RENDEZVOUS

Aku tidak pernah tahu bahwa sebuah kata bisa seberat itu sampai lidahku patah menahannya.

Hari itu, di ruang ICU yang dingin seperti kulkas, Bapak membuka mata untuk terakhir kalinya. Aku berdiri di samping tempat tidurnya. Tangan Bapak meraba-raba, mencari tanganku. Akan tetapi aku—aku mundur selangkah. Karena ada sesuatu di tenggorokanku yang lebih tajam dari jarum infus, dan mulutku menjadi kotak pos di hari libur nasional—penuh amplop, penuh surat yang belum sempat kusortir, penuh kata "maaf" yang prangkonya bergambar wajah Bapak, tetapi matanya sudah menatap ke arah lain, ke arah pintu, ke arah lorong yang tidak pernah ada sebelumnya.

"Pak ...," bisikku.

Namun Bapak sudah pergi. EKG meratap datar. Perawat berhamburan. Dan aku—aku hanya berdiri di sudut ruangan, mulutku terbuka setengah, kata-kata yang tersisa hanya tinggal gigil di ujung bibir.

Aku ingin mengejar.

Namun lorong rumah sakit ini—lorong yang biasa kulalui setiap hari selama sebulan Bapak dirawat—tiba-tiba melingkar. Setiap pintu yang kubuka membawaku kembali ke ruang ICU yang sama, ke tempat tidur yang sama, ke jasad Bapak yang mulai dingin, ke jam dinding yang jarumnya berdetak ke arah belakang. Detik demi detik, Bapak kembali muda, kembali sehat, kembali ke hari-hari ketika dia masih bisa marah kepadaku, dan aku masih bisa membantah.

Mulutku retak memanggil. "Pak ... maaf ... belum sempat kusampaikan."

Namun suaraku jatuh ke lantai seperti kaca pecah, dan perawat-perawat itu berjalan melewatinya tanpa mendengar.

---

Tiga hari kemudian, aku menerima surat.

Bukan surat biasa. Surat itu datang dalam amplop cokelat, tanpa prangko, tanpa alamat pengirim. Hanya namaku di depan, ditulis dengan tangan yang aku kenal betul—tangan Bapak.

Isinya satu kalimat:

"Aku menunggumu di lorong. Bawa maafmu. Akan tetapi, jangan datang jika kau belum siap kehilangan namamu."

Aku tertawa miris. Bapak sudah mati. Surat apa ini? Namun di bawah meja, kakiku tanpa sadar bergerak ke pintu dapur. Dan di balik pintu dapur—yang sedetik sebelumnya hanya menuju halaman belakang—kini menganga sebuah lorong. Panjang. Gelap. Dengan ujung yang berkedip seperti lampu neon putus.

Aku masuk.

Lorong itu terbuat dari kenangan. Setiap langkahku, dindingnya berubah menjadi adegan-adegan lama: Bapak mengajariku mengayuh sepeda, Bapak marah karena aku merokok di belakang sekolah, Bapak diam ketika aku memilih tidak melanjutkan kuliah, Bapak menangis di pemakaman Ibu—tetapi dia membalikkan badannya agar aku tidak melihat.

Di ujung lorong, Bapak duduk di kursi kayu tua. Membelakangi jam dinding besar yang jarumnya berdetak ke arah belakang. Kursi itu kursi favoritnya di ruang tamu. Yang biasa dia duduki sembari minum kopi pahit dan membaca koran tanpa kacamata karena dia tidak mau mengaku rabun.

Aku mendekat.

"Pak ... maaf."

"Maaf untuk apa?" Bapak tidak menoleh.

"Untuk ... semuanya. Untuk kata-kata kasar yang pernah kukatakan. Untuk jarak yang sengaja kubuat. Untuk ... untuk yang terakhir itu. Di ICU. Aku mundur. Aku takut. Aku tidak sempat menjabat tanganmu."

Diam.

Lalu Bapak tertawa. Tertawa kecil. Tertawa yang dulu selalu membuatku kesal karena kedengarannya meremehkan. Akan tetapi sekarang, di lorong ini, tawa itu terdengar seperti air mengalir.

"Nak," katanya akhirnya. "Kau pikir aku marah?"

"Bukankah Bapak selalu marah?"

"Sekarang balik."

Aku membalikkan badan. Dan di belakangku—bukan lorong yang tadi kulalui. Di belakangku adalah ruang ICU. Dengan tempat tidur kosong. Dengan selimut yang masih kusut. Dengan EKG yang sudah mati. Dan di samping tempat tidur itu, aku melihat diriku sendiri—aku yang masih berlutut menangis, aku yang mulutnya terus bergerak tetapi tidak mengeluarkan suara.

"Itu kau," kata Bapak dari belakangku. "Kau masih di sana, menyesali sesuatu yang tidak perlu kau sesali. Karena aku sudah memaafkanmu sejak kau lahir."

---

Aku berbalik lagi ke arah Bapak.

Namun, Bapak tidak lagi duduk di kursi.

Dia berdiri di depan jam dinding besar itu. Tangannya menyentuh kaca jam. Dan di bawah kaca, jarum-jarum jam tidak hanya berdetak mundur—mereka berputar seperti kincir angin, lalu berhenti di angka yang sama: pukul 03.47. Waktu ketika Bapak mengembuskan napas terakhir.

"Kau tahu," kata Bapak, "aku tidak mati di ICU."

"Maaf?"

"Tubuhku mati di sana. Namun aku—aku yang duduk di sini sekarang—aku adalah maaf yang tidak sempat kau ucapkan. Aku diciptakan dari penyesalanmu. Setiap malam kau tidur sambil memikirkan lorong rumah sakit itu, dan setiap malam kau memperpanjang aku di sini, di lorong ini, di kursi ini."

Aku terdiam.

"Jadi," lanjut Bapak, "jika kau memaafkan dirimu sendiri, aku akan hilang. Benar-benar hilang. Bukan mati—karena mati sudah kulalui, melainkan lenyap dari dunia kenanganmu. Dan kau tidak akan pernah bisa mengingat wajahku lagi."

Itu dilema yang tidak pernah kubayangkan.

Jika aku memaafkan diriku sendiri, Bapak akan hilang—bukan dari dunia, melainkan dari ingatanku. Dia akan menjadi hantu tanpa nama, tanpa wajah, tanpa suara. Namun jika aku terus menyesal, Bapak akan tetap duduk di kursi ini selamanya, membelakangi jam yang berdetak mundur, menunggu kata maaf yang tidak akan pernah cukup.

"Apa yang harus kulakukan, Pak?"

"Terserah kau. Aku hanya ciptaanmu."

---

Aku duduk di lantai lorong itu. Lantai yang dingin dan terasa seperti lantai rumah sakit. Aku memejamkan mata. Aku menarik napas panjang. Lalu aku membuka mata.

Dan aku melihat sesuatu yang tidak kulihat sebelumnya.

Di belakang Bapak, di dalam kaca jam dinding itu, ada ruangan lain. Sebuah ruang tamu. Ruang tamu rumah masa kecilku. Dan di ruang tamu itu, seorang anak laki-laki—aku, usia tujuh tahun—sedang menangis di pangkuan Bapak. Bapak muda. Bapak dengan rambut hitam dan tanpa kerutan.

"Jangan menangis, Nak," kata Bapak di dalam kaca. "Bapak tidak akan pergi."

"Namun Bapak bilang Bapak sakit," jawab anak kecil itu.

"Bapak sakit, tetapi Bapak tidak pergi. Bapak hanya tidur lebih lama nanti. Dan kamu—kamu akan tumbuh besar, kamu akan marah-marah, kamu akan bilang Bapak tidak pernah mengerti. Akan tetapi Bapak mengerti, Nak. Bapak selalu mengerti."

Aku menangis melihatnya.

Lalu Bapak di dalam kaca itu menatapku. Bapak di dalam kaca itu melihatku—langsung menembus kaca, langsung menembus waktu, langsung menembus lorong sureal ini.

"Dia bilang begitu?" tanya Bapak di sampingku (Bapak di lorong).

Aku mengangguk.

"Lalu, kenapa kau masih tidak percaya?"

"Karena ...."

"Karena kau ingin menyesal," potong Bapak. "Kau nyaman dengan rasa bersalah. Rasa bersalah adalah cara kau tetap terhubung denganku. Tanpa rasa bersalah, kau takut kau akan melupakanku."

Diam.

Tepat.

Dia tepat.

---

Lalu lorong itu bergetar.

Dinding-dinding kenangan mulai retak. Potongan-potongan ingatan berhamburan seperti kaca yang pecah. Aku menutup wajahku, tetapi Bapak menarik tanganku.

"Ayo," katanya.

"Ke mana?"

"Ke ujung."

"Ujung lorong ini?"

"Bukan. Ujung waktumu. Ujung ketika kau memutuskan untuk berhenti menjadi budak masa lalu."

Kami berlari. Retakan di dinding semakin lebar. Di balik retakan itu, aku melihat adegan-adegan lain—adegan yang tidak pernah terjadi. Aku melihat diriku duduk di samping Bapak di ICU, memegang tangannya, berkata "Pak, aku sayang Bapak, maafkan aku", dan Bapak tersenyum sebelum EKG-nya meratak datar. Aku melihat diriku yang tidak pernah mundur. Aku melihat diriku yang berani.

"Itu bukan kau," kata Bapak sambil berlari.

"Namun itu bisa jadi aku."

"Tidak. Itu versi ideal yang kau ciptakan. Dan versi ideal tidak pernah ada. Yang ada hanyalah versi nyata—yang mundur, yang takut, yang mulutnya jadi kotak pos. Dan versi nyata itu sudah cukup. Cukup untuk dimaafkan."

Kami berhenti di ujung lorong.

Di sana, sebuah pintu. Kecil. Kayu. Sama persis dengan pintu kamar Bapak di rumah.

"Dari sini," kata Bapak, "kau kembali ke dunia nyata. Akan tetapi ingat: saat kau melangkah masuk, aku akan hilang dari ingatanmu. Kau tidak akan ingat wajahku. Kau tidak akan ingat suaraku. Yang kau ingat hanyalah bahwa seseorang pernah mencintaimu, dan kau pernah mencintainya, tetapi namanya akan terhapus."

"Kenapa harus seberat itu, Pak?"

"Karena penyesalan itu berat. Dan memaafkan diri sendiri juga berat. Keduanya berat. Namun salah satunya membuatmu hidup. Satunya lagi membuatmu mati perlahan di lorong ini."

---

Aku berdiri di depan pintu itu.

Tanganku di gagang pintu.

Lalu aku berbalik.

"Pak," kataku.

"Ya?"

"Aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Karena ternyata—" aku tersenyum pahit, "—aku lebih suka menyesal. Aku lebih suka membawa perasaan bersalah ini sampai mati. Karena itu artinya Bapak tetap hidup di dalamku. Bukan sebagai ingatan, melainkan sebagai luka. Dan luka, tidak seperti ingatan, tidak akan pernah pudar."

Bapak terdiam lama.

Lalu dia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya di lorong ini, Bapak menoleh. Matanya—matanya tepat menatap mataku. Tidak ke arah lain. Tidak ke pintu. Tidak ke lorong. Tepat ke mataku.

"Itu jawaban yang paling kau banggakan," katanya, "tetapi juga jawaban yang paling salah."

"Kenapa?"

"Karena kau lupa satu hal."

"Apa?"

"Luka juga bisa sembuh. Dan setelah sembuh, bekasnya tetap ada. Bekas luka tidak pernah hilang, tetapi dia tidak sakit. Dia hanya—ada. Seperti kenangan. Kenangan tentangku akan tetap ada, bahkan setelah kau memaafkan dirimu sendiri. Karena aku tidak tinggal di penyesalanmu, Nak. Aku tinggal di tulang rusukmu. Aku tinggal di cara kau minum kopi pahit tanpa gula. Aku tinggal di cara kau membaca koran tanpa kacamata karena kau tidak mau mengaku rabun."

Aku terisak.

"Kau sudah menjadi aku," kata Bapak. "Tanpa kau sadari."

Pintu itu terbuka dengan sendirinya.

Cahaya menyilaukan.

Dan Bapak mendorongku perlahan dari belakang.

"Aku cinta Bapak," bisikku, akhirnya, setelah bertahun-tahun.

"Aku juga," jawab Bapak. Dan suaranya—suaranya menggema seperti bunyi jam dinding yang berdetak maju untuk pertama kalinya sejak aku kehilangannya.

---

Aku terbangun di atas kasur rumah sakit.

Bukan sebagai pasien. Sebagai anak yang tertidur di kursi plastik di samping tempat tidur kosong.

Perawat datang. "Bapakmu sudah dipindahkan ke kamar jenazah."

Aku mengangguk. Aku berdiri. Aku berjalan ke kamar jenazah. Aku melihat Bapak terbaring tenang.

Dan mulutku—mulutku yang dulu menjadi kotak pos, yang dulu penuh amplop tak terkirim, yang dulu retak memanggil-manggil—mulutku berkata:

"Pak, maaf. Maaf belum sempat kusampaikan. Akan tetapi Bapak tahu, bukan? Bapak selalu tahu."

Aku tidak mendengar jawaban.

Namun di pergelangan tanganku, untuk sekian detik, aku merasakan sesuatu. Seperti tangan kasar yang pernah menggandengku saat aku belajar berjalan. Seperti tangan yang sama yang melepaskanku di depan gerbang sekolah dasar. Seperti tangan yang sama yang, di ICU itu, meraba-raba mencari tanganku.

Tangan itu tidak ada, tetapi genggamannya masih ada.

Genggaman itu bernama: Rendezvous—pertemuan yang tidak pernah terjadi di dunia nyata, tetapi terjadi di ruang antara maaf dan penyesalan, antara detak jam yang mundur dan maju, antara anak yang takut dan bapak yang sudah lama memaafkan.

Rendezvous bukan tentang pertemuan, melainkan keputusan untuk memaafkan dirimu sendiri, karena orang yang kau cari maaf sudah tidak butuh maaf.

Dia hanya butuh kau—hidup. Dan lanjut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI