Tentu. Berikut beberapa arsip baru dengan dialog di bagian-bagian tertentu.

---

ARSIP NOMOR 7: PENJAGA MALAM

Ia diwawancarai untuk posisi penjaga malam di gedung arsip kota. Wawancara berlangsung di ruang bawah tanah, di bawah lampu neon yang berkedip, di depan meja logam yang terlalu dingin untuk bulan Juni.

"Kau pernah bekerja sebagai penjaga malam sebelumnya?"

"Pernah."

"Di mana?"

"Di sini."

Pewawancara—seorang pria botak bernama Heru—melihat lamaran di depannya. "Tidak ada catatan kau pernah bekerja di sini."

"Itu karena kau yang tidak mencatatnya. Atau kau yang lupa. Atau kau yang memilih untuk tidak ingat."

Heru mendongak. Pelamar itu—sebut saja ia M, tanpa nama, tanpa riwayat, tanpa apa pun di berkas kecuali alamat yang tidak dikenali peta—menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. Bukan menatap—menunggu. Seperti matanya adalah dua pintu yang terbuka ke koridor yang sama dengan koridor di belakang Heru, koridor yang menuju ke ruang arsip, ke ruang yang hanya dikunjungi penjaga malam, ke ruang di mana Heru, dua puluh tahun lalu, juga pernah menjadi penjaga malam.

"Kau tidak mungkin pernah bekerja di sini. Aku kenal semua penjaga malam yang pernah bertugas."

"Semua?"

"Semua."

"Termasuk yang kau gantikan?"

Heru tidak menjawab.

"Termasuk yang kau temukan di ruang arsip, duduk di kursi, mata terbuka, masih memegang senter yang baterainya sudah habis tapi masih menyala?"

"Tidak ada yang seperti itu."

"Tidak ada? Atau tidak kau akui?"

Ruang bawah tanah tiba-tiba lebih dingin. Bukan dari AC—dari ingatan. Ingatan yang Heru kubur dua puluh tahun lalu, ketika ia masih muda, ketika ia melamar posisi penjaga malam karena penjaga sebelumnya berhenti tanpa pemberitahuan, tanpa surat, tanpa jejak kecuali senter yang masih menyala di atas meja arsip. Heru mengambil senter itu. Heru mematikannya. Heru tidak pernah menyalakannya lagi, tidak pernah membicarakannya lagi, tidak pernah mengakui bahwa setiap malam, di ruang arsip, senter itu kadang menyala sendiri—bukan dari baterai, dari sesuatu yang lain.

"Kenapa kau ingin posisi ini?"

"Karena penjaga sebelumnya butuh istirahat."

"Penjaga sebelumnya? Aku?"

M tersenyum. Bukan senyum mengejek—senyum mengenali. "Kau sudah dua puluh tahun, Heru. Dua puluh tahun berjaga setiap malam. Dua puluh tahun duduk di kursi yang sama, memegang senter yang sama, mendengarkan suara yang sama dari ruang arsip—suara yang kau bilang hanya suara pipa, hanya suara tikus, hanya suara angin. Tapi kau tahu itu bukan suara pipa. Kau tahu itu bukan suara tikus. Kau tahu itu suara seseorang yang menunggu untuk ditemukan."

"Aku tidak mendengar apa-apa."

"Tentu saja kau mendengar. Setiap malam, pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang berbisik dari balik rak nomor empat. Bukan bisikan—nama. Namamu. Kau dipanggil. Dan kau tidak pernah datang. Kau hanya duduk di kursi, memegang senter yang tidak kau nyalakan, berpura-pura tidak mendengar. Tapi kau mendengar. Selalu mendengar. Dan kau lelah, Heru. Kau lelah berpura-pura."

Heru meletakkan pulpen. Tangannya gemetar. Bukan takut—dingin. Dingin yang sama yang ia rasakan setiap malam, setiap pukul dua belas lewat tujuh menit, setiap kali namanya dipanggil dari ruang arsip oleh suara yang ia kenali tapi tidak berani akui: suara penjaga sebelumnya. Suara yang tidak pernah pergi.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Aku yang akan menggantikanmu. Bukan menggantikan—meneruskan. Seperti kau meneruskan dia. Seperti dia meneruskan yang sebelumnya. Rantai penjaga malam, Heru. Rantai yang tidak bisa diputus karena yang dijaga bukan gedung—rahasia. Rahasia yang ada di rak nomor empat, di arsip yang tidak tercatat, di dokumen yang kalau kau baca akan membuatmu mengerti kenapa penjaga sebelumnya tidak pernah pulang, kenapa kau tidak pernah bisa berhenti, kenapa aku sekarang di sini, duduk di depanmu, menunggumu untuk akhirnya mengakui: kau lelah. Kau ingin istirahat. Kau ingin seseorang mengambil alih senter yang masih menyala itu."

"Bagaimana kau tahu tentang senter?"

M berdiri. Wawancara sudah selesai. "Karena aku yang meninggalkannya untukmu, dua puluh tahun lalu. Sebelum kau datang. Sebelum kau duduk di kursi itu. Sebelum kau mendengar namamu dipanggil setiap malam. Aku meninggalkan senter itu karena aku tahu kau akan datang. Aku tahu kau akan meneruskan. Dan sekarang, setelah dua puluh tahun, giliranku lagi. Giliranku untuk duduk. Giliranku untuk mendengar namaku dipanggil. Giliranku untuk menunggu yang berikutnya."

M melangkah ke koridor. Heru tidak menghentikannya. Tidak bisa. Karena di atas meja, di sebelah lamaran yang kosong, senter Heru tiba-tiba menyala. Baterainya sudah habis. Sudah dua puluh tahun habis. Tapi menyala. Dan di dalam cahayanya—bukan cahaya, ingatan—Heru melihat dirinya sendiri, dua puluh tahun lebih muda, duduk di kursi yang sama, diwawancarai oleh seseorang yang tidak ia ingat wajahnya, yang berkata hal yang sama, yang meninggalkan senter yang sama.

Heru mengambil senter itu. Mematikannya. Tapi ia tahu, malam ini, pukul dua belas lewat tujuh menit, senter itu akan menyala lagi. Dan kali ini ia akan datang ke rak nomor empat. Kali ini ia akan menjawab panggilan itu. Bukan karena berani—karena akhirnya ia adalah penjaga malam. Dan tugas penjaga malam bukan hanya menjaga. Tugas penjaga malam adalah mendengar, adalah datang, adalah meneruskan.

---

ARSIP NOMOR 8: LUBANG DI TAMAN

Di taman kota, di bawah bangku ketiga dari timur, ada lubang. Bukan lubang besar—sekitar selebar kepalan tangan. Lubang yang tidak pernah bisa ditutup. Sudah dicor, sudah ditimbun, sudah ditutup dengan batu besar yang sekarang entah ke mana. Lubang itu selalu kembali. Selalu di tempat yang sama. Selalu selebar kepalan tangan. Selalu gelap, selalu dingin, selalu berbisik—bukan bisikan, angin. Angin yang keluar dari lubang, bukan angin biasa, angin yang berbau rumput basah dan sesuatu yang lebih tua dari taman, lebih tua dari kota, lebih tua dari konsep taman.

Anak-anak di sekitar situ tahu. Mereka menyebutnya Lubang Tanya.

---

Dua anak—sebut saja Lila dan Bimo—duduk di bangku ketiga dari timur. Sore. Jam lima lewat dua puluh. Keduanya memegang es krim yang meleleh lebih cepat dari biasanya.

"Kau pernah masuk?" tanya Bimo.

"Ke lubang itu? Gila kau. Tidak ada yang masuk ke Lubang Tanya."

"Tapi katanya si Rudi pernah."

"Si Rudi juga bilang dia bisa terbang."

Bimo melihat lubang itu. Di bawah bangku. Gelap. Tidak bergerak. Tapi tidak diam—menunggu. Seperti sesuatu di dalam sana sedang menunggu untuk ditanya. Atau untuk menjawab. Atau untuk bertanya balik.

"Katanya kalau kau tanya sesuatu, lubang itu jawab."

"Jawab apa?"

"Tergantung tanyanya."

Lila menghabiskan es krimnya. "Pernah kau coba?"

"Belum. Takut."

"Takut apa?"

"Takut jawabannya."

Lila tertawa. Tapi tawanya pendek. Karena di bawah mereka, dari lubang, keluar angin. Bukan angin—napas. Napas yang teratur. Seperti seseorang—atau sesuatu—sedang tidur di bawah sana. Atau berpura-pura tidur. Atau menunggu untuk dibangunkan oleh pertanyaan.

"Aku mau coba," kata Lila.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Karena begitu kau tanya, kau harus dengar jawabannya. Dan begitu kau dengar, kau tidak bisa bilang kau tidak tahu. Kau akan tahu. Dan tahu itu—kata orang-orang—lebih berat daripada tidak tahu."

Lila sudah berlutut di samping lubang. Tanah di sekitarnya basah. Bukan karena hujan—belum hujan sejak minggu lalu. Basah dari dalam. Dari sesuatu yang menunggu di bawah.

"Halo?" bisiknya ke lubang.

Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya napas.

"Halo. Aku Lila."

Masih tidak ada.

"Mungkin harus pertanyaan," kata Bimo dari bangku, suaranya lebih tinggi dari biasanya.

Lila berpikir. Pertanyaan. Satu pertanyaan. Itu aturannya—begitu kata legenda taman. Satu orang, satu pertanyaan, seumur hidup. Lubang Tanya tidak menjawab pertanyaan kedua. Tidak pernah. Bahkan jika kau lupa jawaban pertama, bahkan jika kau tidak suka jawaban pertama, bahkan jika kau pura-pura tidak pernah bertanya. Lubang Tanya tahu. Lubang Tanya ingat. Lubang Tanya hanya memberi satu.

"Baiklah," kata Lila. "Aku mau tanya: kenapa Ayah pergi?"

Bimo menahan napas. Di bawah, angin berhenti. Napas berhenti. Semua berhenti. Dan dari lubang, keluar suara. Bukan suara—kata-kata. Kata-kata yang tidak diucapkan oleh mulut, tidak didengar oleh telinga, langsung masuk ke kepala Lila seperti kata-kata itu sudah ada di sana sejak lama, hanya menunggu untuk diingat.

Karena ia tidak bisa tinggal. Karena ada yang harus ia cari. Karena ada yang harus ia tinggalkan. Karena ia mencintaimu terlalu besar untuk tinggal.

Lila tidak bergerak. Matanya basah. Bukan karena sedih—karena menerima. Karena kata-kata itu, entah bagaimana, benar. Selalu benar. Kata-kata yang ia tidak tahu ia butuhkan, yang ia tidak tahu ia tanyakan, yang Lubang Tanya simpan untuknya sejak ia masih belum lahir, sejak lubang ini masih belum ada, sejak taman ini masih hutan, sejak kota ini masih debu.

"Apa itu jawaban atau puisi?" bisik Lila.

Tidak ada jawaban. Lubang sudah diam. Lubang sudah kembali menjadi lubang. Gelap. Tidak bergerak. Menunggu penanya berikutnya.

Lila berdiri. Melihat Bimo yang masih duduk di bangku, masih memegang es krim yang sudah sepenuhnya meleleh.

"Giliranmu," kata Lila.

Bimo menggeleng. "Aku belum mau tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu kenapa aku takut."

Mereka pulang. Lubang tetap di sana, di bawah bangku ketiga dari timur, menunggu pertanyaan berikutnya, menunggu penanya berikutnya, menunggu seseorang yang cukup berani untuk tidak hanya bertanya, tetapi juga menerima bahwa beberapa jawaban tidak membuat segalanya lebih baik—hanya lebih jelas, hanya lebih berat, hanya lebih benar.

---

ARSIP NOMOR 9: TELEPON UMUM

Di sudut stasiun kereta yang sudah tidak beroperasi, ada telepon umum. Warna merah. Model lama. Gagangnya berat. Tombolnya bulat dan berbunyi klik ketika ditekan. Telepon itu seharusnya mati—kabelnya sudah putus, sudah dua puluh tahun putus, sudah diverifikasi oleh teknisi telkom yang datang dengan alat ukur dan pulang dengan dahi berkerut. Tapi telepon itu kadang berdering. Bukan dering biasa—dering yang hanya terdengar oleh orang tertentu, di waktu tertentu, ketika mereka sendirian di stasiun dan pikirannya sedang kosong atau terlalu penuh.

---

Malam itu, orang tertentu itu adalah seorang perempuan tua. Sebut saja Nenek Sari. Setiap malam Jumat, ia ke stasiun. Bukan untuk naik kereta—tidak ada kereta. Untuk duduk di bangku kayu dekat telepon umum. Untuk menunggu. Untuk mendengar.

"Kau lagi," kata seseorang.

Nenek Sari menoleh. Seorang pemuda—sekitar dua puluh lima, jaket jeans lusuh, rambut terlalu panjang—berdiri di samping telepon. Ia memegang gagang telepon yang tidak tersambung ke apa pun. Ia berbicara padanya, ke Nenek Sari, meski gagang itu di telinganya.

"Kau siapa?" tanya Nenek Sari.

"Aku yang kau tunggu. Atau bukan aku. Tapi aku yang di sini sekarang."

"Kau bicara di telepon yang mati."

"Tidak mati. Hanya tidak tersambung ke yang kau kira. Telepon ini tersambung ke tempat lain. Ke waktu lain. Ke orang lain. Ke kau—dua puluh tahun lebih muda, berdiri di stasiun ini, menunggu suamimu pulang dari perang yang tidak pernah selesai."

Nenek Sari tidak menjawab. Matanya—matanya yang sudah tujuh puluh tahun melihat—melihat pemuda itu. Bukan melihat. Mengenali. Jaket jeans itu. Rambut panjang itu. Suara itu.

"Angga?"

"Bukan Angga. Tapi aku kenal Angga. Angga yang tidak pernah pulang. Angga yang surat terakhirnya kau simpan di bawah bantal. Angga yang kau tunggu di stasiun ini setiap Jumat, lima puluh tahun, meski kau tahu tidak ada kereta."

"Dari mana kau tahu?"

Pemuda itu meletakkan gagang telepon. Bukan menutup—menyerahkan. "Dari sini. Dari telepon ini. Angga menelepon. Bukan sekali—setiap Jumat. Setiap Jumat selama lima puluh tahun. Tapi kau tidak pernah angkat. Kau hanya duduk di bangku itu, menunggu, tapi tidak pernah angkat."

Nenek Sari menatap telepon. Telepon yang tidak berdering. Tapi ia tahu—ia selalu tahu—bahwa di dalam diamnya, telepon itu berbicara. Berbicara dengan suara yang tidak bisa ia dengar karena ia terlalu takut untuk mengangkat.

"Kenapa baru sekarang?" tanyanya.

"Karena aku baru sekarang bisa datang. Karena aku baru sekarang bisa jadi perantara. Karena Angga—atau apa yang tersisa dari Angga—ingin kau tahu: ia tidak pergi. Ia hanya tidak bisa pulang dengan cara yang kau inginkan. Ia di sini. Di telepon ini. Di setiap dering yang tidak kau angkat. Menunggu."

Nenek Sari berdiri. Tua. Lututnya sakit. Tapi ia berjalan ke telepon. Memegang gagang yang masih hangat dari tangan pemuda itu. Meletakkannya di telinga.

"Angga?"

Tidak ada suara. Hanya statis. Hanya angin dari kabel yang putus. Hanya napas—bukan napas di telepon, napasnya sendiri, napas yang tiba-tiba lebih ringan.

"Angga, aku di sini."

Statis. Dan kemudian—bukan suara, ingatan. Ingatan yang langsung masuk ke kepalanya, seperti telepon ini bukan telepon melainkan pintu, dan di balik pintu itu ada Angga, bukan Angga yang pergi ke perang, Angga yang masih muda, yang masih tersenyum, yang berkata:

Aku tidak pergi, Sari. Aku hanya di tempat yang tidak bisa kau datangi dengan kereta. Tapi kau sudah datang. Kau sudah mengangkat. Kau sudah mendengar.

Nenek Sari menutup telepon. Tangannya gemetar. Bukan karena tua—karena selesai. Karena sesuatu yang dimulai lima puluh tahun lalu akhirnya selesai. Bukan dengan kepulangan—dengan pengakuan. Dengan suara yang ia tidak dengar tapi ia terima.

Ia menoleh ke pemuda itu. Tapi pemuda itu sudah tidak ada. Hanya jaket jeans yang terlipat di atas bangku. Hanya telepon yang kembali diam. Hanya stasiun yang kembali kosong.

Tapi kali ini kosongnya berbeda. Kosong yang tidak lagi menunggu. Kosong yang sudah dijawab.

---

ARSIP NOMOR 10: KURSI NOMOR 12

Bioskop tua di Jalan Merdeka sudah tutup sejak 2002. Tapi kursi nomor 12 tetap dipesan. Bukan dipesan oleh orang—dipesan oleh sesuatu yang tidak pernah membatalkan. Setiap kali bioskop itu dibuka untuk umum—entah untuk pasar malam, entah untuk acara komunitas, entah untuk anak-anak muda yang ingin membuat film pendek—kursi nomor 12 selalu terisi. Bukan oleh orang—oleh rasa. Rasa bahwa seseorang sedang duduk di sana, menonton, menunggu film yang tidak pernah diputar.

---

Suatu malam, sepasang kekasih—sebut saja Dian dan Yuda—menyusup ke bioskop tua itu. Bukan untuk menonton—untuk sendiri. Untuk tempat yang tidak ada yang tahu.

"Aku tidak suka di sini," kata Dian, melihat deretan kursi merah yang sudah pudar, layar yang sudah robek di sudut, lampu darurat yang berkedip pelan di atas pintu keluar.

"Kenapa? Romantis."

"Ini menyeramkan."

"Itu kan sama saja."

Dian memukul lengan Yuda. Mereka tertawa. Tawa yang pendek, karena bioskop punya cara untuk menelan suara—bukan meredam, menelan. Seperti dinding-dinding ini masih lapar akan dialog, akan musik, akan suara proyektor yang sudah dua puluh tahun mati.

Mereka duduk di tengah. Kursi nomor 8 dan 9. Yuda mengeluarkan rokok. Dian melihat ke kanan—ke kursi nomor 12.

"Ada yang duduk di sana," bisiknya.

Yuda menoleh. "Mana? Kosong."

"Bukan kosong. Ada. Aku bisa lihat—bukan lihat, rasa. Ada seseorang duduk di sana. Perempuan. Pakai gaun merah. Menatap layar."

Yuda melihat lagi. Kosong. Hanya kursi merah yang sudah pudar. Hanya sandaran tangan yang sudah retak. Hanya—

"Tunggu. Bangkunya turun."

"Kenapa?"

"Seperti ada yang mendudukinya. Sandarannya turun. Tadi tidak."

Mereka diam. Bioskop lebih diam. Lampu darurat berkedip. Di kursi nomor 12, sandaran tangan itu—yang seharusnya terlipat ke atas—kini turun. Seperti seseorang baru saja meletakkan lengan di sana.

"Kita pergi," kata Dian.

"Tunggu."

"Tunggu apa?"

Yuda tidak menjawab. Ia menatap kursi nomor 12. Dan di sanalah ia merasakannya: tunggu. Bukan dari kursi—dari yang mendudukinya. Dari sesuatu yang tidak terlihat tapi lebih nyata dari mereka berdua. Sesuatu yang sudah di sini sebelum bioskop ini dibangun, yang menonton setiap film yang pernah diputar, yang tetap tinggal setelah bioskop tutup karena bioskop adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menunggu—menunggu film yang tidak pernah diputar, film yang dibintangi oleh seseorang yang ia kenal, seseorang yang ia cintai, seseorang yang dulu duduk di kursi nomor 12 bersamanya dan tidak pernah kembali.

"Kau menunggu siapa?" tanya Yuda ke kursi kosong.

Dian mencengkeram lengannya. "Jangan ngomong sama kursi."

"Bukan sama kursi. Sama dia."

Di kursi nomor 12, tidak ada yang berubah. Tidak ada jawaban. Tapi Yuda merasakan sesuatu di kepalanya—bukan suara, gambar. Gambar seorang perempuan bergaun merah, menangis, menonton layar kosong. Gambar seorang laki-laki yang berdiri, yang pergi ke pintu keluar, yang tidak pernah kembali. Gambar janji: aku akan kembali sebelum film selesai. Film sudah selesai. Berganti film lain. Berganti tahun. Berganti penonton. Laki-laki itu tidak pernah kembali. Tapi perempuannya tetap di sini, di kursi nomor 12, menunggu film berikutnya, berharap laki-laki itu akan muncul di adegan terakhir, akan duduk di sampingnya, akan berkata: maaf aku terlambat.

"Film apa yang kau tunggu?" tanya Yuda lagi.

Dan kali ini, jawaban datang. Bukan di kepala—di telinga. Suara yang bukan suara. Berbisik dari kursi nomor 12:

Film yang belum dibuat. Film tentang seseorang yang kembali. Film tentang janji yang ditepati. Kau bisa membuatnya. Kau bisa menjadi dia. Kau bisa kembali.

Yuda berdiri. Dian menariknya. Tapi Yuda tidak bergerak ke pintu keluar—ia bergerak ke kursi nomor 12. Ia duduk di samping perempuan yang tidak terlihat. Ia meletakkan lengannya di sandaran yang sudah turun. Ia menatap layar kosong.

"Yuda, jangan!" bisik Dian.

Tapi Yuda sudah di sana. Sudah duduk. Sudah menunggu. Dan di layar kosong itu, ia melihat sesuatu. Bukan film—dirinya sendiri. Versi dirinya yang lebih tua. Yang kembali ke bioskop ini. Yang duduk di kursi nomor 12. Yang menepati janji yang bukan janjinya.

"Kau akan kembali?" bisik suara dari kursi nomor 12. Bukan ke Yuda—ke seseorang yang belum datang. Ke seseorang yang suatu hari akan duduk di sini, menonton film yang belum dibuat, menjadi laki-laki yang kembali.

"Iya," kata Yuda, meski ia tidak tahu kenapa. "Aku akan kembali."

Kursi nomor 12 tiba-tiba kosong. Bukan kosong—selesai. Perempuan itu—atau apa yang tersisa darinya—pergi. Bukan karena ia berhenti menunggu—karena akhirnya ada yang menjawab. Karena akhirnya ada yang berjanji. Karena kadang-kadang, yang ditunggu bukan orangnya—pengakuannya. Pengakuan bahwa ia menunggu. Pengakuan bahwa ia ada. Pengakuan bahwa bioskop ini, kursi ini, film yang belum dibuat ini, semuanya nyata, semuanya penting, semuanya tidak sia-sia.

Dian dan Yuda keluar dari bioskop. Di luar, hujan. Atau embun. Atau sesuatu di antaranya.

"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Dian, suaranya antara marah dan takut.

"Aku tidak tahu. Tapi aku harus. Ada sesuatu yang perlu dijawab."

"Dan kau yang harus menjawabnya?"

"Tidak. Tapi aku bisa menjadi awal. Aku bisa menjadi orang yang berjanji. Siapa tahu nanti ada yang menepati."

Dian tidak mengerti. Yuda juga tidak. Tapi di dalam bioskop, kursi nomor 12 sekarang benar-benar kosong. Sandarannya terlipat ke atas. Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang menonton. Hanya janji yang menggantung di udara, menunggu seseorang—entah siapa, entah kapan—untuk datang, duduk, dan menepati.

---

ARSIP NOMOR 11: PINTU NOMOR TIGA

Di koridor rumah sakit lama—yang sekarang jadi gudang, yang dulu jadi bangsal karantina—ada tiga pintu. Pintu pertama ke ruang obat. Pintu kedua ke ruang perawat. Pintu ketiga... pintu ketiga tidak ke mana-mana. Di baliknya hanya dinding. Sudah diverifikasi oleh kontraktor, oleh perawat senior, oleh kepala rumah sakit yang pensiun dua puluh tahun lalu. Hanya dinding. Tapi pintu itu kadang terbuka. Bukan terbuka oleh angin—terbuka oleh sesuatu yang mendorongnya dari dalam. Dari balik dinding.

---

"Aku dengar kau minta dipindahkan?" tanya Kepala Perawat—sebut saja Bu Marni—kepada perawat muda yang baru sebulan bertugas di bangsal lama. Perawat itu—sebut saja Santi—sedang melipat linen di meja, tangannya sedikit gemetar.

"Iya, Bu."

"Kenapa? Hantu?"

Santi tidak tertawa. "Bukan hantu. Pintu."

"Pintu apa?"

"Pintu nomor tiga."

Bu Marni meletakkan clipboard-nya. Menatap Santi dengan tatapan yang bukan marah—mengenali. "Kau lihat pintu itu terbuka?"

"Tidak hanya lihat. Saya dengar."

"Dengar apa?"

Santi berhenti melipat. Tangannya berhenti gemetar. "Suara. Dari balik pintu. Seperti seseorang memanggil. Bukan memanggil nama—memanggil sesuatu yang lain. Memanggil sesuatu di dalam saya."

"Dan kau jawab?"

"Tidak. Tapi saya hampir. Saya berdiri di depan pintu itu, tangan di gagang, dan saya hampir buka. Padahal saya tahu di baliknya hanya dinding. Padahal saya tahu tidak mungkin ada apa-apa. Tapi saya hampir buka. Dan itu yang membuat saya takut. Bukan pintunya. Saya sendiri."

Bu Marni duduk. Berat. Kursi itu berdecit. "Saya juga pernah."

"Saudara pernah?"

"Dulu. Waktu masih seumur kau. Waktu masih bertugas malam sendiri di bangsal ini. Saya juga dengar suara dari pintu nomor tiga. Saya juga hampir buka. Tapi tidak jadi."

"Kenapa tidak jadi?"

"Karena saya ingat sesuatu. Sesuatu yang diceritakan perawat senior sebelum saya. Tentang pintu nomor tiga. Tentang apa yang sebenarnya ada di baliknya."

"Apa?"

"Dinding, iya. Tapi bukan dinding biasa. Dinding itu dibangun setelah wabah 1943. Dibangun untuk menutup sesuatu. Bukan sesuatu—seseorang. Pasien. Pasien yang tidak bisa sembuh. Pasien yang tidak bisa mati. Pasien yang masih di sana, di balik dinding, menunggu pintu dibuka."

"Itu tidak mungkin. Kan sudah puluhan tahun. Dia pasti sudah—"

"Mati? Iya, mungkin. Tapi kata perawat senior itu, pasien itu bukan pasien biasa. Ia adalah pembawa. Bukan pembawa penyakit—pembawa sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa mati. Sesuatu yang hanya bisa menunggu. Di balik dinding. Di balik pintu nomor tiga. Menunggu seseorang untuk membuka."

Santi menelan ludah. "Kenapa pintu itu tidak dibuang saja? Kenapa masih di sana?"

"Karena tidak bisa. Sudah dicoba. Sudah dicopot engselnya, sudah ditutup paku, sudah dilakban seluruh permukaannya. Tapi pintu itu selalu kembali. Selalu di tempat yang sama. Selalu dengan cat putih yang sama. Selalu dengan gagang kuningan yang selalu dingin—tidak peduli musim panas, tidak peduli mesin pemanas menyala. Selalu dingin. Seperti di baliknya ada musim yang berbeda."

"Lalu kenapa kita biarkan?"

Bu Marni bangkit. "Karena beberapa pintu tidak untuk ditutup atau dibuka. Beberapa pintu untuk dijaga. Tugas kita bukan mengabaikan pintu nomor tiga. Tugas kita adalah memastikan tidak ada yang membukanya. Tidak ada yang menjawab panggilan dari balik dinding. Karena begitu satu orang buka, ia akan masuk. Dan begitu ia masuk, ia tidak akan keluar. Tapi ia juga tidak akan mati. Ia akan menunggu. Seperti pasien itu menunggu. Menunggu orang berikutnya yang akan buka pintu. Menunggu rantai penjaga yang patah."

Santi melihat ke koridor. Ke arah pintu nomor tiga. Tertutup. Putih. Gagangnya berkilau oleh lampu neon. "Siapa yang menjaga sebelum kita, Bu?"

"Banyak. Terlalu banyak. Semua perawat yang bertugas di bangsal ini. Semua yang mendengar suara dari balik pintu dan memilih untuk tidak membuka."

"Dan yang memilih untuk membuka?"

Bu Marni tidak menjawab. Ia hanya melihat pintu nomor tiga. Dan di sanalah ia melihatnya—bukan dengan mata, dengan ingatan. Wajah seorang perawat muda, dua puluh tahun lalu, yang bertugas di bangsal ini dan suatu malam menghilang. Tidak ditemukan. Tidak dicari. Hanya tercatat sebagai "mengundurkan diri tanpa pemberitahuan." Tapi Bu Marni tahu. Ia selalu tahu. Perawat itu ada di balik pintu nomor tiga. Menunggu. Menjadi bagian dari rantai yang tidak bisa diputus.

"Jadi kau masih mau dipindahkan?" tanya Bu Marni.

Santi melihat pintu nomor tiga. Melihat gagangnya yang dingin. Melihat cat putihnya yang tidak pernah kotor. Dan ia menggeleng. "Tidak, Bu. Saya akan tetap di sini."

"Kenapa?"

"Karena seseorang harus menjaga. Karena kalau saya pergi, siapa yang akan memastikan pintu itu tidak dibuka? Siapa yang akan mendengar suara dari baliknya dan memilih untuk tidak menjawab?"

Bu Marni tersenyum. Bukan senyum bahagia—senyum lega. "Kau akan jadi perawat yang baik, Santi."

"Saya tahu, Bu. Tapi kadang saya takut."

"Itu tandanya kau waras. Yang bahaya adalah kalau kau tidak takut sama sekali. Kalau kau tidak takut, kau akan buka pintu itu. Dan kau akan masuk. Dan kita akan kehilangan perawat lagi."

Mereka berdua melihat pintu nomor tiga. Tertutup. Diam. Menunggu. Tapi malam ini, setidaknya, tidak akan ada yang membuka. Malam ini, rantai penjaga masih utuh. Malam ini, pintu nomor tiga masih punya seseorang yang cukup takut untuk tetap menjaganya, cukup berani untuk tidak pergi, cukup mengerti bahwa beberapa pintu tidak untuk dibuka—beberapa pintu untuk dijaga, selamanya, oleh mereka yang mendengar suara dari baliknya dan memilih untuk tetap di sisi ini.

---

Masih ada arsip-arsip lain jika Anda ingin melanjutkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI