SUATU KETIKA DI DALAM LABIRIN BAHASA
Aru tidak pernah bermimpi. Sejak kecil, ketika teman-temannya bercerita tentang terbang di langit atau dikejar monster, Aru hanya diam. Ia tidur, lalu gelap, lalu bangun. Tidak ada gambar. Tidak ada suara. Tidak ada cerita. Dokter menyebutnya chléromania—ketidakmampuan langka untuk memproduksi narasi dalam tidur. Namun, Aru tidak merasa kehilangan. Baginya, mimpi hanyalah sampah mental yang tidak berguna.
Yang membuatnya istimewa bukanlah ketiadaan mimpi, melainkan kemampuannya yang aneh: Aru bisa melihat kesalahan tata bahasa di dunia nyata.
Bukan kesalahan di buku atau di papan iklan, melainkan kesalahan di realitas itu sendiri. Suatu hari, ketika ia berjalan melewati pasar, ia melihat seekor kucing mengejar tikus. Akan tetapi, dalam perspektifnya, kalimat "kucing mengejar tikus" salah. Seharusnya "tikus dikejar kucing". Ia melihat dunia sebagai rangkaian klausa yang kacau, subjek dan objek bertukar posisi, frasa preposisional menggantung tanpa induk, konjungsi yang tidak menghubungkan apa pun.
Ia adalah satu-satunya yang melihat itu. Orang lain melihat kucing, tikus, pasar, biasa saja. Namun Aru melihat kesalahan seperti retakan di kaca—tipis, nyaris tak terlihat, tetapi jika ia memejamkan mata, ia bisa mendengar dunia berderit karena struktur yang salah.
Pada usia dua puluh delapan tahun, Aru bekerja sebagai editor lepas. Ia mengoreksi naskah orang lain, memperbaiki kalimat miring, menghilangkan pleonasme, menertibkan subjek-predikat. Pekerjaan yang membosankan, tetapi cocok untuknya. Dunia yang teratur adalah dunianya. Dunia yang kacau—seperti percakapan santai, seperti puisi, seperti pernyataan cinta yang tidak logis—adalah musuhnya.
Kemala adalah kebalikannya.
Kemala adalah penyair. Rambutnya sebahu, jarang disisir. Matanya besar dan selalu sedikit basah, seperti orang yang baru selesai menangis atau baru akan mulai menangis. Ia menulis puisi tentang hujan yang rindu pada tanah, tentang kata "mengapa" yang beranak-pinak menjadi seribu pertanyaan, tentang cinta yang ia definisikan sebagai "kesalahan tata bahasa yang paling indah".
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi tua di kawasan Salemba. Aru sedang mengedit naskah novel roman picisan. Kemala sedang membaca buku filsafat bahasa Ludwig Wittgenstein—Tractatus Logico-Philosophicus—sambil sesekali menulis puisi di serbet.
Kemala melihat Aru. Aru tidak melihat Kemala.
"Maaf," kata Kemala, mencolek lengan Aru. "Kamu editor, ya? Bisa bantu lihat puisi ini? Aku ragu dengan struktur baris kelima."
Aru menghela napas. Ia tidak suka diganggu saat bekerja. Namun ia melihat puisi itu. Baris kelima berbunyi: "Rindu yang kutinggalkan di matamu semalam, ia tumbuh menjadi pohon."
"Kesalahan," kata Aru. "Subjek ganda. 'Rindu' dan 'ia' merujuk pada hal yang sama. Hapus 'ia'."
Kemala tertawa. "Tidak bisa. 'Ia' itu penting. Tanpa 'ia', rindu itu mati."
"Rindu tidak bisa mati. Rindu bukan organisme hidup."
"Kamu tidak percaya rindu itu hidup?"
"Saya tidak percaya pada hal-hal yang tidak bisa diverifikasi."
Kemala menatap Aru lama. Matanya yang basah itu berkedip, lalu ia tersenyum. "Kamu menarik. Kamu seperti kalimat deklaratif: lugas, jelas, mati."
"Apa maksudmu mati?"
"Tidak punya ruang untuk tafsir. Selesai pada dirinya sendiri. Tidak mengundang siapa pun untuk masuk."
Aru tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berkata, "Puisi baris kelima salah. Terserah mau kamu perbaiki atau tidak."
Ia kembali ke naskah novelnya. Kemala kembali ke Wittgenstein. Namun keduanya sama-sama tidak konsentrasi.
---
Seminggu kemudian, Aru menerima surel anonim. Tanpa pengirim, tanpa subjek. Isinya hanya satu baris:
"Selamat datang di Labirin Bahasa. Pintu masuk: Jalan Kramat Raya No. 17, pukul 11 malam. Bawa satu kata yang tidak pernah kau ucapkan."
Aru mengira itu spam. Namun ada sesuatu yang aneh: surel itu tidak memiliki alamat IP. Tidak bisa dilacak. Bahkan temannya yang ahli siber tidak bisa menemukan asalnya.
Ia mengabaikannya.
Namun malam itu, saat ia tidur—atau mencoba tidur—ia mendengar suara. Bukan suara dari luar. Suara dari dalam kepalanya. Suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya karena ia tidak pernah bermimpi. Akan tetapi, ini bukan mimpi. Ini lebih nyata dari kenyataan.
"Aru. Kamu melihat kesalahan dunia karena kamu dipanggil untuk memperbaikinya, tetapi kamu tidak bisa memperbaiki sesuatu tanpa memasukinya. Labirin Bahasa adalah tempat di mana kata-kata menjadi dinding, di mana tata bahasa menjadi lorong, di mana kau harus tersesat untuk menemukan satu kalimat yang benar."
Aru bangun. Keringat dingin membasahi bajunya. Ia menyalakan lampu. Di atas meja kerjanya, surel anonim itu terbuka di layar laptop—padahal laptopnya mati.
Jalan Kramat Raya No. 17. Pukul 11 malam.
Ia memutuskan untuk datang.
---
Gedung itu tidak mencolok. Sebuah rumah toko tua dengan pintu kayu abu-abu. Tidak ada jendela. Tidak ada papan nama. Aru datang pukul sepuluh lima puluh. Di depan pintu, ia melihat seseorang sudah berdiri.
Kemala.
"Kamu?"
"Kamu?" Kemala balik bertanya, sama terkejutnya.
"Mengapa kamu di sini?"
Kemala mengangkat bahu. "Aku dapat surel aneh. Bilang bawa satu kata yang tidak pernah aku ucapkan. Aku bawa kata 'benci'. Karena aku tidak pernah bisa membenci siapa pun. Kamu bawa apa?"
Aru mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Di kertas itu tertulis satu kata: "Mengapa."
Kemala mengernyit. "Kamu tidak pernah mengucapkan kata 'mengapa'?"
"Tidak. Saya tidak pernah bertanya mengapa. Saya hanya menerima fakta."
"Kamu aneh."
"Kamu juga."
Mereka berdua tersenyum. Ini pertama kalinya Aru tersenyum kepada orang asing.
Pukul sebelas tepat, pintu kayu abu-abu itu terbuka dengan sendirinya. Di balik pintu, bukan ruangan, melainkan sebuah koridor yang panjang, berliku, dengan dinding-dinding dari huruf-huruf cetak. Huruf-huruf itu bergerak. Mereka merangkak, berjalan, terbang, menyusun diri menjadi kata, lalu menghambur, lalu menyusun lagi.
"Selamat datang," kata sebuah suara. Suara itu tidak berasal dari sumber tertentu. Ia berasal dari dinding, dari lantai, dari udara. "Kalian berdua telah dipilih. Aru, sang Editor. Kemala, sang Penyair. Kalian adalah dua sisi dari bahasa yang sama: ketertiban dan kekacauan, aturan dan pelanggaran, mati dan hidup. Labirin ini memiliki satu pusat. Di pusat, ada satu kalimat yang sempurna. Kalimat yang tidak bisa disalahkan oleh editor, tidak bisa disempurnakan oleh penyair. Temukan kalimat itu. Hanya satu yang bisa keluar. Yang lain akan tinggal di sini selamanya."
Aru menoleh kepada Kemala. "Maksudnya kita bersaing?"
"Bukan bersaing. Berdampingan. Namun hanya satu yang bisa keluar. Itu aturannya."
"Aturan yang bodoh."
"Setuju. Akan tetapi, kita tidak punya pilihan."
---
Dinding-dinding huruf itu bergetar. Mereka membentuk lorong pertama. Di pintu masuk lorong, tertulis: "Koridor Antonim. Setiap kata yang kau ucapkan akan muncul lawannya. Jika kau tidak hati-hati, kau akan terjebak dalam pertentangan abadi."
Aru masuk. Kemala mengikuti dari belakang.
Lorong itu gelap, tetapi dindingnya bercahaya redup. Setiap langkah mereka mengeluarkan suara—bukan derap kaki, melainkan bisikan. Bisikan kata-kata yang berlawanan.
Aru mencoba bicara. "Kiri," katanya.
Seketika, dinding kanan menyala: "Kanan"
"Panas."
Dinding kiri: "Dingin"
"Baik."
"Jahat."
Aru berhenti. "Ini tidak berguna. Semua yang saya ucapkan akan dibantah."
Kemala tersenyum. "Coba aku." Ia mengambil napas. "Cinta," katanya.
Dinding-dinding itu diam. Tidak ada yang muncul.
Aru mengernyit. "Kenapa tidak ada?"
"Coba tebak."
"Karena cinta tidak punya antonim?"
"Bukan tidak punya. Antonim cinta bukan benci. Antonim cinta adalah ketidakpedulian. Namun kata itu terlalu panjang untuk dinding ini. Jadi, ia memilih diam."
Aru menatap Kemala dengan pandangan baru. "Kamu pintar."
"Kamu tidak bodoh. Kamu hanya terlalu patuh pada aturan. Aturan bilang setiap kata punya antonim, tetapi kenyataan tidak selalu mengikuti aturan. Kadang kenyataan punya celah. Dan celah itu disebut puisi."
Mereka berjalan melewati koridor antonim tanpa banyak bicara. Aru belajar untuk tidak mengucapkan kata-kata yang terlalu jelas. Kemala sebaliknya—ia malah mengucapkan kata-kata abstrak seperti "rindu", "ikhlas", "pasrah", yang tidak memiliki lawan jelas. Dinding-dinding itu bingung. Mereka bergetar, mencoba mencari antonim, lalu akhirnya menyerah dan membiarkan mereka lewat.
Di ujung koridor, sebuah pintu. Di atas pintu tertulis: "Kamu telah melewati pertentangan. Namun ingat: dunia tidak hitam-putih. Yang abu-abu lebih banyak dari yang kau kira."
---
Pintu berikutnya membawa mereka ke ruangan bundar. Lantainya dari cermin. Langit-langitnya dari kaca. Di dinding, ribuan jam tergantung, masing-masing menunjukkan waktu yang berbeda. Ada jam dengan jarum berputar mundur, ada jam tanpa jarum, ada jam dengan angka Romawi yang terbalik.
"Ruang Tenses," kata suara dari dinding. "Di sini, setiap kata kerja yang kau ucapkan akan terikat pada waktu. Jika kau salah tenses, kau akan terlempar ke masa lalu atau masa depan. Hati-hati."
Aru melangkah hati-hati. "Saya berjalan," katanya, memilih present tense.
Lantai cermin itu memantulkan bayangan Aru yang sedang berjalan. Aman.
Kemala mengikuti. "Aku menulis puisi semalam," katanya. Ia menggunakan past tense.
Seketika, ruangan berubah. Kemala menghilang. Aru melihat bayangannya di lantai cermin—tetapi bayangan itu bukan Aru. Itu Kemala, lima tahun lebih muda, duduk di kamar indekos dengan lampu temaram, menulis puisi di buku tulis.
Itu adalah masa lalu Kemala.
Aru bisa melihatnya, tetapi tidak bisa menyentuhnya. Ia hanya penonton.
Kemala kecil itu menangis. Ia menulis sesuatu, lalu menghapusnya, lalu menulis lagi. Aru membaca baris yang tertulis: "Aku takut jika kata-kataku tidak cukup untuk menjelaskan bahwa aku ada."
Aru merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu mengapa.
Tiba-tiba Kemala (yang dewasa) muncul kembali di sampingnya. Wajahnya pucat.
"Kamu lihat itu?" tanya Kemala.
"Aku lihat."
"Jangan bilang siapa-siapa."
"Tidak akan."
Mereka berjalan lebih hati-hati. Aru belajar menggunakan present tense terus-menerus, karena ia takut terlempar ke masa depan yang tidak ia kenal. Kemala sebaliknya—ia malah sesekali menggunakan past tense, seolah ia ingin melihat masa lalunya, seolah ia ingin diingatkan pada luka-luka yang ia pilih untuk tidak dilupakan.
Di tengah ruangan, mereka menemukan sebuah meja dengan dua kursi. Di atas meja, sebuah buku. Buku itu terbuka di halaman tengah. Di halaman itu tertulis satu kalimat tanpa tenses:
"Cinta adalah."
Bukan "cinta adalah indah", bukan "cinta adalah sakit", hanya "cinta adalah".
Aru menatap kalimat itu. "Ini tidak selesai."
"Ini selesai," kata Kemala. "Kata 'adalah' di sini bukan kata kerja penghubung yang butuh pelengkap. Kata 'adalah' di sini adalah pernyataan keberadaan. Cinta ada. Itu saja. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut."
"Tidak ilmiah."
"Tidak perlu ilmiah. Cinta tidak butuh bukti. Cinta butuh perasaan."
Mereka meninggalkan ruang tenses. Di pintu keluar, jam-jam di dinding berdentang bersamaan. Aru melihat bayangannya di cermin lantai—bayangan itu tersenyum kepadanya, padahal ia tidak tersenyum.
---
Koridor ini berbeda. Tidak ada dinding dari huruf. Tidak ada cermin. Yang ada adalah kabut. Kabut tebal, putih, dingin. Dan di dalam kabut, suara-suara. Ribuan suara. Mereka membaca puisi, membaca prosa, membaca lirik lagu, membaca iklan, membaca sumpah serapah. Semua bercampur menjadi satu suara raksasa yang tidak bisa dipahami.
"Ini Labirin Metafora," kata suara. "Setiap langkahmu akan mengubah metafora di sekitarmu. Jika kau tidak hati-hati, kau akan menjadi bagian dari metafora itu sendiri."
Kemala bersemangat. Ia suka metafora. Ia hidup di dalamnya.
Aru sebaliknya. Ia membenci metafora. Baginya, "hatiku hancur" adalah kebohongan. Hati tidak bisa hancur. Yang benar adalah "aku sedih".
"Ayo," kata Kemala, meraih tangan Aru. "Ikut aku. Aku tahu jalan."
"Kamu belum pernah ke sini sebelumnya."
"Namun aku tahu metafora. Metafora tidak butuh peta. Metafora butuh imajinasi."
Mereka berjalan. Setiap langkah, kabut berubah. Di kanan mereka, muncul pohon besar dengan daun dari kertas. Di kiri, sungai mengalir dengan air dari tinta. Di atas kepala, awan berbentuk tanda tanya.
Kemala bersenandung. "Rasakan, Aru. Jangan pikirkan. Rasakan."
Aru mencoba. Ia menutup mata. Ia merasakan tangan Kemala yang hangat. Ia merasakan kabut yang dingin di pipinya. Ia merasakan detak jantungnya—yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak mengerti mengapa.
Mereka berjalan lama. Berjam-jam, atau mungkin hanya beberapa menit. Waktu terasa aneh di labirin ini. Akhirnya, kabut menipis. Mereka sampai di sebuah ruangan kecil. Di tengah ruangan, sebuah cermin.
Bukan cermin biasa. Cermin itu tidak memantulkan wajah. Cermin itu memantulkan kata-kata yang belum diucapkan.
Aru melihat di cermin itu: "Aku suka kamu."
Ia tersentak. Itu tulisannya persis. Ukuran huruf, jenis font, bahkan warna tinta—seperti yang akan ia tulis jika ia punya keberanian.
"Kamu lihat itu?" tanya Kemala.
"Lihat."
"Itu tulisanku," kata Kemala pelan. "Aku melihat kalimat 'Aku ingin kamu tahu bahwa aku di sini'. Itu yang selalu ingin aku katakan kepada seseorang yang sudah mati. Ayahku."
Aru menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Mereka berdiri di depan cermin itu cukup lama. Tidak saling menatap. Hanya menatap bayangan kata-kata yang belum sempat keluar dari mulut mereka.
---
Setelah melewati tujuh lorong (karena cerita ini tidak cukup panjang untuk mendeskripsikan semuanya, dan karena labirin memang dirancang untuk membuatmu lelah sebelum sampai ke pusat), Aru dan Kemala akhirnya berdiri di depan pintu terakhir.
Pintu itu dari emas. Tidak bertuliskan apa pun.
"Kita buka bersama?" tanya Kemala.
"Bersama."
Mereka mendorong pintu. Pintu itu terbuka tanpa suara.
Di dalam, sebuah ruangan bundar dengan cahaya putih dari segala arah. Tidak ada bayangan. Tidak ada sudut gelap. Di tengah ruangan, sebuah panggung kecil. Di atas panggung, dua kursi.
Dan di salah satu kursi, duduk seorang perempuan tua. Wajahnya persis dengan Kemala di masa depan.
"Kemala?" bisik Aru.
Perempuan tua itu tersenyum. "Bukan. Aku adalah Bahasa itu sendiri. Aku adalah semua kata yang pernah diucapkan, dan semua kata yang belum terucap. Aku adalah aturan tata bahasa, sekaligus pelanggaran terhadapnya. Aku adalah kalimat yang kalian cari."
Aru mundur selangkah. "Kamu bilang di pusat labirin ada satu kalimat yang sempurna. Kalimat yang tidak bisa disalahkan oleh editor, tidak bisa disempurnakan oleh penyair. Mana kalimat itu?"
Perempuan tua itu menunjuk ke udara. Di udara, huruf-huruf emas mulai terbentuk. Mereka menyusun diri menjadi sebuah kalimat.
Kalimat itu berbunyi:
"Aku ada karena kamu mengucapkanku."
Aru menatap kalimat itu. Ia mencari kesalahan. Subjek-predikat sesuai. Tidak ada pleonasme. Tidak ada ambiguitas yang berlebihan. Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Kemala juga menatap kalimat itu. Matanya berkaca-kaca.
"Ini sempurna," kata Kemala pelan.
"Tidak," kata Aru. "Ini belum selesai."
Perempuan tua itu mengangkat alis. "Belum selesai? Bagaimana maksudmu?"
Aru berjalan mendekati huruf-huruf emas itu. Ia mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh huruf 'A' di awal kalimat. Huruf itu terasa hangat, seperti kulit manusia.
"Kalimat ini mengklaim bahwa 'aku' ada karena 'kamu' mengucapkannya. Namun itu berarti 'aku' bergantung pada 'kamu'. Padahal, bahasa tidak bisa berfungsi jika hanya ada satu orang. Bahasa butuh dua. Pembicara dan pendengar. Penulis dan pembaca. Aku dan kamu."
Ia menoleh kepada Kemala.
"Kalimat yang sempurna bukanlah kalimat yang berdiri sendiri. Kalimat yang sempurna adalah kalimat yang mengundang kalimat lain. Yang membuka ruang untuk percakapan. Yang tidak selesai, sehingga orang lain bisa menyelesaikannya dengan caranya sendiri."
Perempuan tua itu tersenyum. "Apa usulmu, Aru?"
Aru mengambil napas. Ia meraih tangan Kemala. Tangan Kemala dingin, tetapi ia tidak melepaskan.
"Aku akan mengubah kalimat ini."
Ia mengulurkan tangan lagi. Dengan ujung jarinya, ia menulis di udara. Huruf-huruf emas itu berubah, mematuhi sentuhannya.
Kalimat baru itu berbunyi:
"Aku ada karena kamu mengucapkanku. Dan kamu ada karena aku mendengarkanmu."
Kemala membaca kalimat itu. Air matanya jatuh.
"Ini ... ini indah," bisiknya.
"Tidak hanya indah," kata Aru. "Ini adil. Tidak ada yang lebih unggul. Tidak ada yang bergantung. Kita saling mengadaikan satu sama lain. Seperti subjek dan predikat. Seperti kata dan makna. Seperti aku dan kamu."
Perempuan tua itu berdiri. Wajahnya berubah. Keriputnya menghilang. Ia menjadi muda, lalu menjadi anak kecil, lalu menjadi cahaya, lalu menjadi suara.
"Kalian berdua telah menemukan kalimat yang sempurna," kata suara itu, dari mana-mana dan tidak dari mana-mana. "Sekarang, kalian berdua bisa keluar. Tidak hanya satu. Karena aturan 'hanya satu yang bisa keluar' adalah aturan lama, aturan yang keliru, aturan yang aku buat untuk menguji kalian. Dan kalian telah membuktikan bahwa aturan itu tidak adil. Maka aku hapus."
Dinding ruangan itu lenyap. Cahaya putih padam. Aru dan Kemala berdiri di tengah lapangan rumput, di bawah langit malam yang penuh bintang. Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip.
Mereka sudah keluar dari labirin.
Tidak ada pintu. Tidak ada gedung. Hanya rumput, bintang, dan udara malam yang dingin.
---
Aru dan Kemala berjalan beriringan menuju stasiun MRT terdekat. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Aru tidak tahu harus berkata apa. Kemala tampaknya juga demikian.
Namun di peron, ketika kereta akan tiba, Kemala menoleh.
"Aru."
"Apa?"
"Kata yang kamu bawa ke labirin itu ... 'mengapa'. Kamu bilang kamu tidak pernah bertanya mengapa. Namun di dalam labirin, kamu bertanya banyak hal. Kamu bertanya mengapa cinta tidak punya antonim. Kamu bertanya mengapa kalimat itu belum selesai. Kamu bertanya mengapa aturan hanya menguntungkan satu orang."
Aru terdiam.
"Itu berarti," lanjut Kemala, "kamu sudah berubah. Kamu tidak lagi hanya menerima fakta. Kamu mulai bertanya. Dan bertanya adalah awal dari segala puisi."
Kereta tiba. Pintu terbuka.
"Aku tidak bisa menulis puisi," kata Aru.
"Kamu sudah menulis satu. Malam ini. Di labirin. Kalimat itu adalah puisimu. Dan puisiku juga."
Mereka masuk ke kereta yang sama. Duduk bersebelahan. Kereta melaju, meninggalkan stasiun yang sunyi.
Di jendela kereta, Aru melihat bayangannya sendiri. Akan tetapi, kali ini, bayangan itu tidak tersenyum sendiri. Bayangan itu tersenyum bersamaan dengan Aru.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aru merasa bahwa dunia ini tidak perlu diperbaiki. Karena kesalahan tata bahasa yang ia lihat selama ini—subjek ganda, frasa menggantung, konjungsi yang tidak menghubungkan—mungkin bukan kesalahan. Mungkin itu adalah puisi yang belum selesai. Mungkin setiap kalimat yang salah adalah undangan untuk seseorang menyelesaikannya dengan caranya sendiri.
Ia menoleh kepada Kemala. Kemala sudah tertidur, kepalanya bersandar di pundak Aru.
Aru tidak membangunkannya.
Ia hanya membiarkan kepala Kemala tetap di sana, hangat, seperti kata yang tidak pernah ia ucapkan tetapi sekarang mengisi seluruh dadanya.
Ia tidak perlu mengucapkannya.
Karena di labirin tadi, cermin sudah mencatatnya.
Dan cermin tidak pernah berbohong.
---
Tiga bulan kemudian, Aru dan Kemala menerbitkan sebuah buku bersama. Judulnya "Labirin Bahasa". Di dalamnya, kumpulan puisi Kemala dan esai-esai Aru tentang tata bahasa. Tidak ada yang percaya bahwa pengantar buku itu ditulis di dalam labirin sungguhan. Namun Aru dan Kemala tidak butuh pembenaran.
Mereka punya satu kalimat yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun:
"Aku ada karena kamu mengucapkanku. Dan kamu ada karena aku mendengarkanmu."
Itu adalah satu-satunya kalimat yang sempurna di dunia yang tidak sempurna.
Itu juga satu-satunya kalimat yang tidak akan pernah selesai—karena setiap hari, dengan setiap percakapan, dengan setiap diam yang penuh makna, mereka menulis ulang kalimat itu, menambahkan klausa baru, menyisipkan frasa yang tidak terduga, dan sesekali—dengan sengaja—melanggar aturan tata bahasa demi keindahan yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti cinta.
Seperti puisi.
Seperti dua insan yang tersesat di labirin dan memilih untuk tidak keluar sendirian.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar