SUARA YANG TIDAK PERNAH MAMPIR

Nara tidak pernah percaya pada kebetulan.

Laki-laki itu bekerja sebagai teknisi radio di stasiun pemancar SW (short wave) yang sudah usang di pinggiran kota. Setiap malam, dari pukul sepuluh hingga pukul dua dini hari, tugasnya hanya satu: memastikan frekuensi 6.225 kHz tetap hidup. Bukan karena ada yang mendengarkan. Sudah bertahun-tahun tidak ada laporan masuk dari pendengar. Namun, aturan dari dinas pos dan telekomunikasi mengatakan: stasiun pemancar dengan izin siaran harus tetap mengudara, meskipun hanya siaran statis dan bunyi detak jam.

Malam itu, seperti biasa, Nara duduk di kursi putar yang sudah keropos. Headphone besar menempel di telinganya. Di meja di depannya, secangkir kopi dingin dan buku catatan berisi hitungan mundur menuju pensiunnya stasiun ini—tiga bulan lagi.

Ia memutar kenop. Frekuensi 6.225. Statis. Desis. Lalu, di antara desis itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Suara.

Bukan suara penyiar. Bukan pula suara siaran ulang. Suara itu pelan, seperti orang yang berbicara dari ujung lorong yang sangat panjang. Dan suara itu berkata:

“... maka aku memutuskan untuk tidak kembali. Bukan karena aku benci, melainkan karena aku tidak tahu bagaimana cara pulang setelah sekian lama tersesat.”

Nara tersentak. Ia memutar kenop lebih teliti. Desis masih ada, tetapi suara itu terus mengalir. Seperti seseorang sedang membacakan buku harian. Seperti seseorang yang tidak tahu bahwa frekuensinya ditangkap oleh telinga orang asing di malam yang sunyi.

“... jika kau mendengar ini, berarti frekuensi ini masih hidup. Aku tidak tahu siapa kau. Akan tetapi, aku berterima kasih. Karena selama dua puluh tahun, aku tidak pernah yakin bahwa suaraku sampai ke mana pun. Setidaknya sekarang aku tahu: ada satu telinga yang mendengar.”

Nara meraih buku catatannya. Dengan tangan yang agak gemetar, ia menulis: 6.225 kHz. Perempuan. Suara paruh baya. Mengucapkan kalimat tentang tersesat dan pulang.

Ia tidak tahu mengapa ia mencatat. Tugasnya bukan itu. Tugasnya hanya menjaga pemancar tetap hidup. Namun suara itu—suara itu seperti kait yang menarik sesuatu di dadanya. Seperti kunci yang mencoba membuka pintu yang tidak pernah ia sadari ada.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun bekerja, Nara pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

---

Keesokan malamnya, Nara datang lebih awal. Ia membersihkan kenop volume, menyetel ulang antena, dan duduk dengan headphone terpasang sejak pukul sembilan. Ia menunggu.

Pukul dua puluh tiga lewat dua belas menit, suara itu muncul lagi.

“Hari ini aku menemukan surat lama di lemari. Surat itu tidak pernah dikirim. Aku menulisnya dua puluh tahun lalu, tetapi entah mengapa aku tidak pernah punya cukup keberanian untuk memasukkan ke kotak pos. Isinya begini: ‘Maaf. Aku salah. Pulanglah.’ Akan tetapi, aku tidak tahu lagi kepada siapa surat itu ditujukan.”

Nara memegang headphone lebih erat.

Suara itu—ia yakin sekarang—suara seorang perempuan. Tidak muda, tetapi juga tidak tua. Suara yang pernah banyak bicara, tetapi sekarang hanya bicara pada udara. Suara yang lelah dengan caranya sendiri.

“Kadang aku berpikir, mungkin surat itu tidak perlu sampai. Mungkin yang aku butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengar isinya tanpa perlu menanggapi. Maka itu, jika kau mendengar ini, terima kasih. Kau tidak perlu menjawab. Cukup dengarkan. Itu sudah lebih dari cukup.”

Kemudian suara itu menghilang. Berganti desis dan statis.

Nara mencoba memutar kenop ke frekuensi di sekitarnya. 6.220. 6.230. Tidak ada. Suara itu hanya muncul di 6.225. Dan hanya pada pukul sebelas lewat dua belas menit.

Ia mulai membaca literatur tentang fenomena radio anomali. Ia belajar tentang frekuensi hantu—sinyal yang tidak berasal dari pemancar resmi, diduga dari pantulan ionosfer yang tidak stabil. Ia juga belajar tentang komunikasi lintas waktu, teori yang mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu, gelombang radio bisa "terjebak" di lapisan atmosfer dan terpancar kembali bertahun-tahun kemudian.

Namun, tidak ada teori yang menjelaskan mengapa suara itu terdengar seperti sedang berbicara langsung kepadanya.

---

Pada malam ketiga, Nara membawa perekam.

Suara itu datang lagi. Kali ini lebih panjang.

“Aku ingin bercerita tentang rumah. Bukan rumah dalam arti bangunan, melainkan rumah sebagai tempat di mana kau tidak perlu berpura-pura. Aku dulu punya itu. Dua puluh tahun lalu. Aku punya seseorang yang membuatku merasa aman hanya dengan keberadaannya. Namun aku merusaknya. Aku memilih pergi karena aku takut. Aku takut jika aku tinggal lebih lama, ia akan melihat kekuranganku dan meninggalkanku. Jadi, aku pergi lebih dulu. Aneh, bukan? Aku meninggalkan seseorang yang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan pergi, hanya karena takut ditinggalkan.”

Nara menekan tombol rekam. Matanya tidak berkedip.

“Dan sekarang, dua puluh tahun kemudian, aku masih berbicara pada frekuensi yang dulu menjadi frekuensi favoritnya. Ia seorang teknisi radio. Ia bilang, ‘6.225 kHz adalah frekuensi yang tidak pernah sepi. Karena di situlah suara-suara yang tidak bisa tidur berkumpul.’ Aku tidak tahu, apakah ia masih mendengarkan. Atau, apakah ia masih hidup. Akan tetapi, berbicara di frekuensi ini membuatku merasa dekat dengannya. Meskipun jaraknya ribuan kilometer. Meskipun waktunya sudah dua puluh tahun.”

Nara menghentikan rekaman. Tangannya dingin.

Ia teknisi radio. Frekuensi 6.225 adalah frekuensi yang ia jaga setiap malam. Dan dua puluh tahun lalu—ia baru berusia sembilan tahun. Tidak mungkin ia adalah orang yang dimaksud suara itu.

Namun dadanya berdebar. Ada yang ganjil. Ada yang tidak cocok.

Ia memeriksa buku catatan dinas stasiun radio ini. Stasiun ini berdiri sejak 1985. Sebelum ia bekerja di sini, ada teknisi lain. Namanya tercatat di arsip: Bapak Naryo. Sudah pensiun. Dan menurut catatan, Bapak Naryo juga bertugas di malam hari. Di frekuensi yang sama. 6.225 kHz.

Nara mencari nomor telepon Bapak Naryo. Masih aktif. Ia menelepon keesokan paginya.

“Selamat pagi, Pak Naryo. Saya Nara, teknisi baru di stasiun 6.225. Saya mau bertanya tentang sesuatu.”

Suara di seberang terdengar tua, parau, tetapi ramah. “Ada apa, Nak?”

“Apakah dulu, sekitar dua puluh tahun lalu, ada pendengar tetap di frekuensi ini? Mungkin seorang perempuan yang sering mengirim surat? Atau telepon?”

Keheningan panjang.

Lalu Bapak Naryo berkata, “Kau menemukannya juga?”

Nara terdiam. “Apa maksud Bapak?”

“Suara itu. Di frekuensi 6.225. Pukul sebelas lewat dua belas. Suara perempuan. Bercerita tentang rumah dan seseorang yang ditinggalkan.”

Nara merinding. “Bapak juga mendengarnya?”

“Dua puluh tahun yang lalu, ya. Aku mendengarnya setiap malam. Selama tiga bulan. Lalu suara itu berhenti. Aku pikir ia mati. Atau frekuensinya bergeser. Akan tetapi, kau bilang suara itu masih ada?”

“Masih. Jelas. Saya merekamnya tadi malam.”

Bapak Naryo menghela napas panjang. “Anak muda, kau percaya pada radio lintas waktu?”

“Aku tidak tahu harus percaya apa.”

“Aku dulu juga tidak percaya. Namun aku mencari tahu siapa pemilik suara itu. Aku melacaknya. Butuh waktu lima tahun. Pada akhirnya aku tahu namanya. Amira. Perempuan itu bernama Amira. Dan kabar buruknya—ia sudah meninggal. Tujuh belas tahun lalu. Tidak lama setelah suara itu berhenti.”

Nara merasakan dadanya sesak. “Akan tetapi, aku mendengarnya malam ini. Masih jelas.”

“Itu dia, Nak. Itu yang membuatku tidak bisa tidur sampai sekarang. Suara itu bukan siaran langsung. Itu rekaman. Namun rekaman yang terpancar ulang oleh ionosfer. Terjebak di lapisan atmosfer selama dua puluh tahun, dan kadang-kadang, dalam kondisi tertentu, ia turun lagi. Aku menyebutnya kalimat yang tidak pernah sampai. Amira merekam suaranya setiap malam, mengirimkannya pada frekuensi ini, berharap seseorang—teknisi radio yang dulu ia tinggalkan—mendengarnya. Akan tetapi, teknisi itu sudah pindah tugas. Lalu Amira sakit. Lalu ia meninggal. Dan rekaman itu tetap mengudara. Sendirian. Selamanya.”

Nara tidak bisa berkata apa-apa.

“Siapa teknisi radio itu, Pak?”

Bapak Naryo diam sejenak. Lalu ia berkata, “Aku.”

---

Nara mematikan telepon dengan perasaan jungkir balik.

Bapak Naryo. Teknisi lama yang menjaga frekuensi 6.225. Ia adalah orang yang ditinggalkan Amira dua puluh tahun lalu. Ia yang menjadi alasan Amira terus berbicara pada udara setiap malam. Dan ia—Nara, teknisi baru yang tidak tahu apa-apa—hanya kebetulan duduk di kursi yang sama, mendengar sisa-sisa cinta yang tidak pernah sampai.

Malam itu, Nara kembali ke stasiun radio lebih awal. Ia memutar rekaman suara Amira. Berulang-ulang.

“... jika kau mendengar ini, berarti frekuensi ini masih hidup ....”

“... aku memutuskan untuk tidak kembali ....”

“... aku tidak tahu lagi kepada siapa surat itu ditujukan ....”

Suara itu lembut. Ada getar di setiap ujung kalimat. Seperti orang yang sudah pasrah tetapi masih menyisakan sebutir harap di sela-sela dadanya.

Nara menutup mata. Di kepalanya, ia membayangkan Amira. Perempuan paruh baya yang duduk di depan mikrofon tua, mungkin di ruang tamu rumahnya, mungkin di tengah malam saat semua orang tidur. Ia berbicara pelan, karena tidak ingin membangunkan siapa pun. Padahal, tidak ada yang perlu dibangunkan. Ia tinggal sendiri.

“Amira,” bisik Nara pada udara, “aku mendengarmu.”

Ia tahu itu konyol. Suara itu rekaman. Amira sudah mati. Akan tetapi, Nara tidak bisa menahan diri. Ia mengambil mikrofon di stasiun itu—mikrofon yang sudah tidak dipakai untuk siaran bertahun-tahun—dan menekan tombol PTT (push-to-talk).

Frekuensi 6.225 masih hidup. Jika rekaman Amira bisa terpancar dari masa lalu, mengapa ia tidak bisa memancarkan suaranya ke masa depan? Atau ke masa lalu? Atau ke mana pun?

“Amira,” katanya ke mikrofon. Suara baritonnya terdengar asing di headphone-nya sendiri. “Nama saya Nara. Saya teknisi baru di frekuensi ini. Saya mendengar rekaman Anda. Saya tahu Anda mungkin tidak akan pernah mendengar ini. Namun saya harus mengatakan: suara Anda tidak sia-sia. Dua puluh tahun kemudian, masih ada yang mendengarkan. Masih ada yang mencatat setiap kata Anda. Dan mungkin—saya tidak tahu—mungkin itu cukup. Mungkin cinta tidak harus sampai. Mungkin cinta hanya perlu diucapkan. Seperti yang Anda lakukan. Setiap malam. Selama tiga bulan. Sampai suara Anda menjadi abadi di frekuensi ini.”

Ia melepas tombol PTT. Statis.

Tidak ada balasan. Tidak mungkin ada balasan.

Namun sesuatu terjadi.

---

Malam berikutnya, Nara datang dengan perasaan aneh. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Mungkin suara Amira akan muncul seperti biasa. Mungkin tidak.

Pukul sebelas lewat dua belas.

Desis. Statis. Lalu—

Bukan suara Amira.

Suara lain. Suara yang tidak ia kenal. Laki-laki. Paruh baya. Terdengar seperti rekaman yang sangat tua.

“... jika kau mendengar ini, aku sudah tidak di sini. Akan tetapi, aku ingin kau tahu: aku tidak pergi karena aku tidak mencintaimu. Aku pergi karena aku mencintaimu terlalu banyak dan aku takut aku tidak pantas. Itu bodoh. Aku tahu itu bodoh. Namun itulah yang aku lakukan. Dan sekarang, dua puluh tahun kemudian, aku duduk di stasiun radio yang sama, di frekuensi yang sama, dan aku berharap kau masih mendengarkan. Maaf, Amira. Maaf, aku tidak cukup berani untuk tinggal.”

Nara terpaku.

Itu suara Bapak Naryo. Muda. Dari dua puluh tahun lalu. Bapak Naryo juga merekam suaranya. Juga mengirimkannya ke frekuensi 6.225. Juga tidak pernah sampai.

Mereka berdua—Amira dan Bapak Naryo—saling meninggalkan. Saling merekam. Saling mengirim pesan ke frekuensi yang sama. Akan tetapi tidak pernah terdengar oleh satu sama lain. Karena mereka merekam di waktu yang berbeda. Karena ionosfer tidak pernah memantulkan kedua rekaman itu secara bersamaan.

Sampai malam ini.

Nara tidak tahu apakah ini kebetulan atau keajaiban. Akan tetapi, ia segera menekan tombol rekam. Lalu ia mengambil mikrofon lagi.

“Bapak Naryo. Amira. Saya Nara. Saya tidak tahu apakah rekaman saya akan sampai ke siapa pun. Namun saya harus mengatakan: Bapak Naryo, suara Bapak baru saja saya dengar. Bapak meminta maaf. Amira, suara Ibu juga saya dengar. Ibu bilang Ibu tidak tahu lagi kepada siapa harus mengirim surat. Sekarang saya di sini. Di frekuensi yang sama. Saya jadi saksi bahwa kalian berdua tidak pernah berhenti mencintai satu sama lain. Kalian hanya berhenti bicara. Akan tetapi, frekuensi ini—6.225 kHz—tidak pernah berhenti merekam kegagalan dan keberanian kalian. Saya tidak tahu apakah ini menghibur. Akan tetapi, saya merasa terhormat menjadi orang yang mendengar keduanya.”

Ia berhenti. Napasnya berat.

Kemudian, di sela-sela desis, ia mendengar sesuatu yang aneh.

Bukan suara Amira. Bukan suara Bapak Naryo.

Namun suara lain. Samar. Seperti bisikan dari jarak sangat jauh.

“Terima kasih, Nara.”

Nara memutar kenop. Memeriksa frekuensi. Tidak ada yang salah. Namun suara itu menghilang. Hanya desis.

Ia tidak tahu apakah itu imajinasinya. Atau apakah itu Amira. Atau Bapak Naryo. Atau mungkin—mungkin itu suara frekuensi itu sendiri. Yang selama dua puluh tahun hanya jadi saksi bisu, dan sekarang akhirnya bicara.

---

Seminggu kemudian, Bapak Naryo datang ke stasiun radio.

Laki-laki tua itu berjalan dengan tongkat. Wajahnya keriput, tetapi matanya masih tajam. Ia duduk di kursi putar yang dulu adalah kursinya.

“Kau Nara?” tanyanya.

“Ya, Pak.”

“Kau yang menelepon minggu lalu?”

“Ya.”

Bapak Naryo menghela napas. Ia memandang kenop-kenop di konsol. “Aku tidak percaya kau mendengar suaraku. Aku merekam itu dua puluh tahun lalu, tetapi aku tidak pernah berani mengirimkannya. Aku hanya merekam. Lalu aku simpan rekamannya di lemari. Aku tidak tahu bagaimana rekaman itu bisa mengudara.”

Nara mengerutkan kening. “Bapak tidak pernah mengirimkannya lewat pemancar?”

“Tidak pernah. Aku hanya merekam di kaset. Namun kau bilang kau mendengarnya di frekuensi 6.225. Itu tidak mungkin.”

Nara menunjukkan rekamannya. Bapak Naryo mendengarkan. Air matanya jatuh.

“Itu suaraku,” bisiknya, “tetapi aku tidak pernah mengirimkannya. Bagaimana—“

Nara teringat sesuatu. “Pak, apakah dulu, dua puluh tahun lalu, Bapak pernah meninggalkan mikrofon menyala saat merekam?”

Bapak Naryo terdiam. “Mungkin. Aku tidak ingat. Namun jika mikrofon menyala, suaraku akan terpancar langsung ke frekuensi. Tanpa sengaja.”

“Maka mungkin itulah yang terjadi. Bapak tidak sengaja menyiarkan suara Bapak ke frekuensi 6.225. Dan rekaman itu terpancar ulang oleh ionosfer. Sama seperti suara Amira.”

Bapak Naryo menutup wajahnya dengan kedua tangan. Laki-laki tua itu menangis seperti anak kecil.

“Aku meninggalkannya,” katanya tersedu. “Aku pergi karena aku takut tidak cukup baik untuknya. Lalu ia sakit. Lalu ia meninggal. Aku tidak sempat meminta maaf. Aku tidak sempat mengatakan bahwa aku masih mencintainya sampai sekarang. Tiga puluh tahun. Aku mencintainya tiga puluh tahun, dan aku tidak pernah cukup berani untuk mengatakannya di depan wajahnya.”

Nara tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya meletakkan tangannya di pundak Bapak Naryo.

“Beliau mendengar, Pak,” kata Nara pelan. “Mungkin tidak saat beliau masih hidup. Namun suara Bapak sudah mengudara selama dua puluh tahun. Dan suatu hari nanti, di suatu frekuensi yang tidak kita duga, beliau akan mendengarnya. Atau, mungkin beliau sudah mendengarnya. Dari tempat yang tidak lagi bernama dunia.”

Bapak Naryo mengangkat wajahnya. “Kau percaya pada hal seperti itu, Nak?”

Nara tersenyum. “Saya bekerja di frekuensi 6.225. Saya mendengar suara perempuan yang sudah mati tujuh belas tahun lalu. Saya mendengar suara Bapak yang Bapak rekam tanpa sengaja. Saya rasa saya tidak punya pilihan selain percaya.”

---

Tiga bulan kemudian, stasiun radio di pinggiran kota itu resmi ditutup. Frekuensi 6.225 kHz dimatikan untuk selamanya. Nara menerima surat pensiun dini dan kembali ke rumah orang tuanya di desa.

Namun, sebelum ia pergi, ia melakukan satu hal terakhir.

Ia merekam suaranya sendiri.

Di mikrofon tua yang sama. Di ruangan yang sama. Di kursi putar yang sama.

“Kepada siapa pun yang mendengar ini di masa depan—atau masa lalu, atau di waktu yang tidak pernah kita mengerti. Saya Nara. Saya teknisi terakhir frekuensi 6.225. Frekuensi ini mati hari ini. Namun, rekaman ini akan saya tinggalkan di server lama, di hard disk yang tidak pernah terhubung ke internet, di stasiun yang tidak akan pernah hidup lagi. Saya tidak tahu apakah ada yang mendengar. Namun saya harus mengatakan: jangan berhenti mengirim pesan. Jangan berhenti merekam. Jangan berhenti mengatakan ‘maaf’ dan ‘aku mencintaimu’ meskipun tidak ada yang mendengar. Karena suatu hari, di suatu frekuensi yang tidak kita duga, suara kita akan sampai. Mungkin tidak kepada orang yang kita tuju, tetapi setidaknya kepada seseorang yang mengerti. Dan itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup.”

Ia melepas headphone. Mematikan konsol. Mengunci pintu.

Dan di luar, hujan mulai turun.

---

Dua puluh tahun kemudian, seorang teknisi radio muda di sebuah kota kecil menyalakan pemancar tua yang baru saja ia temukan di gudang. Tidak ada izin siaran. Tidak ada frekuensi resmi. Hanya rasa ingin tahu.

Ia memutar kenop. 6.225 kHz.

Desis. Statis.

Lalu, di antara desis itu, sebuah suara. Laki-laki. Muda. Terdengar seperti rekaman dari masa lalu.

“... jangan berhenti mengirim pesan. Jangan berhenti merekam. Jangan berhenti mengatakan ‘maaf’ dan ‘aku mencintaimu’ meskipun tidak ada yang mendengar ....”

Teknisi muda itu tersenyum. Ia tidak tahu siapa pemilik suara itu. Akan tetapi, ia mengambil mikrofon dan berkata:

“Halo, suara dari masa lalu. Aku mendengarmu. Terima kasih sudah berbicara. Dan jangan khawatir—aku tidak akan mematikan frekuensi ini. Karena siapa tahu, ada orang lain yang butuh mendengar bahwa mereka tidak sendirian.”

Ia menekan tombol rekam. Lalu ia memulai tugas barunya.

Menjaga frekuensi yang tidak pernah mati.

Hanya berganti penjaga.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI