RITUS NAMA YANG HILANG

Di desa adat Wengi, nama seseorang bukanlah pemberian orang tua, melainkan hasil tabungan dari seluruh perbuatan baik dan buruk yang pernah dilakukan oleh desa itu sendiri selama seratus tahun terakhir. Ketika seorang anak lahir, para tetua akan membuka Lontar Karma—kitab suci yang tidak berisi doa, tetapi catatan utang-piutang moral kolektif—lalu menghitung: seberapa besar dosa desa yang harus ditebus dengan nama anak ini? Semakin berat dosa desa, semakin buruk nama yang akan disandang anak itu selama hidupnya.

Nama buruk bukanlah sekadar ejekan. Nama adalah doa yang terkutuk.

Seorang anak yang dinamai Genduk Rimpang akan tumbuh dengan kulit keropos seperti umbi busuk. Anak yang dinamai Jaka Sangsaya akan selalu ragu dalam setiap keputusan, bahkan untuk memilih makan pagi dengan nasi atau lauk. Anak yang dinamai Laras Ati hatinya akan selalu sakit, bukan karena penyakit, melainkan karena namanya sendiri meracuni dadanya setiap kali dipanggil.

Dan seorang anak yang dinamai Aji Muspra—yang berarti "Harapan yang Terbuang"—tidak akan pernah bisa dicintai. Bukan karena ia jelek atau jahat, melainkan karena nama itu bekerja seperti kutukan: setiap orang yang melihatnya akan merasa bahwa mencintai Aji Muspra adalah bentuk pemborosan kasih sayang yang paling sia-sia.

Aji Muspra adalah protagonis kita. Dan konfliknya bukanlah bagaimana ia mengubah nasibnya. Konfliknya adalah: Aji Muspra tidak ingin mengubah nasibnya. Ia telah menerima bahwa ia adalah harapan yang terbuang. Ia hidup sendiri di pinggir desa, memelihara tiga ekor ayam kurus yang juga dinamai dengan nama-nama buruk—Sengsara, Lara, dan Kiamat—dan setiap pagi ia duduk di batu besar menghadap hutan, berbicara pada angin yang tidak pernah menjawab.

Masalahnya, Desa Wengi jatuh sakit. Bukan sakit fisik. Desa ini mengalami krisis nama: semua anak yang lahir dalam tiga tahun terakhir tidak memiliki nama. Bukan karena para tetua lalai, melainkan karena Lontar Karma menunjukkan angka nol. Desa Wengi tidak memiliki utang moral sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, desa ini suci.

Dan sebuah desa yang suci tidak bisa memberi nama buruk pada anak-anaknya. Namun juga tidak bisa memberi nama baik, karena sistem Lontar Karma hanya dirancang untuk menghukum, bukan memberi anugerah. Jadi, para tetua bingung. Bayi-bayi itu tetap tanpa nama selama tiga tahun, dan tanpa nama, mereka tidak bisa diakui sebagai warga desa. Mereka tidak bisa mendapat jatah beras. Mereka tidak bisa bersekolah. Mereka tidak bisa menikah. Mereka tidak bisa mati secara adat, karena kematian tanpa nama adalah kematian yang tersesat, yang arwahnya akan gentayangan di antara dunia dan akhirat selama-lamanya.

Para tetua akhirnya mengambil keputusan yang belum pernah dilakukan sebelumnya: mereka akan memanggil Aji Muspra, si Harapan Terbuang, untuk meminjam nasib buruknya. Karena hanya dengan mencampurkan "keburukan" milik Aji Muspra ke dalam ritus pemberian nama, desa bisa kembali memiliki utang moral—dan dengan utang itu, mereka bisa memberi nama pada bayi-bayi itu. Nama buruk, tentu saja. Akan tetapi, setidaknya, nama.

Aji Muspra dipanggil menghadap empat tetua di balai desa. Udara dingin. Asap kemenyan mengepung wajah mereka seperti kabut yang sengaja tidak mau pergi.

"Aji," kata Tetua Tua, seorang perempuan dengan satu gigi tersisa di gusi kirinya. "Desa butuh kau. Bukan untuk hal besar. Hanya untuk menjadi ... kotoran."

Aji Muspra tidak tersinggung. Ia sudah terbiasa disebut lebih buruk dari itu. "Maksud Tetua?"

"Kami akan mengambil sedikit dari away-awaymu—kesialan, kepahitan, kebusukan nama yang kau sandang. Kami akan mencampurnya ke dalam sesajen. Lalu bayi-bayi itu akan dinamai dengan nama-nama buruk yang layak bagi mereka."

"Lalu, bagaimana dengan saya?"

"Kau akan ... lebih ringan. Seperti orang yang kehilangan sedikit berat badan. Kau akan tetap menjadi Aji Muspra, tetapi mungkin rasa malangmu tidak sekental dulu."

Aji Muspra menunduk. Ia memandangi tangannya yang kapalan, kukunya yang hitam karena terlalu sering menggali tanah untuk menanam singkong. "Apakah saya punya pilihan?"

"Tidak," kata Tetua Muda, lelaki berperut buncit yang suaranya seperti gong pecah. "Jika kau menolak, kau akan diusir dari desa. Dan kau tahu, orang tanpa desa tidak punya nama. Namamu 'Aji Muspra' pun akan dicabut. Kau akan menjadi ... hampa."

Aji Muspra menghela napas. Ia tidak takut diusir. Ia tidak takut kehilangan nama. Namun, ia takut pada hampa. Karena hampa, dalam kosmologi Desa Wengi, bukanlah ketiadaan. Hampa adalah sesuatu yang hidup, yang bernapas, yang lapar, dan yang paling mengerikan: hampa bisa mengisi dirinya sendiri dengan apa pun. Bisa dengan kebaikan. Bisa dengan keburukan. Bisa dengan kegilaan. Dan seseorang yang hampa tidak memiliki kendali atas apa yang akan menghuni dirinya.

"Baiklah," kata Aji. "Saya setuju."

Tetua Tua tersenyum. Satu giginya yang tersisa berkilat seperti belati kecil. "Bagus. Ritus akan dilaksanakan malam purnama, tiga hari lagi. Siapkan dirimu."

Aji pulang ke gubuknya. Ayam-ayamnya—Sengsara, Lara, Kiamat—berkotekan menyambutnya. Ia duduk di batu besar menghadap hutan. Angin tetap tidak menjawab. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, Aji bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah aku rela menjadi kotoran bagi desa yang selama ini membuangku?

Ia tidak tahu jawabannya. Dan itulah konflik yang sebenarnya bukan lagi tentang nasib, melainkan tentang harga diri yang tidak pernah ia sadari masih ia miliki.

---

Tiga hari sebelum purnama, Desa Wengi berubah. Tidak ada yang bisa menjelaskan perubahan itu secara kasatmata—rumah-rumah tetap berdiri dari kayu jati dan bambu, sawah tetap hijau seperti biasa, sungai tetap mengalir dengan beningnya yang khas. Namun, penduduk desa merasakannya di tulang mereka: udara lebih berat, bayangan lebih panjang dari yang seharusnya, dan semua orang terbangun di tengah malam pada jam yang sama persis, tanpa sebab, dengan keringat dingin dan ingatan tentang mimpi yang sama: mimpi tentang seorang anak yang tidak memiliki wajah, menunjuk ke arah mereka satu per satu.

Aji Muspra juga merasakannya. Akan tetapi, ia sudah terbiasa dengan hal-hal aneh. Sejak kecil, ia bisa melihat wewe—makhluk halus penjaga batas desa—yang bagi orang lain hanya mitos. Ia bisa mendengar suara batu di sungai berbicara tentang hujan yang akan turun tiga hari kemudian. Ia bisa merasakan getaran tanah yang menandakan ada sesuatu yang terkubur di bawahnya, bukan mayat, melainkan kenangan yang sengaja dilupakan.

Malam pertama sebelum ritus, Aji didatangi oleh seorang perempuan muda. Ia tidak mengenalnya. Perempuan itu berdiri di ambang pintu gubuknya, tanpa alas kaki, rambutnya tergerai hingga pinggang, dan di tangannya ia menggenggam sebuah benda yang tidak bisa Aji lihat dengan jelas—seperti cahaya yang padat, atau kegelapan yang bercahaya.

"Aji," kata perempuan itu. Suaranya seperti gesekan antara sutra dan kaca. "Jangan lakukan ini."

"Siapa kamu?"

"Aku adalah nama yang tidak pernah diberikan. Aku adalah bayi-bayi yang masih tanpa nama itu. Namun aku juga bukan mereka. Aku adalah ... kemungkinan. Kemungkinan bahwa mereka bisa diberi nama baik, bukan nama buruk. Kemungkinan yang akan mati jika ritus itu jadi dilaksanakan."

Aji mengerutkan dahi. "Tidak ada nama baik di desa ini. Lontar Karma sudah kosong. Desa suci. Tidak ada utang. Tidak ada hukuman. Tidak ada nama."

"Justru itu," kata perempuan itu, melangkah maju. Kini Aji bisa melihat wajahnya—cantik dalam cara yang menyakitkan, seperti melihat matahari langsung tanpa pelindung. "Kesucian desa adalah kesempatan. Untuk pertama kalinya, kalian bisa memulai sistem nama yang baru. Bukan nama yang didasarkan pada hukuman, melainkan pada harapan. Bukan karena dosa masa lalu, melainkan karena mimpi masa depan. Namun, para tetuamu terlalu takut pada hal baru. Mereka memilih jalan mudah: mencampurkan keburukanmu, melanjutkan sistem lama, dan membuang kemungkinan selamanya."

"Dan kau," kata Aji perlahan. "Kau adalah kemungkinan itu."

"Aku adalah salah satunya. Ada banyak kemungkinan lain. Namun semuanya akan mati jika ritus itu selesai."

Aji terdiam. Ia melihat ke arah ayam-ayamnya yang tidur di pojok kandang. Sengsara, Lara, Kiamat. Tiga nama buruk yang ia berikan pada makhluk yang tidak bersalah. Ia merasa mual.

"Mengapa kau datang kepadaku? Bukan kepada tetua?"

"Karena tetua tidak akan mendengarku. Akan tetapi kau, Aji Muspra ... kau adalah harapan yang terbuang. Dan sesuatu yang terbuang sering kali lebih mengerti nilai dari sesuatu yang belum terbuang."

Aji menutup pintu. Perempuan itu lenyap. Namun kehadirannya tertinggal seperti bau kemenyan yang terlalu pekat.

---

Malam kedua, Aji tidak tidur. Ia berjalan ke balai desa tanpa izin. Di dalam, para tetua sedang bersemadi. Tubuh mereka duduk melingkar di lantai, tetapi Aji tahu mereka tidak sedang bermeditasi dalam arti biasa. Mereka sedang berbicara dengan Lontar Karma. Kitab suci itu terbuka di tengah lingkaran, tetapi Aji tidak melihat tulisan di halamannya. Yang ia lihat adalah sebuah lubang. Lubang hitam pekat, berdenyut seperti jantung, dan dari lubang itu keluar suara-suara—bukan suara manusia, melainkan suara serangga, suara akar pohon yang merayap di bawah tanah, suara air hujan yang jatuh di atas daun yang sudah mati.

Aji mendekat. Seharusnya ia tidak bisa masuk. Seharusnya tubuhnya terhalang oleh mantra yang tidak kasatmata. Namun ia masuk. Dengan mudah. Karena ia adalah Aji Muspra, dan mantra-mantra desa tidak pernah dirancang untuk menolak hal-hal yang sudah dianggap sampah.

Ia berlutut di samping Lontar Karma. Lubang hitam itu berdenyut lebih cepat. Seperti mengenalinya.

"Kau ...," bisik Aji. "Kau bukan kitab suci. Kau adalah luka."

Lubang itu membesar. Dari dalamnya, mengalir ke luar—bukan darah, melainkan nama-nama. Ribuan nama. Semua nama buruk yang pernah diberikan Desa Wengi selama ratusan tahun. Nama-nama itu melayang di udara, menari-nari seperti kunang-kunang yang sakit, lalu menempel di dinding balai desa, di lantai, di langit-langit, di tubuh para tetua yang sedang bersemadi. Para tetua tidak terbangun. Mereka hanya mengerang pelan, seperti orang yang sedang bermimpi buruk.

Aji membaca nama-nama itu. Banyak yang ia kenal. Genduk Rimpang, yang kulitnya keropos lalu mati sendirian di gubuknya pada usia dua puluh tiga. Jaka Sangsaya, yang gantung diri di pohon beringin karena tidak bisa memutuskan apakah ia pantas mati atau tidak. Laras Ati, yang hatinya benar-benar berhenti berdetak pada suatu malam, tanpa sakit, tanpa sebab, seperti namanya sendiri yang memutuskan untuk berhenti bekerja.

Dan di antara semua nama itu, Aji melihat nama yang belum pernah ia lihat sebelumnya: Aji Mukti. Nama yang hampir sama dengannya, tetapi berbeda satu suku kata. Mukti, bukan Muspra. Mukti berarti "mulia". Muspra berarti "terbuang".

"Lalu," bisik Aji kepada dirinya sendiri, "siapa yang memutuskan bahwa aku akan menjadi Muspra, bukan Mukti?"

Lubang hitam itu menjawab. Suaranya bukan suara. Namun Aji mengerti.

Keputusan itu bukan keputusan desa. Itu adalah kecelakaan. Saat kau lahir, Tetua Tua sedang sekarat. Tangannya gemetar. Ia salah membaca baris di Lontar Karma. Seharusnya kau dinamai Aji Mukti. Namun tangannya terpeleset, matanya kabur, dan lahirlah Aji Muspra.

Selama dua puluh tahun, Desa Wengi mengira mereka telah menebus dosa dengan memberimu nama buruk. Padahal, mereka tidak punya utang apa pun. Mereka hanya korban dari kesalahan baca seorang perempuan tua yang sudah hampir mati.

Aji Muspra terdiam. Ia tidak marah. Ia tidak sedih. Ia merasa kosong dengan cara yang baru—bukan hampa yang lapar, melainkan hampa yang jernih, seperti kaca yang baru dibersihkan, seperti air danau di pagi hari sebelum ada yang mencemarinya.

"Maka selama ini," kata Aji pelan, "aku adalah harapan yang tidak seharusnya terbuang."

Lubang itu menghela napas. Seluruh balai desa bergetar.

---

Aji tidak memberi tahu siapa pun tentang temuannya. Ia kembali ke gubuk, memanggang singkong untuk sarapan, memberi makan Sengsara, Lara, dan Kiamat, lalu duduk di batu besar menghadap hutan. Ia menunggu hingga matahari meninggi, lalu ia berjalan ke rumah Tetua Tua.

Perempuan tua itu sedang duduk di kursi rotan di beranda. Satu giginya yang tersisa kini sudah copot. Ia makan bubur dengan gusinya yang ompong, menatap Aji dengan mata keruh.

"Aji," sapanya. "Kau datang lebih awal. Ritusnya besok malam."

"Tetua," kata Aji. "Saya tahu. Saya tahu tentang kesalahan dua puluh tahun lalu. Saya tahu bahwa seharusnya saya bernama Aji Mukti."

Tetua Tua berhenti mengunyah. Mulutnya terbuka setengah. Bubur menetes dari dagunya.

"Kau ... kau tidak mungkin tahu. Hanya aku yang tahu. Hanya Lontar Karma."

"Saya bicara dengan Lontar Karma tadi malam."

"Tidak mungkin. Kitab suci hanya berbicara kepada tetua."

"Kitab suci Anda adalah luka," kata Aji. "Luka yang tidak pernah sembuh karena terus-menerus Anda garuk dengan memberi nama buruk kepada bayi-bayi yang tidak bersalah. Luka itu berbicara kepada siapa pun yang mau mendengar. Akan tetapi, Anda sengaja tuli."

Tetua Tua meletakkan mangkuk buburnya. Tangannya gemetar—bukan karena usia, melainkan karena takut. "Apa yang kau inginkan, Aji?"

"Saya ingin Anda membatalkan ritus. Dan mengganti nama saya menjadi Aji Mukti. Bukan karena saya pantas, melainkan karena itu yang seharusnya terjadi. Kejujuran, bukan keadilan. Kebenaran, bukan balasan."

Tetua Tua terdiam lama. Lalu ia tertawa. Tawanya renyah seperti tulang kering yang dipatahkan.

"Anak muda naif," katanya. "Kau pikir kebenaran lebih kuat dari tradisi? Kau pikir nama 'Aji Mukti' akan membuatmu dicintai? Tidak. Nama bukan segalanya, Aji. Yang terpenting adalah bagaimana desa memandangmu. Dan desa sudah terlanjur memandangmu sebagai sampah. Bahkan jika kau kusebut Aji Mukti besok, mereka tetap akan melihat Aji Muspra. Karena mata mereka sudah terlatih untuk melihat keburukanmu."

"Lalu," kata Aji, "apa gunanya ritus itu? Apa gunanya mengambil 'keburukan' dari saya jika keburukan itu hanya ada di mata mereka, bukan di dalam diri saya?"

Tetua Tua kehilangan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia tampak tua. Sangat tua. Sepuh seperti kulit kayu yang siap rontok.

"Ritus itu," bisiknya, "bukan tentang mengambil keburukanmu. Ritus itu tentang ... mengorbankanmu. Agar desa punya kambing hitam lain. Agar mereka tidak perlu merasa bersalah karena telah membuangmu selama dua puluh tahun. Dengan meritus, mereka bisa berkata, 'Lihat, Aji Muspra rela berkorban untuk desa. Jadi, kami tidak perlu meminta maaf kepadanya. Dia baik-baik saja dengan nasibnya.' Itu penebusan murahan, Aji. Penebusan tanpa pertobatan."

Aji Muspra menutup mata. Udara pagi terasa dingin menusuk pori-pori. "Dan Tetua tahu ini dari awal?"

"Aku yang merancangnya."

"Kenapa?"

Tetua Tua menatap Aji dengan mata yang tiba-tiba basah. "Karena aku ingin mati dengan tenang. Dan aku tidak akan tenang jika aku terus mengingat kesalahan dua puluh tahun lalu. Ritus ini adalah caraku melepaskan rasa bersalah. Dengan melihatmu 'rela' berkorban, aku bisa berkata kepada diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa kau ikhlas. Bahwa tidak ada yang salah."

Aji membuka matanya. Ia melihat seorang perempuan tua yang tidak berani meminta maaf, yang lebih memilih mengorbankan orang lain daripada mengakui kesalahan. Ia merasa jijik. Namun anehnya, ia juga merasa kasihan.

"Tetua," kata Aji perlahan. "Saya maafkan Ibu."

Tetua Tua terperanjat. "Apa?"

"Saya maafkan Ibu. Bukan karena Ibu pantas dimaafkan, melainkan karena saya lelah membawa amarah yang tidak pernah Ibu sadari. Sekarang, tolong batalkan ritus. Saya tidak akan menjadi kambing hitam untuk penebusan murahan Ibu."

Tetua Tua menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis di depan orang lain. Tangisnya parau, tersedu-sedu, seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

"Terlambat," isaknya. "Ritus tidak bisa dibatalkan. Bukan karena aturan, melainkan karena ... Lontar Karma sudah mencatat. Dan jika ritus tidak jadi dilaksanakan, desa akan mendapat kutukan. Bukan dari dewa, melainkan dari sistem itu sendiri. Sistem yang kita ciptakan. Sistem yang kita percaya. Sistem yang akan menghukum kita karena tidak konsisten."

"Maka," kata Aji, "kita hancurkan sistemnya."

---

Malam purnama tiba. Seluruh Desa Wengi berkumpul di lapangan tengah. Api unggun dinyalakan di empat penjuru. Para tetua duduk di atas panggung kayu yang diukir dengan gambar naga dan garuda yang saling memakan ekor masing-masing. Di tengah lapangan, sebuah sesajen raksasa tersusun dari tujuh tumpuk nasi, tujuh macam buah, tujuh helai kain kafan, dan tujuh ekor ayam hitam yang masih hidup, diikat kaki-kakinya.

Aji Muspra berdiri di samping sesajen. Ia mengenakan pakaian putih—bukan tanda kesucian, melainkan tanda bahwa ia adalah caru, persembahan. Tubuhnya sudah diminyaki dengan minyak kelapa dan darah ayam. Wajahnya tenang. Terlalu tenang, bagi seorang yang akan diambil "keburukannya" oleh ritus.

Tetua Tua memimpin doa. Suaranya pecah karena usia, tetapi tetap berwibawa karena kewibawaan bukanlah fungsi dari kerapuhan.

"Hai, Lontar Karma," serunya. "Terimalah persembahan ini. Terimalah Aji Muspra, pemanggul keburukan desa. Ambil dari dirinya segala kepahitan, segala kesengsaraan, segala harapan yang terbuang. Campurkan ke dalam sesajen. Agar bayi-bayi ini bisa diberi nama. Agar desa kembali utuh."

Hadirin hening. Beberapa menangis. Beberapa tersenyum lega. Beberapa menunduk malu—mereka yang dulu ikut mengucilkan Aji, kini merasa ritus ini adalah pembenaran.

Aji angkat bicara. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar hingga ke ujung lapangan karena semua orang diam.

"Tetua. Sebelum ritus dimulai, izinkan saya membaca sesuatu."

Tetua Tua menatapnya waspada. "Apa?"

Aji mengeluarkan selembar daun lontar dari balik bajunya. Daun itu tua, kering, pinggirannya sudah dimakan rayap. Namun tulisannya masih terbaca jelas.

"Ini adalah halaman yang hilang dari Lontar Karma. Saya menemukannya tadi malam, di balai desa, di balik lemari yang tidak pernah dibuka siapa pun selama ratusan tahun."

Para tetua gelisah. Tetua Tua pucat.

"Daun ini berisi nama-nama lain," lanjut Aji. "Bukan nama buruk, melainkan nama baik. Yang tidak pernah kita gunakan. Karena para tetua dulu memutuskan bahwa memberi nama baik terlalu berisiko. Nama baik menciptakan harapan. Harapan menciptakan keberanian. Keberanian menciptakan perlawanan. Dan perlawanan ... tidak baik bagi mereka yang berkuasa."

Aji mulai membaca daftar nama baik dari daun lontar itu:

Wijaya Kusuma — yang artinya Kemenangan yang Harum
Ratna Dumilah — Permata yang Terpilih
Candra Kirana — Cahaya Purnama yang Lembut
Dan seterusnya. Sebanyak dua ratus nama.

Desa bergemuruh. Bisik-bisik menyebar seperti api di jerami kering. Beberapa orang mulai menangis. Seorang perempuan melangkah maju. Ia adalah ibunda dari bayi yang belum bernama selama tiga tahun.

"Aji," katanya, "apa yang kau baca itu benar?"

"Ini tulisan di daun lontar ini. Terserah kalian percaya atau tidak. Akan tetapi, setidaknya kalian punya pilihan sekarang. Pilihan yang selama ini disembunyikan oleh para tetua."

Tetua Muda berdiri. Wajahnya merah padam. "Dia bohong! Daun itu palsu!"

"Kalau palsu," kata Aji tenang, "mengapa Tetua gemetar?"

Semua mata tertuju kepada Tetua Tua. Perempuan tua itu duduk di kursinya, tubuhnya menggigil seperti daun kering di musim kemarau. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Benar," bisiknya. Hampir tidak terdengar. "Apa yang dibaca Aji ... benar. Selama ratusan tahun, para tetua menyembunyikan halaman itu. Kami hanya menggunakan Lontar Karma versi hukuman. Kami sengaja menghilangkan versi anugerah. Karena ... karena ...."

"Karena kalau tidak ada nama baik," sambut Aji, "maka semua orang akan menerima nasib buruknya tanpa protes. Tidak ada yang merasa berhak atas kebahagiaan. Tidak ada yang berani bermimpi. Desa ini bukan desa adat. Ini penjara yang dirancang rapi."

Desa gempar. Seorang pemuda melemparkan batu ke arah panggung tetua. Batu itu mengenai dada Tetua Muda. Ia jatuh. Beberapa orang berteriak. Yang lain mulai menangis histeris. Api unggun keempat padam karena tidak ada yang menjaganya.

Aji Muspra berdiri di tengah kerusuhan yang mulai terjadi. Ia tidak bergerak. Ia hanya memandangi sesajen yang sudah disiapkan untuk "mengorbankan" dirinya. Ayam-ayam hitam itu masih terikat, berkotek ketakutan.

Ia mengambil sebilah pisau upacara dari meja sesajen. Semua orang berhenti bergerak. Mereka menatap Aji dengan campuran takut dan harap.

"Aku tidak akan membunuh ayam-ayam ini," kata Aji. "Aku tidak akan menjadi persembahan. Namun aku juga tidak akan lari. Aku hanya akan melakukan satu hal."

Ia memotong tali pengikat kaki ayam-ayam itu. Satu per satu. Ayam-ayam itu lari terbirit-birit ke kegelapan malam.

Lalu Aji memotong bajunya sendiri. Kain putih itu robek, jatuh ke tanah. Di tubuh Aji, di dadanya yang kurus, terukir sebuah tato yang tidak pernah dilihat siapa pun sebelumnya: sebuah nama. Aji Mukti.

"Aku memilih namaku sendiri," kata Aji. "Dan mulai malam ini, kalian juga bisa memilih nama untuk anak-anak kalian. Tidak perlu Lontar Karma. Tidak perlu tetua. Tidak perlu utang dosa. Cukup lihat anak kalian, lihat matanya, dan beri nama yang menurut kalian paling pantas. Itu sudah cukup. Karena tidak ada kekuatan magis di balik sebuah nama selain kekuatan cinta yang memberikannya."

---

Desa Wengi tidak langsung berubah. Kerusuhan malam itu mereda setelah Tetua Tua mengakui semua kesalahan dirinya di depan umum. Ia menangis, berlutut, meminta maaf kepada semua warga yang anak-anaknya diberi nama buruk selama puluhan tahun. Beberapa memaafkannya. Beberapa tidak. Namun yang pasti, Lontar Karma tidak lagi digunakan. Daun-daunnya dibakar dalam api unggun yang dinyalakan kembali. Halaman yang berisi nama-nama baik diselamatkan oleh seorang guru muda, yang kemudian menyalinnya ke dalam buku tulis biasa.

Bayi-bayi yang selama tiga tahun tanpa nama akhirnya diberi nama baik oleh orang tua mereka masing-masing. Sekar Tanjung. Jati Wasesa. Kirana Puspita. Nama-nama yang indah. Nama-nama yang tidak dihukum.

Aji—sekarang Aji Mukti—kembali ke gubuknya. Sengsara, Lara, dan Kiamat masih ada. Ia tidak mengganti nama mereka. Bukan karena malas, melainkan karena ia merasa bahwa nama-nama itu sudah menjadi bagian dari mereka, dan menggantinya hanya akan mengingkari sejarah yang sudah terlanjur hidup.

Namun, suatu pagi, seorang anak perempuan datang ke gubuknya. Anak itu adalah bayi yang lahir tepat di malam ritus batal—putri dari pasangan muda yang ikut dalam kerusuhan. Anak itu belum diberi nama karena orang tuanya sibuk membantu desa membersihkan kekacauan.

"Aji," kata anak itu. Padahal ia baru bisa bicara. Padahal ia baru berusia tiga tahun. "Namai aku."

Aji Mukti memandang anak itu. Matanya bening. Tidak ada beban. Tidak ada dosa kolektif. Tidak ada sejarah kepahitan yang diwariskan.

"Kau yakin? Orang tuamu yang harus memberi nama."

"Mereka meminta tolong kepadamu. Karena mereka bilang, kau satu-satunya di desa ini yang tahu rasanya tidak memiliki nama yang pantas."

Aji Mukti tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum tanpa getir. Ia melihat ke arah hutan, ke arah angin yang dulu tidak pernah menjawab. Sekarang angin itu berbisik pelan, seperti membisikkan sebuah nama.

"Aku akan memberimu nama," kata Aji Mukti, "tetapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus berjanji bahwa suatu hari nanti, kau akan memberi nama kepada seseorang yang membutuhkan. Bukan karena kau lebih tahu, melainkan karena kau tahu bahwa sebuah nama bisa menjadi hadiah, bukan hukuman."

Anak itu mengangguk, meskipun ia mungkin belum mengerti.

Aji Mukti menengadah ke langit pagi yang cerah. Lalu ia berkata:

"Namamu adalah Aru Wening. Cahaya fajar yang membawa kedamaian. Bukan karena kau harus damai, melainkan karena kau akan menciptakan kedamaian di sekitarmu."

Anak itu—Aru Wening—tersenyum. Giginya belum tumbuh, tetapi senyumnya sudah mampu menerangi gubuk reyot yang selama ini hanya ditempati oleh Aji dan tiga ayam kesepian.

Di kejauhan, di balai desa, para tetua yang tersisa sedang merakit sistem baru: sebuah dewan penjaga nama yang tidak berhak memberi nama, hanya berhak memastikan bahwa tidak ada anak yang lahir tanpa nama karena kemalasan atau keserakahan orang dewasa.

Sejarah Desa Wengi terbelah menjadi dua: sebelum Aji membacakan daun lontar, dan setelahnya. Sebelumnya, nama adalah hukuman. Setelahnya, nama adalah janji.

Aji Mukti meninggal tiga puluh tahun kemudian, dikelilingi oleh anak-anak yang tidak pernah ia lahirkan tetapi selalu ia bimbing. Di batu nisannya, tidak ada tulisan "Aji Muspra" atau "Aji Mukti". Hanya ada satu kata: Pemilih.

Karena ia tidak mewarisi namanya. Ia memilihnya. Dan di atas segalanya, itulah satu-satunya kebebasan yang tidak bisa dirampas oleh sistem, tradisi, atau rasa bersalah siapa pun.

---

(Anak sungai di belakang gubuknya tidak pernah berhenti mengalir. Sampai sekarang. Sampai nama-nama baru terus diberikan. Sampai desa itu—entah masih disebut Wengi atau sudah berganti—terus belajar bahwa kebahagiaan tidak perlu dihukum.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI