RUANG TUNGGU DI ANTARA DUA KEMATIAN
RUANG TUNGGU DI ANTARA DUA KEMATIAN
Seorang perempuan bernama Seda menemukan surat dari dirinya sendiri yang belum pernah ia tulis.
Amplop itu berwarna krem dengan tulisan tangan yang tidak bisa disangkal miliknya—lengkungan huruf 'S' yang selalu terlalu besar, cara ia menulis 'a' yang hampir menyerupai 'o'. Akan tetapi, ia tidak ingat pernah menulisnya. Tidak ingat pernah membeli amplop krem. Tidak ingat pernah menyegel sesuatu dengan lak merah yang kini mengelupas di ujung jarinya.
Yang lebih mengerikan: surat itu beralamat ke rumah duka.
Untuk Seda, di antara dua kematian.
Ia membuka surat itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada satu kalimat, ditulis dengan tinta hitam yang masih basah:
"Jangan percaya suamimu. Ia akan membunuhmu pukul 11 malam. Namun, itu lebih baik daripada yang akan terjadi pukul 12."
---
Dua belas jam sebelumnya, Seda duduk di ruang tamu sembari memandangi suaminya, Baran, yang sedang menyeduh teh. Gerakannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang katanya baru saja kehilangan ibunya.
"Kau tidak terlihat sedih," kata Seda.
Baran menuangkan air panas ke cangkir. Uap mengepul, mengaburkan wajahnya. "Aku sudah menangis selama tiga bulan sejak vonis dokter. Air mataku habis."
"Akan tetapi, kau tidak menangis di pemakaman."
"Setiap orang berduka dengan caranya sendiri."
Seda ingin percaya, tetapi ada yang ganjil dari kematian ibu mertuanya. Perempuan itu ditemukan di kamar mandi, kepalanya terbentur keran, darah menggenang di lantai. Dokter menyatakan itu kecelakaan. Namun Seda ingat, malam sebelum kematian itu, ia mendengar suara pertengkaran dari kamar ibunya. Suara Baran. Suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya—rendah, menggeram, seperti binatang yang terpojok.
"Kau yakin tidak ada yang ingin kau ceritakan kepadaku?" tanya Seda.
Baran menyesap tehnya. "Apa yang ingin kau dengar?"
"Kebenaran."
Ia menatap Seda lewat uap yang masih mengepul. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun pernikahan, Seda melihat sesuatu di mata suaminya yang tidak ia kenali.
"Kebenaran," kata Baran pelan, "adalah sesuatu yang kau cari hanya kalau kau siap kehilangan segalanya."
---
Surat kedua ditemukan Seda di balik bantalnya malam itu. Amplop krem yang sama. Tulisan tangan yang sama. Lak merah yang sama.
"Pukul 10.45 malam, kau akan mendengar suara langkah kaki di loteng. Jangan naik. Apa pun yang terjadi, jangan naik. Itu bukan ibu mertuamu. Itu sesuatu yang memakai suaranya."
Seda menatap jam dinding. 10.44.
Ia menahan napas. Menghitung detik.
10.45.
Tok. Tok. Tok.
Suara langkah kaki dari loteng. Persis di atas kamarnya. Lambat. Teratur. Seperti seseorang yang berjalan mondar-mandir. Seseorang dengan langkah yang berat. Seseorang yang—
"Seda ...."
Suara itu. Suara perempuan tua. Suara ibu mertuanya. Memanggil dari loteng.
"Seda ... tolong aku ...."
Seda menatap pintu kamar. Baran tidak ada di sana. Ia sedang di kamar mandi. Suara shower menderu. Atau itu yang ia kira. Atau itu yang ia harapkan. Karena sekarang ia tidak yakin lagi suara apa yang nyata dan suara apa yang hanya ada di kepalanya.
Langkah kaki di loteng semakin keras. Semakin cepat. Seperti seseorang yang mulai berlari.
"SEDA! DIA BUKAN ANAKKU! DIA BUKAN BARAN!"
Seda meremas surat di tangannya. Jangan naik. Apa pun yang terjadi, jangan naik.
Namun suara itu. Suara ibu mertuanya. Perempuan yang selalu baik kepadanya. Perempuan yang mengajarinya membuat kue. Perempuan yang memeluknya di hari pernikahan dan berbisik, "Kau satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan anakku."
Menyelamatkan dari apa?
---
Pukul 11 malam. Surat pertama benar. Baran masuk ke kamar. Tangannya basah. Matanya merah. Ia tidak membawa handuk. Ia membawa sesuatu yang berkilat.
"Kau mendengar suara ibu," katanya. Bukan pertanyaan.
Seda mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. "Ibumu sudah meninggal."
"Ibuku sudah meninggal," Baran mengangguk, "tetapi kau tetap mendengarnya."
"Bagaimana kau tahu?"
Baran melangkah mendekat. Benda berkilat di tangannya kini jelas terlihat. Sepasang gunting. Gunting yang biasa digunakan Seda untuk memotong kain. Gunting yang ia tinggalkan di ruang jahit tadi siang.
"Karena aku juga mendengarnya," kata Baran. "Setiap malam. Sejak aku membunuhnya."
Dunia Seda berhenti.
"Apa?"
"Kau ingin kebenaran, bukan?" Baran tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Senyum yang terlalu lebar. Terlalu banyak gigi. "Ini kebenarannya: aku membunuh ibuku. Aku membenturkan kepalanya ke keran. Tiga kali. Sampai ia berhenti bergerak. Kau tahu kenapa?"
Seda tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
"Karena ibuku tahu rahasiaku. Rahasia yang selama ini kusembunyikan darimu." Baran mengangkat gunting itu. "Mau tahu rahasia apa?"
---
Surat ketiga. Seda tidak tahu bagaimana surat itu bisa ada di tangannya sekarang. Ia tidak ingat mengambilnya. Akan tetapi, surat itu ada di genggamannya. Amplop krem. Lak merah. Tulisan tangannya sendiri.
"Pukul 11.15 malam, Baran akan memberitahumu rahasianya. Jangan percaya. Namun, jangan juga tidak percaya. Karena kebenaran yang akan ia ungkapkan adalah kebenaran yang salah. Dan kebohongan yang akan ia sembunyikan adalah kebohongan yang benar."
Jam dinding menunjukkan 11.15.
"Aku bukan Baran," kata suaminya. "Baran yang asli sudah mati. Sejak delapan tahun lalu. Aku yang berdiri di hadapanmu adalah orang lain. Orang yang mengambil alih hidupnya. Tubuhnya. Pernikahannya."
Seda menggeleng. "Itu tidak mungkin. Aku pasti tahu. Aku istrimu."
"Kau tidak tahu karena kau tidak ingin tahu." Baran—atau apa pun yang memakai wajah Baran—melangkah lebih dekat. "Kau pikir aku tidak sadar? Setiap kali aku menyentuhmu, kau bergidik. Setiap kali aku bicara, kau melihat ke arah lain. Kau mencintaiku. Namun kau tidak mencintai tubuh ini. Kau mencintai sesuatu yang lain. Seseorang yang lain."
"Omong kosong."
"Benarkah?" Baran menyentuh pipinya dengan ujung gunting. Dingin. "Kalau begitu, kenapa kau menulis surat-surat itu? Kenapa kau memperingatkan dirimu sendiri? Karena kau tahu. Jauh di dalam, kau tahu bahwa pria yang kau nikahi bukanlah pria yang kau cintai."
Seda menatap surat di tangannya. Surat yang ia tidak ingat menulisnya. Akan tetapi, tulisan tangannya tidak bisa dibantah. Lengkungan 'S' yang terlalu besar. Huruf 'a' yang menyerupai 'o'.
Jangan percaya suamimu.
Namun, siapa yang menulis ini? Seda yang sekarang? Atau Seda yang lain?
---
Pukul 11.45. Baran masih memegang gunting. Seda masih memegang surat. Loteng masih bersuara.
"Kau ingin tahu siapa yang memanggilmu dari loteng?" tanya Baran. "Itu bukan ibuku. Itu Baran yang asli. Atau tepatnya ... yang tersisa darinya."
"Apa maksudmu?"
"Aku mengurungnya di loteng. Setelah aku mengambil alih tubuhnya. Aku tidak bisa membunuhnya sepenuhnya karena ... ya, kau tidak bisa membunuh sesuatu yang bukan sepenuhnya milikmu." Baran terkekeh. "Jadi, aku menguncinya. Memberinya makan sisa-sisa. Kadang aku biarkan dia melihatmu lewat celah lantai. Melihat istrinya hidup bersama pria yang mencuri tubuhnya. Kau tahu bagian terburuknya?"
Seda tidak ingin tahu, tetapi Baran tetap melanjutkan.
"Dia tidak bisa berteriak. Pita suaranya sudah kupotong. Jadi, dia hanya bisa berbisik. Berbisik kepadamu setiap malam. Akan tetapi, kau selalu mengira itu angin. Atau pipa. Atau tetangga. Manusia memang jenius dalam hal mengabaikan hal-hal yang tidak ingin mereka dengar."
Tok. Tok. Tok.
Langkah kaki di loteng. Kali ini lebih keras. Lebih putus asa.
"Seda ... tolong aku ... dia bukan aku ...."
Suara itu. Suara Baran. Baran yang asli. Suara yang dikenali Seda dari delapan tahun pernikahan. Suara yang membacakan puisi di malam pertama mereka. Suara yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anak-anak yang tidak pernah mereka miliki. Suara yang—
Tunggu.
Anak-anak yang tidak pernah mereka miliki.
Seda menatap perutnya sendiri. Rata. Selalu rata. Delapan tahun pernikahan dan tidak pernah hamil. Dokter bilang ia mandul. Namun sekarang ia bertanya-tanya—apakah benar ia yang mandul? Atau sesuatu yang lain? Seseorang yang lain?
"Kau tidak pernah menginginkan anak," bisik Seda. "Setiap kali aku membicarakan bayi, kau selalu mengalihkan topik."
Baran tersenyum. Senyum yang kini terlihat semakin asing. Semakin lebar. Semakin tidak manusiawi.
"Tentu saja. Aku bukan suamimu. Kenapa aku harus memberimu anak?"
---
Surat keempat. Amplopnya berwarna hitam. Kapan Seda mengambilnya? Di mana ia menemukannya? Ia tidak tahu. Akan tetapi, surat itu kini di tangannya. Surat yang disegel dengan lak hitam. Surat dengan tulisan tangan yang masih miliknya, tetapi kali ini tintanya berwarna putih.
"Pukul 11.59, kau akan dihadapkan pada pilihan. Bunuh Baran yang palsu. Atau bebaskan Baran yang asli. Kau hanya bisa memilih satu. Dan apa pun pilihanmu ... kau akan kehilangan keduanya."
Seda membaca surat itu berulang kali. Kau akan kehilangan keduanya. Jadi, tidak ada pilihan yang benar? Tidak ada jalan keluar?
"Kau sudah membaca suratnya?" tanya Baran yang palsu. "Bagus. Sekarang kau tahu aturan mainnya."
Aturan main? Jadi, ini permainan?
"Tentu saja ini permainan," kata Baran, seolah membaca pikirannya. "Sejak awal ini adalah permainan. Pertanyaannya: siapa yang bermain? Aku? Kau? Atau seseorang yang lain? Seseorang yang menulis surat-surat itu? Seseorang yang tahu persis apa yang akan terjadi sebelum semuanya terjadi?"
Seda menatap jam. 11.58.
Satu menit lagi.
"Siapa yang menulis surat-surat ini?" tanyanya, suaranya bergetar.
Baran meletakkan gunting di meja. Ia mundur selangkah. Memberi Seda ruang.
"Itu pertanyaan yang salah," katanya. "Pertanyaan yang benar adalah: Seda yang mana?"
11.59.
Dan Seda mengerti.
Atau pura-pura mengerti.
Atau dipaksa mengerti oleh sesuatu yang lebih besar dari pengertian itu sendiri.
---
Ruang tunggu itu luas. Kursi-kursi plastik biru berjajar rapi. Dindingnya putih. Lantainya putih. Langit-langitnya putih. Tidak ada jendela. Tidak ada pintu. Hanya kursi-kursi dan sebuah meja kecil di sudut dengan teko air dan gelas-gelas plastik.
Seda duduk di kursi nomor tiga. Ia tidak tahu kenapa ia tahu itu kursi nomor tiga. Ia hanya tahu.
Di sebelahnya, seorang perempuan duduk dengan tenang. Perempuan itu memakai gaun biru. Rambutnya dikepang. Wajahnya ....
Itu wajahnya sendiri.
"Kau terlambat," kata perempuan itu. "Aku sudah menunggumu sejak pukul 11."
Seda menatap perempuan itu. Dirinya yang lain. Dirinya yang memakai gaun yang tidak ia kenali. Dirinya yang rambutnya dikepang—Seda tidak pernah mengepang rambutnya.
"Siapa kau?"
"Aku Seda yang menulis surat-surat itu." Perempuan itu tersenyum. "Aku Seda yang tahu apa yang akan terjadi. Aku Seda dari masa depan. Atau masa lalu. Atau masa yang tidak pernah terjadi. Tergantung pilihanmu."
"Pilihan apa?"
Perempuan itu menunjuk ke arah meja. Di atas meja, selain teko dan gelas, ada dua benda. Sebuah gunting. Dan sebuah kunci.
"Gunting untuk membunuh Baran yang palsu. Kunci untuk membebaskan Baran yang asli. Kau hanya bisa memilih satu. Dan apa pun pilihanmu ...," perempuan itu berhenti sejenak,"... kau akan kehilangan keduanya."
"Aku sudah membaca surat itu."
"Tentu saja. Aku yang menulisnya."
"Akan tetapi, kenapa? Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau tidak memberitahuku langsung? Kenapa harus lewat surat-surat misterius?"
Perempuan itu menatap Seda dengan mata yang persis seperti matanya sendiri. Namun ada sesuatu di mata itu. Sesuatu yang lelah. Sesuatu yang sudah melihat terlalu banyak.
"Karena kau tidak akan percaya. Kau tidak pernah percaya. Bahkan sekarang, kau masih meragukan, apakah aku nyata atau hanya halusinasimu."
Itu benar. Seda masih meragukannya.
"Kau lihat?" Perempuan itu tertawa kecil. "Itulah masalah kita, Seda. Kita terlalu banyak bertanya. Terlalu sedikit bertindak. Dan sekarang waktunya hampir habis."
Jam dinding menunjukkan 12.00. Akan tetapi, jarumnya tidak bergerak. Macet. Seperti ruangan ini. Seperti waktu di ruangan ini.
"Aku tidak bisa memilih," kata Seda. "Aku tidak tahu mana yang benar."
"Tidak ada yang benar. Tidak ada yang salah. Yang ada hanya konsekuensi." Perempuan itu berdiri. "Aku akan memberitahumu apa yang terjadi jika kau memilih gunting."
Ruang tunggu bergetar. Dinding putih berubah menjadi layar. Dan di layar itu, Seda melihat dirinya sendiri—memegang gunting, menusukkannya ke dada Baran yang palsu. Darah mengucur. Tubuh Baran roboh. Akan tetapi dari lukanya, tidak keluar organ. Tidak keluar tulang. Yang keluar adalah cahaya. Cahaya yang berbentuk manusia. Cahaya yang berteriak dalam bahasa yang tidak dikenali Seda.
Kemudian Seda di layar itu berlari ke loteng. Membuka kunci. Dan menemukan Baran yang asli—tubuhnya kurus, matanya cekung, pita suaranya hilang. Ia memeluk Seda. Menangis tanpa suara. Dan mereka hidup bahagia.
Selama tiga hari.
Karena di hari keempat, Baran yang asli mulai berubah. Kulitnya mengelupas. Matanya membesar. Dan dari mulutnya yang terbuka, keluar suara yang bukan suaranya: "Terima kasih sudah membebaskanku. Sekarang giliranku."
"Itu bukan Baran yang asli," kata perempuan di sebelah Seda. "Itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini berpura-pura menjadi Baran yang asli di dalam loteng. Sesuatu yang lebih tua. Lebih lapar. Dan kau baru saja memberinya jalan keluar."
Layar mati. Ruang tunggu kembali putih.
"Dan jika aku memilih kunci?" tanya Seda.
Perempuan itu menghela napas. "Kau tidak akan suka."
Ruang tunggu bergetar lagi. Layar menyala. Kali ini Seda melihat dirinya sendiri mengambil kunci, membiarkan Baran yang palsu hidup, dan naik ke loteng. Ia membuka kunci. Dan di dalam loteng ....
Tidak ada apa-apa.
Loteng itu kosong. Tidak ada Baran yang asli. Tidak ada Baran yang palsu. Hanya debu dan kotak-kotak tua dan jendela kecil yang memperlihatkan bulan.
Namun, di lantai loteng, ada sebuah surat. Amplop krem. Lak merah. Tulisan tangan Seda.
"Barannya tidak pernah ada. Yang asli maupun yang palsu. Kau menikah dengan kursi kosong. Kau mencintai hantu. Kau menulis surat-surat ini untuk dirimu sendiri karena kau tidak tahan dengan kesepian."
Seda di layar itu membaca surat tersebut. Lalu berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Pita suaranya hilang. Sejak kapan? Ia tidak tahu. Ia tidak ingat. Yang ia ingat hanya suara langkah kaki di loteng. Suara yang selama delapan tahun ia kira adalah suaminya. Padahal tidak ada siapa-siapa.
"Kau lihat?" Perempuan di sebelah Seda tersenyum sedih. "Apa pun pilihanmu, kau akan kehilangan keduanya. Karena keduanya tidak pernah ada."
Seda menatap meja. Gunting dan kunci. Dua pilihan. Dua jalan. Dua akhir yang sama-sama buruk.
"Kalau begitu, aku tidak akan memilih," katanya.
"Kau tidak bisa tidak memilih. Waktu akan terus berjalan. Dan ketika jarum jam mencapai 12.01, pilihan akan dibuatkan untukmu."
"Oleh siapa?"
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah sudut ruangan. Di sudut itu, ada seorang perempuan lain duduk. Gaun putih. Rambut tergerai. Wajahnya ....
Wajah Seda juga.
Itu Seda yang ketiga.
"Siapa dia?"
"Dia Seda yang memilih untuk tidak memilih. Kau ingin tahu apa yang terjadi kepadanya?"
Seda yang ketiga mengangkat wajahnya. Dan Seda melihat bahwa mata perempuan itu kosong. Bola matanya hilang. Mulutnya dijahit rapat. Tangannya ....
Tangannya menulis.
Di atas kertas. Di atas dinding. Di atas lantai. Di atas apa pun yang bisa ditulisi. Menulis kalimat yang sama berulang-ulang:
Jangan percaya suamimu. Ia akan membunuhmu pukul 11 malam. Namun itu lebih baik daripada yang akan terjadi pukul 12.
"Dialah yang menulis surat-surat itu," kata Seda yang kedua. "Bukan aku. Aku hanya mengantarkannya. Dia menulisnya. Terus-menerus. Ke dirinya sendiri. Ke semua dirinya. Ke semua Seda yang pernah ada, yang sedang ada, yang akan ada. Karena dia tidak bisa berhenti. Karena berhenti berarti menerima. Dan menerima berarti mati."
---
Jam dinding bergerak. 12.01.
Seda kembali ke kamarnya. Baran berdiri di hadapannya. Gunting di tangannya. Kunci di meja. Loteng di atas kepalanya.
"Aku sudah memilih," kata Seda.
Baran mengangkat alis. "Oh? Apa pilihanmu?"
"Aku memilih untuk bertanya."
"Bertanya apa?"
"Kenapa kau memberitahuku semua ini? Kenapa kau mengaku membunuh ibumu? Kenapa kau mengaku bukan Baran yang asli? Kenapa sekarang? Kenapa malam ini?"
Baran tidak menjawab, tetapi senyumnya pudar.
"Kau tidak perlu memberitahuku," lanjut Seda. "Kau bisa saja membunuhku tanpa penjelasan. Akan tetapi, kau memilih untuk bicara. Kau memilih untuk memberiku surat-surat itu. Kau memilih untuk memberiku waktu. Kenapa?"
Baran mundur selangkah.
"Karena kau bukan ancamannya," kata Seda, dan sesuatu di dalam dirinya mulai menyala—api kecil di tengah kebingungan yang luas. "Kau hanyalah bagian dari permainan ini. Sama sepertiku. Sama seperti Baran yang di loteng. Sama seperti ibu mertuaku. Kita semua bidak. Pertanyaannya: siapa yang bermain?"
Baran meletakkan gunting. Wajahnya berubah. Bukan berubah bentuk, melainkan berubah ekspresi. Dari seringai kemenangan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap.
"Kau lebih pintar dari yang kukira."
"Aku tidak pintar. Aku hanya lelah. Lelah menjadi bidak. Lelah memilih di antara dua pilihan yang sama-sama menjebak. Lelah membaca surat-surat dari diriku sendiri yang entah datang dari masa lalu atau masa depan atau masa yang tidak pernah ada." Seda melangkah mendekat. "Jadi, aku memutuskan untuk tidak memilih. Aku memutuskan untuk bertanya. Dan pertanyaanku sekarang: siapa yang menulis surat pertama? Siapa yang memulai semua ini?"
Baran terdiam. Lalu ia menatap ke atas. Ke loteng.
"Kau tidak akan suka jawabannya."
"Coba saja."
Baran menghela napas. "Surat pertama ... ditulis oleh Seda yang ketiga. Seda yang kau lihat di ruang tunggu. Seda yang menulis tanpa henti. Akan tetapi, dia menulisnya bukan untukmu."
"Untuk siapa?"
"Untukmu. Namun bukan kau yang sekarang. Bukan kau yang di sini. Dia menulisnya untuk Seda yang keempat. Seda yang belum lahir. Seda yang akan membaca surat-surat ini dan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh Seda pertama, kedua, dan ketiga."
"Apa itu?"
"Mengakhiri permainan."
---
Seda yang keempat membuka matanya.
Ia berada di ruang tunggu. Akan tetapi, kali ini ruang tunggu itu berbeda. Kursi-kursinya berwarna merah. Dindingnya hitam. Di meja, tidak ada teko dan gelas. Hanya ada satu amplop. Amplop hitam. Lak hitam.
Ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada selembar kertas dengan satu kalimat:
"Selamat datang. Sekarang kau adalah Seda yang keempat. Tugasmu: menulis surat untuk Seda yang kelima. Karena permainan tidak akan pernah berakhir. Ia hanya berganti pemain."
Seda yang keempat menatap kertas itu. Lalu menatap tangannya sendiri. Di tangannya, ada pena. Pena dengan tinta hitam yang masih basah.
Dan ia mulai menulis.
"Seorang perempuan bernama Seda menemukan surat dari dirinya sendiri yang belum pernah ia tulis ...."
---
Delapan tahun sebelum semua ini dimulai, Seda yang pertama—Seda yang asli, Seda yang belum terpecah menjadi banyak versi—duduk di meja riasnya. Ia baru saja menikah. Baran sedang tidur di ranjang. Dan di cermin, Seda melihat bayangannya sendiri.
Akan tetapi, bayangan itu tidak mengikutinya.
Bayangan itu tetap duduk, bahkan ketika Seda berdiri. Bayangan itu menatapnya dengan mata yang kosong. Dan dari mulutnya yang dijahit rapat, keluar bisikan yang tidak bisa didengar siapa pun kecuali Seda:
"Kau akan menulis surat-surat. Banyak surat. Untuk dirimu sendiri. Dan setiap surat akan membawamu lebih dekat kepadaku. Lebih dekat pada kebenaran. Lebih dekat pada kematian."
Seda menatap bayangannya. Lalu menatap suaminya yang tertidur. Lalu menatap tangannya sendiri.
Di tangannya, ada amplop krem yang tidak ia ingat mengambilnya.
"Ini surat pertama," bisik bayangannya. "Tuliskan sesuatu. Apa saja. Permainan baru saja dimulai."
Dan Seda menulis.
Karena apa lagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang tidak bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan, antara suami dan penyamar, antara surat dan ingatan, antara hidup dan permainan yang tidak pernah berakhir?
Ia menulis.
Dan akan terus menulis.
Sampai Seda yang terakhir—Seda yang keseratus, Seda yang keseribu, Seda yang entah keberapa—akhirnya berhenti.
Namun, itu tidak akan terjadi malam ini.
Malam ini, Seda yang keempat baru saja mulai.
Komentar
Posting Komentar