RUANG KOSONG DI ANTARA DUA JANTUNG

RUANG KOSONG DI ANTARA DUA JANTUNG


Tiga hari sebelum pernikahanku dengan Ray, seorang perempuan tua datang ke rumah. Dia tidak mengetuk. Dia hanya duduk di teras, bersila, dengan sebuah guci tanah liat di pangkuannya. Aku tahu dia bukan tetangga. Wajahnya terlalu keriput untuk lingkungan perumahan ini—keriput seperti kulit pohon yang ditinggalkan musim. Matanya terlalu jernih untuk seusianya, jernih seperti air sungai yang belum pernah disentuh tangan manusia.

"Aku membawa ruang kosong," katanya, sebelum aku sempat membuka mulut.

"Apa?"

"Ruang kosong." Dia menepuk guci itu. "Di antara dua jantung. Milikmu dan milik calon suamimu."

Aku hampir menutup pintu. Namun ada sesuatu di caranya mengucapkan kata "jantung"—bukan sebagai organ, melainkan sebagai sesuatu yang lebih berat, lebih bundar, lebih seperti bola kaca yang bisa pecah kapan saja—yang membuatku bertahan.

"Siapa Anda?"

"Nama tidak penting," katanya. "Akan tetapi apa yang kucari, penting. Aku mencari ruang-ruang kosong yang dibangun oleh kebohongan kecil. Aku mengoleksinya. Dan rumah kalian—rumah yang akan kalian tempati setelah menikah—dipenuhi ruang kosong. Ruang tempat kamu menyembunyikan bahwa kamu tidak benar-benar mencintainya. Ruang tempat dia menyembunyikan bahwa dia tahu."

Mulutku ternganga.

Perempuan tua itu tersenyum. Dia bangkit. Dia meninggalkan guci itu di teras.

"Kembalikan guci ini setelah isinya penuh," katanya. "Isinya akan penuh sendiri. Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Kecuali jujur. Namun itu yang paling sulit, bukan?"

---

Aku tidak membuka guci itu. Aku tidak berani. Tiga hari menuju pernikahan, aku sibuk dengan gaun, dengan undangan, dengan meja dan kursi dan bunga yang layu sebelum waktunya karena tukang kebun kami lupa menyiram. Akan tetapi, setiap malam, ketika rumah sepi, aku mendengar suara dari dalam guci. Bukan suara keras. Suara seperti bisikan, seperti udara yang ditarik perlahan dari celah-celah sempit. Seperti ada sesuatu yang menghilang ke dalam guci itu.

Pada malam kedua, aku menaruh telingaku di bibir guci.

Dan aku mendengar suaraku sendiri.

Bukan suaraku sekarang. Suaraku dari suatu sore, lima tahun lalu, ketika Ray pertama kali mengajakku kencan. Di dalam guci itu, suaraku berkata: "Aku tidak yakin. Namun dia baik. Mungkin cinta akan datang kemudian."

Lalu suara Ray: "Dia cukup cantik. Dan ibuku suka kepadanya. Mungkin cukup."

Aku menarik kepalaku cepat-cepat. Jantungku berdebar kencang. Bukan karena kaget, melainkan karena guci itu tidak mungkin merekam percakapan itu—percakapan itu terjadi di dalam kepalaku sendiri, di dalam kepalanya sendiri. Kami tidak pernah mengucapkannya keras-keras. Kami hanya memikirkannya.

Ruang kosong.

Perempuan tua itu bilang dia mengoleksi ruang kosong.

Ruang kosong adalah semua hal yang tidak pernah kami katakan.

Dan guci itu, rupanya, adalah tempat semua hal yang tidak pernah kami katakan itu akhirnya pergi.

---

Pernikahan berlangsung seperti yang diharapkan. Aku tersenyum. Ray tersenyum. Kami bertukar cincin. Kami bertukar janji. Kami tidak bertukar hati—karena hati masing-masing sibuk menyembunyikan sesuatu di balik tulang rusuk.

Malam pertama di rumah baru, guci itu masih di teras. Aku memindahkannya ke sudut ruang tamu, di samping rak sepatu yang belum terisi. Ray melihatnya.

"Itu apa?"

"Hadiah pernikahan," kataku. "Dari ... seorang teman."

Ray mengangguk. Dia tidak bertanya lagi. Itulah salah satu hal yang membuatku menikahinya—dia tidak banyak bertanya. Namun malam itu, ketika dia tidur, aku mendengar suara dari guci lagi. Lebih keras. Seperti ada yang menangis di dalam.

Aku mendekat.

Di dalam guci, suaraku lagi: "Aku tidak tahu caranya mencintai orang yang tidak bisa marah. Dia terlalu sempurna. Terlalu datar. Aku ingin dia marah. Aku ingin dia cemburu. Aku ingin dia menjadi manusia."

Suara Ray: "Aku tahu dia tidak mencintaiku. Akan tetapi, aku lebih takut sendiri daripada takut dicintai setengah-setengah. Maka setengah-setengah pun cukup."

Aku mundur.

Kakiku gemetar.

Aku ingin menutup guci itu dengan sesuatu—dengan kain, dengan semen, dengan apa pun. Namun guci itu tidak punya tutup. Mulutnya menganga lebar seperti luka yang tidak bisa dijahit.

Dan di dasarnya, mulai terlihat genangan air. Bening. Hangat. Aku menyentuhnya dengan ujung jari.

Air mata.

Guci itu mengisi dirinya dengan air mata yang tidak pernah kami jatuhkan. Dengan kata-kata yang tidak pernah kami ucapkan. Dengan ruang-ruang kosong di antara dua jantung yang terlalu takut untuk bertabrakan.

---

Bulan kedua pernikahan, aku terbangun pukul tiga pagi. Ray tidak ada di sampingku. Aku menemukannya di ruang tamu, duduk di lantai, memeluk guci itu seperti anak kecil memeluk ibunya.

"Ray?"

Dia tidak menoleh. Bahunya naik turun. Dia menangis.

Aku mendekat. Aku duduk di sampingnya. Aku melihat ke dalam guci itu. Sekarang guci itu setengah penuh. Bukan dengan air. Dengan kabut. Kabut keabu-abuan yang bergerak lambat seperti awan yang tersesat.

"Aku mendengar suara ibuku," bisik Ray. "Di dalam sini. Ibuku berkata dia tidak pernah ingin aku menikah denganmu. Ibuku berkata dia hanya setuju karena dia takut aku tidak akan menikah sama sekali."

Aku diam.

"Dan kau tahu bagian terburuknya?" Ray menatapku. Matanya merah. "Aku setuju dengan ibuku. Aku tidak ingin menikah denganmu. Akan tetapi, aku tidak punya alasan untuk tidak menikah. Dan kau—kau juga tidak punya alasan untuk tidak menikah denganku. Jadi, kita menikah. Karena tidak ada yang cukup kuat untuk membatalkannya. Bukan karena cinta. Karena kehabisan alasan untuk tidak."

Itu pertama kalinya Ray bicara sebanyak itu. Itu pertama kalinya dia jujur.

Dan kejujuran itu—anehnya—membuatku mencintainya.

Sedikit.

Hanya sedikit.

Namun cukup untuk bertanya: "Lalu, sekarang? Setelah kita tahu ini semua, apa yang harus kita lakukan?"

Ray menatap guci itu.

"Kita isi sampai penuh," katanya. "Lalu kita kembalikan. Lalu kita mulai dari awal. Tanpa ruang kosong."

---

Namun guci itu tidak bisa diisi dengan kata-kata yang kita ucapkan. Hanya dengan kata-kata yang tidak pernah kita ucapkan. Semakin kita bicara jujur, semakin guci itu kosong. Kabutnya menipis. Air matanya menguap. Suara-suara di dalamnya menjadi samar, lalu hilang.

"Kita salah," kata Ray suatu malam. "Guci ini bukan tempat menyimpan kejujuran. Guci ini adalah tempat kejujuran tinggal sebelum kita mengucapkannya. Begitu kita mengucapkannya, ruang kosong itu terisi—bukan di dalam guci, melainkan di antara kita. Dan guci itu menjadi kosong lagi, siap diisi dengan kebohongan baru."

"Jadi, bagaimana caranya agar guci itu penuh?"

Ray berpikir lama.

"Kita tidak boleh jujur."

"Lalu?"

"Kita harus membiarkan kebohongan-kebohongan kecil itu tetap di dalam guci. Tidak kita ucapkan. Tidak kita akui. Biarkan mereka mengendap, bertumpuk, sampai guci itu tidak bisa menampung lagi. Lalu kita kembalikan. Lalu kita hidup dengan kebohongan-kebohongan itu selamanya."

Aku terdiam.

"Akan tetapi, bukankah itu namanya pernikahan normal?" tanyaku setengah bercanda.

Ray tidak tertawa.

"Itu namanya pernikahan yang bertahan," katanya serius. "Kebohongan adalah lem. Kejujuran adalah palu yang memecahkannya."

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, kami bertengkar.

Bukan pertengkaran besar. Hanya pertengkaran kecil tentang siapa yang lupa mematikan kompor. Namun di tengah pertengkaran itu, Ray tiba-tiba berteriak: "Kau tidak pernah mencintaiku!"

Dan aku membalas: "Kau juga tidak pernah mencintaiku!"

Dan guci itu—guci itu mengeluarkan suara keras seperti benda pecah. Kami berdua menoleh. Tidak ada yang pecah, tetapi guci itu sekarang penuh. Bukan dengan kabut, bukan dengan air mata. Melainkan dengan daging. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Guci itu penuh dengan sesuatu yang berdenyut, merah, seperti jantung—tetapi bukan satu jantung. Dua jantung. Menempel. Saling menekan. Saling melukai.

"Apa itu?" bisik Ray.

"Ruang kosong," jawab suara dari balik pintu.

Perempuan tua itu berdiri di ambang pintu rumah kami. Bagaimana dia masuk, aku tidak tahu. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Dia tersenyum, senyum yang sama ketika dia meninggalkan guci itu di terasku tiga bulan lalu.

"Sekarang guci itu penuh," katanya. "Bukan karena kalian berhenti berbohong, melainkan karena kalian akhirnya mengatakan kebohongan yang paling penting."

"Apa maksudnya?"

"Kalian bilang kalian tidak saling mencintai. Itu bohong. Kalian saling mencintai. Akan tetapi, kalian terlalu takut untuk mengakuinya. Karena jika kalian mengaku, maka kalian harus bertanggung jawab atas cinta itu. Dan tanggung jawab lebih menakutkan daripada ketiadaan cinta."

Aku dan Ray saling memandang.

"Jadi, kami saling mencintai?" tanyaku pelan.

"Sejak awal," kata perempuan tua itu. "Akan tetapi kalian mengubur cinta itu di bawah tumpukan kebohongan kecil. Kalian bilang 'kita menikah karena tidak ada alasan untuk tidak' karena kalian takut bilang 'kita menikah karena aku ingin bangun di sampingmu setiap pagi'. Kalian bilang 'aku tidak yakin' karena kalian takut bilang 'aku sangat yakin sehingga itu menakutkan'."

Dia mengambil guci itu. Dia mendekapnya seperti bayi.

"Sekarang cinta kalian ada di sini," katanya. "Di dalam guci. Karena kalian tidak pernah cukup berani untuk menyimpannya di dada."

Dia berbalik.

"Tunggu!" teriak Ray. "Apa yang harus kami lakukan?"

Perempuan tua itu berhenti. Tanpa menoleh, dia berkata:

"Kalau kalian ingin cintanya kembali, kalian harus mengambilnya dari dalam guci. Akan tetapi, caranya—" dia tersenyum ke arah pintu, "—kalian harus saling memaafkan. Bukan maaf karena lupa mematikan kompor. Maaf karena selama ini kalian memilih aman. Maaf karena kalian lebih memilih ruang kosong daripada ruang yang penuh dengan kemungkinan hancur."

---

Dia pergi.

Membawa guci itu.

Rumah kami menjadi sunyi. Namun sunyi yang berbeda. Dulu sunyi karena kami tidak berbicara. Sekarang sunyi karena kami tidak tahu harus berkata apa setelah semua dinding kebohongan runtuh.

Ray duduk di sofa. Aku duduk di lantai, bersandar di kakinya.

"Maaf," kataku.

"Untuk apa?"

"Untuk tidak berani. Untuk lebih mudah bilang 'aku tidak yakin' daripada 'aku takut'. Untuk—"

"Berhenti." Ray memegang kepalaku. Dia menatap mataku. "Aku juga maaf. Aku juga tidak berani. Namun sekarang kita sudah tidak punya apa-apa lagi, bukan? Tidak ada guci. Tidak ada ruang kosong. Hanya kita. Dan kejujuran yang sudah terlambat."

"Terlambat?"

"Kita sudah kehilangan cinta kita. Cinta itu sekarang di dalam guci. Dibawa perempuan tua itu entah ke mana."

Aku menggeleng. "Cinta bukan benda, Ray. Cinta tidak bisa disimpan di dalam guci."

"Namun perempuan tua itu—"

"Dia bohong."

Ray terkejut.

Aku tersenyum pahit. "Dia bilang dia mengoleksi ruang kosong. Akan tetapi ruang kosong tidak bisa dikoleksi. Ruang kosong adalah ketiadaan. Kau tidak bisa mengoleksi ketiadaan. Kau hanya bisa merasakannya."

"Jadi, perempuan tua itu—"

"Adalah kita."

Aku berdiri. Aku berjalan ke dapur. Aku mengambil pisau. Ray terperanjat, tetapi aku tidak memotong apa pun. Aku hanya menusukkan pisau itu ke lantai kayu—tepat di tempat perempuan tua itu berdiri tadi.

Lantai itu terbuka.

Seperti pintu jebakan.

Dan di bawah lantai, ada guci yang sama. Kosong. Namun bukan kosong seperti sebelumnya. Kosong yang terang. Kosong yang terasa seperti ruangan setelah jendela dibuka lebar-lebar setelah bertahun-tahun ditutup.

"Cinta tidak pernah pergi," kataku. "Cuma bersembunyi. Di bawah lantai. Di antara dua jantung. Di ruang yang terlalu lama kita biarkan kosong."

---

Ray turun ke bawah lantai.

Dia mengambil guci itu.

Dia mengangkatnya ke atas.

Dan ketika guci itu berada di antara kami, kami melihat sesuatu di dasar guci. Cincin kawin. Bukan cincin kami—cincin pernikahan kami masih ada di jari masing-masing. Namun cincin lain. Cincin emas tua. Dengan ukiran tanggal: 14 Februari 1965.

"Tanggal lahir ibuku," bisik Ray.

"Dan tanggal lahir ayahku," kataku, karena tanggalnya sama.

Kami saling memandang. Tidak mungkin. Ayahku dan ibunya lahir di tahun yang berbeda, tetapi tanggalnya sama. Dan di bawah tanggal itu, ada nama: Lestari dan Suroso.

Nama kakek-nenekku dari pihak ibu.

Nama kakek-neneknya dari pihak ayah.

Mereka adalah saudara.

Bukan saudara kandung, melainkan saudara sepupu. Dan pernikahan antara sepupu—di kampung halaman kami—adalah hal yang dilarang. Bukan karena agama atau hukum, melainkan karena kutukan. Kutukan yang dibuat oleh kakek buyutku sendiri, seratus tahun lalu, karena cintanya ditolak.

"Kita tidak seharusnya menikah," kata Ray pelan.

"Namun kita sudah menikah."

"Dan kita tidak bisa bercerai."

"Kenapa?"

"Karena perempuan tua itu—dia adalah kakek buyutmu yang berubah wujud. Kutukannya adalah: setiap keturunan yang menikahi sepupunya akan kehilangan cintanya. Bukan cinta yang hilang. Cinta itu berubah menjadi guci kosong. Dan satu-satunya cara untuk memecahkan kutukan itu adalah—"

Ray berhenti.

"Apa?"

Dia menatapku. Matanya basah.

"Kita harus memaafkan kakek buyutmu. Karena dia tidak mengutuk kita karena benci. Dia mengutuk kita karena dia tidak pernah dimaafkan ketika dia dicampakkan."

Aku menutup mata.

Kutukan.

Memaafkan.

Guci.

Ruang kosong.

Semuanya berputar di kepalaku seperti pusaran air.

Lalu aku mengambil guci itu dari tangan Ray. Aku melemparkannya ke lantai. Guci itu pecah. Menjadi ribuan kepingan kecil. Dan dari dalam pecahan-pecahan itu, keluar cahaya. Bukan cahaya putih. Cahaya keemasan, seperti matahari terbit di hari pertama dunia.

Dan di tengah cahaya itu, seorang lelaki tua berdiri. Kakek buyutku. Matanya sedih. Tangannya gemetar.

"Akhirnya," katanya. "Ada yang berani memecahkannya."

"Maaf," kataku. Bukan karena aku bersalah, melainkan karena kata itu—entah bagaimana—adalah satu-satunya kata yang bisa mengakhiri sesuatu yang sudah berlangsung terlalu lama.

Lelaki tua itu tersenyum. Dia mengangguk. Lalu dia menghilang. Bersama cahaya itu. Bersama guci itu. Bersama ruang kosong yang selama seratus tahun menjadi penghalang antara dua jantung yang takut mencintai.

---

Ray dan aku tidak bercerai.

Kami juga tidak tiba-tiba jatuh cinta secara membabi buta.

Kami hanya—ada.

Di ruang yang sama, di rumah yang sama, dengan kejujuran yang mulai tumbuh seperti rumput di tanah yang sebelumnya hanya bebatuan.

Kadang kami bertengkar.

Kadang kami marah.

Kadang kami bilang "aku benci kamu" dengan nada yang sebenarnya berarti "tolong peluk aku".

Akan tetapi, tidak ada lagi guci.

Tidak ada lagi ruang kosong.

Hanya dua jantung.

Berkat kutukan yang akhirnya dimaafkan.

Atau berkutuk-kutukan yang berkatnya adalah ruang untuk saling memaafkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI