Stasiun yang Mengumumkan Kereta yang Tidak Pernah Datang
Stasiun itu tidak ada di peta mana pun.
Aku menemukannya pada suatu sore yang biasa saja—terlalu biasa, mungkin. Hari itu aku pulang kerja lebih awal, berjalan menyusuri jalan-jalan yang sudah kuhafal selama bertahun-tahun, ketika tiba-tiba kakiku berhenti di depan sebuah bangunan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Stasiun. Sebuah stasiun kereta api dengan arsitektur kuno, seperti stasiun-stasiun peninggalan Belanda yang masih bertahan di beberapa sudut kota. Dindingnya putih kusam, dihiasi jendela-jendela besar dengan kusen kayu yang catnya mulai mengelupas. Di atas pintu masuk, sebuah jam besar berdetak pelan. Jarumnya menunjuk pukul empat sore, tetapi entah kenapa aku merasa jam itu tidak menunjukkan waktu yang sebenarnya.
Sebuah papan nama tergantung di atas pintu masuk. Tulisannya sederhana: "Stasiun Pengharapan."
Aku mengerutkan kening. Nama yang aneh untuk sebuah stasiun.
Namun yang lebih aneh adalah orang-orangnya. Stasiun itu ramai—sangat ramai, bahkan. Padahal ini bukan jam sibuk. Puluhan, mungkin ratusan orang berjalan mondar-mandir di peron, duduk di bangku-bangku panjang, berdiri di depan papan jadwal. Mereka semua membawa koper. Berbagai ukuran, berbagai warna. Beberapa koper tampak baru dan mengilap. Beberapa lainnya sudah lusuh, penuh stiker dan goresan, seolah sudah dibawa bepergian ke banyak tempat—atau mungkin, sudah terlalu lama menunggu.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi kakiku melangkah masuk. Mungkin karena penasaran. Mungkin karena ada sesuatu di dalam diriku yang merasa stasiun ini memanggilku. Lonceng kecil berbunyi ketika aku mendorong pintu.
Di dalam, suasananya lebih aneh lagi. Stasiun itu bersih, terlalu bersih untuk ukuran stasiun kereta api. Lantainya mengilap. Dindingnya tanpa coretan. Tidak ada pengamen, tidak ada pengemis, tidak ada pedagang asongan yang menawarkan air mineral dan koran. Hanya ada orang-orang dengan koper mereka, berdiri atau duduk, menunggu. Semuanya menunggu.
Dan kemudian pengeras suara itu berbunyi.
"Pengumuman. Kereta menuju 'Nanti Saja' akan segera tiba di jalur tiga. Penumpang diharapkan bersiap."
Suara itu perempuan. Lembut. Merdu, bahkan. Seperti suara penyiar radio di tengah malam. Namun ada sesuatu di dalam suara itu yang membuat bulu kudukku berdiri. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Orang-orang di sekitarku mulai bergerak. Mereka bangkit dari bangku, meraih koper mereka, berjalan menuju jalur tiga. Wajah mereka berseri-seri. Penuh harap. Seperti anak-anak yang akan pergi bertamasya.
Aku tidak tahu apa itu kereta "Nanti Saja". Tapi aku mengikuti mereka. Mungkin karena aku tidak punya tujuan lain. Mungkin karena aku penasaran.
Jalur tiga adalah peron terbuka yang langsung berhadapan dengan rel kereta api. Langit di atasnya berwarna jingga keemasan—senja yang indah, terlalu indah, seperti lukisan. Orang-orang berbaris rapi di sepanjang peron. Mereka tidak berdesakan. Tidak berebut. Semuanya tertib. Semuanya sabar.
Aku berdiri di antara mereka. Menunggu.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Setengah jam.
Satu jam.
Tidak ada kereta yang datang.
Aku memandang ke sekeliling. Orang-orang masih berdiri di sana. Masih menunggu. Masih dengan wajah penuh harap yang sama. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang pergi.
"Apa keretanya terlambat?" tanyaku pada seseorang di sebelahku—seorang pria setengah baya dengan koper coklat tua yang kulitnya sudah mengelupas.
Ia menoleh padaku. Matanya kosong. "Biasa," katanya. "Memang selalu begitu."
"Selalu begitu? Maksudnya?"
Tapi pria itu sudah kembali menatap rel kosong di depannya. Seolah-olah pertanyaanku tidak penting. Seolah-olah aku tidak penting.
Aku berjalan menjauh dari peron, mencari seseorang yang bisa menjelaskan. Di dekat pintu masuk, aku melihat seorang petugas stasiun. Ia mengenakan seragam biru tua dengan topi yang ditarik rendah. Ia berdiri di sudut, menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan ekspresi bosan yang sudah sangat terlatih.
"Permisi," kataku mendekatinya. "Kereta ke 'Nanti Saja'—apa keretanya terlambat?"
Petugas itu menatapku. Ia mengunyah sesuatu—mungkin permen karet—dengan gerakan rahang yang lambat dan malas.
"Tidak pernah ada kereta," jawabnya santai.
Aku mengerutkan kening. "Apa?"
"Tidak. Pernah. Ada. Kereta." Ia mengulangi kata-katanya dengan jeda yang dramatis, seolah menikmati kebingungan di wajahku. "Ke 'Nanti Saja', maksudku. Kereta lain sih ada. Tapi yang ini? Tidak pernah ada."
Aku menatapnya, mencoba mencerna apa yang baru saja kudengar. "Lalu, kenapa diumumkan terus? Setiap sore?"
Petugas itu mengangkat bahu. "Karena orang-orang butuh alasan untuk tidak berangkat hari ini."
"Aku tidak mengerti."
Ia menghela napas panjang, seperti seorang guru yang harus menjelaskan pelajaran paling dasar pada murid paling bodoh. "Begini," katanya, menunjuk ke arah peron dengan dagunya. "Lihat mereka. Semua orang di sini. Mereka semua punya rencana. Mimpi. Niat. Tapi mereka belum siap untuk benar-benar melakukannya. Belum hari ini. Mungkin besok. Atau lusa. Atau minggu depan. Jadi mereka datang ke sini, mendengarkan pengumuman, menunggu kereta yang tidak pernah datang, lalu pulang. Dan besoknya, mereka datang lagi. Begitu terus."
Mulutku terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
"Stasiun ini," lanjut petugas itu, "adalah tempat persinggahan orang-orang yang ingin pergi, tapi tidak pernah benar-benar pergi. Mereka ingin berubah, tapi belum sekarang. Nanti saja. Nanti saja. Itu kata-kata paling nyaman di dunia. Kau tahu kenapa? Karena 'nanti' tidak pernah menentukan tanggal. 'Nanti' bisa berarti besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Atau tidak sama sekali."
Aku memandang ke arah peron. Orang-orang masih berdiri di sana. Masih menunggu. Dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak kusadari sebelumnya: koper-koper mereka.
Koper-koper itu tidak diam.
Beberapa di antaranya bergerak pelan. Bergetar. Seolah-olah ada sesuatu di dalamnya yang ingin keluar. Tapi pemiliknya memegang erat-erat gagang koper itu, tidak membiarkannya terbuka.
Aku berjalan kembali ke peron. Kali ini, aku memperhatikan dengan lebih saksama. Koper pertama yang kulihat adalah milik seorang wanita muda. Kopernya kecil, berwarna merah, dengan label yang tergantung di gagangnya. Aku membaca label itu.
"Rencana membuka toko kue."
Wanita itu berdiri dengan postur tegap. Ia mengenakan pakaian rapi, seperti orang yang akan menghadiri wawancara kerja. Di tangannya, sebuah map berisi proposal bisnis yang sudah dilaminating. Tapi ada sesuatu di wajahnya. Semangat yang mulai pudar. Mata yang mulai lelah.
"Permisi," kataku padanya. "Boleh aku bertanya?"
Ia menoleh. "Ya?"
"Berapa lama kau menunggu di sini?"
Wanita itu berpikir sejenak. "Hmm... mungkin sekitar dua tahun?"
"DUA TAHUN?" Aku hampir berteriak. "Kau menunggu kereta yang tidak pernah datang selama dua tahun?"
Wajahnya berubah. Ada kilatan sesuatu di matanya—kesadaran, mungkin. Tapi kilatan itu cepat hilang, digantikan oleh ekspresi defensif. "Aku tidak menunggu. Aku... bersiap. Memangnya kenapa? Membuka toko kue itu tidak mudah. Perlu modal. Perlu tempat yang strategis. Perlu riset pasar. Aku tidak bisa asal-asalan."
"Tapi dua tahun..."
"Aku belum siap," potongnya. "Nanti, kalau semuanya sudah siap, aku akan berangkat."
"Kapan?"
"Nanti saja."
Aku menghela napas. Wanita itu kembali menatap rel kosong. Aku berjalan menjauh, menuju koper lain. Kali ini milik seorang pria muda berambut gondrong. Kopernya besar, terbuat dari kain, penuh tambalan. Labelnya bertuliskan:
"Niat berhenti merokok."
Pria itu berdiri dengan gelisah. Tangannya gemetar. Aku bisa melihat bercak nikotin di ujung jarinya.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku.
"Tiga tahun," jawabnya tanpa menoleh. Suaranya serak.
"Tiga tahun? Kenapa tidak berhenti sekarang saja?"
Ia tertawa pahit. "Kau pikir semudah itu? Aku sudah mencoba. Berkali-kali. Selalu gagal. Jadi lebih baik aku menunggu di sini dulu. Nanti, kalau aku sudah benar-benar siap, aku akan naik kereta itu."
"Tapi keretanya tidak pernah datang."
"Pasti datang. Mungkin terlambat."
"Petugasnya sendiri yang bilang, tidak pernah ada kereta ke 'Nanti Saja'."
Pria itu menoleh padaku. Matanya merah, entah karena asap atau karena sesuatu yang lain. "Kalau begitu," katanya pelan, "aku akan tetap menunggu."
Aku meninggalkannya. Berjalan menyusuri peron, membaca label-label koper yang lain. Dan setiap label yang kubaca, setiap cerita yang kudengar, semakin membuat dadaku sesak.
Seorang pria paruh baya dengan koper hitam: "Keinginan minta maaf pada anak." Ia menunggu sejak lima tahun lalu. Anaknya sudah tidak mau berbicara dengannya.
Seorang wanita tua dengan koper anyaman bambu: "Niat mengunjungi makam suami." Ia menunggu sejak tiga tahun lalu. Katanya, ia belum siap. Masih terlalu sakit.
Seorang pemuda kurus dengan koper ransel: "Keinginan pindah kerja." Ia menunggu sejak setahun lalu. Setiap hari ia masih pergi ke kantor yang sama, melakukan pekerjaan yang sama, pulang dengan perasaan yang sama. Tapi ia yakin, suatu hari nanti, ia akan naik kereta itu.
Seorang gadis remaja dengan koper kecil bergambar bunga: "Niat belajar bahasa Jepang." Ia menunggu sejak enam bulan lalu. Bukunya masih bersegel. Aplikasi belajar bahasanya masih belum diunduh. Tapi ia yakin, nanti saja, kalau sudah ada waktu.
Seorang ibu rumah tangga dengan koper plastik: "Rencana menulis novel." Ia menunggu sejak empat tahun lalu. Naskahnya masih berupa catatan-catatan acak di ponsel. Tapi ia yakin, nanti, kalau anak-anak sudah besar, ia akan punya waktu.
Satu per satu. Semakin banyak kulihat, semakin aku mengenali pola yang sama. Mereka semua punya mimpi. Mereka semua punya niat. Tapi mereka semua memilih untuk menunggu. Menunggu kereta yang tidak pernah datang. Menunggu "nanti" yang tidak pernah tiba.
Dan kemudian aku melihat ke bawah. Ke tanganku sendiri.
Aku juga memegang koper.
Aku tersentak. Sejak kapan? Aku tidak ingat membawa koper ketika masuk ke stasiun ini. Tapi koper itu ada di tanganku sekarang. Kecil. Berwarna biru tua. Agak berat.
Dengan tangan gemetar, aku membaca label yang tergantung di gagangnya.
"Naskah yang belum pernah dikirim."
Jantungku berhenti selama satu detik.
Aku membuka koper itu. Di dalamnya, ada tumpukan kertas. Ratusan halaman. Novel yang sudah kutulis bertahun-tahun lalu. Novel yang sudah kuselesaikan, kuedit, kubaca berulang-ulang. Tapi tidak pernah kukirim ke penerbit manapun.
Aku ingat sekarang.
Aku ingat bagaimana aku menulisnya setiap malam, setelah pulang kerja, dengan mata yang sudah lelah dan kopi yang sudah dingin. Aku ingat bagaimana jantungku berdebar setiap kali membayangkan naskah itu diterbitkan. Tapi aku juga ingat bagaimana rasa takut itu datang. Takut ditolak. Takut dikritik. Takut menyadari bahwa tulisanku sebenarnya tidak bagus. Bahwa aku tidak berbakat. Bahwa selama ini aku hanya membohongi diri sendiri.
Maka aku menyimpannya. Menunggu. Nanti saja, kataku. Nanti, kalau naskahnya sudah lebih sempurna. Nanti, kalau aku sudah lebih percaya diri. Nanti, kalau waktunya tepat.
Tapi nanti tidak pernah datang. Dan tahun-tahun berlalu. Dan naskah itu tetap di laptopku, tidak tersentuh. Sampai sekarang. Sampai di sini. Di stasiun ini.
Aku berdiri di peron, memandang rel kosong di depanku. Langit masih berwarna jingga. Orang-orang masih menunggu. Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya, aku melihat stasiun ini dengan jelas.
Ini bukan stasiun.
Ini adalah kuburan.
Kuburan bagi mimpi-mimpi yang tidak pernah diwujudkan. Kuburan bagi niat-niat baik yang tidak pernah ditunaikan. Kuburan bagi kata-kata yang tidak pernah terucap, bagi permintaan maaf yang tidak pernah disampaikan, bagi pelukan yang tidak pernah diberikan. Setiap orang di sini membawa koper yang isinya adalah sesuatu yang sangat ingin mereka lakukan—tapi tidak pernah benar-benar mereka lakukan. Dan mereka berdiri di sini, hari demi hari, menunggu kereta yang tidak pernah datang. Karena menunggu lebih mudah daripada bertindak. Karena "nanti saja" lebih nyaman daripada "sekarang".
Pengeras suara itu berbunyi lagi.
"Pengumuman. Kereta menuju 'Nanti Saja' akan segera tiba di jalur tiga. Penumpang diharapkan bersiap. Pengulangan. Kereta menuju 'Nanti Saja' akan segera tiba di jalur tiga..."
Suara itu. Suara perempuan yang lembut dan merdu. Sekarang aku tahu kenapa bulu kudukku berdiri setiap mendengarnya. Karena suara itu bukan suara penyiar. Ia adalah suara godaan. Suara yang membisikkan bahwa menunda itu tidak apa-apa. Suara yang merayu bahwa kau masih punya banyak waktu. Suara yang meninabobokanmu dalam kenyamanan "nanti saja", sementara hidupmu berlalu begitu saja.
Aku memandang koper di tanganku. Naskah itu. Bertahun-tahun kusimpan. Bertahun-tahun kutunggu. Untuk apa? Untuk kereta yang tidak pernah datang?
Aku menutup koper itu. Meraih gagangnya erat-erat.
Lalu aku berjalan. Bukan menuju peron. Tapi menjauhinya. Menuju pintu keluar.
"Eh, mau ke mana?" tanya petugas stasiun yang masih berdiri di sudutnya.
"Aku pergi," kataku.
"Tapi keretanya sebentar lagi datang."
"Kau sendiri yang bilang, tidak pernah ada kereta."
Petugas itu tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang seolah berkata, "Akhirnya kau sadar juga."
"Aku tahu," katanya. "Tapi biasanya orang butuh bertahun-tahun untuk menyadarinya. Kau lumayan cepat."
"Aku tidak mau menunggu lagi."
"Bagus." Ia menunjuk pintu keluar dengan dagunya. "Pintu itu selalu terbuka. Selalu. Tapi anehnya, jarang ada yang mau melewatinya. Mereka lebih memilih menunggu."
Aku berjalan menuju pintu keluar. Tapi sebelum aku mencapai ambang pintu, seorang wanita tua memegang lenganku. Wanita dengan koper anyaman bambu itu. Yang menunggu untuk mengunjungi makam suaminya.
"Kau akan pergi?" tanyanya. Suaranya parau. Matanya berkaca-kaca.
"Ya."
"Bagaimana caranya? Bagaimana caranya pergi dari sini?"
Aku menatapnya. Hatiku sakit melihat wanita itu. "Lepaskan koper itu," kataku pelan. "Lalu berjalanlah keluar."
"Aku tidak bisa. Aku belum siap."
"Kau tidak akan pernah siap. Tidak ada yang pernah benar-benar siap. Itulah masalahnya. Kita terus menunggu sampai siap, padahal kesiapan itu tidak pernah datang. Ia hanya ada di kepala kita."
Wanita itu menggeleng. "Tapi aku takut. Aku takut menangis. Aku takut hancur."
"Menangislah. Hancurlah. Tapi lakukan. Jangan hanya menunggu di sini. Suamimu mungkin sudah menunggumu di sana."
Air mata wanita itu jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Lalu ia melepaskan koper anyaman bambunya. Koper itu jatuh ke lantai dengan bunyi berdebum. Dan perlahan-lahan, koper itu terbuka sendiri. Di dalamnya, ada bunga-bunga kering. Melati. Kenanga. Bunga-bunga yang seharusnya sudah lama diletakkan di atas makam.
Wanita itu menatap bunga-bunga itu. Lalu ia menatap pintu keluar.
"Aku..." suaranya bergetar. "Aku akan mencoba."
Ia berjalan. Langkahnya gontai. Tapi ia berjalan. Menuju pintu keluar. Menuju dunia luar. Dan ketika ia melewati ambang pintu, tubuhnya menghilang. Ditelan cahaya senja.
Aku berdiri di sana, memandangi pintu itu.
Lalu aku melihat ke belakang. Ke peron. Ke ratusan orang yang masih menunggu. Mereka semua memandangku. Ada yang dengan mata penuh harap. Ada yang dengan mata penuh iri. Ada yang dengan mata kosong yang sudah terlalu lama menunggu.
"Hei," kataku pada mereka. Suaraku lantang, memecah keheningan stasiun. "Kalian tidak harus menunggu. Kereta itu tidak akan pernah datang. Kalian tahu itu. Aku tahu kalian tahu."
Tidak ada yang menjawab.
"Lepaskan koper kalian. Jalan keluar. Lakukan apa yang selama ini kalian tunda. Sekarang. Hari ini. Bukan nanti."
Beberapa orang menggeleng. Beberapa yang lain menunduk. Tapi ada juga yang mulai ragu. Aku melihat pria paruh baya dengan koper hitam—yang menunggu untuk minta maaf pada anaknya—menatap koper itu lama. Lalu ia meletakkannya pelan-pelan. Ia berjalan. Menuju pintu keluar. Satu orang lagi menyusul. Lalu satu lagi.
Tidak banyak. Mungkin hanya empat atau lima orang. Tapi mereka bergerak. Mereka pergi. Dan setiap kali seseorang melewati pintu keluar, stasiun itu terasa sedikit lebih terang. Sedikit lebih hidup.
Aku berbalik. Menatap pintu keluar. Lalu, dengan koper naskahku di tangan, aku melangkah.
Cahaya di balik pintu itu begitu terang. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi aku terus berjalan. Dan berjalan. Dan berjalan.
Sampai akhirnya—
Aku terbangun.
Di kamar kosku. Dengan laptop di depanku. Di layar, folder "Naskah Novel" terbuka. Kursor berkedip-kedip di halaman pertama.
Aku memandanginya lama. Dadaku masih berdebar. Mimpi? Tapi rasanya begitu nyata. Terlalu nyata. Aku masih bisa mendengar suara pengeras suara itu. Masih bisa melihat wajah-wajah para penunggu. Masih bisa merasakan dinginnya koper di tanganku.
Aku melihat jam. Pukul 19.00. Malam masih panjang.
Tanganku bergerak ke mouse. Membuka email. Mencari alamat penerbit yang sudah lama kusimpan. Klik "Tulis Pesan Baru". Lampirkan file naskah.
Jariku menggantung di atas tombol "Kirim".
Suara itu datang lagi. Di kepalaku. Nanti saja. Belum siap. Masih perlu diedit lagi. Masih banyak kekurangan. Nanti, kalau sudah lebih sempurna. Nanti, kalau sudah lebih percaya diri. Nanti...
Aku menggeleng. Mengusir suara itu.
"Tidak," kataku pada diri sendiri. "Tidak ada 'nanti'. Hanya ada sekarang."
Aku menekan tombol itu.
Whoosh.
Email terkirim.
Aku terduduk di kursi. Jantungku berdegup kencang. Tanganku gemetar. Tapi aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tersenyum.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin naskahku diterima. Mungkin ditolak. Mungkin tidak mendapat balasan sama sekali. Tapi setidaknya aku sudah mengirimnya. Setidaknya aku sudah mencoba. Setidaknya aku sudah pergi dari stasiun itu.
Malam itu, aku tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi tentang stasiun. Tidak ada mimpi tentang kereta yang tidak pernah datang.
Tapi keesokan harinya, sesuatu yang aneh terjadi.
Aku sedang berjalan pulang kerja, menyusuri rute yang sama seperti biasanya, ketika aku melihatnya. Sebuah bangunan kuno. Putih kusam. Dengan jam besar di atas pintunya.
Stasiun Pengharapan.
Jantungku mencelos. Stasiun itu masih ada. Masih berdiri. Masih ramai.
Aku berdiri di seberang jalan, memandanginya. Melalui jendela-jendela besarnya, aku bisa melihat orang-orang di dalam. Mereka masih di sana. Masih dengan koper-koper mereka. Masih menunggu.
Pengeras suara itu berbunyi. Samar-samar, aku bisa mendengarnya dari seberang jalan.
"Pengumuman. Kereta menuju 'Nanti Saja' akan segera tiba di jalur tiga..."
Aku menggeleng pelan. Lalu berbalik. Melanjutkan perjalanan pulang.
Tapi kali ini, aku tidak berjalan sendirian. Di tanganku, tidak ada lagi koper.
Di kejauhan, di belakangku, stasiun itu perlahan memudar. Dinding-dindingnya menjadi transparan. Jam besarnya berhenti berdetak. Dan satu per satu, orang-orang di dalamnya mulai menghilang—berjalan keluar, meninggalkan koper mereka, menuju dunia yang sesungguhnya.
Atau mungkin tidak. Mungkin mereka masih di sana. Masih menunggu. Masih berharap pada kereta yang tidak pernah datang.
Itu pilihan mereka.
Adapun aku, aku sudah memilih. Dan pilihan itu terasa seperti kereta sungguhan yang akhirnya tiba. Bukan kereta menuju "Nanti Saja", tapi kereta menuju "Sekarang". Kereta yang selama ini sudah ada di depanku, hanya saja aku terlalu sibuk menunggu untuk melihatnya.
Aku melangkah lebih cepat. Di langit, matahari mulai terbenam. Senja yang sama seperti di stasiun itu. Tapi entah kenapa, warnanya terasa lebih hangat sekarang. Lebih nyata.
Dan ketika aku tiba di kos, aku membuka laptop. Bukan untuk memeriksa email atau mengecek apakah naskahku sudah dibalas. Tapi untuk menulis. Menulis sesuatu yang baru. Menulis sesuatu yang selama ini hanya menjadi niat di dalam kepala.
Kali ini, tidak ada lagi "nanti".
Hanya ada sekarang.
Dan sekarang adalah satu-satunya kereta yang benar-benar datang.
Komentar
Posting Komentar