RUMAH YANG MEMAKAN PENGHUNINYA
RUMAH YANG MEMAKAN PENGHUNINYA
Seorang anak laki-laki bernama Bara menerima pesan dari ibunya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu.
Pesan itu muncul di ponselnya pukul tiga dini hari, saat hujan mengguyur atap seng rumah kontrakannya. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah lama tidak aktif, nomor yang dulu ia hapus dari kontak karena setiap kali melihatnya, dadanya terasa diremas sesuatu yang tidak kasatmata.
"Bara, jangan pulang ke rumah besok. Apa pun yang terjadi, jangan pulang."
Di luar, hujan semakin deras. Akan tetapi, bukan suara hujan yang membuat Bara membeku, melainkan fakta bahwa ia tidak pernah memberi tahu siapa pun—siapa pun—bahwa ia berencana pulang ke rumah masa kecilnya besok. Itu keputusan mendadak. Dibuat satu jam yang lalu. Setelah ia menerima telepon dari seorang pengacara yang memberitahukan bahwa rumah itu akhirnya resmi menjadi miliknya.
Rumah yang ditinggalkannya sejak usia dua belas tahun. Rumah tempat ibunya ditemukan tergantung di ruang tengah. Rumah yang selama tujuh tahun tidak berani ia kunjungi.
Dan kini, ibunya—atau sesuatu yang memakai nomor ibunya—memintanya untuk tidak pulang.
---
Pagi harinya, Bara tetap berangkat.
Bukan karena ia tidak takut, melainkan karena ada sesuatu yang lebih besar dari ketakutan: rasa penasaran yang sudah tujuh tahun membusuk di dalam dadanya. Ibunya meninggal dengan cara yang tidak pernah masuk akal. Tidak ada surat wasiat, tidak ada riwayat depresi, tidak ada masalah keuangan. Perempuan itu hanya pergi ke pasar, membeli ikan, memasak sayur asam, menjemur pakaian, lalu menggantung dirinya di ruang tengah.
Polisi menyimpulkan bunuh diri. Kasus ditutup. Akan tetapi, Bara tidak pernah percaya.
Dan sekarang, ia punya kesempatan untuk mencari tahu.
Bus berhenti di depan gerbang kayu yang sudah lapuk. Rumah itu berdiri di ujung jalan setapak, dikelilingi pohon-pohon mangga yang tidak pernah berbuah. Catnya mengelupas. Gentingnya bolong di beberapa bagian. Namun yang paling mencolok adalah pintu depannya—dicat merah menyala, kontras dengan keseluruhan rumah yang kusam.
Seseorang mengecat ulang pintu itu.
"Itu tidak mungkin," bisik Bara kepada dirinya sendiri. "Tidak ada yang tinggal di sini."
Ia melangkah masuk ke halaman. Rumput setinggi lutut. Akan tetapi, ada jejak di antara rumput-rumput itu. Jejak kaki. Banyak. Seperti seseorang—atau beberapa orang—sering berjalan bolak-balik ke rumah ini.
Ponselnya bergetar. Pesan baru.
"Kau tetap datang. Padahal Ibu sudah memperingatkanmu."
Bara menatap layar ponsel. Nomor ibunya. Masih aktif. Masih mengirim pesan.
"Kau bukan ibuku," kata Bara, bicara pada ponsel seolah benda itu bisa mendengarnya.
Ponselnya bergetar lagi.
"Kau benar. Aku bukan ibumu. Namun, aku satu-satunya yang peduli apakah kau hidup atau mati hari ini."
---
Kunci rumah itu masih sama. Bara masih menyimpannya di dompet, meski tidak pernah ia gunakan. Sekarang kunci itu berputar dengan mulus di lubangnya, seolah rumah ini tidak pernah ditinggalkan. Seolah rumah ini menunggunya.
Pintu merah itu terbuka dengan suara yang aneh. Bukan derit engsel biasa, melainkan suara seperti embusan napas panjang. Seperti sesuatu yang lega.
Di dalam, tidak ada yang berubah.
Lemari tua di sudut. Foto-foto keluarga di dinding. Meja makan dengan taplak bermotif bunga matahari yang sudah pudar. Dan di ruang tengah—tempat ibunya dulu ditemukan—ada sebuah kursi kosong.
Bara berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk lebih jauh. Bukan karena takut, melainkan karena ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang berdenyut di udara. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Rumah ini hidup.
Bukan dalam arti metaforis. Bukan dalam arti puitis. Melainkan benar-benar hidup. Dindingnya mengembang dan mengempis seperti paru-paru. Lantainya hangat seperti kulit. Dan dari lubang-lubang ventilasi, terdengar suara—bukan suara angin, melainkan dengkus napas. Lambat. Teratur.
Rumah ini bernapas.
"Bara."
Suara itu datang dari ruang tengah. Suara perempuan. Suara yang dikenali Bara bahkan setelah tujuh tahun.
"Bara, sini. Ibu ada di sini."
---
Di ruang tengah, kursi kosong itu kini tidak kosong lagi.
Seorang perempuan duduk di sana. Mengenakan daster bermotif bunga—daster yang sama yang dikenakan ibunya di hari kematiannya. Rambutnya tergerai. Wajahnya tertunduk. Namun, Bara tahu itu ibunya. Ia mengenali bentuk bahu itu. Lekuk jari-jari itu. Cara ibunya duduk dengan kaki menyilang.
"Ibu?" suara Bara hampir tidak keluar.
Perempuan itu mengangkat wajahnya.
Dan Bara berharap—berdoa—bahwa itu bukan ibunya. Karena wajah itu ... bukan wajah yang seharusnya dimiliki oleh orang mati. Wajah itu membusuk di beberapa bagian, tetapi di bagian lain terlihat segar. Satu matanya terbuka dan menatap Bara dengan intensitas yang mengerikan. Mata satunya lagi tertutup, tetapi di balik kelopaknya, sesuatu bergerak-gerak.
"Kau sudah besar," kata perempuan itu. Suaranya normal. Terlalu normal untuk wajah yang setengah membusuk. "Kau sudah setinggi ayahmu."
"Ibu ... sudah meninggal."
"Apa bedanya?" Ibu itu tersenyum. Bibirnya robek di sudut. "Hidup dan mati hanya soal perspektif. Kau masih hidup, tetapi kau tidak pernah benar-benar hidup sejak Ibu pergi. Jadi, siapa yang lebih mati? Ibu atau kau?"
Bara mundur selangkah. Punggungnya menyentuh dinding. Dinding itu bergetar. Hangat. Seperti kulit. Seperti tubuh yang sangat besar.
"Rumah ini," kata ibunya, "bukan rumah biasa. Kau tahu itu, bukan?"
Bara menggeleng.
"Tentu saja kau tahu. Kau hanya berpura-pura tidak tahu. Sama seperti kau berpura-pura tidak tahu kenapa Ibu meninggal."
"Aku tidak—"
"KAU TAHU!"
Suara itu menggelegar. Seluruh rumah bergetar. Foto-foto di dinding jatuh. Lemari bergeser. Dan di tengah kekacauan itu, ibunya berdiri. Tubuhnya yang setengah membusuk berjalan mendekat, meninggalkan jejak cairan hitam di lantai.
"Kau tahu kenapa Ibu meninggal. Kau hanya memilih untuk melupakannya. Akan tetapi, rumah ini ingat. Rumah ini selalu ingat. Dan sekarang kau sudah di sini ... rumah ini tidak akan melepaskanmu."
---
Tujuh tahun yang lalu, Bara berusia dua belas tahun. Hari itu ia pulang sekolah lebih cepat karena gurunya sakit. Ia membuka pintu rumah—pintu yang sama, hanya saja saat itu belum berwarna merah—dan mendapati ibunya berdiri di ruang tengah.
Bukan sendirian.
Ada seorang pria. Bukan ayahnya. Pria itu memakai jas hitam. Wajahnya tidak bisa diingat Bara. Tidak bisa diingat bukan karena ia lupa, melainkan karena otaknya menolak untuk menyimpan ingatan itu. Setiap kali ia mencoba mengingat, yang muncul hanyalah bayangan gelap. Sosok tanpa fitur. Hantu yang lebih nyata dari hantu.
Ibunya berteriak. Pria itu pergi lewat pintu belakang. Dan Bara ....
Bara mengatakan sesuatu. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang tidak bisa ia maafkan kepada dirinya sendiri.
"Aku benci Ibu! Aku harap Ibu mati saja!"
Kata-kata seorang anak dua belas tahun yang marah. Kata-kata yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun, sore itu, setelah ia mengunci diri di kamar dan menangis sampai tertidur, ia terbangun oleh suara kursi jatuh. Dan di ruang tengah, ia menemukan ibunya tergantung di tali jemuran.
Kata-katanya menjadi kenyataan.
Atau ... apakah memang begitu?
---
"Aku tidak membunuhmu," kata Bara, suaranya bergetar. "Itu hanya kata-kata. Aku masih kecil. Aku tidak tahu—"
"Tentu saja kau tidak membunuh Ibu." Ibunya—atau apa pun yang memakai wajah ibunya—tertawa. Tawa yang pecah dan basah. "Ibu bunuh diri karena Ibu tidak tahan. Namun, bukan karena kata-katamu. Karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang Ibu lihat di rumah ini. Sesuatu yang membuat Ibu lebih memilih mati daripada terus melihatnya."
"Apa?"
Ibunya berhenti tertawa. Wajahnya yang setengah membusuk kini sangat dekat dengan wajah Bara. Napasnya berbau tanah dan sesuatu yang manis.
"Rumah ini punya pintu," bisiknya. "Pintu yang tidak boleh dibuka. Pintu yang ada di belakang lemari kamarmu dulu. Kau ingat?"
Bara ingat. Tentu saja ia ingat. Lemari di kamarnya selalu terasa aneh. Terlalu berat untuk dipindahkan. Terlalu dingin di bagian belakangnya. Dulu ia mengira itu hanya perasaan anak-anak. Akan tetapi, sekarang ....
"Jangan buka pintu itu," kata ibunya. "Apa pun yang terjadi, jangan buka. Itu kenapa Ibu memintamu untuk tidak pulang. Karena Ibu tahu kau akan penasaran. Ibu tahu kau akan mencarinya. Dan begitu kau membukanya—"
"Kenapa?" potong Bara. "Apa yang ada di balik pintu itu?"
Wajah ibunya berubah. Untuk pertama kalinya, Bara melihat sesuatu yang mirip ketakutan di mata yang tersisa itu.
"Pemilik rumah ini. Pemilik yang sebenarnya. Kami hanya penyewa. Aku. Ayahmu. Kau. Semua orang yang pernah tinggal di sini. Kami menyewa. Dan sewanya ... adalah kami sendiri."
---
Pesan baru di ponsel Bara, tetapi kali ini bukan dari nomor ibunya. Dari nomor yang tidak dikenal.
"Jangan percaya kepadanya. Dia bukan ibumu. Dia adalah rumah ini yang memakai ingatanmu tentang ibumu. Buka pintu itu. Hanya dengan membukanya kau bisa bebas."
Bara menatap ponselnya. Lalu menatap ibunya.
"Siapa yang mengirim ini?"
Ibunya tidak menjawab. Akan tetapi, wajahnya—yang tersisa dari wajahnya—menunjukkan sesuatu yang belum pernah Bara lihat sebelumnya. Ketakutan. Bukan ketakutan kepada sesuatu, melainkan ketakutan kepada seseorang.
"Jangan," bisik ibunya. "Siapa pun yang mengirim pesan itu, jangan dengarkan. Ia bukan—"
Ponsel Bara bergetar lagi. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan video.
Bara menjawabnya.
Dan di layar, ia melihat dirinya sendiri. Duduk di kursi ruang tengah. Mengenakan seragam SD. Usia dua belas tahun. Dengan wajah yang tidak berekspresi.
"Tolong," kata Bara kecil di layar. "Tolong jangan buka pintu itu. Itu aku. Aku yang asli. Yang di luar adalah—"
Gambar di layar putus. Berubah menjadi derau. Lalu muncul wajah lain. Wajah pria. Wajah yang tidak bisa diingat Bara. Wajah tanpa fitur.
"Buka pintunya," kata pria itu. Suaranya seperti logam yang digesekkan. "Buka, dan kau akan tahu kenapa ibumu mati. Kenapa ayahmu pergi. Kenapa kau tidak pernah bisa mengingat wajahku. Buka, Bara. Buka."
---
Kamar Bara dulu masih sama. Tempat tidur kecil di sudut. Poster band di dinding. Dan lemari itu—besar, kayu jati, terlalu berat untuk ukuran kamar anak-anak.
Bara mendorongnya. Lemari itu bergeser dengan mudah. Terlalu mudah. Seolah ada sesuatu di baliknya yang mendorong dari sisi lain.
Dan di balik lemari itu, ada pintu.
Pintu kayu. Kecil. Hanya setinggi bahu Bara yang sekarang. Dicat hitam. Dengan gagang dari kuningan yang berkarat.
Di pintu itu ada tulisan, diukir dengan sesuatu yang tajam:
"Di balik pintu ini ada kebenaran. Akan tetapi, kebenaran tidak selalu membebaskan. Kadang ia hanya membuat kau ingin mati. Seperti ibumu. Seperti ayahmu. Seperti semua yang membuka pintu ini sebelum kau."
Bara menatap ponselnya. Pesan terakhir dari nomor yang tidak dikenal.
"Kalau kau buka, kau tidak akan pernah bisa menutupnya lagi. Namun, kalau kau tidak buka, kau akan bertanya-tanya seumur hidupmu. Dan pertanyaan itu akan memakanmu. Perlahan. Seperti memakan ibumu."
Di ruang tengah, ibunya—atau apa pun itu—berteriak. "BARA! JANGAN!"
Namun, tangan Bara sudah menyentuh gagang pintu.
Dingin. Sangat dingin. Seperti memegang es. Seperti memegang sesuatu yang sudah mati sejak lama.
---
Pintu itu terbuka.
Dan di baliknya, tidak ada apa-apa.
Hanya kegelapan. Kegelapan yang tidak bisa ditembus cahaya. Kegelapan yang terasa padat. Seperti tinta. Seperti darah beku.
Akan tetapi dari kegelapan itu, keluar suara. Banyak suara. Suara-suara yang dikenali Bara.
Ibunya. "Bara, jangan ...."
Ayahnya. "Kau seharusnya tidak kembali ...."
Dan suaranya sendiri. Suara Bara kecil. "Aku sudah mati di sini. Selama tujuh tahun. Menunggumu."
Bara mundur, tetapi kakinya tidak bergerak. Atau lebih tepatnya, kakinya bergerak ke arah yang berlawanan. Ke dalam pintu. Ke dalam kegelapan.
"Rumah ini tidak memakan penghuninya," kata suara dari kegelapan—suara yang dalam, suara yang berlapis-lapis, suara yang terdiri atas puluhan, ratusan suara yang berbicara bersamaan. "Rumah ini hanya menyimpan mereka. Di dalam pintu ini. Di dalam aku. Semua yang pernah membuka pintu ini. Semua yang pernah penasaran. Semua yang mencari kebenaran."
Bara kini berada di dalam kegelapan. Pintu di belakangnya perlahan menutup.
"Kau adalah yang terbaru. Namun, kau tidak akan menjadi yang terakhir. Karena akan selalu ada yang penasaran. Akan selalu ada yang mencari. Dan aku ... aku akan selalu lapar."
Pintu tertutup sepenuhnya.
Dan di luar, di ruang tengah, sosok yang memakai wajah ibunya perlahan meleleh. Dinding-dinding rumah berhenti bernapas. Lantai mendingin. Rumah itu kembali menjadi rumah biasa—kosong, tua, menunggu penghuni berikutnya.
---
Tujuh bulan kemudian, seorang perempuan muda berdiri di depan rumah itu. Namanya Raya. Ia baru saja membeli rumah ini dengan harga murah dari sebuah lelang.
"Rumah ini punya sejarah," kata agen properti itu dengan canggung. "Penghuni sebelumnya ... menghilang. Akan tetapi, secara hukum, semuanya bersih."
Raya tidak percaya pada hal-hal mistis. Ia tersenyum, menandatangani kontrak, dan malam itu juga mulai menata barang-barangnya.
Pukul tiga dini hari, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Raya, jangan buka pintu di balik lemari. Apa pun yang terjadi, jangan buka."
Raya menatap ponselnya. Bingung. Lalu menatap kamar tidurnya—kamar yang dulu ditempati Bara. Ada lemari besar di sudut. Kayu jati. Terlalu berat untuk ukuran kamar seperti ini.
Ia tersenyum. "Paling cuma prank."
Dan ia kembali tidur.
Namun, di sudut kamar, lemari itu bergeser. Sedikit. Hanya satu sentimeter. Cukup untuk memperlihatkan sudut pintu hitam di baliknya.
Dan dari balik pintu itu, Bara berbisik—suaranya bergabung dengan puluhan, ratusan suara lain:
"Tolong ... jangan buka ... jangan seperti kami ...."
Akan tetapi, bisikan itu tidak terdengar. Atau lebih tepatnya, terdengar seperti angin. Dan angin tidak pernah bisa menghentikan rasa penasaran manusia.
---
Bertahun-tahun kemudian, seseorang akan menemukan catatan ini di dalam dinding rumah itu, ditulis dengan kuku di atas kayu:
"Rumah ini tidak berhantu. Rumah ini adalah hantu itu sendiri. Ia tidak memakan dagingmu. Ia memakan pilihanmu. Setiap pintu yang kau buka adalah satu gigitan. Dan kau tidak akan sadar kau sudah dimakan sampai kau menjadi bagian dari rumah ini. Seperti kami. Seperti semua yang datang sebelum kau. Seperti semua yang akan datang setelah kau."
Di bawahnya, tanda tangan. Puluhan tanda tangan. Termasuk nama ibu Bara. Nama ayah Bara. Nama Bara sendiri.
Dan di bagian paling bawah, ada satu baris yang ditulis dengan tulisan tangan yang masih basah:
"Raya. Penghuni terbaru. Baru saja membuka pintu."
•••
DETAK YANG MENGHITUNG MUNDUR
Seorang dokter bernama Kirana mendapati semua pasiennya mati di hari yang sama, pada jam yang sama, dengan senyuman yang sama.
Pukul 07.42 pagi. Kirana baru saja menyesap kopi pertamanya ketika perawat masuk dengan wajah pucat. "Dokter, pasien 203 ... Marni ... dia meninggal."
Kirana mengangguk pelan. Marni memang sudah stadium akhir, jadi ini bukan kejutan. Namun kemudian perawat itu melanjutkan, "Pasien 117 juga. Dan 308. Dan 415."
Cangkir kopi Kirana berhenti di udara.
"Semuanya?"
"Semuanya, Dok. Dua belas pasien. Meninggal di jam yang sama: 07.17 pagi."
Kirana meletakkan cangkirnya. Dua belas pasien. Dua belas penyakit berbeda. Dua belas prognosis yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Marni dengan kanker paru, Rendra dengan gagal ginjal, Sinta dengan lupus, Bayu dengan demam berdarah. Tidak mungkin mereka semua mati di waktu yang sama karena sebab alami.
"Dan, Dokter ...," suara perawat itu bergetar. "Mereka semua tersenyum. Senyum yang ... sama."
---
Ruang jenazah Rumah Sakit Harapan Bunda tidak pernah seramai ini. Dua belas tubuh terbaring dalam dua belas kantong jenazah. Kirana membuka satu per satu. Dan benar—setiap wajah tersenyum. Bukan senyum damai seperti orang yang meninggal dalam tidur, melainkan senyum lebar. Senyum yang memperlihatkan gigi. Senyum yang hampir seperti ... tawa.
Kirana memeriksa pupil. Mengecek suhu tubuh. Membalikkan tangan Marni untuk melihat kukunya. Dan di situlah ia menemukannya.
Di pergelangan tangan setiap pasien, ada angka. Ditulis dengan tinta hitam yang tidak bisa dihapus. Seperti tato temporer, tetapi lebih gelap. Lebih dalam. Seolah tintanya meresap sampai ke tulang.
07.17
Angka yang sama. Di dua belas tangan.
Kirana memotretnya dengan ponsel. Saat ia melakukannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.
"Mereka tidak mati, Dok. Mereka hanya selesai."
---
Kirana tidak percaya pada hal-hal gaib. Ia dokter. Ia percaya pada diagnosis, pada hasil lab, pada sesuatu yang bisa diukur dan dibuktikan. Akan tetapi, ia juga tidak bisa menjelaskan bagaimana dua belas pasiennya mati bersamaan dengan senyum serupa.
Ia memutuskan untuk memeriksa kamar Marni. Mungkin ada petunjuk. Mungkin ada sesuatu yang terlewat.
Kamar 203 kosong. Ranjangnya masih berantakan. Infus masih menggantung. Akan tetapi di nakas, ada sebuah buku catatan kecil. Buku milik Marni—pasien kanker paru yang selama tiga bulan terakhir tidak bisa bicara banyak karena sesak napas.
Kirana membuka buku itu. Dan halaman pertamanya membuat darahnya berhenti mengalir.
"Hari ke-1. Dokter Kirana datang. Dia tersenyum. Akan tetapi, senyumnya bukan senyum dokter biasa. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku merasa dia menghitung sesuatu. Menghitung aku."
Kirana membalik halaman.
"Hari ke-7. Aku menemukan angka di tanganku pagi ini. 07.17. Aku tidak tahu artinya. Aku bertanya kepada perawat. Perawat bilang tidak ada apa-apa. Akan tetapi, kenapa dia berbohong? Angkanya jelas ada."
Halaman berikutnya.
"Hari ke-14. Pasien lain juga punya angkanya. Rendra. Sinta. Bayu. Mereka tidak mau bilang angkanya berapa. Akan tetapi, kami semua tahu. Itu hitungan mundur. Dan dokternya ... dia yang memulai hitungan itu."
Kirana menjatuhkan buku itu. Tangannya gemetar. Ia tidak ingat pernah melakukan apa pun kepada pasien-pasiennya. Ia hanya merawat. Hanya memberikan obat. Hanya tersenyum setiap kali masuk ke kamar mereka untuk memberi semangat.
Namun, ... benarkah hanya itu?
---
Malamnya, Kirana tidak bisa tidur. Ia membolak-balikkan rekam medis dua belas pasien itu. Mencari benang merah. Mencari sesuatu yang terlewat.
Lalu, ia menemukannya.
Tujuh bulan yang lalu, ia menangani kasus pertamanya di rumah sakit ini. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Namanya Alvan. Didiagnosis leukemia akut. Kirana adalah dokter magang yang mendampingi dokter senior saat itu. Akan tetapi, dokter seniornya berhalangan di hari kritis Alvan. Dan Kirana—muda, ambisius, terlalu percaya diri—memutuskan untuk menangani sendiri.
Alvan meninggal di meja operasi. Pukul 07.17 pagi.
Kirana tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Rumah sakit menutup kasus itu sebagai risiko medis. Akan tetapi, Kirana tahu. Ia membuat kesalahan. Satu kesalahan kecil yang merenggut nyawa seorang anak.
Dan sekarang ... dua belas pasiennya mati di jam yang sama.
"Ini tidak mungkin kebetulan," bisiknya.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor yang sama.
"Kau ingat Alvan, Dok? Dia tidak lupa kepadamu. Dia tidak lupa pada jam itu. Dan dia ingin kau menghitung mundur juga."
Kirana membalikkan tangannya sendiri. Di pergelangan tangan kirinya, samar-samar, mulai muncul angka. Tinta hitam. Meresap perlahan.
07.17
Namun, bukan itu yang membuatnya berteriak. Yang membuatnya berteriak adalah angka kedua yang muncul di bawahnya—angka yang menunjukkan waktu saat ini, yang terus berubah, terus berkurang.
07.16.59
07.16.58
07.16.57
Hitungan mundur.
---
Kirana berlari ke rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia hanya tahu ia harus melakukan sesuatu. Mungkin ada obatnya. Mungkin ada penawarnya. Mungkin ini hanya halusinasi akibat stres dan kurang tidur.
Namun, ketika ia tiba di lobi Rumah Sakit Harapan Bunda, semuanya gelap. Tidak ada pasien. Tidak ada perawat. Tidak ada siapa pun. Hanya lampu darurat yang berkedip-kedip.
Dan di tengah lobi, duduk seorang anak laki-laki.
Alvan.
Ia memakai baju pasien. Kepalanya botak. Kulitnya pucat. Akan tetapi, matanya ... matanya tidak seperti mata anak-anak yang sekarat. Matanya berbinar. Penuh semangat. Penuh sesuatu yang tidak bisa Kirana definisikan.
"Dokter Kirana," katanya. Suaranya jernih. "Aku sudah menunggumu."
Kirana berhenti di tengah lobi. Jaraknya sekitar lima meter dari anak itu. "Kau ... kau sudah meninggal."
"Benar. Akan tetapi, bukan berarti aku selesai." Alvan tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang ada di wajah dua belas pasien Kirana. "Aku hanya butuh waktu. Mengumpulkan teman-teman. Marni baik sekali. Dia yang pertama mau membantuku."
"Membantumu apa?"
"Memberitahumu tentang hitungan mundur." Alvan berdiri. Tingginya masih setinggi anak delapan tahun. Akan tetapi, bayangannya di lantai ... tidak. Bayangannya tidak setinggi anak delapan tahun. Bayangannya panjang. Menjulang. Menutupi setengah lobi. "Kau lihat, Dok, setiap nyawa yang kau ambil—setiap kesalahan yang kau buat—meninggalkan bekas. Dan bekas itu punya hitungan mundurnya sendiri. Kau hanya tidak pernah menyadarinya."
Kirana menatap pergelangan tangannya. Angkanya terus berkurang.
06.42.11
06.42.10
"Apa yang terjadi kalau hitungan ini habis?"
Alvan tersenyum lagi. Kali ini giginya terlihat. Terlalu banyak gigi. "Kau akan tersenyum. Seperti mereka. Seperti aku. Seperti semua orang yang mati di jam 07.17. Kau akan tersenyum, Dok. Dan kau tidak akan pernah berhenti."
---
Kirana tidak menyerah. Ia bukan tipe orang yang menyerah. Ia berlari ke ruang ICU, ke ruang operasi, ke apotek, mencari sesuatu—apa saja—yang bisa menghentikan hitungan mundur di tangannya. Akan tetapi, setiap ruangan kosong. Setiap lemari obat terkunci. Setiap monitor menampilkan angka yang sama: 07.17.
Ponselnya bergetar terus-menerus sekarang. Bukan hanya dari satu nomor, melainkan dari dua belas nomor. Dua belas pasiennya.
"Dok, kenapa kau tidak bilang kami sedang dihitung mundur?"
"Dok, aku tidak mau mati dengan senyum ini. Senyum ini bukan milikku."
"Dok, tolong hentikan hitungannya."
"Dok, kenapa kau melakukan ini kepada kami?"
"Dok, aku percaya kepadamu."
Kirana berhenti di depan cermin di lorong. Ia menatap wajahnya sendiri. Lelah. Takut. Akan tetapi, di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Rasa bersalah.
Bukan hanya kepada Alvan, melainkan juga kepada semua pasien yang pernah ia tangani. Pasien yang ia anggap sebagai angka. Pasien yang ia rawat dengan setengah hati. Pasien yang kematiannya ia rayakan dalam hati karena berarti satu beban administrasi berkurang.
"Aku dokter yang buruk," bisiknya pada cermin.
Dan cermin itu menjawab. Bukan dengan suara, melainkan dengan tulisan yang muncul di permukaannya, seolah ditulis oleh jari tak kasatmata dari sisi yang lain:
"Kau bukan dokter yang buruk. Kau hanya lupa bahwa setiap pasien adalah seseorang. Seseorang yang punya nama. Seseorang yang punya keluarga. Seseorang yang tidak pantas mati karena kesalahanmu."
Kirana mundur. Akan tetapi, di belakangnya, Alvan sudah berdiri. Bersama dua belas pasiennya. Marni. Rendra. Sinta. Bayu. Mereka semua tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang tidak pernah berhenti.
"Hitungan mundurnya nyaris habis, Dok," kata Alvan. "Akan tetapi, tenang saja. Kami di sini. Kami akan menemanimu. Selamanya."
Kirana menatap pergelangan tangannya.
00.00.03
00.00.02
00.00.01
---
Kirana membuka matanya.
Ia berada di ruang praktiknya sendiri. Di mejanya ada setumpuk rekam medis. Di dinding ada jam yang menunjukkan pukul 09.23 pagi. Kopinya masih hangat.
"Jadi ... mimpi?" Ia menghela napas lega. "Astaga, aku harus mengurangi lembur."
Pintu ruangannya terbuka. Perawat masuk. "Dokter, ada pasien baru. Anak-anak. Delapan tahun. Leukemia akut. Namanya Alvan."
Darah Kirana membeku.
"Dan, Dokter ...," perawat itu menambahkan, "dia datang tepat pukul 07.17 tadi pagi. Tadi saya lihat dia tersenyum terus. Senyum yang ... aneh."
Kirana menatap tangannya sendiri. Di pergelangan tangan kirinya, samar-samar, ada bekas tinta hitam. Bekas angka yang sudah terhapus.
Namun, belum sepenuhnya.
Masih ada satu angka yang tersisa. Bukan hitungan mundur. Hanya satu digit.
1.
Dan ketika ia mengedip, angka itu berubah.
2.
"Kau baik-baik saja, Dok?" tanya perawat itu.
Kirana mengangguk pelan. "Bawa Alvan ke ruang rawat inap. Aku akan menanganinya sendiri kali ini."
Perawat itu menganggut dan pergi. Akan tetapi, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, ia berhenti dan berkata—dengan suara yang tiba-tiba berbeda, suara yang seperti datang dari tempat yang sangat jauh: "Oh, iya, Dok. Alvan titip pesan. Dia bilang ... terima kasih sudah mengingatnya. Dan dia tidak sabar untuk bertemu."
Pintu tertutup.
Dan Kirana duduk sendiri di ruang praktiknya, menatap angka di pergelangan tangannya yang kini sudah mencapai angka 17, bertanya-tanya apakah ini kesempatan kedua ... atau awal dari hitungan mundur yang baru.
---
Di lantai atas, di kamar rawat inap nomor 717, Alvan duduk di ranjangnya. Ia menatap keluar jendela. Tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang tidak pernah berhenti.
"Dokter Kirana," bisiknya pada kaca jendela, "kau pikir kemarin adalah hukuman. Padahal itu peringatan. Besok adalah ujiannya. Dan lusa ... lusa adalah waktunya kau memilih: menjadi dokter yang menyelamatkan, atau menjadi pasien yang tersenyum."
Di pergelangan tangan Alvan, ada angka. Bukan hitungan mundur, melainkan tanggal.
Besok.
Dan di bawahnya, sebuah nama ditulis dengan tinta hitam yang meresap sampai ke tulang:
Kirana.
Komentar
Posting Komentar