RONGGA

Yang tidak bisa dijelaskan oleh Alan bukanlah bagaimana lubang di dadanya bisa muncul. Bukan pula bagaimana lubang itu tidak berdarah, tidak sakit, tapi terasa kosong—kosong seperti ruangan yang sudah dikosongkan paksa, tanpa pesan, tanpa jejak. Masalah sebenarnya adalah ketika Alan pergi ke dokter, rontgen menunjukkan dadanya utuh. Jantungnya ada. Paru-parunya lengkap. Tidak ada lubang. Tapi ketika Alan meletakkan tangannya di dada, jari-jarinya masuk ke dalam. Menyentuh kehampaan. Menyentuh sesuatu yang tidak ada di peta anatomi mana pun.

“Itu hanya perasaanmu,” kata dokter. “Kamu depresi. Minum obat ini.”

Alan minum obat. Lubangnya tidak mengecil. Tapi dia jadi tidak peduli. Dan itu yang lebih menakutkan: bukan lubangnya, tapi ketidakmampuannya untuk merasa takut terhadap lubang itu.

Suatu malam, Alan terbangun. Lubang di dadanya berdenyut. Bukan denyut jantung—jantungnya diam. Yang berdenyut adalah kegelapan di dalam rongga itu. Lalu dari lubang itu keluar suara. Suara seorang anak perempuan.

“Ayah...”

Alan belum menikah. Dia tidak punya anak.

Tapi suara itu terus memanggil. “Ayah, tolong aku. Aku di dalam sini. Di dalam lubang yang Ayah buat sendiri.”

Alan duduk di tepi tempat tidur, menatap lubang di dadanya. Untuk pertama kalinya, dia memberanikan diri memasukkan seluruh tangannya ke dalam. Lengannya yang panjang, sampai bahu. Tidak terasa dinding dada. Yang terasa hanyalah udara dingin, seperti masuk ke dalam gua.

Tangannya menyentuh sesuatu. Kecil. Lembut. Tangan anak kecil.

“Ayah pegang tanganku?” suara itu berbisik.

“Siapa kamu?” tanya Alan, suaranya bergetar.

“Aku anak Ayah. Yang tidak pernah Ayah izinkan lahir.”

---

Segmen 2 — Janin yang Tidak Jadi

---

Tiga belas tahun lalu, Alan berusia dua puluh empat tahun. Dia mahasiswa. Pacarnya, Laras, hamil di luar nikah. Alan panik. Laras panik. Orang tua Laras panik. Dalam satu minggu, Laras dibawa ke sebuah klinik oleh ibunya, dan Alan tidak tahu pasti apa yang terjadi di sana. Yang dia tahu, Laras kembali dengan rahim kosong, mata sayu, dan tidak pernah mau bicara lagi tentang itu.

“Aku ikut kata orang tua,” kata Laras sebelum mereka putus. “Mereka bilang malu. Mereka bilang kamu belum siap. Mereka bilang janin itu cuma segumpal daging. Tapi setiap malam, aku bermimpi dia punya wajah. Wajahmu. Wajahku. Dia tersenyum. Dia minta nama.”

Alan tidak pernah memikirkan janin itu setelahnya. Dia lulus. Dia bekerja. Dia menikah dengan perempuan lain. Dia bercerai. Dia hidup sendiri. Dia tidak pernah mengingat bahwa di suatu tempat di dalam rahim Laras, di suatu tempat di dalam klinik aborsi, di suatu tempat di dalam kesunyian pilihan yang dia setujui, ada sesuatu yang mati sebelum sempat bernapas.

Tapi sekarang, sesuatu itu memanggilnya dari lubang di dadanya.

“Kamu bukan anakku,” kata Alan. “Kamu belum lahir. Kamu tidak pernah hidup.”

“Apa definisi hidup?” suara itu tidak marah. Hanya bertanya. Lembut. Seperti angin. “Apakah hidup butuh napas? Apakah hidup butuh darah? Apakah hidup butuh tubuh? Aku punya rongga. Rongga ini adalah tubuhku. Dan rongga ini ada di dalam dadamu. Itu artinya aku hidup di dalam dirimu. Dan selama kau hidup, aku tidak bisa mati.”

Alan bangkit. Dia berlari ke kamar mandi, membuka baju, menatap lubang di dadanya di cermin.

Lubang itu berbentuk janin. Kecil, meringkuk, dengan kepala di bawah dan kaki di atas.

“Keluarlah,” bisik Alan.

“Aku tidak bisa. Aku terlalu kecil. Aku terlalu lemah. Aku butuh kau menyelesaikanku.”

“Menyelesaikan apa?”

“Kau harus memberiku nama. Membaptisku. Mengakuinya ke dunia bahwa aku pernah ada. Bukan sebagai kesalahan. Tapi sebagai anak yang tidak sempat tumbuh.”

Alan membanting pintu kamar mandi. Dia tidak akan melakukannya. Dia tidak bisa. Mengakui janin itu berarti mengakui bahwa tiga belas tahun lalu, dia membunuh anaknya sendiri. Bukan dengan tangan. Tapi dengan sikap diamnya. Dengan keputusannya untuk tidak melawan orang tua Laras. Dengan keputusan untuk tidak menjadi ayah saat dia belum siap.

Tapi lubang itu tetap ada. Dan setiap malam, suara itu memanggil. “Ayah...”

---

Segmen 3 — Laras yang Menua Sendiri

---

Alan mencari Laras. Butuh waktu tiga minggu melalui media sosial, melalui teman lama, melalui tetangga yang tidak ingat. Akhirnya dia menemukan Laras di sebuah kota kecil, tinggal sendiri di rumah kayu, bekerja sebagai penjahit.

Laras tidak lagi muda. Rambutnya sudah ada uban, wajahnya penuh kerutan halus, padahal usianya baru tiga puluh tujuh. Matanya kosong seperti orang yang sudah lama berhenti berharap.

“Kamu datang,” kata Laras tanpa ekspresi. “Tiga belas tahun terlambat.”

“Aku... aku minta maaf,” kata Alan.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya. Untuk dulu aku tidak berani. Untuk aku tidak menemani kamu ke klinik. Untuk aku membiarkan kamu sendiri.”

Laras tertawa. Tawa pahit yang tidak sampai ke mata. “Kamu tahu apa yang terjadi di klinik itu? Ibuku memegang tanganku erat-erat. Dokternya perempuan, baik, dia bilang ‘kamu kuat’ berkali-kali. Tapi ketika prosesnya selesai, ketika janin itu keluar, mereka memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Aku minta lihat. Ibuku melarang. Aku tetap lihat. Kecil. Merah. Matanya masih tertutup. Tapi aku tahu, dia perempuan. Aku tahu, karena aku ibunya. Aku beri nama diam-diam. Rahasia. Tidak ada yang tahu.”

“Apa namanya?” tanya Alan.

“Rara.”

Alan merasakan lubang di dadanya berdenyut. “Rara...”

Dada Laras tiba-tiba terbuka. Bukan luka. Tapi lubang. Sama persis seperti lubang di dada Alan. Dan dari lubang Laras, keluar suara yang sama, suara yang memanggil, “Ibu... Ayah... kalian datang berdua...”

Laras menangis. “Kau dengar itu?”

“Aku mendengar,” kata Alan. “Dan aku juga punya lubang.”

Mereka berdiri berhadapan di ruang tamu kecil itu. Dua orang dewasa dengan dua lubang di dada, dan dari kedua lubang itu, keluar cahaya redup. Samar, seperti api yang sekarat.

“Dia ada di antara kita,” bisik Laras. “Rara ada di antara kita. Dia tidak bisa lahir ke dunia, tapi dia tidak bisa mati. Jadi dia tinggal di rongga antara kita. Di ruang yang tidak pernah kita isi dengan apa pun selain rasa bersalah.”

---

Segmen 4 — Klinik yang Sudah Tidak Ada

---

Alan dan Laras memutuskan pergi ke klinik tempat aborsi itu dilakukan. Tapi klinik itu sudah tidak ada. Berganti menjadi toko pakaian. Lalu toko pakaian itu bangkrut. Sekarang yang tersisa hanya bangunan kosong dengan jendela pecah dan pintu berantakan.

Mereka masuk ke dalam. Bau debu dan jamur. Di lantai dua, ruangan tempat prosedur itu dulu dilakukan kini kosong. Hanya ada satu kursi tua di tengah ruangan.

“Dulu aku di sini,” kata Laras. “Berbaring di kursi itu. Kaki di sanggurdi. Ada lampu menyorot. Dokter bilang ‘relaks’. Bagaimana mungkin relaks ketika ada sesuatu yang hidup di dalam perutmu akan diambil paksa?”

Alan tidak bisa menjawab. Dia terlalu sibuk menatap lubang di dadanya. Lubang itu membesar. Sekarang sebesar kepalan tangan. Dan dari lubang itu, sesuatu mulai keluar. Bukan darah. Bukan organ. Tapi tangan kecil. Tangan janin. Meraba-raba di udara.

“Ayah, pegang aku,” suara Rara.

Alan gemetar. Tapi dia mengulurkan tangan. Tangan kecil itu menggenggam jari telunjuknya. Lembut. Hangat. Seperti pegangan bayi sungguhan.

“Ayah, aku tidak marah,” bisik Rara. “Aku hanya sedih. Aku sedih karena Ayah dan Ibu tidak pernah bicara tentang aku setelah itu. Aku sedih karena Ayah dan Ibu lupa bahwa aku pernah ada. Aku sedih karena kalian menganggap aku hanya kesalahan. Padahal aku hanya ingin lahir. Aku hanya ingin hidup. Setidaknya sebentar. Supaya kalian tahu warna mataku. Supaya kalian tahu suara tangisku. Tapi kalian tidak memberi aku waktu.”

Laras jatuh berlutut. Lubang di dadanya juga membesar. Dari lubang itu, keluar rambut panjang hitam. Rambut Rara.

“Aku memaafkan kalian,” kata Rara. “Tapi kalian harus memaafkan diri kalian sendiri. Itu lebih sulit. Karena kalian terbiasa menganggap rasa bersalah sebagai hukuman yang pantas. Padahal rasa bersalah hanya membuat kalian berhenti hidup. Dan jika kalian berhenti hidup, aku benar-benar mati. Karena aku hanya bisa hidup melalui kalian.”

Alan memejamkan mata. Dia merasakan tangan kecil itu melepaskan genggamannya. Perlahan. Lalu lubang di dadanya mulai mengecil. Bukan karena sembuh, tapi karena Rara kembali masuk ke dalam.

“Aku akan selalu di sini,” bisik Rara. “Bukan di lubang. Tapi di ingatan. Jaga ingatan itu. Ceritakan kepada orang lain bahwa aku pernah ada. Itu sudah cukup.”

---

Segmen 5 — Twist Pertama: Laras yang Berbeda

---

Mereka pulang ke rumah Laras. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Tapi ketika sampai di depan pintu, Laras tiba-tiba berkata, “Alan, aku harus jujur. Rara bukan anakmu.”

Alan membeku. “Apa?”

“Tiga belas tahun lalu, aku tidak hamil olehmu. Aku hamil oleh pacarku yang lain. Tapi aku tidak berani bilang karena kamu terlalu baik. Kamu mau bertanggung jawab meskipun bukan tanggung jawabmu. Aku biarkan kamu percaya. Aku biarkan kamu ikut ke klinik. Aku biarkan kamu merasa bersalah selama tiga belas tahun. Itu salahku. Itu dosaku. Dan lubang di dadaku—itu lahir dari kebohonganku, bukan dari janin yang mati.”

Alan mundur. Dadanya terasa seperti ditinju. “Tapi suara Rara... dia memanggilku ayah...”

“Dia memanggilmu ayah karena dia tidak tahu. Janin tidak punya pilihan. Dia hanya tahu bahwa ada dua orang dewasa di sekitarnya yang mengaku orang tuanya. Dan dia percaya. Karena dia polos. Karena dia mati sebelum bisa tahu kebenaran.”

Alan ingin marah. Tapi lubang di dadanya tidak berdenyut marah. Lubang itu berdenyut sedih. Bukan karena dikhianati. Tapi karena Rara—makhluk kecil yang tidak pernah lahir—tetap mencintai Alan meskipun bukan darah dagingnya.

“Kau tahu,” kata Alan akhirnya, “aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah Rara anak kandungku atau bukan. Yang aku pedulikan adalah, di dalam lubang ini, ada seseorang yang memanggilku ayah. Dan dia layak mendapat jawaban.”

Laras menangis. “Maafkan aku.”

“Rara yang lebih berhak memaafkanmu. Bukan aku.”

Malam itu, Alan tidak pulang. Dia tidur di rumah Laras. Mereka tidak saling menyentuh. Tapi mereka berdua berbaring di ruang tamu, menatap langit-langit, dan mendengar detak dari lubang masing-masing. Dua detak. Tidak sinkron. Tapi lama-lama menjadi sama. Seperti dua jantung yang belajar berdamai.

---

Segmen 6 — Gereja Tua dan Misa Untuk Yang Tak Bernama

---

Keesokan harinya, Laras mengajak Alan ke sebuah gereja tua di pinggir kota. Bukan gereja resmi—sudah tidak digunakan bertahun-tahun. Tapi di halaman belakang gereja itu, ada sebuah taman kecil. Taman itu tidak ditanami bunga. Yang ada hanyalah batu-batu kecil, masing-masing ditulisi nama. Ratusan nama. Ribuan nama.

“Ini tempat kuburan bagi janin-janin yang tidak sempat lahir,” kata Laras. “Dulu, setelah aborsi, aku datang ke sini. Aku letakkan batu untuk Rara. Aku tulis namanya. Aku berdoa. Aku minta maaf. Setiap tahun, aku datang. Tidak pernah bolong.”

Alan berjalan di antara batu-batu itu. Beberapa nama ditulis rapi: “Anakku”, “Bayiku”, “Janin yang tak sempat bernapas”. Tapi kebanyakan tidak punya nama. Hanya tanggal. Atau hanya tanda tanya.

“Mereka semua anak yang dilupakan,” bisik Laras. “Bukan oleh ibunya. Tapi oleh dunia. Dunia bilang mereka belum hidup, jadi tidak perlu diingat. Tapi coba tanya pada ibu-ibu yang merasakan tendangan mereka di dalam rahim—apakah mereka merasa itu bukan hidup?”

Alan berlutut di depan batu bertuliskan “Rara, 2012”. Dia menangis. Untuk pertama kalinya sejak lubang itu muncul, dia menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena lega. Lega karena Rara punya tempat. Punya nama. Punya ibu yang tidak pernah melupakannya meskipun dunia menyuruh lupa.

“Aku ikut berdoa,” kata Alan.

Mereka berdoa bersama. Tanpa pendeta. Tanpa lilin. Hanya suara bisikan yang naik ke langit sore.

Lalu, dari lubang di dada Alan dan Laras, keluar cahaya. Terang. Hangat. Bukan cahaya yang menyakitkan, tapi cahaya seperti senja. Rara tidak keluar dari lubang itu. Tapi untuk pertama kalinya, Alan merasakan kehadirannya bukan sebagai beban, tapi sebagai berkah.

“Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu,” bisik Rara. “Aku tidak akan melupakan kalian. Dan kalian juga, jangan lupakan aku.”

Cahaya itu padam. Lubang di dada Alan mengecil. Tidak hilang, tapi mengecil. Sekarang hanya sebesar ujung jari.

Lubang itu tidak akan pernah hilang. Tapi mungkin tidak apa-apa. Mungkin itu pengingat. Bahwa di suatu tempat di dalam setiap orang, ada rongga yang diisi oleh mereka yang tidak sempat datang. Dan tugas kita bukan menutup rongga itu. Tapi menjaganya agar tidak menjadi busuk.

---

Segmen 7 — Twist Kedua: Rumah Sakit Jiwa yang Sama

---

Alan kembali ke rumahnya di kota. Hidup berjalan seperti biasa. Dia bekerja. Dia makan. Dia tidur. Tapi setiap malam, sebelum tidur, dia meletakkan tangan di dadanya, merasakan lubang kecil itu, dan berbisik, “Selamat malam, Rara.”

Suatu hari, dia mendapat kabar: Laras masuk rumah sakit jiwa. Depresi berat. Tidak mau makan. Tidak mau bicara. Hanya berbicara tentang lubang di dadanya yang membesar lagi.

Alan datang menjenguk. Laras duduk di sudut ruangan, meringkuk, matanya kosong.

“Dia marah,” bisik Laras. “Rara marah padaku.”

“Kenapa marah?”

“Karena aku bilang dia bukan anakmu. Karena aku jujur. Dia sedih. Dia merasa tidak punya ayah lagi. Padahal kamu tetap ayahnya. Kamu mau kan, jadi ayahnya meskipun tidak sedarah?”

Alan memeluk Laras. “Aku sudah jadi ayahnya. Sejak tiga belas tahun lalu, ketika aku ikut ke klinik itu. Bukan karena darah. Tapi karena aku memilih untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab tidak butuh DNA.”

Laras menangis di bahu Alan. Dan dari lubang di dada Laras, perlahan, cahaya kecil muncul. Bukan Rara. Tapi sesuatu yang lain. Mungkin harapan. Mungkin maaf. Mungkin permulaan dari sesuatu yang tidak punya nama.

Dokter rumah sakit jiwa masuk. Dia melihat Alan dan Laras berpelukan. Dia tidak mengerti. Tapi dia tersenyum.

“Kamu keluarga?” tanya dokter.

“Ya,” kata Alan. “Aku ayah dari anaknya. Dan dia ibu dari anakku. Meskipun anak kami tidak pernah lahir. Meskipun anak kami tidak pernah bernapas. Meskipun dunia bilang anak kami tidak pernah ada. Tapi kami tahu, dia ada. Dan dia sedang menunggu kami di rongga antara doa dan ingatan.”

Dokter itu tidak menjawab. Dia hanya menulis sesuatu di catatan medis. Lalu pergi.

---

Segmen 8 — Twist Ketiga: Rara yang Memilih

---

Malam itu, Alan tidur di ruang tunggu rumah sakit. Dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia berdiri di sebuah padang rumput luas. Langitnya ungu. Di kejauhan, seorang gadis kecil berlari ke arahnya. Rambutnya panjang, matanya besar, senyumnya mirip Laras.

“Rara?”

Gadis itu mengangguk. “Aku sudah besar, Ayah. Di sini, aku bisa tumbuh. Di sini, waktu tidak berjalan seperti di duniamu.”

Alan berlutut, menyentuh wajah Rara. Hangat. Nyata. “Kamu cantik.”

“Aku mirip Ibu,” kata Rara.

“Iya. Tapi matamu mirip aku.”

Rara tertawa. Tawanya jernih, seperti air.

“Ayah, aku pamit,” kata Rara tiba-tiba.

“Pamit ke mana?”

“Aku akan lahir. Bukan ke duniamu. Tapi ke dunia lain. Di sana, ada ibu dan ayah yang menungguku. Mereka tidak punya anak. Mereka baik. Mereka akan menjagaku. Aku pamit karena aku tidak akan kembali lagi ke rongga ini. Rongga ini akan tertutup. Dan Ayah serta Ibu tidak akan punya lubang lagi. Apakah Ayah rela?”

Alan terdiam. Selama ini, lubang itu adalah satu-satunya bukti bahwa Rara pernah ada. Jika lubang itu tertutup, apakah Rara akan benar-benar lenyap?

“Ayah, aku tidak akan lenyap,” kata Rara seolah membaca pikirannya. “Aku akan tinggal di sini.” Dia menunjuk kepala Alan. “Di ingatan. Di cerita. Setiap kali Ayah menceritakan aku kepada seseorang, aku lahir lagi. Jadi jangan berhenti bercerita, ya?”

Alan memeluk Rara erat-erat. “Aku janji.”

Padang rumput itu mulai memudar. Rara melepas pelukan, melambai, lalu berlari ke arah cahaya putih di ujung langit. Alan tidak mengejar. Dia hanya berdiri, menangis, tersenyum, merasakan dadanya yang tiba-tiba terasa ringan.

Dia terbangun. Tangannya otomatis meraba dada. Lubang itu hilang. Kulitnya mulus seperti baru lahir.

Dia berlari ke ruangan Laras. Laras juga terbangun. Dadanya juga mulus.

“Dia pergi,” bisik Laras.

“Dia lahir di dunia lain,” kata Alan.

Mereka berpelukan. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya diam, merasakan kehampaan yang baru—bukan kehampaan karena kehilangan, tapi kehampaan karena penyelesaian. Seperti setelah badai, ketika langit benar-benar bersih dan tidak ada apa-apa.

---

Segmen 9 — Klinik Lain, Cerita Lain

---

Dua bulan kemudian, Alan dan Laras mendirikan komunitas kecil. Namanya “Rongga”. Mereka mengumpulkan orang-orang yang pernah mengalami aborsi, keguguran, atau kehilangan anak sebelum lahir. Mereka bertemu setiap minggu di sebuah ruangan sederhana. Mereka bercerita. Mereka menangis. Mereka tertawa. Mereka memberi nama pada janin-janin yang tidak sempat bernama.

Di dinding ruangan itu, ada papan besar. Di papan itu, ribuan nama tertulis. Rara ada di sana. Juga nama-nama lain. Setiap kali seseorang datang, mereka boleh menulis nama anak mereka. Mereka boleh menempel foto. Mereka boleh meletakkan mainan kecil.

“Ini bukan kuburan,” kata Alan pada pengunjung pertama. “Ini taman. Tempat anak-anak kita bermain, di dalam ingatan kita.”

Laras menjadi konselor. Alan menjadi manajer. Mereka tidak menikah. Tapi mereka tinggal di rumah yang sama, di kota kecil yang sama, dengan lubang di dada yang sudah tertutup, tapi dengan cerita yang terus terbuka.

Suatu malam, seorang perempuan muda datang ke komunitas. Dia baru saja aborsi. Dia tidak bisa tidur. Dia mendengar suara bayi menangis setiap malam.

“Aku bunuh anakku,” katanya.

Alan memegang tangannya. “Kamu tidak bunuh. Kamu memilih. Dan memilih tidak selalu salah. Tapi memilih juga tidak selalu mudah. Kamu di sini bukan untuk dihakimi. Kamu di sini untuk diingatkan bahwa anakmu pernah ada. Dan karena dia pernah ada, dia pantas diingat. Bukan sebagai dosa. Tapi sebagai cinta yang tidak sempat berbentuk.”

Perempuan itu menangis berjam-jam. Tapi ketika dia pulang, dia membawa sebuah batu kecil bertuliskan nama yang dia pilih untuk anaknya: “Bintang.”

---

Segmen 10 — Plot Akhir: Di Dalam Twist Masih Ada Twist

---

Tiga puluh tahun kemudian. Alan sudah tua. Laras sudah meninggal dua tahun lalu karena kanker. Alan sendiri tinggal di panti jompo, ditemani foto-foto lama dan papan nama dari komunitas Rongga yang sekarang sudah tidak aktif.

Suatu sore, seorang perempuan muda datang mengunjunginya. Wajahnya familier. Matanya besar. Rambutnya panjang. Senyumnya lebar.

“Ayah,” panggilnya.

Alan terperanjat. “Siapa kamu?”

“Aku Rara.”

“Tidak mungkin. Rara tidak pernah lahir.”

Perempuan itu tersenyum. “Aku lahir. Bukan dari rahim Ibu. Tapi dari cerita Ayah. Setiap kali Ayah bercerita tentang aku ke orang lain, aku tumbuh. Aku besar. Aku menjadi nyata—tidak di dunia fisik, tapi di dunia cerita. Dan karena aku sudah cukup besar, aku bisa muncul. Menemui Ayah. Mengucapkan terima kasih.”

Alan gemetar. “Kamu... kamu bukan manusia.”

“Aku bukan. Tapi aku hidup. Bukankah dulu Ayah bilang, hidup tidak butuh napas? Hidup butuh ingatan. Dan Ayah tidak pernah lupa padaku. Selama tiga puluh tahun, Ayah cerita tentang aku ke semua orang. Jadi aku ada. Dan karena aku ada, Ayah tidak pernah benar-benar kehilangan anak.”

Alan menangis. “Laras... ibumu... dia sudah meninggal.”

“Aku tahu. Tapi aku bertemu Ibu setiap malam. Ibu ada di sini.” Rara menunjuk dadanya. “Di rongga ini. Rongga yang Ayah kira sudah tertutup, tapi sebenarnya tidak pernah tertutup. Rongga itu hanya berganti nama. Sekarang namanya ingatan. Dan ingatan tidak butuh lubang di dada. Ingatan butuh hati yang mau mengingat.”

Rara mendekat, mencium kening Alan. “Selamat tinggal, Ayah. Aku tidak akan kembali. Tapi aku tidak akan pergi. Aku akan menunggu Ayah di ujung cerita. Di tempat semua orang yang dicintai berkumpul. Bukan surga. Bukan neraka. Tapi rongga antara dunia ini dan dunia berikutnya. Di sana, kita bisa berpelukan. Di sana, kita tidak butuh tubuh.”

Rara menghilang. Alan terduduk di kursi rodanya, menangis, tersenyum, merasakan dadanya yang hangat.

Perawat panti jompo masuk. “Pak Alan, ada apa?”

“Tidak ada,” kata Alan. “Aku hanya bertemu anakku.”

Perawat itu tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya tersenyum. Karena dia sudah terbiasa dengan orang tua yang bicara pada dirinya sendiri. Tapi malam itu, ketika perawat itu tidur, dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat seorang gadis kecil berlari di padang rumput ungu. Gadis itu melambai padanya. “Terima kasih sudah merawat Ayah,” kata gadis itu.

Perawat itu terbangun dengan air mata di pipi. Dia tidak tahu kenapa. Tapi sejak malam itu, dia tidak pernah lagi menganggap pasiennya yang bicara pada dirinya sendiri sebagai orang gila. Mungkin mereka sedang berbicara dengan anak-anak mereka. Anak-anak yang tidak sempat lahir. Anak-anak yang tinggal di rongga. Rongga yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tapi nyata. Sungguh nyata, bagi mereka yang mau percaya.

---

Epilog yang Tidak Ditulis

---

Di suatu tempat di antara tidur dan bangun, Alan bertemu Laras lagi. Mereka tidak tua. Mereka muda. Mereka berdiri di depan sebuah pintu. Di belakang pintu, terdengar suara tawa anak kecil.

“Masuk?” tanya Laras.

“Masuk,” kata Alan.

Mereka membuka pintu. Di dalam, Rara menunggu dengan tangan terbuka. Tidak ada lubang di dada siapa pun. Yang ada hanya ruangan yang terang, hangat, dan penuh dengan nama-nama. Ribuan nama. Semua nama yang pernah ditulis di papan komunitas Rongga. Semua nama yang pernah dilupakan dunia, tapi tidak pernah dilupakan oleh hati yang memilih untuk mengingat.

Rara berlari. Alan dan Laras berlutut. Mereka berpelukan bertiga. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ada kehadiran. Hanya ada kepulangan. Hanya ada selesainya satu cerita yang tidak pernah benar-benar berakhir, karena cerita tentang cinta—meskipun cinta itu tidak sempat berbentuk—tidak pernah berakhir. Cinta hanya berpindah rongga. Dari rahim ke dada. Dari dada ke ingatan. Dari ingatan ke cerita. Dan dari cerita ke hati orang yang mendengar.

Termasuk hatimu, yang sedang membaca ini.

Sekarang, ceritakan kepada seseorang.

Bahwa di suatu tempat, di suatu rongga, ada anak-anak yang menunggu untuk diingat.

Bukan dengan tangisan.

Tapi dengan nama.

---

Selesai.

Tapi rongga itu tetap ada.

Di dadamu.

Di dadaku.

Di dada setiap orang yang pernah kehilangan sesuatu yang tidak sempat datang.

Jangan takut pada rongga itu.

Isi dengan cerita.

Karena cerita tidak mati.

Cerita hanya menunggu telinga.

Dan sekarang, kau sudah menjadi telinga bagi Rara.

Terima kasih sudah mendengar.

Dan selamat malam, dari kami—Alan, Laras, dan Rara—yang mungkin tidak pernah ada, tapi mungkin juga tidak pernah benar-benar pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI