tanah hutan. Perutnya perlahan menutup sendiri seperti ritsleting yang ditarik dari dalam. Tidak sakit. Hanya geli.

Dia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam.

Tidak ada yang mati.

Dia berdiri. Berjalan keluar hutan. Menuju kota. Menyapa seorang petani yang sedang membawa cangkul. Petani itu menyapa balik, lalu melanjutkan berjalan.

Tidak ada yang mati.

Rawi tersenyum. Senyum pertama yang jujur dalam tiga puluh tahun hidupnya.

"Dunia," katanya pada langit yang mulai terang, "kita mulai lagi. Kali ini, aku janji tidak akan mati dulu sebelum waktunya."

Dia berjalan. Merasakan tanah di bawah telapak kaki. Merasakan angin yang membelai wajah. Merasakan detak jantung yang berdetak normal—bukan seperti jarum jam sadar, melainkan seperti jarum jam yang bahagia karena bisa berputar tanpa rasa bersalah.

---

Di tengah perjalanan, Rawi berhenti. Dia mengeluarkan ponselnya—ponsel baru karena ponsel lamanya dia lempar ke sungai. Layar menyala.

Satu notifikasi.

"Gempa bumi berkekuatan 7,2 SR mengguncang kota kecil di selatan. Tiga puluh tujuh orang dikabarkan tewas. Waktu kejadian: sekitar satu jam yang lalu."

Satu jam yang lalu. Persis ketika Rawi mengeluarkan bayi dari perutnya. Persis ketika Maut mengambil bayi itu.

Bukan saat Rawi mati, melainkan saat Rawi sembuh.

Rawi menatap ponsel. Lalu menatap tangannya. Lalu menatap langit yang pagi itu cerah, biru, dan tidak bersalah.

"Kau tidak pernah melepaskanku, ya?" bisiknya kepada langit. "Kau hanya mengganti caranya."

Langit tidak menjawab.

Namun Rawi bisa merasakannya: di dalam dadanya yang sekarang normal berdetak, ada sesuatu yang dingin. Sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang akan membuatnya terus berjalan, terus mencari, terus mati dan hidup bergantian tanpa pernah benar-benar berhenti.

Dia berjalan lagi.

Di belakangnya, bayangan Rawi tidak mengikuti. Bayangan itu tetap di tanah hutan, duduk di samping gubuk, menatap kepergian Rawi dengan mata tanpa putih.

Dan bayangan itu berkata, pelan:

"Pergilah. Aku akan di sini. Menjaga pintu. Menyambutmu pulang ketika kau sadar bahwa kematian bukanlah musuh. Kematian hanyalah istri yang tidak kamu ajak bicara selama dua puluh tahun."

Rawi tidak mendengar.

Atau mungkin dia mendengar, tetapi memilih untuk melanjutkan berjalan.

Karena itu yang dilakukan manusia, bukan? Berjalan. Jatuh. Bangun. Lalu berjalan lagi, berpura-pura bahwa langkah selanjutnya akan berbeda.

Di kejauhan, Maut—yang sekarang berwujud perempuan biasa dengan keranjang sayur di pasar—tersenyum. Dia tidak ingat apa pun. Namun tangannya, tanpa sadar, memegang perutnya yang kosong.

Dan di perut itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kematian, tumbuh kehidupan baru.

Bukan bayi, melainkan pertanyaan.

Pertanyaan yang sama yang akan diwariskan dari manusia ke manusia, dari kematian ke kelahiran, dari Rawi ke Rawi lain di waktu yang berbeda:

"Apa yang lebih menakutkan dari kematian? Hidup tanpa pernah benar-benar hidup."

Rawi berjalan.

Dan cerita ini, seperti Rawi, tidak pernah benar-benar selesai.

Hanya berhenti.

Lalu menunggu.

Lalu berbisik kepada pembaca yang sedang membaca cerita ini:

"Kamu juga, ya? Kamu juga punya lubang di takdirmu. Kamu pikir tidak? Coba lihat ke belakang. Lihat siapa yang mati saat kamu lahir. Lalu lihat ke cermin. Tanyakan pada pantulanmu siapa sebenarnya yang berdiri di sana."

Pantulanmu tidak akan menjawab. Pantulanmu tidak perlu menjawab.

Karena kau sudah tahu jawabannya sejak pertama kali kau bertanya.

Dan jawaban itu adalah:

"Tidak ada yang benar-benar mati. Yang ada hanya Rawi yang lupa caranya hidup."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI