KOTA YANG PENDUDUKNYA TIDAK BISA LAGI MELIHAT WARNA
Awalnya, tidak ada yang menyadari.
Hilangnya warna terjadi begitu perlahan, begitu halus, seperti embun yang menguap saat pagi berganti siang. Satu per satu, pigmen memudar dari dunia, dan satu per satu pula mata manusia berhenti menerjemahkannya.
Yang pertama hilang adalah merah delima.
Seminggu kemudian, biru langit.
Lalu kuning, hijau, jingga, ungu, dan akhirnya semua warna yang pernah punya nama.
Prosesnya memakan waktu tiga bulan, dan selama tiga bulan itu, tak seorang pun berteriak, tak seorang pun turun ke jalan, tak seorang pun menuntut penjelasan. Karena dunia tidak berubah secara drastis—hanya secara bertahap, seperti pasien yang kehilangan pendengaran secara perlahan hingga suatu hari menyadari bahwa ia telah tuli tanpa tahu kapan tepatnya ia menjadi tuli.
---
Namaku Sena. Aku bekerja sebagai kurator di museum seni kota. Pekerjaanku, secara teknis, sudah tidak relevan lagi. Akan tetapi museum tetap buka, dan aku tetap datang setiap hari, karena di dunia yang telah kehilangan warna, rutinitas adalah satu-satunya hal yang membuat orang tetap waras.
Aku ingat hari ketika merah delima menghilang.
Saat itu aku sedang memandangi lukisan Red Studio-nya Matisse—sebuah reproduksi, tentu saja, karena yang asli ada di New York. Lukisan itu adalah kanvas besar yang didominasi warna merah Venetian, dengan benda-benda yang mengambang di dalamnya: lukisan-lukisan kecil, furnitur, jendela. Tiba-tiba, merah itu terasa … berbeda. Bukan berubah menjadi abu-abu, bukan. Hanya saja ia berhenti menjadi merah. Ia menjadi sesuatu yang tidak bisa dinamai, tidak bisa dijelaskan.
Aku mengucek mata. Mungkin aku hanya lelah.
Namun ketika aku menoleh ke lukisan lain—The Bedroom-nya Van Gogh—warna ungu di dinding kamar itu juga sudah berbeda. Bukan ungu lagi. Bukan apa-apa.
Aku bertanya kepada satpam museum, Pak Ruslan, apakah dia melihat sesuatu yang aneh pada lukisan-lukisan itu.
"Lukisannya biasa saja, Mas Sena," katanya. "Seperti biasanya."
"Apa Bapak masih bisa melihat warna merah?"
Pak Ruslan menatapku bingung. "Warna apa?"
---
Begitulah. Tidak ada yang sadar karena tidak ada yang bisa membandingkan. Kami semua kehilangan warna secara bersamaan, dalam tempo yang sama, sehingga tidak ada titik referensi. Kami seperti ikan yang tidak sadar bahwa air itu basah—sampai air itu hilang.
Namun aku ingat. Aku ingat betul bagaimana merah dulu terlihat. Aku ingat bagaimana kuning bunga matahari di pagi hari bisa membuat dada terasa lebih ringan. Aku ingat bagaimana biru laut di sore hari bisa menenangkan sekaligus melankolis.
Dan aku ingat, dengan sangat jelas, bagaimana dunia tiba-tiba menjadi lebih sunyi setelah warna-warna itu pergi.
---
Beberapa ilmuwan mencoba menjelaskan fenomena ini.
Teori yang paling populer menyebutnya Achromatic Collective Neurosis—semacam gangguan saraf massal yang menyebabkan otak manusia berhenti memproses spektrum warna. Ada yang menduga ini efek samping dari paparan layar digital yang berlebihan. Ada yang menduga ini eksperimen militer yang bocor. Ada yang menduga ini semacam hukuman kosmik.
Akan tetapi tidak ada yang benar-benar tahu.
Yang jelas, setelah tiga bulan, semua orang di kota ini—dan belakangan kami tahu, di kota-kota lain juga—hanya bisa melihat dunia dalam gradasi hitam, putih, dan abu-abu. Bukan seperti film noir yang romantis. Lebih seperti foto lama yang pudar, kehilangan kontras, kehilangan jiwa.
---
Dampaknya tidak langsung terasa.
Orang-orang masih pergi bekerja. Anak-anak masih pergi ke sekolah. Toko-toko masih buka. Lampu lalu lintas masih berfungsi, meski kini kami membedakan "merah" dan "hijau" hanya dari posisi lampunya, bukan dari warnanya—lampu atas berhenti, lampu bawah jalan.
Namun perlahan, retakan-retakan kecil mulai muncul.
Yang pertama adalah industri mode. Untuk apa merancang pakaian warna-warni jika tak ada yang bisa melihatnya? Desainer-desainer hebat mundur. Rumah mode tutup. Semua orang mulai mengenakan pakaian abu-abu, hitam, putih. Dunia menjadi seperti halaman koran lama.
Yang kedua adalah industri makanan. Koki-koi kehilangan motivasi. Presentasi makanan yang dulu merupakan seni—merahnya cabai, hijaunya daun ketumbar, kuningnya kunyit—kini tak berarti apa-apa. "Rasa tetap sama," kata seorang koki terkenal dalam sebuah wawancara, "tetapi makan tanpa warna itu seperti mendengarkan lagu tanpa melodi."
Yang ketiga adalah cinta.
Ini yang paling aneh dan paling menyakitkan.
Orang-orang mulai kesulitan jatuh cinta.
Awalnya aku pikir ini kebetulan. Akan tetapi kemudian seorang psikolog menulis artikel yang menjelaskan bahwa warna memainkan peran besar dalam ketertarikan romantis. Rona merah di pipi saat malu. Kilau di mata yang sebenarnya adalah pantulan cahaya pada iris berwarna. Buket mawar merah. Langit jingga saat senja yang membuat momen-momen bersama terasa sinematik.
Tanpa warna, semua interaksi manusia menjadi … transaksional. Fungsional. Hambar.
Aku merasakannya sendiri.
Dulu, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di museum, terpikat oleh cara pelukis menggunakan warna untuk menyampaikan emosi. Kini, lukisan-lukisan itu hanya susunan bentuk dan garis. Aku masih bisa melihat komposisinya, tekniknya, tetapi jiwanya hilang. Seperti mayat yang diawetkan.
---
Enam bulan setelah warna terakhir menghilang, seseorang datang ke museum.
Namanya Tamara. Ia seorang fotografer—atau setidaknya, dulu adalah seorang fotografer. Kini ia bekerja sebagai tukang sortir di gudang logistik, karena foto hitam putihnya tidak lagi istimewa ketika semua foto di dunia juga hitam putih.
"Aku mencari sesuatu," katanya. Suaranya pelan, seperti orang yang sudah terlalu lelah berharap.
"Semua orang mencari sesuatu," jawabku.
Ia tersenyum tipis. "Namun aku mencari sesuatu yang spesifik. Aku mencari lukisan yang bisa membuatku mengingat warna."
Aku mengajaknya berkeliling museum. Kami melewati Monet, Van Gogh, Affandi, Raden Saleh. Semua tampak seperti lukisan arang raksasa. Amara memandanginya dengan mata yang kosong—bukan karena tidak tertarik, melainkan karena tidak bisa lagi merasakan apa yang dulu bisa ia rasakan.
Di sudut museum, ada lukisan kecil yang jarang diperhatikan pengunjung. Lukisan itu karya pelukis lokal yang tidak terkenal. Judulnya Matahari di Atas Ladang. Dulu, lukisan itu penuh warna: kuning menyala, hijau daun, biru langit, dan jingga senja.
Kini, lukisan itu hanya kanvas abu-abu.
Namun Tamara berhenti di depannya. Lama. Matanya menyipit. Tangannya terangkat, hampir menyentuh permukaan lukisan, tetapi tidak jadi.
"Aku ingat," bisiknya.
"Apa?"
"Aku ingat bagaimana kuning itu rasanya. Hangat. Seperti madu. Seperti pagi hari saat kau masih kecil dan ibumu memanggilmu untuk sarapan."
Aku terdiam. Ada sesuatu di dalam kata-katanya yang aneh. Bukan sekadar nostalgia, melainkan lebih seperti … memori fisik. Memori sensorik. Kuning bukan sekadar warna yang ia lihat; kuning adalah suhu, adalah aroma, adalah tekstur waktu.
"Dan ini," ia menunjuk ke bagian lain lukisan, "ini biru. Biru itu dingin. Bukan dingin yang tidak nyaman. Melainkan dingin seperti angin di pagi hari. Biru adalah suara ombak. Biru adalah bau hujan."
Sesuatu bergetar di dadaku.
Tamara tidak hanya mengingat warna. Ia merasakannya. Dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang selama ini mungkin kami abaikan.
---
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku terus memikirkan apa yang dikatakan Tamara. Jika warna bisa dirasakan, bukan hanya dilihat, maka mungkin warna sebenarnya tidak benar-benar hilang. Mungkin ia hanya pindah ke indra lain. Mungkin kami yang terlalu mengandalkan mata, dan ketika mata gagal, kami menyerah begitu saja.
Aku mulai bereksperimen.
Aku menutup mata dan mencoba mengingat warna-warna yang dulu kulihat. Bukan sekadar membayangkannya, melainkan mencoba merasakannya.
Merah. Darah. Marah. Cinta yang membara. Cabai yang membakar lidah. Mawar yang wanginya manis dan sedikit pedas.
Kuning. Matahari di punggung saat bermain layangan. Nasi kuning buatan ibu. Hangat.
Hijau. Rumput basah setelah hujan. Daun yang menampar pipi saat kecil dulu main petak umpet.
Biru. Kedalaman. Kesendirian yang nyaman. Langit yang membentang tanpa batas.
Satu per satu, warna-warna itu kembali. Bukan di mataku, melainkan di suatu tempat yang lebih dalam. Di ingatan tubuhku. Di tulang-tulangku. Di sel-selku.
---
Keesokan harinya, aku kembali ke museum. Tamara sudah ada di sana, berdiri di depan lukisan yang sama.
"Bagaimana tidurmu?" tanyanya.
"Tidak tidur, tetapi aku menemukan sesuatu."
Ia menoleh, menunggu.
"Warna tidak hilang," kataku. "Ia hanya pindah. Ke ingatan kita. Ke tubuh kita. Kita hanya harus belajar membacanya lagi."
Tamara tersenyum. Senyum yang lebih lebar kali ini. "Itulah yang ingin kuceritakan kepadamu. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
Kami menghabiskan sepanjang hari di museum itu. Bukan untuk melihat lukisan, melainkan untuk merasakannya. Tamara menceritakan setiap warna yang ia ingat: bagaimana ungu adalah melodi biola yang lambat, bagaimana jingga adalah tawa anak-anak yang pulang sekolah, bagaimana putih adalah keheningan setelah salju turun.
Dan aku menambahkan: hitam bukan sekadar gelap. Hitam adalah pelukan. Hitam adalah tanah yang subur. Hitam adalah ruang aman di mana bintang-bintang bisa bersinar.
---
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi.
Seorang pelukis buta bernama Malik mengadakan pameran di kota kami. Karya-karyanya adalah lukisan yang dibuat dengan tekstur—pasir, kain, tanah, biji-bijian—sehingga bisa "dilihat" dengan sentuhan.
Yang membuat pameran ini istimewa adalah apa yang terjadi kepada pengunjungnya.
Saat mereka menyentuh lukisan Malik yang berjudul Merah, sesuatu seperti gelombang listrik mengalir di ujung jari mereka. Dan untuk sekejap, dalam sekejap yang sangat singkat, mereka melihat merah. Bukan dalam arti sebenarnya—saraf optik mereka tetap tidak berfungsi—melainkan otak mereka menerjemahkan sentuhan itu sebagai warna. Seolah-olah sentuhan adalah bahasa baru untuk melihat.
Berita itu menyebar seperti api.
Para ilmuwan yang dulu kebingungan kini mulai meneliti fenomena ini. Mereka menyebutnya Synesthetic Adaptation—kemampuan otak untuk beradaptasi dengan kehilangan satu indra dengan memperkuat indra lain, menciptakan jalur saraf baru yang menghubungkan sentuhan, suara, bau, dan rasa ke bagian otak yang biasanya memproses warna.
Artinya, kami tidak benar-benar kehilangan warna. Kami hanya kehilangan satu cara untuk mengaksesnya. Dan kini, kami menemukan cara-cara lain.
---
Setahun kemudian, kota kami berubah.
Bukan kembali seperti dulu—tidak. Mata kami tetap tidak bisa melihat warna seperti sebelumnya. Namun kami tidak lagi berduka untuk itu.
Karena kini, setiap hal memiliki dimensi baru.
Musik tidak lagi sekadar suara; ia memiliki warna. Biola adalah ungu. Gitar adalah cokelat hangat. Piano adalah biru muda yang mengalir seperti air.
Makanan tidak lagi sekadar rasa; ia memiliki palet. Pedas adalah merah menyala. Asam adalah kuning terang. Manis adalah merah muda yang lembut.
Dan cinta? Cinta menemukan kembali dirinya. Tidak melalui rona di pipi, tetapi melalui sentuhan yang bisa "dilihat", melalui bisikan yang berwarna, melalui keheningan bersama yang terasa seperti kanvas putih yang siap dilukis.
Aku dan Tamara tidak pernah secara resmi menjadi sepasang kekasih. Namun setiap kali kami bersama, aku merasakan warna yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Warna yang belum pernah ada sebelumnya. Warna yang hanya bisa diciptakan oleh dua orang yang saling memahami kehilangan dan penemuan.
---
Suatu malam, aku duduk di atap museum bersama Tamara. Bintang-bintang bertaburan di langit, dan meski kami tidak bisa lagi melihat cahaya mereka sebagaimana dulu, kami bisa merasakannya. Dingin yang berkelap-kelip di kulit. Angin malam yang membawa suara-suara jauh.
"Aneh, ya," kata Tamara. "Kita kehilangan sesuatu yang sangat mendasar, tetapi kita justru menemukan sesuatu yang lebih besar."
"Apa itu?" tanyaku, meski aku mungkin sudah tahu jawabannya.
"Bahwa dunia tidak berhenti menjadi indah hanya karena kita kehilangan cara lama untuk melihatnya. Ia hanya meminta kita untuk mencari cara baru."
Aku menggenggam tangannya. Dan dalam genggaman itu, aku merasakan warna. Semua warna. Sekaligus.
Bukan di mata, melainkan di tempat di mana warna seharusnya selalu berada: di dalam jiwa.
---
Sukabumi, 2021
Komentar
Posting Komentar