TEATER BONEKA
Bukan teater untuk anak-anak. Di sebuah gang belakang pasar ikan, ada gedung tua tanpa papan nama. Setiap malam Sabtu, pintu besarnya terbuka sendiri. Di dalamnya, seorang dalang tua bernama Mbah Wireng mempertunjukkan boneka-boneka yang bukan terbuat dari kayu atau kain, melainkan dari kenangan orang-orang yang telah mati. Setiap boneka bisa bergerak tanpa tali. Setiap boneka memiliki suara asli pemilik kenangan itu. Dan setiap penonton yang datang, pada akhir pertunjukan, akan dipilih satu boneka untuk dibawa pulang. Bukan sebagai koleksi, melainkan sebagai pengganti: karena penontonnya sebenarnya juga boneka. Yang lupa bahwa mereka dulu adalah manusia.
---
Purnomo tidak tahu mengapa ia ada di sana.
Ia hanya ingat berjalan melewati pasar ikan pada Jumat malam, mencium bau amis yang menusuk, lalu tiba-tiba mendadak gelap. Ketika ia membuka mata, ia sudah duduk di kursi kayu tua, di ruangan yang diterangi satu lampu minyak. Di depannya, sebuah panggung kecil dengan tirai beledu merah yang sudah lusuh.
Di sekelilingnya, kursi-kursi lain juga terisi. Ada sekitar tiga puluh orang. Wajah-wajah mereka samar-samar, seperti foto yang terlalu lama terpapar matahari. Purnomo mencoba menoleh ke kiri—seorang perempuan dengan kerudung cokelat—tetapi ia tidak bisa mengingat wajahnya meskipun baru sedetik melihatnya. Seperti ingatannya langsung menghapus.
"Selamat datang di Teater Boneka," suara parau terdengar dari balik tirai. "Hadirin yang terhormat, malam ini kita akan mementaskan Kisah Orang-Orang yang Lupa Bahwa Mereka Mati."
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang bergerak. Purnomo menyadari bahwa ia juga tidak bergerak. Bukan karena takut, melainkan karena kakinya tidak terasa. Ia melihat ke bawah. Kakinya ada. Sepatu karet hitam, seperti biasa. Namun rasanya kosong, seperti kaki palsu yang ia pinjam dari orang lain.
Tirai terbuka.
---
Di atas panggung, tiga boneka berdiri. Tingginya sekitar setengah meter. Mereka bukan wayang, bukan boneka kayu, bukan pula marionette. Mereka terbuat dari semacam kain tua yang berkerut seperti kulit manusia. Dan mereka bergerak—bukan oleh tali, bukan oleh tangan dalang—melainkan sendiri, seperti orang hidup yang sedang melakukan rutinitas.
Boneka pertama berbentuk perempuan tua. Ia sedang membasuh pakaian di ember imajiner. Gerakannya lambat, sendi-sendinya berdecit.
"Namanya Mbah Darmi," kata dalang dari balik panggung. "Dulu ia tinggal di bantaran kali. Ia mati tenggelam saat banjir bandang tahun 1998. Akan tetapi, kenangannya tidak mati. Kenangannya terus mencuci baju anak-anaknya setiap hari. Padahal anak-anaknya sudah dewasa dan pindah ke Jakarta."
Suara Mbah Darmi tiba-tiba terdengar. Bukan suara dari mulut boneka, melainkan dari dalam kepala Purnomo. Langsung, seperti telepati.
"Baju kamu kotor, Le. Buru ganti. Nanti Mama setrika."
Purnomo tersentak. Panggilan "Mama". Panggilan yang hanya ibunya yang memakai. Namun, ibunya sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
Boneka kedua mulai bergerak. Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal. Ia sedang mengayuh sepeda ontel imajiner. Sepeda itu tidak pernah maju. Ia hanya mengayuh di tempat, berputar-putar tanpa tujuan.
"Ini Pak Asgar," kata dalang. "Dulu ia sopir angkot jurusan Pasar Minggu–Blok M. Ia mati karena serangan jantung saat menyetir. Penumpangnya selamat, tetapi ia sendiri tidak pernah sadar bahwa ia sudah mati. Ia terus mengayuh, terus berputar, terus mencari pemberhentian terakhir yang tidak pernah ada."
Suara Pak Asgar: "Kiri! Kiri! Turun di depan lampu merah, Ya! Hati-hati pintu!"
Purnomo mengenali suara itu. Itu suara tetangga samping rumahnya dulu. Tetangga yang selalu membantunya membawa kemasan galon. Tetangga yang mati tiga tahun lalu karena gagal ginjal. Bukan karena serangan jantung. Purnomo mengerutkan dahi. Ada yang tidak cocok.
Boneka ketiga adalah seorang anak perempuan, sekitar sembilan tahun. Ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk di kursi kecil, memegang boneka kain yang cacat—satu matanya copot, tangannya tinggal sebelah.
"Ini yang paling istimewa," kata dalang, suaranya bergetar. "Boneka ini belum pernah selesai kita mainkan. Karena kenangan pemiliknya terlalu sakit untuk diulang."
Anak perempuan itu mulai berbicara. Suaranya kecil, serak, seperti orang yang sudah lama tidak minum.
"Aku hanya ingin pulang. Namun aku lupa rumahku di mana. Setiap malam aku disuruh memilih: tinggal di sini sebagai boneka, atau kembali ke dunia sebagai bayangan. Aku sudah memilih seribu kali. Akan tetapi pilihanku selalu sama: aku tidak mau pulang kalau pulang berarti sendirian."
Purnomo merasa kepalanya pecah. Wajah anak itu—ia mengenalinya. Namun dari mana? Ia tidak punya adik. Ia tidak punya anak. Ia tidak pernah tinggal dekat sekolah dasar.
Lalu lampu minyak itu berkedip. Dan dalam kedipan itu, Purnomo melihat bayangan anak perempuan itu di dinding. Bayangannya bukan bayangan boneka. Bayangannya dewasa. Perempuan dewasa dengan rambut panjang, wajah lelah, dan perut yang membuncit—hamil.
---
Purnomo berdiri. Kali ini kakinya terasa. Ia berjalan ke panggung. Tidak ada yang menghentikannya. Penonton lain tetap diam, wajah mereka semakin kabur, seperti awan yang akan lenyap tertiup angin.
Ia menggapai boneka anak itu.
"Siapa kamu?" bisiknya. Ia sadar ia bisa bicara.
Boneka itu menatapnya. Mata boneka dari kancing baju itu berkaca-kaca, meskipun kancing tidak bisa menangis.
"Kamu yang membuatku," jawab boneka itu. Suaranya kini lebih jernih. Bukan suara anak kecil. Suara perempuan. Suara yang sangat familier.
"Dulu, sebelum kamu menjadi Purnomo, kamu adalah dokter kandungan di rumah sakit bersalin. Dan aku adalah pasienmu yang meninggal saat operasi caesar. Anakku selamat, tetapi aku tidak. Dan kamu tidak pernah bisa memaafkan dirimu sendiri. Maka kamu menciptakan teater boneka ini di kepalamu—untuk menghukum dirimu dengan terus mengulang kenanganku sebagai seorang anak yang kehilangan ibu. Padahal aku bukan anak. Aku adalah ibunya. Dan anakku yang selamat—namanya Purnomo. Kamu."
Purnomo jatuh berlutut. Dadanya sesak. Ia ingat. Sedikit demi sedikit. Wajah perempuan di meja operasi. Darah yang tidak bisa dihentikan. Teriakan perawat. Dan kemudian ... gelap. Ia tidak mati. Ia hanya lari. Lari ke dalam skizofrenia, menjadi Purnomo, menjadi penonton di teater boneka, menjadi orang yang lupa bahwa ia adalah dokter yang membunuh pasiennya.
"Ibu ...," bisiknya.
"Bukan ibu," kata boneka itu. "Aku bukan ibumu. Aku pasienmu. Dan tidak ada ikatan darah antara kita. Hanya ada kesalahan. Hanya ada tubuh yang gagal kau selamatkan. Dan selama sepuluh tahun, kau mengubahku menjadi boneka, menjadi anak kecil, menjadi berbagai karakter—hanya untuk menghindari fakta bahwa kau hanyalah manusia biasa yang bisa gagal."
---
Tirai beledu merah itu robek. Dari balik panggung, Mbah Wireng sang dalang keluar. Ternyata ia tidak lebih dari boneka raksasa yang dikendalikan oleh sesuatu di belakangnya. Dan sesuatu itu—Purnomo melihat dengan jelas—adalah dirinya sendiri. Purnomo yang lebih tua. Purnomo dengan jas dokter, stetoskop di leher, wajah penuh bekas jerawat dan penyesalan.
"Kamu sadar sekarang?" kata Purnomo tua itu. "Kamu adalah aku. Aku adalah dalang. Dan semua boneka di sini—Mbah Darmi, Pak Asgar, anak perempuan itu—adalah pasien-pasien yang aku gagal selamatkan selama tiga puluh tahun berkarier. Aku tidak tega membiarkan mereka mati. Maka aku ciptakan teater ini. Aku beri mereka 'kehidupan kedua' sebagai boneka. Dan aku datang setiap malam sebagai 'penonton'—sebagai Purnomo yang lupa—hanya untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa yang tidak punya beban."
Purnomo muda (atau tubuh yang mengira dirinya muda) gemetar. "Jadi, selama ini ... aku hidup di dunia palsu?"
"Dunia tidak pernah palsu," jawab Purnomo tua. "Yang palsu adalah batas antara ingatan dan kenyataan. Pasien-pasien ini mati secara biologis, tetapi kenangan tentang mereka hidup di kepalaku. Dan karena aku merawat kenangan itu dengan terlalu setia, kenangan itu menjadi nyata dengan caranya sendiri. Mereka bisa berbicara. Mereka bisa bergerak. Mereka bahkan bisa menangis."
Ia mendekati boneka anak perempuan itu. Ia mengusap kepalanya yang terbuat dari kain.
"Mereka menangis setiap malam. Bukan karena mereka mati, melainkan karena aku tidak pernah memberi mereka kebebasan untuk pergi. Aku memenjarakan mereka di teater ini karena aku takut jika mereka pergi, aku akan sendirian."
---
Tiba-tiba, tiga puluh penonton di kursi-kursi itu berdiri serentak. Wajah mereka yang tadinya samar kini menjadi jelas. Purnomo mengenali mereka satu per satu: keluarganya. Tetangganya. Mantan kekasihnya. Perawat-perawat yang dulu bekerja dengannya. Semua orang yang pernah ia tinggalkan saat ia memutuskan untuk "pensiun dini" dan menghilang dari peredaran.
"Mereka bukan penonton," kata Purnomo tua. "Mereka adalah orang-orang yang kau lukai karena kau terlalu sibuk merawat boneka-boneka matimu. Istri kau tinggalkan. Anak kau tidak kau kenali wajahnya. Teman-teman kau undang ke pesta pernikahan—tetapi kau tidak datang karena kau sedang 'menyutradarai teater boneka' di kepalamu."
Salah satu penonton, seorang perempuan dengan kerudung cokelat, berjalan ke depan. Ternyata ia bukan perempuan asing. Ia adalah Surti—mantan istri Purnomo.
"Mas," kata Surti, suaranya pecah. "Aku datang ke sini setiap Sabtu malam. Bukan untuk menonton, melainkan untuk mencarimu. Dan setiap Sabtu malam, Mas duduk di kursi nomor tujuh, menonton pertunjukan yang sama, lalu pulang tanpa mengenaliku. Padahal aku duduk tepat di sebelah Mas."
Purnomo muda menatap Surti. Ia merasakan sesuatu di dadanya. Bukan cinta, melainkan rasa malu yang sangat dalam, seperti malu karena ketahuan buang air kecil di celana saat sudah dewasa.
"Maaf," bisiknya. Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Maaf tidak cukup," kata Surti, "tetapi pulang cukup. Pulang, Mas. Hentikan teater ini. Biarkan boneka-boneka itu mati untuk kedua kalinya. Biarkan mereka tenang. Dan biarkan aku—biarkan kami—mengubur Mas sebagai suami yang gagal, bukan sebagai dokter gila yang tinggal di gedung teater tua."
---
Purnomo tua tertawa. Tawanya pahit, seperti orang yang sudah lama tidak ingat bagaimana caranya bahagia.
"Kau dengar itu, Nak?" katanya kepada Purnomo muda. "Mereka ingin kita pulang. Akan tetapi ... pulang ke mana? Rumah kita sudah dijual. Istri kita sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Anak kita—eh, anakmu—tidak mau mengaku sebagai anakmu karena ia malu punya bapak yang hilang ingatan."
Ia menunjuk ke boneka anak perempuan.
"Bahkan boneka ini lebih jujur dari manusia. Ia tidak pernah malu menjadi boneka. Ia hanya sedih. Dan kesedihan itu jujur. Bandingkan dengan manusia yang tersenyum meskipun hancur."
Purnomo muda berdiri. Ia berjalan ke arah Purnomo tua. Jarak mereka hanya dua meter. Dua Purnomo dalam satu ruangan. Dua tubuh dari satu jiwa yang terbelah.
"Aku punya pilihan," kata Purnomo muda.
"Pilihan apa?"
"Aku bisa membunuhmu—membunuhku yang tua, yang dalang, yang sumber semua ini. Dan jika kau mati, teater ini runtuh. Boneka-boneka ini lenyap. Dan aku bisa kembali ke dunia sebagai Purnomo yang normal. Atau ...."
"Atau?"
"Aku bisa bergabung denganmu. Menjadi satu. Menjadi dalang sekaligus boneka sekaligus penonton. Menjadi semua orang yang pernah aku sakiti. Menerima bahwa aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun—termasuk diriku sendiri."
Purnomo tua mengangguk. "Itu bukan pilihan. Itu jalan pulang yang sesungguhnya. Bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke kenyataan bahwa kita tidak pernah punya rumah. Rumah adalah ilusi. Yang nyata hanyalah perjalanan. Dan perjalanan tidak pernah berhenti, bahkan setelah mati."
---
Keesokan paginya, pasar ikan seperti biasa. Bau amis, tumpukan es batu, pedagang yang bentak-bentakan. Tidak ada yang ingat gedung tua di ujung gang. Tidak ada yang ingat Mbah Wireng atau boneka-boneka aneh.
Namun di dalam gedung itu, di atas panggung kecil, kini hanya ada satu boneka. Boneka laki-laki dengan jas dokter, stetoskop di leher, wajah penuh bekas jerawat dan penyesalan. Boneka itu tidak bergerak. Tidak bersuara. Matanya dari kancing baju—biru, seperti warna langit sebelum hujan.
Dan di kursi penonton, hanya ada satu orang: seorang perempuan dengan kerudung cokelat.
Perempuan itu menangis. Lalu ia berdiri, berjalan ke panggung, dan mengambil boneka itu. Ia mendekapnya erat-erat, seperti mendekap bayi yang lahir mati.
"Pulang, Mas," bisiknya. "Kita pulang."
Ia berjalan keluar gedung. Pintu besi berderit. Lalu gedung itu lenyap. Bukan runtuh. Lenyap seperti ingatan yang sengaja dihapus. Tidak meninggalkan bekas, tidak meninggalkan bau, tidak meninggalkan nama.
Di rumah Surti, di atas meja tamu, sekarang ada sebuah boneka. Boneka laki-laki dengan jas dokter. Surti tidak pernah menjelaskan dari mana boneka itu berasal. Dan siapa pun yang bertanya, ia hanya tersenyum dan berkata:
"Itu suamiku. Ia sedang istirahat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu menjadi dalang, boneka, atau penonton. Ia hanya perlu menjadi kenangan. Dan kenangan—setia atau tidak—adalah satu-satunya teater yang tidak pernah tutup."
Suatu malam, cucu Surti yang berusia lima tahun bermain dengan boneka itu. Ia memegang tangan boneka. Tiba-tiba ia berbisik kepada neneknya:
"Nek, boneka ini hangat."
Surti tidak menjawab. Ia hanya menatap boneka itu, dan untuk sekilas, ia melihat mata boneka itu berkedip.
Atau mungkin hanya pantulan lampu.
Mungkin.
---
Tamat.
Komentar
Posting Komentar